Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 DETERMINASI KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI PUSKESMAS TERARA: ANALISIS KORELASI FAKTOR-FAKTOR PENGARUH Fitriwati Sovia1*. Rizky Puji Anjani1. Leny Ramadhan1 Program Studi Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Hamzanwadi *Email: fitriwatisovia@hamzanwadi. Artikel diterima: 02 Agustus 2024. Disetujui: 17 Oktober 2024 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan karena tidak dapat disembuhkan secara permanen. Kepatuhan terhadap rencana pengobatan sangat penting untuk mencegah penurunan kondisi Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien diabetes mellitus tipe II di Puskesmas Terara. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 151 pasien diabetes mellitus tipe II, dengan sampel sebanyak 35 orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Fisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti jenis kelamin (P=0,. , pekerjaan (P=0,. , pengetahuan (P=0,. , sikap (P=0,. , motivasi (P=0,. , dan dukungan keluarga (P=0,. memiliki korelasi signifikan dengan kepatuhan minum obat. Sebaliknya, usia, pendidikan, dan dukungan tenaga kesehatan tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan kepatuhan minum obat. Kesimpulannya, faktor-faktor seperti jenis kelamin, pekerjaan, pengetahuan, sikap, motivasi, dan dukungan keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan minum obat pada pasien diabetes mellitus tipe II di Puskesmas Terara. Kata kunci: Diabetes mellitus tipe II, kepatuhan minum obat, faktor pengaruh. Puskemas Terara. ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic disease that requires ongoing management because it cannot be permanently cured. Adherence to the treatment plan is crucial to prevent deterioration in physical condition. This study aims to analyze the correlation between factors affecting medication adherence in patients with type II diabetes mellitus at Terara Community Health Center. This research uses an observational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consists of 151 patients with type II diabetes mellitus, with a sample of Fitriwati Sovia, dkk | 357 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 35 individuals selected through purposive sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed with Fisher's test. The results indicate that factors such as gender (P=0. , occupation (P=0. , knowledge (P=0. , attitude (P=0. , motivation (P=0. , and family support (P=0. have a significant correlation with medication adherence. Conversely, age, education, and healthcare support did not show a significant correlation with medication adherence. conclusion, factors such as gender, occupation, knowledge, attitude, motivation, and family support significantly influence medication adherence in patients with type II diabetes mellitus at Terara Community Health Center. Keywords: Type II diabetes mellitus, medication adherence, influencing factors. Terara Community Health Center PENDAHULUAN Australia India Diabetes mellitus (DM) adalah menderita DM. Sementara itu, di Asia penyakit kronis yang mengalami Tenggara, tercatat sekitar 159 juta peningkatan prevalensi, khususnya di kasus, dengan angka tertinggi di negara-negara berkembang Malaysia (Dewi, . Indonesia Penyebab utama peningkatan . 3%). Di Nusa Tenggara Barat kasus DM adalah gaya hidup yang (NTB), prevalensi DM meningkat dari kurang sehat, seperti mengonsumsi 9% . 5%-2. makanan instan, kurangnya aktivitas . , menempatkan NTB di urutan fisik, serta pola tidur yang tidak teratur ke-23 nasional (Usnaini et al. , 2. (Rasdianah et al. , 2. DM sendiri Di Kecamatan Terara, terdapat 822 adalah penyakit yang tidak dapat penderita DM, dan Puskesmas Terara disembuhkan, dan jika kadar glukosa melayani 455 diantarnya, dengan tidak terkendali, hal ini akan memicu cakupan pelayanan mencapai 103,6% komplikasi serius seperti gangguan (Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, 2. (Kemenkes RI. Pengobatan merupakan salah satu elemen kunci dalam pengelolaan Prevalensi DM secara global DM yang sangat terkait dengan tingkat mengalami peningkatan. Data dari International Federation menurunkan efektivitas pengobatan . , sekitar 5. 1% orang dewasa di dan memperburuk kondisi Kesehatan Diabetes Ketidakpatuhan Fitriwati Sovia, dkk | 358 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 pasien (Polonsky & Henry, 2. Selain itu, motivasi dan pengetahuan mengukur tingkat pengetahuan, sikap, motivasi, dukungan keluarga, serta memainkan peran penting dalam dukungan dari petugas kesehatan, . Kuesioner glukosa darah (Oktaviani et al. , 2. Berdasarkan prevalensi DM di wilayah tersebut, . Kuesioner terhadap pengobatan. Prosedur Penelitian Pengambilan sampel dilakukan pada pasien DM tipe II di Puskesmas mengidentifikasi faktor-faktor yang Terara selama bulan November 2023 berkaitan dengan kepatuhan minum obat pada pasien DM tipe II di Beberapa kriteria inklusi Puskesmas Terara. Menurut Brannon yang digunakan mencakup: usia Ou 25 et al. , derajat keparahan tahun, telah terdiagnosis DM tipe II, penyakit, ciri-ciri pengobatan, serta menjalani pengobatan rawat jalan, faktor individu memiliki pengaruh serta rutin melakukan kontrol minimal dua kali. Selain itu, peserta yang setuju menandatangani persetujuan tertulis METODE PENELITIAN . nformed consen. Sementara kriteria Instrumen Penelitian eksklusi mencakup responden yang Studi kuesioner sebagai alat pengumpulan data, diterapkan dalam desain cross- tidak melengkapi kuesioner atau yang mengundurkan diri dari penelitian. Langkah-langkah sectional dan metode observasional meliputi: . Penyusunan Instrumen. Instrumen penelitian terdiri Kuesioner mencakup 7 variabel untuk dari dari beberapa kuesioner, meliputi: mengukur kepatuhan, yaitu informasi . Formulir berisi penjelasan bagi . Formulir motivasi, dukungan dari keluarga, . nformed dukungan dari petugas kesehatan, consen. , . Formulir karakteristik serta tingkat kepatuhan minum obat. Fitriwati Sovia, dkk | 359 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Untuk mengukur kepatuhan, kami untuk setiap variabel. Pada tahap mengadaptasi konsep dari Morisky Medication 8-item Adherence Scale (MMAS-. dengan modifikasi sesuai korelasi antara variabel independen konteks lokal, menggunakan skala dan dependen. Tingkat kepercayaan Guttman tanpa menggunakan item asli yang digunakan adalah 95% dengan secara langsung. Uji etik dilakukan tingkat kesalahan () sebesar 5%. oleh Fakultas Kedokteran Universitas Tabel 2x2 tidak boleh berisi satu sel Islam dengan nilai kurang dari 5, dan jumlah Pengujian validitas dan reliabilitas sel tidak boleh melebihi 20% dari seluruh sel dalam tabel yang lebih besar dari 2x2. Jika kondisi ini tidak Al-Azhar Mataram. memiliki karakteristik serupa dengan penelitian, namun tidak Chi-Square Fisher Nilai p>0,05 termasuk dalam sampel penelitian mengindikasikan bahwa tidak ada . Pengumpulan Data. Data hubungan yang signifikan antara kedua variabel, sementara nilai p<0,05 kuesioner langsung kepada pasien menunjukkan adanya hubungan yang rawat jalan di Puskesmas Terara. Peneliti memantau langsung pengisian kuesioner untuk memastikan data HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini telah memperoleh izin etik dengan nomor 190/EC- Analisis Data 02/FK06/UNIZAR/XII/2023. Data dianalisis dalam beberapa Sebanyak 42 item kuesioner telah diuji Pertama, analisis univariat validitas dan reliabilitasnya. Hasil menunjukkan 8 item valid untuk karakteristik variabel independen dan menggambarkan distribusi frekuensi dukungan keluarga, dukungan petugas dan persentase dari skor kuesioner Fitriwati Sovia, dkk | 360 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Kuesioner tersebut dinyatakan reliabel kepatuhan minum obat (P=1. pada semua variabel. Hasil ini mengindikasikan bahwa ada Pengaruh usia terhadap kepatuhan faktor lain yang mungkin lebih minum obat Berdasarkan Tabel I, sebagian pasien seperti aktivitas sehari-hari besar pasien berusia 45-59 tahun yang padat atau prioritas lain dalam . %). Tingkat kepatuhan tertinggi kehidupan mereka. dalam pengobatan ditemukan pada Selain itu, ada kemungkinan pasien berusia di atas 60 tahun bahwa beberapa pasien terlalu sibuk . ,4%). Pasien di kelompok usia ini sehingga sering mengabaikan atau lupa tentang jadwal minum obat mereka (Syatriani et al. , 2. Studi pasien yang berusia 45-59 tahun, lain dari Srikartika et al. juga kemungkinan disebabkan oleh tingkat tidak menemukan korelasi antara usia kesibukan yang rendah, sehingga dan kepatuhan minum obat pada mereka dapat lebih fokus pada kondisi pasien DM tipe II, namun studi dari kesehatan dan pengobatan sehari-hari. Della et al. menunjukkan Berdasarkan hasil uji Fisher, kepatuhan terhadap pengobatan. signifikan antara variabel usia dan Tabel 1. Tabulasi Silang antara Usia dan Kepatuhan Minum Obat Usia 45 Ae 59 >60 Jumlah Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Total P value Pengaruh jenis kelamin terhadap kepatuhan minum obat . 8%). Jika dibandingkan dengan Tabel II menunjukkan bahwa laki-laki, perempuan cenderung lebih Sebagian besar pasien yang menjalani disiplin dalam menjalani pengobatan kontrol adalah perempuan . 3%). dan lebih perhatian terhadap kondisi Tingkat kepatuhan minum obat lebih Uji Fisher Fitriwati Sovia, dkk | 361 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 menunjukkan hubungan signifikan Hasil ini sejalan antara jenis kelamin dan kepatuhan dengan penelitian lain dari Della et al. (P=0. Kehidupan hubungan positif antara jenis kelamin cenderung berhubungan dengan jenis dan kepatuhan pengobatan. Namun, studi yang dilakukan oleh Sammulia et cenderung lebih memperhatikan dan . tidak menunjukkan adanya menjaga Kesehatan (Novian, 2. korelasi yang berarti antara jenis Perempuan juga lebih aktif dalam menjalani pengobatan. Tabel 2. Tabulasi Silang antara Jenis Kelamin dan Kepatuhan Minum Obat Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Jumlah Pengaruh terhadap kepatuhan minum obat Mayoritas Total P value (P=0. Ketiadaan korelasi ini mungkin disebabkan oleh dengan pendidikan rendah yang tetap Pendidikan rendah . ,6%). Tabel i menggambarkan bahwa pasien dengan pengobatan DM tipe II, sedangkan pasien berpendidikan tinggi tidak selalu memahami pengobatan dan pengobatan . ,8%). Dalam hal ini, pencegahan, serta efek samping dari cenderung lebih mampu menjaga pola (Probosiwi, 2. Hal ini karena hidup sehat karena lebih paham dan program pengelolaan penyakit kronis sadar akan kesehatannya. Uji Fisher menunjukkan antara Puskesmas Terara memberikan perhatian khusus kepada tingkat pendidikan dan kepatuhan tidak ada korelasi yang signifikan memberikan edukasi dan pencegahan Fitriwati Sovia, dkk | 362 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 efek samping pengobatan. Hasil pasien dalam menjalani pengobatan untuk DM tipe II. Namun, penelitian penelitian Della et al. di mana Ningrum . menunjukkan adanya juga tidak menemukan korelasi antara korelasi dari keduanya. tingkat pendidikan dan kepatuhan Tabel 3. Tabulasi Silang antara Tingkat Pendidikan dan Kepatuhan dalam Minum Obat Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Pendidikan Tinggi Rendah Jumlah Pengaruh terhadap kepatuhan minum obat Mayoritas pasien tidak bekerja . ,6%). Tabel P value secara teratur. Penderita diabetes mengabaikan atau melupakan jadwal minum obat mereka karena terlalu bahwa pasien yang tidak bekerja sibuk dengan pekerjaan (Mokolomban menunjukkan Tingkat kepatuhan yang et al. , 2. Kesibukan kerja juga menghalangi mereka untuk menjalani Total . ,3%). Kesibukan bekerja kurang mampu melakukan kontrol atau pengobatan rutin (Diani et , 2. kontrol dan minum obat secara teratur. Penemuan ini sesuai dengan sedangkan pasien yang tidak bekerja studi dari Akrom et al. , yang memiliki waktu lebih luang untuk menunjukkan bahwa ada korelasi merawat kesehatan mereka. antara kepatuhan minum obat dan Hasil uji Fisher menunjukkan status pekerjaan pada pasien diabetes mellitus tipe II. Namun, hasil ini pekerjaan dan kepatuhan minum obat (P=0. Mayoritas pasien adalah dilakukan Srikartika et al. yang ibu rumah tangga, sehingga mereka menyimpulkan status pekerjaan tidak memiliki lebih banyak waktu untuk berkorelasi dengan kepatuhan. menjaga kesehatan dan minum obat Fitriwati Sovia, dkk | 363 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 4. Tabulasi Silang antara Status Bekerja dengan Kepatuhan Minum Obat Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Status Bekerja Bekerja Tidak Bekerja Jumlah Hubungan Pengetahuan Kepatuhan Minum Obat P value pasien tentang penyakit kronis seperti diabetes mellitus memastikan bahwa Berdasarkan Tabel V, sebanyak 77,1% Total pasien DM tipe II di Puskesmas Terara memiliki pengetahuan yang tinggi pengetahuan yang baik. Kepatuhan tentang diabetes mellitus. Hal ini minum obat paling tinggi tercatat pada kelompok pasien dengan pengetahuan tentang penyakit mereka, yang pada tinggi . ,5%). akhirnya dapat berpengaruh pada Hasil uji Fisher menunjukkan tingkat pengetahuan pasien secara Hasil ini sejalan dengan signifikan mempengaruhi kepatuhan temuan Hanifa & Mentari . , di (P=0. Prolanis terjadi peningkatan pengetahuan yang informasi tentang pengobatan kepada signifikan pada pasien. Tabel 5. Tabulasi Silang antara Pengetahuan dengan Kepatuhan Minum Obat Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Pengetahuan Tinggi Rendah Jumlah Total P value Pengetahuan pasien tentang DM menjaga kadar glukosa darah tetap terkontrol secara teratur. Terdapat memungkinkan mereka memahami aspek-aspek penting dari kondisi pengetahuan dan perilaku seseorang (Sovia et al. , 2. sehingga dengan yang tinggi mengonsumsi obat yang diresepkan, menghindari potensi komplikasi, dan penyakit mereka umumnya akan lebih Fitriwati Sovia, dkk | 364 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 patuh dalam minum obat (Syatriani et Tombokan , 2. Hasil ini sejalan dengan penderita DM tipe II berperan penting dalam kepatuhan terhadap pengobatan Tombokan et al. yang juga jangka panjang. Jika sikap mereka menemukan korelasi antara keduanya. Pengaruh Ningrum kepatuhan minum obat pengobatan juga akan meningkat. Hasil Tabel VI menunjukkan 74,3% pasien memiliki sikap yang sehingga target pengobatan akan lebih Kepatuhan minum obat tertinggi Hasil ini sejalan dengan studi . ,6%) terlihat pada pasien dengan Tombokan . Hasil Fisher menemukan adanya korelasi antara sikap dan kepatuhan pengobatan. antara sikap dan kepatuhan dalam Namun, hasil ini berbeda dengan hasil pengobatan (P=0. Banyak pasien penelitian Oktaviani et al. yang menyatakan tidak ada keterkaitan memperhatikan apa yang mereka pengobatan diabetes mellitus. Menurut Tabel 6. Tabulasi Silang antara Sikap dengan Kepatuhan Minum Obat Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Sikap Baik Kurang Baik Jumlah Pengaruh kepatuhan minum obat Mayoritas . ,0%) memiliki motivasi yang tinggi. Tabel Total P value pengobatan (P=0. Motivasi VII menunjukkan motivasi tinggi penting dalam mendorong seseorang . ,6%). Hasil untuk bertindak sesuai dengan tujuan Fisher yang ingin dicapai. Seseorang akan Fitriwati Sovia, dkk | 365 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 lebih bertahan lama jika mereka terus-menerus. bertindak berdasarkan motivasi diri . aktor Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Tombokan et al. korelasi antara motivasi pasien dan Tindakan dan perilaku seseorang kepatuhan dalam pengobatan. Namun, berbeda dengan penelitian Ningrum motivasi mereka (Risti & Isnaeni, . yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara motivasi Meskipun yang menemukan adanya penelitian ini memiliki motivasi yang terkadang merasa bosan minum obat Tabel 7. Tabulasi Silang antara Motivasi delngan Kelpatuhan Minum Obat Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Motivasi Tinggi Rendah Jumlah Pengaruh terhadap kepatuhan minum obat Total P value cenderung untuk lebih mematuhi Penelitian Hal ini disebabkan oleh 71,4% persepsi pasien bahwa keluarga secara menerima dukungan dari keluarga. konsisten mengingatkan mereka untuk Pasien yang menerima dukungan kepatuhan minum obat lebih tinggi . ,0%) yang ditunjukkan pada Tabel mendengarkan keluhan mereka, dan Vi. Hasil uji Fisher menunjukkan memahami perasaan mereka selama adanya korelasi antara dukungan menjalani pengobatan (Diani et al. keluarga dan kepatuhan dalam minum obat (P=0. Pasien Temuan ini konsisten dengan Ningrum Fitriwati Sovia, dkk | 366 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 . menunjukkan berbeda, di mana tidak ada relevansi Namun. Oktaviani kepatuhan pasien terhadap terapi obat. Tabel 8. Tabulasi Silang antara Dukungan Keluarga delngan Kelpatuhan Minum Obat Minum Obat Dukungan Keluarga Mendukung Tidak Mendukung Jumlah Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Pengaruh minum obat Total P value petugas kesehatan dan kepatuhan (P=0. Meskipun Hasil Tabel IX menunjukkan langsung antara kedua variabel ini, bahwa 94,3% pasien mendapatkan kesadaran pasien terhadap pengobatan dukungan dari petugas kesehatan. penyakit kronis dapat menimbulkan Kepatuhan tertinggi . ,7%) tercatat ketakutan dan mendorong mereka pada pasien yang menerima dukungan untuk mencari pengobatan alternatif. ini, di mana tenaga kesehatan biasanya Faktor lain juga dapat mempengaruhi pentingnya pengobatan DM tipe II, penggunaan obat tradisional dapat baik secara verbal maupun melalui membuat pasien mengabaikan obat informasi tertulis. yang diresepkan dokter (Adisa et al. Hasil uji Fisher menunjukkan Alfian et al. , 2. tidak ada korelasi antara dukungan Tabel 9. Tabulasi Silang antara Dukungan Petugas Kesehatan delngan Kelpatuhan Minum Obat Dukungan Petugas Kesehatan Mendukung Tidak Mendukung Jumlah Sesuai Kepatuhan minum obat Patuh Tidak Patuh Total P value Hestiana . bahwa tidak adanya Fitriwati Sovia, dkk | 367 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 357-370 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 korelasi antara kepatuhan minum obat dan peran petugas kesehatan. Namun. Ningrum menemukan adanya korelasi antara KESIMPULAN Faktor-faktor yang terbukti mempengaruhi kepatuhan minum obat pasien diabetes mellitus tipe II di Puskesmas Terara pengobatan mencakup jenis kelamin, status pekerjaan, tingkat pengetahuan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih yang mendalam disampaikan kepada semua pihak, khususnya kepada Program Studi Farmasi Fakultas Kesehatan Universitas Puskesmas Hamzanwadi Terara, mereka selama proses penelitian ini hingga selesai. DAFTAR PUSTAKA