Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 49-57 PENGIKAT TOLERANSI SUKU DAYAK TOMUN ARUT Agnes Tri Ekatni Pendidikan Agama Katolik. STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Email : 2019001@stipas. Edy Jumrio Pendidikan Agama Katolik. STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Email : ejumrio@gmail. Silvester Adinuhgra STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Abstract. This study aims to show that through the babukung dance that exists within the Dayak Tomun Arut tribe, it results in the implementation of tolerance that is mutually binding between old cultures and religions that exist in the Dayak Tomun Arut tribe. Analysis This research uses a type of qualitative research with descriptive methods. This research was carried out in Pangkut. North Arut District. West Kotawaringin District. Central Kalimantan Province. The results of this study show that the principle of the Dayak motto "This land is ours and this village is ours" is an important example for instilling attitudes and actions of tolerance between communities in Arut Utara subdistrict. Through this babukung dance, it becomes a binder and becomes one identity as the culture of the Dayak Tomun Arut tribe in implementing the values of harmony and peace between religions, cultures and ethnicities. Keywords: Baburung Dance. Implementation of Tolerance Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa melalui tari babukung yang ada di dalam suku Dayak Tomun Arut menghasilkan implementasi toleransi yang saling mengikat antara budaya yang sudah lama dengan agama-agama yang ada di suku Dayak Tomun Arut. Analisis Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini di laksanakan di Pangkut,Kecamatan Arut Utara. Kabupaten Kotawaringin Barat. Provinsi Kalimantan Tengah . Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa prinsip motto suku Dayak AuAuTanah ini milik kita dan kampung ini milik kitaAy menjadi contoh penting untuk menanamkan sikap dan tindakan toleransi antar masyarakat yang ada dikecamatan Arut Utara. Melalui tari babukung ini menjadi pengikat dan menjadi satu identitas sebagai budaya Suku Dayak Tomun Arut dalam penerapan nilai kerukunan dan kedamaian antar agama,budaya dan etnis. Kata kunci: Tari Babukung. Implementasi Toleransi Received Juli 07, 2022. Revised Agustus 2, 2022. September 22, 2022 * Agnes Tri Ekatni, 2019001@stipas. PENGIKAT TOLERANSI SUKU DAYAK TOMUN ARUT LATAR BELAKANG Negara kita adalah negara dengan multikultural, mulai dari Aceh hingga Papua memiliki bermacam suku, etnik, budaya dan agama. Beragamnya suku, agama, dan kebudayaan yang kita miliki membuat kita bangga karena telah memiliki kekayaan tersebut seperti keberagaman suku, agama dan ras, tetapi pada sisi yang lain juga memiliki dampak negatif atau kurang baik, sehingga semakin rentan menyebabkan terjadinya gesekan antar suku, ras dan agama yang akan menyebabkan terjadinya konflik antar suku, ras dan agama. Konflik antara suku dan agama pernah terjadi di negara kita ini, seperti terjadinya perang suku yang terjadi di Kalimantan Tengah lebih tepatnya kota Sampit Kabupaten Kota Waringin Timur beberapa tahun silam. (Kompas. Kemudian terjadinya perang antar perbedaan agama yang terjadi di Ambon beberapa tahun silam (Kompas. Saat ini yang paling sering terjadi ialah bentuk ujaran kebencian Sara yang dilakukan oleh individu tertentu kepada kelompok yang lain, seperti yang disebarkan dalam media online saat ini dalam Kompas. /08/2. Berdasarkan berita media online di atas tentang kejadian yang terjadi di masa lalu, bahkan saat ini, maka akan sangat rentan bagi kita untuk terjadinya konflik baik antar suku, ras dan agama, maka dibutuhkan satu hal yang sangat baik untuk mengikat agar bencana tersebut tidak terulang lagi. Para pendiri bangsa ini sudah memperhatikan agar konflik antar suku, ras dan agama tidak terjadi dengan mencetuskan Motto bangsa kita yaitu AuBhinneka Tunggal IkaAy dan Pancasila yang pada sila ketiga mengatakan AuPersatuan IndonesiaAy, dengan harapan agar tidak terjadinya konflik sesama anak bangsa. Motto dan pancasila sudah dibuat, namun konflik tetap terjadi maka dibutuhkan lagi satu pemahaman yang mendalam bahwa kita tidak hanya sekedar menghormati namun perlu juga adanya toleransi antar para pemeluk agama, suku, ras dan budaya, sejalan dengan yang disampaikan oleh Effendy . menjelaskan, pentingnya menerapkan prinsipprinsip kemerdekaan dan kebebasan untuk menumbuhkan sikap toleransi, saling menghormati antar pemeluk agama yang berbeda dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda. Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau yang ada di Indonesia yang memiliki berbagai macam suku, agama, ras dan antar golongan. Suku dayak merupakan salah satu suku yang mendiami di Kalimantan Tengah, namun suku dayak ini tidak hanya satu saja tetapi masih banyak lagi seperti suku dayak kapuas, suku dayak maAoayan, suku SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 49-57 dayak tomun arut, suku dayak bakumpai, suku dayak taboyan, dan masih banyak lagi suku-suku yang mendiami pulau yang ada di Kalimantan terkhususnya Kalimantan Tengah. Suku dayak Tomun Arut merupakan salah satu suku dayak yang mendiami di Kalimantan Tengah terkhusuhnya di Kabupaten Lamandau dan Kota Waringin Barat Kecamatan Arut Utara Desa Pangkut. Tari Babukung pada Suku Dayak Tomun Arut ini, pada mulanya tarian ini hanya digunakan oleh agama Hindu Kaharingan karena tarian ini sendiri merupakan salah satu ritual kematian yang tujuannya untuk menghibur keluarga yang berduka dan sembari menyerahkan bantuan kepada keluarga yang berduka tersebut. Seiring berjalannya waktu Tari Babukung ini diangkat menjadi agenda rutin Festival Budaya. Hendra Lesmana dalam media online Multi Media Center Kalimantan Tengah . mengatakan bahwa. Aufestival Tari Babukung ini sudah masuk dalam agenda Kementerian Pariwisata, kedepannya akan selalu berinovasi dalam menyajikan Festival Babukung ini agar terus eksis, menarik dan dapat dinikmati oleh masyarakat, serta dengan adanya Festival ini juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakatAy maka dengan demikian Tari Babukung ini tidak hanya digunakan dalam ritual kematian saja tetapi sudah masuk dalam agenda rutin dari kementerian pariwisata. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan baik melalui media online ataupun secara langsung dimana masih sering ditemukan terjadi masalah antar Suku. Agama. Ras, dan Antar golongan hingga saat ini, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Implementasi Toleransi Menggunakan Tari Babukung Pada Suku Dayak Tomun Arut Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena saat ini kita sangat membutuhkan toleransi baik antar umat beragama, suku dan kebudayaan yang berbeda, maka sangat dibutuhkan sikap toleransi antar pemeluk agama dan pelaku kebudayaan agar kedepan nantinya tidak terjadi konflik yang didasari oleh Suku. Ras dan Agama. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Menurut Maleong (Herdiansyah, 2. Penelitian Kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah, yang bertujuan untuk memahami suatu proses fenomena dalam konteks sosial serta alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang PENGIKAT TOLERANSI SUKU DAYAK TOMUN ARUT menghasilkan teori yang timbul dari data bukan hipotesis. Penelitian ini di laksanakan di Pangkut,Kecamatan Arut Utara. Kabupaten Kotawaringin Barat. Provinsi Kalimantan Tengah . Subyek informan kunci dalam penelitian ini adalah tokoh agama hindu. Khatolik. Kristen Protestan dan Islam. Untuk memilih dan menentukan subyek penelitian yaitu dengan . urpossive samplin. , pengambilan subyek penelitian sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan. Metode pengumpulan data penelitian ini dengan wawancara menggunakan observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini yaitu. reduksi data, display data dan verifikasi data. Waktu penelitian ini dilaksanakan selama 17 . ujuh bela. hari dari tanggal 24 Agustus sampai dengan tanggal 9 September 2021. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Toleransi Menggunakan Tari Babukung Pada Suku Dayak Tomun Arut Implementasi toleransi merupakan penerapan hubungan yang terlaksana dengan tindakan dan sikap yang saling menghargai satu dengan yang lain baik dalam kelompok maupun dalam masyarakat yang dapat menjadi ikatan persaudaraan bertujuan untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan baik dalam budaya, etnis dan agama. Hasil penelitian ini ingin memperlihatkan bahwa melalui tari babukung yang ada di dalam suku Dayak Tomun Arut menghasilkan implementasi toleransi yang saling mengikat antara budaya yang sudah lama dengan agama-agama yang ada di suku Dayak Tomun Arut. Berdasarkan hasil penelitian di Pangkut. Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah tentang Implementasi Toleransi Menggunakan Tari Babukung Pada Suku Dayak Tomun Arut. Menurut SK dan AA semua agama dapat melaksanakan tari babukung ini dan tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti bahwa selain tujuan tari babukung sebagai menghibur orang yang berduka sembari menyerahkan bantuan juga menjalin toleransi pada setiap agama yang ada di daerah pangkut ini. Toleransi menurut Poerwadarminta . berarti menghargai, membiarkan pendirian pandangan, kelakuan, kepercayaan dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendirinya sendiri. Sehingga setiap individu harus memiliki kesadaran untuk menanamkan sikap dan tindakan toleransi baik mengarah kepada agama, budaya dan suku. Dengan menanamkan sikap demikian maka SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 49-57 akan ada kesadaran untuk menghargai budaya,etnis dan agama orang lain untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan. Menurut JV tari babukung bisa dikatakan sebagai pengikat toleransi ketika ada keterbukaan untuk saling memahami dan menerima budaya dan tidak menganggap bahwa budaya yang ada itu sebagai sesuatu yang menduakan Tuhan atau bersifat menyembah berhala selama cara pandang kita itu adalah sebuah seni yang kemudian menjadi tempat untuk mengaktualisasikan pikiran, rasa dan juga keinginan maka itu menjadi pengikat. Hal ini diperkuat menurut (Tillman . Toleransi merupakan sikap dan tindakan untuk saling menghargai. Toleransi disebut sebagai faktor esensi melalui pengertian bertujuan untuk terciptanya perdamaian dan kesetaraan. Artinya dalam cara pandang setiap individu ada proses untuk saling memahami interaksi manusia secara reaktivitas dalam kehidupan bermasyarakat maupun reorganisasional dalam melibatkan keragaman dalam suatu budaya dan menghindari terjadinya diskriminasi budaya,etnis dan agama yang bertujuan untuk menghapus prasangka. Menurut SU tari babukung sudah lama menjadi pengikat toleransi karena tari babukung ini menggambarkan sebuah rasa kesetiakawanan dan rasa kebersamaan yang bertujuan untuk menghibur keluarga yang berduka sambil menyerahkan bantuan. Tari babukung dilaksanakan pada malam . dan besok pada saat mengantarkan jenazah ketempat terakhir. Kita harus membedakan mana yang budaya dan mana yang Jadi kita jangan mempermasalahkan bahwa agama lain tidak boleh ikut padahal disana adalah budaya. Penari babukung juga bukan hanya dari agama hindu keharingan saja namun juga ada yang beragama Katolik. Kristen Protestan dan Islam. Dikatakan babukung sebagai pengikat toleransi Suku Dayak Tomun Arut dapat dilihat ketika orang yang meninggal tersebut memiliki sanak saudara yang berasal dari agama lain, maka semuanya akan membaur ketika berada ditengah-tengah masyarakat. Sehingga terciptalah paduan toleransi dalam budaya tersebut. Menurut Wibawa, . menjelaskan bahwa implementasi kebijakan berarti pelaksanaan dari suatu program atau Menurut KBBI sifat atau sikap toleran dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh. Hal ini mengingatkan dalam heterogenitas kerap kali adanya gesekan dan konflik antar budaya dan agama sehingga menumbulkan kondisi rawan dalam masyarakat sehingga ditinjau dari segi historis suatu budaya dalam masyarakat bahwa setiap orang berhak untuk mengikuti dan menjunjung PENGIKAT TOLERANSI SUKU DAYAK TOMUN ARUT nilai kebudayaan pada setiap daerahnya masing-masing. Oleh karena itu diperlukan adanya sikap toleransi pada masyarakat untuk memahami dan menanamkan sikap dan tindakan cara toleransi dalam kehidupan setiap individu. Menurut SS toleransi dalam tari babukung dapat di implementasikan karena tari babukung ini bertujuan untuk memberi dukungan, menghibur keluarga yang sedang berduka sembari menyerahkan bantuan sehingga terdapat nilai-nilai kebersamaan dengan agama lain sebagai pengikat dalam budaya ini. Budaya itu adalah sebuah kebiasaan disuatu wilayah sedangkan agama bersumber dari Tuhan. Budaya atau adat istiadat tidak menyatu dengan agama, agama punya aturan dan ajaran sendiri yang dibuat oleh Tuhan yang dijalankan oleh setiap penganut agama yang lain. Tari babukung ini identik dengan saudara kita yang masih menganut kepercayaan agama Hindu Keharingan. Namun ketika dilihat dari sudut pandang kesenian tari babukung ini terdapat keunikan, keindahan, keteraturan, kerapian yang bisa menyatu menjadi keragaman sehingga dapat difestivalkan menjadi budaya walaupun pada dasarnya tarian ini adalah tarian kematian sehingga diambil dari unsur seninya yang dipertunjukkan dan dinikmati oleh setiap orang. Tarian babukung ini memiliki batas-batasannya, orang lain hanya sekedar menonton, terlibat dalam tarian, menikmati tarian ini dalam acara tarian namun tidak mengikuti acara ritualritual kematiannya. Karena tari babukung pada acara kematian itu mengandung ritualritual yang sakral dan memiliki makna khusus pada saat kematian. Ketika acara tari babukung ini digelarkan maka akan terlihat mayarakat Arut Utara berkumpul sehingga tidak ada lagi pembedaan melainkan terbentuknya persaudaraan yang mengikat. Menurut KBBI toleransi merupakan batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih Penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja. Dalam hal ini tari babukung yang ada di Arut Utara menjadi sumber pengikat sebagai nilai-nilai toleransi yang ada di dalam masyarakat. Melalu hal inilah toleransi diutamakan sebagai semangat tegang rasa, menghargai dengan tindakan dan sikap saling menghormati antarperbedaan dengan sesama. Kemudian hal inilah yang mendorong berbagai kajian yang dapat membentuk dan menempatkan budaya sebagai sumber dan Dengan mengimplikasikan sikap dan tindakan terhadap budaya tari babukung yang ada di wilayah Arut Utara ini sebagai pembentukan dimensi moral, etika dan juga perilaku Perasaan percaya tersebut dapat menumbuhkan sifat diversivitas antar SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 49-57 masyarakat baik dalam lingkungan, agama,etnis dan budaya yang ada di tempat wilayah Arut Utara. KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi toleransi merupakan penerapan hubungan yang terlaksana dengan tindakan dan sikap yang saling menghargai satu dengan yang lain baik dalam kelompok maupun dalam masyarakat yang dapat menjadi ikatan persaudaraan bertujuan untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan baik dalam budaya, etnis dan agama. Tari babukung dapat dikatakan sebagai pengikat toleransi pada setiap agama yang ada di suku Dayak Tomun Arut karena tarian ini mengandung makna dan tujuan sebagai gambaran kesetiakawanan, sebuah rasa kebersamaan dan menghibur bagi keluarga yang berduka sembari memberikan bantuan. Dapat dilihat dengan kehadiaran masyarakat Arut Utara dan keikutsertaan para penari babukung yang bukan hanya agama Hindu keharingan saja namun juga keterlibatan dari agama lain yang menari dibalik topeng babukung. Babukung dengan berbagai keragaman terdapat keunikan dilihat dari sisi seninya keindahan, keteraturan, kerapian ketika ditarikan oleh para bukung maka itu menjadi menyatu akan keberagaman bukung-bukung yang lain. Sehingga diangkat menjadi Festival Budaya Tari Babukung sebagaimana tari dari leluhur suku Dayak Tomun Arut. Makna tarian ini akan berbeda jika ditarikan ketika ada orang yang meninggal, bukan lagi dipandang dari seni namun mengandung makna ritual keagamaan. Budaya leluhur inilah yang perlu dilestarikan. Penelitian ini ingin memperlihatkan bahwa melalui tari babukung yang ada di dalam suku Dayak Tomun Arut menghasilkan implementasi toleransi yang saling mengikat antara budaya yang sudah lama dengan agama-agama yang ada di suku Dayak Tomun Arut. Saran Bagi pemuka adat dikecamatan Arut Utara agar lebih meningkatkan dan memperhatikan budaya yang sudah melekat di Suku Dayak Tomun Arut agar semakin mengembangkan dan memperkenalkan tarian babukung ini kepada orang luar dari daerah Pangkut melalui media sosial. Kemudian memperkenalkan tarian ini kepada anak-anak muda asli Suku Dayak Tomun Arut dan melestarikannya dengan mendirikan sanggar tari. PENGIKAT TOLERANSI SUKU DAYAK TOMUN ARUT Bagi pemuka agama agar meningkatkan sikap dan tindakan toleransi di masyarakat kecamatan Arut Utara dengan meningkatkan kualitas sumber dari nilai-nilai yang diajarkan oleh agama maupun pengajaran etika dan moral ditengah masyarakat agar tetap terjalinnya sikap dan tindakan agar dijauhkan sikap diskriminasi dan terhindar terjadinya konflik. Bagi para masyarakat agar lebih menghargai dan menciptakan sikap toleransi antar sesama baik dalam budaya, etnis dan agama yang ada di kecamatan Arut Utara. Bagi anak muda asli suku Dayak Tomun Arut agar mencintai budaya dan menanamkan sikap toleransi antar sesama agar dapat meningkatkan menghargai bertujuan untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama ditengah anak muda masa kini dan masa depan. Bagi para peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan hasil artikel ini untuk bahan penelitian kedepannya. DAFTAR PUSTAKA