Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Fiqh Understanding through Problem-Based Learning at Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura: A Practical Approach to Islamic Jurisprudence Sri Hartati Saleh1. Nur Khafifah. 1 Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura 2 MAN 2 Polewali Mandar Correspondence: srihartatisaleh0@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Problem-Based Learning. Fiqh. Islamic Jurisprudence. Madrasah Aliyah, research, student engagement, critical thinking. ABSTRACT This research aims to improve students' understanding of Fiqh (Islamic Jurisprudenc. at Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura by implementing Problem-Based Learning (PBL) as a teaching model. Fiqh, as a subject that deeply influences students' understanding of Islamic laws and daily practices, requires an interactive and engaging approach to foster critical thinking and problem-solving skills. This study adopts a qualitative research design with a focus on a classroom action research (CAR) The research was conducted over two cycles, involving the 11thgrade students of Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura. Data were collected through observation, student feedback, and assessment tests. The results show that PBL significantly increased student engagement and comprehension of Fiqh concepts. Students demonstrated greater ability to analyze real-life scenarios, apply Islamic principles, and engage in critical Additionally, their motivation to learn and interest in the subject improved. The study concludes that Problem-Based Learning is an effective teaching strategy to enhance Fiqh education, making it more relevant and applicable to students' lives. This approach not only deepens students' knowledge but also equips them with the necessary skills to navigate everyday issues using Islamic jurisprudence. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam di Madrasah Aliyah memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter dan pengetahuan siswa mengenai ajaran Islam, terutama dalam bidang fikih atau hukum Islam. Fikih, yang membahas tata cara pelaksanaan ibadah, muamalah, dan hukum-hukum lainnya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi salah satu mata pelajaran utama di Madrasah Aliyah. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang digunakan harus mampu menggugah minat dan pemahaman siswa agar mereka dapat mengaplikasikan ilmu fikih dalam kehidupan nyata. Namun, kenyataannya, pembelajaran fikih sering kali masih menggunakan pendekatan yang bersifat teoritis dan kurang interaktif, sehingga siswa cenderung pasif dan kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak yang diajarkan (Budi, 2. Hal ini mendorong pentingnya penelitian untuk mencari solusi yang lebih efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran fikih di Madrasah Aliyah. Masalah utama yang dihadapi dalam pembelajaran fikih adalah kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar. Pembelajaran yang berpusat pada guru dan teori yang diajarkan tanpa mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari sering membuat siswa merasa bosan dan kesulitan untuk memahami hubungan antara teori dan praktek. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa metode pembelajaran konvensional yang dominan dalam pembelajaran fikih cenderung kurang efektif dalam membentuk pemahaman yang mendalam (Rahmawati, 2. Oleh Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih inovatif, yang dapat memotivasi siswa dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap fikih. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning atau PBL). PBL merupakan metode yang memungkinkan siswa untuk belajar melalui pemecahan masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Dalam PBL, siswa dihadapkan pada masalah nyata yang memerlukan pemahaman dan penerapan konsep-konsep yang telah dipelajari. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga diajak untuk berpikir kritis, mencari solusi, dan mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam konteks nyata (Halimah, 2. Dengan menerapkan PBL, diharapkan siswa dapat lebih aktif dalam pembelajaran dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang fikih. Penerapan PBL dalam pembelajaran fikih di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura diharapkan dapat mengatasi masalah keterlibatan siswa dalam proses belajar. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok, berdiskusi, dan menemukan solusi atas masalah yang diberikan. Dalam konteks fikih, masalah yang dihadapi siswa bisa berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan sehari-hari, seperti hukum warisan, hukum pernikahan, atau masalah sosial lainnya yang relevan dengan ajaran Islam. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mempelajari teori fikih, tetapi juga dapat merasakan bagaimana hukum-hukum Islam diterapkan dalam kehidupan mereka (Juniarti, 2. Selain itu. PBL juga memberikan manfaat lain dalam pengembangan keterampilan sosial dan berpikir kritis siswa. Dalam proses pembelajaran berbasis masalah, siswa diajak untuk berdiskusi dan berbagi pendapat dengan teman-temannya, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerja sama mereka. Keterampilan berpikir kritis juga sangat penting dalam memahami dan menganalisis masalah-masalah fikih yang sering kali memiliki nuansa kompleks. Dengan demikian. PBL tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap fikih, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang berguna dalam kehidupan mereka di luar kelas (Siti, 2. Namun, meskipun PBL menawarkan banyak manfaat, penerapannya di kelas membutuhkan persiapan yang matang. Guru perlu merancang masalah yang relevan dengan materi fikih yang diajarkan dan memastikan bahwa masalah tersebut dapat memicu diskusi yang mendalam dan menghasilkan pemahaman yang komprehensif. Selain itu, guru juga harus siap mengelola kelas yang lebih dinamis, di mana siswa lebih banyak terlibat dalam kegiatan belajar. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa guru yang berhasil mengimplementasikan PBL adalah mereka yang mampu menjadi fasilitator yang efektif dan mendukung setiap proses belajar siswa (Suryani, 2. Penerapan PBL dalam pembelajaran fikih juga memerlukan perubahan dalam cara pandang siswa terhadap belajar itu sendiri. Siswa perlu dilatih untuk lebih mandiri dalam mencari informasi, menganalisis masalah, dan mencari solusi secara kritis. Oleh karena itu. PBL dapat berfungsi sebagai alat untuk membentuk sikap proaktif siswa dalam pembelajaran. Di samping itu. PBL juga mendorong siswa untuk lebih menghargai pentingnya aplikasi praktis dari ilmu fikih dalam kehidupan mereka, bukan sekadar menghafal hukum-hukum yang ada (Salim. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan dapat lebih memahami esensi ajaran Islam dan bagaimana hukum-hukum tersebut relevan dengan kehidupan mereka. Salah satu contoh penerapan PBL yang dapat dilakukan di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura adalah dengan menghadirkan masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan hukum Islam. Misalnya, siswa dapat diajak untuk mendiskusikan masalah hukum warisan dalam keluarga atau persoalan zakat dalam masyarakat. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar tentang teori fikih, tetapi juga terlibat dalam penerapan hukum-hukum Islam untuk menyelesaikan masalah yang ada. Pembelajaran berbasis masalah ini diharapkan dapat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menjadikan siswa lebih paham dan lebih siap untuk menghadapi masalah-masalah fikih dalam kehidupan nyata mereka (Anwar, 2. Keberhasilan penerapan PBL dalam pembelajaran fikih sangat bergantung pada kesiapan dan kompetensi guru dalam mengelola kelas dan memfasilitasi diskusi yang produktif. Guru perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai prinsip-prinsip PBL dan bagaimana merancang masalah yang dapat merangsang minat siswa. Selain itu, guru juga harus mampu memberikan umpan balik yang konstruktif selama proses diskusi dan refleksi, agar siswa dapat memahami dengan lebih baik konsep-konsep yang diajarkan dan bagaimana konsep-konsep tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Juniarti, 2. Oleh karena itu, pelatihan dan pendampingan bagi guru dalam menerapkan PBL menjadi sangat penting. Penggunaan PBL dalam pembelajaran fikih juga dapat membantu siswa untuk lebih menghargai ajaran Islam dan relevansinya dalam kehidupan mereka. Fikih sering dianggap sebagai mata pelajaran yang terlalu teoretis dan sulit untuk dipahami. Namun, dengan menerapkan PBL, siswa dapat melihat bahwa fikih tidak hanya berlaku dalam konteks teoritis, tetapi juga sangat relevan dengan masalah-masalah kehidupan yang mereka hadapi. Pembelajaran berbasis masalah ini dapat memotivasi siswa untuk lebih mendalami ajaran Islam dan memahami bagaimana hukum-hukum Islam dapat diterapkan secara praktis dalam kehidupan mereka (Budi, 2. Dalam konteks Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura, penerapan PBL dapat memperkaya pengalaman belajar siswa, karena mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang sangat berguna dalam kehidupan Selain itu, model ini juga mendukung pengembangan karakter siswa, karena mereka akan belajar untuk bekerja sama dalam kelompok, menghargai pendapat orang lain, dan bertanggung jawab atas tugas mereka. Pembelajaran berbasis masalah ini juga mendorong siswa untuk lebih menghargai nilai-nilai sosial dan agama dalam kehidupan mereka sehari-hari (Halimah, 2. Secara keseluruhan, penerapan PBL dalam pembelajaran fikih di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, keterlibatan siswa, dan pemahaman mereka terhadap ajaran Islam. Model ini tidak hanya mengajarkan pengetahuan teoretis, tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam konteks kehidupan nyata. Dengan demikian. PBL dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi berbagai masalah yang ada dalam pembelajaran fikih di Madrasah Aliyah. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi fikih melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning/PBL). Pendekatan PTK dipilih karena fokus utama penelitian ini adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara langsung, dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar. PTK terdiri dari siklus perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, yang memungkinkan peneliti dan guru untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran (Budi, 2. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan setiap siklus terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 11 di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura yang mengikuti mata pelajaran fikih. Pemilihan kelas ini berdasarkan pada kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran fikih yang cenderung bersifat teoritis. Peneliti memilih siswa secara purposive, yaitu berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, seperti tingkat pemahaman awal terhadap materi fikih dan keaktifan mereka dalam Data akan dikumpulkan melalui observasi langsung selama proses pembelajaran. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 wawancara dengan guru dan siswa, serta tes hasil belajar yang dilaksanakan pada akhir setiap siklus (Halimah, 2. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari observasi, wawancara, dan tes hasil Observasi dilakukan untuk menilai keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran berbasis masalah dan untuk melihat dinamika kelas saat penerapan PBL. Selain itu, wawancara dengan guru dan siswa dilakukan untuk memperoleh informasi lebih mendalam tentang pengalaman mereka dalam mengikuti pembelajaran berbasis masalah dan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi. Pre-test dan post-test juga diberikan kepada siswa untuk mengukur peningkatan pemahaman mereka terhadap materi fikih sebelum dan sesudah penerapan PBL. Data yang diperoleh dari tes ini akan dianalisis secara kuantitatif untuk melihat perubahan skor rata-rata siswa dalam memahami materi fikih (Suryani, 2. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan tahap perencanaan, di mana guru dan peneliti merancang masalah yang relevan dengan materi fikih dan disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Masalah tersebut akan melibatkan situasi nyata yang membutuhkan penerapan konsep-konsep fikih untuk menemukan solusi. Pada tahap pelaksanaan. PBL diterapkan melalui kegiatan diskusi kelompok, penelitian masalah, dan presentasi hasil kerja Setelah setiap siklus, peneliti dan guru melakukan refleksi untuk mengevaluasi keberhasilan dan tantangan yang dihadapi selama pembelajaran, serta merencanakan perbaikan untuk siklus berikutnya (Salim, 2. Dalam analisis data, peneliti akan menggunakan teknik analisis deskriptif untuk data observasi dan wawancara, serta analisis statistik untuk hasil pre-test dan post-test. Data observasi dan wawancara akan dianalisis untuk mengidentifikasi pola keterlibatan siswa, perubahan dalam pemahaman mereka terhadap materi fikih, serta tanggapan mereka terhadap penerapan PBL. Sedangkan, data dari tes hasil belajar akan dianalisis untuk mengukur peningkatan skor siswa dan melihat sejauh mana penerapan PBL dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap fikih (Siti, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi fikih di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura. Berdasarkan hasil observasi dan data yang dikumpulkan selama dua siklus, ditemukan bahwa penerapan PBL berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada siklus pertama, siswa yang sebelumnya cenderung pasif dalam pembelajaran fikih mulai menunjukkan peningkatan dalam partisipasi mereka, terutama dalam diskusi kelompok dan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan hukum Islam (Budi, 2. Penerapan PBL memberi siswa kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran dan melihat bagaimana fikih diterapkan dalam konteks kehidupan nyata. Pada siklus kedua, keterlibatan siswa semakin meningkat, dengan banyak siswa aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pendapat dalam diskusi kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah berhasil menciptakan suasana kelas yang lebih dinamis dan interaktif, yang pada gilirannya meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi fikih. Keterlibatan siswa dalam pemecahan masalah yang relevan dengan kehidupan mereka juga membantu mereka untuk mengaitkan teori fikih dengan praktek nyata, menjadikan materi lebih mudah dipahami (Halimah, 2. PBL memberi siswa kesempatan untuk berpikir kritis dan menganalisis masalah secara mendalam. Selain keterlibatan siswa, temuan penting lainnya adalah peningkatan pemahaman konsep Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman mereka terhadap materi Hasil tes menunjukkan bahwa siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep fikih yang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mereka pelajari untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dalam pembelajaran PBL. Misalnya, dalam topik hukum warisan, siswa dapat memahami dengan lebih baik cara pembagian warisan sesuai dengan hukum Islam, serta faktor-faktor yang mempengaruhi Peningkatan ini menunjukkan bahwa PBL berhasil membuat siswa tidak hanya menghafal hukum-hukum fikih, tetapi juga memahami prinsip-prinsip dasar yang mendasarinya (Suryani, 2. Namun, tidak semua siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan. Beberapa siswa yang lebih pasif pada awalnya kesulitan untuk beradaptasi dengan metode pembelajaran berbasis Meskipun demikian, hasil refleksi menunjukkan bahwa siswa yang awalnya kesulitan mulai menunjukkan kemajuan setelah mendapatkan bimbingan lebih intensif dari guru. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun PBL memberikan kesempatan bagi semua siswa untuk terlibat, masih ada siswa yang membutuhkan lebih banyak dukungan dan pengarahan untuk berpartisipasi secara maksimal. Pembelajaran berbasis masalah memang membutuhkan pendekatan yang lebih individual dan fleksibel, yang dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan siswa yang berbeda-beda (Salim, 2. Selain tantangan dalam hal keterlibatan siswa, penerapan PBL juga menunjukkan pentingnya peran guru sebagai fasilitator yang efektif. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu membimbing siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan bekerja dalam kelompok. Dalam penelitian ini, guru yang telah mendapatkan pelatihan dalam penerapan PBL menunjukkan hasil yang lebih baik dalam mengelola kelas dan memfasilitasi diskusi yang produktif. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan PBL sangat bergantung pada kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran berbasis masalah dan memberikan umpan balik yang konstruktif kepada siswa (Juniarti, 2. Penerapan PBL juga meningkatkan keterampilan sosial siswa. Dalam pembelajaran berbasis masalah, siswa diharapkan untuk bekerja dalam kelompok, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah bersama. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa yang bekerja dalam kelompok memiliki kesempatan untuk berinteraksi, berbagi ide, dan belajar dari teman-temannya. Keterampilan sosial seperti kerja sama dan komunikasi menjadi aspek penting dalam pembelajaran PBL, dan siswa dapat mengembangkan keterampilan ini dengan lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat individual atau hanya berfokus pada ceramah Pembelajaran berbasis masalah juga memberikan ruang bagi siswa untuk belajar menghargai pendapat orang lain dan bekerja sama dalam mencapai solusi (Siti, 2. Siswa juga mulai merasa lebih bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Dalam model PBL, siswa diberikan tanggung jawab untuk mencari informasi, menganalisis masalah, dan mencari solusi. Hasil refleksi menunjukkan bahwa siswa merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk belajar ketika mereka diberi tanggung jawab lebih dalam proses Mereka tidak hanya sekadar mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pemecahan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa PBL dapat mengembangkan sikap proaktif pada siswa, yang sangat penting dalam pembelajaran fikih yang lebih aplikatif dan praktis (Halimah, 2. Salah satu hal menarik yang ditemukan dalam penelitian ini adalah perubahan sikap siswa terhadap pembelajaran fikih. Sebelumnya, banyak siswa yang menganggap fikih sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Namun, setelah mengikuti pembelajaran berbasis masalah, banyak siswa yang mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk mempelajari materi fikih. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode yang lebih interaktif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran yang semula dianggap sulit atau membosankan (Budi, 2. PBL memberikan konteks nyata bagi siswa untuk melihat bagaimana hukum-hukum Islam diterapkan dalam kehidupan mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Namun, meskipun terdapat peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan dan pemahaman siswa, penerapan PBL di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura juga menghadapi beberapa Salah satu kendala utama adalah waktu yang terbatas. Pembelajaran berbasis masalah membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan metode konvensional, karena siswa harus diberi kesempatan untuk melakukan diskusi, penelitian, dan refleksi. Hal ini mengharuskan guru untuk lebih cermat dalam merencanakan waktu yang cukup untuk setiap kegiatan dalam pembelajaran PBL. Peneliti menyarankan agar guru dapat lebih fleksibel dalam merancang waktu pelajaran dan memprioritaskan kegiatan yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa (Suryani, 2. Selain itu, tantangan lain dalam penerapan PBL adalah keterbatasan sumber daya, terutama dalam hal materi pembelajaran dan fasilitas yang mendukung. Meskipun PBL sangat efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa, pembelajaran berbasis masalah memerlukan akses terhadap sumber daya yang lebih banyak, seperti buku, artikel, dan media pembelajaran Beberapa siswa juga mengalami kesulitan dalam mencari informasi yang relevan karena keterbatasan fasilitas teknologi. Oleh karena itu, disarankan agar madrasah menyediakan lebih banyak sumber daya yang dapat mendukung pembelajaran berbasis masalah, seperti akses internet dan bahan ajar yang lebih variatif (Salim, 2. Penerapan PBL juga menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik cenderung lebih mudah mengikuti pembelajaran berbasis masalah. Siswa yang lebih aktif dalam menganalisis masalah dan mencari solusi lebih cepat dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan. Namun, untuk siswa yang lebih pasif atau kurang percaya diri, mereka membutuhkan bimbingan lebih intensif agar dapat berpartisipasi secara maksimal. Guru perlu memberikan perhatian khusus kepada siswa ini untuk membantu mereka merasa lebih nyaman dalam diskusi kelompok dan mendorong mereka untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka (Anwar, 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah (PBL) di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura berhasil meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman materi fikih, dan keterampilan sosial mereka. Pembelajaran berbasis masalah memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi siswa dalam memahami fikih dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Meskipun terdapat beberapa kendala, seperti waktu yang terbatas dan keterbatasan sumber daya, penelitian ini menunjukkan bahwa PBL adalah metode yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fikih dan dapat diterapkan secara luas di madrasah lainnya (Budi, 2. CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi fikih di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui dua siklus, dapat disimpulkan bahwa PBL merupakan metode yang efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman konsep fikih, serta keterampilan sosial mereka. Penerapan PBL berhasil mendorong siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran, terutama melalui diskusi kelompok dan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata, seperti hukum warisan dan PBL juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaitkan teori fikih dengan praktek sehari-hari, membuat materi lebih relevan dan mudah dipahami. Selama penelitian, terdapat peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi fikih, yang terlihat melalui hasil tes pre-test dan post-test. Siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah mampu mengaplikasikan hukum-hukum Islam dalam konteks kehidupan mereka, bukan hanya menghafal teori. Namun, meskipun ada peningkatan, beberapa siswa yang lebih pasif memerlukan bimbingan lebih intensif untuk dapat berpartisipasi secara maksimal dalam diskusi dan pemecahan masalah. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu, penerapan PBL menunjukkan pentingnya peran guru sebagai fasilitator yang dapat mendukung siswa dalam berpikir kritis dan bekerja sama. PBL juga mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti komunikasi, kerjasama, dan tanggung jawab dalam Namun, ada beberapa kendala yang perlu diperhatikan, seperti keterbatasan waktu dan sumber daya yang mendukung pembelajaran berbasis masalah. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa PBL adalah metode yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fikih di Madrasah Aliyah Safinatunnajah Salura, serta dapat diterapkan di madrasah lainnya untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang lebih interaktif dan aplikatif. REFERENCES