Jurnal AGRINIKA. September-2022. :136-150 Keragaan Tataniaga Buncis (Phaseolus vulgaris L. ) di Kawasan Sentra Produksi Buncis Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Jawa Timur Dona Wahyuning Laily1*. Dita Atasa1. Prasmita Dian Wijayanti1 Fakultas Pertanian. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jatim. Surabaya. Indonesia *Korespondensi: dona. agribis@upnjatim. Diterima 18 November 2022/ Direvisi 23 Agustus 2022 / Disetujui 30 Agustus 2022 ABSTRAK Kecamatan Poncokusumo merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang merupakan kawasan sentra produksi buncis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . Pola saluran dan fungsi kelembagaan tataniaga buncis pada pasar konvensional, pasar swalayan dan pasar ekspor, . Perbedaan tingkat efisiensi tataniaga buncis antara pasar konvensional, pasar swalayan dan pasar ekspor dan . Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan para pelaku tataniaga buncis pada pasar konvensional, pasar swalayan dan pasar ekspor. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey pada sentra produksi buncis di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Jawa Timur. Sampel petani diambil dengan menggunakan simple random sampling dan didapatkan ukuran sampel petani pasar konvensional sebanyak 30 orang, pasar swalayan 15 orang dan pasar ekspor 5 orang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik snowball sampling dalam menentukan sampel pelaku tataniaga. Data yang dikumpulkan dianalisis meliputi analisis marjin tataniaga, farmerAos share, mark up, indeks efisiensi teknis dan indeks efisiensi Hasil penelitian menunjukkan bahwa farmerAos share paling besar pada saluran pasar konvensional yaitu sebesar 57,18%. Saluran pasar konvensional lebih efisien dibandingkan dengan saluran lainnya dengan indeks efisiensi teknis sebesar 3,87 dan indeks efisiensi ekonomis sebesar 1,83. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan pelaku tataniaga pada saluran pasar konvensional adalah volume penjualan, harga jual dan modal kerja. sedangkan pada saluran pasar swalayan adalah harga jual dan modal kerja Kata kunci : Buncis. Efisiensi ekonomi. FarmerAos share. Indeks efisiensi teknik ABSTRACT Poncokusumo District is the bean-producing centre in Malang Regency. The research conducted in the area aimed to determine the marketing channel and institutional functions of the bean trading system in the conventional market, supermarket, and export Other research objectives are to examine the difference in the efficiency level of the bean trading system between the conventional market, supermarket, and export market and determine the factors influencing the level of profit of the bean trading actors in the conventional market, supermarket, and export markets. The research employed a survey method, in which the sample of farmers was taken using simple random sampling. The sample size of conventional markets, supermarkets, and export markets, subsequently as many as 30, 15, and 5 people. The approaching method was the snowball sampling technique. The data collected were analyzed including the analysis of trading margin, farmer's share, mark up, technical efficiency index and economic Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA efficiency index. The result showed that the largest farmer's share in conventional market channels was 57. while the conventional market channel was more efficient than other channels with a technical efficiency index of 3. 87 and an economic efficiency index Factors affecting the level of profit of traders in conventional market channels were sales volume, selling price and working capital. while in the supermarket channel were the selling price and working capital. Keywords: Beans. Economic efficiency. FarmerAos share. Technical efficiency index. PENDAHULUAN Pembangunan sektor pertanian saat ini mengalami perubahan yang mendasar baik dari segi usahataninya Orientasi produksi semata, tetapi juga ke arah peningkatan pendapatan masyarakat dan tingkat kehidupan dari petani, perluasan lapangan pekerjaan dan usaha, serta mengisi dan perluasan pasar domestik dan internasional (Beierlein, 2. Dalam hal ini, pembangunan pertanian yang ingin diwujudkan adalah pertanian yang maju, efisien dan sekaligus kuat dan mampu meningkatkan banyak hasil, mutu dan Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan adanya kerangka dasar yang tumbuh dan terbinanya suatu sistem usaha pertanian yang lebih dikenal dengan sistem agribisnis (Pay & Nubatonis, 2. Kebijakan strategi pembangunan pertanian yang selaras dengan sistem agribisnis adalah upaya terstruktur yang berpengalaman dalam meningkatkan . meningkatkan daya saing dalam sektor perekonomian yang lebih kokoh, efisien, dan fleksibel, . mendapatkan nilai . penciltaan lapangan kerja, dan . memberikan kesejahteraan pendapatan masayarakat (Mainnah & Balkis, 2. Menurut (Salem & Nubatonis, 2. menyatakan bahwa sistem agribisnis sebagai wawasan utama penggerak pembangunan pertanian, di sektor pertanian khususnya sub-sektor tanaman pangan diharapkan akan dapat meningkatkan sisi peranan positif dalam pembangunan Propinsi Jawa Timu, dalam pertumbuhan, pemerataan dan stabilisasi nasional. Menurut (Sasi & Nubatonis, 2. diperlukan kehandalan dalam pengembangan sistem agribisnis berkembang dengan baik dari segi pemasaran sehingga akan dapat meningkat kesejahteraan dari petani itu sendiri, baik untuk saat ini mapun yang akan datang. Buncis (Phaseolus vulgaris L. merupakan salah satu jenis sayuran kompetitif tertentu sehingga secara konsisten mampu menembus berbagai segmen pasar yang ada, baik pasar konvensional maupun pasar swalayan dan tetap eksis sekalipun di tengah kondisi ekonomi negara yang dinilai kurang kondusif untuk saat ini (Rihana. Sesuai dengan rekomendasi dari Food and Agricultural Organization (FAO) sayuran konsumsi 75 kg/kapita/tahun. Saat ini konsumsi buncis di Indonesia meningkat sebesar 297. 960 ton/tahun Page 137 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA seiring dengan pertumbuhan penduduk setiap tahunnya (Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura. Buncis (Phaseolus vulgaris L. merupakan jenis sayuran yang dinillai serta memiliki keunggulan kompetitif tertentu sehingga secara konsisten mampu menembus berbagai segmen konvensional, pasar swalayan maupun pasar ekspor dan tetap eksis sekalipun di tengah kondisi ekonomi negara yang dinilai kurang kondusif. Perkembangan luas tanam, luas panen, produktivitas dan produksi buncis di Jawa Timur selama kurang lebih 10 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perkembangan Luas Tanam. Luas Panen. Produktivitas dan Produksi Buncis di Jawa Timur Luas Tanam Luas Panen Produktivitas Produksi Tahun . on/h. 44,211 14,75 `11. 14,22 14,07 13,15 10,75 121,41 12,37 Sumber : (Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura, 2. Tabel 1 menunjukkan bahwa selama dekade terakhir ini jumlah produksi buncis di Jawa Timur dan dalam taraf peningkatan yang sangat tajam dari 33. 852 ton pada tahun 2011 757 ton pada tahun 2017. Hal yang sangat menggembirakan adalah bahwa peningkatan produksi peningkatan produktivitas, yaitu dari 44,221 kwintal per hektar pada tahun 2010 menjadi 121,41 kwintal/ ha tahun 2018, sementara luas tanam atau luas panen selama dekade tersebut relatif tidak mengalami perkembangan yang Hal ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi intensifikasi pada aspek budidaya . n far. komoditas buncis telah dilaksanakan secara agresif oleh kelompok Aupetani progresifAy yang mampu mengakses pasar alternatif, khususnya pasar ekspor. Bukti lain yang mendukung pernyataan tersebut adalah angka produktivitas tertinggi yaitu sebesar 121,41 kwintal per hektar dan jumlah produksi terbesar yaitu 89,757 ton ternyata dicapai pada tahun 2018 dimana pada saat itu aktivitas ekspor komoditi berbasis pertanian mendapat respon positif tertinggi dari para produsen local (Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura. Saat ini harga buncis di pasaran cenderung mengalami peningkatan di tingkat produsen . dalam jangka enam tahun kebelakang. Hal tersebut berpengaruh bahwa relative tingginya fluktuasi harga pada komoditi buncis merupakan faktor resiko yang harus dihadapi oleh setiap pelaku pemasaran. Namun mereka terhadap informasi pasar sangat Page 138 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA rendah sehingga implikasi fluktuasi harga akan mengakibatkan terjadinya kerugian semua pihak yang terlibat Stabilitas harga menjadi salah satu aspek yang penting dalam menetapkan kelayakan usaha dari komoditas buncis ini (Kabeto, 2. Menurut (Islami & Tridakusumah, 2. petani sebagai produsen buncis memerlukan adanya suatu lembaga pemasaran yang dapat memasarkan perkembangan harga buncis di tingkat konsumen serta memberikan imbalan yang layak terhadap usahatani yang Saat pemasaran merupakan perantara antara memerlukan produk yang diproduksi secara kontinu dan sesuai untuk dipasarkan baik dalam kualitas maupun Dengan diharapkan adanya jalinan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan antara produsen dengan lembaga pemasaran (Pay & Nubatonis, 2. Petani sebagai produsen buncis memerlukan adanya suatu lembaga pemasaran yang dapat memasarkan perkembangan harga buncis di tingkat konsumen serta memberikan imbalan yang layak terhadap usahatani yang Sementara itu lembaga pemasaran yang merupakan perantara antara produsen dengan konsumen memerlukan produk yang diproduksi secara kontinu dan sesuai untuk dipasarkan baik dalam kualitas maupun Dengan diharapkan adanya jalinan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan antara produsen dengan lembaga pemasaran (Zhang. Ju, & Zhan, 2. Terdapat tiga saluran pemasaran di kawasan sentra produksi buncis Poncokusumo Kabupaten Malang, yaitu saluran pasar konvensional, pasar swalayan dan pasar ekspor. Saluran pasar konvensional adalah saluran pemasaran terakhir adalah pedagang pengecer di pasar konvensional, saluran pemasaran dimana lembaga pemasaran sedangkan saluran pasar ekspor adalah salah satu dari saluran pemasaran yangmana lembaga pemasaran terakhir adalah eksportir yang menjual buncis ke Dan merupakan sayuran merupakan bahan penting yang ketahanan pangan nasional. Bahan baku ini serbaguna dan berfungsi sebagai sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin, dan mineral yang bernilai ekonomi tinggi (Adusumilli. Wang, & Deliberto, 2. Berdasarkan uraian tersebut maka pola saluran dan fungsi kelembagaan serta tingkat efisiensi pemasaran dari pola saluran pemasaran yang ada di kawasan sentra produksi buncis di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang sangat efektif untuk dapat Rumusan masalah dapat diidentifikasi dengan bagaimana pola konvensional, pasar swalayan dan pasar ekspor serta bagaimana perbedaan tingkat efisiensi tataniaga buncis antara pasar konvensional dan pasar swalayan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola saluran dan fungsi kelembagaan tataniaga buncis pada pasar konvensional dan pasar swalayan serta untuk mengetahui Page 139 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA perbedaan tingkat efisiensi tataniaga buncis antara pasar konvensional, pasar swalayan dan pasar ekspor. BAHAN DAN METODE Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Menurut (Moehar, penelitian ini merupakan salah satu jenis penelitian yang mengambil sampel dari kuisioner sebagai alat utama dalam mengumpulkan data pokok. Kajian penelitian ini bertujuan untuk . , . , . xplanatory conformit. , hal ini bersifat pejelasan pengujian hipotesis, . evaluasi, . prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan datang, . indikator-indikator Adapun menggunakan simple random sampling dengan harapan untuk memberikan gambaran mengenai pola saluran dan fungsi kelembagaan tataniaga buncis swalayan dan pasar ekspor. perbedaan tingkat efisiensi tataniaga buncis pada ketiga pasar tersebut. Oleh karena itu digunakan metode penelitian survai deskriptif. Selain itu, penelitian ini juga dimaksudkan untuk menjelaskan tentang berbagai faktor yang berpengaruh di tingkat keuntungan . pada pelaku tataniaga pada kedua pasar tersebut. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian survai eksplanatori, dimana ciri khas dari metode ini adalah menuntut adanya kejelasan mengenai . operasionalisasi variabel, . rencana sampling, dan . rencana analisis dan uji hipotesis. Teknik Penarikan Sampel Penelitian dilakukan di sentra produksi buncis di 3 desa sebagai kawasan sentra komoditas buncis yaitu Desa Wonomulyo. Desa Dawuhan dan Desa Poncokusumo. Kecamatan Poncokusumo. Kabupaten Malang. Pemilihan tempat penelitian dilakukan secara sengaja . urposive samplin. dengan mempertimbangkan bahwa di pemasaran pasar konvensional dan pasar swalayan. Selain itu, sentra Poncokusumo sentra produksi buncis dengan harga rata-rata borongan bulanan di tingkat petani lebih besar dibandingkan dengan sentra produksi buncis lainnya, yaitu sentra produksi Karangploso dan sentra produksi Pujon Kabupaten Malang. Berdasarkan lokasi penelitian yang dipilih secara sengaja yaitu sentra Poncokusumo Kabupaten Malang, maka dipilih secara sengaja . urposive samplin. pasar-pasar yang terkait dengan kawasan sentra produksi Poncokusumo sebagai berikut: Pasar Konvensional Pasar konvensional dipilih secara Desa Wonomulyo. Karena di desa ini adalah klaster satu dan merupakan pusat konsentrasi pengolahan dan kegiatan agroindustry serta pusat berbagai kegiatan tersier agribisnis. Sehingga pasar induk di Desa Wonomulyo merupakan kota tani . Pasar induk ini juga yang paling banyak menyerap produk dari sentra produksi Poncokusumo. Selain Page 140 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA kerjasama pemasaran antara sentra produksi Poncokusumo dengan pasar tersebut di atas telah dilaksanakan secara kontinu. Pasar Swalayan Pasar swalayan dipilih secara sengaja yaitu swalayan Carrefour. Superindo Tlogomas. Istana Sayur Tlogomas. Swalayan Lai Lai Semeru. Hypermart Malang pertimbangan pasar swalayan yang paling bnyak menyerap produk dari sentra buncis Poncokusumo dan telah dilakukan secara continue. Berdasarkan amsing-masing pasar tersebut di atas, maka di ambil sampel petani untuk masinh-masing pasar menggunakan formulasi sebagai berikut (Kotler, 2. Keterangan: = Sampel = Populasi = Variance populasi = Bound of error Melalui dengan mengambil sejumlah sampel dari petani untuk amsing-masing pasar, maka didapatkan jumlah sampel sebagai Pasar Konvensional = 30 orang dari populasi 1000 orang Pasar Swalayan populasi 150 orang = 15 Orang dari Pasar Ekspor populasi 15 orang = 5 orang dari Pengambilan sampel petani untuk masing-masing pasar diambil dengan menggunakan teknik simple random Hal ini dikarenakan karena populasi sentra buncis di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang aktif dalam melakukan kegiatan pemasaran. Sehingga produsen akan mendapatkan Pendekatan tersebut di tunjang dengan penggunaan teknik snowball sampling. Pelaksanaan teknik ini adalah dengan melakukan teridentifikasi sebagai anggota kelompok yang diwawancarai, dan berdasarkan informasi dari seseorang tersebut dapat diketahui sampel penelitian lainnya yang disesuaikan dengan identifikasi masalah (Limbong. Jadi penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan survey pada petani sampel yang sudah ditentukan di atas, dan berdasarkan informasi dari petani sampel tersebut dapat diidentifikasi pelaku pemasaran yang terlibat mulai dari produsen sampai konsumen akhir pada masing-masing pasar. Rancangan Analisis Data Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis saluran tataniaga dan fungsi kelembagaan tataniaga . ecara deskripti. Margin tataniaga. FarmerAos share. Mark Up. Indeks efisiensi teknis (T) dan Indeks efisiensi ekonomis (E) (Creswell, 1. Analisis FarmerAos share adalah mengetahui bagian harga yang diterima petani dengan harga yang dibayar oleh konsumen akhir. FarmerAos share ini merupakan perbandingan harga di tingkat petani . arga jua. dengan harga Page 141 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA di tingkat konsumen . arga ecera. yang dinyatakan dalam persentase (Sevilla, 2. Secara matematis persamaannya adalah sebagai berikut: Dimana = Bagian harga yang diterima petani (FarmerAos shar. = Harga jual . arga di tingkat = Harga eceran . arga di tingkat Analisis digunakan untuk mengetahui komponenkomponen penyusunan margin yaitu tataniaga, sehingga dapat dirinci biaya tertinggi sampai biaya terendah yang dikeluarkan dan keuntungan yang masingAemasing Margin tataniaga secara menurut (Sevilla, 2. adalah sebagai Mi = Ci Ai Dimana = Margin tataniaga pada lembaga ke-i = Biaya tataniaga yang dikeluarkan lembaga ke-i = Keuntungan tataniaga yang Diperoleh lembaga-lembaga Total margin tataniaga secara matematis bentuk persamaannya adalah sebagai = Margin tataniaga pada lembaga ke-i = 1,2,3,a. Beierlein, . mengemukakan bahwa makin kecil margin tataniaga suatu barang maka cenderung semakin efisien tataniaga barang tersebut. Prosentase margin atau Mark Up menurut (Kotler, 2. adalah sebagai Dimana = Margin tataniaga = Harga eceran HASIL DAN PEMBAHASAN Saluran Tataniaga Buncis Tataniaga buncis di kawasan Poncokusumo Kabupaten Malang mempunyai dua macam saluran yang dapat diilustrasikan sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan adanya tiga macam saluran tataniaga buncis di kawasan sentra produksi Poncokusumo, yaitu . Saluran I . asar konvensiona. , dengan 4 pelaku tataniaga meliputi pedagang pengumpul, pedagang besar supplier pasar Induk, pedagang besar pasar Induk dan pedagang pengecer, dan . Saluran II . asar swalaya. , dengan 2 pelaku tataniaga meliputi swalayan dan pasar swalayan, serta saluran 3 yaitu pasar ekspor Dimana = Margin Page 142 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA Petani A-B Pedagang Besar Supplier Eksportir Pedagang Pengumpul Pedagang Besar Supplier Pasar Swalayan A-B Pedagang Besar Supplier Pasar Induk Pasar Swalayan Eksportir A-B Konsumen Luar Negeri Pedagang Besar Pasar Induk Konsu Pedagang Pengecer Konsumen Keterangan: : Saluran I (Pasar Konvensiona. : Saluran II (Pasar Swalaya. : Saluran i (Pasar Ekspo. : Pelaku Tataniaga : Kualitas buncis hasil sortasi Gambar 1. Saluran tataniaga Buncis di Kawasan Sentra Produksi Poncokusumo Biaya Tataniaga Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh kelembagaan tataniaga meliputi pengangkutan, upah buruh, penyusutan lain-lainnya. Rata-rata tataniaga buncis di kawasan sentra produksi Kecamatan Poncokusumo sebagaimana terlihat pada Tabel 2. Page 143 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA Tabel 2. Rata-rata Biaya Tataniaga Buncis Saluran I. II, i di Kawasan Sentra Produksi Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Saluran Tataniaga No. Lembaga Tataniaga II* i* Petani Pedagang pengumpul Pedagang Grosir Lokal Pedagang besar supplier pasar Pedagang besar supplier pasar ekspor Pedagang besar pasar konvensional Pedagang pengecer Swalayan Eksportir Konsumen Sumber: Analisis Data Primer Di saluran tataniaga I, buncis dibeli dari petani ke pedagang pengepul pada Poncokusumo, kemudian oleh pedagang pengumpul didistribusikan ke seluruh pedagang buncis yang dipasok oleh petani pada saluran satu kepada pedagang grosir lokal di Pasar Induk Wonomulyo, dari dipasarkan ke pengecer lokal. Dari pengecer lokal langsung menjual usahatani buncis ke konsumen tingkat Saluran ini merupakan saluran yang paling banyak dipilih petani dengan harapan petani dapat menjual dengan jumlah yang lebih banyak dan adanya keterikatan modal antara petani dan Harga di tingkat petani pada saluran ini Rp2. 00/kg, kemudian dijual oleh pedagang pengumpul Rp 00/kg pada pedagang grosir lokal, pedagang grosir lokal menjual dengan harga Rp5. 00 kepada pengecer lokal, pedagang pengecer menjual dengan harga Rp8. 00/kg kepada Pada saluran tataniaga II hanya dikeluarkan oleh pedagang supplier pasar swalayan, sedangkan pasar swalayan tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Pedagang besar ini membeli buncis di tingkat petani dengan harga Rp3. 00 per kg. Kemudian dari dari pasar besar swalayan ini akan memberi patokan harga sebesar Rp 000,00 dan akan didistribusikan ke pasar swalayan dengan harga Rp 000,00. untuk tingkat konsumen pada pasar swalayan dipatok dengan harga Rp 10. 200,00. Biaya sebesar ini terasa wajar mengingat bahwa pedagang besar supplier pasar swalayan mengirimkan buncis ke pasar swalayan yang merupakan lembaga tataniaga terakhir Sebagaimana konsumen pasar swalayan berbeda dengan konsumen pasar konvensional dimana aspek tampilan . dan higienis adalah merupakan persyaratan yang harus dipenuhi. Pada saluran tataniaga i, eksportir melakukan pembelian buncis di tingkat konsumen dengan harga yang tinggi, karena untuk ekspor maka komoditas yang dipilih telah melalui sortir yang Tentu saja biaya yang Page 144 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA mengirimkan komoditas buncis ke luar negeri sangat besar dan komoditas buncis hasil dari kawasan sentra produksi Kecamatan Poncokusumo banyak dikirim ke Negara Singapura melalui pelabuhan Soekarno-Hatta. Pendapat ini sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan oleh (Wandira, 2. Bahwa pasa saluran tataniaga pola I dirasa memang kurang Ini diakibatkan oleh adanya harga yang diterima oleh konsumen lebih tinggi daripada pola lainnya. Untuk pola II dirasa kurang efisien karena peani memiliki perbedaan position dikarenakan menjual hasil usahatani dengan motif social dan kepercayaan Sehingga menyebabkan petani menerima harga dari tengkulak. Pendistribusian ke pelaku tataniaga lainnya . petani mendapatkan harga yang kurang Untuk pola i sangat efisien karena petani mendapatkan harga yang sesuai dengan yang diharapkan dan konsumen mendapatkan harga yang rendah daripada pola lainnya. Marjin tataniaga. FarmerAos share dan Mark Up Marjin tataniaga untuk saluran I. II dan i dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 menunjukkan bahwa marjin tataniaga terbesar untuk saluran I adalah pada pedagang pengecer yaitu sebesar 18,45%. untuk Saluran II pada pasar swalayan sebesar 41,87% dan untuk Saluran i pada eksportir sebesar 68,41%. Apabila dianalisis lebih lanjut, maka dapat dilihat bahwa pada Saluran I pembagian marjin tataniaga pada masing-masing lembaga tataniaga relatif lebih adil apabila dibandingkan dengan Saluran II dan i. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Saluran I lebih efisien daripada Saluran II dan i. Tabel 3. Marjin Tataniaga No. Lembaga Tataniaga Petani Pedagang pengumpul Pedagang Grosir Lokal Pedagang besar supplier pasar swalayan Pedagang besar supplier pasar ekspor Pedagang besar pasar konvensional Pedagang pengecer Swalayan Eksportir Keterangan: * dalam persen (%) Sumber: Analisis Data Primer Farmer pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan imbalan dari produk yang dibandingkan dengan harga yang diterima oleh petani dan harga yang terjadi di tingkat konsumen. Saluran Tataniaga II* i* 54,67 45,82 23,88 9,09 15,00 13,69 12,98 9,78 18,45 41,87 68,41 Dengan (Praswati. T, & B. , 2. bahwa produsen adalah pihak yang paling berharga, dan semakin besar menerima hasil yang diterima dari petani, maka akan semakin adil apabila sistem pemasaran bias berjalan dengan baik. Situasi ini mendorong petani untuk terus Page 145 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA Pemasaran adalah bagian yang sangat penting dari sistem, tetapi ini tidak mendapatkan keuntungan yang lebih besar daripada petani. Bertani adalah bisnis berisiko tinggi, sehingga petani berhak atas bagian imbalan yang adil. Dalam hal ini, ia berasal dari distribusi harga yang dihasilkan di tingkat FarmerAos share dan Mark Up harga dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. FarmerAos Share dan Mark Up Saluran Tataniaga Saluran I Saluran II Saluran i Sumber : Analisis Data Primer Tabel 4 menunjukkan bahwa farmerAos share terbesar untuk petani ada pada Saluran I yaitu sebesar 57,18%. Besarnya farmerAos share pada Saluran I disebabkan oleh tingkat harga pada konsumen akhir di pasar konvensional (Rp. 000/k. dibandingkan dengan tingkat harga di pasar swalayan (Rp. 200/k. maupun pasar ekspor (Rp. 000/k. Tingginya tingkat harga pada konsumen akhir di saluran pasar swalayan dan pasar ekspor disebabkan oleh tingginya biaya pengemasan dan transportasi buncis. Hal ini sesuai dengan penelitian (Pay & Nubatonis, 2. bahwa struktur pasar persaingan tidak sempurna maka struktur pasar buncis menunjukkan tidak efisien karena prosen dari farmerAos pemasaran yang tidak ada diferensiasi produk buncis dan dalam hal kebebasan masuk keluar pasar dan tidak ada FarmerAos Share (%) 57,18 48,54 23,74 Mark Up (%) 20,88 68,09 196,88 halangan bagi pedagang lama tapi akan sangat sulit bagi pedagang yang sudah lama bekerjasama. Mark up harga buncis yang terkecil adalah pada Saluran I yaitu sebesar 20,88% dan yang terbesar adalah pada Saluran i yaitu sebesar 196,88%. Mark-up pada Saluran i sebesar 196,88% disebabkan oleh karena dilakukan dalam mata uang dollar, sehingga apabila dikonversi ke rupiah menjadi besar. Apabila dibandingkan mark-up untuk pasar dalam negeri antara Saluran I dan II, maka konsumen lebih memilih Saluran I sebab harga yang jatuh ke tangan konsumen akan lebih kecil karena nilai mark-up juga lebih kecil apabila dibandingkan dengan Saluran II. Ilustrasi mark-up dapat Gambar Page 146 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA Supplier Grosir Lokal Petani 12,50% 20,37% 9,23% Pengecer Lokal Konsumen 20,88% Supplier Ps. Swalayan Petani Pasar Swalayan 25,71% 68,09% Supplier Ps. Ekspor Petani 50,68% Eksportir 196,88 Keterangan : : Saluran I : Saluran II : Saluran i : Kenaikan harga (Mark-u. Rp. /kg : Harga jual. Rp. /kg Gambar 2. Mark up pada Masing-masing Saluran Tataniaga Buncis Indeks Efisiensi Teknis (T) dan Indeks Efisiensi Ekonomis (E) Indeks efisiensi teknis (T) dan indeks efisiensi ekonomis (E) untuk masing-masing saluran dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Indeks Efisiensi Teknis dan Ekonomis Indeks Efisiensi No. Saluran Tataniaga Teknis (T) Saluran I 3,87 Saluran II 2,90 Saluran i 6,50 Indeks Efisiensi Ekonomis (E) 1,83 5,98 0,76 Sumber: Analisis Data Primer Page 147 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA Tabel 5 mengemukakan bahwa indeks efisiensi teknis terkecil ada pada Saluran II yaitu sebesar 2,90. indeks efisiensi ekonomis (E) terkecil ada pada Saluran i yaitu sebesar 0,76. Kecilnya indeks efisiensi teknis pada Saluran II disebabkan oleh rendahnya biaya tataniaga dapat dikeluarkan oleh pelaku tataniaga pada saluran ini dengan jarak dari produsen ke konsumen akhir relatif dekat. Dengan demikian pelaku tataniaga pada Saluran II relatif sudah efisien dalam melaksanakan kegiatan tataniaganya dibandingkan dengan pelaku tataniaga pada saluran lainnya. Kecilnya indeks efisiensi ekonomi pada Saluran i disebabkan oleh keuntungan yang diperoleh para pelaku tataniaga pada saluran ini sangat kecil dibanding biaya tataniaga yang harus Hal ini menunjukan bahwa dilihat dari indeks efisiensi ekonomis, maka konsumen luar negeri (Singapur. memperoleh tingkat harga yang relatif lebih murah dibanding konsumen dalam negeri. Apabila dibandingkan antara ketiga saluran di atas, maka Saluran I efisiensi yang lebih konsisten dibanding Saluran II dan i. Meskipun indeks efisiensi teknis pada saluran I lebih besar daripada saluran II, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sedangkan dilihat dari indeks efisiensi ekonomis saluran I dan II berbeda cukup besar. Hal ini sesuai dengan penelitian dari (Dewi. Santoso, & Prasetyo, 2. bahwa indek untuk pemasaran pada sluran pemasaran di tingkat konsumen memiliki nilai efisiensi lebih dari 1, sehingga hal ini dapat dikatakan lebih efisien. Hasil pemasaran jagung dapat menyerap tenaga kerja memiliki nilai efisiensi kurang dari 1, sehingga penggunaan faktor dalam pembiayaan pada saluran pemasaran tidak efisien. KESIMPULAN Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pola tataniaga buncis di Kawasan Sentra Produksi Poncokusumo Kabupaten Malang adalah . Saluran I . asar konvensiona. Petani Ae pedagang pengumpul Ae pedagang besar supplier pasar induk Ae pedagang besar pasar induk Ae pedagang pengecer Ae . Pola saluran pada Saluran II . asar swalaya. Petani Ae pedagang besar supplier pasar swalayan Ae pasar swalayan Ae konsumen. Pola saluran pada Saluran i . asar ekspo. Petani Ae pedagang besar supplier eksportir Ae eksportir Ae konsumen. Harga yang diterima petani dari kosumen akhir (FarmersAos shar. paling besar pada Saluran I (Pasar Konvensiona. yaitu sebesar 57,18%, sedangkan pada saluran II (Pasar swalaya. sebesar 48,54% dan pada saluran i . asar ekspo. sebesar 23,74%. Saluran memperlihatkan gambaran indeks dibandingkan dengan salurn II dan saluran i yang ditunjukkan oleh indeks efisineis teknis (T) sebesar 3,87 dan ideks efisiensi ekonomis C sebesar 1,83. Page 148 of 150 Dona Wahyuning Laily. Keragaan Tataniaga BuncisA Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut: Disarankan petani untuk memilih saluran I dalam menjual produksinya . agar diperoleh bagian harga yang lebih tinggi. Namun demikian petani masih dihadapkan kepada berbagai masalah berupa posisi tawar . argaining positio. petani dalam penentuan harga yang relatif masih rendah, distribusi pemasaran hasil masih kyrang lancer dan akses terhadap informasi pasar yang relative masih kurang. Perlu dilakukan evaluasi mengenai pengangkutan buncis dari petani ke pelaku tataniaga agar dapat ditekan mungkin, shingga dapat menurunkan biaya tataniaga yang secara langsung akan meningkatkan keuntungan yang diterima oleh pelaku tataniaga. UCAPAN TERIMAKASIH Penelitian ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Pada mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam membantu penelitian yang akan diterbitkan dalam jurnal elektronik dan dapat bermanfaat sebagaimana mestinya. DAFTAR PUSTAKA