Vol. No. 2 Juli 2025. Hal. Peran Keluarga dalam Pembentukan Karakter Anak di Sekolah Menengah Nurul Mutmainah1. Sri Jamilah2* 1 FKIP Universitas Terbuka. Indonesia 2 Universitas Muhammadiyah Bima. Indonesia *Corresponding Author e-mail: Srijamilah@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran keluarga dalam pembentukan karakter anak di tingkat sekolah menengah melalui pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif, yang mengombinasikan kehangatan emosional, komunikasi terbuka, dan batasan yang jelas, terbukti paling efektif dalam membentuk karakter positif anak. Pola asuh ini memberikan ruang untuk perkembangan kepercayaan diri, kemampuan adaptasi sosial, dan internalisasi nilai-nilai moral yang Selain itu, kualitas komunikasi keluarga yang terbuka dan mendukung menjadi faktor kunci dalam mendukung pertumbuhan karakter, dengan 60% keluarga yang menggunakan pola komunikasi ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak. Keteladanan orang tua juga berperan penting, di mana anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua mereka sebagai model dalam pembentukan sikap dan perilaku positif. Selain itu, bimbingan agama yang diterapkan dalam keluarga turut memberikan kontribusi signifikan dalam menanamkan nilai-nilai moral sejak dini. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial untuk mendukung pembentukan karakter anak yang seimbang, yang tidak hanya melibatkan transfer pengetahuan tetapi juga internalisasi nilai-nilai yang dapat membentuk generasi muda yang berintegritas dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Kata Kunci: Keluarga. Pembentukan Karakter. Pola Asuh. Komunikasi. Pendidikan Moral. PENDAHULUAN Pembentukan karakter merupakan proses yang sangat kompleks, dinamis, dan berkelanjutan dengan signifikansi fundamental dalam perkembangan individu, terutama pada masa remaja di tingkat sekolah menengah. Sebagaimana diungkapkan oleh Thomas Lickona . dalam bukunya Educating for Character, pembentukan karakter adalah upaya sistematis dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi individu agar memiliki kualitas moral dan etika yang unggul. Keluarga, sebagai unit sosial pertama dan paling fundamental dalam kehidupan seorang anak, memainkan P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 peran krusial dalam membentuk fondasi karakter, nilai-nilai, sikap, dan perilaku yang akan menentukan perjalanan hidup selanjutnya. Perspektif Bronfenbrenner . dalam teori ekologi perkembangan manusia menegaskan bahwa lingkungan keluarga merupakan mikrosistem paling berpengaruh dalam proses perkembangan individu. Dalam fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, anak-anak menghadapi berbagai tantangan psikologis, sosial, dan akademis. Oleh karena itu, peran keluarga menjadi sangat strategis untuk memberikan dukungan, bimbingan, dan kerangka moral yang kokoh. Proses pembentukan karakter tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada institusi pendidikan formal, melainkan membutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa kualitas interaksi dan pola asuh dalam keluarga memiliki korelasi signifikan dengan pembentukan karakter anak. Baumrind . dalam studinya mengidentifikasi bahwa pola pengasuhan otoritatif Ae yang mengombinasikan kehangatan emosional, komunikasi terbuka, dan pemberian batasan yang jelas Ae terbukti paling efektif dalam menghasilkan anak-anak dengan karakter positif, kepercayaan diri, dan kemampuan adaptasi sosial yang tinggi. Selain itu. Santrock . menekankan bahwa masa sekolah menengah merupakan periode kritis di mana anak-anak mulai mengembangkan identitas personal, nilai-nilai moral, dan keterampilan sosial yang menjadi dasar bagi pembentukan karakter mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan analisis komprehensif tentang bagaimana dinamika keluarga, pola komunikasi, dan strategi pengasuhan dapat berkontribusi signifikan dalam membentuk karakter positif anak-anak pada tingkat sekolah menengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mendalam untuk mengeksplorasi mekanisme konkret di mana keluarga dapat menjadi agen utama dalam proses transformasi moral dan pembangunan karakter generasi muda (Surya 2. Dalam konteks ini, beberapa teori dan penelitian terdahulu memberikan landasan konseptual yang signifikan untuk memahami dinamika pembentukan karakter anak. Bronfenbrenner . dalam teori ekologi perkembangannya menegaskan bahwa lingkungan keluarga merupakan mikrosistem paling berpengaruh dalam proses perkembangan anak. Teori ini menjelaskan bagaimana interaksi dan sistem lingkungan terdekat memiliki dampak langsung terhadap perkembangan psikologis dan sosial individu. Dalam konteks pembentukan karakter, hal ini berarti pembangunan kepribadian dan moral seorang anak. Baumrind . memberikan mengidentifikasi tiga model utama: pola asuh otoriter, permisif, dan otoritatif. Penelitiannya menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif - yang menggabungkan kehangatan emosional, komunikasi terbuka, dan pemberian batasan yang jelas - paling efektif dalam mengembangkan karakter positif pada anak (Amir and Kusumawati P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 2. Anak-anak yang diasuh dengan pola ini cenderung memiliki kepercayaan diri lebih tinggi, kemampuan regulasi diri yang baik, dan prestasi akademis yang superior. Santrock . dalam kajiannya tentang perkembangan remaja menekankan pentingnya dukungan keluarga selama masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Periode sekolah menengah merupakan fase kritis di mana anak-anak mengembangkan identitas personal, nilai-nilai moral, dan keterampilan sosial. Dukungan keluarga yang konsisten dan positif dapat membantu remaja menavigasi tantangan kompleks dalam proses pembentukan karakter. Thomas Lickona . , seorang tokoh terkemuka dalam pendidikan karakter, menegaskan bahwa pembentukan karakter bukanlah sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan internalisasi nilai-nilai moral melalui keteladanan, praktik, dan refleksi berkelanjutan . Menurutnya, keluarga memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, respek, dan kepedulian sosial. Penelitian pembentukan karakter merupakan proses multidimensional yang melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, lingkungan keluarga, pengalaman sosial, dan pilihan individual. Komunikasi keluarga, pola pengasuhan, keteladanan orang tua, dan lingkungan rumah yang kondusif terbukti memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk karakter positif anak. Dari tinjauan literatur ini dapat disimpulkan bahwa keluarga bukanlah sekadar unit sosial dasar, melainkan institusi fundamental yang memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter. Pendekatan holistik dan berkelanjutan dalam pengasuhan anak menjadi kunci utama keberhasilan pembentukan karakter yang positif dan bermakna. Pentingnya penelitian ini terletak pada upaya memberikan pemahaman komprehensif kepada para orang tua, pendidik, dan pemangku kepentingan lainnya tentang peran strategis keluarga dalam mendukung perkembangan karakter anak. Sebagaimana diungkapkan Zakiyah Daradjat, orang tua tidak boleh sekadar membiarkan pertumbuhan anak berjalan tanpa bimbingan atau menyerahkannya pada guru di sekolah. Partisipasi aktif keluarga dalam pendidikan karakter anak mutlak diperlukan, baik melalui keteladanan, komunikasi efektif, maupun penciptaan lingkungan keluarga yang kondusif (Astuti 2. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam memahami kompleksitas pembentukan karakter anak serta menawarkan strategi konkret bagi keluarga untuk secara proaktif terlibat dalam proses pengembangan potensi moral dan etika generasi muda. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu . uasi-experimenta. Desain penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group Design, di mana terdapat dua kelompok yang dilibatkan, yaitu kelompok P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 eksperimen yang menggunakan media flashcard dalam pembelajaran membaca dan kelompok kontrol yang menggunakan metode konvensional. Subjek penelitian adalah siswa kelas 1 SDN 1 Karanggondang, dengan total jumlah siswa sebanyak 40 orang yang dibagi secara proporsional menjadi dua kelompok Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus untuk mengeksplorasi peran keluarga dalam pembentukan karakter anak di tingkat sekolah menengah. Desain penelitian dirancang secara komprehensif untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang dinamika interaksi keluarga dan faktorfaktor yang memengaruhi pembentukan karakter anak. Populasi penelitian difokuskan pada tiga sekolah menengah di wilayah Jakarta, dengan pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling untuk memastikan keragaman dan representativitas data. Tabel 1. Tabel Sampel. Kategori Responden Jumlah Kriteria Pemilihan Siswa Sekolah Menengah Berasal dari berbagai latar belakang Rentang usia 13-16 tahun Bersedia mengikuti wawancara Orang Tua Variasi pekerjaan dan tingkat pendidikan Memiliki anak di sekolah Bersedia berpartisipasi dalam penelitian Guru Minimal pengalaman mengajar 5 tahun Guru BK atau wali kelas Memahami perkembangan karakter siswa Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama: wawancara mendalam . n-depth intervie. dengan menggunakan pedoman wawancara semiterstruktur untuk menggali informasi komprehensif tentang pola pengasuhan, strategi pembentukan karakter, dan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan karakter Observasi partisipatif dilakukan untuk mengamati secara langsung interaksi keluarga, aktivitas siswa di sekolah, dan dinamika komunikasi antara orang tua, anak, dan guru. Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data pendukung berupa catatan perkembangan siswa, dokumentasi kegiatan keluarga, dan dokumen sekolah terkait pembinaan karakter. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Proses analisis data mengadopsi model analisis interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pendekatan induktif digunakan untuk mengembangkan tema dan pola penelitian secara empiris dari data yang terkumpul. Untuk menjamin validitas dan reliabilitas penelitian, diimplementasikan berbagai strategi triangulasi, termasuk triangulasi sumber data, perpanjangan pengamatan, dan konsultasi dengan ahli . xpert Etika penelitian menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan studi, dengan menerapkan prinsip informed consent, menjaga kerahasiaan identitas responden, dan tidak mengganggu aktivitas keseharian partisipan. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan, dengan pembagian waktu yang proporsional untuk tahap persiapan, pengumpulan data, analisis, dan pelaporan. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan, di antaranya adalah ruang lingkup sampel yang terbatas pada wilayah Jakarta, potensi bias subjektivitas peneliti, dan generalisasi yang terbatas pada konteks spesifik penelitian. Namun, dengan pendekatan metodologis yang sistematis dan komprehensif, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan yang bermakna tentang peran keluarga dalam pembentukan karakter anak di tingkat sekolah HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menghasilkan temuan komprehensif terkait peran keluarga dalam pembentukan karakter anak di sekolah menengah. Untuk memberikan gambaran sistematis, hasil penelitian disajikan dalam tabel berikut: Tabel 2. Gambaran Sistematis Hasil Penelitian. Aspek Penelitian Pola Asuh Aspek Penelitian Kategori Persentase Interpretasi Otoritatif Otoriter Memiliki dampak negatif pada Kategori Persentase Interpretasi Pola asuh yang paling efektif dalam membentuk karakter positif perkembangan psikologis anak Permisif Terbuka dan Mendukung Kurang memberikan batasan dan panduan yang jelas Mendorong perkembangan kepercayaan diri dan integritas P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Kualitas Tertutup dan Komunikasi Otoriter Keluarga Tidak Terstruktur Keteladanan Orang Tua Pendidikan Faktor Pembentuk Agama Karakter Lingkungan Sosial Teknologi Komunikasi Menghambat ekspresi emosional Minimnya interaksi berkualitas Pengaruh langsung melalui contoh Menanamkan nilai-nilai moral dan Pengaruh teman dan masyarakat Dampak media dan internet Gambar 1. Faktor Pembentukan Karakter Anak Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter anak merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal Pola asuh otoritatif terbukti menjadi model pengasuhan paling efektif, dengan 55% keluarga menerapkan pendekatan yang menggabungkan kehangatan emosional, komunikasi terbuka, dan pemberian batasan yang jelas. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Kualitas komunikasi keluarga menjadi faktor kunci dalam pembentukan karakter positif. Sebanyak 60% keluarga yang menerapkan komunikasi terbuka dan mendukung berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kepercayaan diri dan integritas anak. Sebaliknya, 30% keluarga dengan komunikasi tertutup dan otoriter cenderung menghambat ekspresi emosional dan perkembangan karakter anak. Keteladanan orang tua teridentifikasi sebagai faktor paling berpengaruh . %) dalam pembentukan karakter. Anak-anak secara alamiah melihat dan meniru perilaku orang tua sebagai model primer dalam kehidupan mereka. Pendidikan agama juga memainkan peran signifikan . %), memberikan fondasi moral dan etika yang kuat dalam proses pembentukan karakter. Menarik untuk dicatat bahwa lingkungan sosial dan teknologi komunikasi turut memberikan kontribusi pada pembentukan karakter. Sebanyak 20% faktor eksternal dari lingkungan sosial dan 10% dari teknologi komunikasi mempengaruhi perkembangan karakter anak, menunjukkan kompleksitas tantangan modern dalam Penelitian ini mengungkap bahwa strategi pembentukan karakter yang efektif Keteladanan langsung dari orang tua Komunikasi terbuka dan konsisten Pemberian bimbingan moral dan agama Penciptaan lingkungan keluarga yang suportif Pemberian batasan dengan kasih sayang Hambatan utama dalam proses pembentukan karakter teridentifikasi dari faktor internal . esibukan orang tua, kejenuhan ana. dan faktor eksternal . engaruh lingkungan dan teknolog. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah peran keluarga sangat fundamental dalam membentuk karakter anak. Pendekatan holistik yang memadukan kasih sayang, komunikasi efektif, keteladanan, dan bimbingan moral terbukti paling berhasil dalam mengembangkan karakter positif pada anak usia sekolah menengah. KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini mengungkapkan bahwa keluarga merupakan institusi sosial paling fundamental dalam pembentukan karakter anak di sekolah Melalui analisis komprehensif, ditemukan bahwa pola asuh otoritatif yang mengombinasikan kehangatan emosional, komunikasi terbuka, dan pemberian batasan yang jelas menjadi model paling efektif dalam mengembangkan karakter Kualitas komunikasi keluarga teridentifikasi sebagai faktor kunci yang secara P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 signifikan memengaruhi perkembangan kepercayaan diri, integritas, dan karakter Keteladanan orang tua menjadi mekanisme paling esensial dalam transfer nilainilai moral, di mana anak-anak secara alamiah menjadikan orang tua sebagai model primer dalam mengembangkan sikap dan perilaku. Pendidikan agama dan internalisasi nilai-nilai moral sejak dini terbukti memberikan fondasi kokoh bagi pembentukan karakter yang kuat dan positif. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang memadukan aspek psikologis, sosial, dan spiritual dalam pengasuhan anak. DAFTAR PUSTAKA