Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Kepatuhan Lansia dalam Melakukan Kontrol Hipertensi di Rumah Sakit Kota Kediri Giovanni Iga Firmanda1* | Rita Dewi Sunarno1 | Wahyu Nur Pratiwi1 1 Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri * Corresponding Author: giovanni. if@iik. ARTICLE INFORMATION ABSTRACT Article history Received 12 September 2025 Revised 27 September 2025 Accepted 30 September 2025 Keywords Hypertension, elderly Hypertension is one of the most common chronic diseases among older adults and requires long-term management. Adherence to regular follow-up visits is crucial to prevent complications and reduce mortality risk in this Therapeutic communication by nurses plays a key role in fostering trust, providing clear health information, and motivating patients to comply with treatment regimens. This study aimed to analyze the relationship between nursesAo therapeutic communication and treatment adherence among elderly patients with hypertension at Kediri City Hospital. This research employed a correlational analytic design with a crosectional approach. The study population comprised elderly patients receiving hypertension care at the internal medicine outpatient clinic. total of 58 respondents were recruited using accidental sampling according to inclusion criteria. Data were collected using a validated and reliable therapeutic communication questionnaire and the Hill-Bone Compliance Scale. Statistical analysis was conducted using the Spearman Rank correlation test with a significance level of 0. 000 and a correlation coefficient of r = 0. The findings revealed that most respondents perceived nursesAo therapeutic communication as good, and the majority demonstrated a high level of adherence to hypertension treatment. Statistical analysis confirmed a strong and significant positive correlation between nursesAo therapeutic communication and treatment adherence among elderly patients with hypertension. In conclusion, effective therapeutic communication by nurses is significantly associated with increased adherence to hypertension treatment. The practical implication of this finding is the need to prioritize therapeutic communication training for nurses as part of hypertension management strategies in elderly care, aiming to improve adherence and prevent long-term complications. ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang banyak dialami lansia dan memerlukan pengobatan jangka panjang. Kepatuhan lansia dalam melakukan kontrol rutin menjadi faktor penting untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko mortalitas. Komunikasi terapeutik perawat berperan dalam membangun hubungan saling percaya, memberikan informasi yang jelas, serta memotivasi pasien agar patuh pada regimen pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan lansia dalam melakukan kontrol hipertensi di Rumah Sakit Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah pasien lansia yang menjalani kontrol hipertensi di poliklinik penyakit dalam. Sampel diambil dengan teknik accidental sampling sesuai kriteria inklusi didapatkan sejumlah 58 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner komunikasi terapeutik perawat dan kepatuhan kontrol hipertensi yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan Uji korelasi Spearman Rank dengan p-value 0,000 . = 0,. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik, dan tingkat kepatuhan kontrol hipertensi responden juga tergolong tinggi. Uji statistik menunjukkan Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 Kata Kunci Hipertensi, kepatuhan lansia kontrol pengobatan, komunikasi terapeutik http://ojsjournal. adanya hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan lansia dalam melakukan kontrol hipertensi, dengan arah hubungan positif. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin baik komunikasi terapeutik perawat, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan lansia dalam melakukan kontrol hipertensi. Implikasi praktis dari temuan ini adalah pentingnya pelatihan komunikasi terapeutik bagi perawat sebagai bagian dari strategi manajemen hipertensi pada lansia untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan dan mencegah komplikasi jangka panjang. Indonesian Health Science Journal Website: http://ojsjournal. E-mail: Pendahuluan Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat seiring bertambahnya usia, khususnya pada populasi lanjut usia (Pobrotyn et al. , 2. Lansia merupakan fase akhir siklus kehidupan yang ditandai dengan meningkatnya kerentanan terhadap masalah fisik, psikis, sosial, dan spiritual. Di Indonesia, lansia dikategorikan sebagai individu berusia Ou60 tahun dan termasuk kelompok dengan risiko tinggi mengalami penyakit degeneratif seperti hipertensi. Penyakit ini kerap muncul tanpa gejala namun berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung (Izeogu & Kalinowski. J Schoenthaler, 2. Rendahnya tingkat kepatuhan terhadap pengobatan yang belum mencapai 50% juga memperburuk kondisi ini, mengingat kontrol tekanan darah dan konsumsi obat antihipertensi secara rutin merupakan faktor utama dalam mencegah komplikasi dan kematian akibat hipertensi. Secara global, hipertensi menjadi masalah kesehatan dengan beban yang terus World Health Organization . melaporkan bahwa 1,28 miliar orang dewasa di dunia menderita hipertensi dan jumlah ini diproyeksikan meningkat hingga 1,5 miliar pada Data World Health Federation . juga menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi meningkat drastis dari 600 juta kasus pada tahun 1980 menjadi 1,3 miliar kasus pada Di Indonesia. Riskesdas . mencatat prevalensi hipertensi pada kelompok usia Ou60 tahun sebesar 32,6%, dengan angka tertinggi pada usia Ou80 tahun . ,4%), dan lebih banyak terjadi pada perempuan (Laksono et al. , 2021. Riskesdas, 2. Di tingkat provinsi. Jawa Timur menunjukkan prevalensi 36,3% (BPS, 2. , dan laporan Dinas Kesehatan Jawa Timur memperkirakan jumlah penderita mencapai 11,6 juta jiwa sejak 2018 2018 (Suara Surabaya, 2. Secara lokal. Dinas Kesehatan Kota Kediri . 055 lansia menderita hipertensi, dengan 135 pasien tercatat menjalani perawatan di poli penyakit dalam RSUD Kota Kediri pada periode JanuariAeSeptember 2024. Angka-angka ini menunjukkan bahwa hipertensi masih menjadi masalah signifikan pada kelompok lansia, baik di tingkat global, nasional, maupun daerah. Meskipun prevalensi hipertensi tinggi, penelitian lokal yang secara khusus menilai peran komunikasi terapeutik perawat terhadap kepatuhan lansia dalam kontrol hipertensi di fasilitas rujukan sekunder, seperti RSUD Kota Kediri, masih terbatas. Padahal, komunikasi efektif antara perawat dan pasien berperan penting dalam membangun kepercayaan, meningkatkan motivasi, serta mendorong kepatuhan terhadap terapi. Hasil wawancara pendahuluan dengan perawat di RSUD Kota Kediri menunjukkan bahwa sekitar 20% pasien lansia hipertensi belum optimal dalam menjalani pengobatan, sebagian besar hanya datang ketika muncul gejala. Lansia juga melaporkan kendala transportasi, minimnya dukungan keluarga, dan pengalaman pelayanan yang dirasakan kurang ramah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa komunikasi terapeutik belum sepenuhnya diintegrasikan dalam praktik keperawatan sehari-hari. Perawat cenderung berfokus pada aspek teknis pelayanan dibandingkan membangun komunikasi interpersonal yang empatik dan informatif, yang Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. berdampak pada rendahnya keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan pengobatan. Fenomena ini sejalan dengan temuan Amir et al . yang menekankan pentingnya komunikasi terapeutik untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi. Secara teoretis, komunikasi terapeutik merupakan bentuk interaksi profesional yang memungkinkan perawat untuk mendengarkan, memberikan informasi, serta membangun hubungan saling percaya dengan pasien. Bukti empiris menunjukkan bahwa komunikasi efektif, termasuk pendekatan Motivational Interviewing, dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan (Alhakami et al. , 2. Selain itu. Supriatin et al . menyebutkan bahwa komunikasi terapeutik membantu menurunkan kecemasan dan meningkatkan pemahaman pasien terhadap kondisi yang dialaminya. Sementara itu. Namwong et al . menegaskan bahwa komunikasi terapeutik juga berdampak pada kepuasan pasien terhadap pelayanan Namun demikian, bukti empiris terkait efektivitas komunikasi terapeutik perawat terhadap kepatuhan lansia hipertensi di konteks fasilitas rujukan sekunder Indonesia masih minim, terutama dalam mengontrol faktor perancu seperti dukungan keluarga dan durasi Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan lansia dalam kontrol hipertensi di RSUD Kota Kediri. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilaksanakan di Poli penyakit dalam RSUD Gambiran Kota Kediri pada periode 1 JuliAe30 Juli Persetujuan etik penelitian diperoleh dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan dengan nomor 704/FIK/EP/VII/2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien lansia hipertensi yang berobat ke poli tersebut sebanyak 135 orang pada periode JanuariAeSeptember 2024. Sampel penelitian ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5% dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 58 responden, dengan tingkat respons sebesar 42,9% dari total populasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan justifikasi bahwa lansia yang datang berobat secara rutin dan memenuhi kriteria inklusi dianggap representatif untuk menggambarkan karakteristik pasien hipertensi di fasilitas pelayanan sekunder. Kriteria inklusi meliputi pasien lansia berusia 60Ae75 tahun, mampu berkomunikasi, tidak mengalami gangguan kognitif, dan bersedia menjadi Kriteria eksklusi meliputi pasien dengan demensia berat, kondisi akut yang mengganggu pengisian kuesioner, serta pasien yang tidak hadir selama masa penelitian. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner komunikasi terapeutik berdasarkan teori Stuart . yang terdiri dari 15 item dengan skoring tiga kategori, serta kuesioner Hill-Bone Compliance Scale yang dikembangkan oleh (Kim et al. , 2. untuk mengukur kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi sebanyak 14 item. Uji validitas kuesioner komunikasi terapeutik menunjukkan seluruh item valid dengan nilai r > 0,361 dan reliabilitas sangat tinggi dengan CronbachAos Alpha 0,931, sedangkan kuesioner Hill-Bone juga valid dengan nilai r > 0,361 dan reliabilitas CronbachAos Alpha 0,897. Sebelum dilakukan analisis inferensial, data diuji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel < 50. Hasil menunjukkan data tidak berdistribusi normal, sehingga analisis hubungan menggunakan uji korelasi Spearman Rank, yang sesuai untuk data ordinal atau non-parametrik. Analisis dilakukan menggunakan SPSS versi 25. Penelitian ini juga telah memperoleh persetujuan etik dan informed consent dari seluruh responden, sehingga memenuhi prinsip etik penelitian meliputi autonomy, beneficence, non-maleficence, dan justice. Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Hasil dan Pembahasan Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia 60Ae 74 tahun . ,3%), berjenis kelamin perempuan . ,7%), serta tidak bekerja . ,7%), yang menggambarkan karakteristik dominan pasien lansia hipertensi. Tabel 1. Karateristik Responden Kategori Jumlah . Persentase (%) Usia 60-74 Tahun 75-80 Tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata skor komunikasi terapeutik pada lansia hipertensi adalah 42,8 dengan standar deviasi 3,6, median 43,0, skor minimum 35, dan maksimum 50. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik hingga sangat baik. Sementara itu, rata-rata skor kepatuhan pengobatan adalah 45,5 dengan standar deviasi 4,2, median 46,0, skor minimum 34, dan maksimum 52. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pengobatan responden adalah tinggi. Tabel 2. Analisis Deskriptif Skor Komunikasi Terapeutik dan Kepatuhan Pengobatan Variabel Komunikasi terapeutik Kepatuhan pengobatan Mean Median Min Max Tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas responden yang menerima komunikasi terapeutik perawat dalam kategori efektif memiliki tingkat kepatuhan pengobatan yang tinggi . ,2%), . dari 52 responde. , sedangkan pada kelompok komunikasi tidak efektif, seluruh responden . berada pada kategori tidak patuh. Kondisi ini mencerminkan distribusi data yang sangat timpang antara dua kelompok, dengan dominasi responden dalam kelompok komunikasi efektif. Kombinasi komunikasi tidak efektif dan patuh yang bernilai nol . dalam Tabel 2 menunjukkan adanya sparse data, yaitu ketidakseimbangan distribusi pada sel tabel Kondisi ini dapat menyebabkan nilai odds ratio dan estimasi korelasi menjadi sangat besar atau bahkan tak terhingga, sehingga berpotensi menimbulkan overestimasi terhadap kekuatan hubungan yang sebenarnya. Selain itu, keberadaan sparse data dapat menurunkan kestabilan estimasi dan memperlebar rentang confidence interval, sehingga presisi hasil analisis berkurang dan validitas eksternal menjadi terbatas. Oleh karena itu, meskipun tabel menunjukkan pola asosiasi yang kuat antara komunikasi terapeutik dan kepatuhan pengobatan, interpretasi terhadap besaran hubungan ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan keterbatasan distribusi data dan potensi bias statistik. Tabel 3. Crosstabulation Komunikasi Terapeutik dan Kepatuhan Pengobatan Komunikasi Terapeutik Tidak Efektif Efektif Kepatuhan Pengobatan Tidak patuh Patuh Total Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Tabel 4 menegaskan adanya hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan pengobatan pada pasien lansia hipertensi . = 0,849. p = 0,. Tabel 4. Uji Spearman Rank SpearmanAos rho Komunikasi Terapeutik Perawat Kepatuhan Pengobatan Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. Komunikasi Terapeutik Kepatuhan Pengobatan Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan pengobatan pada lansia hipertensi . = 0,849. p = 0,. Temuan tersebut menegaskan bahwa komunikasi efektif tidak hanya sekadar keterampilan klinis, tetapi juga merupakan bentuk intervensi terapeutik yang mampu memengaruhi perilaku pasien. Penelitian Hervina et al . membuktikan bahwa komunikasi terapeutik dapat meningkatkan kepatuhan diet rendah garam pada pasien hipertensi usia dewasa akhir. Hal ini sejalan dengan temuan Amir et al . yang menegaskan bahwa komunikasi terapeutik perawat berperan penting dalam membangun kepercayaan pada pasien Dalam penelitian ini, sebagian besar responden berusia 60Ae74 tahun yang rentan mengalami masalah kepatuhan karena faktor psikologis maupun keterbatasan kognitif. Oleh karena itu, komunikasi yang empatik, jelas, dan suportif menjadi penentu utama keberhasilan lansia dalam menjalani pengobatan hipertensi (Kes & Polat, 2. Namun, perlu dicatat bahwa besarnya asosiasi ini juga dapat dipengaruhi oleh sparse data dan perancu yang tidak dikendalikan, sehingga interpretasi hasil harus dilakukan dengan hati-hati. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat merupakan salah satu faktor kunci dalam meningkatkan kepatuhan lansia hipertensi. Karakteristik responden dalam penelitian ini memperlihatkan mayoritas berjenis kelamin perempuan . ,7%) dan tidak bekerja . ,7%). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepatuhan lansia tidak hanya dipengaruhi oleh faktor medis, tetapi juga oleh faktor sosial, peran keluarga, dan lingkungan. StojanoviN et al . menyebutkan bahwa komunikasi perawat dengan pasien lansia harus memperhatikan aspek psikologis, sosial, dan tingkat pendidikan pasien (Sakti & Luhung, 2. Lansia perempuan umumnya lebih terbuka terhadap komunikasi kesehatan dan lebih mudah diarahkan untuk patuh pada pengobatan. Agustina et al . juga menegaskan bahwa edukasi kesehatan melalui komunikasi terapeutik terbukti meningkatkan kepatuhan minum obat pada lansia hipertensi. Namun, lansia yang tidak bekerja sering menghadapi kendala akses pelayanan kesehatan sehingga membutuhkan motivasi tambahan dari tenaga kesehatan (Mahmoudian et al. , 2. Selain itu, penggunaan accidental sampling dalam penelitian ini dapat menimbulkan selection bias, yang berpotensi mengurangi validitas eksternal temuan. Oleh karena itu, komunikasi terapeutik berfungsi bukan hanya sebagai penyampaian informasi, tetapi juga sebagai bentuk dukungan emosional yang memperkuat disiplin pasien dalam menjalani terapi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa responden yang menerima komunikasi terapeutik dalam kategori efektif cenderung memiliki tingkat kepatuhan yang jauh lebih tinggi . ,2%). Hasil ini konsisten dengan temuan Arango Restrepo & Gymez Ochoa . yang menekankan bahwa komunikasi dialogis antara tenaga kesehatan dan pasien dapat memperkuat ikatan terapeutik serta meningkatkan kepatuhan. Firmansyah & Salsabil . menambahkan bahwa penerapan Health Belief Model dalam komunikasi terapeutik mampu mendorong pasien untuk lebih patuh dengan memperkuat persepsi risiko dan manfaat terapi. Dengan memahami Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. hambatan serta motivasi pasien, perawat dapat mengarahkan pasien pada perilaku pengobatan yang lebih konsisten. Sebaliknya, komunikasi yang tidak efektif menimbulkan perasaan terabaikan pada pasien sehingga menurunkan kepatuhan. Adanya ketidakseimbangan distribusi data dengan sel nol juga dapat menginflasi estimasi asosiasi, sehingga efek yang terlihat mungkin lebih besar dari hubungan sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik memiliki peran persuasif dan motivasional yang sangat penting. Dengan demikian, komunikasi terapeutik dapat dipandang sebagai strategi nonfarmakologis yang esensial dalam meningkatkan kepatuhan lansia hipertensi. Temuan penelitian ini juga memiliki implikasi penting dalam pelayanan keperawatan, terutama pada manajemen penyakit kronis seperti hipertensi. StojanoviN et al . menekankan bahwa tantangan utama ke depan adalah bagaimana perawat menyesuaikan strategi komunikasi dengan kebutuhan spesifik pasien lansia. Hal ini sejalan dengan Amir et al . yang menyatakan bahwa komunikasi terapeutik harus berlandaskan prinsip patientcentered care. Lansia dengan hipertensi sering menghadapi kendala berupa transportasi, keterbatasan dukungan keluarga, serta kondisi psikologis yang kompleks. Oleh karena itu, komunikasi terapeutik yang empatik dapat menjadi jembatan penting dalam meningkatkan keterlibatan pasien terhadap pengobatan (Alhakami et al. , 2. Agustina et al . menambahkan bahwa konseling individual yang berfokus pada perubahan gaya hidup sehat juga berpengaruh positif terhadap kepatuhan pasien. Dengan demikian, perawat memiliki peran ganda sebagai pemberi pelayanan medis sekaligus pendamping emosional. Strategi komunikasi terapeutik yang adaptif dan terstruktur perlu diintegrasikan dalam standar pelayanan agar efektivitas intervensi lebih terukur dan berkelanjutan. Hal ini menegaskan perlunya komunikasi terapeutik dijadikan bagian integral dalam standar pelayanan keperawatan Kepatuhan lansia hipertensi tidak hanya ditentukan oleh faktor medis, melainkan juga oleh kualitas komunikasi terapeutik yang dibangun oleh perawat. Temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menekankan bahwa pendekatan interpersonal dapat mencegah komplikasi hipertensi seperti stroke dan penyakit jantung (Amir et al. , 2023. Hervina et al. Komunikasi terapeutik yang dilakukan dengan empati, kejelasan informasi, dan keterlibatan pasien mampu meningkatkan motivasi serta kepercayaan diri lansia dalam menjalani terapi. Hal ini konsisten dengan Health Belief Model yang menekankan bahwa persepsi risiko dan manfaat menjadi kunci perubahan perilaku (Firmansyah & Salsabil, 2. Namun, generalisasi hasil harus mempertimbangkan keterbatasan metodologis, termasuk bias seleksi dan potensi perancu yang tidak dikendalikan. Dengan demikian, komunikasi terapeutik dapat dianggap sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang efektif untuk memperkuat kepatuhan. Penelitian ini juga memberikan dasar empiris bagi rumah sakit untuk meningkatkan kompetensi komunikasi perawat melalui program pelatihan. Implementasi yang konsisten diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan lansia hipertensi serta menurunkan risiko komplikasi jangka panjang. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dan kepatuhan pengobatan pasien lansia hipertensi di Poli Jantung RSUD Kota Kediri. Temuan ini menegaskan pentingnya kualitas komunikasi dalam mendukung kepatuhan pasien, meskipun sifat penelitian yang observasional tidak memungkinkan penarikan kesimpulan kausal mengenai efektivitas intervensi komunikasi. Implikasi praktis dari hasil ini adalah perlunya penguatan kapasitas komunikasi terapeutik melalui pelatihan rutin bagi perawat, integrasi penilaian komunikasi ke dalam sistem supervisi, serta penerapan protokol standar komunikasi klinis. Sementara itu, klaim efektivitas terhadap peningkatan kepatuhan Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. memerlukan penelitian lanjutan dengan desain intervensi. Dengan demikian, temuan ini memberikan dasar strategis bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada patient-centered care. Acknowledgments Penulis menyampaikan terima kasih kepada RSUD Kota Kediri beserta seluruh responden dan pihak terkait yang telah memberikan dukungan dan kontribusi sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Daftar Pustaka