KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 83-91 Faktor-Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Hepatitis B: Analisis Pengetahuan. Sejarah Keluarga, dan Transfusi Darah George Glen Walalayo1. Maria Magdalena Goha2*. Grace Jean Wakanno3, dan Westy Tahapary4 1 Universitas Kristen Indonesia Maluku. Ambon. Maluku. Indonesia 2 Universitas Kristen Indonesia Maluku. Ambon. Maluku. Indonesia 3 Universitas Kristen Indonesia Maluku. Ambon. Maluku. Indonesia 4 Universitas Kristen Indonesia Maluku. Ambon. Maluku. Indonesia * Correspondence: mariegoha@gmail. Article Info Abstract Article history: Submitted : 05-03-2025 Accepted : 27-03-2025 Published : 11-04-2025 Hepatitis B is a clinical or pathological condition that can be acute or chronic, lasting at least six months without recovery, and is characterized by varying degrees of liver inflammation and necrosis. Several factors contribute to the onset of hepatitis B, including family history, transmission through blood or bodily fluids, and the use of contaminated tools. The more individuals understand hepatitis B, the more proactive they are in preventing it, while a lack of understanding increases the likelihood of contracting the disease. A history of blood transfusions is another risk factor, particularly when blood products or equipment used in transfusions are contaminated with HBV. This study aims to identify variables associated with the prevalence of hepatitis B using a cross-sectional design, with a sample size of 56 individuals. Univariate and bivariate analyses were conducted to examine the relationship between family history, knowledge, and blood transfusions with the incidence of hepatitis B. The results revealed significant relationships between family history, knowledge, and blood transfusions with the occurrence of hepatitis B. These findings emphasize the importance of enhancing awareness to reduce the risk of hepatitis B and provide valuable references for future research in this field. Keywords: Hepatitis B. Knowledge. Blood Transfusion Family History. Copyright & License: How to cite this article: Walalayo G. Goha M. Wakanno G. , & Tahapay. Faktor-Faktor Resiko yang Mempengaruhi Kejadian. Hepatitis B. Analisis Pengetahuan. Sejarah Keluarga dan Transfusi Darah. KAMBOTI: Jurnal Sosial Humaniora. https://doi. org/10. 51135/kambotivol5issue2p PENDAHULUAN Hepatitis B adalah kondisi yang memengaruhi sel-sel hati, yang umumnya disebabkan oleh gangguan autoimun, konsumsi alkohol, penimbunan lemak, infeksi mikroba, dan penggunaan obat, termasuk yang berbahan herbal. Beberapa jenis mikroba yang dapat menyebabkan hepatitis B antara lain hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), hepatitis D (HDV), dan hepatitis E (HEV) (Gozali, 2. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 350 juta individu di seluruh dunia menderita infeksi hepatitis B kronis dari lebih dari dua miliar orang yang terinfeksi mikroba tersebut. Setiap tahunnya, penyakit ini merenggut nyawa sekitar 600. 000 orang. Di wilayah Asia Tenggara. Indonesia memiliki prevalensi hepatitis B tertinggi kedua setelah Myanmar (Siswanto. Pada 2023, diperkirakan terdapat 296 juta kasus infeksi hepatitis B global, dengan 1,5 juta kasus baru setiap tahunnya. Di Indonesia, prevalensi hepatitis B tercatat mencapai 7,1%, dan pada 2019 sekitar 820. 000 orang meninggal akibat infeksi ini, sebagian besar karena sirosis dan kanker hati KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 83-91 (Kemenkes, 2. Angka prevalensi hepatitis B di Maluku tercatat lebih tinggi dari rata-rata nasional, mencapai 1,4%, sedangkan data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi nasional sekitar 7,1%. Dengan 56 kasus hepatitis yang tercatat pada Agustus 2023. RSUD Dr. Haulussy di Ambon menjadi rumah sakit dengan insiden kasus hepatitis B tertinggi di kota tersebut, dengan peningkatan jumlah pasien dari 25 pada tahun 2020 menjadi 56 pada tahun 2023 ( D a t a R e k a m M e d i k , 2 0 2 3 ) . Sebagian besar infeksi hepatitis B tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga banyak individu tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi. Gejala yang dapat muncul meliputi demam, lemas, mual, muntah, nyeri sendi, dan penurunan berat badan, dengan indikasi lebih parah seperti ketidaknyamanan perut, urin berwarna kuning tua, dan tinja berwarna pucat (Yulia, 2. Hepatitis B menjadi masalah serius karena diagnosis sering terlambat, mengingat banyak penderitanya yang tidak menunjukkan gejala yang Diperkirakan sekitar 5% individu di seluruh dunia terinfeksi hepatitis B tanpa gejala yang signifikan (Misna et al. , 2. Pencegahan hepatitis B sangat bergantung pada pemahaman masyarakat tentang faktor-faktor yang memengaruhi penyebaran virus. Di Indonesia, hepatitis B masih umum ditemukan, dan dapat ditularkan melalui riwayat keluarga, seperti dari ibu ke anak. Sebuah penelitian oleh Sukmawati dkk. menunjukkan bahwa individu dengan riwayat keluarga hepatitis B memiliki risiko lebih tinggi untuk Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sekitar 36 subjek dalam kelompok kasus memiliki riwayat keluarga hepatitis B, sementara 28 subjek berada dalam kelompok kontrol. Selain itu, pemahaman masyarakat tentang hepatitis B turut memengaruhi upaya pencegahan. Penelitian oleh Tri Hayati et al. , . mengungkapkan bahwa banyak penderita hepatitis B memiliki pemahaman yang terbatas tentang penyakit ini, termasuk bahaya dan cara pencegahannya. Tingkat pemahaman ini dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan, lingkungan, dan sumber informasi yang tersedia (Oktaviani et al. Kesadaran yang rendah sering kali membuat individu kurang mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menghentikan penyebaran hepatitis B. Faktor lain yang turut berperan dalam penularan hepatitis B adalah sejarah transfusi darah. Infeksi dapat ditularkan melalui darah yang terkontaminasi, terutama jika prosedur transfusi tidak dilakukan dengan tepat atau jika darah donor terkontaminasi dengan HBV. Riset yang dilakukan oleh Karwiti et al. , . menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara transfusi darah dan penularan hepatitis B, dengan temuan bahwa sejumlah besar sampel darah yang positif untuk infeksi hepatitis B mengandung HbsAg RSUD Dr. Haulussy Ambon, yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi, telah mencatat peningkatan kasus hepatitis B setiap tahunnya. Berdasarkan wawancara dengan staf medis di rumah sakit tersebut, penularan hepatitis B sering terjadi melalui kontak langsung dengan pasien, seperti berbagi barang pribadi. Dengan 56 kasus yang tercatat pada 2023, penelitian ini berupaya mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebaran hepatitis B di rumah sakit tersebut, untuk membantu upaya pencegahan yang lebih efektif di masa mendatang. State of the art dari penelitian ini adalah fokus pada identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon, yang masih terbatas dalam literatur yang ada. Penelitian ini menggabungkan variabel-variabel penting seperti riwayat keluarga, tingkat pengetahuan, dan sejarah transfusi darah sebagai faktor risiko utama penularan hepatitis B di wilayah tersebut. Kebaruan kajian ini terletak pada penggabungan variabel-variabel tersebut, serta penekanan pada pentingnya pemahaman masyarakat mengenai hepatitis B sebagai langkah pencegahan yang efektif. Fokus penelitian ini adalah pada insiden hepatitis B yang tinggi di Ambon, dengan melibatkan 56 kasus yang tercatat pada tahun 2023, yang belum banyak diteliti sebelumnya. Berdasarkan pernyataan state of the art dan kebaruan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon, serta menganalisis hubungan antara riwayat keluarga, tingkat pengetahuan, dan sejarah transfusi darah terhadap insiden hepatitis B. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktorhttps://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 83-91 faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B di rumah sakit tersebut, serta memberikan rekomendasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan pencegahan hepatitis B di masyarakat berdasarkan temuan penelitian. II. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik korelasional untuk mengkaji hubungan antara dua variabel atau lebih melalui pendekatan cross-sectional. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen, yaitu kejadian hepatitis B, dan variabel independen, yaitu riwayat keluarga, pengetahuan, dan riwayat transfusi darah. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, di mana seluruh populasi pasien hepatitis B digunakan sebagai sampel. Sampel penelitian ini berjumlah 56 pasien yang terdiagnosa hepatitis. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien yang terdiagnosa hepatitis, melakukan pengobatan di poli penyakit dalam, dan bersedia menjadi responden. Sementara itu, kriteria eksklusi mencakup populasi yang tidak memenuhi kriteria inklusi tersebut. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner untuk mengumpulkan data primer serta rekam medis pasien sebagai data sekunder. Untuk menganalisis data, digunakan uji statistik chi-square untuk menguji hubungan antara variabel-variabel yang telah ditentukan dalam penelitian ini. Dengan desain ini, diharapkan penelitian dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B, serta memberikan informasi yang bermanfaat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan hepatitis B. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil Tes Statistik Hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tabel 1. Hubungan Riwayat Keluarga dengan Kejadian Hepatitis B Kejadian Hepatitis Hepatitis B Riwayat Keluarga Hepatitis Tidak Total Sumber. Data primer, . Tipe Lain Total p-value 0,000 Pada Tabel 1, ditemukan bahwa 15 subjek . %) memiliki sejarah keluarga yang terinfeksi Hepatitis B. Sebaliknya, terdapat 10 subjek . ,4%) yang tidak memiliki sejarah keluarga tetapi menderita Hepatitis B, sementara 31 subjek . ,6%) yang tidak memiliki sejarah keluarga ternyata menderita bentuk hepatitis lainnya. Hasil ini diperkuat oleh uji chi-square yang menunjukkan nilai p . < 0,. , yang berarti hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy memiliki korelasi yang signifikan dengan riwayat https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 83-91 Hubungan antara Pemahaman dengan kejadian hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tabel 2. Hubungan Pengetahuan dengan kejadian Hepatitis B Pengetahuan Hepatitis B Baik Kurang Total Sumber. Data primer, . Kejadian Hepatitis Hepatitis Tipe Lain Total p-value 0,000 Berdasarkan tabel di atas, hasil tes chi-square menunjukkan nilai p . < 0,. Pada Tabel 2, sebanyak 14 subjek . ,5%) memiliki pengetahuan yang tinggi tentang Hepatitis B, sementara 11 subjek . ,5%) memiliki pengetahuan yang kurang. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat pengetahuan. Hubungan antara Tranfuse Darah dengan kejadian hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tabel 3. Hubungan Transfusi Darah dengan kejadian Hepatitis B Transfusi Darah Hepatitis B Tidak Total Sumber. Data primer, . Kejadian Hepatitis Hepatitis Tipe Lain Total p-value 0,004 Merujuk pada data yang terdapat dalam Tabel 3 di atas, sebanyak 15 subjek . ,4%) yang pernah menerima transfusi darah dan terinfeksi Hepatitis B, sementara 6 subjek . ,6%) yang pernah menerima transfusi darah terinfeksi jenis hepatitis lainnya. Selain itu, terdapat 10 subjek . ,6%) yang belum pernah menerima transfusi darah namun terinfeksi Hepatitis B, sedangkan 25 subjek . ,4%) tidak pernah menerima transfusi darah. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p sebesar p < 0,005, yang berarti hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Dari hasil tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy memiliki korelasi yang signifikan dengan transfusi darah. Pembahasan . Hubungan Riwayat Keluarga dengan Kejadian Hepatitis B Tabel 1 menunjukkan distribusi frekuensi karakteristik subjek terkait sejarah keluarga yang memiliki episode hepatitis B dalam penelitian ini. Berdasarkan data tersebut, 15 subjek . ,8%) termasuk dalam kelompok yang memiliki sejarah keluarga terinfeksi Hepatitis B, sedangkan 41 subjek . ,2%) tidak memiliki sejarah keluarga. Selain itu, terdapat 10 subjek . ,4%) yang tidak memiliki sejarah keluarga dan/atau memiliki sejarah hepatitis B, sementara 31 subjek . ,6%) tidak memiliki sejarah keluarga dan mengalami infeksi hepatitis lainnya. Penularan Hepatitis B melalui sejarah keluarga memiliki kaitan erat dengan kejadian Hepatitis B itu sendiri. Penularan vertikal antara ibu dan anak dapat menyebabkan infeksi yang berkelanjutan. Mikroba ini menginfeksi janin atau bayi baru lahir melalui plasenta dan ASI. Organisasi Kesehatan https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 83-91 Dunia (WHO) menyatakan bahwa Hepatitis B dapat menyebar secara parenteral . ari darah ke dara. selama persalinan atau melalui hubungan ibu dan anak dalam kandungan. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Diniarti et al. , 2. yang menunjukkan bahwa sebagian besar subjek . ,9%) memiliki riwayat keluarga yang mengidap gangguan hepatitis B. Dalam analisis multivariat, ibu hamil dengan riwayat keluarga hepatitis B memiliki risiko 3,6 kali lebih tinggi untuk tertular hepatitis B dibandingkan dengan ibu hamil tanpa riwayat keluarga hepatitis B. Analisis bivariat juga menunjukkan bahwa kejadian hepatitis B kronis lebih berisiko bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga terinfeksi HBV, dengan peluang tujuh kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga hepatitis B. Penyebaran Hepatitis B lebih mudah terjadi di lingkungan keluarga karena penggunaan barangbarang rumah tangga yang digunakan bersama, seperti sikat gigi, pisau cukur, dan gunting kuku, yang dapat meningkatkan risiko penyebaran virus. Penggunaan alat-alat tersebut secara bergantian mempermudah penularan di antara anggota keluarga, termasuk pasangan dan individu yang tinggal serumah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Diniarti et al. , 2022. Purnamaningsih et al. , 2. , yang menemukan adanya korelasi kuat antara insiden hepatitis B dan sejarah keluarga, mengingat penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dalam rumah tangga. Di RSUD Dr. Haulussy Ambon, sebanyak 15 subjek . ,7%) memiliki riwayat keluarga hepatitis B, dan faktor pencetus yang sulit dihindari adalah tinggal serumah dengan penderita. Hepatitis B dapat ditularkan melalui penggunaan perlengkapan rumah tangga bersama, seperti pisau cukur, gunting kuku, dan sikat gigi. Hal ini sejalan dengan temuan Diniarti di Bengkulu, yang menunjukkan bahwa mereka yang memiliki riwayat keluarga hepatitis B memiliki kemungkinan 3,6 kali lebih besar tertular mikroba tersebut, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga . value 0,. Selain itu, dalam penelitian ini juga ditemukan subjek yang tidak tinggal serumah dengan pasien Hepatitis B, tetapi terinfeksi melalui penggunaan alat suntik bersama. Penggunaan alat suntik yang terkontaminasi menjadi faktor risiko tinggi dalam penularan Hepatitis B, karena seringkali pengguna narkoba suntik menggunakan jarum suntik yang digunakan bersama dengan orang lain. Menurut penelitian Haber & Schilie, . , pengguna narkoba suntik memiliki frekuensi infeksi hepatitis B yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Di berbagai lokasi, ditemukan bahwa 3,5% hingga 20,0% pengguna narkoba suntik terinfeksi HBV, dan sekitar 22,6% di antaranya memiliki bukti infeksi sebelumnya. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon berkorelasi signifikan dengan sejarah keluarga. Penularan Hepatitis B melalui penggunaan barang-barang rumah tangga bersama, seperti sikat gigi, pisau cukur, dan gunting kuku, mempermudah penyebaran mikroba Hepatitis B di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, diharapkan seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan alat pribadi yang digunakan bersama, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan Hepatitis B di lingkungan keluarga. Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Hepatitis B Distribusi subjek yang merujuk pada hubungan pemahaman di RSUD Dr. Haulussy Ambon dengan kejadian Hepatitis B menunjukkan bahwa sebanyak 16 subjek . ,6%) memiliki pemahaman yang baik, sementara 40 subjek . ,4%) memiliki pemahaman yang kurang. Pemahaman sendiri merupakan kemampuan individu untuk memahami suatu bidang tertentu, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi perilaku mereka. Hasil analisis menunjukkan bahwa 20 dari 56 subjek memiliki pemahaman yang kurang. Uji statistik chi-square menghasilkan angka p sebesar 0,000 . <0,. , yang berarti hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Kesimpulan ini mengindikasikan bahwa pemahaman di RSUD Dr. Haulussy Ambon berkorelasi secara signifikan dengan kejadian Hepatitis B. Penelitian oleh Suryantoro et al. , . juga menemukan bahwa 62% subjek remaja memiliki tingkat kesadaran yang rendah tentang Hepatitis B, yang dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit tersebut karena ketidaktahuan https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 83-91 mengenai gejala dan mekanisme penularannya. Selain itu, perilaku hidup tidak sehat juga turut mempengaruhi tingkat kebugaran, di mana kelompok masyarakat yang berperilaku tidak sehat . ,3%) lebih berisiko tertular Hepatitis B dibandingkan kelompok yang berperilaku baik . ,3%) (Suryantoro et al. , 2. Seiring dengan itu, riset Zulfikat Tahir menunjukkan adanya korelasi signifikan antara tingkat pemahaman dan sikap pencegahan terhadap Hepatitis B. Hasil statistik yang diperoleh, dengan p = 0,000 . <0,. , menunjukkan bahwa sikap pencegahan Hepatitis B meningkat seiring dengan meningkatnya pemahaman. Sebaliknya, penurunan pemahaman akan diikuti dengan penurunan sikap pencegahan. Hildayanti Ilyas & Tahir, . menemukan bahwa meskipun 14 subjek dengan pemahaman yang baik juga menderita Hepatitis B, kesenjangan pemahaman tetap ada. Pemahaman yang baik tidak cukup tanpa adanya tindakan pencegahan yang tepat. Sebagaimana disimpulkan oleh Eyong et al. , n. , individu dengan pemahaman yang baik namun tidak menerapkan prosedur pencegahan yang benar lebih rentan tertular Hepatitis B. Di RSUD Dr. Haulussy Ambon, penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat sangat berperan dalam prevalensi Hepatitis B. Masyarakat yang kurang memahami cara penularan dan pencegahan Hepatitis B lebih rentan terinfeksi. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran pasien mengenai Hepatitis B dan cara pencegahannya sangat penting, dan peran tenaga kesehatan dalam memberikan layanan edukasi serta promosi kesehatan perlu lebih ditingkatkan. Selanjutnya, distribusi subjek yang merujuk pada sejarah transfusi darah dengan kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon menunjukkan bahwa 21 subjek memiliki sejarah transfusi darah, di mana 15 subjek terinfeksi Hepatitis B dan 6 subjek terinfeksi hepatitis jenis lain. Sebanyak 35 subjek tidak memiliki sejarah transfusi darah, dengan 10 subjek terinfeksi Hepatitis B. Transfusi darah merupakan prosedur medis di mana darah yang diberikan oleh pendonor digunakan untuk menyelamatkan nyawa penerima. Proses ini harus mematuhi prosedur yang ketat, termasuk pemeriksaan darah untuk menghindari penularan penyakit serius seperti HIV. Hepatitis B, dan Hepatitis C. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tes chi-square menghasilkan p sebesar 0,004 . <0,. , yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak, mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara transfusi darah dan kejadian Hepatitis B. Risiko penularan Hepatitis B melalui transfusi darah sangat tinggi jika darah yang ditransfusikan terkontaminasi HBV, baik dari donor yang terinfeksi maupun dari peralatan yang terkontaminasi. Penularan Hepatitis B melalui transfusi darah dapat terjadi jika prosedur skrining tidak dilakukan dengan benar. Karwiti et al. , . menekankan pentingnya skrining yang ketat untuk memastikan darah yang ditransfusikan aman. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa individu dengan riwayat transfusi darah memiliki risiko 5,6 kali lebih besar untuk terinfeksi Hepatitis B dibandingkan mereka yang tidak pernah menerima transfusi darah. Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa transfusi darah yang terkontaminasi HBV berpotensi menularkan virus kepada penerima. Meskipun ada subjek yang tidak memiliki riwayat transfusi darah namun terinfeksi Hepatitis B, faktor lain juga dapat berkontribusi pada penularan penyakit ini. Diniarti et al. , . menyatakan bahwa faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian Hepatitis B harus dipertimbangkan, termasuk perilaku individu yang berisiko. Oleh karena itu, penelitian ini berasumsi bahwa kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon berkorelasi signifikan dengan sejarah transfusi darah. Transfusi darah berpotensi menyebarkan infeksi HBV, terutama jika produk darah atau peralatan yang digunakan terkontaminasi. Sebagai langkah pencegahan, diharapkan organisasi penyedia darah dapat memastikan skrining yang tepat untuk meminimalkan risiko penularan Hepatitis B melalui transfusi darah. Hubungan Riwayat Transfusi darah dengan Kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon. Di RSUD Dr. Haulussy Ambon, distribusi subjek yang merujuk pada sejarah transfusi darah dengan kejadian Hepatitis B menunjukkan bahwa 21 subjek memiliki sejarah transfusi darah. Dari https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 83-91 jumlah tersebut, 15 subjek terinfeksi Hepatitis B, 6 subjek terinfeksi hepatitis jenis lain, dan 35 subjek tidak memiliki sejarah transfusi darah. Dari 35 subjek yang tidak menerima transfusi darah, 10 subjek terinfeksi Hepatitis B, sementara 25 subjek terinfeksi hepatitis jenis lain. Transfusi darah adalah prosedur medis di mana pendonor memberikan darah kepada penerima untuk menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kondisi kesehatan penerima. Proses ini melibatkan persyaratan ketat, termasuk pemeriksaan darah dan teknik penyimpanan yang harus dipatuhi oleh para profesional medis dan pendonor. Pemeriksaan ketat terhadap darah yang akan digunakan sangat penting karena darah dapat menularkan gangguan serius, termasuk sifilis. HIV. Hepatitis B, dan Hepatitis C. Proses ini dikenal dengan nama pengujian pradonasi (Khairana Denando & Cahyati. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 56 subjek, 35 subjek pernah menerima transfusi Uji chi-square menghasilkan angka p sebesar 0,004 . <0,. , yang berarti hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Ini menunjukkan bahwa kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon memiliki korelasi signifikan dengan sejarah transfusi darah. Transfusi darah sering kali menyebabkan penyebaran mikroba Hepatitis B secara horizontal, terutama jika darah yang ditransfusikan terkontaminasi. Penyebaran dapat terjadi jika pendonor menderita Hepatitis B atau merupakan pembawa infeksi. Meskipun beberapa individu mungkin merasa sehat, kondisi medis terkini atau sebelumnya dapat menghalangi mereka untuk mendonorkan darah. Transfusi darah bukanlah prosedur tanpa risiko. terdapat kemungkinan penularan infeksi, termasuk Hepatitis B, jika darah yang ditransfusikan mengandung mikroba Proses skrining darah sangat penting untuk mengurangi risiko penularan infeksi dari donor ke penerima (Karwiti et al. , 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa risiko tertular Hepatitis B bagi mereka yang memiliki sejarah transfusi darah adalah 5,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki pengalaman transfusi darah. Risiko ini semakin meningkat jika produk darah yang ditransfusikan terkontaminasi HBV. Selain itu, jika peralatan yang digunakan dalam transfusi darah juga terkontaminasi HBV, ada kemungkinan virus ini akan menyebar. Sukmawati et al. menyebutkan bahwa penelitian ini juga menemukan adanya subjek yang tidak menerima transfusi darah namun terinfeksi Hepatitis B, yang menunjukkan bahwa faktor lain selain transfusi darah juga dapat berhubungan dengan kejadian Hepatitis B. Diniarti et al. , . juga mencatat adanya faktor-faktor lain yang memengaruhi kejadian Hepatitis B di luar sejarah transfusi darah. Riset ini berasumsi bahwa kejadian Hepatitis B di RSUD Dr. Haulussy Ambon berkorelasi signifikan dengan sejarah transfusi darah. Hal ini terlihat dari fakta bahwa transfusi darah berpotensi menyebabkan penyebaran mikroba Hepatitis B secara horizontal, terutama melalui transfusi darah yang membawa HBV. Jika produk darah yang ditransfusikan terkontaminasi HBV, maka penerima darah akan terinfeksi. Selain itu, jika peralatan medis yang digunakan terkontaminasi HBV, maka mikroba tersebut juga dapat menyebar. Oleh karena itu, salah satu cara utama penyebaran mikroba Hepatitis B adalah melalui transfusi darah. Sesuai dengan standar internasional, diharapkan bahwa organisasi penyedia darah dapat melakukan skrining yang diperlukan untuk semua darah dan produk darah menggunakan pengujian yang tepat untuk meminimalkan risiko penularan infeksi. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah insiden Hepatitis B terbukti memiliki korelasi yang signifikan dengan beberapa variabel penelitian, yaitu pengetahuan, riwayat keluarga, dan transfusi darah. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan individu tentang Hepatitis B, adanya riwayat keluarga dengan infeksi Hepatitis B, serta pengalaman transfusi darah dapat mempengaruhi kejadian penyakit ini. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam menambah pemahaman masyarakat tentang cara penularan dan pencegahan Hepatitis B. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 83-91 Saran Sebagai langkah lanjutan, disarankan agar pemerintah Provinsi Maluku, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Maluku dan Kota Ambon, melaksanakan program Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) yang dimulai dari tingkat pelayanan pertama seperti puskesmas. Program edukasi kepada masyarakat sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penularan dan pencegahan Hepatitis B. Keterbatasan dan Saran bagi penelitian mendatang Keterbatasan penelitian ini antara lain adalah penggunaan desain cross-sectional yang tidak dapat menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung, sampel yang terbatas hanya pada pasien RSUD Dr. Haulussy Ambon, serta ketergantungan pada data sekunder dan kuesioner yang dapat berisiko Penelitian ini juga tidak menguji faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kejadian Hepatitis B, seperti faktor lingkungan dan gaya hidup. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal, memperluas sampel, serta mempertimbangkan faktor lain yang mungkin berperan dalam penyebaran Hepatitis B untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif dan dapat digeneralisasi. Penghargaan Ucapan terima kasih dan penghargaan peneliti sampaikan kepada seluruh responden yang bersedia untuk diteliti, pihak RSUD Dr. Haulussy Ambon yang telah membantu peneliti selama melakukan penelitian ini, dan dinas kesehatan Provinsi yang telah mengijinkan peneliti melakukan penelitian ini. Konflik Kepentingan Penelitian ini hanya merupakan laporan hasil penelitian tanpa adanya konflik yang ditimbulkan. DAFTAR PUSTAKA