Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 EKSPLORASI HAMBATAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS: STUDI KUALITATIF Riza Alfian1*. Muhammad Hafizh Abiyyu Fathin Fawwazi1. Muhammad Faqih1. Wirawan Adikusuma2 Departemen Farmasi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin. Banjarmasin. Indonesia Pusat Riset Komputasi. Organisasi Riset Elektronika dan Informatika. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia *Email: rizaalfian@stikes-isfi. Artikel diterima: 2025-09-23. Disetujui: 2025-10-22 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Kepatuhan pengobatan merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengendalian diabetes melitus. Namun, berbagai studi menunjukkan tingkat kepatuhan pasien masih rendah dan dipengaruhi oleh faktor multidimensional. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hambatan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus di Puskesmas berdasarkan lima domain teori kepatuhan pengobatan WHO. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksploratif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh pasien diabetes melitus yang menjalani pengobatan rutin di Puskesmas Kota Banjarmasin. Pemilihan partisipan dilakukan secara purposive sampling. Wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik dengan kerangka lima domain teori kepatuhan pengobatan WHO. Analisis tematik menghasilkan lima tema utama hambatan kepatuhan. Faktor sosial dan ekonomi: keterbatasan biaya transportasi, jarak ke Puskesmas, dan kurangnya dukungan keluarga. Faktor sistem dan tenaga kesehatan: konsultasi singkat, edukasi minim, serta sistem antrian panjang. Faktor kondisi penyakit: tidak adanya gejala langsung, kejenuhan akibat penyakit kronis, komorbiditas, serta gangguan psikologis. Faktor terapi: kompleksitas regimen, efek samping obat, dan penghentian obat tanpa Faktor pasien: lupa minum obat, keyakinan pribadi terhadap pengobatan alternatif, motivasi fluktuatif, serta rasa bosan. Hambatan ini menunjukkan bahwa kepatuhan pengobatan dipengaruhi interaksi kompleks berbagai faktor. Hambatan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus bersifat multidimensional. Upaya peningkatan kepatuhan perlu dilakukan melalui pendekatan holistik berkelanjutan di tingkat layanan primer. Kata kunci: Kepatuhan pengobatan. Diabetes melitus. Puskesmas. Studi kualitatif ABSTRACT Medication adherence is a crucial factor in the successful management of diabetes mellitus, yet many studies show that adherence remains low and is shaped by multidimensional influences. This study aimed to explore barriers to medication adherence among patients with diabetes mellitus in primary health centers (Puskesma. using the WHO five-domain adherence framework. A qualitative Riza Alfian, dkk | 216 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 descriptive-exploratory design was applied. Data were collected through in-depth interviews with ten patients undergoing routine treatment at Puskesmas in Banjarmasin City, recruited through purposive sampling. Thematic analysis was performed guided by the WHO adherence model. Five major themes emerged. Social and economic factors included limited transportation costs, distance to the health center, and lack of family support. Health system and provider factors involved brief consultations, insufficient patient education, and long queues. Condition-related factors comprised the absence of immediate symptoms, fatigue from chronic illness, comorbidities, and psychological distress. Therapy-related factors included complex regimens, side effects, and discontinuation of therapy without consultation. Patientrelated factors were characterized by forgetfulness, reliance on alternative medicine, fluctuating motivation, and feelings of boredom. These findings highlight that adherence barriers are multidimensional and result from the interaction of individual, social, and system-level determinants. Addressing adherence requires holistic and continuous interventions at the primary care level, with emphasis on patient education, family involvement, and strengthening the role of healthcare providers. Keywords: Medication adherence. Diabetes mellitus. Primary health center. Qualitative study PENDAHULUAN Diabetes , 2022. Antar et al. , 2. Kepatuhan pasien terhadap pengobatan menjadi salah satu penyakit kronis dengan prevalensi tinggi dan dampak signifikan menentukan keberhasilan pengendalian terhadap kesehatan masyarakat global diabetes melitus, karena terapi yang (Hossain et al. , 2. International efektif hanya dapat memberikan hasil Diabetes Federation (IDF) optimal apabila diikuti secara konsisten. Namun, terdapat lebih dari 530 juta orang hidup menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan dengan diabetes melitus, dan jumlah ini diproyeksikan meningkat hingga 783 pengobatan masih rendah (Pertiwi et al. juta pada tahun 2045 (IDF, 2. Boonpattharatthiti et al. , 2024, Penyakit ini tidak hanya meningkatkan Untari et al. , 2. Di Indonesia, prevalensi diabetes ginjal, maupun neuropati, tetapi juga melitus terus meningkat sebagaimana menimbulkan beban ekonomi ditunjukkan dalam Riset Kesehatan sosial yang besar, baik bagi pasien Dasar (Riskesda. yang menyoroti tren maupun sistem kesehatan (Hidayat et kenaikan kasus dalam dua dekade Riza Alfian, dkk | 217 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 terakhir, terutama di wilayah perkotaan Alsaidan et al. , 2. Kerangka ini (Kemenkes, 2. Puskesmas sebagai banyak diadopsi dalam penelitian di berbagai negara untuk memahami akar primer berperan penting dalam upaya pengendalian diabetes melitus, baik kualitatif dari konteks lokal khususnya di Indonesia masih terbatas (Kassavou maupun pendampingan pasien. Namun, and Sutton, 2017. Jaam et al. , 2018, Rezaei et al. , 2. Penelitian sebelumnya yang kami ketersediaan obat yang tidak selalu terjamin, beban kerja tenaga kesehatan hambatan kepatuhan pengobatan pasien Puskesmas intensitas edukasi yang diterima pasien (Alfian et al. , 2025a. Alfian et al. Hal ini berimplikasi pada masih memberikan gambaran awal mengenai rendahnya keberhasilan terapi dan faktor-faktor penghambat kepatuhan, tingginya angka komplikasi diabetes tetapi sifatnya masih deskriptif dan melitus di masyarakat. terbatas dalam menangkap kedalaman Studi Kepatuhan pengobatan sendiri pengalaman subjektif pasien (Alfian et merupakan fenomena multidimensional , 2025. Oleh karena itu, penelitian ini hadir sebagai kelanjutan dengan kompleks berbagai faktor. WHO telah hambatan kepatuhan ke dalam lima pengalaman, dan tantangan nyata yang domain utama, yaitu faktor sosial- ekonomi, faktor terkait sistem dan pengobatan diabetes melitus. (WHO, Kebaruan penelitian ini terletak penyakit, faktor terapi, dan faktor Riza Alfian, dkk | 218 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 kepatuhan pengobatan dari WHO ke lebih dari 18 tahun, telah menggunakan obat antidiabetes minimal selama enam primer di Indonesia melalui data kualitatif dari pengalaman nyata pasien. memberikan persetujuan tertulis untuk Dengan demikian, penelitian ini tidak mencakup pasien dengan gangguan sebelumnya, tetapi juga memberikan kognitif atau komunikasi berat yang pemahaman yang lebih kaya mengenai dapat menghambat proses wawancara. Partisipan Kriteria Secara khusus, penelitian ini bertujuan purposive sampling umlah partisipan ditentukan berdasarkan prinsip data kepatuhan pengobatan pada pasien saturation, yaitu ketika wawancara tambahan tidak lagi menghasilkan tema Puskesmas berdasarkan lima domain pada teori WHO Data . n-depth sehingga dapat memberikan kontribusi ilmiah dan praktis dalam perancangan semi-terstruktur intervensi berbasis konteks lokal. METODE pengobatan dari WHO . aktor sosial- Penelitian ekonomi, faktor sistem dan tenaga desain kualitatif dengan pendekatan kesehatan, faktor kondisi penyakit, deskriptif-eksploratif. faktor terapi, serta faktor terkait pasie. Penelitian Puskesmas Kota Banjarmasin. Wawancara dilakukan secara tatap Puskesmas. Indonesia. Partisipan dalam penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis perangkat audio dengan persetujuan pasien, kemudian ditranskrip secara pengobatan rutin di Puskesmas. Kriteria Seluruh inklusi partisipan adalah pasien berusia Riza Alfian, dkk | 219 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Analisis data dilakukan dengan metode analisis tematik menggunakan HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik partisipan Tahapan Total partisipan dalam penelitian ini berjumlah sepuluh orang pasien Puskesmas. pengelompokan kode menjadi sub- tema, hingga identifikasi tema utama. Partisipan terdiri dari enam perempuan Validitas . %) dan empat laki-laki . %) dengan rentang usia antara 41 hingga 65 triangulasi antarpeneliti. Penelitian ini Pekerjaan partisipan beragam. telah memperoleh persetujuan etik dari Lama Komite bervariasi antara 3 hingga 12 tahun. Etik Penelitian Kesehatan Universitas Sari Mulia Banjarmasin Karakteristik ditampilkan pada tabel 1. No. 047/KEP- UNISM/VI/2025. Tabel 1. Karakteristik partisipan Partisipan Usia . Jenis Kelamin Pekerjaan Lama DM . Perempuan Ibu rumah tangga Laki-laki Pensiunan Perempuan Pensiunan Laki-laki Wiraswasta Perempuan Ibu rumah tangga Laki-laki Pegawai negeri Perempuan Pegawai swasta Laki-laki Pedagang Perempuan Pedagang P10 Perempuan Pegawai negeri Hambatan kepatuhan pengobatan pasien diabetes melitus Analisis tematik yang dilakukan menemukan bahwa terdapat lima tema yang dapat dilihat pada tabel 2. Riza Alfian, dkk | 220 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 2. Analisis tematik hambatan kepatuhan pengobatan pasien diabetes melitus Domain Faktor sosial dan Faktor sistem dan tenaga kesehatan Tema Dominan Transportasi & Dukungan Konsultasi singkat Edukasi minim Sistem antrian Faktor kondisi Tidak ada gejala Penyakit kronis Komorbiditas Faktor terapi Gangguan Kompleksitas Efek samping Penghentian tanpa Faktor pasien Lupa/lalai Keyakinan pribadi Motivasi fluktuatif Putus asa/bosan Kutipan Pasien AuPuskesmas jauh, ongkosnya lumayanA jadi saya malas kontrol. Ay (P. AuNaik ojek ke Puskesmas biayanya berat buat Ay (P. AuSaya tinggal sendiri, nggak ada yang Ay (P. AuPetugas kesehatannya buru-buru, saya belum sempat tanya. Ay (P. AuTidak pernah dijelaskan kenapa obat penting diminum terus. Ay (P. AuAntri terkadang lama, saya tidak punya banyak waktu menunggu. Ay (P. AuBadan saya biasa sajaA jadi kalau nggak minum obat sehari dua hari rasanya nggak Ay (P. AuKalau gula normal, saya pikir nggak usah Ay (P. AuSudah lama sakit ini, bosan rasanya kontrol Ay (P. AuSaya juga ada tensiA obatnya banyak jadi Ay (P. AuSaya ada kolesterol juga, jadi makin banyak Ay (P. AuSaya merasa putus asaA buat apa minum obat terus. Ay (P. AuObatnya banyak, jadi sering keliru. Ay (P. AuKadang ada obat baru, saya bingung Ay (P. AuObat bikin mual, jadi saya berhenti dulu. (P. AuMinum obat bikin pusing. Ay (P. AuMinum obat bikin pusing, jadi saya stop Ay (P. AuKalau terasa enakan, saya berhenti obat. (P. AuKadang lupa, apalagi kalau lagi kerja. Ay (P. AuKalau lagi sibuk di rumah, suka kelewat. (P. AuSaya percaya doa dan jaga makan bisa Ay (P. AuLebih baik herbal daripada obat kimia. Ay (P. AuKalau gula darah naik tinggi, baru saya rajin Ay (P. AuKalau badan sehat, jadi malas minum obat. (P. AuSaya merasa tidak mengalami kesembuhanA buat apa minum obat terus. Ay (P. Riza Alfian, dkk | 221 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tema 1 : Faktor sosial dan ekonomi Analisis Tema 3 : Faktor kondisi penyakit Sebagian menurunkan kepatuhan karena tidak hambatan utama bagi pasien diabetes melitus dalam menjalani pengobatan. diabetes melitus, sehingga memandang Hambatan yang muncul adalah biaya obat tidak selalu diperlukan. Pasien transportasi dan jarak ke Puskesmas, dengan riwayat penyakit kronis lama juga melaporkan kejenuhan terhadap kontrol rutin. Beberapa pasien juga kontrol berulang. Komorbiditas seperti menyampaikan kurangnya dukungan hipertensi dan kolesterol menambah kepatuhan pengobatan. beberapa pasien bingung dan lelah Tema 2 : Faktor sistem dan tenaga dengan jumlah obat yang banyak. Selain itu, aspek psikologis seperti rasa Hambatan yang berkaitan dengan putus asa terhadap kondisi kronis tim dan sistem kesehatan mencakup menjadi pemicu rendahnya motivasi konsultasi yang singkat dan terbatas, untuk meneruskan pengobatan. sehingga pasien sering tidak memiliki Tema 4 : Faktor terapi Kompleksitas pengobatan, termasuk jumlah obat yang Edukasi pasien oleh tenaga banyak dan perubahan resep yang kesehatan juga dianggap minim, di sering, menjadi faktor penghambat mana informasi hanya sebatas jadwal minum obat tanpa penjelasan mengenai pusing, dan mual membuat sebagian pentingnya kepatuhan jangka panjang. Selain itu, sistem antrian yang panjang konsultasi dengan tenaga kesehatan. menurunkan motivasi pasien untuk Fenomena penghentian obat secara melakukan kunjungan rutin. Efek pengobatan disengaja juga ditemukan pada penelitian ini. Riza Alfian, dkk | 222 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tema 5 : Faktor pasien Faktor pasien mencakup aspek pengobatan pasien penyakit kronis kognitif, keyakinan, dan motivasi. Lupa (Kardas et al. , 2025. Ghanbari-Jahromi minum obat akibat kesibukan menjadi et al. , 2. Dukungan keluarga yang minim, baik dari aspek finansial memiliki keyakinan personal yang maupun pengingat untuk minum obat. Beberapa mengandalkan doa, pola makan, atau pengobatan herbal sebagai pengganti pengobatan (Schwarz et al. , 2. Pada domain faktor sistem dan terapi farmakologis. Motivasi pasien bersifat fluktuatif, di mana kepatuhan singkat, komunikasi yang terbatas, dan kurangnya edukasi pasien menjadi isu kesehatan, konsultasi memburuk atau kadar gula darah tinggi, tetapi menurun saat kondisi membaik. tenaga kesehatan sering kali hanya Di samping itu, rasa bosan terhadap memberikan instruksi sederhana terkait jadwal minum obat tanpa memberikan teridentifikasi sebagai hambatan serius. penjelasan mendalam mengenai tujuan. Hasil penelitian ini menunjukkan manfaat, maupun konsekuensi dari bahwa hambatan kepatuhan pengobatan ketidakpatuhan (Alfian et al. , 2025b, pada pasien diabetes melitus bersifat Alsairafi et al. , 2019. Wibowo et al. multidimensional dan sejalan dengan Selain itu, sistem antrian yang lima domain yang dijelaskan dalam lama menurunkan motivasi pasien teori kepatuhan pengobatan WHO. untuk kontrol rutin. Hasil ini sejalan Pada dengan literatur yang menyatakan keterbatasan biaya menjadi temuan bahwa sistem pelayanan yang lemah. Pasien mengalami kesulitan waktu konsultasi yang terbatas, dan untuk biaya transportasi ke fasilitas ketersediaan obat yang tidak stabil Hal ini sesuai dengan temuan di berbagai negara berkembang rendahnya kepatuhan pasien kronis bahwa hambatan ekonomi dan jarak (Kvarnstrom et al. , 2. faktor sosial Pasien geografis merupakan faktor penting Riza Alfian, dkk | 223 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Faktor kondisi penyakit juga kelalaian(Habte et al. , 2. Efek memainkan peran penting. Banyak samping obat seperti pusing atau rasa pasien yang tidak merasakan gejala langsung dari diabetes melitus sehingga menurunkan persepsi kebutuhan obat. mandiri tanpa berkonsultasi dengan Hal ini menggambarkan rendahnya risk tenaga kesehatan (Padhi et al. , 2. perception pasien terhadap komplikasi Situasi ini memperlihatkan bahwa jangka panjang (Kassavou and Sutton, aspek manajemen efek samping masih 2017. Thangiah et al. , 2. Selain itu, kurang optimal yang menyebabkan pasien dengan riwayat sakit kronis yang panjang mengalami kejenuhan terhadap penggunaan obat. Beberapa meliputi keterbatasan memori . upa minum oba. , rendahnya motivasi, serta Sementara itu, faktor pasien psikologis yang memengaruhi perilaku Temuan ini mendukung memengaruhi keputusan pengobatan. penelitian sebelumnya bahwa kelelahan Sebagian pasien mempercayai doa, diet, pengobatan . reatment fatigu. dan signifikan ketidakpatuhan pengobatan mematuhi pengobatan ketika kadar gula (Pourhabibi et al. , 2. Pada darah meningkat (Hashimoto et al. Pola motivasi yang fluktuatif ini menandakan bahwa kepatuhan masih Pasien bersifat reaktif, bukan preventif (Khunti et al. , 2. Hal ini sesuai dengan banyak, dengan jadwal yang berbeda, kerangka WHO yang menekankan bahwa faktor pasien hanyalah satu Hal bagian dari determinan kepatuhan, dan Riza Alfian, dkk | 224 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Implikasi praktis dari penelitian ini cukup jelas. Pertama, intervensi keluarga, tenaga kesehatan, sistem pelayanan, dan kebijakan pembiayaan. Dengan Apoteker di Puskesmas memiliki peran pengelolaan diabetes melitus di layanan strategis untuk memberikan edukasi primer dapat lebih optimal, dan risiko yang komprehensif, menjelaskan tujuan terapi, serta mengedukasi pasien terkait manajemen efek samping (Uddin et al. Kutluay et al. , 2. Kedua. KESIMPULAN Penelitian bahwa kepatuhan pengobatan pasien kelompok pasien diabetes melitus atau penggunaan pengingat obat berbasis keluarga, sehingga pasien tidak merasa sosial dan ekonomi, tenaga dan sistem pelayanan kesehatan, kondisi penyakit. Ketiga, integrasi teknologi digital, berinteraksi mempengaruhi kepatuhan seperti aplikasi pengingat minum obat Upaya atau layanan telefarmasi, dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kepatuhan melalui dukungan keluarga, penguatan pengobatan pasien di luar kunjungan sistem layanan, simplifikasi terapi, serta rutin (Alfian et al. , 2021. Almeman, berkelanjutan oleh apoteker. kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tidak bisa ditingkatkan Faktor (Presley et al. , 2021. Bakhsh, 2. Secara UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini dapat dilaksanakan hanya dengan mengandalkan faktor Penelitian dan Pengabdian kepada Diperlukan Program Riza Alfian, dkk | 225 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 216-228 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Masyarakat Tahun Anggaran 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan. Kementerian Pendidikan Tinggi. Sains, dan Teknologi. Penulis menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan sehingga penelitian ini dapat terselenggara dengan baik. DAFTAR PUSTAKA