CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif https://doi. org/10. 25008/caraka. EKA NURSAFITRI ENCANG SAEPUDIN ANDRI YANTO Universitas Padjadjaran. Indonesia ABSTRACT The purpose of writing this final project report is to explain the role of the director in each stage of the production of the documentary film AuTricked By TrendsAy with an expository and narrative approach. The creation method used consists of three stages, namely pre-production, production, and postproduction. In the pre-production stage, the director plays an active role in developing ideas and compiling concepts with the scriptwriter, and ensuring that the narrative structure and expository approach have been carefully designed. In the production stage, the director directs the shooting, interviews, and other visual elements to align with the narrative flow and expository objectives of the Meanwhile, in the post-production stage, the director is responsible for finalizing and revising the production results to become a unified whole. In conclusion, the role of the director in the documentary AuTricked By TrendsAy was successfully carried out well, starting from the formation of the concept to the final completion of the work, by integrating expository and narrative approaches harmoniously to convey the issue of impulsiveness among Gen Z effectively. Keywords: Directing. Documentary. Expository. Narrative. Gen Z. Impulsive Behavior. ABSTRAK Penulisan laporan tugas akhir ini bertujuan untuk menjelaskan peran sutradara dalam setiap tahapan produksi film dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan pendekatan ekspositori dan naratif. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari tiga tahap, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pada tahap pra-produksi, sutradara berperan aktif dalam pengembangan ide dan penyusunan konsep bersama scriptwriter, serta memastikan bahwa struktur naratif dan pendekatan ekspositori telah dirancang dengan matang. Pada tahap produksi, sutradara mengarahkan pengambilan gambar, wawancara, dan elemen visual lainnya agar selaras dengan alur naratif dan tujuan ekspositori film. Sementara pada tahap pasca-produksi, sutradara bertanggung jawab melakukan finalisasi dan revisi terhadap hasil produksi agar menjadi satu kesatuan yang utuh. Kesimpulannya, peran sutradara dalam film dokumenter AuTricked By TrendsAy berhasil dijalankan dengan baik, mulai dari pembentukan konsep hingga penyelesaian akhir karya, dengan mengintegrasikan pendekatan ekspositori dan naratif secara harmonis untuk menyampaikan isu impulsif di kalangan Gen Z secara efektif. Kata Kunci: Penyutradaraan. Dokumenter. Ekspositori. Naratif. Gen Z. Perilaku Impulsif. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 AuthorAos email correspondent: Eka21006@mail. The author declares that she/he has no conflict of interest in the research and publication of this manuscript Copyright A 2025 (Eka Nursafitr. Licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 (CC BY-SA 4. Available at http://caraka. Submitted: July 19, 2025. Revised: July 31, 2025. Accepted: December 1, 2025 PENDAHULUAN Dalam proses produksi film, peran sutradara sangat dibutuhkan sebagai penggerak utama proses kreatif dari awal hingga akhir. Lebih dari sekadar mengarahkan kamera atau mengatur adegan, seorang sutradara bertanggung jawab untuk menerjemahkan ide ke dalam bentuk visual, membentuk struktur narasi, serta memastikan bahwa semua elemen produksi berjalan selaras dengan visi yang telah ditetapkan. Mengusung tema mengenai perilaku impulsif di kalangan Gen Z, penulis sebagai sutradara memilih dokumenter sebagai medium karena dinilai efektif dalam menyampaikan isu sosial melalui pendekatan yang informatif dan reflektif. Sebagaimana dikemukakan Rabiger . , dokumenter merupakan bentuk komunikasi visual yang mampu mengubah cara pandang masyarakat melalui representasi realitas yang ditata secara kreatif. Oleh karena itu, tanggung jawab sutradara tidak hanya berada pada aspek teknis, tetapi juga dalam membentuk narasi dan pesan yang relevan serta bermakna bagi penonton. Dalam konteks film AuTricked by TrendsAy, penulis bertindak sebagai sutradara yang mengoordinasikan seluruh rangkaian produksi untuk menyampaikan pesan sosial secara Dengan mengombinasikan pendekatan ekspositori dan naratif, sutradara memiliki tanggung jawab lebih dalam memastikan bahwa informasi dan emosi yang ditampilkan mampu membentuk pemahaman dan kedekatan audiens terhadap isu. Tahap pra-produksi menjadi ruang awal bagi sutradara untuk merumuskan arah artistik dan substansi film. Sutradara berperan dalam memilih isu yang akan diangkat, menyusun struktur naratif, menentukan gaya penyajian, serta menyelaraskan seluruh perencanaan dengan pendekatan dokumenter yang dipilih. Dalam proyek ini, pendekatan ekspositori digunakan untuk menjelaskan fenomena secara faktual melalui narasi dan data, sedangkan pendekatan naratif digunakan untuk membangun alur cerita berdasarkan pengalaman tokoh. Nichols . menjelaskan, gaya ekspositori berfungsi untuk mengkomunikasikan informasi secara langsung kepada penonton, sering kali melalui penggunaan narator yang menyampaikan argumentasi secara eksplisit. Sementara itu, pendekatan naratif mengandalkan kekuatan cerita dan karakter untuk membangun koneksi emosional. Keduanya memerlukan struktur yang jelas dan perencanaan visual yang tepat sejak awal, dan semua itu berada dalam kendali sutradara. Pada tahap ini, sutradara menyusun sinopsis, treatment, dan breakdown visual. Penulis sebagai sutradara juga menentukan elemen produksi yang mendukung pendekatan ini, seperti pengembangan narasi tiga babak yang terdiri dari: pembukaan, konflik, dan penyampaian solusi. Sutradara bekerja erat dengan penulis naskah untuk memilih tokoh yang representatif serta menyusun alur pengambilan gambar dan wawancara. Selain aspek kreatif, sutradara juga berperan dalam menyusun timeline, menyusun daftar kebutuhan produksi, memilih kru, serta memimpin proses pra-visualisasi melalui storyboard dan moodboard. Menurut Hampe . , tahap pra-produksi yang kuat di bawah kepemimpinan sutradara akan meminimalkan hambatan teknis dan non-teknis selama proses syuting. Tahap produksi merupakan momen penting di mana ide dan rencana dieksekusi secara nyata di Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Sutradara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa proses pengambilan gambar, wawancara, dan perekaman audio berjalan sesuai dengan konsep kreatif dan kebutuhan naratif. Dalam AuTricked by TrendsAy, produksi dibagi menjadi dua fokus besar: dokumentasi naratif berupa testimoni tokoh, serta dokumentasi ekspositori berupa footage pendukung dan voice-over narasi. Sutradara mengarahkan proses wawancara secara langsung dengan memastikan bahwa pertanyaan yang diajukan dapat menggali aspek emosional dan personal dari narasumber. Proses ini penting dalam pendekatan naratif karena narasi dibangun dari pengalaman Sutradara juga mengatur blocking, frame, dan ritme percakapan agar wawancara terasa mengalir dan natural. Hal ini sesuai dengan pendapat Aufderheide . , yang menyebutkan, kualitas narasi dokumenter sangat bergantung pada bagaimana sutradara memandu tokoh dan menciptakan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pengalaman. Di sisi lain, pengambilan gambar ekspositori seperti cuplikan aktivitas konsumtif, tampilan media sosial, dan footage visual tren diproduksi di bawah arahan sutradara untuk mendukung voice-over dan narasi utama. Sutradara juga memastikan transisi antar segmen berjalan halus dengan mempertimbangkan urutan visual yang selaras secara logis maupun Komunikasi antara sutradara dan kru teknis sangat penting untuk menjaga kualitas Sutradara memastikan bahwa pencahayaan, komposisi gambar, dan pergerakan kamera sesuai dengan gaya dokumenter yang ingin dicapai. Peran ini menunjukkan bahwa penyutradaraan dalam dokumenter bukan hanya soal cerita, melainkan juga pengendali utama estetika visual. Tahap pasca-produksi adalah fase penyatuan seluruh elemen produksi menjadi satu karya yang utuh. Sutradara bertugas mengawasi dan mengarahkan proses penyuntingan . , pengisian suara . oice-ove. , pemberian efek visual dan audio, serta pemilihan musik latar yang sesuai. Di tahap ini, peran kreatif sutradara kembali menonjol dalam membentuk struktur akhir naratif dan ekspositori secara bersamaan. Sutradara bekerja bersama editor untuk menentukan potongan terbaik dari hasil wawancara, menyusun alur footage, serta menyelipkan narasi voice-over yang menjadi tulang punggung pendekatan ekspositori. Narasi tersebut harus informatif, padat, dan mengarahkan penonton pada poin-poin kunci dari film. Rabiger . menekankan bahwa di tahap pascaproduksi, sutradara harus tetap mempertahankan ritme dan fokus cerita agar tidak kehilangan arah dari pesan utama film. Sementara itu, penyuntingan pendekatan naratif dilakukan dengan membentuk alur dramatik dari testimoni tokoh. Proses ini mencakup pemilihan kutipan, ekspresi visual, serta penyusunan adegan-adegan yang dapat membangun empati penonton. Sutradara harus sensitif terhadap momen-momen emosional yang dapat menguatkan keterhubungan antara audiens dan subjek film. Keputusan akhir terkait penambahan grafis, pemilihan ilustrasi visual, serta pengaturan sound design juga berada di bawah pengawasan sutradara. Hampe . menyebut bahwa sutradara perlu mengembangkan Aurasa sinematikAy dalam pasca-produksi agar hasil akhir bukan sekadar informatif, tetapi juga menarik secara estetis dan emosional. Dalam hal ini, sutradara berperan sebagai kurator pengalaman menonton. Melalui dokumenter AuTricked by TrendsAy, peran sutradara terlihat secara nyata dalam seluruh tahapan produksi, dari perumusan gagasan hingga penyusunan akhir karya. Dengan mengintegrasikan pendekatan ekspositori dan naratif, sutradara dituntut tidak hanya berpikir logis, tetapi juga estetis dan empatik. Kepemimpinan kreatif dan kontrol penuh terhadap alur produksi membuat sutradara menjadi pusat dari keseluruhan proses penciptaan film Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 dokumenter ini. Lebih dari sekadar mengatur teknis syuting, sutradara bertindak sebagai pemegang visi dan penjamin kualitas narasi. Dokumenter sebagai bentuk seni dan komunikasi sosial memerlukan sosok yang mampu menjembatani antara realitas dan interpretasi, serta antara data dan emosi. Dalam hal ini, penyutradaraan menjadi landasan yang menghidupkan seluruh elemen produksi dan menjadikannya satu kesatuan yang kuat dan bermakna. KERANGKA TEORI Penyutradaraan dalam film dokumenter memiliki peran sentral dalam mengarahkan visi kreatif dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Menurut Rabiger . , sutradara dokumenter tidak hanya bertugas membentuk narasi dari kenyataan, tetapi juga mengatur struktur dramatik dan visual untuk memperkuat pesan ideologis maupun estetika Dalam konteks film dokumenter AuTricked by TrendsAy, penyutradaraan memegang kendali untuk mengangkat isu sosial-budaya terkait fenomena tren yang mengecoh kesadaran Pendekatan ekspositori, sebagaimana dijelaskan oleh Bill Nichols . , merupakan salah satu bentuk representasi dokumenter yang paling umum, di mana narasi dikonstruksi melalui voice-over, wawancara, dan footage arsip untuk membangun argumen yang logis. Ini bertujuan untuk mengungkap kebenaran melalui pendekatan yang didaktik dan informatif, sering kali disertai narator yang Auserba tahuAy. Sementara itu, pendekatan naratif dalam dokumenter merujuk pada penggunaan struktur dramatik yang menyerupai fiksi, termasuk penggunaan tokoh utama, alur, konflik, dan resolusi. Pendekatan ini sering dipakai untuk meningkatkan daya tarik emosional serta memperdalam identifikasi penonton terhadap subjek. Beattie . menyebut bahwa integrasi elemen naratif dalam dokumenter dapat menciptakan keterlibatan yang lebih mendalam tanpa kehilangan esensi faktual. Kombinasi antara pendekatan ekspositori dan naratif dalam penyutradaraan dokumenter memungkinkan penyampaian pesan yang kuat dan menyentuh, sekaligus menjaga integritas data dan kejujuran representasi. Dalam hal ini. AuTricked By TrendsAy memanfaatkan kedua pendekatan tersebut untuk menyampaikan realitas di balik fenomena sosial yang semu namun berpengaruh luas. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi produksi, yaitu pendekatan yang menelaah proses kreatif pembuatan film dokumenter dari tahapan praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi. Fokus utama penelitian ini adalah analisis penyutradaraan dalam film dokumenter AuTricked by TrendsAy, khususnya dalam penerapan pendekatan ekspositori dan naratif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap proses produksi film, dokumentasi proses kreatif . eperti naskah, storyboard, log shootin. , serta wawancara mendalam dengan sutradara dan kru kunci lainnya. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis isi terhadap struktur naratif dan strategi ekspositori yang digunakan dalam film. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri sebagai pelaku sekaligus pengamat dalam proses produksi, sehingga validitas data diperkuat dengan triangulasi sumber dan dokumentasi visual. Hasil dari metode ini diharapkan dapat menggambarkan bagaimana keputusankeputusan penyutradaraan memengaruhi bentuk dan makna dari film dokumenter yang Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 diproduksi, serta bagaimana integrasi dua pendekatan dokumenter tersebut dapat memperkuat penyampaian pesan kepada audiens. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyutradaraan film dokumenter AuTricked by TrendsAy tidak lepas dari peran sutradara yang memegang peranan sentral mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi. Penulis sebagai sutradara juga menerapkan dua pendekatan untuk menciptakan film dokumenter yang tidak hanya informatif tetapi juga emosional dan terstruktur melalui pendekatan ekspositori dan naratif. Pengarahan terhadap proses kreatif selama produksi juga menjadi bagian penting dalam penyutradaraan, yang turut dibahas pada bagian ini. Peran Sutradara dalam Produksi Dokumenter Sebagai sutradara film dokumenter AuTricked by TrendsAy, penulis memegang peran utama dalam mengarahkan jalannya produksi sejak tahap pra-produksi hingga pascaproduksi. Tahap pra-produksi merupakan pondasi awal dari keseluruhan penciptaan film dokumenter AuTricked by TrendsAy. Pada tahap ini, penulis merancang segala aspek kreatif dan teknis untuk memastikan kelancaran proses produksi dan konsistensi narasi. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan: Pra-Produksi. Penentuan Ide Cerita. Dalam proses pra-produksi film dokumenter AuTricked by TrendsAy, tahap awal yang penulis lakukan adalah menentukan ide cerita, konsep, dan topik yang akan diangkat. Tidak hanya menjadi tahapan awal, fase ini juga merupakan tahapan penting untuk menentukan arah dan fokus dari karya film yang akan digarap. Dengan menentukan sudut pandang atau perspektif yang ingin diambil, penulis juga harus memikirkan bagaimana pesan yang ingin disampaikan dapat tervisualisasi dengan baik. Diawali dengan pengamatan mendalam tentang berbagai fenomena sosial yang ada Penulis dan rekan script writer saling berbagi pandangan yang pada akhirnya membawa kami mengungkapkan keresahan yang sama akan perilaku impulsif pada diri kami yang sering kali dipicu oleh tekanan sosial dan pengaruh trend digital. Setelah diskusi bersama dengan dosen pembimbing, kami memutuskan untuk mengangkat tema impulsive buying sebagai topik utama karya tugas akhir. Pemilihan topik ini juga diharapkan bisa memberikan gambaran dan juga mengedukasi penonton tentang fenomena impulsive buying dan bagaimana mengendalikan perilaku ini. Riset Topik. Tahap berikutnya yang dilakukan ialah melakukan riset secara mendalam tentang topik dengan tujuan untuk mendapatkan data yang kuat, akurat, dan berdasarkan Penulis dan tim produksi melakukan riset topik dengan menelusuri sumber-sumber kredibel seperti jurnal, buku, artikel, website, hingga konten audio-visual. Selain itu, penulis dan tim juga melakukan pemantauan pada media sosial seperti Instagram dan TikTok, aplikasi e-commerce, hingga website untuk melihat update terbaru mengenai hal yang berkaitan dengan topik. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat dan layak untuk ditayangkan dalam film dokumenter yang penulis dan tim produksi. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Gambar 1. Sumber Riset Menentukan Job Description. Penulis dan tim memutuskan melakukan pembagian job description sebagai berikut: Tabel 1. Job Description Director Scriptwriter Camera Person Documentalis Editor & Voice Over Eka Nursafitri Tengku Nadila Aulia Resa Pramana Rifa Oktavia Resa Pramana Membuat Timeline Produksi. Setelah menetapkan job description, penulis bersama seluruh tim produksi melakukan brainstorming untuk merancang jadwal setiap tahapan Penyusunan timeline atau jadwal rencana kerja ini bertujuan agar proyek dapat berjalan terstruktur dan selesai tepat waktu sesuai dengan target yang telah ditentukan. Seluruh rancangan timeline produksi dirancang menggunakan Google Spreadsheet sehingga dapat diakses dan dipantau secara langsung oleh seluruh anggota tim. Adapun timeline produksi yang telah disusun adalah sebagai berikut: Tabel 2. Timeline Produksi Penentuan Narasumber. Menentukan narasumber merupakan tahapan yang sangat penting dan krusial karena mereka berperan sebagai informan yang memberikan informasi mendalam untuk mendukung kebutuhan produksi. Narasumber berfungsi sebagai sumber data primer yang dapat menyampaikan fakta, wawasan, serta pandangan mengenai topik yang diangkat. Kehadiran seorang ahli juga dapat memperluas sudut pandang dan meningkatkan tingkat kepercayaan terhadap informasi yang disampaikan, sebab pengalaman yang dimiliki narasumber memungkinkan mereka menyampaikan informasi yang akurat dan meyakinkan bagi penonton. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Gambar 2. Kriteria Narasumber Berdasarkan pertimbangan tersebut, penulis bersama tim produksi merumuskan kriteria khusus sebagai pedoman dalam memilih narasumber untuk film dokumenter ini. Pemilihan narasumber yang tepat menjadi faktor kunci untuk menjamin integritas, kualitas, serta dampak yang ingin dicapai terhadap audiens. Berikut ini adalah daftar narasumber yang telah bersedia diwawancarai dan dipilih oleh penulis bersama tim: Tabel 3. Daftar Narasumber Sumber Nama Narasumber Talitha Nadhira Arisandy Daffa Dhiya Ulhaq Prof. Aulia Iskandarsyah. Psi. Si. Sc. Ph. Keterangan Gen Z belum berpengalaman Gen Z sudah berpengalaman Menyusun Daftar Pertanyaan Wawancara. Dalam proses penyusunan daftar pertanyaan, penulis selaku sutradara berkolaborasi dengan penulis naskah untuk merancang pertanyaan yang sistematis dan terfokus guna memperoleh jawaban yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan film dokumenter AuTricked by TrendsAy. Pertanyaan-pertanyaan ini disusun untuk menggali informasi yang relevan dan menyeluruh dari narasumber, serta mendorong munculnya cerita atau pengalaman pribadi yang dapat memperkuat alur narasi film. Topik pertanyaan mencakup berbagai aspek, mulai dari latar belakang narasumber hingga pandangan maupun pengalaman pribadi yang berkaitan dengan isu yang diangkat. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Dalam penyusunannya, tim juga mempertimbangkan kemungkinan beragam perspektif yang dimiliki narasumber agar mereka dapat menyampaikan pendapat dan pengalaman secara terbuka, sehingga wawancara yang dihasilkan menjadi lebih kaya dan bermakna. Gambar 3. Daftar Pertanyaan Wawancara Penyusunan Alur Cerita dalam Bentuk Storyboard. Setelah menetapkan ide cerita, melakukan riset, menetapkan narasumber serta membuat pertanyaan untuk mereka, penulis melanjutkan tahap pra-produksi dengan menyusun alur cerita dalam bentuk storyboard. Storyboard merupakan rangkaian sketsa visual yang tersusun berurutan untuk menggambarkan jalan cerita dari awal hingga akhir. Pada tahap awal, penulis bersama tim produksi merancang konsep visual film dengan mempertimbangkan pesan utama yang ingin disampaikan serta gaya visual yang sesuai dengan tema. Berdasarkan konsep tersebut, penulis selaku sutradara kemudian menentukan adegan-adegan kunci yang akan dimasukkan ke dalam storyboard, termasuk sesi wawancara, momen penting, dan situasi yang relevan dengan isi film. Setelah menentukan adegan-adegan yang akan dimasukkan, sutradara mulai merepresentasikan setiap adegan ke dalam storyboard menggunakan referensi visual berupa foto yang mencerminkan komposisi gambar yang diinginkan. Dalam proses ini, penyusunan urutan adegan dan estimasi durasi masing-masing adegan juga dilakukan untuk memperoleh gambaran durasi keseluruhan film. Meski telah tersusun dengan rapi, pengambilan gambar di lapangan sering kali mengalami perubahan atau penyesuaian spontan, mengingat karakter film dokumenter yang Oleh karena itu, storyboard berperan sebagai panduan awal yang solid dan fleksibel dalam proses produksi. Dalam penyusunannya, alur cerita film ini secara struktural mengikuti pendekatan tiga babak, yaitu pembukaan . et-u. , pengembangan konflik . , dan penyelesaian . Struktur ini menjadi dasar dalam menyusun storyboard, di mana setiap babak diwakili oleh rangkaian adegan yang dirancang untuk membangun narasi secara bertahap. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Gambar 4. Storyboard AuTricked by TrendsAy Membuat Moodboard. Dalam film dokumenter. Moodboard berfungsi sebagai langkah awal yang bersifat kreatif dan visual untuk merancang estetika, nuansa, dan tema yang ingin disampaikan dalam film. Umumnya, moodboard memuat berbagai referensi visual seperti set, foto, gaya pengambilan gambar, teknik pewarnaan . olor gradin. , dan elemen visual lainnya. Keberadaan moodboard mempermudah sutradara dalam menyampaikan visi visual kepada videografer dan editor. Mengacu pada moodboard juga membantu menjaga konsistensi gaya visual selama proses produksi film dokumenter berlangsung. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Gambar 5. Moodboard AuTricked By TrendsAy Penggarapan Shot List. Tahap selanjutnya adalah menyusun shot list, yang merupakan salah satu bagian krusial dalam merencanakan proses pengambilan gambar secara rinci, sistematis, dan terstruktur. Shot list berisi informasi penting seperti lokasi, urutan adegan, jenis pengambilan gambar . eperti wide, medium, atau close-u. , sudut kamera, gerakan kamera, serta aksi yang akan direkam dalam setiap adegan. Dokumen ini berfungsi sebagai panduan teknis saat proses syuting berlangsung. Selain itu, shot list mempermudah komunikasi antara sutradara dan videografer atau camera person terkait visualisasi yang diharapkan. Dengan adanya shot list, potensi kesalahpahaman antara sutradara dan kru kamera dapat diminimalkan. Melalui daftar ini, sutradara juga dapat memastikan bahwa seluruh elemen visual penting telah direncanakan dengan matang untuk mendukung penyampaian pesan film secara optimal kepada penonton. Tabel 4. Shot List AuTricked By TrendsAy Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Recce dan Observasi. Langkah selanjutnya yang penulis lakukan adalah recce atau observasi lapangan. Tahap ini merupakan salah satu yang paling penting sebelum proses Tujuannya adalah untuk memastikan lokasi sesuai dengan visi cerita, memperhatikan pencahayaan, ruang gerak kamera, kebisingan, serta potensi hambatan Bagi film dokumenter, recce juga berguna untuk memahami aktivitas subjek di lingkungan asli, sehingga sutradara dapat merancang pendekatan visual yang lebih realistis dan mendalam. Proses ini membantu menyelaraskan kebutuhan teknis dengan narasi yang ingin disampaikan. Pada proses ini penulis juga mengurus perizinan kepada pihak manajemen atau pengelola agar pada saat proses shooting berlangsung tidak ada kendala perizinan. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Gambar 6. Recce dan Observasi Menyusun Rancangan Anggaran Biaya. Penyusunan anggaran dilakukan guna merinci kebutuhan produksi secara realistis. Perincian anggaran mencakup konsumsi kru, biaya transportasi, penyewaan peralatan, serta dana cadangan untuk keperluan tak terduga. Dokumen ini berfungsi sebagai pedoman selama proses produksi untuk menghindari pemborosan dana, sekaligus menjadi elemen penting dalam laporan pertanggungjawaban administratif tugas akhir. Tabel 5. Rancangan Anggaran Biaya Briefing dengan Narasumber. Langkah terakhir sebelum produksi dimulai adalah menghubungi kembali para narasumber untuk memastikan kehadiran mereka. Pada tahap ini penulis berkomunikasi dengan narasumber melalui zoom meeting dan whatsapp. Membahas mengenai situasi di lapangan, rundown, akses lokasi, outfit yang digunakan, hingga persiapan mental agar narasumber merasa nyaman saat proses pengambilan gambar berlangsung. Penulis juga menjelaskan kembali tujuan film dokumenter ini agar narasumber memahami konteks dan peran mereka dalam cerita. Selain itu, disampaikan pula teknis wawancara seperti durasi, gaya bertutur, dan kemungkinan pengambilan gambar ulang jika diperlukan. Tahap ini penting untuk membangun kepercayaan, memastikan koordinasi berjalan lancar, serta meminimalisir hambatan saat proses produksi. Produksi Tahap produksi merupakan fase pelaksanaan pengambilan gambar . di Pada tahap ini, penulis berperan sebagai sutradara untuk menerjemahkan ide, konsep, skenario, dan storyboard menjadi bentuk visual yang nyata. Penulis bertanggung Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 jawab dalam memberikan arahan, melakukan pengawasan, serta memantau jalannya proses pengambilan gambar dan wawancara agar hasil akhir sesuai dengan konsep kreatif yang telah dirancang dan memiliki kualitas yang optimal. Selain itu, sebagai sutradara, penulis juga dituntut untuk memahami dengan baik alur cerita serta penguasaan terhadap peralatan dan media yang digunakan dalam produksi film dokumenter AuTricked by TrendsAy. Produksi dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 29 April dan 05 Mei 2025. Fokus utama pada tahap ini adalah pelaksanaan teknis di lapangan, mencakup perekaman footage dan sesi wawancara. Sebagai sutradara, penulis juga turut mengambil peran penting dalam pengambilan keputusan krusial selama proses produksi berlangsung. Kemampuan untuk membuat keputusan kreatif secara cepat sangat dibutuhkan, misalnya dalam menentukan sudut pengambilan gambar yang paling tepat, melakukan improvisasi pada adegan tertentu, atau menyesuaikan skenario apabila terjadi perubahan situasi di lokasi. Setiap keputusan yang diambil memiliki dampak langsung terhadap kualitas akhir film Setelah kegiatan pengambilan gambar selesai, penulis melakukan evaluasi menyeluruh terhadap materi yang telah direkam, baik dari sisi visual maupun audio, guna memastikan tidak ada kekurangan. Apabila ditemukan ketidaksesuaian atau kekurangan, maka langkah antisipatif akan segera diambil. Gambar 7. Produksi Hari Ke-1 Produksi Hari Ke - 1 . April 2. Kegiatan produksi hari pertama dimulai dengan sesi wawancara bersama narasumber ahli yaitu Prof. Aulia Iskandarsyah. Psi. Sc. Ph. dosen sekaligus psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Narasumber ahli dipilih karena kompetensinya dalam bidang psikologi yang relevan dengan tema utama Proses wawancara dilakukan di selasar Dekanat Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran yang telah disepakati sebelumnya, dengan durasi sekitar 60 menit. Penulis sebagai sutradara bertugas untuk memimpin jalannya proses produksi, mulai dari memastikan semua peralatan teknis terpasang, menentukan angle dan pencahayaan, mengatur posisi duduk dan pandangan narasumber selama proses recording, melakukan brief mengenai pertanyaan dan cara narasumber menjawab, memastikan audio terpasang dan memiliki kualitas yang jernih, serta bekerja sama dengan camera person untuk mengamati kualitas gambar agar sesuai dengan yang diinginkan. Selama proses wawancara berlangsung Prof. Aulia dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan secara lugas dan jelas dengan sangat minim kendala. Bahkan proses shooting jauh lebih cepat dari yang penulis prediksi. Hadirnya narasumber ahli dalam film dokumenter ini merupakan perwujudan dari pendekatan ekspositoris, di mana informasi disampaikan secara langsung kepada penonton melalui wawancara yang bersifat informatif dan Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Produksi Hari Ke - 2 . Mei 2. Proses produksi dilanjutkan di Jakarta dengan mengambil setting lokasi pada tiga tempat berbeda yaitu di Mall Lotte Shopping Avenue. Muyen Coffee and Roastery, serta Sanur Elok Residence. Narasumber pertama merupakan seorang Gen Z yang belum memiliki penghasilan tetap bernama Talitha Nadhira, ia seringkali terpapar oleh budaya konsumsi impulsif melalui media sosial dan platform e-commerce, bahkan dirinya mengaku bahwa ia merupakan pengguna layanan pay later. Sedangkan narasumber kedua adalah Gen Z bernama Daffa Dhiya Ulhaq yang telah memiliki penghasilan tetap namun juga memiliki perilaku impulsif. Gambar 8. Produksi Hari Ke-2 Wawancara dilakukan secara bergantian di tiga lokasi berbeda yang telah ditentukan. Penulis kembali berperan sebagai sutradara yang memandu jalannya proses produksi. Lokasi pertama yaitu Mall Lotte Shopping Avenue, disini terdapat beberapa pengambilan gambar bersama narasumber kedua untuk footage yang menggambarkan perilaku impulsif-nya ketika berada di pusat perbelanjaan. Terdapat beberapa kendala mengenai perizinan dengan pihak manajemen mall, namun untungnya penulis sudah menyiapkan alternatif lokasi lain yang lebih memungkinkan. Penulis mengarahkan narasumber untuk melakukan berbagai adegan sesuai dengan storyboard, mulai dari candid berjalan, melihat-lihat barang di toko, hingga menaiki lift. Disini penulis juga berkoordinasi dengan camera person dan scriptwriter agar adegan yang diambil tetap runtut dan sesuai dengan planning awal. Gambar 9. Produksi Hari Ke-2 Setelah semua adegan selesai diambil pada tempat pertama, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi kedua yaitu Muyen Coffee and Roastery. Di sini terdapat beberapa scene pengambilan gambar, diantaranya yaitu wawancara dengan narasumber kedua serta Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 merekam interaksi narasumber kedua dengan teman-temannya yang seringkali menghabiskan waktu di cafe. Di sini penulis dan tim mem-booking VIP room agar proses wawancara kondusif dan tidak mengganggu pelanggan lain. Sebelum memulai adegan, kami mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan mulai dari peralatan teknis seperti perakitan kamera pada tripod, penyesuaian lighting, dan pemasangan clip-on. Gambar 10. Produksi Hari Ke-2 Penulis juga menyampaikan kepada camera person untuk melakukan improvisasi agar gambar yang dihasilkan memiliki variasi shot. Kemudian penulis juga melakukan brief ulang kepada narasumber mengenai cara menjawab, pandangan pada saat recording, posisi duduk, hingga gesture tangan yang dapat ia mainkan. Setelah proses wawancara, kini saatnya untuk take adegan narasumber kedua dengan temannya. Adegan ini sebagai salah satu gambaran dari pendekatan naratif yang penulis implementasikan dalam film dokumenter ini, dimana digambarkan bahwa narasumber adalah seseorang yang sangat mengikuti perkembangan trend di media sosial mulai dari selalu nongkrong di cafe, update di media sosial, hingga memiliki berbagai bag charm yang sedang Gambar 11. Dokumentasi Hari Ke-2 Lokasi selanjutnya yang kami datangi yaitu Penginapan Sanur Elok Residence. Tempat ini merupakan gambaran dari kamar atau ruang pribadi narasumber pertama yang dimana terdapat berbagai barang pribadi narasumber yang ia beli dari hasil perilaku impulsif-nya. Mulai dari meja rias yang dipenuhi oleh skincare dan aksesoris hingga paket barang yang sudah menumpuk. Seperti sebelumnya, kami menyiapkan berbagai peralatan terlebih dahulu dan melakukan briefing. Penulis sebagai sutradara juga membantu mengatur tata letak pencahayaan, karena lampu ruangan cukup redup maka kami menggunakan reflektor dan diffuser agar intensitas cahaya lebih terang dan menyebar. Proses wawancara berlangsung cukup lama karena narasumber bercerita mengenai pengalamannya dengan sangat detail. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Selain pengambilan gambar wawancara, footage tambahan seperti aktivitas scrolling di ponsel, interaksi dengan aplikasi e-commerce, dan ekspresi emosional saat menjelaskan pengalaman belanja impulsif juga direkam sebagai materi visual pendukung. Pasca Produksi Tahap pasca-produksi menjadi fase krusial dalam mewujudkan keseluruhan visi naratif dan estetika visual film dokumenter AuTricked bTrendsAy. Pada tahapan ini, penulis selaku sutradara secara langsung mengawasi proses editing untuk memastikan bahwa hasil akhir film tetap konsisten dengan konsep yang telah dirancang sejak awal. Proses Editing dan Seleksi Footage. Proses editing dilakukan menggunakan perangkat lunak Adobe Premiere Pro dan Adobe After Effects oleh editor yang sebelumnya juga bertugas sebagai camera person. Dalam proses ini, penulis berperan aktif dalam menyeleksi footage yang paling relevan dan kuat secara visual, serta menjaga kesinambungan alur cerita. Pemilihan materi difokuskan pada penguatan sisi naratif pengalaman pribadi narasumber Gen Z dan kehadiran narasumber ahli, yang mencerminkan pendekatan naratif dan ekspositoris secara seimbang. Gaya Editing dan Visual Treatment. Gaya editing diarahkan untuk menyampaikan suasana emosional secara halus namun mendalam, dengan ritme pengisahan yang dinamis sesuai tema generasi digital. Warna visual disesuaikan melalui color grading dengan tone yang clean dan soft untuk menciptakan kesan modern namun tetap realistis. Penyesuaian framing seperti penggunaan close-up intens dan handheld shots bertujuan untuk menghadirkan kedekatan emosional antara narasumber dan penonton, serta menampilkan gesture dan ekspresi secara jujur sebagai bagian dari pendekatan naratif yang intim. Penambahan Visual Animasi. Untuk memperkuat penyampaian informasi pada bagian wawancara dengan narasumber ahli, penulis mengarahkan penambahan elemen visual animasi grafis yang menampilkan ilustrasi gambar, konsep psikologi, serta representasi visual dari pernyataan yang disampaikan. Animasi ini tidak hanya mempermudah penonton dalam memahami istilah atau proses psikologis, tetapi juga menjaga dinamika visual agar tidak Penggunaan animasi ini menjadi elemen pendukung dalam pendekatan ekspositoris yang mengutamakan kejelasan informasi tanpa mengurangi estetika keseluruhan film. Pengolahan Audio dan Musik Latar. Musik latar ditambahkan dengan nuansa modern lo-fi dan minimalis, merepresentasikan dunia digital Gen Z yang sekaligus memberi suasana reflektif dan santai. Penyesuaian audio mencakup keseimbangan antara suara narasumber, musik latar, dan suara ambience dari lokasi wawancara. Penambahan Highlight di Awal Video. Penulis juga memutuskan untuk menambahkan beberapa bagian penting dalam wawancara, dengan menampilkan kutipan singkat dari narasumber yang paling berdampak secara emosional maupun informatif. Highlight ini berfungsi sebagai hook untuk menarik perhatian penonton sejak awal dan menggambarkan inti permasalahan yang akan dibahas dalam dokumenter. Revisi dan Finalisasi. Selama proses pasca-produksi, dilakukan dua tahap revisi utama, diantaranya adalah sebagai berikut: . )Revisi pertama difokuskan pada penyempurnaan narasi voice-over, penyesuaian ritme visual, dan penyusunan ritme transisi antar sequence. )Revisi kedua meliputi penambahan visual pendukung seperti animasi grafis, highlight video wawancara, dan background musik. Setelah proses revisi selesai, penulis dan tim memastikan bahwa hasil akhir film dokumenter AuTricked By TrendsAy telah sesuai secara teknis, estetis, dan naratif. Kami juga meminta pendapat kepada para dosen pembimbing agar karya yang kami hasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membangun koneksi emosional dengan penonton. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 Penerapan Pendekatan Ekspositori dan Naratif Dalam penyutradaraan film dokumenter AuTricked yy TrendsAy, penulis sebagai sutradara memadukan pendekatan ekspositori dan naratif untuk menyampaikan pesan secara efektif sekaligus membangun keterlibatan emosional dengan penonton. Pendekatan ekspositori digunakan sebagai dasar untuk menyusun informasi secara sistematis dan objektif. Melalui voice over, gambar ilustrasi, dan wawancara dengan narasumber ahli seperti psikolog. Penulis menghadirkan penjelasan faktual mengenai fenomena konsumtif di kalangan Gen Z yang dipengaruhi oleh tren media sosial. Data dan opini tersebut disusun dengan struktur yang logis, bertujuan untuk mengedukasi penonton dan memperluas pemahaman mereka terhadap realitas yang diangkat. Sementara itu, pendekatan naratif diterapkan untuk memberikan dimensi personal dalam dokumenter ini. Penulis menampilkan kisah nyata dari dua tokoh Gen Z dengan latar belakang yang berbeda: ada yang sudah berpenghasilan dan belum berpenghasilan. Melalui alur cerita mereka, penonton diajak untuk memahami dampak tren belanja impulsif tidak hanya melalui angka dan teori, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari yang lebih dekat dan menyentuh. Pemilihan visual, ritme penyuntingan, serta cara pengambilan gambar pun diarahkan untuk memperkuat nuansa naratif ini, sehingga penonton dapat merasakan pergulatan batin dan tekanan sosial yang dialami para tokoh. Dengan menggabungkan kedua pendekatan tersebut, sutradara tidak hanya menyampaikan pesan secara informatif, tetapi juga menghadirkan pengalaman menonton yang reflektif dan emosional. Film menjadi jembatan antara data dan empati serta antara pemahaman intelektual dan keterhubungan personal, sehingga isu yang diangkat terasa lebih nyata dan relevan di mata audiens. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari keseluruhan proses penyutradaraan film dokumenter AuTricked by TrendsAy, penciptaan ini adalah sebagai berikut: Sutradara memiliki peran sentral dalam seluruh tahapan produksi film dokumenter, mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi. Pada tahap pra-produksi, sutradara bertanggung jawab merancang konsep, menyusun struktur narasi, menentukan narasumber, membuat timeline produksi, hingga menentukan gaya penyutradaraan yang efektif untuk film Selama produksi, sutradara mengarahkan pengambilan gambar dan memastikan narasumber dapat menyampaikan cerita dengan jujur dan alami. Pada tahap pasca-produksi, sutradara menyusun alur visual dan naratif secara utuh melalui proses penyuntingan yang memperhatikan ritme, tone, dan kesinambungan cerita. Pendekatan ekspositori digunakan untuk menyampaikan data dan informasi secara jelas dan faktual, terutama melalui wawancara dengan narasumber ahli. Sementara itu, pendekatan naratif dimanfaatkan untuk membangun alur cerita yang menggambarkan pengalaman personal para narasumber Gen Z secara kronologis. Kombinasi keduanya menciptakan dokumenter yang tidak hanya informatif tetapi juga mampu membangun keterlibatan emosional dengan audiens. Sebagai pengarah proses kreatif, sutradara mengintegrasikan unsur-unsur penyutradaraan seperti blocking, pemilihan lokasi, desain visual, voice over, hingga ritme penyuntingan untuk memperkuat pesan dan membentuk suasana emosional. Pengarahan yang matang dan menyeluruh memungkinkan dokumenter menyampaikan isu sosial secara reflektif dan menggugah kesadaran penonton terhadap fenomena yang diangkat. Penyutradaraan Film Dokumenter AuTricked by TrendsAy dengan Pendekatan Ekspositori dan Naratif CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 380-398 DAFTAR PUSTAKA