Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama *M. Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum. Email: ihsan. nashihin@uai. id1, faisal. sundani@uai. id2, bahrul. ulum@uai. 1,2,. Universitas Al-Azhar Indonesia. Jakarta Selatan. Indonesia Abstract The purpose of the study was to explain the process of developing learning strategies in the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P. activities to improve the quality of religious moderation in students in schools. The development process was carried out based on scientific studies, expert opinions and scientific methodology steps. The study used a development method with four steps, analyzing activities, developing P5 based on scientific studies and expert opinions, conducting trials and dissemination in schools. The results of the study found that the improvement in quality was The value of religious moderation was 88. 53, where the previous year was only 81. National commitment scored 88. 25 where previously it was 80. 60, tolerance scored 90. 01 which was previously 82. 28, anti-violence scored 88. 03 where previously it was 76. 92 and finally 90. where previously it was 85. This study contributes to providing ideas for policy makers and teachers that improving the quality of religious moderation in schools can be done with concrete, planned and measurable steps through the development of P5 learning strategies in the classroom. Keywords: Learning Strategy. Religious Moderation. Tolerance. Diversity. Pancasila Student Profile Strengthening Project (P. Keywords: Religious Moderation. Strengthening Projects. Pancasila Student Profile. Abstrak Proses pengembangan dalam kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. bisa meningkatkan kualitas moderasi beragama pada siswa di sekolah menjadi tujuan penelitian. Proses pengembangan dilakukan berdasarkan kajian ilmiah, pendapat para ahli dan langkah-langkah metodologi ilmiah. Penelitian menggunakan metode pengembangan dengan 4 langkah, menganalisis, melakukan pengembangan P5 berdasarkan kajian ilmiah, pendapat para ahli, uji coba dan diseminasi di sekolah. Hasil penelitian Peningkatan kualitas ditemukan baik. Nilai moderasi beragama 88,53, di mana tahun sebelumnya hanya 81,38. Komitmen kebangsaan mendapat nilai 88,25 di mana sebelumnya 80,60, toleransi memperoleh 90,01 yang sebelumnya 82,28, antikekerasan mendapat nilai 88,03 di mana sebelumnya 76,92 dan terakhir 90,12 di mana sebelumnya 85,73. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan gagasan bagi pemegang kebijakan dan para guru bahwa peningkatan kualitas moderasi beragama di sekolah dapat dilakukan dengan langkah konkret, terencana dan terukur melalui pengembangan strategi pembelajaran P5 di kelas. Kata Kunci: Moderasi Beragama. Proyek Penguatan. Profil Pelajar Pancasila (P. Cara Mensitasi Artikel: Nashihin. Kamaludin. S, & Ulum. Pengembangan kegiatan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P. berorientasi moderasi beragama. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 94-119. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: nashihin@uai. Histori Artikel: Diterima Direvisi Diterbitkan Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. : 13/04/2025 : 15/06/2025 : 30/06/2025 DOI: https://doi. org/10. 46963/alliqo. AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam M. Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama PENDAHULUAN Sekolah dan kurikulum merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan (Alamolhuda, 2022: . , sekolah akan terus berjalan dalam menyelenggarakan proses kegiatan belajar mengajar sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sekolah diibaratkan sebagai kereta dan kurikulum sebagai relnya. Para ahli mendefinisikan kurikulum sebagai sejumlah pengalaman siswa yang direncanakan, diarahkan, dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan oleh sekolah atau guru guna mencapai tujuan tertentu (Masykur, 2019: . Sejak kemerdekaan. Dunia pendidikan Indonesia tercatat sudah lebih dari 10 kali mengganti kurikulum yakni kurikulum tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013 dan 2020 (Muhammedi, 2016:76 ). Perubahan kurikulum tersebut merupakan suatu kelaziman agar bisa menjawab tantangan dan perkembangan zaman yang dinamis (Syaodih, 2019: . Pada tahun 2022 Kementerian Pendidikan mengenalkan Kurikulum Merdeka (Lestari et al. , 2023: . Salah satu alasannya diluncurkan kurikulum tersebut adalah sebagai respons terhadap dua tantangan besar pendidikan Indonesia saat ini, yakni turunnya kualitas literasi dan pudarnya karakter peserta didik di kalangan masyarakat (Kemendikbud, 2018: . Kurikulum merdeka telah diimplementasikan pada lebih dari 300. 000 sekolah di Indonesia (Syifauzakia, 2023: . Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 12 Tahun 2024 sehingga memberikan kepastian arahan kebijakan pendidikan di Indonesia. Dengan PERMENDIKBUD tersebut satuan pendidikan dapat merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan yang merubah paradigma dalam mewujudkan pembelajaran berkualitas. Adapun prinsip-prinsip dalam kurikulum tersebut ialah : . pengembangan karakter yang berkompetensi spiritual, moral, sosial dan emosional siswa, . fleksibilitas dan kontekstualitas, artinya pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi murid, karakteristik satuan pendidikan dan konteks lingkungan sosial dan budaya Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama setempat, . fokus pada muatan esensial sehingga berpusat pada muatan yang paling diperlukan untuk mengembangkan kompetensi dan karakter murid (Mubarak, 2022: . Bentuk konkret dalam mewujudkan prinsip-prinsip tersebut adalah dengan diadakannya kegiatan pengembangan karakter yang terintegrasi dalam kurikulum yang sistematis, terencana dan terukur yakni kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. P5 adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar dalam rangka menguatkan berbagai kompetensi dalam profil pelajar Pancasila (Melati et al, 2023: 1. P5 merupakan kegiatan pembelajaran yang bertujuan dalam pengembangan karakter agar siswa memiliki nilai-nilai Pancasila melalui metode pembelajaran di mana siswa melaksanakan tugas dan proyek tertentu(Asiah et al. , 2024: . Dalam P5 siswa dituntut untuk terlibat langsung dalam proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dengan ada bimbingan dari seorang pembimbing, guru di dalam P5 membimbing pelajaran secara tidak langsung melainkan sebagai tutor yang memberikan panduan kepada siswa dalam mengerjakan proyek tersebut sehingga siswa bisa mengembangkan keterampilan seperti berpikir kritis, gotong royong, kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Di sisi lain. Indonesia saat ini sedang intensif membangun karakter bangsa di kalangan peserta didik yang menjadi solusi atas kemajemukan Indonesia, yaitu moderasi beragama, karena moderasi beragama dinilai sebagai tali pengikat dalam kemajemukan masyarakat Indonesia. Pemerintah mempunyai perhatian yang sangat besar dalam mengembangkan moderasi beragama di seluruh lapisan masyarakat terutama pelajar karena sebagai penerus bangsa, maka dari itu moderasi beragama sekarang menjadi salah satu bagian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN). Selain itu, diterbitkan Peraturan Presiden (PP) no. 58 tahun 2023, kemudian disambut dengan Peraturan Menteri Agama no. 3 tahun 2024 tentang tata cara koordinasi, pemantauan, evaluasi dan pelaporan penguatan moderasi beragama. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Dalam Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri tersebut disimpulkan bahwa: . moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap dan praktik dalam beragama yang mesti digaungkan oleh semua masyarakat, semua antar umat pengembangan moderasi beragama dilakukan s(PP RI No. 58 Tahun 2023, 2. secara terencana, sistematis, koordinatif, kolaboratif dan berkelanjutan yang melibatkan struktural lembaga negara dari pusat ke daerah, . perlunya pemantauan dan evaluasi capaian peningkatan moderasi beragama di kalangan masyarakat . (PP RI No. 58 Tahun 2. Walaupun sudah melewati masa transisi pemerintahan, moderasi beragama terus menjadi wacana dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Dalam masa pemerintahan Kabinet Merah Putih di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto, moderasi beragama dijadikan sebagai wacana dalam pembangunan Indonesia dalam gagasan asta cita yang dibuat, poin asta cita kesepuluh ialah memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan alam dan budaya, peningkatan toleransi antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur(PP RI No. 12 RPJMN 2025-2029, 2. Secara ideal dan legislasi, moderasi beragama sudah menjadi produk hukum yang ideal. Namun secara fakta, kualitas moderasi beragama di kalangan peserta didik masih belum maksimal, berikut fakta-fakta : . Balai Litbang Agama Jakarta menyebut ada potensi intoleransi antar siswa sebesar 10-37% (The Wahid Institute, 2. , . SETARA Institute menyebut kuantitas intoleransi dan kekerasan masih fluktuatif dari tahun 2019 sampai 2022 ada sekitar 15 sampai 45 kasus tiap tahunnya (Sunarno et al. , 2023: . Hasil penelitian pada tahun 2023 berjudul AuEvaluating Evaluating the quality of Religous Moderation : a case study of students in public high schoolsAy menunjukan bahwa kualitas moderasi beragama siswa belum memuaskan, khususnya indikator anti-kekerasan karena bernilai 76,92 kategori cukup (Nashihin, 2024: . Data berikut menunjukan bahwa kualitas moderasi beragama di sekolah belum maksimal dan harus ditingkatkan, peneliti dalam hal ini menggagas penelitian bagaimana untuk mengembangkan moderasi beragama yang terintegrasi Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama dengan P5. Sehingga P5 di sekolah juga bisa meningkatkan kualitas moderasi beragama bagi peserta didik. Sebetulnya sudah banyak penelitian yang membahas terkait pengembangan P5 dan pembahasan moderasi beragama, diantaranya : . Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai: Upaya Peningkatan Karakter Anak Usia Dini, kesimpulan penelitian ini membahas pengembangan P5 agar bisa meningkatkan karakter anak di usia dini (Farhana & Cholimah, 2. , . Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Menengah Atas (SMA), penelitian tersebut membahas bagaimana tata cara implementasi P5 dalam pembelajaran di kelas (Melati et al, 2024: 1. Implementasi Pendidikan Moderasi Beragama di Sekolah Menengah Atas (Albana, 2023: . Penelitian ini membahas bagaimana implementasi pendidikan moderasi beragama di sekolah. Dari semua penelitian tadi tidak ada satu pun yang membahas bagaimana P5 dijadikan sebagai alat dalam mengembangkan moderasi beragama di sekolah, maka dari itu peneliti ingin mengisi kekosongan yang ada dimana peneliti mengembangkan kegiatan P5 berorientasi dengan moderasi beragama sehingga kedua hal tersebut dapat terintegrasi. Penulis melakukan penelitian dengan metode pengembangan dengan berupaya agar P5 bisa mengembangkan moderasi beragama peserta didik sehingga timbul suatu pertanyaan. bagaimana P5 mampu berkontribusi pada peningkatan kualitas moderasi beragama peserta didik ? Kemudian bagaimana mengembangkan strategi pembelajaran P5 sehingga bisa meningkatkan moderasi beragama bagi peserta didik di sekolah ? METODE Metode Penelitian ini menggunakan metode Research and Development atau Riset dan Pengembangan (R&D), yakni metode penelitian untuk menciptakan, mengambangkan dan menguji kegiatan pendidikan sehingga kegiatan tersebut bisa mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam dunia pendidikan (Amali et al. , 2019: Metode R&D mempunyai banyak ragamnya, namun penelitian ini alah penelitian R&D yang menganalisis produk yang telah ada kemudian dilanjutkan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama dengan membuat konsep dan melakukan pengembangan kemudian dilakukan beberapa modifikasi dalam produk tersebut kemudian diadakan uji efektivitas dalam produk hasil pengembangan tersebut (Sugiyono, 2021: . Metode R&D yang dilakukan penulis mengacu terhadap langkah-langkah pengembangan ilmiah dari Thiagarajan yang dikenal dengan 4D (Sugiyono 2021: Berikut skema gambarnya : Desain Define A Menentukan kegiatan P5 sebagai bahan analisa dan Development A Melakukan dan modifikasi kegiatan P5 sesuai dengan kajian ilmiah dan saran para ahli A Menguji produk secara berkala dan melakukan evaluasi dan dari setiap uji Dissemination A Menyebarluaskan atau diseminasi produk hasil pengembangan di beberapa tempat. Gambar 1. Skema 4D Dalam Metode R&D Menurut Thiagarajan Gambar di atas, menunjukan alur pengembangan kegiatan P5 dalam rangka mengembangkan moderasi beragama bagi peserta didik di sekolah. Langkahlangkah 4D tersebut ialah . Define, penulis mendefinisikan P5 sebagai produk yang akan dikembangkan kemudian di analisa berdasarkan kaidah ilmiah, . Design, sesudah menganalisis dan mengamati secara ilmiah dalam kegiatan P5, kemudian dilakukan pengembangan dan modifikasi agar kegiatan P5 tersebut berorientasi moderasi beragama, pengembangan yang dilakukan berdasarkan kajian literatur review dan diskusi dengan para ahli, . Development, peneliti dan guru di sekolah mengadakan uji coba dan memantau implementasi modifikasi kegiatan P5 tersebut di sekolah SMAN 70, kemudian dilakukan evaluasi dan perbaikan sampai Dissemination, pada tahap akhir ini, penulis menyebarluaskan kegiatan P5 berorientasi moderasi beragama hasil pengembangan dengan implementasi langsung dalam kegiatan P5 di beberapa sekolah yang telah bekerja sama, yaitu SMAN 06. SMAN 29. SMAN 74. SMAN 70 dan SMAN 32. HASIL DAN PEMBAHASAN Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai, budi pekerti dan pemikiran yang baik dalam diri peserta didik yang nantinya akan menjadi AomanusiaAo dalam masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan Indonesia tidak lepas dalam pengembangan karakter dalam setiap kurikulumnya. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Kurikulum di Indonesia selalu ada ruang dalam mengembangkan potensi keilmuan dan mentransformasikan kepribadian peserta didik, sehingga peserta didik mempunyai potensi keilmuan dan keterampilan baik juga mempunyai budi pekerti yang baik pula (Hamzah et al. , 2022. Salah satu langkah dalam mewujudkan cita-cita tersebut ialah mewujudkan kegiatan sistematis, terencana dan terukur dan sepaket dalam kurikulum berlaku, yakni Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. P5 merupakan salah satu produk kegiatan dalam ruang lingkup Kurikulum Merdeka. P5 merupakan pembelajaran dengan metode inkuiri . idak langsun. dengan materi lintas disiplin ilmu dalam mengamati, memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar sehingga siswa terangsang memiliki kepekaan diri dalam menyelesaikan dan memberikan solusi bagi Problematika lingkungan sekitar (Melati et al, 2021: 1. Penyelenggaraan kegiatan P5 merupakan salah satu bentuk implementasi kurikulum merdeka di sekolah (Maharani et al. , 2023: . Kegiatan P5 dirancang dalam rangka membentuk pelajar yang mempunyai karakter Pancasila, yakni beriman dan bertawa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebhinaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Program P5 ini mempunyai enam indikator yakni keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, keberagaman global, gotong royong, kreativitas, kemandirian dan berpikir kritis. Selain itu, tujuan P5 adalah meningkatkan antusiasme siswa dalam menyelesaikan proyek sehingga siswa tersebut mempunyai nilai dan profil Pancasila (Della, 2023: . Pelaksanaan P5 dilakukan secara fleksibel dari segi muatan, kegiatan dan waktu pelaksanaan. P5 dirancang terpisah dari intrakurikuler. P5 setidaknya harus dirancang dengan tujuan, muatan dan kegiatan pembelajaran proyek yang tidak harus dikaitkan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler. Tahap konseptual ialah pembelajaran berbasis proyek sesuai dengan instruksi guru dalam penyelenggaraan kegiatan P5 dengan tema yang telah ditentukan, adapun tahap kontekstual merupakan pembelajaran berbasis proyek yang dibimbing oleh guru dengan mengikuti dinamika Problematika kehidupan saat ini sehingga pembelajaran bersifat dinamis dan tidak monoton. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama P5 mempunyai sifat khas dalam pelaksanaannya, karena pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan terpisah dari semua mata pelajaran namun terintegrasi dalam pengamalan dan penghayatan dengan materi pelajaran yang berkaitan Peserta didik diberikan kesempatan dalam mengeksplorasi dan mewujudkan minat belajarnya, tidak hanya di kelas namun peserta didik didorong agar belajar secara inkuiri dengan dorongan guru untuk mengekspresikan pembelajaran di luar kelas maupun di luar sekolah. Dalam pelaksanaannya P5 merupakan kegiatan pembelajaran kokurikuler dengan pengalaman langsung yang dialami oleh peserta didik dalam mengerjakan proyek yang ditentukan oleh guru agar kompetensi dan karakter peserta didik sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Implementasinya dilakukan secara fleksibel dalam segi muatan, kegiatan dan waktunya. Orang-orang yang terlibat tidak hanya warga sekolah tetapi juga bisa mengundang masyarakat luar dan para ahli dalam mengerjakan proyek tersebut. Adapun tema-tema utama proyek penguatan profil pelajar Pancasila yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan termasuk SD/MI. SMP/MTs. SMA/MA. SMK/MAK dan sederajat adalah gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, bhineka tunggal ika, bangunlah jiwa dan raganya, suara demokrasi, rekayasa dan teknologi, kewirausahaan, dan kebekerjaan (Maharani et al. , 2023: . Setelah menentukan tema, kemudian pihak sekolah menentukan dimensidimensi yang cocok dengan tema yang telah ditentukan sebelumnya. Berikut enam dimensi profil pelajar Pancasila, yaitu . dimensi Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, . Berkebhinekaan global, . Gotong royong, . Mandiri, . Bernalar kritis, . Kreatif. Berikut contoh tema dan dimensi P5 yang telah ditentukan oleh sekolah dan dijadikan sebagai kegiatan P5 dalam satu tahun. Tabel 1. Tema dan Dimensi P5 Yang Sudah Dirumuskan Oleh Sekolah Kelas Kelas X Projek Proyek 1 Tema Gaya Hidup Proyek 2 Rekayasa dan Teknologi Dimensi Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Berkebhinekaan global Bernalar kritis Kreatif Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Kelas XI Kelas XII Proyek 3 Kewirausahaan Proyek 1 Bangunlah jiwa dan raganya Proyek 2 Kearifan lokasl Proyek 1 Suara Demokrasi Proyek 2 Bergotong-royong Mandiri Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Mandiri Bernalar kritis Berkebhinekaan global Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Berkebhinekaan global Berkebhinekaan global Gotong royong Walaupun tema dan dimensi yang berbeda-beda antar sekolah namun dalam pelaksanaannya. P5 harus memiliki empat prinsip, yakni : . holistik, ialah cara pandang yang menyeluruh dalam memahami satu tema secara utuh dan memahami semua kaitannya secara mendalam, maka setiap proyek yang dilaksanakan menjadi sarana untuk menggabungkan beragam perspektif dan pengetahuan secara integral. kontekstual, ialah prinsip yang menjadikan P5 menjadi tema dari proyek berdasarkan realitas kehidupan yang dijumpai di lingkungan sekitar sehari-hari. Sehingga peserta didik terlatih dalam memecahkan masalah yang dia jumpai dalam kehidupan realitas sehari-hari. P5 dilaksanakan dalam dimensi luas di mana peserta didik dengan semangat untuk bebas melakukan eksplorasi dan pengembangan diri tanpa dibatasi struktur intrakurikuler berupa materi ajar, alokasi waktu dan penyesuaian dengan tujuan pembelajaran, . Berpusat pada peserta didik. P5 didorong untuk melibatkan peserta didik secara maksimal sehingga peserta didik menjadi subjek utama dalam proses belajar secara mandiri dan guru berperan sebagai fasilitator pelaksanaan proyek. Dengan begitu kegiatan pembelajaran akan mengasah kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah, meningkatkan kemampuan dan menumbuhkan daya insiatif. Sebagaimana disebutkan, tujuan diselenggarakan P5 adalah menjadikan peserta didik sebagai manusia berprofil pelajar Pancasila, yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebhinaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan penanaman moderasi beragama di sekolah ? Padahal moderasi beragama apabila Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama diajarkan di sekolah dapat meningkatkan moderasi beragama peserta didik (Kamaludin & Septayuda, n. d, 2020: . Dikarenakan moderasi beragama merupakan aspek penting dalam pengembangan aspek kepribadian peserta didik, dan moderasi beragama merupakan gagasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) 2020-2024 dan 2025-2029, juga termasuk dalam wacana asta cita pemerintahan Prabowo Subianto. Maka di sini penulis bersama tim peneliti dan para ahli mengembangkan P5 berorientasi moderasi beragama. Pengembangan Kegiatan Pembelajaran Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Moderasi beragama merupakan suatu pola pikir dan tindakan yang berusaha mengedepankan keseimbangan dan jalan tengah di antara perbedaan dalam melaksanakan keyakinan, praktik ibadah dan akhlak dalam masyarakat majemuk yang beragam (Saihu, 2021: . Definisi ini merupakan hal sangat bersinggungan dengan tujuan penyelenggaraan P5 di sekolah. P5 merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menjadikan peserta didik berprofil pelajar Pancasila. P5 mengembangkan sikap dan jiwa peserta didik agar memiliki soft skill sebagai bekal untuk masa depan dalam menjawab tantang pribadi dan tantangan komunal di masa depan (Satria, 2022: . Adanya keterkaitan P5 dan moderasi beragama, maka tim peneliti melakukan pengembangan P5 agar bermuatan moderasi beragama, pengembangan tersebut dilakukan dengan kajian akademik dan pendapat para ahli. Langkah pengembangannya terdapat dalam tiga langkah strategis, yaitu dalam . tujuan kegiatan, . strategi pembelajaran, . materi pembelajaran. Pengembangan Tujuan Kegiatan Pembelajaran Pertama. Pengembangan pertama P5 agar bermuatan moderasi beragama dilakukan dengan menentukan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ialah hasil yang diharapkan dari proses pembelajaran yang mencakup perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa setelah mengikuti suatu kegiatan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Tujuan pembelajaran merupakan navigator untuk mengarahkan kemana suatu pembelajaran akan diarahkan. Tujuan pembelajaran berfungsi sebagai panduan bagi pendidik dalam merancang strategi, mode dan evaluasi pendidikan. Tujuan pembelajaran juga berfungsi sebagai dasar pengembangan kurikulum, di mana materi disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran (Majid, 2014: Dalam pengembangan tujuan pembelajaran P5 bermoderasi beragama, maka penulis mengembangkan P5 dengan tujuan sesuai dengan indikator-indikator moderasi beragama, yakni . komitmen kebangsaan, . toleransi, . anti-kekerasan, . akomodatif budaya lokal (Tim Penyusun, 2019: . Komitmen kebangsaan ialah janji patuh dan setia seseorang dalam mematuhi konstitusi sebagai warga negara yang baik (Nashihin, 2024: . Tujuan pembelajaran P5 bermuatan moderasi beragama diarahkan agar peserta didik memiliki komitmen kebangsaan yang kuat, di mana peserta didik memiliki tekad dan sikap yang kuat untuk menjaga, membangun serta mempertahankan identitas, persatuan dan kesatuan bangsa dalam berbagai aspek kehidupan. P5 dijadikan kegiatan pembelajaran inkuiri yang mendorong peserta didik agar memiliki jiwa yang mencintai tanah air, memiliki rasa persatuan dan kesatuan antar sesama, berperilaku yang mencerminkan kesadaran hukum dan demokrasi dan berinisiatif dalam partisipasi pembangunan. Toleransi ialah sikap menghargai semua perbedaan dalam beragama, baik secara internal maupun eksternal (Nashihin, 2024: . Agar P5 bermuatan moderasi beragama. P5 harus mempunyai tujuan siswa memiliki sikap toleransi, yakni sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti agama, budaya suku, pendapat dan kebiasaan (Abror, 2020: . Menjadikan toleransi sebagai tujuan pembelajaran P5, menjadikan peserta didik memiliki sikap menghargai perbedaan, tidak memaksakan kehendak, saling menghormati dan menjunjung persatuan. Implikasi toleransi dapat dilaksanakan dalam berbagai ruang seperti di keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, dan media sosial. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Anti kekerasan ialah sikap yang menjunjung tinggi usaha damai, reformatif dan konstruktif dalam semua tindakan baik dengan musyawarah, dialog dan perilaku solutif lainnya (Juandanilsyah et al, 2020: . Peserta didik yang memiliki sikap anti kekerasan maka dia bersikap menghindar dari semua bentuk kekerasan dalam menyelesaikan masalah dan memandang perbedaan. P5 bermuatan moderasi beragama menjadi sikap anti kekerasan sebagai tujuan pembelajarannya agar peserta didik mempunyai prinsip dan tindakan yang menolak segala bentuk kekerasan baik fisik, verbal maupun psikologis dalam kehidupan sehari-hari. Sikap anti kekerasan sebagai tujuan pembelajaran P5 mendorong murid agar mengutamakan menyelesaikan konflik secara damai. Hal itu dapat dicerminkan dalam beberapa perilaku seperti mengutamakan dialog dan musyawarah, menghargai hak asasi manusia, membangun empati dan kepedulian, menolak perundungan dan menjadi pionir dalam menjaga perdamaian dan kondusifitas Sikap akomodatif budaya lokal, ialah sikap yang menghargai semua keragaman budaya yang ada di lingkungan tanpa membenturkan antara agama dan budaya lokal (Susanto & Karimullah, 2016: . P5 dengan orientasi moderasi beragama bertujuan untuk mengajarkan peserta didik agar mampu hidup berdampingan dengan budaya dan nilai-nilai sekitar yang berlaku. Peserta didik diajarkan untuk bersikap terbuka, menghormati serta menerima keberagaman budaya yang ada dalam masyarakat tanpa merendahkan atau menghilangkan identitas budaya lain. Bentuk sikap akomodatif terhadap budaya lokal dapat dicerminkan dengan menghormati dan menghargai keragaman budaya, menerima dan menyesuaikan diri dengan budaya setempat, menjaga sikap toleransi antar budaya, melestarikan adat istiadat dan tidak memaksakan budaya sendiri kepada orang lain. Manfaatnya, peserta didik mampu berbaur dengan nilai dan budaya yang ada, menjaga persatuan, melestarikan warisan budaya leluhur, meningkatkan rasa toleransi dan memperkaya identitas bangsa. Pengembangan Strategi dan Metode Kegiatan Pembelajaran Kedua. Pengembangan moderasi beragama dalam P5 dilakukan melalui pengembangan strategi dan metode pembelajaran. Strategi pembelajaran ialah Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama pemilihan jenis kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran (Majid, 2014: . Sedangkan metode pembelajaran ialah proses penyampaian materi pendidikan kepada peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan teratur oleh tenaga pengajar. Strategi pembelajaran dan metode pembelajaran merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, strategi pembelajaran merupakan wacana pemilihan kegiatan belajar yang luas dalam mengelola proses pembelajaran sedangkan metode pembelajaran merupakan jenis kegiatan yang dipilih untuk mentransfer materi ajar kepada peserta didik (Hartati, 2019: . Jadi strategi pembelajaran merupakan hal lebih luas yang mencakup berbagai metode pembelajaran. Strategi pembelajaran berfungsi menjadikan proses pembelajaran begitu menarik dan membantu tujuan pembelajaran tercapai oleh peserta didik (Shi, 2017: Maka seorang guru wajib membuat, merancang dan mengimplementasikan strategi pembelajaran sesuai dengan materi dan proses pembelajaran yang ia P5 dilaksanakan dengan mengedepankan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, peserta didik menjadi aktor utama, guru hanya menjadi fasilitator dalam rangkaian kegiatan P5, maka sebaiknya P5 dilaksanakan dengan strategi pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai aktor utama dalam Berikut beberapa strategi pembelajaran yang cocok untuk menyelenggarakan P5. Strategi pembelajaran inkuiri, ialah proses pembelajaran di mana pusat kegiatan ada di peserta didik, peran guru bergeser dari seorang penceramah menjadi seorang fasilitator, guru mengelola lingkungan belajar dan memberikan ruang kepada peserta didik agar terlibat aktif di dalamnya, siswa baik secara personal atau kelompok dapat belajar dan menemukan makna pembelajaran secara sendiri (Prasetiyo, 2021: . Maka guru sebagai fasilitator harus menyediakan semua fasilitas penunjang pembelajaran seperti video, bahan cetak-non cetak, properti, dan Metode yang pas dalam strategi pembelajaran ini ialah metode diskusi. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama metode tanya jawab, metode eksperimen, metode jigsaw, metode watching video, metode mind mapping dan metode penugasan (Wena, 2018: . Strategi pembelajaran empiris . erbasis pengalama. , ialah penyelenggaraan P5 dengan pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran dan melibatkan mereka dalam pengalaman nyata secara langsung dalam tema-tema P5, maka belajar akan lebih efektif karena siswa secara langsung menghubungkannya dengan teori pembelajaran (Budiana, 2022: . Pelaksanaan strategi pembelajaran ini dilakukan dengan berbagai metode, yakni bila kegiatan P5 di sekolah dengan metode simulasi, metode bermain peran, apabila P5 dilaksanakan di luar sekolah dapat menggunakan metode study tour, metode investigasi dan metode field trip (Wena, 2018: . Strategi pembelajaran berbasis proyek, ialah strategi pembelajaran dengan menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran dalam P5. Guru sebagai fasilitator memberikan tugas kepada peserta didik agar mengerjakan suatu proyek berkaitan dengan tema-teman P5 yang telah ditentukan (Hartati, 2019: . Peserta didik secara bebas menentukan aktivitas belajarnya sendiri dalam mengerjakan proyek baik secara individu atau kelompok sehingga tercipta suatu produk. Strategi mengimplementasikan teori yang ada dalam proyek yang ditugaskan, kemudian peserta didik dilatih untuk berpikir kritis, kreativitas dan berkolaborasi dengan Metode yang cocok dalam strategi pembelajaran ini ialah metode penugasan, metode pembuatan proyek, metode service learning . egiatan pengabdian di masyaraka. (Majid, 2014: . Strategi pembelajaran Contekstual Teaching Learning (CTL), dalam strategi ini P5 dilaksanakan dengan pendekatan yang mengaitkan antara teori akademik dengan kehidupan nyata sehingga siswa memahami konsep lebih mendalam dan bermakna (Wena, 2018: . Teori yang dipelajari dikembangkan dalam konteks yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari sehingga teori tersebut lebih adaptif dan aplikatif, siswa tidak hanya menghafal teori saja, tapi juga memahami bagaimana konsep tersebut digunakan dalam kondisi sehari-hari. Metode yang pas digunakan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama dalam strategi pembelajaran ini ialah metode investigasi, metode berbasis masalah, metode field trip, metode simulasi (Majid, 2014: . Pengembangan Materi Pembelajaran Pengembangan P5 selanjutnya ialah pengembangan materi ajar dalam kegiatan P5 (Fahri et al. , 2023: . Materi pembelajaran merupakan isi pokok dalam kegiatan pembelajaran, hal tersebut merupakan substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar, tanpa materi pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan (Ubabuddin, 2019: . Materi pembelajaran adalah segala bentuk informasi, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diberikan dalam proses belajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Materi pembelajaran disusun secara sistematis yang menginterpretasikan konsep dan mengarahkan siswa untuk mencapai suatu kompetensi yang telah ditentukan dalam tujuan pembelajaran (Magdalena et al. , 2020: . Selain itu, materi pembelajaran juga disusun berdasarkan beberapa pertimbangan, yakni analisa peserta didik, sumber belajar, kurikulum yang berlaku, tujuan pembelajaran, ruang lingkup materi pembelajaran (Aprilia et al. , 2024: . Guna mengembangkan P5 menjadi kegiatan bermoderasi beragama, maka perlu dikembangkan dalam aspek materi pembelajaran (Kamaludin & Septayuda, d, 2023: . Nashihin menyebutkan bahwa dalam mengembangkan P5 bermuatan dengan materi moderasi beragama, maka perlu diajarkan nilai-nilai dan ajaran yang mendukung moderasi beragama, yakni tawassuth, iAotidal, tasamuh, musyawarah dan demokrasi, islah, qudwah, dan muwatanah (Nashihin, 2024: . Tawassuth, ialah sikap moderat, seimbang dan berada di tengah-tengah dalam bersikap dan menanggapi berbagai hal, sikap moderat tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam ibadah, akhlak, maupun muamalah (Shihab, 2019: . Prinsip tawassuth dalam Islam mencakup berbagai hal. Dalam akidah, sikap tawasuth diaplikasikan dengan pandangan yang tidak fanatik buta, tetapi berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman yang benar (Djamas, 2017: . Dalam ibadah, sikap tawassuth direfleksikan dengan pengalaman ibadah yang tidak berlebihan, tidak menyulitkan diri sendiri, tetapi juga tidak lalai. Dalam interaksi sosial, sikap tawassuth dicerminkan dengan sikap Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama adil dan toleran tanpa mengorbankan prinsip agama. Dalam berpendapat, sikap tawassuth diaplikasikan dengan sikap yang menghormati perbedaan dan tidak mudah mengkafirkan atau menyalahkan orang lain. (Gholib & Nashihin, 2017: . IAotidal, ialah bersikap adil, lurus dan tegak dalam setiap aspek kehidupan. Sikap ini mencerminkan keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta tidak condong kepada ekstrem kanan atau kiri dalam beragama, berpikir, atau bertindak. Ciri-ciri sikap iAotidal ialah adil dalam bertindak, seimbang dan tidak berlebihan dalam ibadah, bijaksana dalam berbicara, jujur dan amanah, menjaga hak dan kewajiban sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri atau orang lain (Gholib & Nashihin, 2017: . Tasamuh, ialah sikap toleransi di mana sikap yang saling menghormati dan menghargai perbedaan, baik dalam agama, budaya, pendapat maupun kebiasaan (Shihab, 2019: . Sikap ini penting dalam menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai dalam masyarakat yang beragam. Ciri-ciri sikap toleransi ialah menghormati perbedaan, bersikap sopan dan ramah, mengutamakan persatuan, menghindari konflik dan saling membantu (Umar et al. , 2021: . Musyawarah, ialah sikap yang mengedepankan dialog dan diskusi bersama untuk mencapai kesepakatan dalam suatu keputusan. Prinsip ini penting dalam kehidupan bermasyarakat karena mengedepankan kemaslahatan bersama dan mengantisipasi perpecahan dan kekerasan (Qamar, 2008: . Ciri-ciri sikap musyawarah ialah mengutamakan kepentingan bersama, saling menghormati pendapat, bersikap jujur dan terbuka, menerima keputusan dengan lapang dada (Gholib & Nashihin, 2017: . Muwathanah merupakan sikap kewarganegaraan dan cinta tanah air. Sikap ini merupakan kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga negara untuk bangga, tunduk dan patuh menjalankan kewajiban warga negara (Mujib, 2017: . Sikap ini tercermin dalam sikap yang membanggakan tanah air, taat terhadap aturan dan hukum, menjaga keamanan dan kedamaian dan berpartisipasi dalam pembangunan (Abror, 2020: . Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Analisa Kualitas Moderasi Beragama dari Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Pengembangan kegiatan tersebut diimplementasikan kepada peserta didik kelas XI SMAN 70 Jakarta dalam jangka waktu satu semester, kemudian tim peneliti memberikan kuesioner di akhir semester guna mengetahui perkembangan moderasi beragama di kalangan peserta didik pasca implementasi kegiatan pengembangan kurikulum merdeka yang telah disebutkan. Kuesioner berbentuk skala likert yang terdiri dari seperangkat pertanyaan dan pernyataan yang dibuat tim peneliti sebagai instrumen utama untuk mengetahui kualitas moderasi beragama. Peserta didik merespons dengan memilih salah satu pilihan jawaban di mana setiap jawaban memiliki derajat nilai yang berbeda-beda (Budiaji, 2013: . Kuesioner tersebut sudah melewati uji validitas dan reliabilitas secara statistik, artinya sudah bisa digunakan sebagai instrumen pengambil data yang bisa digunakan walaupun berbeda waktu tanpa merubah hasil data yang diambil (Sugiyono, 2021: . Kemudian kuesioner tersebut diberikan kepada semua peserta didik kelas XI sebagai penilaian akhir pasca kegiatan P5 yang dikembangkan dengan muatan moderasi beragama. Penulis membandingkan hasil penelitian ini dengan penelitian tahun 2023. Maka didapatkan hasil bahwa ditemukan perkembangan nilai moderasi beragama peserta didik. Perkembangan tersebut terdapat dalam kualitas keseluruhan moderasi beragama dan dalam setiap indikator. Secara keseluruhan, kualitas moderasi beragama peserta didik memiliki nilai 88,53 mengalami peningkatan sebesar 7,15 dari asalnya bernilai 81,38. Nilai 88,53 yang didapat setelah proses pengembangan P5 termasuk dalam kategori baik bahkan nyaris menyentuh kategori baik sekali . ,00-99,. yang mana sebelumnya hanya 81,38 hampir mendekati nilai sedang. Artinya ada kenaikan signifikan dalam nilai rata-rata kualitas moderasi beragama peserta didik setelah diberikan pengembangan P5 sebagaimana diagram berikut. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Tahun 2023 Tahun 2024 Diagram 1. Perkembangan Nilai Keseluruhan Moderasi Beragama Peserta Didik Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Diagram 2. Peningkatan Nilai Moderasi Beragama Peserta Didik Dalam Setiap Indikator Setelah Diadakan Pengembangan Kegiatan P5 Pertama, indikator komitmen kebangsaan. Setelah diadakan pengembangan kurikulum selama satu semester, maka capaian nilai moderasi beragama peserta didik ada dalam nilai 88, 25 naik signifikan dari tahun sebelumnya yang mencapai nilai 80,60 (Nashihin, 2024: . Kenaikan tersebut mencapai 07, 15. Interpretasi data tersebut mempunyai narasi bahwa peserta didik mempunyai peningkatan dalam memiliki komitmen kebangsaan, bersedia untuk tunduk, patuh dan bangga terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kriteria sebagai berikut : . peserta didik semakin baik dalam berkomitmen untuk menjadikan Pancasila sebagai kehidupan berbangsa dan bernegara, . peserta didik meyakini bahwa Pancasila sebagai sistem negara yang tidak perlu diganti dan tidak ada ruang sama sekali untuk mengganti Pancasila dengan ideologi lain dalam sistem negara. peserta didik selalu bangga dalam menjalankan kewajibannya sebagai warga negara baik dalam hal seremonial maupun formal seperti ikut upacara hormat bendera, tata Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama tertib di sekolah dan mematuhi semua hukum di Indonesia, . peserta didik semakin memiliki pandangan baik terhadap para tokoh, pejuang dan pahlawan bangsa untuk dijadikan sebagai role model dan keteladanan dalam kehidupan mereka. Kedua, indikator toleransi. Dalam indikator ini peserta didik mendapatkan nilai 90,01 kategori baik sekali meningkat signifikan sebanyak 07,73 setelah diadakannya implementasi pengembangan kurikulum, di mana tahun sebelumnya berada dalam nilai 82, 28 kategori baik. Implementasi pengembangan kurikulum merdeka berorientasi moderasi beragama membawa dampak bagi peserta didik dalam meningkatkan nilai toleransi dalam kehidupan peserta didik di dalam dan luar sekolah. Interpretasi narasi implisit dari data tersebut menyimpulkan bahwa : . Siswa selalu menghormati jalannya praktik ibadah agama lain dari temannya, misalnya siswa non muslim tidak makan depan non muslim ketika bulan ramadhan, . Siswa ikut terlibat aktif di kegiatan perayaan hari raya besar keagamaan lain di sekolah dalam rangka menghormati dan mempererat persaudaraan peserta didik, misalnya ketika acara Peringatan Maulid Nabi SAW, maka peserta didik non muslim terlibat aktif menjadi panitia dalam, peserta didik muslim bersama-sama mengucapkan selamat ketika peserta didik non muslim merayakan hari raya besar keagamaan . Para peserta didik berteman dengan temannya tanpa membedakan agama dan keyakinan, siswa terlihat kompak berbaur dan berkomunikasi atas dasar persahabatan tidak mengedepankan perbedaan yang ada di antara mereka khususnya dalam perbedaan agama, juga tidak ada siswa yang merasa disudutkan dan dikucilkan dengan alasan perbedaan agama. Peserta didik selalu berprinsip akan kemaslahatan bersama yakni peserta didik selalu mengedepankan kemaslahatan umum tanpa memperuncing perbedaan yang ada. Misalnya peserta didik yang terlibat dalam organisasi, perlombaan dan kegiatan di sekolah selalu mengedepankan misi dan tujuan dari kegiatan tersebut dan tidak terhalang dengan perbedaan agama yang ada. Para peserta didik selalu menghormati atas perbedaan yang ada baik perbedaan tersebut terjadi di antara sesama agama peserta didik maupun perbedaan yang terjadi antar agama peserta didik. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama Ketiga, indikator anti-kekerasan. Sikap anti-kekerasan ialah sikap yang berusaha untuk menghindar dari semua bentuk kekerasan dalam memandang perbedaan dan penyelesaian masalah antar sesama. Dalam indikator ini, setelah diadakan pengembangan kurikulum, maka peserta didik mendapatkan nilai 88,03 kategori baik. Nilai tersebut meningkat secara signifikan di mana tahun lalu hanya berada dalam nilai 76,92 kategori cukup. Artinya peserta didik secara signifikan mampu memperbaiki kekurangannya pada tahun lalu di mana setelah diadakan implementasi pengembangan kurikulum peserta didik terjauh dari sikap kekerasan yang meliputi ucapan, tindakan dan tulisan. Justru para peserta didik lebih mengedepankan dialog, diskusi dan saling memahami atas perbedaan yang ada. Interpretasi makna nilai 88,03 ialah : . Para peserta didik tidak melakukan pemaksaan dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, justru mereka berusaha menemukan titik temu dalam memandang semua perbedaan sehingga semua pendapat terakomodir dan tidak ada unsur pemaksaan dan kekerasan. Hal ini adalah contoh dari sikap IAotidal atau moderat dalam pendidikan. Dengan demikian, peserta didik dapat menjadi lebih terbuka, fleksibel, dan mampu bekerja sama dengan orang lain dalam memecahkan masalah dan mencapai tujuan bersama. Peserta didik memandang hukum yang berlaku dan tidak melakukan kegiatan di luar hukum dalam menyampaikan pendapat dan aspirasi keagamaannya, misalnya peserta didik tidak melakukan penutupan paksa terhadap warung makan di siang hari pada bulan Ramadhan, tapi mereka melaporkannya ke pihak yang berwajib yaitu kepolisian. Hal ini adalah contoh dari sikap yang bertanggung jawab dan menghormati hukum dalam menyampaikan pendapat dan aspirasi keagamaan dengan cara yang positif dan konstruktif. Peserta didik selalu mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menghadapi perbedaan pendapat dan miskonsepsi yang terjadi di tengah kehidupan peserta didik di sekolah dan di masyarakat. Peserta didik menyadari bahwa untuk berjuang tidak harus turun ke lapangan perang dengan jihad, namun lebih dari itu mereka sadar bahwa ada ruang kosong yang perlu diisi dalam memperjuangkan agamanya yaitu dengan mencari ilmu pengetahuan dan dengan cara diplomatis. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama . Dalam hal idola dan tokoh yang dikagumi, sekarang ini peserta didik lebih memilih para tokoh bangsa dan tokoh-tokoh perdamaian seperti Ir. Soekarno. Muhammad Natsir dll. Dan terhindar dari mengidolakan tokoh yang terkenal dengan kekerasan dan penyampaian pendapat secara paksa. Keempat, indikator akomodatif budaya lokal. Dalam indikator ini peserta didik mendapatkan nilai rata-rata sebesar 90,12 kategori baik sekali. Nilai tersebut lebih baik dari sebelumnya sebesar 85,73 kategori baik pada tahun 2023. Pencapaian nilai tersebut tidak terlepas dari pengembangan kurikulum merdeka yang diimplementasikan bagi peserta didik. Dengan pencapaian yang lebih tinggi pada dimensi akomodatif budaya lokal berarti para peserta didik dengan pengamalan agamanya akan selalu ramah dan mencintai budaya yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Agama bukanlah sebab penghalang dalam berbudaya, tetapi agama menjadi faktor yang bisa melestarikan bahkan mengembangkan kebudayaan yang ada di sekitar. Peserta didik menjalankan agama dan kepercayaan masingmasing dengan ramah, apresiatif dan akomodatif terhadap nilai dan budaya lokal yang ada. Setidaknya ada beberapa makna implisit dari perolehan nilai tersebut, yaitu : peserta didik selalu mengapresiasi nilai dan budaya masyarakat, tidak menjadikannya sebagai penghalang dalam menjalankan agamanya, . peserta didik tidak mengusik kebudayaan yang ada yang tidak sesuai dengan agamanya, tetapi menghormati dengan santun dan sopan. peserta didik selalu menghormati terhadap perkembangan budaya dan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Peserta didik berusaha untuk mengakomodir dan mengakselerasikan nilai-nilai agama dan budaya secara terintegritas dan berdampingan satu sama lain. Langkah terakhir dalam penelitian ini adalah proses diseminasi. Diseminasi penelitian adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh peneliti dalam rangka menyebarluaskan informasi, pengetahuan dan hasil penelitian kepada masyarakat yang lebih luas. Dalam penelitian ini peneliti bersama tim melakukan diseminasi di beberapa sekolah di daerah Jakarta Selatan, yakni SMAN 6. SMAN 29. SMAN 32 dan SMAN 74. Dengan demikian, proses diseminasi dapat memiliki kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan perilaku Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ihsan Nashihin. Faisal Sundani Kamaludin. Bahrul Ulum Pengembangan Kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Berorientasi Moderasi Beragama khalayak, serta mempromosikan perubahan sosial dan meningkatkan kualitas KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas moderasi beragama peserta didik dapat ditingkatkan dengan mengembangkan kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Pengembangan tersebut dilakukan dalam tiga aspek, yaitu dalam tujuan pembelajaran P5, strategi dan metode pembelajaran P5 dan materi pembelajaran P5. Hasil penelitian ini menunjukkan ada peningkatan signifikan apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Peningkatan tersebut terjadi pada kualitas moderasi beragama secara keseluruhan dan dalam setiap indikator moderasi beragama. Sudah saatnya pemangku kebijakan dalam hal ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (KEMENDIKDASMEN) dan pihak sekolah untuk menjadikan moderasi beragama sebagai bagian dalam wacana pengembangan karakter peserta didik di sekolah melalui kegiatan P5 dan lainnya. Karena moderasi beragama terbukti menjadi karakter yang bisa menjadi solusi persatuan dan perekat umat beragama yang majemuk, selain itu moderasi beragama juga merupakan salah satu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Asta Cita Pemerintahan Prabowo Subiyanto. Tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Riset. Teknologi dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang telah mendanai penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat dan menjadi rujukan dalam penelitian moderasi beragama dan kemajemukan. REFERENSI