JURNAL INOVATOR Jurnal Program Studi Teknik Mesin POLITEKNIK JAMBI Jurnal Inovator. Vol. No. 64Ae69 homepage: w. id/index/inovator Analisis Waktu Hidrolisis Terhadap Kadar Glukosa Dalam Proses Pembuatan Bioetanol Dari Limbah Pisang Elsa Dwi Wahyuni a,* . Nabila Eka Putri a. Muhammad Panca Satio a. Sahrul Efendy A b. Ida Febriana b. Tahdid b. Program Studi Teknik Energi (Jurusan Teknik Kimi. Politeknik Negeri Sriwijaya. Jl. Srijaya Negara. Bukit Besar. Palembang, 30139. Indonesia Program Studi Teknik Energi (Jurusan Teknik Kimi. Politeknik Negeri Sriwijaya. Jl. Srijaya Negara. Bukit Besar. Palembang, 30139. Indonesia INFO ARTIKEL Riwayat Artikel: Diterima 10 November 2025 Diterima setelah direvisi 28 November Disetujui 29 November 2025 Kata kunci: Bioetanol Limbah pisang Hidrolisis Asam Kadar Glukosa Waktu Hidrolisis Abstract- The utilization of rotten banana waste as a raw material for bioethanol production represents a strategic effort to support renewable energy development. This study aims to analyze the effect of hydrolysis time variation on glucose concentration and bioethanol yield. The hydrolysis process was conducted using sulfuric acid (HCCSOCE) 2 N at 80AC with time variations of 40, 60, 80, 100, and 120 minutes. The hydrolysate was then fermented for seven days using Saccharomyces cerevisiae, followed by a two-stage distillation The results showed that increasing hydrolysis time significantly affected glucose concentration and bioethanol volume. Glucose concentration increased from 24. 97% at 40 minutes to 41. 80% at 120 minutes, with the highest yield of 74. The highest bioethanol volume, 650 mL with 83% ethanol content, was obtained at 120 minutes of hydrolysis. Physical parameters such as refractive index and density also confirmed the improvement in bioethanol quality. Therefore, rotten banana waste has great potential as a raw material for bioethanol production, with optimal conditions found at 120 minutes of hydrolysis time, 80AC temperature, and 2 N HCCSOCE concentration. Intisari- Pemanfaatan limbah pisang busuk sebagai bahan baku pembuatan bioetanol merupakan upaya strategis untuk mendukung pengembangan energi terbarukan serta pengelolaan limbah organik yang Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi waktu hidrolisis terhadap kadar glukosa dan hasil bioetanol yang dihasilkan. Proses hidrolisis dilakukan menggunakan asam sulfat (HCCSOCE) 2 N pada suhu 80AC dengan variasi waktu 40, 60, 80, 100, dan 120 menit. Cairan hasil hidrolisis kemudian difermentasi selama tujuh hari menggunakan Saccharomyces cerevisiae, dilanjutkan dengan proses distilasi dua tahap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan waktu hidrolisis berpengaruh nyata terhadap kadar glukosa dan volume bioetanol yang dihasilkan. Kadar glukosa meningkat dari 24,97% pada waktu 40 menit menjadi 41,80% pada waktu 120 menit dengan hasil tertinggi . sebesar 74,76%. Volume bioetanol tertinggi sebesar 650 mL dengan kadar etanol 83% diperoleh pada waktu hidrolisis 120 menit. Parameter fisik seperti indeks bias dan densitas juga menunjukkan peningkatan kualitas bioetanol. Dengan demikian, limbah pisang busuk berpotensi besar sebagai bahan baku alternatif untuk produksi bioetanol dengan kondisi optimum pada waktu hidrolisis 120 menit, suhu 80AC, dan konsentrasi HCCSOCE 2 N. Pendahuluan Dalam beberapa dekade terakhir, isu perubahan iklim dan keterbatasan bahan bakar fosil telah mendorong pengembangan energi alternatif yang berkelanjutan. Konsumsi minyak bumi di Indonesia mencapai 322,61 juta barel pada tahun 2023 . , menunjukkan tingginya ketergantungan pada energi fosil. Bioetanol merupakan salah satu bentuk bioenergi yang menjanjikan karena berasal dari biomassa nabati dan lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil . Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan limbah pisang sebagai bahan baku bioetanol. Produksi pisang nasional tahun 2023 mencapai 9,34 juta ton, dengan Sumatera Selatan berkontribusi 354. * Corresponding Author: E-mail:edwi60881@gmail. com (Elsa Dwi Wahyun. Limbah pisang busuk kaya akan pati dan selulosa yang dapat dihidrolisis menjadi glukosa, kemudian difermentasi oleh Saccharomyces cerevisiae menjadi etanol . Proses hidrolisis, baik secara asam maupun enzimatis, berfungsi memecah polisakarida kompleks menjadi gula sederhana yang lebih mudah difermentasi . Faktor faktor seperti waktu hidrolisis, suhu, dan konsentrasi asam sangat berpengaruh terhadap kadar glukosa yang terbentuk . Proses hidrolisis merupakan tahapan penting dalam produksi bioetanol karena berfungsi mengubah polisakarida kompleks seperti pati, selulosa dan hemiselulosa yang terdapat dalam limbah organik menjadi gula sederhana . seperti glukosa. Hidrolisis dapat Volume 3. Nomor 2. Julii Ae Desember 2018 penulis diartikan sebagai reaksi Jurnal Inovator. Vol. No. 64Ae69 pemutusan ikatan kimia dalam suatu molekul melalui penambahan molekul air. Dalam pembuatan bioetanol, hidrolisis bertujuan memecah rantai panjang karbohidrat menjadi gula Ae gula sederhana yang lebih mudah difermentasi oleh mikroorganisme. Hidrolisis asam umumnya menggunakan larutan asam kuat seperti H2SO4 atau HCl dalam konsentrasi dan suhu tertentu untuk memutus ikatan glikosidik antar unit monomer dalam polisakarida. efisiensi konversi glukosa ke etanol secara langsung dipengaruhi oleh ketersediaan glukosa dalam media fermentasi, dengan catatan bahwa kadar yang terlalu rendah akan menurunkan hasil etanol, sementara kadar yang terlalu tinggi berisiko menghambat aktivitas Oleh karena itu, optimasi kadar glukosa sangat penting dalam keseluruhan rantai produksi bioetanol, khususnya dalam pendekatan berbasis limbah biomassa seperti kulit atau buah pisang . Pisang (Musaceaea SP) merupakan tanaman asli Asia Tenggara Hampir diseluruh wilayah Indonesia terdapat tanaman pisang. Hal ini dikarenakan iklim Indonesia cocok untuk media tumbuh tanaman ini. Daging pisang yang merupakan bagaian dari buah pisang, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produksi bioetanol. Salah satu alasan utama untuk menggunakan daging pisang busuk adalah kandungan karbohidratnya yang tinggi. Daging pisang mengandung gula yang dapat diubah menjadi etanol melalui proses fermentasi. Proses ini dimulai dengan hidrolisis, dimana karbohidrat kompleks dipecah menjadi gula Gula ini kemudian difermentasi oleh ragi untuk menghasilkan etanol . Asam Sulfat (H2SO. adalah salah satu asam mineral yang paling kuat dan penting dalam dunia industri maupun laboratorium. Senyawa ini berbentuk cairan kental, tidak berwarna dan sangat korosif. Asam sulfat memiliki sifat higroskopis, yaitu mudah menyerap uap air dari udara, dan sangat mudah larut dalam air dengan reaksi yang eksotermis . elepaskan Dalam kimia, asam ini dikenal sebagai asam kuat yang dapat memberikan ion HA secara penuh dalam larutan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: . bagaimana pengaruh variasi waktu hidrolisis terhadap kadar glukosa dari limbah pisang, . berapa waktu optimum untuk menghasilkan glukosa tertinggi sebagai bahan baku bioetanol, dan . bagaimana hubungan antara kadar glukosa dan jumlah bioetanol yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu hidrolisis, menentukan waktu optimum untuk memperoleh kadar glukosa tertinggi, serta menganalisis hubungan glukosa dengan bioetanol hasil Hasil penelitian diharapkan bermanfaat sebagai alternatif teknologi produksi bioetanol, referensi akademik, serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi limbah pisang sebagai energi Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan terkait produksi bioetanol dari berbagai jenis limbah biomassa. Buah pisang hutan yang difermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae dengan kadar ragi 5% dan memperoleh kadar etanol sebesar 24,8% . Memanfaatkan kulit pisang kapas dengan metode hidrolisis dan fermentasi, menghasilkan etanol sebesar 18,47%. Penelitian menggunakan limbah pisang (Musacea. dan S. cerevisiae melalui proses hidrolisis dan fermentasi, dengan rendemen etanol mencapai 22,8% . Selain pisang, penelitian lain juga menggunakan bahan baku berbeda. Peneliti limbah biji durian dengan metode hidrolisis, fermentasi, dan distilasi, menghasilkan kadar bioetanol 14,72% dengan volume produk 6,18 mL setelah fermentasi 9 hari . Sementara itu. Tandan kosong kelapa sawit dengan metode serupa, menghasilkan kadar glukosa tertinggi 8,48% dan etanol sebesar 17% . Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, terlihat bahwa variasi bahan baku, jenis limbah, serta kondisi proses sangat memengaruhi kadar bioetanol yang dihasilkan. Hal ini menegaskan pentingnya optimasi faktor proses, seperti waktu hidrolisis dan fermentasi, dalam upaya meningkatkan produksi bioetanol dari limbah organik. Metodologi Penelitian Bahan dan Alat Bahan yang digunakan meliputi limbah pisang 5 kg, air 15 L, ragi Saccharomyces cerevisiae 30 g. Larutan H2SO4 2 N dan NaOH Gambar 1. Alat Perangkat Bioetanol Keterangan : Reaktor Condensor Cooling Water Inlet Pipe Penutup Reaktor Klem Penutup Reaktor Kolom Distilasi Cooler Sensor Suhu Distilasi Ember Fermentasi Kondensor Distilasi Outlet Pipe Control Panel Heater Gambar 2. Alat Distilasi Sederhana Selang air pendingin Termometer Penjepit dan Statif Cooler Keluaran distilat Labu distilasi Erlenmeyer Hot Plate Kabel Daya Kondensor Liebig Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini meliputi stopwatch untuk mengukur waktu hidrolisis, spektrofotometer UV-Vis untuk menganalisis kadar glukosa, alkoholmeter atau piknometer untuk menentukan persen yield dan kadar etanol, serta refraktometer untuk mengukur indeks bias bioetanol. Pengujian pH dilakukan menggunakan kertas pH, pengujian titik nyala menggunakan metode Cleveland Open Cup, dan pengukuran densitas dilakukan menggunakan piknometer. ISSN 2615-5052 (Onlin. Jurnal Inovator. Vol. No. 64Ae69 Parameter Ae Parameter yang harus dianalisis Parameter seperti waktu hidrolisis, kadar glukosa, dan persen yield dianalisis Tabel 1. Data Pengamatan Proses Hidrolisis Konsentrasi Temperatur Waktu Volume Kadar karena ketiganya saling berkaitan dalam menentukan keberhasilan proses produksi Asam (AC) (Meni. Produk Glukosa Waktu hidrolisis berpengaruh langsung terhadap jumlah glukosa yang H2SO4 (N) dihasilkan, sedangkan kadar glukosa menjadi indikator efektivitas hidrolisis dan 22,37 mempengaruhi jumlah etanol yang dapat terbentuk. Persen yield dianalisis untuk 24,97 mengetahui efisiensi keseluruhan proses dan menentukan kondisi operasional yang 32,84 paling optimum. 38,18 41,80 Prosedur Penelitian Penelitian ini diawali dengan persiapan bahan baku berupa limbah pisang yang tidak layak konsumsi. Buah dicuci hingga bersih untuk menghilangkan kotoran, kemudian dipotong kecil-kecil dan diblender hingga menjadi bubur halus agar memudahkan proses selanjutnya. Sampel bubur pisang kemudian dihidrolisis menggunakan larutan HCCSOCE 2 N sebanyak 250 mL dengan variasi waktu 40, 60, 90, 100, dan 120 menit pada suhu 80AC hingga terbentuk slurry. Larutan hasil hidrolisis selanjutnya disaring menggunakan kertas saring untuk memisahkan padatan sehingga diperoleh cairan glukosa sederhana, kemudian pH diukur dengan kisaran 4 5, dan didinginkan hingga mencapai suhu ruang dengan merendam wadah sampel dalam air. Kadar glukosa dari larutan hasil hidrolisis dianalisis menggunakan metode fenol-sulfat sesuai ASTM E275. Analisis dilakukan dengan menambahkan larutan fenol 5% dan HCCSOCE pekat pada sampel, kemudian diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 490 nm. Kurva standar glukosa dengan konsentrasi tertentu digunakan sebagai acuan untuk menghitung kadar glukosa pada sampel. Selanjutnya, lima sampel terbaik hasil hidrolisis difermentasi dalam wadah terpisah menggunakan ragi Saccharomyces cerevisiae sebanyak 30 g pada masing-masing sampel. Fermentasi dilakukan secara anaerob selama 7 hari dengan suhu maksimum 36AC. Proses ini bertujuan mengonversi glukosa hasil hidrolisis menjadi etanol. Produk hasil fermentasi kemudian didistilasi menggunakan seperangkat alat distilasi sederhana dengan pengendalian suhu pada rentang 78Ae80AC untuk memisahkan etanol dari komponen lain. Distilasi dilakukan dalam dua tahap agar diperoleh bioetanol dengan kemurnian lebih tinggi. Destilat yang terkumpul kemudian ditampung, diukur volumenya, serta dianalisis kadar etanolnya menggunakan parameter fisik seperti indeks bias, densitas, dan titik nyala. Dengan metode ini, diperoleh data kuantitatif mengenai pengaruh variasi waktu hidrolisis terhadap kadar glukosa, serta kaitannya dengan volume dan konsentrasi bioetanol yang dihasilkan. Hasil dan Pembahasan Pada penelitian ini, bioetanol diperoleh dari daging pisang busuk melalui proses hidrolisis, fermentasi, dan dua tahap distilasi. Hidrolisis menggunakan katalis HCCSOCE dengan variasi waktu 40, 60, 80, 100, dan 120 menit untuk menentukan waktu optimum yang menghasilkan kadar bioetanol tertinggi. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Teknik Kimia dan Teknik Energi Politeknik Negeri Sriwijaya. (%) Tabel 2. Data % Yield Pada Proses Hidrolisis Konsentrasi Asam Temperatur H2SO4 (N) (AC) Waktu (Meni. Yield (%) 40,75 45,56 58,31 69,30 74,76 Tabel 3. Data Pengamatan Setelah Distilasi Konsentrasi Temperatur Waktu Volume Indeks Kadar Titik Densitas Asam (N) (EE) (Meni. Bioetanol Bias Etanol Nyala . /ml (%) (EE) . 1,3396 0,88667 1,3405 0,87900 1,3414 0,87099 1,3420 0,86401 1,3426 0,85899 Tabel 4. Data setelah permurnian bioetanol Volume Kadar Titik Etanol Nyala (%) (EE) 1,3537 0,80844 1,3552 0,79497 1,3567 0,78876 1,3582 0,78220 1,3591 0,77977 Konsentrasi Temperatur Waktu Asam (N) (EE) (Meni. Bioetanol . Indeks Bias Densitas . /ml Analisa waktu terhadap Kadar Glukosa Hidrolisis merupakan reaksi antara air dengan bahan seperti pati atau selulosa yang menghasilkan glukosa. Akan tetapi, jika hanya menggunakan air, proses ini berlangsung sangat lambat. Untuk mempercepat reaksi, diperlukan penambahan katalis berupa asam, misalnya asam sulfat. Asam sulfat mampu menghasilkan ion hidronium (HCEOA) dalam jumlah lebih banyak dibandingkan asam kuat lainnya, sehingga pemecahan pati menjadi glukosa dapat berlangsung lebih efektif . ISSN 2615-5052 (Onlin. Jurnal Inovator. Vol. No. 64Ae69 berlangsung lebih cepat dan efisien. Selama periode ini, sebagian besar ikatan kimia dalam pati dan selulosa berhasil diputus, menghasilkan glukosa bebas dalam jumlah lebih besar. Suhu reaksi yang stabil pada 80 AC juga membantu mempercepat laju reaksi, sementara asam sulfat berperan penting dalam mempercepat pemecahan struktur kompleks Suhu yang stabil pada 80 AC juga berperan mempercepat reaksi dengan bantuan katalis asam sulfat. Hasil tertinggi diperoleh pada waktu 120 menit, dengan kadar glukosa sebesar 41,80%. Ini menunjukkan bahwa 120 menit merupakan waktu reaksi yang paling optimal dalam kondisi percobaan ini. Namun, jika waktu reaksi diperpanjang lebih dari itu, ada risiko glukosa yang sudah terbentuk akan rusak atau berubah menjadi senyawa lain seperti furfural atau HMF . , terutama karena suhu dan kondisi asam yang tinggi. Oleh karena itu, pemilihan waktu reaksi yang tepat sangat penting agar hasil tetap maksimal tanpa merusak produk utama . Secara keseluruhan, waktu reaksi memiliki pengaruh besar terhadap hasil hidrolisis limbah pisang menjadi glukosa. Waktu 120 menit terbukti paling efektif untuk menghasilkan kadar glukosa tertinggi pada suhu 80 AC dan dengan katalis asam sulfat 2 N. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh . yang menyebutkan bahwa waktu dan suhu reaksi merupakan faktor utama dalam hidrolisis asam. Untuk tahap selanjutnya, diperlukan optimasi lebih lanjut agar proses lebih efisien dalam hal energi, biaya, dan kualitas hasil. Analisa Waktu Terhadap % yield pada proses hidrolisis Gambar 3. Grafik Kurva Baku Kadar Glukosa dan Grafik Waktu Hidrolisis dengan kadar Glukosa Data kadar glukosa pada grafik diatas diperoleh dengan memasukkan nilai absorbansi . hasil pengujian sampel glukosa ke dalam persamaan regresi linear y = 0,0252x 0,1437. Kurva standar glukosa ini diperoleh dengan memplot nilai konsentrasi standar glukosa . alam satuan pp. terhadap nilai absorbansi. yang diukur menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis. Nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,9948 menunjukkan bahwa terdapat hubungan linier yang kuat antara konsentrasi glukosa dan absorbansi sehingga persamaan regresi tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan kadar glukosa dalam sampel uji dengan tingkat akurasi yang tinggi. Grafik pada gambar menunjukkan hubungan antara waktu hidrolisis dengan kadar glukosa yang dihasilkan dari limbah pisang mengunakan katalis asam sulfat (HCCSOCE) 2N pada suhu 80 AC. Berdasarkan grafik tersebut, terlihat bahwa semakin lama waktu hidrolisis, kadar glukosa yang dihasilkan cendurung meningkat. Reaksi hidrolisis yang terjadi secara kimiawi memecah komponen polisakarida seperti pati dan selulosa menjadi gula sederhana . yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dari waktu ke waktu . Pada waktu hidrolisis 40 menit, kadar glukosa yang terbentuk baru mencapai 22,37 %. Setelah waktu reaksi ditambah menjadi 60 menit, kadar glukosa naik menjadi 24,97 %. Ini menunjukkan bahwa reaksi hidrolisis sudah mulai bekerja 34 tetapi belum maksimal. Dalam waktu reaksi yang masih singkat ini, komponen penyusun utama limbah pisang belum sepenuhnya terurai. Molekul air dan asam sulfat memulai memutus ikatan dalam struktur tersebut, tetapi belum cukup lama untuk menghasilkan glukosa dalam jumlah tinggi. Kenaikan kadar glukosa Gambar 4. Grafik Waktu Hidrolisis Dengan Kadar Glukosa Gambar 4. Menunjukkan hubungan waktu hidrolisis dengan yield glukosa dari pati limbah pisang. Yield meningkat signifikan seiring bertambahnya waktu hingga 40 hingga 120 menit, yaitu dari 40,75 % menjadi 74,76%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu reaksi, semakin banyak rendah, sedangkan waktu yang terlalu lama berpotensi menimbulkan degradasi glukosa menjadi HMF. Dalam penelitian ini, hingga 120 menit belum terjadi penurunan yield, sehingga waktu tersebut masih optimal. Efisiensi hidrolisis juga dipengaruhi suhu dan konsentrasi asam, dimana pada 80AC dan HCCSOCE 2N proses pemutusan rantai polisakarida berlangsung efektif. Dengan demikian, waktu 120 menit dapat dianggap sebagai titik optimal, meskipun untuk skala industri perlu evaluasi ulang agar proses tetap efisien dan ekonomis. yang lebih besar terjadi pada waktu 80 dan 100 menit, masing-masing menjadi 32,84% dan 38,18%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa reaksi ISSN 2615-5052 (Onlin. Jurnal Inovator. Vol. No. 64Ae69 Analisa Kadar Bioetanol minimum untuk terbakar semakin rendah. Pada kadar rendah . Ae28%), titik nyala tinggi akibat dominasi air yang menghambat penguapan etanol. Namun, setelah kadar etanol >65%, titik nyala menurun signifikan karena etanol mendominasi campuran. Kondisi ini menandakan bahwa bioetanol berkadar tinggi lebih mudah terbakar sehingga membutuhkan penanganan khusus, sedangkan kadar rendah lebih stabil namun kurang efisien sebagai bahan bakar. Gambar 5. Grafik Hubungan Kadar Glukosa dan Kadar Bioetanol Grafik 5 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kadar glukosa hasil hidrolisis dengan kadar bioetanol yang dihasikan setelah proses Semakin tinggi kadar glukosa hasil hidrolisis , maka semakin tinggi pula kadar bioetanol yang dihasilkan. Pada kadar glukosa mencapai 22,37% kadar etanol yang dihasilkan adalah 18 %. Namun, saat kadar glukosa meningkat mendekati 42% kadar bioetanol yang dihasilkan juga naik menjadi 28%. Hal ini menunjukkan bahwa glukosa hasil hidrolisis berperan sebagai sumber utama energi bagi mikroorganisme seperti Saccharomyces cerevisiae dalam proses fermentasi. Glukosa akan diubah menjadi etanol melalui jalur metabolisme tertentu, sehingga semakin banyak glukosa yang tersedia, semakin besar pula peluang terbentuknya Gambar 7. Analisa Titik Nyala Hasil Distilasi Gambar 8. Grafik Kadar Bioetanol dengan desnsitas hasil distilasi Gambar 6. Grafik Hubungan Kadar Bioetanol Setelah Permurnian Grafik 7. menunjukkan bahwa proses pemurnian bioetanol memberikan peningkatan kadar etanol secara signifikan. Kadar bioetanol sebelum pemurnian berada kisaran 18 % hingga 28%, sementara setelah proses pemurnian, kadar bioetanol meningkat menjadi 65% hingga 83%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa distilasi sederhana cukup efektif dalam memisahkan etanol dari campuran air dan senyawa lainnya. Distilasi sederhana bekerja berdasarkan perbedaan titik didih di mana etanol memiliki titik didih lebih rendah . ekitar 78,5AC) dibandingkan air . AC). Ketika campuran dipanaskan, etanol akan menguap lebih dulu dan kemudian dikondensasikan menjadi cairan yang mengandung etanol lebih Meskipun belum menghasilkan etanol murni, metode ini cukup baik digunakan pada tahap awal pemurnian, terutama dalam skala laboratorium atau industri kecil. Gambar 8. menunjukkan hubungan kadar etanol dengan densitas pada dua tahap distilasi. Semakin tinggi kadar etanol, densitas menurun, dari 0,88667 g/ml pada 18% menjadi 0,77977 g/ml pada 83%. Hal ini sesuai sifat fisik etanol . ,789 g/m. yang lebih rendah dari air . g/m. , sehingga campuran dengan kadar etanol rendah masih memiliki densitas tinggi karena dominasi air. Penurunan signifikan mulai terjadi di atas 65%, menandakan keberhasilan proses pemurnian. Pada kadar 75Ae83%, densitas mendekati standar bioetanol berkualitas tinggi . ,78Ae0,80 g/m. , yang menunjukkan kemurnian, kestabilan, dan efisiensi energi. Simpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian adalah Variasi waktu hidrolisis memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kadar glukosa. Semakin lama waktu hidrolisis, semakin tinggi kadar glukosa yang dihasilkan, dengan nilai tertinggi mencapai 41,80 % kadar glukosa pada 120 menit. Persentase yield glukosa dari pati menunjukkan peningkatan seiring bertambahnya waktu hidrolisis, dimulai dari 40,75% pada 40 menit hingga mencapai 74,76% pada 120 menit, menunjukkan efektivitas konversi pati menjadi glukosa. Kondisi optimum dalam penelitian ini diperoleh pada waktu hidrolisis 120 menit, dengan konsentrasi asam sulfat 2 N dan suhu 80AC. Ucapan terima kasih Analisa Titik Nyala (Flash Poin. dan Analisa Densitas Gambar 7 menunjukkan bahwa peningkatan kadar etanol berbanding terbalik dengan titik nyala. Pada kadar 18% titik nyala tercatat sekitar 66AC, sedangkan pada 83% menurun hingga 37AC. Hal ini terjadi karena etanol sebagai senyawa volatil lebih mudah menghasilkan uap, sehingga suhu Judul Penulis mengucapkan terima kasih kepada Politeknik Negeri Sriwijaya atas dukungan fasilitas dan pendanaan yang diberikan, serta kepada seluruh dosen, rekan mahasiswa, dan pihak-pihak lain yang telah membantu hingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. ISSN 2615-5052 (Onlin. Jurnal Inovator. Vol. No. 64Ae69 Referensi