Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. No. 2 (Agustus 2. Habituasi Toleransi Beragama Santri Sebagai Jalan Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin Habituation of Santri Religious Tolerance as a Way of Da'wah Islam Rahmatan lil Alamin Putri Nadiyatul Firdausi Institut Agama Islam Syarifuddin. Lumajang. Indonesia putrinadiyatul@iaisyarifuddin. Abstract Indonesia is a pluralistic country consisting of diverse religions, cultures and customs. Under the motto Bhineka Tunggal Ika, people coexist in a variety of religions, customs and cultures. Creating social integration and fostering an attitude of religious tolerance in a country with high religious diversity is not an easy thing. Especially in pondok pesantren with homogeneous santri conditions have their own challenges in efforts to foster the attitude of religious tolerance of their santri. Santri need to be given the cultivation of tolerance for other groups as an important part of preaching Islam as a religion of rahmatan lil alamin. This study aims to analyze the practice of habituation of religious tolerance of santri as a way of preaching Islam rahmatan lil alamin. This research is a descriptive qualitative research with purposive sampling technique. In this study, researchers conducted interviews with several pengasuh pondok pesantren and santri to analyze the practice of religious tolerance habituation. The results showed that the habituation of religious tolerance in pondok pesantren was carried out through . nationality workshops, . religious tolerance workshops, . charity activities, . activities with cross-religious communities, . sharing food on certain occasions, . santri service activities to the community, and . sharing berkat, and . education through various lessons in the curriculum that has been determined by each pesantren. Both pengasuh and santri of the pesantren expect the Kementerian Agama Republik Indonesia to initiate socialization and training activities on the concept of religious tolerance and share good practices of religious tolerance habituation with santri so that pengasuh and santri get a full understanding of religious moderation, especially religious tolerance. Keywords: habituation, religious tolerance, pondok pesantren, santri Abstrak Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari beragam agama, budaya, dan adat istiadat. bawah semboyan Bhineka Tunggal Ika, masyarakat hidup berdampingan dalam beragam agama, adat istiadat, dan budaya. Menciptakan integrasi sosial dan menumbuhkan sikap toleransi bergama di negara dengan keragaman agama yang tinggi bukan hal yang mudah. Terlebih pada pondok pesantren dengan kondisi santri yang homogen memiliki tantangan tersendiri dalam upaya menumbuhkan sikap toleransi beragama santrinya. Santri perlu diberikan penanaman toleransi pada kelompok liyan sebagai bagian penting dari dakwah Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik habituasi toleransi beragama santri sebagai jalan dakwah islam rahmatan lil alamin. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan sample purposive sampling. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara kepada beberapa pengasuh pondok pesantren dan santri Habituasi Toleransi Beragama Santri Sebagai Jalan DakwahA: Putri Nadiyatul Firdausi . al 97-. pondok pesantren untuk menganalisis praktik habituasi toleransi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habituasi toleransi beragama di pondok pesantren dilakukan melalui . sarasehan kebangsaan, . workshop toleransi beragama, . kegiatan santunan, . kegiatan dengan lintas komunitas agama, . berbagi makanan pada acara-acara tertentu, . kegiatan pengabdian santri kepada masyarakat, dan . berbagi berkat, dan . edukasi melalui beragam pelajaran pada kurikulum yang telah ditetapkan masing-masing pesantren. Baik pengasuh maupun santri pondok pesantren mengharapkan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menginisiasi kegiatan sosialisasi dan pelatihan konsep toleransi beragama serta berbagi praktik baik habituasi toleransi beragama pada santri sehingga pengasuh dan santri mendapatkan pemahaman yang utuh tentang moderasi beragama, khususnya toleransi beragama. Kata kunci: habituasi, toleransi beragama, pondok pesantren, santri Pendahuluan Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari beragam agama, budaya, dan adat istiadat. Di bawah semboyan Bhineka Tunggal Ika, masyarakat hidup berdampingan dalam beragam agama, adat istiadat, dan budaya. Hal ini di satu sisi membuat Indonesia memiliki khazanah budaya yang kaya. Namun pada satu kondisi, pluralitas dapat menjadi pemicu terjadinya konflik. Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian, retaknya hubungan antarumat beragama masih menjadi masalah yang butuh dicari penyelesaiannya. Retaknya hubungan antarpemeluk agama di Indonesia saat ini dilatarbelakangi oleh 2 hal. Pertama, populisme agama yang dihadirkan ke ruang publik yang dibumbui dengan nada kebencian terhadap pemeluk agama, ras, dan suku tertentu. Kedua, politik sektarian yang sengaja menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk menjustifikasi atas kebenaran manuver politik tertentu sehingga menggiring masyarakat ke arah konservatisme radikal secara pemikiran. Prejudice tentang kelompok liyan menjadi sangat kental sehingga konflik baik laten maupun manifes menjadi sulit dibendung (Kemenag, 2. Menciptakan integrasi sosial dan menumbuhkan sikap toleransi beragama di negara dengan keragaman agama yang tinggi memang bukan hal yang mudah. Terlebih di Indonesia terdapat 6 agama dan tidak kurang dari 187 penghayat kepercayaan. Pemerintah melalui Kementerian Agama kemudian mencoba membuka jalan membangun sikap toleransi beragama melalui konsep moderasi beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berdasarkan prindip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa (Kemenag, 2. Moderasi beragama diharapkan dapat menjadi jalan tengah dalam keberagaman agama di Indonesia. Terdapat banyak cara untuk mewujudkan moderasi beragama yang diinisasi oleh Kemenag. Salah satunya dengan membuka ruang yang luas untuk pertemuan antar kelompok Membuka ruang untuk bertemu, berkenalan, dan berdialog akan membantu menghilangkan prejudice yang ada di dalam diri masing-masing kelompok agama. Sebab prejudice dimungkinkan muncul karena ketidaktahuan individu atau kelompok masyarakat terhadap aktivitas, ideologi, maksud dan tujuan dari kelompok liyan. Pertemuan menjadi salah satu jalan yang memungkinkan tumbuhnya sikap toleransi beragama. Namun demikian, membuka ruang pertemuan dan perkenalan menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok yang tinggal di lingkungan homogen seperti pondok pesantren. Meskipun santri datang dari berbagai daerah dengan beragam suku, adat, cara, kebiasaan, yang juga dapat dijadikan lapangan praktik pembelajaran toleransi, namun mereka masih berada pada satu ajaran agama yang sama. Pondok pesantren memiliki kelemahan dalam hal implementasi mewujudkan tasamuh sosial khususnya dengan kelompok liyan. Beberapa Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. No. 2 (Agustus 2. kelemahan yang terlihat adalah . kebanyakan pesantren yang tidak memiliki gerakan khusus yang peduli dengan isu kerukunan antar umat beragama, . lemahnya manajemen sumber daya manusia, terutama dalam menyiapkan kader-kader yang terlibat dalam kegiatan (Rahman, 2. Pondok pesantren pada dasarnya memiliki peluang untuk mewujudkan tasamuh Beberapa peluang yang dapat dijadikan modal untuk mewujudkan tasamuh sosial, yaitu . keterbukaan ruang publik di dunia nyata dan di dunia maya yang bisa digunakan sebagai menununjukkan corak islam islam rahmatan lil alamin, . keberadaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang tersedia secara luas dan terjangkau yang dapat digunakan sebagai media syiAoar islam rahmatan lil alami (Rahman, 2. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) berusaha mengupayakan hal itu dengan membangun rumah moderasi beragama. PTKI baik negeri maupun swasta diminta untuk membangun rumah moderasi beragama. Rumah moderasi beragama adalah lembaga pelaksana penyelenggara penguatan moderasi beragama di lingkungan PTKI. Rumah moderasi beragama di PTKI diminta untuk menjalankan fungsi pendidikan dan pelatihan. penelitian, dan publikasi. serta advokasi dan pendampingan masyarakat dalam upaya mewujudkan moderasi beragama. Penelitian ini bermaksud melakukan analisis praktik habituasi yang dilakukan oleh pondok pesantren di Indonesia. Jika PTKI telah memiliki rumah moderasi beragama sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan sikap toleransi beragama, maka menjadi menarik untuk mengetahui strategi yang dilakukan oleh pondok pesantren untuk tujuan yang sama. Bagaimanapun, praktik toleransi beragama adalah sebuah kebutuhan bagi pondok pesantren sebagai agen dakwah islam rahmatan lil alamin. Metode Penelitian Penelitian mengenai Habituasi Toleransi Beragama di Pondok Pesantren dilakukan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dimulai dengan asumsi dan penggunaan kerangka penafsiran/teoretis yang membentuk atau memengaruhi studi tentang permasalahan riset yang terkait dengan makna yang dikenakan oleh individu atau kelompok pada suatu permasalahan sosial atau manusia (Creswell & Creswell, 2. Penelitian ini mencoba menggali data melalui wawancara informan pada beberapa pondok pesantren yang memiliki perhatian khusus terhadap isu moderasi beragama. Informan dalam penelitian ini ditentukan dengan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara terhadap 28 pengasuh dari 21 pondok pesantren dan 26 santri pondok pesantren. Dengan data yang beragam, peneliti sekaligus melakukan analisis komparasi terkait praktik habituasi toleransi beragama pada beberapa pesantren sehingga dapat dilakukan analisis sejauh mana pondok pesantren di Indonesia mengimplementasikan penanaman toleransi beragama di pondok pesantren sebagai jalan dakwah islam rahmatan lil alamin. Pemahaman Toleransi Beragama Merujuk tesaurus Bahasa Indonesia . , toleransi memiliki padanan kata sifat dengan sederajat, sama, setara, pengertian, tasamuh, tenggang rasa. Toleransi juga memiliki arti sifat atau sikap toleran. batas ukur untuk penambahan dan pengurangan yang masih diperbolehkan. penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kinerja (KBBI, 2. Berikut diuraikan pemaknaan toleransi beragama pada pengasuh dan santri di berbagai pondok pesantren. Habituasi Toleransi Beragama Santri Sebagai Jalan DakwahA: Putri Nadiyatul Firdausi . al 97-. Makna toleransi beragama menurut pengasuh pondok pesantren Pengasuh pondok pesantren memiliki pemaknaan yang beragam dan luas tentang dimensi toleransi beragama. Penekanan makna toleransi antara 1 pengasuh dengan lainnya berbedabeda menurut pemahaman yang diyakini. Berikut disajikan word cloud makna toleransi beragama menurut pengasuh di berbagai pondok pesantren. Gambar 1. Word cloud makna toleransi beragama menurut pengasuh pondok pesantren Pada word cloud di atas, kata paling dominan adalah kata agama, diikuti oleh kata saling, menghormati, menghargai, lain, keyakinan, dan perbedaan. Toleransi beragama dimaknai oleh pengasuh pondok pesantren sebagai upaya menghargai, menghormati perbedaan agama dan Toleransi beragama dimaknai sebagai sikap saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama satu dengan yang lain. (Jauhariyyah, 2. Pemahaman toleransi beragama ini merupakan pemahaman yang dominan diungkapkan oleh informan. Keseluruhan informan menyatakan bahwa toleransi beragama adalah soal menghormati dan menghargai keyakinan masing-masing masyarakat penganut agama. Toleransi bukan berarti harus setuju atau membenarkan agama orang lain, akan tetapi lebih kepada sikap menghormati perbedaan dan menghindari sikap yang bisa merugikan (Ulya, 2. Toleransi beragama juga dimaknai sebagai sikap menerima kebenaran di luar kebenaran agama sendiri (Rahman. Wawancara Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Tauhid. Lumajang, 2. Makna toleransi beragama menurut santri pondok pesantren Pada word cloud santri di bawah terlihat bahwa kata paling dominan pada makna toleransi beragama adalah kata saling, menghormati, menghargai, agama. Sedikit berbeda dengan kata paling dominan pada word cloud pengasuh yaitu kata AuagamaAy, ditemukan pada word cloud santri kata yang paling dominan adalah kata AusalingAy. Hal ini menunjukkan perbedaan penekanan makna toleransi pada kalangan pengasuh dan santri. Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. No. 2 (Agustus 2. Gambar 2. Word cloud makna toleransi beragama menurut santri pondok pesantren Pada pengasuh, makna toleransi lebih direct mengarah kepada agama, sedangkan pada santri, makna toleransi ditekankan pada kesalingan. Kesalingan menghormati dan menghargai antar semua umat beragama. Toleransi beragama dimaknai sebagai tindakan saling menghargai satu sama lain antar umat beragama (Fitriya, 2. Masih berfokus pada kata saling, toleransi beragama dimaknai oleh santri sebagai sikap saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama yang berbeda, yang berarti menerima perbedaan keyakinan, tradisi, dan praktik keagamaan tanpa adanya diskriminasi, paksaan, atau penghinaan (Amaradien, 2. Pada pemaknaan ini, penekanan pada hak beribadah dan menjalankan keyakinan masing-masing mendapatkan porsi yang besar. Disampaikan oleh informan bahwa toleransi beragama adalah sikap saling menghormati dan menghargai keyakinan agama orang lain, meskipun berbeda dari keyakinan pribadi kita. Secara formal, ini berarti mengakui hak setiap individu untuk memilih dan menjalankan agama mereka tanpa menghadapi diskriminasi, penekanan, atau kekerasan (Nadhifa, 2. Toleransi tidak hanya diharapkan menjadi sikap saling menghargai atau menghormati, namun juga bagaimana masyarakat dapat saling menjaga memeluk tali persaudaraan antar beda agama (Rohmatillah. Habituasi Toleransi Beragama di Pondok Pesantren Upaya habituasi toleransi beragama di pondok pesantren dilakukan dengan beragam Masing-masing pondok pesantren memiliki strategi yang unik menyesuaikan dengan lingkungan pesantren. Peneliti mewawancarai sejumlah 21 pondok pesantren yang ada di daerah tapal kuda Jawa Timur seperti Kabupaten Lumajang. Kabupaten Jember. Kabupaten Probolinggo, dan juga beberapa daerah lain seperti Kota Kediri. Kota Malang. Kabupaten Malang. Kabupaten Pasuruan. Kota Karawang, dan Kota Gajah. Lampung. Masing-masing memiliki caranya untuk melakukan habituasi toleransi beragama. Bagaimanapun, pondok pesantren memiliki kekuatan dan potensi untuk mengembangkan habituasi toleransi beragama sebagai jalan dakwah islam rahmatan lil alamin. Setidaknya menurut Rahman . , pesantren memiliki 4 kekuatan yang berpotensi menjadi agen dakwah islam rahmatan lil alamin. Beberapa kekuatan tersebut yaitu . eksistensi pesantren tidak hanya sebagai tempat tafaqquh fiddin, tetapi juga sebagai lembaga dakwah yang memberikan informasi keagamaan dari Autangan pertamaAy, . Kekuatan kedua dari pesantren ini adalah latar belakang budaya latar belakang Habituasi Toleransi Beragama Santri Sebagai Jalan DakwahA: Putri Nadiyatul Firdausi . al 97-. budaya para santrinya. Sebagaimana diketahui, pesantren adalah lembaga pesantren adalah lembaga yang terbuka bagi siapa saja untuk belajar, tanpa memandang latar belakang yang Kehidupan santri yang majemuk ini tentu saja berimplikasi positif berimplikasi positif terhadap banyak hal, dan yang paling utama adalah tingginya kemampuan para santri untuk mempertahankan eksistensi mereka di tengah keberagaman, . Kekuatan ketiga dari pesantren adalah kekuatan intelektual yang dibangun dengan semangat tafaqquh fiddin, keterbukaan pikiran, inklusi, dan tidak fanatik buta, . kapital sosial Berikut disajikan habituasi toleransi beragama di berbagai pondok pesantren: Sarasehan Kebangsaan Pondok Pesantren Darul Muqomah. Jember, secara rutin menyelenggarakan kegiatan sarasehan kebangsaan bekerjasama dengan SMA Katolik Jember. Program ini mengajak santri dan siswa SMA Katolik Jember mempelajari bersama-sama sejarah pembangunan Candi Deres yang berlokasi di dekat pesantren. Selain sarasehan kebangsaan yang membangun toleransi beragama sekaligus memupuk semangat kebangsaan. Pondok Pesantren Darul Muqomah juga melakukan kegiatan menanam mangrove bersama siswasiswi SMA Katolik Jember. Selain kegiatan praktik di lapang langsung bersentuhan dengan kelompok liyan. Pondok Pesantren Darul Muqomah juga melakukan pendampingan kepada santri untuk meningkatkan pemahaman moderasi beragama melalui kegiatan membaca di perpustakaan (Ghulam, 2. Workshop toleransi beragama Pondok pesantren Raudlatur Rochmaniyah. Lumajang bekerja sama dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk menyelenggarakan workshop toleransi beragame kepada santri untuk memberikan edukasi kepada santri makna dan implementasi toleransi beragama (Muyassaroh, 2. Hal ini merupakan langkah yang cukup progresif. Pondok pesantren menjemput bola dengan mengundang pakar . alam hal ini Rumah Moderasi PTKI) untuk membantu pondok pesantren mengenalkan moderasi beragama kepada seluruh warga pondok pesantren. Kegiatan santunan Rasa empati pada seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat latar belakang suku, agama, pendidikan, dapat dipupuk dengan kegiatan santunan. Dengan semangat yang sama yaitu membantu saudara yang kekurangan. Pondok Pesantren Manbaul Ulum Kabupaten Malang melakukan kegiatan santunan yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap tumbuhnya sikap toleransi beragama (Saidah, 2. Kegiatan bersama masyarakat lintas komunitas dan lintas profesi Selain melakukan kegiatan santunan. Pondok Pesantren Manbaul Ulum Kabupaten Malang juga secara intensif melakukan kegiatan bersama masyarakat lintas komunitas dan Seperti diketahui bahwa bersinggungan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang juga merupakan salah satu jalan menumbuhkan sikap toleransi beragama. Dengan bertemu, berkenalan, dan berbaur dengan masyarakat yang heterogen, sikap toleransi dan luwes dapat tumbuh (Askandar, 2. Kegiatan halal bi halal / kupatan makan bareng, berbagi daging qurban Pondok pesantren Al Amien Kota Kediri memiliki kegiatan yang dapat dikatakan paling intensif dibandingkan pondok pesantren lain. Pondok Pesantren Al Amien memiliki kegiatan rutin yang telah bertahun-tahun dilakukan, yaitu mengundang pada acara buka bersama, halal bi halal/ kupatan makan bareng, dan berbagi daging qurban kepada kelompok liyan (Anwar, 2. Hal ini memberi pengalaman kepada santri untuk bersinggungan langsung dengan kelompok liyan. Kegiatan pertemuan ini sedikit banyak dapat menghilangkan prejudice terhadap liyan pada santri-santri yang sebelumnya mungkin memiliki cara pandang yang kurang tepat terhadap kolompok liyan. Pertemuan ini sekaligus juga meningkatkan keyakinan kepada santri-santri yang telah memiliki cara Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. No. 2 (Agustus 2. pandang yang lebih luwes dan toleran sebelumnya. Santri semakin yakin bahwa komunitas agama lain adalah realitas yang hidup secara nyata bersama kita. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat Pondok pesantren Darusy Syafaah Kotagajah Lampung memiliki program pengabdian santri kepada masyarakat. Setiap bulan Agustus . elama satu bulan atau lebi. santri hidup bersama masyarakat yang majemuk agamanya (Akbar, 2. Kegiatan ini juga terbilang sangat progresif. Santri diberikan kesempatan langsung untuk belajar hidup berdampingan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang agama, pendidikan, suku. Mengingat Lampung adalah daerah dengan sejarah jumlah transimgran yang cukup banyak. Berbagi berkat Meskipun tidak melaksanakan kegiatan bersama komunitas agama lain seperti yang dilakukan Pondok Pesantren Al Amien Kediri. Pondok Pesantren Khaira Ummah Kota Malang memupuk toleransi beragama dan saling mengasihi dengan selalu berbagi berkat . akanan yang dibawa pulang pada acara-acara keagamaan Isla. (Ulya, 2. Diketahui bahwa Pondok Pesantren Khaira Ummah berada di kelurahan Tlogomas dengan jumlah pendatang mahasiswa Timur yang cukup banyak. Habituasi berbagi berkat pada setiap acara selain menjadi habituasi toleransi beragama, juga sekaligus dapat menjadi syiAoar untuk alasan . kelompok liyan menjadi tahu hari-hari besar agama Islam, . kelompok liyan menjadi paham bahwa agama Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai kedermawanan melalui berbagi. Edukasi melalui mata pelajaran yang relevan Habituasi melalui edukasi adalah strategi yang paling banyak dilakukan oleh pondok Pembelajaran multi kultural Pembelajaran multi kultural mengajarkan santri tentang berbagai agama dan kepercayaan lain dalam konteks sejarah, budaya, dan etika. Ini sering dilakukan melalui kajian-kajian atau diskusi yang mempromosikan pemahaman dan penghormatan terhadap perbedaan (Istiqomah. Wawancara Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Al Maliki 2. Lumajang, 2. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al Maliki 2, pembelajaran multi kultural menjadi hal yang esesnsial dan utama dalam membangun toleransi beragama di pondok pesantren. Pembelajaran pada mata pelajaran akhlaq Pembelajaran akhlaq diberikan kepada santri di Pondok Pesantrean Asshidiqiyah. Karawang. Pelajaran akhlaq diharapkan dapat membantu memberi arahan dan rambu-rambu kepada santri tentang cara bersikap dan berperilaku, termasuk kepada kelompok liyan (Istiqomah. Wawancara Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah. Karawang, 2. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Salah satu pelajaran di pendidikan formal . ermasuk pesantre. yang dapat menjadi jalan untuk mengajarkan toleransi beragama adalah pelajaran Pendidikan Agama Islam (Eldarain, 2. Pondok Pesantren Al Fatah. Lumajang memberikan materi toleransi beragama pada seluruh santri melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Pembelajaran Aswaja Pondok Pesantren Mojosari. Nganjuk dan Pondok Pesantren An Nur El Aly. Lumajang mengenalkan konsep toleransi melalui pembelajaran Aswaja. pesantren kami ada pengajaran Aswaja. Pelajaran tersebut cukup memberikan dampak positif yang signifikan untuk membuka cakrawala santri. (Zahro, 2. Dengan mengenalkan dan mendidik santriwan/santriwati tentang moderasi Habituasi Toleransi Beragama Santri Sebagai Jalan DakwahA: Putri Nadiyatul Firdausi . al 97-. beragama dan memasukkan mata pelajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah ke dalam kurikulum (Lubis, 2. Pembelajaran Al QurAoan Pondok pesantren Sullamul Hidayah. Probolinggo mengenalkan konsep toleransi beragama melalui pembelajaran Al QurAoan (Farid, 2. Dengan nilai-nilai moderasi beragama dan toleransi yang tercantum di QurAoan, diharapkan santri dapat termotivasi dan tumbuh sikap toleransi beragamanya. Pembelajaran Sejarah Rasulullah Pondok pesantren Syarifuddin. Lumajang berusaha menumbuhkan habituasi toleransi beragama dengan menyampaikan pembelajaran sejarah dan kisah rasulullah yang ramah dan hangat terhadap komunitas agama lain (Burhanudin. Hal serupa juga dilakukan oleh pondok pesantren Fatihul Ulum. Jember yang mengaji kitab-kitab sejarah nabi, bagaimana nabi bermuamalah dengan kelompok liyan, mengajarkan sejarah bangsa, bagaimana ulama berjuang mempertahankan kesatuan dalam kemajemukan dan keberagaman, juga mengaji kitab-kitab yang menumbuhkan semangat nasionalisme seperti Idzotun Nasyiin, melakukan kegiatan-kegiatan amal untuk korban bencana tanpa memandang agama, memberikan pembinaan karakter leadership bahwa pemimpin harus bisa mengayomi semua kalangan termasuk mereka yg berbeda agama (Munawwaroh. Pembelajaran Sejarah Sumber agama Islam dan Agama Lain Pondok Pesantren Ad Diniyah. Pamekasan memilih mengajarkan sejarah agama Islam dan agama lain agar santri memahami sejarah agama dengan benar dan harapannya dengan belajar sejarah diiringi penanaman nilai tasamuh, santri dapat tumbuh sikap toleransinya (Imam, 2. Kegiatan ekstrakulikuler pesantren Pondok pesantren Raudhatul Ummah. Kota Batu memberikan porsi edukasi toleransi beragama pada kegiatan ekstrakulikuler pesantren (Kusumawaty, 2. Berdasarkan data di atas, dapat diperoleh informasi bahwa setiap pondok pesantren memiliki upaya untuk menumbuhkan sikap toleransi beragama sebagaimana semangat Kementerian Agama Republik Indonesia menggaungkan konsep moderasi beragama di tengah masih banyaknya konflik yang disebabkan oleh perbedaan agama di Indonesia. Dengan beragam upaya yang dilakukan pondok pesantren, harapan menuju integrasi sosial di masryarakat menjadi semakin mungkin untuk tercapai. Meskipun pada beberapa hal, kegiatan dalam rangka menumbuhkan toleransi beragama di pondok pesantren masih terlihat kurang intensif . idak Harapan untuk Habituasi Toleransi Beragama yang Lebih Baik Konsep moderasi beragama dengan toleransi beragama sebagai salah satu strateginya bukan merupakan hal baru. Namun demikian hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pondok pesantren karena lingkungan pondok pesantren yang cenderung homogen. Berikut adalah harapan santri dan pengasuh pondok pesantren kepada Kementerian Keagamaan: Harapan Pengasuh Pondok Pesantren untuk Habituasi Toleransi Beragama yang Lebih Baik Dengan ragam upaya yang telah dilakukan pondok pesantren untuk melakukan habituasi toleransi beragama, masih banyak ditemui kendala dan halangan. Berikut adalah saran dan harapan pondok pesantren kepada Kementerian Agama Republik Indonesia untuk praktik habituasi toleransi beragama yang lebih baik: Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. No. 2 (Agustus 2. Membuat iklan layanan masyarakat semenarik mungkin dan atau dengan membuat game toleransi beragama agar dapat diakses dengan cara yang menyenangkan (Muyassaroh, 2. Seperti kita diketahui game memiliki aksesibilitas yang cukup tinggi, terlebih pada generasi z sehingga memperkenalkan konsep toleransi beragama melalui game akan menambah efektivitas sekaligus menjadi tools yang memudahkan pendidik. Mengadakan kegiatan ilmiah dalam konteks moderasi beragama secara berkala di pesantren dan meningkatkan anggaran untuk kegiatan tersebut (Askandar, 2. Harapan ini bukan tidak beralasan. Kementerian Agama menggaungkan moderasi beragama dengan toleransi beragama sebagai prosesnya kepada pendidikan formal dan pondok pesantren. Maka sudah sepatutnya gaung ini diikuti oleh kegiatan ilmiah yang dilaksanakan secara berkala. Kegiatan pembahasan moderasi beragama di pesantrenpesantren dengan demikian akan menumbuhkan pemahaman yang utuh tentang moderasi beragama, dan pada akhirnya toleransi beragama dapat tumbuh dalam diri santri. Menguatkan forum kerukunan beragama (Muzakki, 2. Membentuk forum kerukunan beragama adalah hal tindakan yang progresif, namun demikian dalam rangka membumikan konsep dan sikap toleransi beragama menurut Muzakki . diperlukan penguatan pada FKUB. Seluruh elemen di FKUB perlu memiliki visi yang sama menuju cita-cita moderasi Terus menggaungkan melalui berbagai aktivitas riil dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebersamaan (Askandar, 2. Selain melakukan sosialisasi di lembagalembaga formal dan pondok pesantren, konsep toleransi beragama dan moderasi beragama sebagai hasilnya sudah seharusnya dikenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan-kegiatan lintas agama. Saran ini sangat krusial mengingat masih banyaknya konflik antar agama yang terjadi hingga hari ini. Memfasilitasi dalam kegiatan moderasi beragama (Mustaqim, 2. Senada dengan yang disampaikan oleh Askandar . Mustaqim . berpendapat bahwa Kementerian Agama perlu melakukan inisiasi dan fasilitasi kegiatan moderasi beragama secara masif di pondok pesantren-pondok pesantren. Penyebaran pemahaman hingga ke akar rumput adalah strategi utama yang wajib dilakukan untuk mempercepat tujuan moderasi beragama. Pelatihan toleransi beragama penting dilakukan untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang toleransi beragama pada khususnya dan moderasi beragama pada umumnya (Haq. Selain menyebarkan pemahaman toleransi beragama, melakukan forum dialog praktik baik di setiap lembaga juga strategi lain yang penting (Ibad, 2. Menurut Ibad . , kegiatan berbagi praktik baik ini akan membantu memberikan inspirasi kepada pondok pesantren lain untuk turut menerapkan habituasi toleransi beragama. Dengan banyaknya inspirasi yang didapat dari berbagi praktik baik ini, diharapkan akan lebih banyak pondok pesantren yang melakukan habituasi toleransi beragama. Mengayomi sesuai undang-undang yang berlaku (Rahman A. , 2. Kementerian Agama Republik Indonesia diharapkan dapat memberikan pengayoman yang sesuai dan sama rata sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku sehingga tidak berpotensi memunculkan kecemburuan sosial, meningkatkan integrasi sosial, dan pada akhirnya harmoni antar pemeluk agama dapat tercipta. Memperkuat koordinasi antar pemuka umat beragama (Alkholid, 2. Senada dengan yang disampaikan oleh Muzakki . , menurut Alkholid . perlu dilakukan penguatan koordinasi antar pemuka umat beragama, terutama pada daerah-daerah yang memiliki potensi konflik yang tinggi. Dengan melakukan koordinasi yang baik, kegiatan-kegiatan lintas agama dapat dengan mudah dilakukan. Selain itu, koordinasi yang baik antar pemuka agama akan AodibacaAo sebagai keharmonisan beragama oleh masyarakat. Maka penguatan koordinasi adalah strategi yang cukup penting untuk mencapai cita-cita moderasi beragama. Habituasi Toleransi Beragama Santri Sebagai Jalan DakwahA: Putri Nadiyatul Firdausi . al 97-. Pengawasan terhadap ujaran kebencian tentang keyakinan beragama (Farid, 2. Tidak dapat dipungkiri bahwa ujaran kebencian tentang keyakinan beragama masih menjadi masalah pelik hingga saat ini. Untuk alasan ini pulalah diinisiasi konsep moderasi beragama. Maka sudah sepatutnya pengawasan terhadap ujaran kebencian keyakinan beragama diperketat dan ditentukan batas-batasnya agar masyarakat lebih berhati-hati dan dapat memilah dengan bijak statement yang perlu atau tidak perlu disampaikan atau diucapkan. Turut memantau masyarakat setiap kegiatan yang dilakukan oleh lembaga dan mendukung program-program yang ada di lembaga (Anwar, 2. Dukungan terhadap kegiatan-kegiatan yang membuka jalan dakwah islam sebagai agama rahmatan lil alamin dengan mengedepankan toleransi beragama tentu menjadi booster yang berharga bagi pondok pesantren. Pesantrenpesantren yang telah melakukan praktik habituasi toleransi beragama tidak hanya pada tataran teori, namun juga praktik, perlu mendapatkan dukungan dan apresiasi. Dengan dijadikan narasumber berbagi praktik baik, misalnya. Kegiatan ini selain menambah prestise pesantren, juga sekaligus berkontribusi memberikan inspirasi praktik habituasi toleransi beragama pada pondok pesantren-pondok pesantren lainnya. Memberi kesempatan kepada kader-kader pondok pesantren untuk mengikuti kegiatan lintas komunitas agama tanpa mengganggu aqidah kepercayaan masing-masing agama (Jumaidah. Senada dengan yang disampaikan oleh Askandar . , kegiatan terjun langsung berbaur dengan masyarakat lintas agama dapat menjadi cara yang efektif untuk memberi pembelajaran dan pengalaman secara langsung tentang hidup bersama liyan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Rahman . yang menyatakan bahwa kebanyakan pesantren yang tidak memiliki gerakan khusus yang peduli dengan isu kerukunan antar umat beragama, . lemahnya manajemen sumber daya manusia, terutama dalam menyiapkan kader-kader yang terlibat dalam kegiatan (Rahman F. Analysing the Potential of Pesantren as an Agent of Inter-Religious Harmony, 2. Memperbanyak kegiatan hidup bersama yang berbeda (Rahman F. Wawancara Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Tauhid. Lumajang, 2. Hal ini telah dilakukan oleh santri pondok pesantren Darusy SyafaAoah. Lampung, dan menurt penuturan pengasuh pondok pesantren Darusy Syaoah. Lampung. Ali . , kegiatan ini membantu memberi gambaran santri tentang bagaimana harus bersikap dan berlaku di masyarakat yang majemuk. Sehingga strategi ini menjadi salah satu strategi jitu untuk menumbuhkan toleransi beragama pada Menerapkan moderasi beragama tidak hanya pada golongan mayoritas, namun juga minoritas (Anadza, 2. Memberi respon cepat dan tindakan tegas pada isu-isu sensitif seputar agama, karena bisa dijadikan acuan bagaimana umat mengambil sikap. Akhir-akhir ini banyak berita yg mengindikasi bahwa moderasi beragama hanya diberlakukan keras kepada kaum mayoritas bagaimana mereka menghargai minoritas, namun tidak sebaliknya. Sikap rohmah kepada minoritas juga harus diikuti dengan sikap tawqir kepada mayoritas. Tidak boleh timpang sebelah (Munawwaroh, 2. Terdapat perbedaan harapan pada 2 informan terakhir. Keduanya memberi penekanan pada perlunya penerapan moderasi beragama tidak hanya pada golongan mayoritas, namun juga kelompok minoritas agar toleransi beragama dapat mewujudkan kesalingan sebagaimana makna toleransi yang diungkapkan oleh santri. Kementerian Agama Republik Indonesia dengan demikian perlu melakukan kerja lebih keras untuk melakukan sosialisasi konsep moderasi beragama pada semua komunitas agama dengan intensitas yang kurang lebih sama agar tercipta Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. No. 2 (Agustus 2. Harapan Santri untuk Habituasi Toleransi Beragama yang Lebih Baik Sebagai subyek yang diharapkan habituasi toleransi beragamanya tumbuh, santri-santri pondok pesantren memiliki harapan sebagai berikut: Mengembangkan model pendidikan berbasis pengembangan materi sehingga pondok pesantren lebih banyak dikenal dengan toleransi keagamaannya (Fitriya, 2. Santri mengharapkan untuk diberikan pembelajaran yang secara langsung dapat meningkatkan pemahaman santri tentang toleransi beragama. Mengadakan program/kegiatan yang memerlukan interaksi dengan umat beragama lain agar santri bisa menerapkan pembelajaran tentang toleransi secara langsung (Ummah, 2. Tidak hanya pada tataran teori, santri mengharapkan diberikan ladang praktik habituasi toleransi beragama agar dapat mendapatkan pembelajaran sekaligus pengalaman bersinggungan dengan liyan sehingga ketika sudah tidak di pesantren, santri dapat menjalani kehidupan sebagai masyarakat dengan baik dan terutama memiliki sikap toleran. Melakukan kunjungan studi ke tempat-tempat wisata agama lain atau lembaga-lembaga yang mempromosikan toleransi (Amaradien, 2. Dengan melakukan kunjungan studi ke tempat-tempat wisata agama lain, santri akan mendapatkan gambaran kehidupan beragama yang lain sehingga prejudice . ika ad. pada santri tentang kehidupan umat agama lain dapat hilang berganti dengan sikap toleransi dan menyadari bahwa kehidupan agama lain adalah sebuah realita yang dekat dengan kehidupan kita. Penggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan positif tentang toleransi dan membangun jaringan dengan pondok pesantren lain (Amaradien, 2. Penyebaran pesanpesan toleransi menurut Amaradien . penting juga pada berbagai platofm media sosial mengingat sebagian besar masyarakat hari ini sangat dekat dengan media sosial. Hal ini disampaikan juga pada penelitian Rahman . bahwa pondok pesantren memiliki peluang untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian. Beberapa peluang yang dapat dijadikan modal untuk mewujudkan tasamuh sosial, yaitu . keterbukaan ruang publik di dunia nyata dan di dunia maya yang bisa digunakan sebagai menununjukkan corak islam islam rahmatan lil alamin, . keberadaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang tersedia secara luas dan terjangkau yang dapat digunakan sebagai media syiAoar islam rahmatan lil alamin (Rahman . Analysing the Potential of Pesantren as an Agent of Inter-Religious Harmony, 2. Menjalin kerjasama dengan masyarakat sekitar untuk mengadakan kegiatan bersama yang mempromosikan toleransi (Amaradien, 2. Pondok pesantren juga diharapkan santri dapat bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk menginisiasi kegiatan bersama yang mengandung nilai-nilai toleransi. Dengan pelibatan masyarakat maka edukasi nilai-nilai toleransi tidak hanya diterima oleh santri namun secara lebih luas dapat diterima oleh Mengimplementasikan program-program khusus seperti diskusi lintas agama, kunjungan ke komunitas beragama lain dan menyelenggarakan kegiatan yang mendorong santri untuk berinteraksi dan memahami keyakinan berbeda secara langsung dapat mendalami pengalaman mereka dan memperkuat sikap toleransi (Nadhifa, 2. Menyelenggarakan seminar tentang toleransi beragama agar kita para santri dapat lebih mengetahui lagi tentang bagaimana mempraktikkan toleransi beragama di lingkungan sekitar (Husna, 2. Data di atas memperlihatkan kesadaran santri tentang pentingnya toleransi beragama, juga pentingnya kegiatan/aktivitas pertemuan dengan kelompok liyan untuk menghapuskan prejudice dan kemudian menumbuhkan toleransi beragama. Kesimpulan Toleransi beragama merupakan sikap yang perlu dibangun di negara dengan tingkat Habituasi Toleransi Beragama Santri Sebagai Jalan DakwahA: Putri Nadiyatul Firdausi . al 97-. kemajemukan yang tinggi seperti Indonesia. Dengan toleransi beragama, integrasi sosial dapat Terlebih pada pondok pesantren, sikap toleransi merupakan jalan dakwah islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Pengenalan dan penanaman sikap toleransi beragama telah banyak dilakukan di lembaga pendidikan. Namun demikian, penanaman t pada pondok pesantren menjadi persoalan tersendiri, mengingat lingkungan pesantren yang homogen. Upaya yang dilakukan pondok pesantren dalam rangka habituasi tasamuh di pondok pesantren antara lain sarasehan kebangsaan, workshop toleransi beragama, kegiatan santunan, kegiatan dengan lintas komunitas agama, berbagi makanan pada acara-acara tertentu, kegiatan pengabdian santri kepada masyarakat, dan edukasi melalui beragam pelajaran pada kurikulum yang telah ditetapkan masing-masing pesantren. Baik pengasuh maupun santri pondok pesantren mengharapkan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menginisiasi kegiatan sosialisasi dan pelatihan konsep toleransi beragama serta berbagi praktik baik habituasi toleransi beragama pada santri sehingga pengasuh dan santri mendapatkan pemahaman yang utuh tentang moderasi beragama, khususnya toleransi beragama. Daftar Pustaka