WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Analisis Metode Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan di Sekolah Dasar Kariana Maurina Betliani Universitas Pendidikan Ganesha karianabetliani@gmail. Ni Made Ari Saputri Universitas Pendidikan Ganesha karianabetliani@gmail. I Wayan Eka Swarjawa Universitas Pendidikan Ganesha karianabetliani@gmail. I Wayan Ade Yantika Universitas Pendidikan Ganesha karianabetliani@gmail. Ida Bagus Putrayasa Universitas Pendidikan Ganesha karianabetliani@gmail. I Nyoman Sudiana Universitas Pendidikan Ganesha karianabetliani@gmail. Abstrak: Penelitian ini membahas strategi dan metode pembelajaran membaca dan menulis permulaan (MMP) yang berperan penting dalam membentuk dasar literasi bagi anak usia dini, khususnya siswa kelas awal sekolah dasar. Tujuan pembelajaran MMP tidak hanya mengenalkan huruf dan kata, tetapi juga membangun pemahaman makna serta kemampuan mengekspresikan ide secara tertulis. Berbagai metode pembelajaran membaca dikaji, seperti metode abjad, fonik, suku kata, global, kata lembaga, dan struktur analitik sintetik (SAS), serta metode pembelajaran menulis seperti mengeblat, menebalkan, menyalin, dikte, dan melengkapi. Analisis dilakukan terhadap kelebihan, kekurangan, dan contoh penerapan masing-masing metode di kelas. Pendekatan integratif disorot sebagai pendekatan efektif karena menggabungkan proses membaca dan menulis secara simultan. Guru diharapkan mampu menerapkan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak melalui pemanfaatan media variatif dan pemberian Teori-teori perkembangan dari Piaget. Skinner, dan Vygotsky digunakan sebagai dasar dalam merancang proses pembelajaran yang sesuai. Keberhasilan pembelajaran MMP sangat bergantung pada ketepatan pemilihan metode, kreativitas penggunaan media, serta keterlibatan aktif guru dalam membimbing Hasil kajian ini memberikan panduan praktis bagi pendidik dalam membangun keterampilan literasi anak secara menyeluruh dan berkelanjutan. Keywords: Membaca Permulaan. Menulis Permulaan. Metode Pembelajaran PENDAHULUAN Membaca dan menulis merupakan keterampilan dasar yang esensial dalam perkembangan anak usia dini. Kedua keterampilan ini menjadi fondasi utama bagi pendidikan selanjutnya WIDYA ACCARYA 2025 signifikan dalam kehidupan sehari-hari (Nafisa et al. , 2. Dalam konteks pendidikan anak usia dini dan tingkat sekolah dasar, permulaan (MMP) menjadi aspek yang sangat Solchan T. , dkk. 0:6. P a g e 153 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index mendefinisikan MMP sebagai program pengembangan kemampuan membaca dan menulis pada kelas awal saat anak mulai memasuki dunia sekolah. Istilah AupermulaanAy merujuk pada masa transisi dari lingkungan bermain menuju lingkungan belajar formal yang menuntut kesiapan linguistik dan Selanjutnya Tarigan, dkk. MMP pembelajaran utama pada jenjang kelas I SD, di mana siswa mulai diperkenalkan dengan lambang-lambang tulisan sebagai sarana komunikasi dalam bentuk bahasa tulis. MMP dapat dimaknai sebagai program sistematis yang dirancang untuk membangun kompetensi literasi awal melalui pengenalan simbol grafemis, pembentukan pemahaman makna, serta pengembangan kemampuan menyusun dan mengekspresikan gagasan dalam bentuk tulisan (Mumpuni & Afifah. Strategi pembelajaran dalam MMP harus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan peserta didik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, guna memastikan keterampilan literasi berkembang secara optimal (Al Aluf, 2. Berbagai metode telah dikembangkan dan diterapkan dalam pembelajaran MMP, seperti metode abjad, metode suku kata, metode global, metode fonetik, serta metode struktural analitik sintetik (SAS) (Rikmasari. Masing-masing metode memiliki karakteristik, keunggulan, dan keterbatasan Pemilihan metode yang tepat menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik, terutama dalam mengakomodasi kebutuhan belajar anak yang beragam dan dinamis (NiAomah & Mustofa, 2. Permasalahan yang muncul dalam praktik pendidikan di tingkat dasar menunjukkan bahwa implementasi metode MMP konvensional, tidak adaptif terhadap variasi gaya belajar, serta cenderung mengabaikan potensi integrasi antarmetode. Belum banyak penelitian yang secara khusus mengkaji formulasi pendekatan pembelajaran MMP berbasis integratif yang mampu menjawab kebutuhan individual peserta didik dalam konteks pembelajaran literasi awal. WIDYA ACCARYA 2025 Penelitian mengkaji secara mendalam konsep dasar, tujuan, metode, dan aktivitas dalam permulaan, serta mengidentifikasi kontribusi konseptual berupa model pembelajaran MMP diferensiatif, yang relevan dengan tantangan pembelajaran literasi dasar abad ke-21. II. METODE Penelitian pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam strategi, metode, serta pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan (MMP) pada siswa kelas awal sekolah dasar. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengkaji fenomena pembelajaran secara holistik dan kontekstual, khususnya dalam hal pengembangan keterampilan literasi dasar yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Fokus utama penelitian ini bukan pada pengukuran angka, tetapi pada pemahaman makna dari berbagai metode kontribusinya terhadap perkembangan literasi Sumber data dalam penelitian ini diperoleh melalui studi pustaka terhadap berbagai literatur yang relevan, baik berupa buku teks, artikel jurnal ilmiah, hasil penelitian terdahulu, maupun dokumen kebijakan pendidikan yang membahas pembelajaran literasi awal. Literatur yang dikaji meliputi pandangan dan teori dari para ahli seperti Jean Piaget. Skinner, dan Lev Vygotsky, yang menjadi dasar dalam merancang pendekatan dan metode pembelajaran MMP. Selain itu, berbagai metode pembelajaran membaca dan menulis permulaan seperti metode abjad, fonik, suku kata, global, kata lembaga, serta struktur analitik sintetik (SAS) juga dianalisis secara kritis dari berbagai sumber. C Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi . ontent analysi. , yaitu dengan menelaah, mengidentifikasi, dan menginterpretasi data berdasarkan tematema tertentu yang berkaitan dengan strategi pembelajaran MMP. Proses P a g e 154 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index mengkategorikan data berdasarkan jenis metode, kelebihan dan kekurangannya, serta efektivitas penerapannya dalam konteks pembelajaran kelas awal. Peneliti pendekatanpendekatan yang bersifat terpisah dengan pendekatan integratif untuk menunjukkan masing-masing membangun dasar literasi siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dasar Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan (MMP) merupakan salah satu aspek krusial dalam pendidikan dasar, khususnya pada siswa kelas awal sekolah Pada masa ini, anak-anak berada dalam fase transisi dari lingkungan bermain di rumah atau Taman Kanak-Kanak ke dunia pembelajaran formal yang lebih terstruktur. Pendekatan terhadap pembelajaran membaca dan menulis pada fase ini harus disesuaikan dengan kondisi psikologis, sosial, dan kognitif MMP tidak hanya sekadar mengenalkan huruf dan kata kepada siswa, melainkan merupakan suatu program sistematis yang membangun dasar literasi anak melalui aktivitas membaca dan menulis secara terpadu. Solchan T. menyebutkan bahwa MMP adalah program pembelajaran yang difokuskan pada penguasaan membaca dan menulis dasar bagi siswa yang baru memasuki sekolah dasar, di mana mereka pertama kali dikenalkan pada simbol-simbol tulisan sebagai sarana komunikasi. Dalam konteks membaca permulaan, kemampuan yang ingin dicapai bukan hanya sebatas anak mampu menyuarakan huruf-huruf atau kata-kata, tetapi juga membentuk pemahaman terhadap apa yang dibacanya. Kemampuan ini dimulai dari apa yang disebut dengan kemampuan Aumelek hurufAy, yaitu tahap awal ketika anak mulai mengenali dan melafalkan simbol tertulis menjadi bunyi. Pada tahap ini, sering kali anak belum memahami sepenuhnya arti dari bunyi-bunyi tersebut, tetapi sudah dapat mengidentifikasinya. Kemampuan ini menjadi dasar menuju tingkat membaca lanjutan, yaitu Aumelek wacanaAy, yang mencakup pemahaman makna teks dan WIDYA ACCARYA 2025 kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang disampaikan. Sedangkan dalam konteks menulis permulaan, pembelajaran menekankan pada keterampilan motorik halus, visual, dan koordinasi antara pikiran dan tangan. Anakanak dilatih untuk membentuk huruf secara mekanis, yang pada tahap awal menyerupai kegiatan menggambar. Lambat laun, kegiatan ini dikembangkan menjadi aktivitas yang lebih kompleks, seperti menyalin kata, menulis berdasarkan pengamatan, hingga menulis berdasarkan ingatan dan imajinasi. Pada tahap lanjut, menulis permulaan juga mencakup kemampuan anak untuk menuangkan gagasan dan perasaan ke dalam bahasa tulis, meskipun masih sederhana. Hal ini mencerminkan transisi dari kemampuan mekanik menjadi kemampuan komunikatif. Perkembangan kemampuan membaca dan menulis ini sejatinya tidak bersifat instan. Anak perkembangan yang kompleks. Menurut Teale dan Sulzby . , perkembangan literasi dimulai sejak anak usia dini melalui interaksi mereka dengan teks, gambar, serta bahasa lisan dalam kehidupan sehari-hari. Tahap awal disebut sebagai tahap pramembaca, di mana anak mulai mengenali huruf, simbol, dan pola tanpa pemahaman utuh terhadap makna. Tahap berikutnya adalah tahap membaca permulaan, di mana anak mulai mampu memahami hubungan grafem-fonem . uruf-buny. dan mengenali kata secara visual. Pada tahap ini, peran guru dan orang tua sangat penting dalam menyediakan lingkungan literasi yang Dalam proses menulis, anak mulai dari mencoret atau menggambar, lalu meningkat menjadi penyalinan huruf atau kata yang dilihat, dan pada akhirnya mampu menulis kata dan kalimat dari memori atau ide sendiri. Clay . menekankan bahwa menulis permulaan adalah ekspresi awal anak terhadap ide dan cerita dalam bentuk tulisan yang berkembang seiring dengan penguasaan simbol huruf. Secara teoritis, pembelajaran MMP berakar dari berbagai landasan psikologis dan Teori behaviorisme, seperti yang dikemukakan oleh B. Skinner . P a g e 155 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index . dan latihan . dalam pembelajaran membaca dan menulis. Melalui pendekatan ini, anak diberikan stimulus berupa huruf atau kata, kemudian diperkuat dengan pujian atau hadiah saat mereka berhasil Metode drilling digunakan untuk membentuk kebiasaan dalam mengenali dan menghafal simbol-simbol bahasa. Di sisi lain, teori konstruktivisme dari Jean Piaget . menyatakan bahwa anak membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman langsung. Dalam konteks MMP, pembelajaran harus melibatkan aktivitas nyata dan konkret seperti bermain kata, manipulasi huruf, dan menyusun kalimat. Hal ini memungkinkan anak untuk memahami konsep membaca dan menulis berdasarkan pemaknaan personal, bukan sekadar hafalan. Teori sosiokultural dari Lev Vygotsky . juga memberikan kontribusi signifikan dalam memahami MMP. Menurutnya, anak perkembangan proksimal (ZPD), yaitu ketika mereka mendapat dukungan dari orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Konsep scaffolding atau pemberian bantuan yang sistematis digunakan dalam pembelajaran membaca dan menulis untuk mengarahkan anak sampai mereka mampu melakukannya secara mandiri. Selain MMP mempertimbangkan keragaman karakteristik peserta didik. Setiap anak memiliki gaya belajar, kecepatan tangkap, dan latar belakang pengalaman yang berbeda-beda. Strategi pembelajaran harus bersifat diferensiatif dan Anak-anak yang mengalami kesulitan dalam mengenali huruf, misalnya, membutuhkan pendekatan multisensori dengan bantuan visual, auditori, dan kinestetik secara Sementara anak yang cepat tanggap memerlukan tantangan lebih lanjut seperti menyusun kalimat atau membuat cerita Integrasi antara kegiatan membaca dan menulis sejak dini menjadi pendekatan yang Dalam pendekatan integratif, anak tidak hanya dikenalkan pada huruf dan bunyi secara terpisah, melainkan langsung dalam WIDYA ACCARYA 2025 konteks kata dan kalimat yang bermakna. Mereka belajar bahwa membaca dan menulis adalah kegiatan komunikasi yang utuh dan saling berkaitan. Anak dapat membaca kata yang sama yang mereka tulis, atau menulis kembali kata-kata yang telah mereka baca. Ini memberi makna yang lebih dalam dan menguatkan koneksi antara bunyi, huruf, makna, dan ekspresi. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut baik perkembangan anak, teori pembelajaran, maupun strategi implementasi di kelas konsep dasar pembelajaran membaca dan menulis permulaan harus dirancang secara Tujuannya adalah agar anak-anak tidak hanya mampu membaca dan menulis secara mekanis, tetapi juga memahami, mengolah, dan mengekspresikan informasi secara bermakna. Pembelajaran MMP yang berkualitas akan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan kemampuan literasi lanjutan serta keberhasilan akademik anak di masa Tujuan Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan Pembelajaran membaca dan menulis permulaan (MMP) memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam membentuk dasar literasi anak usia dini. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengenalkan huruf dan kata semata, melainkan juga membentuk pola pikir, cara berkomunikasi, serta kesiapan anak untuk mengikuti pembelajaran di jenjang pendidikan Tujuan dari MMP harus dirancang secara lengkap agar anak tidak hanya mampu mengenali simbol-simbol bahasa secara visual dan fonetik, tetapi juga memahami makna serta menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh makna. Salah satu tujuan utama pembelajaran membaca dan menulis permulaan adalah mengembangkan kemampuan fonologis dan kognitif anak. Kemampuan fonologis meliputi kesadaran anak terhadap bunyi-bunyi dalam bahasa lisan, termasuk kemampuan untuk memanipulasi bunyi tersebut. Menurut Adams . , kesadaran fonologis merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan belajar membaca karena anak yang memahami hubungan antara bunyi dan huruf akan lebih P a g e 156 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index mudah dalam mengidentifikasi kata dan memahami teks. Selain itu, aktivitas literasi awal juga memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan kognitif anak, seperti kemampuan memori, konsentrasi, serta pemecahan masalah yang bersifat analitis. Tujuan penting berikutnya adalah membangun minat dan motivasi membaca sejak dini. Anak-anak yang secara aktif terlibat dalam kegiatan membaca bersama, bermain kata, atau mengeja huruf akan merasa lebih nyaman dan tertarik terhadap aktivitas literasi. Gambrell . menyatakan bahwa motivasi membaca yang tinggi berkorelasi erat dengan peningkatan kemampuan literasi. Dalam konteks ini, guru dan orang tua perlu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, dengan menyediakan bahan ajar menarik seperti buku bergambar, kartu kata, serta media digital yang interaktif. Selain itu, pembelajaran MMP juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan ekspresi diri anak. Dengan memahami simbol-simbol tulisan, anak mampu menyalurkan ide, perasaan, dan pengalamannya ke dalam bentuk bahasa tulis. Snow. Burns, dan Griffin . menekankan bahwa kemampuan menulis bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga keterampilan ekspresif dan reflektif yang sangat penting dalam perkembangan sosial dan emosional Anak yang dapat menulis akan lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, baik secara lisan maupun tertulis, serta lebih aktif dalam kegiatan akademik dan sosial. Tujuan mempersiapkan anak untuk mengikuti Kemampuan membaca dan menulis permulaan merupakan fondasi utama yang menentukan keberhasilan anak dalam mempelajari mata pelajaran lain seperti matematika, sains, dan ilmu sosial. Neuman dan Dickinson . menyatakan bahwa kemampuan literasi dasar yang kuat memungkinkan anak memahami konsep-konsep pembelajaran yang lebih Sebaliknya, anak yang belum memiliki kemampuan membaca dan menulis yang memadai cenderung mengalami kesulitan dalam memahami instruksi guru, membaca soal, atau mengungkapkan jawaban secara WIDYA ACCARYA 2025 Tidak kalah penting, pembelajaran MMP juga bertujuan untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Gough dan Tunmer . mengemukakan bahwa anak-anak yang terbiasa membaca dan menulis akan lebih peka terhadap struktur teks, mampu membandingkan berbagai informasi, serta mengembangkan analisis sederhana terhadap Melalui kegiatan menulis, anak juga dapat mengembangkan kemampuan menyusun argumen, bercerita, dan menyampaikan ide-ide secara sistematis dan logis. Secara permulaan mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang saling mendukung dalam pengembangan diri anak secara utuh. Tujuan-tujuan ini akan tercapai secara optimal jika guru menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, didukung oleh media yang menarik dan bervariasi, serta keterlibatan aktif orang tua dan lingkungan sekitar. Penting bagi pendidik untuk memahami bahwa pembelajaran membaca dan menulis permulaan bukan sekadar tahap awal dari proses belajar, tetapi emosional anak di masa depan. Metode-Metode Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan dan Aktivitas Penerapannya Pembelajaran membaca dan menulis permulaan (MMP) menuntut pendekatan yang tepat dan adaptif terhadap karakteristik perkembangan peserta didik. Untuk mencapai tujuan pembelajaran literasi awal secara optimal, pendidik perlu memahami dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Terdapat berbagai metode yang telah dikembangkan dan digunakan dalam praktik pembelajaran di tingkat dasar, baik untuk membaca maupun menulis permulaan. Masing-masing metode kelemahan, serta aktivitas penerapan yang Metode Abjad (Ej. Metode ini merupakan salah satu metode tradisional yang mengajarkan anak P a g e 157 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index untuk mengeja huruf secara alfabetis, seperti AuA dibaca a. B dibaca be. C dibaca ceAy. Metode ini menekankan pada hafalan nama huruf terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan menyusun huruf menjadi suku kata dan kata. Aktivitas yang biasa diterapkan meliputi permainan kartu huruf, bernyanyi alfabet, menebak huruf, hingga menyusun kata dari huruf yang dikenal. Meskipun sederhana, metode ini dapat membantu anak mengenali bentuk dan urutan huruf, namun kelemahannya terletak pada keterbatasan dalam memahami fonem secara fungsional. Metode Fonik (Buny. Berbeda dengan metode abjad, metode fonik mengenalkan huruf berdasarkan bunyi fonetisnya. Anak diajarkan bahwa huruf AuBAy berbunyi /b/. AuDAy berbunyi /d/, dan Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam membangun hubungan fonemgrafem karena anak langsung mengenali bunyi yang digunakan dalam percakapan. Aktivitas pembelajarannya sangat variatif dan menyenangkan, seperti lagu fonik, permainan Aukotak misteri bunyiAy, dan Aupuzzle fonikAy. Keunggulan metode ini adalah pada kecepatan anak dalam mengaitkan bunyi dengan simbol, namun membutuhkan konsistensi guru dan keterampilan fonologis yang baik. Metode Kupas Rangkai Suku Kata (Metode Suku Kat. Metode ini lebih sesuai dengan struktur bahasa Indonesia yang berbasis suku Anak dikenalkan langsung dengan suku kata sederhana seperti AubaAy. AubiAy. AubuAy, lalu dirangkai menjadi kata seperti AubukuAy. AubolaAy, dan AubajuAy. Aktivitas yang diterapkan mencakup pengenalan suku kata melalui permainan lompat kotak suku kata, membaca Keunggulan dari metode ini adalah mempercepat kelancaran membaca, namun bisa menjadi tantangan bagi anak dalam memahami kata berimbuhan atau kata serapan yang tidak berpola sederhana. Metode Kata Lembaga Dalam metode ini, anak dikenalkan terlebih dahulu pada kata-kata utuh yang familiar dalam kehidupan sehari-hari, kemudian kata tersebut dianalisis menjadi WIDYA ACCARYA 2025 suku kata dan huruf. Contohnya, kata AubukuAy diurai menjadi Aubu-kuAy, lalu menjadi hurufhuruf Aub-u-k-uAy. Aktivitas utama meliputi pencocokan kata dan gambar, permainan kartu kata, hingga penyusunan kembali huruf menjadi kata. Metode ini mendukung pemahaman kontekstual dan visual, namun bisa membatasi kemampuan anak dalam mengenali kata baru yang belum diajarkan secara langsung. Metode Global Metode ini mengenalkan anak langsung pada kalimat atau kata dalam konteks utuh tanpa menganalisis huruf atau suku katanya terlebih dahulu. Pendekatan ini dianggap natural karena meniru cara anak belajar bahasa lisan, yaitu melalui konteks dan makna. Misalnya, anak diperkenalkan kalimat AuIni bolaAy, kemudian mengenali kata dan huruf dari konteks tersebut. Aktivitas yang diterapkan biasanya berbasis media visual seperti kartu kalimat, buku cerita bergambar, dan permainan Aususun ceritaAy. Keunggulan metode ini terletak pada peningkatan pemahaman makna dan struktur kalimat, namun kelemahannya adalah ketergantungan pada hafalan dan kurangnya penguatan terhadap fonologi. Metode Struktur Analitik Sintetik (SAS) Metode SAS gabungan yang dimulai dengan pengenalan kalimat utuh, kemudian diurai menjadi kata, suku kata, dan huruf, lalu disintesis kembali ke dalam bentuk kalimat. Contohnya, kalimat AuIbu pergi ke pasarAy diurai menjadi AuIbu Ae pergi Ae ke Ae pasarAy, kemudian menjadi AuI Ae buAy. Auper Ae giAy, dan seterusnya. Anak kemudian menyusun kembali kata dan kalimat tersebut. Aktivitasnya mencakup analisis struktur kata, permainan membentuk kalimat, dan menulis ulang kalimat yang telah Keunggulan metode ini adalah memberikan pemahaman sistematis tentang pendampingan yang intensif dan waktu yang cukup lama untuk setiap tahapanny Dalam praktiknya, pemilihan metode individu anak dan konteks belajar yang Kombinasi metode atau pendekatan P a g e 158 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index integratif seringkali menjadi pilihan terbaik untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan belajar siswa. Guru perlu menggunakan media yang beragam seperti gambar, lagu, alat peraga huruf, dan teknologi digital untuk menarik perhatian dan meningkatkan motivasi siswa. IV. KESIMPULAN Berdasarkan pemaparan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai Konsep dasar pembelajaran membaca dan perkembangan anak serta menerapkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Keberhasilan dalam tahap ini akan berdampak signifikan pada kemampuan literasi anak di jenjang Kemampuan membaca permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan membaca tingkat dasar. Pembelajaran menulis permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan yang bersifat mekanik. Anak-anak dilatih untuk . irip kemampuan melukis atau menggamba. lambang-lambang dirangkaikan dalam sebuah struktur, lambang-lambang itu menjadi bermakna. Tujuan pembelajaran membaca dan menulis permulaan diantaranya: untuk mengembangkan kemampuan fonologis dan kognitif anak, untuk membangun minat dan motivasi membaca sejak dini, untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan ekspresi diri, untuk mempersiapkan anak ke pembelajaran lanjutan, dan untuk menanamkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Metode-metode membaca permulaan diantaranya: Metode Abjad (Ej. Metode Fonik (Buny. Metode Kupas Rangkai Suku Kata. Metode Kata Lembaga. Metode Global, dan Metode Struktur Analitik Sintentik (SAS). Sedangkan metode-metode permulaan diantaranya: Metode Mengeblat. Metode Menebalkan Tulisan. Metode WIDYA ACCARYA 2025 Menghubungkan Titik-titik. Metode Menatap. Metode Menyalin. Metode Menulis Halus. Metode Melengkapi. Metode Menulis Nama, dan Metode Dikte. Aktivitas masing-masing metode-metode membaca dan menulis permulaan akan efektif jika menggunakan pendekatan ingratif dan strategi yang tepat Untuk menerapkan pendekatan integratif pembelajaran yang variatif, dan strategi mencapai keterampilan membaca dan menulis secara bertahap. DAFTAR RUJUKAN Adams. Beginning to Read: Thinking and Learning about Print. MIT Press. Al Aluf. Analisis Kebutuhan Pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah: Penyesuaian Karakteristik. Kurikulum. Capaian Dan Media Pembelajaran Sesuai Kebutuhan Peserta Didik. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9. , 436-454. https://doi. org/10. 23969/jp. Gambrell. Seven Rules of Engagement: What's Most Important to Know about Motivation to Read. The Reading Teacher, 65. , 172-178. https://doi. org/10. 1002/TRTR. Gough. , & Tunmer. Decoding. Reading, and Reading Disability. Remedial and Special Education, 7. , https://doi. org/10. 1177/074193258600 Gunning. Creating Literacy Instruction for All Students. Boston: Pearson. Krissandi. Apri . Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk SD (Pendekatan dan Tekni. Jakarta: Penerbit Media Maxima. Mumpuni. , & Afifah. Analisis Pembelajaran Membaca Dan Menulis Permulaan Siswa Sekolah Dasar. P a g e 159 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Buletin Ilmiah Pendidikan, 1. , 7380. https://doi. org/10. 56916/bip. Nafisa. Fitriani. , & Nuroniah. Pengembangan Kemampuan Membaca Anak Usia 5-6 Tahun Menggunakan Metode Drill. Aulad: Journal on Early Childhood, 7. , https://doi. org/10. 31004/aulad. Neuman. , & Dickinson. Handbook of Early Literacy Research. Guilford Press. NiAomah. , & Mustofa. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk Siswa Inklusi di Sekolah Menengah Pertama Kelas Delapan. Aulad: Journal on Early Childhood, 7. , https://doi. org/10. 31004/aulad. Piaget. The Origins of Intelligence in Children. New York: Norton. Skinner. Verbal Behavior. New York: Appleton-Century-Crofts. Vygotsky. Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge. MA: Harvard University Press. Piaget. The Psychology of the Child. New York: Basic Books. Rikmasari. Penerapan metode Struktur Analitik Sintetik (SAS) terhadap keterampilan menulis tegak bersambung di sekolah dasar dalam Pedagogik: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 10. , 153-161. https://doi. org/10. 33558/pedagogik. Skinner. Verbal Behavior and Language Acquisition. Cambridge: Harvard University Press. Snow. Burns. , & Griffin. Preventing Reading Difficulties in Young Children. National Academy Press. WIDYA ACCARYA 2025 Sukma. Hanum. & Puspita. Lily. Keterampilan Membaca Dan Menulis (Teori dan Prakti. Yogyakarta: KMedia. Sulistyo. Literasi dalam Pembelajaran Bahasa. Malang: Universitas Negeri Malang Press. Sulistyo. Teori dan Aplikasi Pembelajaran Literasi Dasar. Malang: Universitas Negeri Malang Press. Sulzby. Emergent Literacy and Early Childhood Education. New York: Academic Press. Tarigan Hendri Guntur. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa. Tarigan. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Tarigan. Membaca sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Tompkins. Literacy in the Early Grades: A Successful Start for PreK-4 Readers. Boston: Pearson. TW. Solchan. Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Vygotsky. Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge: Harvard University Press. P a g e 160