Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Analisis Pola Asuh Orangtua Terhadap Sosial Emosional Generasi Alpha Shafa Salsabil A. Rika Partika Sari ,A Ranny Fitria Imran A Affiliation: Universitas Dehasen Bengkulu Corresponding Author: rkpar85@gmail. rannyimran@gmail. Abstract This study aims to determine how parenting patterns of parents towards the social emotional of the alpha generation. This study is a qualitative study. The study was conducted in the RT. 01 RW. 05 Kel. Talang Benih. The researcher used the theory of Yaumil Achir. CA which discusses three parenting patterns, namely authoritarian parenting, democratic parenting and permissive The results of the study regarding authoritarian parenting patterns are no longer widely used by parents who are the subjects of the study. The democratic parenting pattern that almost all parents apply can be seen from the support and opportunities to learn and gain experience that supports the development of children's social emotions. And there are no parents who are the subjects of the study who use permissive parenting patterns. It can be concluded that the parenting patterns of parents who have alpha generation children apply democratic parenting patterns that have a good effect on the social emotions of alpha generation children. Another factor that influences children's social emotions is the environment. Keyword: Parenting Patterns. Social Emotional. Alpha Generation. PENDAHULUAN Mark McCrindle . , seorang peneliti sosial, futuris, dan demografer Australia, adalah orang pertama yang mengusulkan istilah "Generasi Alpha". Nama tersebut menandai kebaruan dan bukan kembali atau bertahan pada yang lama. Generasi alpha dianggap sebagai generasi kedua yang sesungguhnya di abad ke21. Generasi ini lahir pada tahun 2010 dan seterusnya, yang berarti sebagian besar siswa tersebut saat ini masih bersekolah. Menurut Amrit . , siswa generasi alpha sejak usia sangat muda telah terpapar pada pemasaran, teknologi, perjalanan, dan prioritas orang tua mereka yang merupakan generasi Generasi muda ini memiliki akses yang lebih besar terhadap teknologi, informasi, dan pengaruh eksternal dibandingkan generasi Tentunya generasi alpha sangat berbeda dari generasi sebelumnya, terutama karena realitas mereka, dan semua aspek kehidupan, telah didominasi oleh teknologi. Generasi alpha tumbuh di masa perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan inovasi teknologi yang cepat, dan mereka adalah bagian dari eksperimen dunia yang tidak disengaja di mana layar telah diletakkan di depan mereka sebagai hiburan, dan alat bantu pendidikan sejak mereka masih sangat kecil. (McCrindle. Fell. Mark McCrindle juga menyebutkan bahwa anak-anak generasi alpha membutuhkan orangtua agar mereka mendapatkan bimbingan. Selain itu, orang tua perlu membangun kepercayaan diri anak-anak generasi alpha karena banyak dari mereka yang mengalami insecurities atau rendah diri serta memilki kesehatan mental yang terganggu (Ayunia & Zakiyah, 2. Pola asuh merupakan cara orang tua dalam mendidik, mengasuh dan mengembangkan anaknya agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Fatmawati. Ismaya, dan Setiawan, 2. Pola asuh secara populer terbagi menjadi tiga jenis yaitu Pola asuh Demokratis. Otoriter dan Permisif (Shaleh, 2. Pola komunikasi dua arah dalam artian orang tua dan anak memiliki kedudukan yang sama dalam pengambilan keputusan. Sebaliknya pola asuh otoriter memiliki sifat yang ka6ku karena anak harus sesuai dengan keinginan orang tua. Terakhir pola asuh permisif memiliki ciri orang tua cenderung acuh tak acuh pada setiap keputusan atau tindakan yang dilakukan oleh sang anak. Generasi alpha yang terlahir ditengah pesatnya perkembangan teknologi, memiliki pola pikir yang krisis terlebih mereka bisa menerima informasi beragam dengan mudah yang membuat Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 pola asuh yang diberikan sangat menentukan bagaimana generasi ini dimasa mendatang. Pola asuh yang salah dapat membuat perkembang sosial emosional anak terganggu. Penggunaan berlebihan teknologi pada generasi alpha memberikan dampak buruk pada perilaku sosial misalnya cenderung anti-sosial, dan berjarak pada teman sebaya. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Apaydin dan Kaya . perilaku sosial yang ditunjukkan pada anak usia dini di sekolah yakni cenderung mau bekerja sendiri dibandingkan kerja Mereka lebih emosional akan tetapi menunjukkan kreativitas yang tinggi. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk menganalisis lebih dalam tentang sosial emosional anak berdasarkan pola asuh orang tua. Metode Penelitian Metode Observasi Dalam hal ini peneliti akan mengobservasi dampak pola asuh orang tua dirumah tehadap sosial emosional anak generasi alpha dikelas. Metode Wawancara Dalam melakukan wawancara peneliti perlu medengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan, wawancara ditujukan pada Orang tua siswa untuk mengetahui tentang pola asuh yang di Metode Dokumentasi Melalui metode dokumentasi, peneliti gunakan untuk menggali data berupa dokumen terkait sosial emosional anak Hasil Penelitian Pola Asuh Pendidikan anak berlangsung di tiga lingkungan yaitu keluarga, sekolah dan Keluarga adalah pusat pendidikan yang paling penting dan paling utama. Hingga saat ini keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak dalam proses pendidikan Sementara kerabat, sekolah sebagai pembantu kelanjutan pendidikan yang penting dan paling utama. Menurut Nurani dalam (Alucyana, 2. pola asuh adalah suatu perilaku yang diterapkan kepada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak mulai dari segi positif maupun negatif. Pola asuh merupakan gabungan dari pada 2 kata yakni kata AuPolaAy dan juga AuAsuhAy yang berarti Ausuatu sistem dan cara kerjaAy. Sedangkan asuh dapat diartikan sebagai merawat, membimbing atau mendidik anak kecil. Pola asuh atau pengasuhan juga dapat diartikan sebagai cara dalam meningkatkan serta mendorong perkembangan baik secara sosial emosional, fisik, finansial dan juga kognitif/ intelektual seorang individu sejak bayi sampai ke masa dewasa Asti Usman dalam (Fadhilah. Aisyah. Karyawati 2. Menurut Baumrind yang dikutip oleh Yuliandari . pola asuh pada prinsinya merupakan parental control yakni bagaimana orang tua mengontrol, membimbing, dan mendampingi anak anaknya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangannya menuju pada proses pendewasaan. Sementara menurut Heterington dan Porke dalam Sanjiwani . pola asuh merupakan bagaimana cara orang tua berinteraksi dengan anak secara total yang meliputi proses pemeliharaan, perlindungan dan pengajaran bagi anak. pola asuh yang diterapkan orang tua akan sangat menentukan bagaimana perilaku anak nantinya dan apakah anak akan sanggup berperilaku sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat tanpa merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Hal tersebut terjadi karena dalam proses pengasuhan, anak akan mencontoh orang tua sekaligus memperoleh gambaran mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dari batasan yang diterapkan oleh orang tua pada anak. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa memberikan pola asuh yang baik dan positif akan menciptakan konsep diri yang positif bagi anak. Dalam pola asuh sendiri, masing-masing orang tua mempunyai caranya Secara umum, orang tua sering menggunakan pola asuh yang mereka dapatkan sebelumnya yang mereka rasa berhasil. Pemilihan pola asuh tentu akan menentukan karakter anak kedepannya. Beberapa ahli membagi tiga pola asuh, yakni pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif (Yuliandari, 2. Madrasah pertama anak berasal dari orang tuanya, oleh karena itu sukses atau tidak anak sangat tergantung pengasuhan, perhatian, bimbingan dan pendidikannya. Pada madrasah pertama ini pula lah karakter anak mulai Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Jenis-jenis Pola Asuh Yaumil Achir. dalam (Abdul Kadir, 2. Membagi pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya, yang terbagi menjadi 3 yaitu: Pola Asuh Otoriter. Pola asuh otoriter merupakan bentuk pola asuh yang diterapkan oleh orang tua dengan menetapkan aturan dan batasan yang mutlak yang harus diikuti anak tanpa persetujuan dan kemampuan anak dalam hal ini, komunikasi yang terjadi yaitu di satu arah saja, yang berarti anak melakukan tugas dan aturan yang dibikin orang tua tanpa adanya pertimbangan. Perintah dari orang tua pun harus dilaksanakan yang dari hal tersebut akan berdampak pada sikap anak yang hanya takut pada orang tua dan hanya melaksanakan perintahnya tanpa tahu secara sadar apa yang dikerjakan akan memberikan manfaat bagi kehidupannya sendiri. Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dipatuhi, biasanya disertai dengan misalnya, jika tidak mau makan, tidak akan diajak bicara. Pola asuh tipe ini cenderung memaksa, memerintah, dan (Tan dan Yasin, 2. Pola asuh otoriter diartikan sebagai pola asuh yang tidak hanya ditunjukkan dalam bentuk perilaku kaku, kasar atau tidak sopan, tetapi juga dalam bentuk perilaku kaku yang mengharuskan kepatuhan terhadap: . aturan, . figur, . Perilaku kepatuhan yang kaku ini memungkinkan individu otoriter merasa tidak nyaman dan memiliki dorongan mengekspresikan perasaan tidak nyaman tersebut apabila ada orang lain atau lingkungannya yang berperilaku, bertindak, atau berpenampilan tidak seperti yang diyakini oleh individu otoriter tersebut sebagai yang paling baik (Siregar, 2. Jadi, makna dari pola asuh otoriter ini yaitu pola asuh yang berpusat pada orang tua, dengan menjalin komunikasi pada satu arah saja, orang tua senantiasa ingin anaknya melaksankan serta mematuhi peraturan yang kenyamanan, keinginan, serta pendapat anaknya sendiri. Jadi, secara keseluruhan pola asuh ini memposisikan anak menjadi seorang robot pelaksana perintah orang tua. Pola Asuh Permisif. Pola asuh yang bersifat permisif ini lebih kearah memberikan kebebasan kepada anak, dapat dikatakan bahwa pola asuh ini kebalikannya dari makna pola asuh yang sifatnya otoriter. pola asuh yang bersifat permisif ini memberikan kebebasan pada anak tanpa adanya batasan dalam melakukannya yang bisa berdampak pada anak, seperti anak belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mana yang benar dan mana yang salah. Pola asuh permisif adalah pola asuh yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup dari mereka. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak ketika anak dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan, sehingga mereka sering disenangi oleh anak-anak. (Tan dan Yasin, 2. Jadi, pola asuh permisif ini merupakan usaha orang tua dalam mendidik anak dengan cara memberi kebebasan tanpa memberitahu batasan dalam berbuat sesuatu yang mengakibatkan anak selalu bertindak sesukanya tanpa memikirkan resiko yang Pola Asuh Demokratis. Pola asuh yang bersifat Demokratis merupakan pola asuh yang menitik beratkan pada pemberian arahan dan penekanan terhadap perilaku ataupun sikap anaknya dan menjelaskan tujuan terkait peraturan yang Orang tua Sepenuhnya menghormati anak sebagai suatu individu yang utuh dan tidak selalu memaksa anak untuk menyukai suatu perintah dan memiliki alasan yang kuat untuk menolaknya. Dimana orang tua membimbing dan mengarahkan anak untuk memiliki sifat yang mandiri dan dewasa dalam mengambil keputusan. Selain daripada keinginannya dan orang tua menghargai individualitas anak. Jadi, orang tua mendidik anak untuk memiliki sikap disiplin dan memberikan kebebasan serta tuntutan sewajarnya. (Syawalia Fitri. Masyithoh. Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Menurut Baumrind . pengasuhan adalah cara orang tua dalam memperlakukan, berkomunikasi, mendisiplinkan, memonitor, dan mendukung anak. Interaksi yang terjalin antara anak dan orang tua akan membentuk gambaran, persepsi, dan sikapsikap tertentu pada masingmasing pihak, yaitu sikap anak memengaruhi respons orang tua dan sebaliknya sikap orang tua pun akan memengaruhi respons Baumrind juga mengidentifikasi dua dimensi dalam pengasuhan yaitu ketanggapan . dan tuntutan . Selain Baumrind mengemukakan empat bentuk sikap orang tua dalam mendidik anak, yaitu: Authoritarian, adalah gaya pengasuhan yang membatasi dan menghukum, di mana orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghormati pekerjaan dan upaya mereka, terlalu menuntut anak, tidak ada penghargaan dan kehangatan terhadap anak serta disiplin yang keras. Authoritative, adalah gaya pengasuhan yang mendorong anak untuk mandiri, namun masih menerapkan batas dan kendali pada tindakan Model pengasuhan ini mengatur perilaku anak dengan kehangatan, harapan realistis dan memotivasi untuk berpikir . Neglectful . , gaya pengasuhan di mana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Anak merasa diabaikan dan menganggap kehidupan orang tua lebih penting dibandingkan diri mereka. Indulgent . , gaya pengasuhan di mana orang tua sangat terlibat dengan anak, namun tidak terlalu menuntut atau mengontrol Orang tua membiarkan anak melakukan apa yang diinginkannya. Hasilnya, anak tidak pernah belajar mengendalikan perilakunya sendiri dan selalu berharap mendapatkan keinginannya. Ciri-Ciri Pola Asuh Orang Tua Ciri-ciri pola asuh otoriter menurut Hurlock dalam (Firdausi dan Ulfa, 2. yaitu orang tua memaksakan kehendak pada anak, mengontrol tingkah laku anak secara ketat, memberi hukuman fisik jika anak bertindak tidak sesuai dengan keinginan orang tua, kehendak anak banyak diatur orang tua. Menurut Diana Baumride ciri-ciri pola asuh otoriter adalah . Kepatuhan secara muntlak tanpa musyawarah . Anak harus menjalankan . aturan secara mutlak tanpa alternatif lain . Bila anak berbuat salah, orangtua tidak segan . Hubungan anak dan orang tua sangat jauh . Lebih memenangkan orangtua bahwa orangtua paling benar . Lebih mengendalikan kekuatan orangtua, dengan memberi hadiah, ancaman dan saksi . Kurang memperhatikan perasaan anak, yang penting prilaku anak berubah. Ciri-ciri pola asuh demokratis. Hurlock berpendapat bahwa pola asuhan Democratie dengan ciri-ciri adanya pengakuan kemampuan anak oleh orang tuanya. Anak diberi kesempatan untuk tergantung dan mengembangkan kontrol Orang tua melibatkan partisipasi anak dalam mengatur kehidupan anak, menetapkan peraturan-peraturan, dan dalam mengambil keputusan. Ciri-ciri pola asuh . Menghargai pada minat dan keputusan anak . Mencurahkan cinta dan kasih sayang . Tegas dalam menerapkan aturan dan menghargai prilaku baik. Melibatkan anak dalam hal-hal tertentu. Menurut pendapat Desmita bahwa gaya pengasuhan authoritatif memiliki ciri-ciri . Memperlihatkan pengawasan ekstra ketat. terhadap tingkah laku anak . Tetapi mereka juga bersikap responsif, . Menghargai, dan menghormati pemikiran, perasaan serta mengikut sertakan anak dalam pengambilan keputisan. Ciri-ciri pola asuh permissif. Menurut Santrock ciri-ciri pola asuh Permisif yaitu: Orang tua membolehkan atau mengijinkan anaknya untuk mengatur tingkah laku yang mereka kehendaki dan membuat keputusan sendiri kapan saja . Orang tua memiliki sedikit peraturan di rumah . pembatasan kapan saja dan sedikit menerapkan hukuman . Orang tua sedikit menuntut kematangan tingkah laku, seperti menunjukan tatakrama Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 yang baik atau untuk menyelesaikan tugastugas . Orang tua menghindari dari suatu control atau tua toleran, sikapnya menerima terhadap keinginan dan dorongan yang dikehendaki Menurut Baumrind ciri-ciri pola asuh permisif, adalah: Orang tua tipe ini sangat tidak terlibat dengan kehidupan anak . Orang tua harus mengikuti keinginan anak baik orang tua setuju ataupun tidak . Anak akan cendrung bertindak semena-mena . Orang tua tipe ini selalu menuruti dan memperbolehkan anak atas apa yang Tabel 1 Karakteristik Anak Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua Parenting Sikap Orang Profil Prilaku Style Tua Anak Authotaritarium Sikap Mudah (Otorite. secara fisik Penakut Bersikap Pemurung mengharuskan Mudah memerintah anak Mudah stress agar melakukan Tidak tanpa bersahabat Bersikap kaku Cenderung keras serta emosional Memiliki control terhadap perilaku Authoritative Sikap acceptance Bersikap (Demokrati. nya tinggi namunbersahabat control terhadap Memiliki rasa anak juga tinggi percaya diri Bersikap Mampu kebutuhan anak Bersikap sopan Mendorong anak Memiliki rasa ingin tahu yang atau Mau Menjelaskan tentang dampak perbuatan yang baik serta buruk Permissive sikap acceptance bersikap agresif nya tinggi namunsuka control terhadap memberontak anak rendah membebaskan mendominasi anak kurang memiliki rasa percaya diri prestasi rendah . umber: Aini,2. Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua Pola asuh setiap orang tua itu berbeda-beda. Perbedaan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Wijanarko (Ningsih, mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anak yaitu: Pendidikan orang tua pendidikan dan pengalaman orang tua dalam perawatan anak akan mempengaruhi persiapan mereka menjalankan pengasuhan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih siap dalam menjalankan peran pengasuhan antara lain: terlibat aktif dalam setiap pendidikan anak, mengamati segala sesuatu dengan berorientasi pada masalah anak, selalu berupaya menyediakan waktu untuk anakanak dan menilai perkembangan fungsi keluarga dan kepercayaan anak. Lingkungan perkembangan anak, maka tidak mustahil jika lingkungan juga ikut sertaa mewarnai polapola pengasuhan yang diberikan orang tua terhadap anaknya. Orang lahir tidak dengan pengalaman mendidik anak, maka cara termudah adalah meniru dari lingkungannya. Budaya seringkali orang tua mengikuti caracara yang dilakukan oleh masyarakat dalam kebiasaan-kebiasaan masyarakat disekitarnya dalam mengasuh Karena pola-pola tersebut dianggap berhasil dalam mendidik anak kearah Orang tua menghaarapkan kelak anaknya dapat diterima di masyarakat dengan baik, oleh karena itu kebudayaan atau Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 kebiasaan masyarakat dalam mengasuh anak juga mempengaruhi setiap orang tua dalam memberikan pola asuh terhadap anaknya. Generasi Alpha Generasi alpha sering dikatakan sebagai anak dari generasi Y atau milenial dan adik dari generasi Z. Hampir sebagian besar generasi milenial kini telah menjadi orang tua, sedangkan generasi Z mulai memasuki fase dewasa muda. Anak-anak dari generasi alpha merupakan anakanak yang lahir di tahun 2010 keatas yang pada tahun 2019 ini usia tertuanya adalah 9 tahun. Generasi alpha adalah generasi yang paling akrab dengan teknologi digital dan generasi yang diklaim paling cerdas dibanding generasigenerasi sebelumnya. McCrindle menyebutkan bahwa sebanyak 2,5 juta anak generasi alpha lahir di dunia setiap minggunya. Menurutnya. Generasi alpha merupakan generasi yang paling akrab dengan internet sepanjang masa. McCrindle juga memprediksi bahwa generasi alpha tidak lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas, dan juga Generasi menginginkan hal-hal yang instan dan kurang menghargai proses. Keasikan mereka dengan gadget membuat mereka teralienasi secara sosial. Hasil penelitian Ayunia & Zakiyah . menemukan bahwa betapa sulit bagi orang tua di zaman sekarang untuk mendidik anak generasi Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan anak-anak, khususnya dalam mengelola penggunaan media elektronik. Senada dengan pemaparan di atas. Penelitian Christine et al . menyatakan sebagian besar orang tua menggunakan pola asuh demokratis dengan menggabungkan kasih sayang, pengekangan, instruksi, dan penciptaan panutan. Generasi alpha akan memiliki karir di bidang yang sedang berkembang berkaitan dengan teknologi dan aplikasi. Mereka merupakan pembelajar seumur hidup . ifelong learner. Mereka dituntut untuk selalu adaptif, berlatih, dan terus meningkatkan keterampilan sebagai antisipasi untuk dapat terus relevan dengan perubahan zaman (McCrindle, 2020: . Dalam Fadlurrohim et al. , . 0: . McCrindler memprediksikan bahwa generasi alpha tidak akan terlepas dari gadget, kurang mampu bersosialisasi, kurang memiliki daya kreativitas serta cenderung bersikap individualis. Generasi alpha menginginkan hal-hal secara instan dan kurang menghargai sebuah proses. Mereka tenggelam dalam keasyikkan gadget sehingga membuat mereka teralienasi secara Generasi alpha akan menjadi suatu generasi yang paling terdidik dikarenakan mereka memilki kesempatan sekolah yang jauh lebih besar di era sekarang, mereka sangat akrab dengan teknologi, menjadi generasi yang paling sejahtera dan memiliki jarak umur paling jauh dengan generasi sebelumnya . engalahkan jarak antara baby boomer Ae generasi X) (Fadlurrohim et al. , 2020: . Karakeristik dan Ciri-Ciri Generasi Alpha Devianti et al. , . menyatakan bahwa ciri-ciri anak generasi alpha, yaitu pertama anak menyukai pemecahan masalah yang praktis, kedua cinta kebebasan dan perilaku yang berubah, ketiga percaya diri, keempat keinginan besar untuk mendapatkan pengakuan, kelima jauh dari buku dan majalah, keenam terbiasa dengan digital dan teknologi informasi, ketujuh tantangan untuk orang tua. Selain itu ciri-ciri anak generasi alpha, yaitu pertama generasi instan, kedua cinta kebebasan, ketiga kepercayaan diri yang tinggi, keempat keinginan untuk diakui, kelima kemudahan informasi, dan keenam mahir menggunakan gadget (Faisal Anwar, 2. Oleh karena itu, karakteristik anak dari generasi alpha mencakup preferensi terhadap hasil instan, minat terhadap kebebasan, tingkat kepercayaan diri yang tinggi, responsif terhadap pengakuan, kurangnya minat dalam literatur cetak, keterampilan yang telah terbentuk dalam lingkungan digital dan teknologi, tantangan yang dihadapi orangtua dalam mengasuh, serta akses mudah terhadap Karakteristik generasi alpha menurut aisyah dahlan yaitu generasi paling terdidik, jumlah saudara kandung sedikit, mendapatkan fasilitas paling lengkap, dan digital native. Ayunina . Generasi alpha merupakan generasi yang lahir dari orangtua millennial yang sudah akrab dengan teknologi. Mereka memiliki beberapa karakteristik diantaranya yaitu: . Selalu terhubung dengan koneksi internet dan social media (McCrindle, 2014: . Seperti yang sudah dijabarkan diatas, bahwa generasi alpha merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi. Mereka menghabiskan banyak waktu di depan layar gadget baik untuk kepentingan seperti pendidikan ataupun sekedar Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 mencari hiburan. Generasi alpha memiliki suatu spesialisasi dalam keterampilan . ecome more specialise. (Fadlurrohim et al. , 2020: Generasi alpha termasuk generasi yang kritis dalam berfikir dan detail dalam mencermati sesuatu. Hal tersebut dikarenaka mereka mudah dalam mendapatkan berbagai informasi melalui gadget sehingga kesempatan untuk mengetahui banyak keterampilan dan bahkan menjadi ahli dalam keterampilan tersebut sangatlah mudah. Menyukai hal-hal yang bersifat instan dan praktis. Generasi alpha cenderung menyukai suatu problem solving yang sifatnya praktis. Selain itu, mereka sungkan dalam menginvestasikan waktu untuk suatu proses dalam memecahkan sebuah masalah. Penyebab dari hal tersebut dikarenakan mereka lahir di dunia yang serba instan . Mencintai kebebasan. Generasi alpha merupakan generasi berkreasi, berekspresi dan lain sebagainya. Mereka lebih menyukai pembelajaran yang sifatnya eksplorasi daripada hafalan . Keinginan besar untuk mendapatkan pengakuan. Anak-anak generasi alpha cenderung ingin mendapatkan pengakuan dalam bentuk reward baik berupa pujian, hadiah atau penghargaan lainnya, karena kemampuan dan eksistensi mereka yang unik. Generasi alpha merasa diri mereka istimewa yang kemudian mendorong mereka untuk membutuhkan justifikasi sebagai pengakuan atas keistimewan mereka. Perkembangan Sosial Emosional Menurut Erikson, masyarakat memiliki perkembangan psikososial seorang individu. Peranan ini dimulai dari pola asuh orangtua hingga aturan atau budaya masyarakat (Miller. Berikut ini merupakan tahapan perkembangan emosi yang dicetuskan oleh Eric Erickon. Kepercayaan vs Ketidakpecyaan . sia 0-1 tahu. Pada tahap ini harus belajar menumbuhkan kepercayaan pada oranglain, contohnya anak kepada ibunya. Jika anak tidak berhasil dalam tahap ini, maka ia akan jadi anak yang mudah takut dan rewel. Otonomi vs Malu dan Ragu-Ragu . sia 1-3 tahu. Pada tahap ini anak mulai belajar kemandirian . , seperti makan atau minum sendiri. Jika anak tidak berhasil pada tahap ini karena selalu ditegur dengan kasar ketika proses belajar, maka anak akan menjadi pribadi yang pemalu dan selalu ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Inisiatif vs Rasa Bersalah . sia 3-6 tahu. Pada tahap ini anak mulai memiliki gagasan . berupa ide-ide sederhana. Jika anak mengalami kegagalan pada tahap ini, maka ia akan terus merasa bersalah dan tidakmampu menampilkan dirinya sendiri. Kerja Keras vs Rasa Inferior . sia 6-12 tahu. Pada tahap ini anak mulai mampu berkerja keras untuk menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Jika pada tahap ini anak tidak berhasil, maka kedepannya anak akan menjadi pribadi yang rendah diri . dan tidak mampu menjadi Identitas vs Kebingungan Identitas . sia 12-19 tahu. Pada tahap ini individu melakukan pencarian atas jati dirinya . Jika ia gagal pada tahp ini, mak ia akan merasa tidak utuh. Keintiman vs Isolasi . sia 20-25 tahu. Pada tahap ini individu mulai keintiman psikologis dengan oranglain. Jika ia gagal pada tahap ini, maka ia akan merasa kosong dan terisolasi. Generativitas vs Stagnasi . sia 26-64 tahu. Pada tahap ini individu memiliki keinginan untuk menciptakan dan mendidik generasi selanjutnnya. Jika ia tidakberhasil dalam tahap ini, maka ia akan merasa bosan dan tidak berkembang. Integritas vs Keputusan . sia 65 tahun ke ata. Pada tahap ini individu akan menelaah kembali apa saja yg sudah ia lakukan dan ia capai dalam hidupnya. Jika ia berhasil pada tahp ini, maka ia akan . enerimaan kekurarangan diri, sejarah kehidupan, dan memiliki kebijaka. , sebaliknya jika ia gagal, maka ia akan merasa menyesal atas apa yg telah terjadi dalam hidupnya. (Maria 2. Dalam Shahrawat. , & Shahrawat. Maslow berpendapat bahwa manusia tidak hanya harus melawan kesedihan, ketakutan, dan hal negatif lainnya, tetapi manusia juga harus mencari kebahagian dan kesejahteraan. Maslow menyatakan bahwa pada dasarnya manusia itu baik, tidak jahat (We are basically good, no evi. Menurut Maslow ada 4 hal yang harus ditekankan mengenai hal ini. Menusia memiliki struktur psikologis yang beranalagi sperti struktur fisik, yaitu kebutuhan . , kapasitas . , dan kecenderungan . yang didasari oleh keadaan genetis. Perkembangan yang sehat diharapkan selalu melibatkan aktualisasi dari karakteristik. Keadaan patologis setiap manusia berasal dari penyangkalan . , frustasi . , atau Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 memutar . keadaan manusia. Manusia memiliki keinginan dan kemampuan aktif untuk mencapai kesehatan mental dalam perkembangan aktualisasi diri. Menurut Maslow seorang individu dapat berhubungan dengan dunia melalui dua cara, yaitu D-realm atau deficiency . dimana manusia bertahan hidup dengan cara berusaha memenuhi seluruh kebutuhan dasarnya. Setelah kebutuhan dasarnya terpenuhi, maka manusia akan beranjak ke tahap B-realm atau being . , dimana manusia memiliki motivasi untuk mencari aktuailisasi dirinya dan pengayaan dari keberadaannya. Maslow mencetuskan sebuah teori yang berkaitan dengan motivasi manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Teori ini disebut sebagai Hierarki Kebutuhan Maslow, yang meliputi: 1. Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan fisik yang paling dasar seperti rasa lapar, haus, dan lelah. Kebutuhan akan rasa aman, yaitu kebutuhan akan rasa keselamatan, kestabilan, proteksi, struktur, keteraturan, hukum, batasan, dan bebas dari rasa Kebutuhan memiliki dan cinta, yaitu kebutuhan memiliki hubungan yang harmonis dengan oranglain, seperti keluarga, pasangan, anak, dan teman. Kebutuhan rasa percaya diri, yaitu kebutuhan akan perasaan kuat, menguasai sesuatu, kompetensi, dan kemandirian. Juga kebutuhan akan perasaan dihormati oleh oranglain, status, ketenaran, dominansi menjadi orang penting, serta harga diri dan penghargaan. Kebutuhan aktualisasi diri dan meta needs, yaitu kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dengan mengembangkan diri dan melakukan sesuatu yang dikuasai. Contohnya adalah seorang musisi yang menciptakan lagu dan seorang pengusaha yang sukses. Kebutuhan aktualisasi diri ini memayungi meta needs, dimana sebagian meta needs ini merupakan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Sebagai contoh kebutuhan akan keadilan, keteraturan, kebebasan melakukan sesuatu dan berpendapat, serta mencari informasi dan membela diri sendiri. Sedangkan sebagian lainnya adalah kebutuhan yang lebih mengacu pada keindaan, seperti kecantikan dan Perkembangan sosial emosional anak merupakan dua aspek yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, membahas perkembangan emosi harus bersinggungan dengan perkembangan sosial Demikian pula sebaliknya, membahas perkembangan sosial anak harus melibatkan perkembangan emosional anak. Perilaku sosial sangat erat hubungannya dengan perilaku emosionalnya walaupun memiliki pola yang Perkembangan sosial emosional merupakan perubahan perilaku yang disertai dengan perasaan-perasaan tertentu yang datang dari hati, yang melingkupi perkembangan sosial emosional merupakan perubahan perilaku yang disertai perasaan-perasaan melingkupi anak usia dini saat berhubungan dengan orang lain (Fuadia, 2. Sejalan dengan itu. Khaironi . menjelasakan, perkembangan sosial merupakan individu dalam berinteraksi dengan orang lain. Sementara itu, ia melanjutkan, perkembangan emosional adalah kemampuan individu untuk mengelola dan mengekspresikan perasaannya dalam bentuk ekspresi tindakan yang dinampakkan melalui mimik wajah maupun aktivitas lainnya . erbal atau non-verba. sehingga orang lain dapat mengetahui dan bahkan memahami kondisi atau keadaan yang sedang dialaminya. Oleh sebab itu, perkembangan sosial emosional tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena saling berhubungan dengan interaksi antara individu dengan individu atau individu dengan society Karakteristik Perkembangan Anak Memahami perkembangan anak, maka perlu juga memahami karakteristik dari masing-masing Berikut karakteristik anak usia dini, yaitu: a. Ciri sosial anak usia dini/pra sekolah: . Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapisahabat ini cepat berganti. Mereka umunya dapat dengan cepat menyesuaikan diri secara Awalnya sahabat yang dipilih yang berdasarkan sama jenis kelaminnya, kemudian seiring berkembang sahabat akan terdiri dari jenis kelamin yang berbeda. Kelompok bermainnya cenderung kecil, dan tidak terlalu teroragnisasi secara baik, oleh sebab itu kelompok anak tersebut cepat berganti-ganti. Anak yang lebih mudah bermain berdampingan dengan anak yang lebih besar. Adapun menurut Steinberg dalam Qortina . , karakteristik atau ciri-ciri perkembangan social dan emosional anak usia 4-5 tahun, yaitu: Anak lebih menyukai bekerja dengan dua Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 sampai tiga teman yang dipilihnya sendiri, senang bekerja berpasangan dan bermain Soemiarti Patmonodewo. Pendidikan Anak Prasekolah . Anak mulai mengikuti dan mematuhi aturan serta berada pada tahap Anak membereskan alat main. Rasa ingin tahu anak yang besar, mampu bicara dan bertanya apabila diberi kesempatan, dan anak dapat diajak . Anak mulai dapat mengenali emosi . Anak mempunyai kemampuan untuk berdiri sendiri. Ciri emosional anak usia dini/pra sekolah: . Anak TK/Prasekolah mengekspresikan emosinya dengan bebas dan Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut . Iri hari pada anak prasekolah sering terjadi. Mereka seringkali meperebutkan perhatian guru. 51 Adapun tingkat pencapaian perkembangan sosial emosional anak usia 4-5 tahun dalam bukunya suyadi, yaitu : . Anak menikmati bermain secara kelompok . Anak rela antre menunggu giliran bermain . Anak mampu mentaati aturan dalam bermain yang telah disepakati . Anak mulai muncul rasa khawatir terhadap suatu bahaya . Sulit memebedakan percaya diri dan kenyataan . Anak kadang-kadang sudah berani melalukan kebohongan . Anak akan suka menirukan tokoh Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Emosional Menurut Hurlock . adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan anak ada tiga faktor yaitu faktor perkembangan awal, faktor penghambat, dan faktor pengembang. Faktor perkembangan awal misalnya faktor lingkungan sosial yang menyenangkan anak, faktor emosi, metode mendidik anak, beban tanggung jawab anak yang berlebihan, faktor keluarga, dan faktor rangsangan lingkungan. Perkembangan sosial emosional anak usia dini dapat dipengaruhi beberapa faktor yang dapat membantu perkembangan sosial emosional anak berkembang dengan baik. Ketika anak memasuki usia lima tahun pertama merupakan masa terbentuknya dasar-dasar kepribadian manusia, kemampuan pengindraan, berfkir, keterampilan bahasa, dan berbicara, sera bertingkah laku sosial. Perkembangan sosial anak akan sangat dipengaruhi oleh iklim sosiopsikologis keluarganya, jika dilingkungan memperhatikan, saling membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas keluarg dan konsisten dalam melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki kemampuan atau penyesuaian sosial dalam hubungan dengan orang lain. Menurut Dadan Suryana perkembangan social anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu: . Keluarga, merupakan lingkungan pertama yang memberi pengaruh terhadap berbagai asoek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraski dengan orang lain juga banyak ditentukan oleh keluarga. Kematangan, untuk dapat bersosialisai dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehungga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nesehat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan . Status sosial, ekonomi kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi social ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normative yang telah ditanamkan oleh . Pendidikan, merupakan proses sosialisai anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberi warna kehidupan mereka di masa yang akan datang. Kapasitas mental, emosi dan kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi, seperti kemampuan berlajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi berpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak. Pembahasan Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dipatuhi, biasanya disertai dengan misalnya, jika tidak mau makan, tidak akan diajak bicara. Pola asuh tipe ini cenderung memaksa, memerintah, dan menghukum. (Tan dan Yasin, 2. Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi, wawancara dan dokumentasi peneliti melihat bahwa beberapa orang tua memenuhi indikator dari pola asuh otoriter yang pertama yaitu: Sikap menghukum secara fisik, para orang tua melakukan hukuman secara fisik seperti mencubit dan memukul dengan alasan Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 anak tidak bisa diberitahu dengan baik. Agar timbul rasa jera dan sikap disiplin dari anak namun sebagian tidak melakukan karena merasa hukuman fisik tidak cocok untuk anak 5 sampai 6 tahun. yang kedua yaitu: bersikap mengharuskan ataupun memerintah anak agar melakukan sesuatu tanpa kompromi cenderung memberikan perintah atau sebuah titah yang bersifat memaksa anak untuk melakukan hal itu berdasarkan hasil observasi yang telah peneliti lakukan beberapa anak disuruh orang tuanya untuk membeli suatu barang ke warung saat anak sedang bermain, menyuruh anak melakukan kepentingan yang seharusnya bisa dilakukan sendiri sebagai orang dewasa. yang ketiga yaitu: bersikap kaku delapan dari sembilan orang tua kurang memiliki toleransi, dan langsung memberikah hukuman atau teguran tanpa mendengarkan perasaan atau keluh kesah anak dan berdasarkan observasi juga para orang tua kebanyakkan memiliki hubungan yang canggung dengan anak karena kekakuan sifat mereka yang seperti menganggap anak tidak bisa menganggu pendapat orang tua. yang keempat yaitu: cenderung keras serta emosional dilihat dari hasil wawancara semua orang tau mengusahakan anak untuk dapat meluapkan emosinya memberikan anak kesempatan untuk memahami emosinya, membantu mencari sebab munculnya emosi anak namun berdasarkan observasi peneliti tak semua orang tua melakukan itu salah satu dari orang tua anak di keadaan anak sedang tantrum terkadang langsung memukul, membentak dan memberikan yang kelima yaitu: memiliki kontrol yang tinggi terhadap perilaku anak orang tua yang memiliki kontrol tinggi terhadap anak biasanya tak akan mendengar pendapat atau perasaan anak berdasarkan hasil wawancara hampir semua orang tua menerapkan aturan dan memberlakukan hukuman dengan persetujuan anak dengan harapan anak akan menjadi disiplin dan memiliki pola hidup yang teratur. Berdasarkan observasi saya anak dengan orang tua yang memiliki pola asuh otoriter biasanya akan kurang percaya diri, kurang empati terhadap teman, sulit bersosialisasi dan penakut, salah satu anak dari orang tua yang sebenarnya condong ke pola asuh otoriter ini menjadi pemalu, takut bertemu dengan orang baru, kurang bisa bersosialisasi dengan teman karena kesulitan mengutarakan pendapat. Pola asuh Demokratis Pola asuh yang bersifat Demokratis merupakan pola asuh yang menitik beratkan pada pemberian arahan dan penekanan terhadap perilaku ataupun sikap anaknya dan menjelaskan tujuan terkait peraturan yang bentuk. Orang tua Sepenuhnya menghormati anak sebagai suatu individu yang utuh dan tidak selalu memaksa anak untuk menyukai suatu perintah dan memiliki alasan yang kuat untuk menolaknya. Dimana mengarahkan anak untuk memiliki sifat yang mandiri dan dewasa dalam mengambil Selain daripada itu, anak memiliki hak untuk memperjuangkan kemerdekaan atau keinginannya dan tua menghargai individualitas anak. Jadi, orang tua mendidik anak untuk memiliki sikap disiplin dan (Syawalia Fitri. Masyithoh. Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi, wawancara dan dokumentasi peneliti melihat bahwa beberapa orang tua memenuhi indikator dari pola asuh Demokratis yang pertama yaitu: Sikap acceptance-nya tinggi namun kontrol terhadap anak juga tinggi, hampir semua orang tua menjawabsesuai dengan indikator memiliki sikap acceptance yang tinggi namun tak memanjakan lebih mendahulukan hal yang penting juga memberikan pertimbangan terhadap semisal kemauan anak namun berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti ada sebagian orang tua yang memaksakan anak itu mendapatkan apa yang dia mau entah itu dari orang lain atau orang tuanya sendiri yang tentu saja menyebabkan tingkah laku buruk jika sudah kebiasaan selalu mendapatkan apa yang dia mau. yang ke dua rensponsive terhadap kebutuhan anak sesuai dengan hasil wawancara semua orang tua mengusahakan kebutuhan anak terpenuhi melalui berbagai cara dengan kondisi yang berbeda-beda namun berdasarkan observasi peneliti sebagaian orang tua cenderung menjadi emosi atau acuh tak acuh saat anak meminta kebutuhannya di penuhi. yang ketiga yaitu: mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan tujuh dari sembilan orang tua selalu melibatkan anak dalam keseharian seperti memilih pakaian dan hal kecil lainnya memberikan kecempatan untuk anak belajar untuk miliki keputusan sendiri, dua lainnya beranggapan jika anak umur 5-6 tahun itu masih sepenuhnya dalam kendali orang tua. yang keempat yaitu: menjelaskan tentang Early Child Research and Practice - ECRP, 2026: 6. , 231-242 Jalan Meranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 dampak perbuatan baik dan buruk sebagian besar orang tua menerapkan indikator ini memberi nasehat atau wejangan jika anak salah dan memberi apresiasi saat anak melakukan Berdasarkan hasil observasi yang sudah peneliti lalukan anak dengan orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis sudah memenuhi indikator perkembangan sosial emosional dari mulai memperlihatkan sikap kehati-hatian kepada orang yang belum dikenal, mengenal perasaan sendiri, tau akan haknya, bertanggung jawab atas perilakunya untuk kebaikan diri sendiri, mampu berbagi dengan mengekspresikan perasaan, mulai mengetahui tata krama dan sopan sesuai dengan lingkungan. Pola asuh Permisif Pola asuh permisif adalah pola asuh yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup dari mereka. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak ketika anak dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan, sehingga mereka sering disenangi oleh anak-anak. (Tan dan Yasin. Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi, wawancara dan dokumentasi peneliti melihat bahwa tidak ada orang tua yang Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat peneliti simpulkan bahwa pola asuh orang tua terhadap perkembangan generasi alpha sebagai berikut: Pada orang tua yang menjadi subjek penelitian peneliti kebanyakan orang tua menerapkan pola asuh demokratis secara menyeluruh mengedepankan kebaikan anak terlebih dahulu dan memberikan anak kesempatan untuk belajar namun para orang tua masih sedikit banyaknya melakukan hukuman fisik kepada anak namun secara keseluruhan anak dengan orang tua pola asuh demokratis ini memiliki perkembangan sosial emosional yang sesuai dengan indikator perkembangan sosial emosional dari mulai mengerti perasaan temen sebayanya serta meresponnya secara wajar, mengekspresikan emosi sesuai dengan kondisi yang terjadi, bertanggung jawab atas perilakunya untuk kebaikan diri sendiri, berbagi dengan orang sekitar. faktor yang memperngaruhi pola asuh orang tua mulai dari ekonomi, pendidikan, pekerjaan orang tua, budaya selain pola asuh perkembangan sosial emosional anak juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Daftar Pustaka