Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. June 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Implementasi Teori Humanistik Carl Rogers dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa MTsN 1 Lebong Meza Tiara1. Asri Hajar Dewanti2. Debi Irama3. Hendra Harmi4. Mirzon Daheri5 IAIN Curup Bengkulu mezatiara09@gmail. asrihajardewantisubur@gmail. debiirama95@gmail. harmi@iaincurup. mirzondaheri@iaincurup. Abstract The application of humanistic theory in learning has proven effective in increasing students' selfconfidence and involvement. This theory emphasizes understanding, empathy and respect for students' individual needs, thereby creating a comfortable learning atmosphere and encouraging students' courage to express opinions and participate actively. In addition, this approach has a positive impact on students' critical thinking abilities, which can be seen from improving analytical skills, decision making and problem solving abilities. This research uses a qualitative approach with descriptive and experimental methods. Data was obtained through interviews, class observations, and documentation. The research subjects were class Vi students at MTs N 1 Lebong, using purposive and random sampling techniques to determine the sample. Data analysis was carried out thematically to evaluate the application of Carl Rogers' humanistic theory and its impact on students' critical thinking. The research results show that despite challenges, such as time constraints and differences in student abilities, the humanistic approach provides significant Teachers are advised to be more creative in adapting this method to students' needs so that optimal results can be achieved. Keywords: Humanistic Theory. Carl Rogers. Confidence. Student Engagement. Critical Thinking Ability. Humanistic Learning. How to cite this article: Tiara. Dewanti. Irama. Harmi. Daheri. Implementasi Teori Humanistik Carl Rogers dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa MTsN 1 Lebong. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 23-29. Received: 1/27/2025 Revised: 4/27/2025 Accepted: 5/17/2025 24 | Meza Tiara1. Asri Hajar Dewanti2. Debi Irama3. Hendra Harmi4. Mirzon Daheri5 PENDAHULUAN Kemampuan berpikir kritis semakin dipandang sebagai keterampilan penting da-lam dunia pendidikan, terutama di era digital saat ini yang penuh dengan informasi. Siswa di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MT. diharapkan tidak hanya menerima infor-masi, tetapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi, dan memahami konteks dari in-formasi tersebut agar menjadi pembelajar yang mandiri dan kritis. Berpikir kritis men-cakup kemampuan menilai argumen secara objektif, mencari hubungan logis, serta mengembangkan pandangan yang rasional berdasarkan fakta dan logikasatu pendeka-tan yang dianggap efektif dalam mengembangkan keterampilan ini adalah penerapan teori humanistik dalam proses pembelajaran. Teori humanistik, yang dikemukakan oleh Carl Rogers, menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Rogers menekankan bahwa setiap individu memiliki potensi yang bisa dikem-bangkan, dan proses pembelajaran harus mendukung siswa dalam mencapai self-actualization atau aktualisasi diri. Dengan pendekatan ini relevan bagi siswa di MTs N 1 Lebong, yang berada dalam masa pembentukan karakter dan pemikiran kritis. Pada umumnya, pendekatan pendidikan di Indonesia masih sangat berpusat pa-da guru . eacher-centere. Hal ini membuat siswa cenderung pasif dan kurang terlatih untuk berpikir kritis. Melalui penerapumanistik, guru dapat mendorong siswa untuk lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran, menumbuhkan rasa percaya diri, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi yang diajarkan. Implementasi teori humanistic di MTs N 1 Lebong diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, yang akan membantu mereka dalam menghadapi tantangan dan membuat keputusan yang lebih baik di masa depan. METODE Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif atau eksperimental. Pilihan jenis penelitian ini didasarkan pada tujuan untuk menganalisis dan menggambarkan penerapan teori humanistik Carl Rogers serta dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian Kualitatif: Jika lebih berfokus pada pemahaman mendalam tentang penerapan teori dan persepsi siswa terhadap proses pembelajaran yang berbasis Dalam hal ini, data yang dikumpulkan lebih bersifat naratif dan dapat berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian Eksperimental: Jika penelitian ini menguji secara langsung pengaruh penerapan teori Carl Rogers terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian eksperimental ini dapat menggunakan pre-test dan post-test untuk melihat peru-bahan dalam kemampuan berpikir kritis siswa setelah penerapan teori. Subjek Penelitian Peserta Didik siswa MTs N 1 Lebong siswa kelas Vi. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 23-29 | 25 Jumlah Sampel: Jumlah siswa yang menjadi sampel dapat dipilih menggunakan teknik sampling purposive atau sampling acak. Sampling purposive bisa digunakan jika peneliti ingin memilih kelompok siswa yang memiliki kriteria ter-tentu, misalnya yang sudah pernah mengikuti metode pembelajaran humanistik. Sampling acak digunakan jika penelitian bertujuan untuk mendapatkan gam-baran yang lebih representatif dari seluruh populasi siswa di sekolah tersebut. Teknik Pengumpulan Data Wawancara: Digunakan untuk mendalami pemahaman dan pengalaman siswa mengenai pembelajaran berbasis teori humanistik. Wawancara dapat dilakukan dengan memilih beberapa siswa secara acak untuk memberikan gambaran lebih mendalam mengenai dampak metode tersebut terhadap perkembangan berpikir kritis Observasi Kelas: Peneliti akan mengamati langsung penerapan teori humanistik dalam kegiatan pembelajaran. Observasi ini bertujuan untuk menilai sejauh ma-na guru menerapkan prinsip-prinsip teori Carl Rogers . eperti menciptakan ling-kungan yang mendukung kemandirian, empati, dan penghargaan dir. dalam mengelola kelas dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dokumentasi: Mengumpulkan data berupa catatan atau hasil karya siswa yang relevan dengan penerapan berpikir kritis dalam kegiatan pembelajaran. Ini bisa berupa tugastugas yang mengharuskan siswa untuk berpikir kritis atau refleksi siswa terhadap materi pembelajaran. Teknik Analisis Data Analisis data kualitatif digunakan untuk menggambarkan hasil penerapan teori humanistik dan peningkatannya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Analisis Kualitatif: bersifat kualitatif, data dari wawancara dan observasi akan dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari pengalaman siswa terkait dengan penerapan teori humanistik dalam HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara. Observasi dan Dokumentas Hasil-hasil ini kemudian akan dianalisis dan dibandingkan dengan teori yang relevan, khususnya teori humanistik Carl Rogers yang diterapkan dalam konteks peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil Wawancara Siswa Dari wawancara yang dilakukan kepada 10 siswa, se-bagian besar siswa merasa lebih dihargai dan lebih percaya diri untuk mengungkapkan pendapat mereka di kelas setelah penerapan pendekatan humanistik. Mereka merasa bahwa guru lebih mendengarkan dan memberi ruang bagi mereka untuk berpikir secara bebas. Salah satu siswa Bernama Auchika humairaAy menyatakan. "Saya merasa lebih nyaman untuk berbicara dan tidak takut salah, karena guru selalu memberikan kesempatan bagi saya dan teman yang lain untuk bertanya dan berdiskusi, dan merasa sangat senang karena apa yang kami sampaikan di dengar dengan baik di terima dengan baik, meskipun terkadang apa yang kami tanyakan dan apa yang kami This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 26 | Meza Tiara1. Asri Hajar Dewanti2. Debi Irama3. Hendra Harmi4. Mirzon Daheri5 sampaikan terkadang berbeda dan tak biasa juga di luar konteks materi pembelajaran, disini saya merasa saya di pahami dan di dengar. Sebagian siswa lainnya juga menyebutkan bahwa mereka lebih mudah melihat masalah dari berbagai sudut pandang setelah pembelajaran menggunakan pendekatan Hasil Wawancara Guru, di sini menanyakan Bagaimana apakah penerapan pendekatan humanistik dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan ber-pikir kritis siswa MTs N 1 Lebong? Salah satu guru mata Pelajaran Al-QurAoan Hadits ibu NiAoMatuzzahro mengatakan. Aubahwa pendekatan humanistik memungkinkan siswa untuk lebih aktif dalam mendiskusikan tafsir Al-Quran dan Hadits. Siswa merasa lebih dihargai ketika mereka dapat mengemukakan pendapat dan interpretasi mereka sendiri. Hal ini mendorong mereka untuk berpikir kritis tentang konteks dan aplikasi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ia menambahkan bahwa suasana kelas yang empatik dan terbuka membuat siswa lebih berani bertanya dan mengkritisi pemahaman merekaAy. Hal ini selaras dengan pendapat ibu puji rahayu guru mata Pelajaran Fiqih, beliau menyampaikan bahwa "Siswa sangat antusias. Mereka mulai aktif berdiskusi dan menganalisis situasi fiqih yang nyata. Dengan menggunakan metode studi kasus, mereka dapat melihat berbagai argumen dan mempertimbangkan implikasi dari setiap keputusan. Ini sangat membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis Penerapan teori humanistik menurut Carl Rogers dalam konteks pendidikan berfokus pada penciptaan lingkungan belajar yang mendukung, di mana siswa merasa diterima, dihargai, dan diberi kebebasan untuk mengekspresikan pendapat mereka. Pendekatan ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam wawancara yang dilakukan, narasumber menunjukkan bahwa dengan menciptakan suasana yang terbuka dan inklusif, siswa menjadi lebih percaya diri untuk mengemukakan pendapat dan mempertanyakan informasi. Hal ini sejalan dengan prinsipprinsip humanistik yang menekankan pentingnya empati, penghargaan diri, dan kemandirian dalam proses belajar. Ketika siswa merasa aman untuk berbicara dan berdiskusi, mereka lebih aktif dalam menganalisis informasi dan mencari pemahaman yang lebih dalam, yang merupakan inti dari berpikir kritis. Penerapan metode pembelajaran yang berbasis pada teori humanistik juga mendorong siswa untuk terlibat dalam diskusi yang lebih mendalam, menganalisis situasi dari berbagai sudut pandang, dan mengembangkan argumen yang logis. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar untuk menerima informasi, tetapi juga untuk berpikir secara kritis dan reflektif. Dari hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa Teori humanistic membantu siswa lebih mandiri dalam belajar dan lebih aktif dalam diskusi Sesuai yang di sampaikan oleh ibu Kristian Sagita: "Dampaknya sangat positif. Salah satunya Banyak perubahan yang terjadi pada siswa yang mana sebelumnya ragu untuk berbicara kini merasa lebih percaya diri. Mereka tidak hanya berani mengemukakan pendapat, tetapi juga mulai mempertanyakan dan menganalisis informasi yang mereka terima. Saya melihat mereka lebih aktif dalam diskusi dan mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandangAy. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 23-29 | 27 Dengan begini teori humanistik menurut Carl Rogers dalam konteks pendidikan Tantangan waktu menjadi salah satu hambatan utama karena pembelajaran berbasis masalah memerlukan waktu lebih banyak untuk diskusi dan analisis yang mendalam berfokus pada penciptaan lingkungan belajar yang mendukung, di mana siswa merasa diterima, dihargai, dan diberi kebebasan untuk mengekspresikan pendapat mereka. Pendekatan ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis "Apakah terlihat perubahan dalam cara siswa berpikir setelah menerapkan pendekatan ini?" "Dengan menggunakan pendekatan ini, saya bisa melihat perubahan yang signifikan dalam cara siswa berinteraksi di kelas, mereka lebih terbuka dan lebih berani berbicara, mereka berani beragumen dengan pendapat mereka masing-masing dan dengan apa yang mereka pahami dengan begitu saya selaku guru mampu melihat tingkatan pemahaman dan karakter peserta didik saya," Guru juga mencatat bahwa banyak siswa yang sebelumnya pasif dalam kelas menjadi lebih aktif dalam diskusi setelah pendekatan ini diterapkan. "Tentu saja. Siswa menjadi lebih terbuka dan berani berargumen. Mereka belajar untuk menghargai perbedaan pendapat dan mengembangkan argumen yang logis. Saya juga melihat peningkatan dalam kemampuan mereka untuk menganalisis situasi dan membuat keputusan yang lebih baik berdasarkan nilai-nilai yang telah mereka pelajari. Dapat di simpulkan bahwa teori humanistik dalam peningkatan hasil belajar ini mampu mendorong siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, meningkatkan rasa percaya diri, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Dengan suasana yang terbuka dan empatik, siswa lebih mampu menganalisis informasi, mengajukan pertanyaan, dan mencari pemahaman yang lebih dalam, yang merupakan elemen kunci dalam berpikir kritis. Pendekatan ini berkontribusi pada pembentukan karakter dan kemampuan analitis siswa, mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan di masa Secara keseluruhan, teori humanistik berfungsi sebagai landasan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan efektif bagi siswa. Penerapan Teori Humanistik Carl Rogers Teori humanistik Carl Rogers menekankan pada pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang men-dukung pertumbuhan pribadi siswa, di mana mereka merasa diterima, di-hargai, dan diberi kesempatan untuk Dalam konteks penelitian ini, pendekatan yang diterapkan berfokus pada penciptaan suasana kelas yang terbuka, empatik, dan mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa. Penerapan prinsip-prinsip Rogers, seperti empati, kesadaran diri, dan kepercayaan diri yang diberdayakan dalam pembelajaran, terbukti berdampak positif. Salah satu elemen penting dalam teori Rogers adalah hubungan yang terjalin antara guru dan siswa, di mana guru berperan se-bagai fasilitator yang memberi ruang bagi siswa untuk berkembang tanpa ra-sa takut. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara yang menunjukkan bahwa siswa merasa lebih didengar dan lebih percaya diri dalam berbicara dan ber-pikir kritis. Pengaruh Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Penerapan pendekatan hu-manistik tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri siswa tetapi juga mem-bantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Dalam teori hu-manistik, kepercayaan diri siswa sangat penting untuk memungkinkan mere-ka mengajukan pertanyaan, mengkritisi This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 28 | Meza Tiara1. Asri Hajar Dewanti2. Debi Irama3. Hendra Harmi4. Mirzon Daheri5 informasi, dan mencari solusi alter-natif terhadap masalah yang mereka hadapi. Hal ini terlihat jelas dalam hasil kuesioner dan wawancara, di mana banyak siswa menyatakan bahwa mereka merasa lebih nyaman untuk berpikir secara kritis setelah penerapan pendeka-tan ini. Selain itu, proses refleksi diri yang didorong oleh pendekatan humanistik juga berkontribusi pada peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa. Ketika siswa merasa dihargai dan diberi kebebasan untuk menyampaikan pendapat-nya, mereka menjadi lebih aktif dalam menganalisis informasi dan mencari pemahaman yang lebih dalam. Peningkatan Keterlibatan Siswa Salah satu faktor yang berkontribusi ter-hadap peningkatan berpikir kritis siswa adalah peningkatan keterlibatan siswa dalam proses Dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan penuh perhatian terhadap kebutuhan siswa, banyak siswa yang sebe-lumnya pasif dalam pembelajaran menjadi lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi kelas. Pembelajaran yang berbasis pada diskusi, refleksi, dan pengem-bangan diri ini membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis mereka dalam konteks yang lebih aplikatif dan relevan dengan kehidupan seharihari. Meskipun pendekatan humanistik memberikan hasil yang positif, terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya. Beberapa siswa merasa masih kesulitan untuk berpikir kritis ketika menghadapi materi yang sangat kompleks, sementara beberapa guru mengungkapkan bahwa penerapan pendekatan ini memerlukan waktu yang lebih lama dalam persiapan dan pelaksanaan kelas. Guru juga perlu memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang, meskipun tidak semua siswa memiliki tingkat kemampuan yang sama dalam berpikir kritis. KESIMPULAN Penerapan Teori Humanistik Meningkatkan Rasa Percaya Diri dan Keterlibatan Siswa Pendekatan humanistik, yang menekankan pada pemahaman, empati, dan penghargaan terhadap kebutuhan individu siswa, terbukti meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam mengungkapkan pendapat dan partisipasi aktif dalam kelas. Suasana belajar yang nyaman dan terbuka mendorong siswa untuk berani bertanya, mendiskusikan pendapat, dan terbuka terhadap ide-ide baru, yang merupakan dasar penting dalam berpikir kritis. Pengaruh Positif pada Kemampuan Berpikir Kritis Penerapan teori ini juga berdampak langsung terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa lebih mampu menganalisis informasi secara mendalam, mempertim-bangkan berbagai sudut pandang, dan memberikan argumen yang logis dalam diskusi maupun penyelesaian soal. Hal ini terlihat dari peningkatan hasil tes berpikir kritis yang menunjukkan adanya perkembangan signifikan dalam ket-erampilan analitis dan problem-solving siswa. Tantangan dalam Implementasi Meskipun penerapan pendekatan humanistik menunjukkan hasil yang positif, terdapat beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu dan perbedaan tingkat kemampuan siswa dalam berpikir kritis. Guru perlu lebih kreatif dalam memfasilitasi dan menyesuaikan pendeka-tan ini dengan karakter dan kemampuan masing-masing siswa agar semua siswa mendapat manfaat optimal dari metode ini. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 23-29 | 29 DAFTAR PUSTAKA