PENGARUH RASIO KEUANGAN TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN KELAPA SAWIT Yogi Aris Vara Wisnu Wardhana1. Luthfia Ayu Karina2. Prima Ditahardiyani3 Program Studi Akuntansi. Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan. Banjarmasin. Indonesia Program Studi Agribisnis. Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan. Banjarmasin. Indonesia email: yogiaris90@gmail. com1, luthfia. ayukarina@gmail. com2, primaditaharyani@gmail. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis pengaruh rasio keuangan terhadap Dividend Payout Ratio (DPR) pada 13 perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020-2023. Variabel independen yang diteliti meliputi Current Ratio (CR). Quick Ratio (QR). Price Earning Ratio (PER). Return on Investment (ROI), dan Enterprise Value to EBITDA (EV/EBITDA). Metode yang digunakan adalah regresi linier Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, variabel independen berpengaruh signifikan terhadap DPR dengan Adjusted R-Squared sebesar 10,17%, yang berarti model ini dapat menjelaskan 10,17% variasi dalam kebijakan dividen perusahaan kelapa sawit. Secara parsial. CR berpengaruh negatif signifikan terhadap DPR, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi CR, semakin rendah kebijakan dividen yang diambil oleh perusahaan. Sedangkan PER dan EV/EBITDA berpengaruh positif signifikan. ROI dan QR tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap DPR. Kata Kunci: Dividend Payout Ratio. Current Ratio. Price Earning Ratio. Return on Investment. Kelapa Sawit AU PENDAHULUAN Indonesia dikenal luas sebagai produsen dan pengekspor minyak kelapa sawit. Industri kelapa sawit menyumbang sekitar 3,50% dari PDB Indonesia dan sekitar 11,6% dari total ekspor non-migas (Kementrian Pertanian, 2. Industri ini juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi lebih dari 16 juta orang (Kementrian Pertanian, 2. Prospek industri kelapa sawit menjanjikan karena permintaan dan produksi minyak kelapa sawit yang terus meningkat. Pada tahun 2050, konsumsi global minyak kelapa sawit diproyeksi 16 juta ton . 14%) dari total konsumsi minyak nabati dunia (Sulaiman et al. , 2. Permintaan minyak kelapa sawit global terus naik setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pangan, biodiesel dan oleokimia. Oleh karenanya, produsen minyak kelapa sawit berupaya untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit untuk Beberapa cara yang dilakukan antara lain dengan memperluas lahan produksi, meningkatkan kapasitas produksi pabrik CPO, melakukan penelitian dan pengembangan untuk produksi hilir, dan menerapkan praktik produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Upaya tersebut membutuhkan tambahan modal investasi dan modal kerja, yang salah satunya dapat diperoleh dengan menawarkan saham kepada investor publik melalui bursa efek. Saat ini, di bursa efek Indonesia terdapat 19 emiten kelapa sawit yang terdaftar. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar tersebut diwajibkan memberikan informasi yang komprehensif dan transparan mengenai kinerja keuangannya. Sebagai investor, sangat penting memiliki kemampuan analisis terhadap informasi yang diberikan secara menyeluruh untuk membuat keputusan investasi yang tepat. Menurut (Giel & Issa, 2. , tujuan utama investor menginvestasikan dananya adalah untuk mendapatkan imbal hasil investasi. Tingkat pengembalian investasi . dapat berupa pendapatan dividen . ividend yiel. maupun pendapatan dari selisih harga jual saham terhadap harga belinya . apital gai. Pada umumnya, investor lebih mengharapkan pendapatan dari dividen dibandingkan dengan pendapatan dari capital gain. Dividen diklaim dapat membantu investor mengurangi ketidakpastian dalam investasi serta memberikan elemen pendapatan tetap pada tahun berjalan (Kamierska-Jywiak. Dividen merupakan pembagian laba kepada pemegang saham . berdasarkan kepemilikan saham, yang dapat berupa saham atau uang tunai. Kebijakan dividen terkait erat dengan keputusan perusahaan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham atau menahan laba untuk diinvestasikan kembali, dengan tujuan mendorong pertumbuhan perusahaan. Kebijakan dividen suatu perusahaan tercermin pada Dividend Payout Ratio. Dividend Payout Ratio dapat didefinisikan sebagai rasio dividen tunai per lembar dibandingkan dengan laba per lembar saham. Keputusan manajemen dalam menentukan besaran persentase Dividend Payout Ratio harus disesuaikan antara kepentingan pertumbuhan perusahaan dengan kepentingan pemegang saham. Persentase pembagian dividen besar akan meningkatkan kepercayaan investor dan membuat investor menambah saham perusahaan (Misrofingah & Ginting, 2. , namun bagi perusahaan akan lebih memilih untuk pembayaran dividen dengan persentase lebih rendah (Aulia & Sukiswo. Dalam menentukan Dividend Payout Ratio, perusahaan harus mendasarkan keputusannya dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang akan berdampak pada perusahaan dan investor. Mengacu pada penelitian terdahulu, beberapa faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio diantaranya adalah Current Ratio (Jati, 2. (Effendi & Junaidi, 2. Quick Ratio (Purwaningsih et al. , 2. Price Earning Ratio (Khoirina & Sari, 2. , (Lestari, 2. Return on Investment (Ayu & Budiasni, 2. , dan Enterprise Value to Earning before Interest Taxes Depreciation and Amortisation (EV/EBITDA) (Perveen et al. , 2. Current Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan total aset lancar yang ada. Current Ratio menentukan kemampuan dan kinerja perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current Ratio yang lebih tinggi mengindikasikan perusahaan dapat meningkatkan persentase pembagian dividennya (Rohman & Istanti. Demikian juga nilai Quick Ratio yang semakin tinggi akan meningkatkan pembagian dividen (Purwaningsih et al. , 2. Quick Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya dengan menggunakan aset lancar dikurangi dengan persediaan. Semakin tinggi Quick Ratio, maka semakin besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, termasuk kewajibannya kepada investor. Return on Investment juga dapat berpengaruh pada Dividend Payout Ratio. Return on Investment adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan setelah pajak dengan total aset. Return on Investment merupakan rasio profitabilitas yang memiliki hubungan positif dengan pembayaran dividen. Semakin tinggi nilai Return on Investment maka semakin tinggi pula nilai dividen yang dibayarkan (Ayu & Budiasni, 2. Selain itu. Dividend Payout Ratio juga dapat dipengaruhi oleh Price Earning Ratio. Price Earning Ratio menunjukkan tingkat kepercayaan investor pada kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Nilai Price Earning Ratio yang tinggi mengindikasikan kepercayaan investor yang kuat terhadap perusahaan. Kajian dari (Khoirina & Sari, 2. membuktikan jika Price Earning Ratio mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Dividend Payout Ratio. Variabel lain yang juga dapat mempengaruhi Dividend Payout Ratio adalah Enterprise Value to Earning before Interest Taxes Depreciation and Amortisation (EV to EBITDA). Secara sederhana. EV to EBITDA adalah ukuran nilai perusahaan dibandingkan dengan laba kotornya. Rasio ini mengindikasikan berapa banyak yang dibayarkan investor dibandingkan dengan jumlah pendapatan yang akan diterima. Mengacu pada penelitian (Namira & Nugroho, 2. EV to EBITDA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Rasio EV to EBITDA yang rendah mengindikasikan return yang lebih tinggi. Beberapa kajian telah dilakukan untuk menganalisis pengaruh berbagai variabel terhadap Dividend Payout Ratio, namun, belum ada penelitian yang meneliti bagaimana pengaruh variabel-variabel seperti Current Ratio. Quick Ratio. Price Earning Ratio. Return on Investment, dan Enterprise Value to Earning before Interest Taxes. Depreciation and Amortisation (EV to EBITDA) secara simultan terhadap Dividend Payout Ratio. Lebih lanjut, penelitian mengenai Dividend Payout Ratio pada perusahaan kelapa sawit masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian mengenai Dividend Payout Ratio berfokus pada perusahaan manufaktur atau perusahaan jasa keuangan, oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mengenai bagaimana pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap Dividend Payout Ratio pada perusahaan kelapa sawit. Harapannya, penelitian ini mampu memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan pembagian dividen di sektor industri kelapa sawit di Indonesia. AU METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen melalui analisis statistik. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan dan ringkasan harga saham yang tersedia di Bursa Efek Indonesia (IDX) selama periode 2020-2023. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu Current Ratio (CR). Quick Ratio (QR). Price Earning Ratio (PER). Return on Investment (ROI), dan Enterprise Value to EBITDA (EVM), serta Dividend Payout Ratio (DPR) sebagai variabel dependen. Current Ratio (CR) diukur dengan membagi Current Asset dengan Current Liability. Quick Ratio (QR) dihitung dengan menjumlahkan Cash. Short Term Investment, dan Receivable Net dibagi dengan Current Liability, sedangkan Price Earning Ratio (PER) diukur menggunakan nilai Market Price per Share dibagi dengan Earning per Share. Return on Investment (ROI) dihitung berdasar hasil pengurangan Investment Gain dan Investment Cost yang dibagi dengan Investment Cost, serta Dividend Payout Ratio (DPR) dihitung dengan membagi Dividend Paid to Shareholder dengan EBITDA. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (IDX) selama periode 2020-2023. Sampel penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria pemilihan sampel sebagai AU Tabel 1. Kriteria Pemilihan SampelAU Kriteria Perusahaan pada sektor Minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil - CPO) Jumlah Telah melakukan IPO (Initial Public Offerin. Sebelum Tahun 2020 MemilikiAU LaporanAU KeuanganAU yangAU lengkapAU dalamAU Periode Penelitian 2020-2023 Setelah melalui seleksi berdasarkan kriteria pemilihan sampel maka diperoleh daftar perusahaan yang menjadi sampel pada penelitian yang ditampilkan pada tabel 2 Tabel 2. Daftar Sampel PerusahaanAU Kode PerusahaanAU AALI BWPT DSNG GZCO LSIP MGRO PALM PGUN PSGO SGRO SIMP SMAR SSMS Nama Perusahaan PT Astra Agro Lestari Tbk PT Eagle High Plantations Tbk PT Darma Satya Nusantara Tbk PT Gozco Plantation Tbk PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk PT Mahkota Group Tbk PT Provident Investasi Bersama Tbk PT Pradiksi Gunatama Tbk PT Palma Serasih Tbk PT Sampoerna Agro Tbk PT Salim Ivomas Pratama Tbk PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk Sumber : Data diolah, 2024 Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda (OLS). Berdasarkan model regresi kemudian dilakukan uji F, uji koefisien determinasi dan uji t. Model penelitian yang digunakan pada penelitian ini sebagai berikut: DPR = 1CR 2QR 3PER 4ROI 5EVM A Dimana: cAU = Konstanta 1-5 = Koefisien regresi DPRAU = Dividend Payout Ratio CRAU = Current Ratio QRAU = Quick Ratio PERAU = Price Earning Ratio ROIAU = Return on Investment EVM = EV to EBITDA iAU = Error/variabel pengganggu Sebelum melakukan analisis regresi, dilakukan serangkaian uji asumsi klasik, yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas untuk memastikan bahwa data memenuhi asumsi-asumsi dasar model regresi. Mengingat data keuangan seringkali tidak terdistribusi normal, maka pada penelitian ini jika hal tersebut ditemukan, akan dilakukan transformasi data untuk memperbaiki distribusi variabel yang tidak normal. Transformasi data yang dilakukan berupa transformasi logaritma natural . , transformasi kuadrat, atau transformasi akar kuadrat, tergantung pada karakteristik data yang dihadapi. Transformasi ini bertujuan untuk mengurangi skewness dan meningkatkan validitas hasil analisis. Setelah transformasi data dilakukan, uji asumsi klasik kembali dijalankan untuk memastikan bahwa data yang telah ditransformasi memenuhi syarat untuk analisis regresi. Data yang telah memenuhi uji asumsi klasik, kemudian dilakukan analisis regresi linier berganda untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil analisis ini diinterpretasikan untuk menjawab pertanyaan dan tujuan penelitian. AU HASIL DAN ANALISIS Sebelum dilakukan analisis regresi linier berganda, terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap beberapa asumsi klasik untuk memastikan bahwa model yang digunakan memenuhi syarat-syarat statistik yang diperlukan. Adapun pengujian yang dilakukan akan dijelaskan sebagai berikut. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik bertujuan untuk menguji apakah ketentuan yang ditetapkan pada analisis regresi linier berganda dapat dipenuhi. Uji asumsi klasik yang dilakukan meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menilai sebaran data berdistribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini, uji normalitas menggunakan grafik histogram. Data dinyatakan berdistribusi normal apabila data membentuk lonceng serta tidak condong. Hasil pengujian normalitas menggunakan histogram disajikan pada gambar 1. Gambar 1. Uji normalitas menggunakan histogram Berdasar dari grafik histogram, dapat dilihat jika sebaran data mengikuti kurva normal, membentuk seperti lonceng dan tidak condong sehingga dinyatakan data berdistribusi Uji Multikolinearitas Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antar variabel independen pada model regresi. Ada tidaknya multikolinieritas dinilai berdasar nilai Variance Inflation Factor (VIF). Nilai VIF lebih besar dari 10 menunjukkan terjadinya multikolinieritas. Hasil uji multikolinieritas ditampilkan pada tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji Multikolinearitas AU Variabel IndependenAU Current Ratio (CR) Quick Ratio (QR) Price Earning Ratio (PER) Return on Investment (ROI) EV to EBITDA (EVM)AU VIFAU 1,052 1,155 1,039 1,237 1,118AU Sumber : Data diolah, 2024 Merujuk hasil analisis, semua nilai VIF variabel independen lebih kecil dari 10, yang berarti tidak terjadi multikolinieritas antar variabel independen. Uji Heteroskedastisitas Pengujian heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah terjadi ketidaksamaan varian residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Terjadinya heteroskedastisitas diuji memakai uji Breusch-Pagan. Apabila nilai signifikansi uji Breusch-Pagan lebih kecil dari 0,05 maka dinyatakan terjadi heteroskedastisitas. Hasil uji Breusch-Pagan ditampilkan pada tabel 4. Tabel 4. Hasil Uji Breusch-Pagan AU Variabel IndependenAU Current Ratio (CR) Quick Ratio (QR) Price Earning Ratio (PER) Return on Investment (ROI) EV to EBITDA (EVM)AU Nilai signifikansiAU Hasil uji Breusch-Pagan menunjukkan semua variabel independen mempunyai nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan pada model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji Autokorelasi Autokorelasi menunjukkan adanya korelasi antara error periode t dengan periode Autokorelasi diuji memakai Run Test, dengan ketentuan jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka terjadi autokorelasi. Hasil Run Test disajikan pada tabel 5. Tabel 5. Hasil Run TestAU Unstandardized Residual Total Cases Number of Runs Asymp. Sig. -taile. Sumber : data diolah, 2024 Berdasarkan tabel 6, diketahui nilai Asymp. Sig. lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan pada model regresi tidak terjadi autokorelasi. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis linier berganda yang dilakukan meliputi uji F, uji koefisien determinasi dan uji t. Uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen, uji koefisien determinasi untuk menentukan kontribusi variabel independen dalam menerangkan variabel dependen, sedangkan uji t digunakan untuk mengukur pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Hasil analisis regresi berganda dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 6. Tabel 6. Rangkuman Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Koefisien Beta Sig. (Constan. Oe1,088 Oe1,240 0,222 Current Ratio (CR) Oe0,013 Oe3,571 0,001 Quick Ratio (QR) Oe0,009 Oe0,085 0,932 Price Earning Ratio (PER) 0,203 2,281 0,028 Return on Investment (ROI) 1,064 1,953 0,058 EV to EBITDA (EVM) 2,992 2,149 0,038 Dependent variable : Dividend Payout Ratio F = 5,8499 Sig. 0,0003 R Square = 0,2015 Adjusted R Square = 0,1017 Sumber : data diolah, 2024 Berdasarkan tabel 5, diketahui nilai F hitung sebesar 5,8499 dengan nilai signifikansi sebesar 0,003, lebih kecil dari 0,05. Nilai tersebut menunjukkan bahwa secara simultan variabel Current Ratio (CR). Quick Ratio (QR). Price Earning Ratio (PER). Return on Investment (ROI) dan EV to EBITDA (EV/EBITDA) berpengaruh terhadap Dividend Payout Ratio. Dari hasil ini juga dapat disimpulkan bahwa model regresi signifikan dan dapat digunakan untuk memprediksi. Nilai koefisien determinasi hasil analisis sebesar 0,2015. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa variabel Current Ratio (CR). Quick Ratio (QR). Price Earning Ratio (PER). Return on Investment (ROI) dan EV to EBITDA (EVM) memiliki pengaruh sebesar 20,15% terhadap Dividend Payout Ratio, sedangkan 79,85% lainnya diterangkan oleh variabel lain di luar model. Meskipun nilai R-Squared rendah, dalam konteks penelitian sosial ekonomi, hal ini dapat diterima karena masih dalam rentang 20%-30%. Nilai Adjusted R-Squared hasil analisis sebesar 10,17%, yang berarti model ini dapat menjelaskan 10,17% variasi dalam kebijakan Dividend Payout Ratio perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI. Dari hasil uji t, diperoleh bahwa nilai signifikansi variabel Current Ratio (CR) sebesar 0,001, lebih kecil dari 0,05, maka dapat dinyatakan bahwa variabel Current Ratio (CR) berpengaruh secara signifikan terhadap Dividend Payout Ratio (DPR) perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI. Temuan ini sesuai dengan penelitian dari (Pamungkas et al. , 2. dan (Effendi & Junaidi, 2. yang menyebutkan bahwa Current Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Dividend Payout Ratio. Current Ratio adalah bagian rasio likuiditas yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk membiayai kegiatan operasional dan membayar kewajiban jangka pendek. Oleh karenanya. Current Ratio juga dapat digunakan sebagai salah satu parameter untuk memprediksi tingkat pengembalian investasi berupa dividen. Perusahaan yang mempunyai Current Ratio yang tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk membayar dividen atau dengan kata lain current ratio akan berpengaruh secara positif terhadap Dividend Payout Ratio (Effendi & Junaidi, 2. Namun, hasil koefisien variabel Current Ratio pada hasil analisis menunjukkan nilai -0,013, yang berarti Current Ratio berpengaruh secara negatif terhadap Dividend Payout Ratio. Merujuk penelitian dari (Suroso et al. , 2. , hal ini dikarenakan nilai rata-rata Current Ratio perusahaan kelapa sawit di Indonesia hanya mencapai nilai minimum dari rasio nilai ideal. Data laporan keuangan perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI pada kurun waktu 2020-2023 juga menunjukkan beberapa perusahaan tidak membayarkan dividen selama beberapa tahun karena sedikitnya aset lancar dibandingkan dengan hutang yang ada. Berdasarkan uji t, diketahui nilai signifikansi variabel Price Earning Ratio (PER) 0,028 dengan nilai koefisien sebesar 0,203. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel Price Earning Ratio berpengaruh secara positif dan signifikan pada Dividend Payout Ratio pada perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI. Temuan dari penelitian ini mendukung kajian dari (Khoirina & Sari, 2. yang menyatakan bahwa Price Earning Ratio berpengaruh secara positif dan signifikan pada Dividend Payout Ratio. Price Earning Ratio mencerminkan laba bersih per lembar saham yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi nilai Price Earning Ratio, akan semakin besar laba per lembar saham dan laba perusahaan yang diharapkan. Sebagaimana prinsip signalling, adanya kenaikan pendapatan merupakan salah satu sinyal bagi perusahaan untuk menaikkan dividen. Merujuk pada uji t, variabel terakhir yang berpengaruh secara signifikan terhadap Dividend Payout Ratio perusahaan kelapa sawit adalah EV to EBITDA (EV/EBITDA). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian dari (Perveen et al. , 2. yang menyatakan bahwa EVM berpengaruh terhadap Dividend Payout Ratio. Kajian dari Namira & Nugroho . menyebutkan bahwa perusahaan dengan nilai EV/EBITDA yang rendah, memiliki return saham yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan nilai EV/EBITDA yang Kajian lain dari Namira & Nugroho . juga mendukung argumen bahwa peluang untuk mendapatkan pengembalian yang lebih tinggi dapat diperoleh dengan berinvestasi pada saham dengan EV/EBITDA yang rendah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa variabel Quick Ratio (QR) dan Return on Investment (ROI) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Dividend Payout Ratio (DPR). Hasil ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan Quick Ratio dan Return on Investment tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Dividend Payout Ratio (Purwaningsih et al. , 2. (Ayu & Budiasni, 2. Menurut teori, semakin tinggi Quick Ratio dan Return on Investment maka kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya akan semakin baik termasuk dalam pembayaran dividen. Namun, pada emiten kelapa sawit. Quick Ratio dan Return on Investment tidak berpengaruh karena rata-rata Quick Ratio dan Return on Investment menunjukkan bahwa posisi likuiditas perusahaan kurang baik dan jauh dari rasio ideal (Bhayani & Ajmera, 2. AU KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara secara simultan semua variabel independen dapat mempengaruhi kebijakan dividen sebesar 10%, sedangkan variabel-variabel independen yang digunakan secara parsial mampu menjelaskan sekitar 20% dari variasi Dividend Payout Ratio perusahaan. Sisanya sebesar 80% dipengaruhi oleh variabel-variabel eksternal yang tidak termasuk dalam model penelitian ini. CR berpengaruh negatif signifikan, sedangkan PER dan EV/EBITDA berpengaruh positif signifikan terhadap DPR. Variabel Price Earning Ratio (PER) memiliki pengaruh signifikan terhadap Dividend Payout Ratio pada perusahaan subsektor Crude Palm Oil. PER yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan mengalami penurunan harga saham, yang pada akhirnya mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen kepada pemegang Selain itu, variabel Quick Ratio (QR) dan Return on Investment (ROI) tidak berpengaruh signifikan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa investor perlu memperhatikan PER dan EV/EBITDA yang memiliki pengaruh signifikan berlawanan dengan Current Ratio (CR) sebagai indikator utama dalam menilai prospek dividen perusahaan kelapa sawit. REFERENSI