ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Petani Maju Sebagai Agen Pembangunan Pertanian Progressive Farmers as Agent of Agricultural Development Yoyon Haryanto*1. Wiwik Yuniarti2 Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian Ciawi Jl. Aria Surialaga No. 1 Pasirjaya. Kota Bogor. Jawa Barat. Indonesia 16119 Jl. Raya Pertanian No. KM 11. Bendungan. Kabupaten Bogor. Jawa Barat. Indonesia 16720 *)Email korespondensi: yoyonharyanto@gmail. Diterima: 24-02-2024 Direvisi: 29-11- 2024 Disetujui terbit: 30-11- 2024 ABSTRACT Independent extension agent who come from progressive farmers are present because of the demand for a participatory approach so that farmers can become subjects in agricultural development programs starting from the stage of identifying problems, planning, implementing and evaluating. Progressive farmers are trusted by their community, giving them an advantage as agents of change in rural areas. This paper was the resulted of a study that aims to explained the concept of advanced farmers being able to become independent extension workers and have the ability to realize extension from farmers to farmers. Progressive farmers as volunteer farmer extension agents are also active actors in the concept of farmer-to-farmer learning methods. Optimizing the role of progressive farmers as independent extension agent in encouraging the acceleration of farmer regeneration is one of the solutions in compiling a road map for the development of young agropreneurs. It has been proven that progressive farmers as independent extension agents are able to play a role in spreading traditional technology based on local wisdom, become informal leaders and are able to synergize with fellow farmers in encouraging agricultural development in rural areas. Progressive farmers have a tendency to become volunteer farmer extension agents as a driving force for extension from farmers to farmers. This can be realized through increasing the capacity of independent extension workers in organizing and making farmers independent so that a participatory extension paradigm that leaves behind the old government pattern can be realized. Keywords: Progressive farmers, agent of change, extension farmer ABSTRAK Penyuluh swadaya yang berasal dari petani maju hadir karena adanya tuntutan pendekatan partisipatori agar petani dapat menjadi subjek dalam program pembangunan pertanian mulai dari tahap mengidentifikasi masalah, merencanakan, melaksanakan hingga tahap mengevaluasinya. Petani maju memiliki keunggulan dalam melaksanakan perannya sebagai agen perubahan di perdesaan karena bagian dari komunitasnya dan lebih dipercaya oleh sesama petani. Tulisan ini merupakan hasil telaah dan kajian yang bertujuan memaparkan konsep tentang petani maju dapat menjadi penyuluh swadaya dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan penyuluhan dari petani ke petani. Petani maju sebagai penyuluh swadaya juga menjadi pelaku aktif dalam konsep metode belajar dari petani ke petani. Optimalisasi peran petani maju sebagai penyuluh swadaya dalam mendorong percepatan regenerasi petani menjadi salah satu solusi dalam menyusun road map pengembangan agropreneur muda. Hal ini telah terbukti bahwa petani maju sebagai penyuluh swadaya mampu berperan dalam menyebarkan teknologi tradisional berbasis kearifan lokal, menjadi pemimpin informal dan mampu bersinergi dengan sesama petani dalam mendorong pembangunan pertanian di pedesaan. Petani maju memiliki kecenderungan kapabilitas menjadi penyuluh swadaya sebagai penggerak penyuluhan dari petani ke Hal tersebut diwujudkan melalui peningkatan kapasitas penyuluh swadaya dalam mengorganisasikan dan memandirikan petani sehingga paradigma penyuluhan yang partisipatori dan meninggalkan pola lama pemerintah . op dow. dapat terwujud. Kata Kunci: Petani maju, agen perubahan, penyuluhan dari petani Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 PENDAHULUAN Tantangan utama yang dihadapi penyuluhan pertanian saat ini adalah bagaimana mengembangkan pendekatan berkelanjutan dengan pelayanan prima dan memperluas pesan melalui peran kunci agen utama perubahan petani di Semakin berkurangnya jumlah kuantitas ketenagaan penyuluh pertanian yang menyebabkan keterbatasan layanan penyuluhan di perdesaan. Kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi penurunan jumlah penyuluh PNS sebesar 25 persen, akibat pensiun, alih fungsi jabatan dan penyuluh oleh pemerintah. (Marsh & Pannell, 1. mengungkapkan terkait tantangan penyuluhan saat ini dan masa depan tersebut adalah upaya-upaya bagaimana mengintegrasikan kegiatan penyuluhan pemerintah . ublic secto. dengan penyuluh swasta . rivate secto. Upaya . pengembangan pendidikan, pelatihan dan keprofesionalan . menyusun fungsi penyuluhan, dan . membangun struktur kelembagaan yang menjamin keefektifan keterkaitan antara sektor publik dengan swasta. Pendekatan semacam itu sangat pembelajaran dan inovasi petani untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam memproduksi lebih efisien dan pemasaran produk yang kompetitif (David S, 2007. Davis. Faure. Nahdy, & Chipeta, 2009. Leeuwis C. & van den Ban, 2. Paradigma baru penyuluhan memandang bahwa petani merupakan aktor penting dalam mencapai pembangunan yang penyuluhan yang digunakan bersifat Pendekatan memberikan peran yang tinggi pada petani untuk bersama-sama dengan penyuluh ataupun peneliti untuk mengembangkan program pembangunan mulai dari tahap pelaksanaan dan evaluasi kegiatan (Rhoades & Booth, 1. Seiring dengan tuntutan paradigma baru penyuluhan tersebut, penyuluh harus mampu terlibat dan hadir di tengah petani untuk membangun kemandirian petani. Peran penyuluh pertanian pemerintah saat ini dinilai hanya sekedar sebagai penyampai . teknologi dan Padahal penyuluh pertanian dituntut lebih ke arah sebagai motivator, dinamisator, fasilitator dan konsultan bagi petani (Tjitropranoto, 2003. Subejo, 2. (Lippitt, 1. dan (Rogers, 2. bahkan menambahkan penyuluh pertanian harus permasalahanpermasalahan yang dihadapi oleh klien . , membangun dan memelihara hubungan dengan sistem klien . , memantapkan adopsi, serta mencegah penghentian adopsi. Sebelum penyuluh swadaya, petani telah cukup Era Bimas sampai Supra Insus, dikenal dengan AuKontak TaniAy, yakni petani-petani maju dan komunikatif yang dipilih sebagai penghubung antara penyuluh dengan petani. karena sulitnya menjangkau seluruh petani sekaligus, maka dibutuhkan bantuan petani-petani sebagai komunikator (Syahyuti, 2016. Selain sebagai pembantu penyuluh, petani juga menjadi pelaku aktif dalam konsep metode belajar dari petani ke petani . armer to farmer learnin. Secara konseptual pendekatan ini diyakini bisa lebih efektif, terutama berasal dari para petani maju. Petani maju sebagai salah satu katalisator perubahan di perdesaan hadir karena sulitnya menjangkau seluruh petani sekaligus. Selain sebagai pembantu penyuluh, petani maju umumnya juga menjadi pelaku aktif dalam konsep metode belajar dari petani ke petani. Petani maju sebagai Penyuluh swadaya muncul sebagai reaksi dari terjadinya ketimpangan peran yang top down oleh penyuluh pemerintah sehingga mengurangi partisipasi dan inisiatif petani (Kiptot & Franzel, 2014. Penyuluh Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 swadaya merupakan individu dengan sedikit atau tanpa pendidikan formal namun memiliki kemampuan untuk meningkatkan diri sehingga dapat menjadi pelatih petani (Lukuyu. Place. Franzel, & Kiptot, 2012. Selener D. Chenier, 1. Penyuluh swadaya diidentikkan sebagai ketua kelompok tani (Indraningsih. Sugihen. Tjitropranoto. Pertanian, & Mengingat, 2010. Riana. Satria, & Purnaningsih, 2. Hal ini dikarenakan ketua kelompok tani memiliki tingkat pendidikan, status sosial yang lebih tinggi usahataninya yang lebih baik (Indraningsih et al. , 2. , serta memiliki sikap ketokohan dan modal sosial yang cukup kuat (Kiptot & Franzel, 2014. Saat ini dibutuhkan tenaga penyuluh yang berkemampuan mengembangkan komunikasi partisipatif dengan petani dan mampu membangun jaringan berbasis Sosok penyuluh swadaya dianggap memiliki keunggulan dari sisi tersebut (Haryanto & Yuniarti, 2. Hadirnya penyuluh swadaya diharapkan menjadi salah satu alternatif merubah pola top down penyuluhan yang selama ini dijalankan oleh pemerintah menjadi lebih Target akhirnya, adalah membangun dan memelihara hubungan interaktif antara pemerintah, swasta, dan komunitas petani (Haryanto et al. , 2018. Penyuluh memainkan peranan secara aktif, memiliki kontrol terhadap kehidupan komunitasnya masyarakat, serta menjadi lebih terlibat Dari karakteristik tipologi partisipasi (Pretty, 1. , keberadaan tokoh lokal akan lebih mampu menghasilkan partisipasi interaktif, dimana masyarakat berperan dalam proses analisis untuk perencanaan kegiatan dan penguatan kelembagaan, dan masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas pelaksanaan keputusankeputusan yang diambil, sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegiatan. Petani saat ini membutuhkan tidak hanya sekadar penyuluh, namun seorang memberikan pengetahuannya, dan mau terlibat serta hidup bersama di tengah masyarakat petani (Syahyuti, 2016. Sosok penyuluh yang pas dengan kriteria tersebut saat ini ada pada penyuluh swadaya yang berasal dari petani maju (Haryanto, 2. Hal ini karena penyuluh komunitas petani sehingga memiliki rasa empati yang lebih tinggi terutama untuk membantu sesamanya. Sisi keunggulan lain penyuluh swadaya adalah adanya kepercayaan yang lebih dari komunitasnya (Haryanto, 2018. Kiptot & Franzel, 2014a. Lukuyu et al. , 2012. Samuel ZB, 2. Berdasarkan uraian tersebut, petani maju seharusnya memiliki kapabilitas menjadi penyuluh swadaya sebagai penggerak penyuluhan dari petani ke Tulisan ini merupakan hasil telaah dan kajian yang bertujuan memaparkan tentang petani maju dapat menjadi penyuluhan dari petani ke petani. PENYULUH SWADAYA DAN PERANNYA DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN Penyuluh swadaya sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang sesuai konsep kapasitas (Brown & Westaway, 2. , yang dapat menggerakan fungsi dan perannya dalam penyuluhan dari petani ke petani dan pembangunan pertanian. Adapun peran yang dapat dilakukan oleh penyuluh swadaya antara lain: Menyebarkan Teknologi Tradisional Berbasis Kearifan Lokal Sejak hadirnya petani yang memiliki sifat penyuluh, dimulai dari era petani pemandu, penyuluh swakarsa dan sekarang yang lebih diakui oleh pemerintah dengan istilah penyuluh Penyuluh swadaya telah mampu memberikan pemecahan masalah untuk teknologi lokal untuk usahataninya dari hasil sekolah lapangan. (Syahyuti, 2. menggambarkan bahwa penyuluh swadaya dapat disebut Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 sebagai sosok yang lengkap. Penyuluh swadaya mampu melakukan kegiatan penyuluhan dengan motivasi sosial, pelayanan, namun sekaligus bisnis dan dalam prakteknya penyuluh swadaya menyampaikan inovasi yang berasal dari lingkungannya sendiri. Kasus di Nepal, pelibatan penyuluh swadaya dalam menghasilkan teknologi lokal dan telah terbukti efektif dalam menyebarkan inovasi tersebut kepada petani (Kumar Shrestha. Inovasi yang dihasilkan oleh kecenderungan diikuti oleh petani lainnya (Lukuyu et al. , 2. (Kiptot & Franzel, 2014. karena informasi yang disampaikan oleh penyuluh swadaya lebih mudah diterima oleh petani lainnya (Shelton. Wilke. Franti, & Josiah, 2. Kepemimpinan Informal Pemimpin informal umumnya tidak dipilih dan memiliki kekuasaan secara jelas serta tidak memiliki organisasi resmi yang membuat dirinya dihormati, disegani dan keputusan (Downey. Parslow, & Smart. Hasil penelitian (Downey. Parslow and Smart, 2. pemimpin informal merupakan komponen penting untuk memenuhi tantangan yang senantiasa berubah dalam lingkungan organisasi ataupun masyarakat. Terlepas dari jenis kelamin, pemimpin informal muncul melalui proses yang kompleks berdasarkan dari caranya mengambil peranan dan adanya persepsi di suatu lingkungan sehingga hal tersebut menjadi penentu dipilihnya pemimpin (Neubert & Taggar, 2. Dalam lingkungan masyarakat yang masih tradisional, umumnya pemimpin informal hadir dalam tokoh masyarakat Ketokohan tersebut muncul karena tingkat pendidikannya yang tinggi, ilmu agamanya yang taat atau karena posisinya di struktur sosial masyarakat tersebut. Penyuluh swadaya memiliki peranan yang cukup besar dalam pengambilan keputusan di Merujuk hasil penelitian (Downey. Parslow and Smart, 2. , maka penyuluh swadaya adalah bagian dari pemimpin informal karena diperhitungkan dalam pengambilan keputusan. (Haryanto & Suyadi, 2. menjelaskan bahwa peran tokoh petani maju sebagai salah satu penyuluh swadaya yang dominan adalah perannya dalam pengambilan keputusan dalam kelompok baik secara interpersonal maupun informasional. Perannya tersebut memberikan pengaruh yang positif dalam mendorong tumbuhnya kemandirian dalam dirinya sebagai petani sehingga tidak tergantung dengan orang lain dan dapat menjadi contoh petani disekitarnya dalam mengelola usahatani. Bersinergi dengan Petani Kekurangan tenaga penyuluh di lapangan menjadi suatu hambatan tersendiri saat ini, sehingga tingkat kinerja penyuluh pertanian pemerintah dalam memberdayakan petani relatif belum baik, salah satunya disebabkan oleh faktor interaksi sosial yang terbatas dengan petani (Marliati. Sumardjo. Asngari. Tjitropranoto. Saefuddin. Sementara, pelibatan penyuluh pertanian swadaya masih belum optimal (Syahyuti, (Hellin & Dixon, 2. meneliti terkait penyuluh swadaya di dataran tinggi Peru yang mengungkapkan bahwa dengan kondisi yang jauh dari jangkauan pemerintah karena sesuatu hal, interaksi yang bersinergi dari petani ke petani pengetahuan petani mitra. Selanjutnya (Agussabti, 2. dalam penelitiannya menyimpulkan perilaku petani dalam mengelola usaha tani berhubungan dengan frekuensi interaksi sesama petani. Semakin intensif mereka berinteraksi maka semakin banyak mendapat informasi baru untuk mengembangkan usaha taninya. Interaksi antar petani ini dapat berlaku juga bagi petani-petani lain yang berada diluar Hasil penelitian (Hellin & Dixon, 2. dan (Agussabti, 2. tersebut menjawab keraguan akan kemampuan penyuluh swadaya dalam berinteraksi dalam menyampaikan penyuluhan kepada Penyuluh swadaya juga baik dalam Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 berinteraksi dengan penyuluh pemerintah dan mampu meningkatkan partisipasi dari sesama petaninya (Putri. Anwarudin, & Sulistyowati, 2. Hal tersebut sesuai dengan (Indraningsih et al. , 2. yang swadaya mampu berinteraksi dengan banyak pihak, memperkaya wawasan dan memberikan manfaat dalam proses organisasi petani. PETANI MAJU SEBAGAI PENYULUH SWADAYA Sulitnya seluruh petani menyebabkan perlunya bantuan petani-petani maju sebagai Penyuluh swadaya juga menjadi pelaku aktif dalam konsep metode belajar dari petani ke petani. Secara konseptual pendekatan ini diyakini bisa lebih efektif. Petani maju adalah seorang pembelajar dan memiliki modal sosial yang Hal inilah membedakan dengan para petani pada umumnya. Petani maju cenderung mampu berkomunikasi dengan baik, terdidik dan memiliki potensi dalam (Haryanto. Anwarudin, & Yuniarti, 2. Pendekatan penyuluh swadaya berbeda dari satu negara dengan negara lainnya dengan peran yang bervariasi dari satu proyek ke proyek lainnya tergantung pada bagaimana mereka dipilih untuk menjadi pelatih, apakah mereka bekerja dengan kelompok-kelompok atau individu, apakah mereka dilatih sebagai spesialis dalam satu subjek atau sebagai generalis, dan apakah mereka bekerja hanya dalam (Scarborough V. Killough S. Johnson DA. Farrington J, 1. Penyuluh swadaya merupakan individu dengan sedikit atau tanpa pendidikan formal namun memiliki kemampuan untuk meningkatkan diri sehingga dapat menjadi pelatih petani (Lukuyu, 2012. Selener D. Chenier. Saat ini dibutuhkan tenaga penyuluh yang berkemampuan mengembangkan komunikasi partisipatif dengan petani dan mampu membangun jaringan berbasis Petani tidak membutuhkan sekadar penyuluh, namun seorang pendamping yang setia ikhlas memberikan pengetahuannya, dan mau terlibat serta hidup bersama di tengah masyarakat petani (Syahyuti, 2016. Target akhirnya, adalah membangun dan memelihara hubungan interaktif antara pemerintah, swasta, dan komunitas petani sehingga amanat Undang-Undang Nomor 19 tahun 2013 yaitu satu desa satu penyuluh dapat terwujud dari hadirnya petani maju sebagai penyuluh swadaya (Haryanto, 2. Data Dirjen Kependudukan Kementerian Dalam Negeri Tahun 2022 tercatat saat ini desa/kelurahaan, sehingga idealnya penyuluh yang harus dimiliki sejumlah desa/kelurahan tersebut. Saat ini penyuluh pemerintah hanya mengisi sekitar 60% dari ketersediaan penyuluh sehingga 40% lainnya dapat diisi sementara oleh penyuluh swadaya. Penyuluh swadaya dapat menjadi ketenagaan penyuluh pemerintah hal ini dikarenakan penyuluh swadaya mampu memainkan peranan secara aktif, memiliki kontrol terhadap kehidupan komunitasnya masyarakat, serta menjadi lebih terlibat dalam pembangunan. Penyuluh swadaya sebagai tokoh lokal dapat menjadi pengambilan keputusan penting untuk Hal ini sesuai dengan tujuh karakteristik tipologi partisipasi (Pretty, 1. yaitu keberadaan tokoh lokal partisipasi interaktif, dimana masyarakat berperan dalam proses analisis untuk perencanaan kegiatan dan penguatan kelembagaan, dan masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas pelaksanaan keputusan-keputusan sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegiatan. Kehadiran tokoh lokal yang kuat dapat menghindarkan dari partisipasi manipulatif, menuju partisipasi mandiri demokratis (Arnstein, 1. Dalam Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 konteks ini, penyuluh swadaya dapat menjadi tokoh tersebut. Inilah posisi unik penyuluh swadaya, karena ia adalah bagian dari komunitas petani itu sendiri. Sejalan dengan partisipasi, konsep pemberdayaan sangat kental bernuansa Penyuluh swadaya sebagai bagian dari komunitas semestinya juga mampu membangun akses dan modal Selain modal partisipatif dan politis, penyuluh swadaya juga punya nilai lebih Berdasarkan hal tersebut penyuluh swadaya dapat berasal petani muda, ketua kelompok tani atau tokoh petani yang memiliki kemampuan teknis bidang pertanian yang lebih baik dari petani lainnya yang dicirikan oleh pribadi yang berpendidikan, memiliki posisi di kelompok masyarakat dengan tingkat kosmopolitan yang baik, memiliki sifat altruisme yang didukung oleh modal sosial masyarakat, serta berjiwa pembelajar. Sejak hadirnya petani yang memiliki sifat penyuluh, dimulai dari era petani pemandu, penyuluh swakarsa dan sekarang yang lebih diakui oleh pemerintah dengan istilah penyuluh Penyuluh swadaya telah mampu memberikan pemecahan masalah untuk teknologi lokal untuk usahataninya dari hasil sekolah lapangan. (Syahyuti, 2. swadaya dapat disebut sebagai sosok yang lengkap, hal ini dikarenakan penyuluh swadaya mampu melakukan kegiatan penyuluhan dengan motivasi sosial, pelayanan, namun sekaligus bisnis dan dalam prakteknya penyuluh swadaya menyampaikan inovasi yang berasal dari lingkungannya sendiri. Kasus di Nepal, pelibatan penyuluh swadaya dalam menghasilkan teknologi lokal dan telah terbukti efektif dalam menyebarkan inovasi tersebut kepada petani (Kumar Shrestha. Inovasi yang dihasilkan oleh kecenderungan diikuti oleh petani lainnya (Lukuyu et al. , 2. , karena informasi yang disampaikan oleh penyuluh swadaya lebih mudah diterima oleh petani lainnya (Shelton et al. , 2. PENCIRI PETANI MAJU SEBAGAI PENYULUH SWADAYA (Anwarudin O dan. Haryanto, 2. mengungkapkan bahwa karakteristik yang ulet dan teladan dari penyuluh swadaya sebagai bagian dari komunitas masyarakat dapat memberi contoh dan dorongan secara langsung atau tidak langsung kepada generasi muda untuk melakukan usaha yang sama di bidang pertanian. Penyuluh swadaya yang berasal dari kontak tani ataupun pelaku utama memiliki modal sosial dalam memberikan motivasi kepada generasi muda pertanian untuk dapat berusaha di bidang pertanian sebagai bagian dari regenerasi pelaku (Yuliani & . Munandar Sulaeman, 2. mengungkapkan bahwa terdapat enam karakterstik penyuluh swadaya, antara lain: . kemampuan berorganisasi, . keinginan untuk belajar . einginan untuk berprestas. , . memiliki semangat yang tinggi, . berkomunikasi dengan baik, . memiliki dorongan kerjasama dan . bertanggung jawab. (Kiptot & Franzel, 2014. menyatakan bahwa salah satu karakteristik penyuluh swadaya adalah adanya altruisme dan motivasi yang kuat. Penyuluh kepercayaan dari petani di komunitasnya sehingga memiliki empati yang kuat untuk membantu petani (Samuel ZB, 2. Empati yang kuat inilah yang menjadi dasar timbulnya sifat altruisme. Altruisme atau perilaku prososial merupakan salah satu bentuk perilaku yang muncul dalam kontak sosial dan memiliki konsekuensi positif karena dilandasi oleh tindakan yang tulus tanpa mengharapkan sesuatu dari kegiatan menolongnya tersebut (Asih & Pratiwi, 2010. Watson, 1. (Parker, 1. mendefinisikan altruisme sebagai proses pengembangan peranan tambahan seseorang yang lebih mementingkan tanggungjawab, temannya, organisasi, masyarakat sekeliling dan nilai-nilai yang berkaitan organisasi. Sementara, perilaku prososial dapat dimengerti Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 perilaku yang menguntungkan penerima bantuan dapat ditunjukkan dengan pribadi yang sehat, terarah dan jelas sesuai dengan stimulus serta tanggung jawab atas segala keputusan dan perbuatannya terhadap lingkungan (Dwi Haryati, 2. Altruisme dibentuk oleh adanya pengalaman dan tuntutan sosial dalam Sikap altruisme merupakan salah satu sikap yang tidak tergantung pada pribadi, materi, atau sumber daya sosial yang mungkin menurun di usia tua (Kahana. Bhatta. Lovegreen. Kahana, & Midlarsky, 2. Sikap altruisme pada orang dewasa merupakan hasil asosiasi masa kecilnya yang membentuk perilaku yang selalu ingin membantu (Kahana et al. , yang mengacu pada rasa kasih sayang dan adanya motivasi untuk membantu sesama (Kahana. E Kahana, 2. , atas dasar kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain (Dovidio. Piliavin. Schroeder. JA. Penner, 2. dan oleh kebutuhan manusia untuk memiliki hubungan yang lebih baik dalam menjalani sisa kehidupannya (Kahana et , 2. (Kiptot Franzel, mengungkapkan bahwa salah satu faktor tokoh petani atau selanjutnya disebut pengetahuan dan keterampilannya adalah adanya altruisme. Beberapa peneliti lainnya mengartikan altruisme sebagai hasrat, perilaku atau tindakan, pandangan dan sikap seseorang untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri atau mengharapkan balasan eksternal (Richards, 2. , kecuali perasaan ingin berbuat baik (Taylor, 1. kesejahteraan kepada orang (Eisenberg, 1. Altruisme dibangun dari tiga konsep: . perilaku ingin menolong. tindakan berdasarkan moral. bertujuan untuk memperoleh imbalan internal dibandingkan eksternal (Batson. Perilaku ingin menolong dekat dengan sikap peduli, sedangkan tindakan karena moral dan imbalan cenderung pada sikap solidaritas inilah yang menjadi kekuatan dari petani maju sebagai penyuluh swadaya. Penyuluh swadaya juga merupakan petani pembelajar, namun memiliki kesempatan lebih dibandingkan para petani lainnya. Kesempatan lebih tersebut berupa kegiatan-kegiatan yang menunjang kemampuannya sebagai seorang agen pembaharu di perdesaan yang diperoleh penyuluhan, diklat dan swasta agar dapat melaksanakan pembelajaran sebagai penyuluh swadaya secara content dan process area dengan baik. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan (Rogers, 2. bahwa seorang penyuluh dapat berhasil melaksanakan tugasnya apabila kompeten dalam interaksi dengan inovasi-inovasi sebagai materi yang disampaikan dalam penyuluhan yang berorientasi kebutuhan Selain memperoleh kesempatan belajar, penyuluh swadaya juga melakukan pembelajaran secara langsung dengan mempraktekkannya dalam usahataninya sehingga dapat menemukan sendiri permasalahan dan pemecahannya, atau dengan mengamati perilaku orang lain yang lebih maju dalam usaha untuk ditiru Pola-pola semacam ini sesuai dengan model sistem pembelajaran sosial (Bandura, 1. yang menjelaskan tingkah laku manusia dari berkesinambungan antara faktor kognitif, tingkah laku dan faktor lingkungan. Hasil pembelajaran sosial tersebut diharapkan dapat menjadikan penyuluh swadaya meningkatkan kapasitasnya dalam menjalankan perannya secara Hal ini sesuai dengan (Sumardjo, pembangunan pertanian berkelanjutan memerlukan penyuluh yang handal dan . , memiliki kredibilitas . baik dalam materi penyuluhan maupun metoda penyuluhan, sehingga penyuluh dituntut untuk rnemiliki kualifikasi yang profesional. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Profesional dalam arti menguasai bidang penguasaan materi yang semestinya disuluhkan . ontent are. dan menguasai bidang metode menyuluhkannya . rocess (Haryanto. Sumardjo. Amanah, & Tjitropranoto, 2. menguatkan hal tersebut bahwa penyuluh swadaya memiliki tingkat kapasitas yang baik dalam pemberdayaan petani. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan yang dimiliki oleh penyuluh swadaya dalam hal pendamping teknis, mendiseminasikan inovasi yang sesuai kebutuhan petani, memberikan pelatihan kepada petani mitranya, menjadi pemimpin informal, dan memelihara kearifan lokal dapat menjadi modal dasar sebagai agen perubahan di PETANI MAJU SEBAGAI AGEN PEMBANGUNAN PERTANIAN Petani maju memiliki potensi dan kapasitas untuk menjadi pendamping di masyarakat dengan keberpihakan pada petani dan dapat mendorong terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik. Potensi tersebut tercermin dari tingkat pendidikan formal yang menengah sampai tinggi, usia produktif . , berjiwa pemimpin dan kosmopolit dengan kemampuan yang sosioenterpreneur (Dayat. Anwarudin. Kemampuan sosioenterpreneur tersebut merupakan hasil dari modal sosial yang dimiliki oleh penyuluh swadaya yang tercermin dalam memberikan manfaat kehadiran dirinya bagi komunitasnya, menyediakan lapangan kerja, membimbing petani, memberi kemudahan akses informasi pasar dan mampu membantu (Haryanto. Anwarudin and Yuniarti, 2. Konteks penyuluhan dari petani ke petani, petani maju dapat menjadi pelatih dan pendamping sesama petani yang baik terutama dalam menyampaikan informasi dan menerapkan inovasi teknologi. Pendekatan pelatih petani merupakan kegiatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain serta melakukan percobaan (Braun. AR. Hocde. Kasus di beberapa negara Afrika, petani maju sebagai penyuluh swadaya yang menjadi pelatih petani tidak dibayar untuk jasa mereka. Namun, sebagai imbalannya mereka menerima pelatihan gratis dari lembaga yang mempromosikan menerima benih menyiapkan demplot di ladang mereka sebagai bentuk untuk meningkatkan Pendekatan ini memiliki tujuan agar penyuluhan dari petani ke petani dapat berjalan berkelanjutan dengan biaya rendah (Noordin. Niang. Jama. Nyasimi, 2. melalui efek multiplier yang cakupannya lebih luas dari segi jumlah petani (Blauert. Quintanar, 1. Pendekatan ini juga memungkinkan petani untuk beradaptasi atau berinovasi, membuat keputusan yang lebih baik, dan memberikan umpan balik secara langsung kepada para peneliti dan pembuat kebijakan (Kiptot & Franzel, 2014. (Nakano. Tsusaka. Aida, & Pede, 2. menyebutkan hasil penelitiannya di Tanzania terkait dengan bagaimana mengatasi kesenjangan adopsi suatu teknologi baru yang diterapkan kepada para petani maju yang menunjukkan hasil bahwa apabila teknologi baru tersebut dapat di adopsi dengan mudah oleh petani maju maka petani lainnya dapat belajar dengan mudah ke petani maju sehingga kesenjangan pengetahuan dapat diatasi dengan hadirnya petani maju. Petani maju yang menjadi pelatih dan pendamping sesama petani memiliki kesempatan untuk melakukan lebih baik daripada teknisi atau penyuluh lainnya karena mereka tahu sasaran dan bahasa yang lebih baik serta menggunakan ekspresi yang sesuai dengan lingkungan mereka (Mulanda. Mwenya. Namalambo, 1. Menjadi pelatih petani sangat efektif terutama jika mereka berasal dari petani yang memiliki kesamaan dari berbagai aspek dengan petani yang yang dilatihnya (Kiptot. Franzel. Hebinck, & Richards. Mereka menanamkan rasa percaya diri pada petani memperlihatkan praktik baru (Mulanda. Mwenya. Namalambo, 1. dan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 (Pradiana. Anwarudin. Maryani. STRATEGI PENYULUHAN DARI PETANI MAJU KE PETANI Strategi penyuluhan dari petani ke petani melalui tokoh petani maju sebagai penyuluh swadaya merupakan penjabaran dari model yang dihasilkan dari kajian deduktif dan pengujian secara empiris yang dilakukan (Haryanto, 2. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penyuluh swadaya dapat berperan dengan baik apabila diperkuat dengan peningkatan kapasitas yang dimilikinya. Faktor yang memberikan pengaruh nyata secara positif dalam peningkatan kapasitas adalah tingkat altruisme, proses pembelajaran, dukungan lembaga terkait, modal sosial masyarakat dan pemenuhan kebutuhan informasi/inovasi (Haryanto. Anwarudin. Kondisi ini memperlihatkan bahwa penyuluh swadaya dapat meningkat kapasitasnya dengan adanya proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh pemerintah baik dalam bentuk pendidikan pengujian teknologi dan lainnya, sehingga penyuluh swadaya terpenuhi kebutuhan inovasi/informasinya, menguasai proses dan substansi penyuluhan yang baik dalam menyelenggarakan penyuluhan dari petani ke petani. Hal ini karena proses pengaruh positif terhadap kapasitas individu dengan berbagai faktor penunjang di dalamnya (Fatchiya A, 2010. Yumi. Sumardjo. Darwis. SG. Sugihen, 2. (Yumi. Sumardjo. Darwis. SG. Sugihen, 2. Fakta di lapangan, beberapa penyuluh swadaya mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mendorong komunitasnya maju dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, hal ini merupakan ciri dari penyuluh swadaya yang telah mandiri dan memiliki kapasitas yang baik. Oleh karena itu, penyuluh swadaya dapat dimanfaatkan petani yang selama ini belum terjangkau permasalahan kuantitas jumlah penyuluh Hal yang sama juga diungkapkan oleh (Syahyuti, 2. yaitu bahwa penyuluh swadaya memiliki peran masyarakat pertanian. Tingkat adaptasi yang baik dari penyuluh swadaya dalam melaksanakan penyuluhan dari petani ke Penyuluh swadaya juga merupakan pelaku utama yang aktif sehingga lebih memahami mekanisme yang terjadi dalam usahatani dan upaya-upaya yang dapat dilakukan jika menemukan permasalahan. Berdasarkan hal tersebut, perumusan strategi penyuluhan dari petani ke petani melalui penguatan kapasitas penyuluh swadaya untuk memperkuat perannya dapat dilakukan melalui dua langkah. Peningkatan Kapasitas Tokoh Petani Maju sebagai Penyuluh Swadaya (Haryanto. Sumardjo. Amanah, & Tjitropranoto, 2018. menyatakan bahwa peningkatan kapasitas tokoh petani maju sebagai penyuluh swadaya merupakan langkah pertama yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kemandirian dan penyuluhan dari petani ke petani. Tanpa penyuluh swadaya terlebih dahulu, sulit diharapkan akan terciptanya penyuluhan dari petani ke petani yang efektif. Hal ini karena kapasitas penyuluh swadaya memantapkan perannya sebagai agen penyuluhan yang mampu mendampingi dan mengatasi permasalahan petani serta memahami kebutuhan inovasi. Langkahlangkah operasional untuk meningkatkan kapasitas penyuluh swadaya yaitu: Meningkatkan penyuluh swadaya dalam menolong petani di komunitasnya, sehingga perilaku dan tindakannya dalam mengambil setiap keputusan untuk pertimbangan rasional dan keyakinan diri serta bebas dari subordinasi Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 . kepentingan pihak lain. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan intensitas dan interaksi penyuluh swadaya dengan petani mitranya melalui kegiatan penyuluhan rutin, pengkajian inovasi, penyusunan rencana kelompok, dan sebagainya, yang membuat rasa solidaritas dan terhadap petani di komunitasnya memikirkan kepentingan diri sendiri . Meningkatkan penyuluh swadaya melalui pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga terkait sehingga menyuluhnya semakin baik. Meningkatkan lembaga penelitian, pendidikan dan pelatihan, dan penyuluhan dalam penyiapan inovasi teknologi yang sesuai kebutuhan petani dengan sebagai pelaku utamanya, sehingga pengetahuan dan keterampilannya terutama dalam hal process dan content area penyuluhan. Memperkuat modal sosial masyarakat sebagai dukungan utama pengakuan Salah satunya adalah dengan memperkuat jejaring usaha pemerintah dengan mendekatkannya kepada penyuluh swadaya dan pengetahuan . , sikap mental . melalui pendidikan non formal oleh lembaga pemerintah yang . Meningkatkan swadaya kepada sumber informasi teknologi dan penggunaan sumber memberikan kesempatan penyuluh swadaya magang pada lembagalembaga penelitian dan pendidikan untuk meningkatkan kemampuannya menguasai teknologi. Penguatan Peran Tokoh Petani Maju sebagai Penyuluh Swadaya Hasil peningkatan kapasitas tokoh petani maju sebagai penyuluh swadaya adalah untuk mewujudkan penyuluhan dari petani ke petani yang efektif dengan menguatnya peran penyuluh swadaya dalam melaksanakan fungsinya sebagai pendamping teknis usahatani, menjadi lingkungan usahatani petani, pendorong dan menjadi pemecah masalah petani, serta menjadi mitra pemasaran hasil Adapun langkah-langkah operasional penguatan peran penyuluh swadaya adalah: Melakukan pendidikan dan pelatihan secara simultan oleh lembaga diklat pertanian terkait dengan metodologi Memerlukan pemerintah terkait dengan peran yang lebih jelas antara penyuluh swadaya dalam penyuluhan dan pemberdayaan petani. Meningkatkan kemampuan dalam organisasi petani melalui pelibatan lembaga penyuluhan kabupaten dalam penyusunan perencanaan dan Menyusun program untuk kegiatan pengujian teknologi pertanian di penyuluh swadaya dan petani samasama belajar secara swadaya dengan penyuluh swadaya sebagai Setelah upaya tersebut dapat dilakukan mengoptimalkan peran penyuluh swadaya untuk menciptakan penyuluhan dari petani ke petani yang efektif sekaligus Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 memandirikan petani. Salah satunya adalah dengan melakukan: Menyiapkan lokasi belajar yang strategis di lingkungan petani, sehingga petani dan penyuluh swadaya dapat mengkaji dan permasalahan yang dihadapi oleh . Mengurangi ketergantungan petani terhadap berbagai bantuan yang kurang mendewasakan dengan jejaring usaha secara bersama oleh penyuluh swadaya dan pihak terkait. Mengelola penyuluhan secara rutin dari petani ke petani dengan belajar bersama pengalaman antar sesama petani dengan inisiatif dari penyuluh Penguatan peran tokoh petani maju sebagai penyuluh swadaya dilakukan dengan memperkuat posisinya sebagai salah satu penyuluh di perdesaan yang mampu mengatasi permasalahan petani, lebih mampu menciptakan penyuluhan yang partisipatif dan baik dalam Penguatan peran tersebut terutama dalam hal menjadi fasilitator petani, mitra pendamping petani dan motivator untuk memberikan dorongan semangat kepada petani di komunitasnya. Selama ini peran-peran tersebut tidak semua dapat dilakukan dengan baik oleh penyuluh swadaya karena masih banyak penyuluh swadaya yang belum memperoleh pembelajaran dengan baik. Hal tersebut juga terungkap dalam penelitian (Haryanto et al. , 2018. yaitu terdapat peran yang belum optimal dilakukan penyuluh swadaya yaitu pada perannya sebagai mitra pemasaran dan sedangkan peran lainnya . asilitator, pendamping petani dan motivato. sudah cukup baik. Beberapa penelitian yang juga sejalan dengan hal tersebut seperti (Riana et al. , 2. dan (Kiptot & Franzel, 2014. mengungkapkan bahwa peran yang cukup handal diperankan oleh penyuluh swadaya adalah pemberi motivasi. Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa hanya peran pendamping teknis petani, pemberi motivator dan menjadi fasilitator yang mampu diperankan dengan baik oleh penyuluh swadaya (Samuel ZB, 2. (Indraningsih. Sugihen. Tjitrpranoto. Asngari, & Wijayanto, 2. (Haryanto & Yuniarti, 2. , sehingga peran lainnya masih perlu untuk ditingkatkan. SIMPULAN DAN SARAN Kehadiran petani maju sebagai penyuluh swadaya dapat memberikan alternatif pemecahan masalah ketenagaan penyuluhan yang selama ini menjadi masalah yang sulit terpecahkan karena adanya moratorium pengangkatan tenaga penyuluh oleh pemerintah. Selain berasal dari petani, penyuluh swadaya bekerja dengan sukarela dan lebih memahami kondisi sesama rekan petani. Petani maju sebagai penyuluh swadaya hadir karena sulitnya menjangkau seluruh petani sekaligus, maka dibutuhkan bantuan petani-petani maju sebagai komunikator. Selain sebagai pembantu penyuluh, petani maju sebagai penyuluh swadaya juga menjadi pelaku aktif dalam konsep metode belajar dari petani ke petani. Selain itu. Optimalisasi peran petani maju sebagai penyuluh swadaya dalam mendorong percepatan regenerasi petani menjadi salah satu solusi dalam menyusun road map pengembangan agropreneur muda. Hal ini telah terbukti bahwa petani maju sebagai penyuluh swadaya mampu berperan dalam menyebarkan teknologi tradisional berbasis kearifan lokal, menjadi pemimpin informal dan mampu bersinergi dengan sesama petani dalam mendorong pembangunan pertanian di pedesaan. Penggunaan paradigma penyuluhan yang partisipatori dan meninggalkan pola lama pemerintah . op dow. dapat terwujud apabila petani maju yang berperan sebagai penyuluh swadaya memiliki kapasitas yang baik dalam melakukan perannya sebagai Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 perubahan, sehingga akselerasi pembangunan pertanian di perdesaan dapat tercapai dengan baik. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas penyuluh swadaya merupakan hal yang penting dilakukan oleh pemerintah agar penyuluh swadaya memiliki kemampuan dalam mengorganisasikan dan memandirikan Berdasarkan hal tersebut, strategi penyuluhan dari petani ke petani dapat dilakukan melalui dua langkah yaitu peningkatan kapasitas tokoh petani maju sebagai penyuluh swadaya merupakan langkah pertama yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kemandirian dan penyuluhan dari petani ke petani. Tanpa penyuluh swadaya terlebih dahulu, sulit diharapkan akan terciptanya penyuluhan dari petani ke petani yang efektif. Langkah penguatan peran melalui aspek legal formal atau non formal terutama peran penyuluh swadaya dalam melaksanakan fungsinya sebagai pendamping teknis usahatani, menjadi fasilitator yang baik, penganalisis lingkungan usahatani petani, pendorong dan menjadi pemecah masalah petani, serta menjadi mitra pemasaran hasil usahatani. DAFTAR PUSTAKA