PREVALENSI KASUS GINGIVITIS KRONIS DI POLIKLINIK GIGI UPTD PUSKESMAS BATURITI I. TABANAN BALI PADA BULAN NOVEMBER 2023 JANUARI 2024 I Wayan Agus Wirya Pratama1. I Gusti Ayuning Pratiwi2 1 Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar 2 Mahasiswa Profesi Pendidikan Dokter Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar Koresponden: ayuningpratiwi02@gmail. ABSTRAK Kesehatan mulut sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh secara umum dan sangat mempengaruhi kualitas kehidupan, termasuk fungsi bicara, pengunyahan, dan rasa percaya diri. AuHasil survei World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa hampir 90% penduduk di dunia menderita gingivitis. Gingivitis merupakan penyakit peradangan pada jaringan gingiva yang banyak diderita masyarakat di Indonesia. Indonesia, gingivitis menduduki urutan kedua yaitu mencapai 96,58%. AyTujuan penelitian untuk mengetahui prevalensi gingivitis kronis bulan. (November 2023 Ae Januari 2024 di Poli Gigi UPTD Puskesmas Baturiti I Tabanan. Bali sebanyak 122 pasien dari total 896 Dimana laki-laki sebanyak 5 pasien . ,61%), perempuan 47 pasien . Kesimpulannya prevalensi kunjungan pasien gingivitis berdasarkan jenis kelamin menunjukan bahwa jumlah pasien perempuan lebih dominan daripada perempuan, dan berdasarkan usia menunjukan lebih banyak terjadi pada usia 11-15 tahun dengan dan pasien dengan usia > 60 tahun paling sedikit yaitu sebanyak 2 pasien Kata Kunci : prevalensi, gingivitis kronis. UPTD Puskesmas Baturiti I ABSTRACT Oral health is very important for the health and well-being of the body in general and greatly influences the quality of life, including speech function, mastication and self The results of a World Health Organization (WHO) survey stated that almost 90% of the world's population suffers from gingivitis. Gingivitis is an inflammatory disease of the gingival tissue that many people suffer from in Indonesia. In Indonesia, gingivitis is in second place, reaching 96. The aim of the research is to determine the prevalence of chronic gingivitis in months. (November 2023 Ae January 2024 at the UPTD Dental Polyclinic. Baturiti I Tabanan Health Center. Bali, there were 122 patients out of a total of 896 patients. Of which there were 5 male patients . 61%), 47 female patients . The conclusion was the prevalence of visits based on gender, gingivitis patients show that the number of female patients is more dominant than male patients, and based on age, it shows that it occurs more frequently at the age of 11-15 years with at least 2 patients aged > 60 years. Keywords: prevalence, acute gingivitis. UPTD Puskesmas Baturiti I Pendahuluan AuKesehatan mulut sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh secara umum dan sangat mempengaruhi kualitas kehidupan, termasuk fungsi bicara, pengunyahan, dan rasa percaya diri. Gangguan kesehatan mulut akan berdampak pada kinerja seseorang. Kesehatan mulut tidak sepenuhnya bergantung pada perilaku seseorangAy(Putri et al. , 2. AuMasalah penyakit gigi dan mulut di Indonesia sampai saat ini masih perlu mendapatkan perhatian, mengingat berbagai upaya peningkatan dan usaha untuk mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut yang belum menunjukkan hasil nyata bila diukur dengan indikator derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat, yaitu prevalensi karies gigi dan penyakit periodontalAy (Kristina, 2. Penyakit periodontal berbeda dari karies gigi, karena cenderung menunjukkan perjalanan yang lebih kronis dan biasanya tidak memiliki manifestasi rasa sakit yang hebat, terutama pada tahap awal ketika individu tidak melaporkan ketidaknyamanan. Ciri khas penyakit periodontal terletak pada respons inflamasi jaringan yang mendukung gigi, dipicu oleh infeksi yang berasal dari bakteri (Leong et al. , 2. AuPenyakit periodontal yang banyak dijumpai adalah keradangan gusi atau gingivitis dan periodontitisAy (Carranza et al. , 2. GingivitisAuadalah suatu kondisi yang ditandai dengan peradangan gusi yang disebabkan oleh infeksi bakteri, yang menyebabkan pembengkakan gusi. Gingiva ialah bagian dari mukosa mulut yang menutupi mahkota gigi yang tidak tumbuh dan mengelilingi leher gigi yang sudah tumbuh, berfungsi sebagai struktur penunjang untuk jaringan di dekatnya. Gingiva dibentuk oleh jaringan berwarna merah muda pucat yang melekat dengan kokoh pada tulang dan gigi, yang mukosa alveolar menyambung dengan Gingiva dalam istilah awam disebut gusi. Jaringan gingiva yang mengalami inflamasi disebut gingivitis. Gingivitis, menunjukkan kondisi inflamasi gingiva, adalah kejadian umum pasca tahap pertumbuhan. AyKondisi ini ditandai dengan perubahan warna pada gusi, transisi dari warna yang lebih terang ke rona kebiruan, yang mencerminkan proses inflamasi yang meningkat. Manifestasi radang gusi bervariasi antar individu, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, latar belakang pendidikan, dan sebagainya (Kusumawardani, 2. Hasil survei World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa hampir 90% penduduk di dunia menderita gingivitis. 80% di antaranya ialah anak usia di bawah 12 tahun (Amelka vania B & Restuning, 2. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan prevalensi nasional masalah gigi mulut meningkat dari 25,9% pada tahun 2013 menjadi 57,6% pada tahun 2018 (Kementerian Kesehatan RI, 2. Gingivitis merupakan penyakit peradangan pada jaringan gingiva yang banyak diderita masyarakat di Indonesia. Di Indonesia, gingivitis menduduki urutan kedua yaitu mencapai 96,58%. Data RISKESDAS 2018 menunjukkan persentase kasus Gingivitis di Indonesia sebesar 74,1% (KEMENKES, 2. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (KEMENKES, 2. Pencegahan Aumaupun penanganan Gingivitis dapat diupayakan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Permenkes RI No. 58 Tahun 2012. Pasal 17 mengenai upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut yaitu penyuluhan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, perawat gigi harus dapat memberikan promosi dengan mudah dipahami masyarakat dan diterapkan dikehidupan sehari-hari untuk mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut dalam meningkatkan derajat kesehatan gigi optimalAy(Kementerian Kesehatan RI. Gingivitis memanifestasikan berbagai tingkat keparahan yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti kuantitas dan kualitas plak bakteri, respon imun inang, dan variasi morfologi jaringan periodontal antara populasi anak dan dewasa (Karim, 2. Metode Penelitian ini adalah jenis penelitian observasional yang menggunakan metodologi cross-sectional. Prosedur ini memerlukan pelacakan sesaat, di mana spesimen diteliti untuk durasi singkat melalui perkiraan, pengawasan, atau kompilasi data pada titik tertentu . trategi titik wakt. Variabel yang diteliti dalam penyelidikan ini berkaitan dengan contohgingivitis. Kelompok penelitian ini mencakup 500 individu yang datang di UPTD Puskesmas Baturiti II Tabanan Bali. Metodologi pengambilan sampel yang diadopsi adalah teknik pengambilan sampel yang bertujuan. Spesimen berasal dari individu yang memenuhi kriteria yang ditetapkan, khususnya mereka yang mencari pengobatan di UPTD Puskesmas Baturiti I Tabanan. Bali, dengan diagnosis K05. 1 antara Desember 2023 dan Februari 2024, dengan total 896 individu. Hasil Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kunjungan Pasien Abses Gingivitis Kronis di Puskesmas Baturiti I Tabanan. Bali dari bulan November 2023 Ae Januari 2024 Bulan Frekuensi Pasien Frekuensi Seluruh Persentase (%) Kasus Abses Kunjungan Pasien Gingivitis Kronis . November 2023 16,88 Desember 2023 12,50 Januari 2024 11,66 Total 37,05 Sumber : Buku registrasi kunjungan pasien Poliklinik Gigi Puskesmas Baturiti I bulan November 2023 Ae Januari 2024. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kunjungan Pasien Kasus Abses Gingivitis Kronis Berdasarkan Jenis Kelamin pada bulan November 2023-Januari 2024 Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Laki-laki 9,61 Perempuan 90,38 Total Sumber : Buku registrasi kunjungan pasien Poliklinik Gigi Puskesmas Baturiti I bulan November 2023 Ae Januari 2024 Dapat dilihat Tabel 2 menunjukan bahwa jumlah pasien perempuan sebanyak 47 orang . ,38%) dan merupakan jumlah yang dominan, sedangkan pasien laki-laki sebanyak 5 orang . ,61%). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kunjungan Pasien Kasus Abses Periapikal Berdasarkan Usia pada bulan November 2023-Januari 2024 Usia Frekuensi . Persentase (%) 0-8 Tahun 9-10 Tahun 13,11 11-15 Tahun 22,13 16-21 Tahun 21,31 22-30 Tahun 15,57 31-45 Tahun 8,19 46-50 Tahun 4,09 51-55 Tahun 56-65 Tahun 0,17 >66 Tahun 0,11 Total Sumber : Buku registrasi kunjungan pasien Poliklinik Gigi Puskesmas Baturiti I bulan November 2023 Ae Januari 2024 Pada Tabel 3 mayoritas pasien dengan kasus gingivitis berusia 9-10 Tahun sebanyak 27 orang . ,13%) kemudian diikuti pasien berusia 16-21 tahun sebanyak 26 orang . ,31%) dan pasien dengan usia >66 Tahun paling sedikit yaitu sebanyak 2 orang . ,11%). Pembahasan Gingivitis timbul dari penumpukan bakteri plak akibat praktik kebersihan mulut yang tidak memadai, serta pengendapan kalkulus, iritasi mekanis, dan posisi gigi yang tidak teratur, yang dapat bertindak sebagai elemen yang berkontribusi. Kehadiran bakteri plak dalam jumlah besar mengganggu keseimbangan halus dalam interaksi inang-parasit, berpotensi menyebabkan perkembangan karies gigi dan penyakit periodontal. Biasanya, plak cenderung menumpuk secara signifikan di area interdental terbatas, dengan peradangan gusi sering berasal dari situs papilla interdental dan kemudian menyebar ke daerah serviks gigi. Respon individu terhadap plak sebagai elemen pemicu bervariasi di antara populasi, dengan anak-anak tertentu menunjukkan reaksi minimal terhadap rangsangan local (Laskaris, 2. Berdasarkan data yang didapatkan pada tabel 1 menunjukan frekuensi pasien dengan keluhan gingivitis kronis di Puskesmas Baturiti 1 cukup tinggi terutama di bulan November 2023 yaitu sebanyak 52 orang . ,88%), mengalami penurunan pada bulan Desember 2023 yaitu menjadi 36 orang . ,5%). Distribusi pasien yang hadir dengan keluhan Gingivitiis Kronis pada Tabel 2, sebagaimana digambarkan berdasarkan jenis kelamin, mengungkapkan bahwa wanita menyumbang 47 individu, merupakan 90,38% dari total, sehingga mewakili mayoritas. AuSebaliknya, pasien laki-laki hanya berjumlah 5, membentuk 9,61 % dari Ini diakibatkan pada perempuan, gingivitis dapat menjadi lebih parah apabila perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Keadaan inilah yang sering disebut pregnancy Gingivitis kehamilan dapat terjadi pada wanita karena meningkatnya kadar hormon esterogen dan progesteron, dimana hormon tersebut dapat merangsang terbentuknya prostaglandin pada gingiva ibu hamil. Selain itu akibat perubahan hormon progesteron dan esterogen juga dapat menekan limfosit T dan mempengaruhi peningkatan inflamasi pada ibu hamil. Ay (Deliemunthe, 2. Pada Tabel 3 mayoritas pasien dengan kasus gingivitis kronis berusia 11-15 tahun sebanyak 27 orang . ,13%) kemudian diikuti pasien berusia 16-21 tahun sebanyak 21,31 orang . ,5%) dan pasien dengan usia diatas 66 tahun paling sedikit yaitu sebanyak 2 orang . ,11%). Hasil data ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eldarita dimana insiden terjadinya suatu gingivitis dipengaruhi oleh hormonal pada ibu hamil maupun hormon pubertas pada usia remaja. ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Xiaoliu, dkk dengan menyatakan prevalensi gingivitis pada anak usia 6-12 tahun di Jinzhou adalah 28,58%, terdiri dari 701 kasus gingivitis lokal . ,3%) dan 122 kasus gingivitis generalisata . ,2%) (Liu et al. , 2. Dikutip dari hasil penelitian Eldarita yang dilakukan tentang pengaruh masa pubertas terhadap keadaan gingiva di Puhun Pintu Kabun Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi tahun 2019 dapat disimpulkan yaitu keadaan gingiva responden pada masa pubertas awal kriteria sehat 3 . ,1%), peradangan ringan 16 . ,%), peradangan sedang 18 . ,7%), peradangan berat 1 . ,6%). masa pubertas menengah kriteria sehat 2 . ,3%), peradangan ringan 3 . ,9%), peradangan sedang 15 . ,5%), peradangan berat 18 . ,7%). dan masa pubertas akhir kriteria sehat 0, peradangan ringan 5 . ,2%), peradangan sedang 11 . ,9%), dan peradangan berat 22 . ,9%) (Eldarita. Penelitian di bidang periodontia telah mengungkapkan pengaruh signifikan perubahan hormon pada kesehatan mulut. Peradangan gingiva dapat beri melalui perawatan rumah sederhana, seperti membersihkan gigi dan mulut secara teratur untuk mengelola penumpukan plak. Manifestasi klinis peradangan gingiva termasuk perdarahan gingiva, perubahan warna, perubahan tekstur yang ditandai dengan penampilan mengkilap dan licin, perubahan kontur gingiva, dan perkembangan kantong gingiva. Kehadiran faktor lokal yang menyebabkan penyakit periodontal, terutama peradangan gingiva selama masa pubertas atau biasa disebut sebagai gingivitis pubertas, dapat diperburuk oleh peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron pada masa remaja (Hafsari, 2. Hasil penelitian pada kasus gingivitis menunjukan bahwa indikasi gingivitis yang paling sering terjadi pada perempuan yang khususnya pada ibu hamil. Penyebab gingivitis selama kehamilan adalah kurangnya kebersihan gigi dan mulut serta jaringan sekitarnya, terutama pada trimester pertama yang berkaitan dengan mual, muntah, hiperemesis gravidarum, keengganan, dan kurangnya perhatian untuk membersihkan gigi dan mulut setelah makan, sehingga plak terbentuk dengan cepat (Hidayati et al. , 2. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan Chawla yang menyatakan bahwa ibu hamil dengan pendidikan rendah cenderung lebih banyak mengalami gingivitis berat. Ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kebersihan gigi dan minimnya pemanfaatan layanan kesehatan. Ibu hamil yang berpendidikan tinggi cenderung lebih mudah menyerap informasi, baik secara lisan maupun tulisan, sehingga pendidikan memainkan peran penting dalam penentuan manfaat layanan kesehatan. Oleh karena itu, ibu hamil dengan pendidikan tinggi memiliki kebutuhan yang lebih tinggi dalam mencari layanan kesehatan (Chawla et al. , 2. Daftar Pustaka