Journal of Pharmaceutical Care and Sciences e-ISSN : 2828-4828 DOI :10. 33859/jpcs VOL 4 . 2023 : 83-89 | DOI : 10. 33859/jpcs. FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN ESSENCE EKSTRAK DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L. ) SEBAGAI ANTI JERAWAT Sinta Dewi. Siti Malahayati. Putri Vidiasari Darsono. 1 Program Studi Sarjana Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Sari Mulia. Jl. Pramuka No. Pemurus Luar. Kecamatan Banjarmasin Timur. Kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia. 2 Program Studi Sarjana Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Sari Mulia, . Jl. Pramuka No. Pemurus Luar. Kecamatan Banjarmasin Timur. Kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia. 3 Program Studi Sarjana Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Sari Mulia, . Jl. Pramuka No. Pemurus Luar. Kecamatan Banjarmasin Timur. Kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia. Info Artikel Submitted: 28-09-2023 Revised: 22-11-2023 Accepted: 24-11-2023 ABSTRAK Latar belakang: Ekstrak daun sirih hijau memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. acnes karena mengandung senyawa tanin, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasikan ekstrak daun *Corresponding author sirih hijau dalam bentuk essence yang memenuhi persyaratan mutu fisik Sinta Dewi serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. Metode: Penelitian ini menggunakan metode true experimental dan metode Email: difusi sumuran untuk uji antibakteri. Sediaan essence dibuat dengan 3 dewyshinta902@gmail. com konsentrasi ekstrak yang berbeda . onsentrasi 5%, 10%, dan 20%), selanjutnya dilakukan evaluasi fisik kemudian formulasi diuji aktivitas DOI: 10. 33859/jpcs. 425 antibakterinya terhadap P. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik ANOVA dengan nilai signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan essence memiliki warna coklat kekuningan hingga coklat tua, bentuk cair dan bau khas daun sirih dengan pH 5,4-5,5, sediaan homogen, viskositas 324-463, daya sebar 9,74 mm-11,62mm, dan pada uji aktivitas antibakteri menunjukan adanya kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri P. acnes dengan memiliki daya hambat yang masuk kategori kuat. Kesimpulan: Hasil evaluasi fisik dan hasil uji aktivitas antibakteri sediaan essence terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variasi konsentrasi ekstrak karena hasil p-value <0,05. Berdasarkan hasil evaluasi semua formula memenuhi spesifikasi, dan yang paling optimal adalah formula II. Kata Kunci: sirih hijau, jerawat, propionibacterium acnes. ABSTRACT Background: Piper betle leaf extract has antibacterial activity against acnes because it contains tannins, flavonoids, alkaloids, and terpenoid Objective: The purpose of this study is to formulate piper betle leaf extract in the form of essence that meets the requirements of physical quality and has antibacterial activity against P. Methods: This study uses true experimental method and well diffusion method for antibacterial test. The essence preparation was made with 3 different extract concentrations . oncentrations of 5%, 10%, and 20%), then a physical evaluation was carried out and then the formulation was tested for antibacterial activity against P. The data obtained were statistically analyzed ANOVA with a significance value of 0. Results: The results showed that the essence preparation had a yellowishbrown to dark brown color, liquid form and characteristic smell of betle leaves with a pH of 5. 5, homogeneous preparation, viscosity 324-463, dispersion https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Essence Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L. ) . 74 mm-11. 62mm, and in antibacterial activity tests showed the ability to inhibit the growth of P. acnes bacteria by having inhibitory power that was categorized as strong. Conclusion: The results of the physical evaluation and the results of the antibacterial activity test for essence preparations had a significant effect on variations in extract concentrations because the p-value was <0. Based on the evaluation results, all formulas met the specifications, and the most optimal was formula II. Keywords: piper betle, acne, propionibacterium acnes PENDAHULUAN Kulit merupakan organ tubuh bagian paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup Setiap orang memiliki jenis kulit yang berbeda-beda yaitu berminyak, normal, kering dan sensitif. Perbedaan jenis kulit, maka permasalahan kulit yang dialami tiap orang juga Wajah adalah bagian terpenting bagi seseorang baik wanita maupun pria. Setiap orang tentunya mendambakan wajah putih, bersih, dan terbebas dari masalah wajah salah satunya Jerawat adalah suatu kondisi dimana pori-pori kulit tersumbat dan menyebabkan kantong nanah menjadi meradang, penyakit kulit ini disebabkan karena peradangan folikel pilosebasea (Sifatullah dan Zulkarnain, 2. Selain disebabkan oleh faktor hormonal dan folikel yang tersumbat, jerawat sering kali diperburuk oleh aktivitas bakteri yang menginfeksi jaringan kulit yang meradang. Bakteri yang paling sering menginfeksi kulit dan membentuk nanah adalah Propionibacterium acnes. Penggunaan ekstrak tumbuhan yang memiliki aktivitas antibakteri sangat membantu dalam penyembuhan. Salah satu tanaman yang memiliki kemampuan sebagai antibakteri adalah Sirih hijau (Piper betle L. ) (Carolia dan Noventi, 2. Kandungan kimia yang diduga terdapat dalam ekstrak Sirih hijau (Piper betle L. ) terpurifikasi yang memiliki aktivitas antibakteri yaitu kandungan kimia yang bersifat polar seperti flavonoid, tanin, dan polifenol. Sekarang penggunaan daun sirih dalam formula kecantikan telah banyak digunakan dan Berbagai jenis dan inovasi produk perawatan tubuh juga diadopsi dan menggunakan ekstrak daun sirih, sedangkan untuk sediaan Essence belum banyak yang meneliti dan mengembangkan menjadi sediaan tersebut. Essence termasuk dalam perawatan tambahan, yang bersifat menggantikan apa yang kurang dalam produk kosmetik perawatan kulit konvensional dari segi efek, perasaan saat digunakan, system kecantikan, dan lain-lain. Dengan kata lain, rangkaian produk skincare ini tidak hanya memiliki fungsi memberikan kelembaban ekstra pada kulit. Namun produk ini digunakan untuk meningkatkan kinerja produk skincare lain dengan mempersiapkan kulit agar lebih mudah menyerap produk lainnya. Sehingga kulit yang sudah dipersiapkan sebelumnya dengan nutrisi dari Essence akan lebih mudah menerima pengaplikasian skincare yang akan digunakan selanjutnya (Ameliana et al. , 2. Dengan pertimbangan hal tersebut, akan dilakukan penelitian formulasi dan evaluasi sediaan Essence ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) sebagai anti jerawat dan menganalisis https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Essence Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L. ) . pengaruh konsentrasi ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) terhadap evaluasi dan aktivitas antibakteri formulasi sediaan essence anti jerawat. METODE Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian Sediaan Essence Ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) ini termasuk penelitian eksperimen sesungguhnya ( true experimental ). Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah Ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) sebagai kandungan zat aktif untuk formulasi sediaan Essence dan melakukan uji sifat fisik terhadap Dengan rancangan post test only control group, ini memungkinkan peneliti mengukur pengaruh perlakuan pada eksperimen dengan cara membandingkan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol tidak dipilih secara random (Anggita & Naurita, 2. Kelompok eksperimen yang mendapat perlakuan sedangkan kelompok kontrol tidak mendapat perlakuan. Jenis penelitian ini dipilih karena dalam proses pembuatan sediaan Essence yang dilakukan menggunakan kelompok kontrol, dan kelompok eksperimen yaitu variasi konsentrasi ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) sebagai zat aktif. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari timbangan analitik, pipet tetes, mortir dan stemper, gelas objek . , pH meter (Mcolor Hast TM), beker glass . , spatula, sudip, sendok tanduk, kertas perkamen, cawan porselin, gelas ukur . , batang pengaduk . , botol wadah essence, cork borer, bunsen. Cawan petri, ose. Gelas arloji. Bahan yang digunakan adalah Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L. ) (Borobudur Extraction Cente. Hyaluronic acid . osmetic grat. , karbomer . osmetic grad. , butylene glycol . osmetic grad. , gliserin . osmetic grad. , metil paraben . osmetic grad. PEG-40 Hydrogenated castor oil . osmetic grad. , etanol 70%. Larutan Buffer. Formula Essence Tabel 1. Formula sediaan Essence Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L. Bahan Klindamisin Ekstrak daun sirih hijau Hyaluronic acid PG-40 Hydrogenated castor Butilene glycol Gliserin Karbomer Metil paraben Etanol Larutan Buffer 5,5 ad Formula(%) 100 ml Fungsi Zat aktif Zat aktif Emolien Surfaktan Humektan Humektan Gelling agent Pengawet Enhancer 100 ml 100 ml 100 ml Pelarut Prosedur Kerja Pertama siapkan bahan dan alat yang akan digunakan. Timbang semua bahan sesuai karbomer dilarutkan dengan aquadest dalam mortir. Ditambahkan dengan butilen https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Essence Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L. ) . glikol dan gliserin kemudian kemudian digerus hingga homogen . Metil paraben dilarutkan dalam sebagian air panas . ampuran II). Ekstrak daun sirih hijau, hyaluronic acid, dan PEG-40 Hydrogenated castor oil dilarutkan dengan sebagian aquadest . Campuran II dicampurkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran I hingga membentuk massa yang homogen. Kemudian dicampurkan campuran i dan digerus hingga homogen. Terakhir tambahkan etanol ke dalam campuran dan diaduk hingga homogen. Uji Aktivitas Antibakteri dengan metode difusi sumuran dengan cara menuangkan sebanyak 15 ml medium NA steril ke dalam 5 cawan petri kemudian homogenkan hingga Kemudian suspensi bakteri dimasukan dan diratakan ke permukan media pembenihan NA, ditunggu beberapa saat agar suspensi yang disebar dipermukaan media Selanjutnya buat lubang sumuran menggunakan alat pelubang sumuran . ork bore. sebanyak 3 lubang pada setiap cawan yang diatur jaraknya agar zona pengamatan tidak Uji kontrol negatif, kontrol positif dan sampel dimasukkan pada sumur-sumur sebanyak 20 AAm menggunakan mikro pipet. Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37AC dalam inkubator. Zona bening yang terdapat merupakan petunjuk adanya kepekaan bakteri terhadap antibiotik atau bahan antibakteri lainnya yang digunakan sebagai bahan uji yang dinyatakan dengan lebar diameter zona hambat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil uji fisik sediaan essence Tabel 2. Hasil Uji Fisik Perlakuan Spesifikasi Formula I Formula II Formula i Perlakuan Formula I Formula II Formula i Kontrol ( ) Kontrol (-) Kategori Organoleptis Warna : bening-keruh Bentuk : cair Bau : aroma khas daun sirih Warna : Coklat kekuningan Bentuk : cair Bau : aroma khas daun sirih Warna : Coklat muda Bentuk : cair Bau : aroma khas daun sirih Warna : Coklat tua Bentuk : cair sedikit licin Bau : aroma khas daun sirih Replikasi I 14,19 20,29 27,52 Homogennitas Viskositas Daya Sebar Homogen 4,5-6,5 230-1150 cPs 4-7,5 cm Homogen 5,58 463,33 9,74 Homogen 11,62 Homogen 5,46 Tabel 3. Hasil Uji Antibakteri Antibakteri Replikasi II Replikasi i 16,43 15,30 21,39 18,22 18,55 14,46 35,53 35,17 p-Value Rata-rataASD 15,30A1,12 19,96A1,60 20,17A6,68 35,76A0,74 0,041 : <5 mm : Lemah : 6-10 mm : Sedang https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Essence Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L. ) . : 11-20 mm : Kuat : >20 mm : Sangat kuat Pembahasan Uji organoleptik Uji organoleptis dilakukan dengan melihat penempilan fisik sediaan, yaitu pengamatan warna, bau,dan bentuk pada sediaan. Bentuk dari sediaan essence yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu cair sedikit licin, bau yang dihasilkan adalah bau khas daun sirih hijau yang dihasilkan dari penggunaan ekstrak tersebut sedangkan warna yang dihasilkan essence ini berwarna coklat kekuningan hingga coklat tua, ini mengindikasikan adanya kandungan ekstrak daun sirih hijau yang tampak berbeda dari basis essence yaitu putih bening. Uji Homogenitas Uji Homogenitas dapat dilihat dengan tidak adanya partikel-partikel yang memisah atau ada tidaknya endapan pada sediaan essence (Gunawan dan S. , 2. Hasil dari pengujian homogenitas yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya butiran kasar atau granul pada objek glass sehingga sediaan essence ini memenuhi persyaratan homogenitas sediaan kosmetik (Ambarwati et al. , 2. Uji pH Pengukuran pH berkaitan dengan efektivitas zat aktif, stabilitas zat aktif dan sediaan, serta kenyamanan sewaktu digunakan (Slamet dan Pambudi, 2. Berdasarkan hasil uji pH dilakukan dengan tiga kali replikasi dari 3 formula yang didapatkan pada rata-rata hasil uji pH formula I yaitu 5,58, pada rata-rata formula II yaitu 5,50 , dan pada rata-rata hasil uji pH formula i yaitu 5,46. Berdasarkan dari hasil pH pada ketiga formula tersebut dapat dikatakan bahwa adanya variasi konsentrasi ekstrak mempengaruhi pH sedian yang dihasilkan. Kemudian dilkukan analisis statistik dengan menggunakan one way anova yang menghasilkan nilai signifikan yaitu 0,000(<0,. yang artinya ada perbedaan bermakna dari hasil evaluasi formula. Sehingga dapat dikatakan adanya pengaruh signifikan terhadap perbedaan konsentrasi ekstrak terhadap uji evaluasi pH. Uji viskositas Uji viskositas dilakukan bertujuan untuk mengetahui ketahanan suatu cairan mengalir, viskositas merupakan kekentalan dari suatu sediaan (Martin, 2. (Wijayati et al. , 2. Berdasarkan hasil uji Viskositas dilakukan dengan tiga kali replikasi 3 formula yang didapatkan pada rata-rata hasil uji viskositas formula I yaitu 463. 33 cPs, pada rata-rata formula II yaitu 441 cPs, dan pada rata-rata hasil uji viskositas formula i yaitu 324 cPs. Hasil Pengujian Viskositas menunjukkan adanya penurunan viskositas. Penurunan nilai viskositas pada sediaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pada saat pencampuran atau pembuatan sediaan, pemilihan berbagai bahan yang digunakan dan kenaikan ukuran diameter partikel. Kemudian dilakukan analisis statistik dengan menggunakan one way anova yang menghasilkan nilai signifikan yaitu 0,006(<0,. yang artinya ada perbedaan bermakna dari hasil evaluasi formula. Sehingga dapat dikatakan adanya pengaruh signifikan terhadap perbedaan konsentrasi ekstrak terhadap uji evaluasi viskositas. Uji daya sebar Uji daya sebar dilakukan bertujuan untuk menjamin kualitas suatu sediaan dapat menyebar dengan mudah dipermukaan kulit ketika digunakan (Yati et al. , 2. Berdasarkan hasil uji Daya Sebar dilakukan dengan tiga kali replikasi 3 formula yang didapatkan pada ratarata hasil uji daya Sebar formula I yaitu 9,74, pada rata-rata formula II yaitu 11,62, dan pada rata-rata hasil uji daya sebar formula i yaitu 11,20. Pada analisis data uji daya sebar didapatkan distribusi data yang tidak normal karna formulasi I dan II dengan nilai p-value (>0,. sedangkan formulasi i dengan nilai p-value (<0,. dan homogen dengan nilai p-value https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Essence Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L. ) . 063 (>0. kemudian dilanjutkan pengujian menggunakan metode Kruskal Wallis sehingga didapatkan nilai p-value 0,043 (<0,. Sehingga dapat dikatakan adanya pengaruh signifikan terhadap perbedaan konsentrasi ekstrak terhadap uji evaluasi daya sebar. Uji antibakteri Pada penelitian ini, uji skrining aktivitas antibakteri sediaan Essence ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) dilakukan terhadap bakteri Propionibaterium acnes dilakukan dengan menggunakan metode difusi sumuran dan didapatkan zona hambat yang terbentuk disekitar lubang sumuran yang diukur menggunakan jangka sorong dalam satuan milimeter . Berdasarkan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan tiga kali replikasi 3 formula yang didapatkan pada rata-rata hasil uji antibakteri formula I yaitu 15,30 mm, pada rata-rata formula II yaitu 19,96 mm, pada rata-rata hasil uji pH formula i yaitu 20,17 mm, pada rata-rata kontrol positif 35,7 mm, dan pada rata-rata kontrol negatif adalah 0 mm. Berdasarkan hasil uji dari penenelitian ini, kontrol negatif tidak mempunyai zona hambat, sedangkan kontrol positif dan ketiga formula memiliki daya hambat yang masuk kategori kuat. Pada hasil data uji aktivitas antibakteri didapatkan distribusi data yang normal dengan nilai p-value (>0,. , sedangkan data homogenitas tidak homogen dengan nilai p-value 0,028 (<0,. Kemudian dilanjutkan pengujian menggunakan metode Kruskal Wallis sehingga mendapatkan nilai p-value 0,041 (<0,. Hal ini menunjukan hasil berbeda signifikan yang artinya menunjukan adanya pengaruh variasi konsentrasi ekstrak terhadap aktivitas antibakteri sediaan essence. KESIMPULAN Berdasarkan hasil evaluasi fisikokimia formulasi sediaan essence ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) yang dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak 5%, 10% dan 20% terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variasi konsentrasi ekstrak karena hasil p-value <0,05. Berdasarkan hasil evaluasi fisikokimia menunjukkan bahwa formulasi II dari ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) sediaan essence dapat dikatakan yang paling optimal. Berdasarkan hasil Uji aktivitas antibakteri formulasi sediaan essence ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. ) yang dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak 5%, 10% dan 20% menggunakan bakteri Propionibacterium acnes terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variasi konsentrasi ekstrak karena hasil p-value <0,05. Berdasarkan hasil evaluasi aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa formulasi II dari ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L. sediaan essence dapat dikatakan yang paling optimal. DAFTAR PUSTAKA