Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM PANDANGAN KRISTEN PROTESTAN Thobias Romario Wandan Seminari Tinggi St Fransiskus Xaverius Ambon romaryowandan@gmail. Abstrak Dialog antar umat beragama adalah Solusi yang diperlukan untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan saling pengertian. Dialog antar agama ini, memungkinkan umat beragama untuk mengenal dan menghargai perbedaan tanpa mengorbankan identitas agama masing-masing. Seorang teolog Protestan John Hick berpendapat bahwa pluralisme agama bukanlah sebuah hambatan, tetapi sebuah kesempatan untuk menyelami kedalam dan kebenaran yang ada. Agama Protestan sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam memperkaya dialog antar umat beragama. Sejak zaman reformasi, ajaran-ajaran Protestantisme lebih menekankan pentingnya misi dan penginjilan. Sedangkan, dalam era modern ini, banyak Gereja Protestan telah beralih untuk melihat dialog agama sebagai kesempatan untuk membangun kerja sama international dalam masalah-masalah sosial, sambil tetap setia pada ajaran Kristiani. Kata Kunci: Gereja. Protestan. Dialog. Agama, umat beragama. Abstract Interfaith dialogue is a necessary solution to reduce tension and increase mutual understanding. This interfaith dialogue allows religious communities to recognize and appreciate differences without sacrificing their respective religious identities. A Protestant theologian John Hick argues that religious pluralism in not an obstacle, but an opportunity to dive into the depth and truth that exists. Protestantism itself has a very important role in enriching interfaith dialogue. Since the reformation. Protestant teachings have emphasized the importance of mission and Meanwhile, in this modern era, many Protestant churches have shifted to seeing religious dialogue as an opportunity to build international cooperation on social issues, while remaining faithful to Christian Keywords: Church. Protestant. Dialogue. Religion. Religious Communities. Pendahuluan Di dunia yang yang semakin terhubung dan global, pluralisme agama menjadi kenyataan yang tak terelakkan. Globalisasi, urbanisasi dan migrasi international telah mempertemukan umat dari berbagai agama, budaya dan tradisi yang berbeda. Dalam konteks ini mempertegas pentingnya dialog antar umat beragama untuk menciptakan kedamaian, menghormati perbedaan, dan membangun pemahaman yang sama. Pluralisme agama yang berkembang dalam masyarakat modern memunculkan tantangan bagi hubungan antar kelompok agama, baik di tingkat individu maupun antar negara. Ketegangan agama, konflik sektarian, dan perasaan superioritas agama sering kali muncul akibat ketidaktahuan dan ketidakpahaman terhadap keyakinan agama yang berbeda. Dialog antar umat beragama adalah Solusi yang diperlukan untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan saling pengertian. Seiring dengan semakin berkembangnya konsep toleransi dan saling menghormati, dialog antar agama tidak hanya menjadi platform untuk memperkenalkan ajaran masing-masing agama, tetapi juga untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan global, seperti kemiskinan, perubahan iklim dan ketidaksetaraan sosial. Dialog antar agama ini, memungkinkan umat beragama untuk mengenal dan menghargai perbedan mereka tanpa mengorbankan identitas agama masing-masing. Seorang teolog Protestan. John Hick berpendapat bahwa pluralisme Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 agama bukanlah sebuah hambatan, tetapi sebuah kesempatan untuk menyelami kedalaman dan kebenaran yang ada dalam berbagai tradisi spiritual1. Dalam konteks Kristen Protestan, dialog antar umat beragama sering kali menghadapi tantangan besar. Sebagain besar denominasi protestan tradisional, terutema yang lebih konservatif, memegang pandanagan eksklusif mengenai keselamatan, yang menganggap bahwa, keselamatan hanya dapat dicapai melalui iman kepada Yesus Kristus (Yohanes 14:. Bagi mereka misi utama adalah untuk menyebarkan Injil dan membawa orang-orang yang belum mengenal Kristus kepada keselamatan. Hal ini menjadikan dialog antar agama sering dipandang sebagai tantangan yang mengancam ajaran dasar Kristen2. Namun, di sisi lain, ada juga peluang bagi gereja-gereja Protestan, terutama yang lebih progresif dan ekumenis, untuk terlibat dalam dialog antar agama dengan tujuan memperkuat nilai-nilai bersama, seperti perdamaian, keadilan sosial dan penghapusan kemiskinan. Gereja Protestan yang lebih inklusiv cederung mengadopsi pendekatan inklusivisme, yang mengakui bahwa meskipun keselamatan melalui Kristus tetap menjadi inti ajaran Kristen, namun Rahmat Tuhan dapat bekerja di luar gereja Kristen, memungkinkan orang-orang dari agama lain untuk mengalami Paul Kniter menyatakan bahwa meskipun Kristen memiliki klaim eksklusif tentang keselamatan, agama-agama lain tidak bisa disingkirkan begitu saja dalam pencarian kebenaran yang universal4. Agama Kristen Protestan sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam memperkaya dialog antar umat Sejak zaman reformasi, ajaran-ajaran Protestantisme menekankan pentingnya misi dan penginjilan. Namun, dalam era modern ini, banyak gereja Protestan telah beralih untuk melihat dialog agama sebagai kesempatan untuk membangun kerja sama international dalam masalah-masalah sosial, sambil tetap setia pada ajaran Kritiani. Dalam konteks ini. World Council of Churches (WCC) dan organisasi ekumenis lainnya telah berperan dalam memfasilitasi dialog antar umat beragama dikalangan gereja-gereja Protestan. WCC, yang terdiri dari berbagai denominasi Kristen, mempromosikan ide bahwa gereja-gereja harus berinteraksi dengan umat beragama lainnya untuk memperkuat hubungan sosial dan mendukung perdamaian5. Leonard Swidler, menekankan bahwa gereja-gereja Kristen harus mengakui bahwa ada nilai-nilai spiritual dan moral dalam agama-agama lain yang dapat mendukung kebaikan bersama6. Meskipun beberapa gereja Protestan konservativ tetap skeptis terhadap pluralisme agama, ada tren yang berkembang dalam tradisi Protestan, terutama dalam gereja-gereja yang lebih progresif dan urban, untuk berfokus pada dialog sosial dan kolaborasi dalam masalah-masalah seperti keadilan sosial, hak asasi manusia dan perdamaian Ini menunjukkan bahwa gereja Protestan tidak hanya memiliki peran dalam menyebarkan injil, tetapi juga dalam membangun hubungan antar agama yang lebih harmonis di dunia yang semakin pluralistik. Metode Penelitian Untuk mencapai tujuan penulisan di atas, maka artikel ini menggunakan metode deskirptif yaitu pendekatan ilmiah yang berusaha menggambarkan bagaiaman gereja-gereja Protestan berusaha untuk membuka diri berdialog dengan agama-agama lain. Dalam tulisan ini, pendekatan deskriptis digunakan untuk menguraikan pemahaman dialog menurut pandangan Gereja Protestan. Bagian pertama, akan membahas tentang Teologi dan perkembangan pemikiran Protestan modern tentang hubungannya dengan agama lain dan umat beragama. bagian kedua, membahas tentang Hick. An Interprecation of Religion: Human Responses to the Transcendent. Yale University Press. Ibid. Armstrong. The Battle for God: A History of Fundamentalisme. Balantine Books. Knitter. No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions. Orbis Books. World Council of Churches. The Church: Towards a Common Vision. World Council of Churches Publications. Swidler. The Dialogical Imperative: A Chistian Reflection on interfaith Dialogue. Orbis Books. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 konstitusi dan deklarasi resmk dari organisasi, dan tanggapan Gereja terhadap pluralism dan inklusivisme. Bagian ketiga, membahas pandangan Protestan dalam dialog antar umat beragama dan kritik serta tantangan dalam dialog antar agama. HASIL DAN PEMBAHASAN Teologi Protestan Tentang Hubungan Antar Agama Lain Pandangan Klasik Tentang Agama Lain Pandangan klasik tentang agama lain, khususnya dari tokoh-tokoh reformasi seperti Martin Luther dan John Calvin, memiliki dampak yang disignifikan dalam perkembangan teologi Kristen, terutama dalam hubungannya dengan pandangan terhadap agama-agama non-Kristen. Kedua tokoh ini mengemukakan ajaran yang sangat mempengaruhui pemahaman tentang AukebenaranAy dalam agama Kristen dan secara tidak langsung agama lain. Martin Luther dan Pandangannya tentang Agama Lain Martin Luther . , yang dikenal sebagai bapak reformasi Protestan, memandang ajaran agama lain, . erutama Katoli. sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran asli Alkitab. Luther lebih menekankan Sola Scriptura . anya Alkitab sebagai sumber kebenara. dan sola Fide . anya iman yang menyelamatka. , yang secara tegas menentang ajaran Katolik yang menambahkan tradisi dan doktrin tambahan di luar Alkitab. Namun, dalam konteks agama-agama lain di luar Kristen, pandangan Luther agak lebih kompleks. Ia tidak secara langsung mengomentari agama-agama non-Kristen secara rinci. Akan tetapi, ia meanggap agama-agama lain sebagai bentuk ketidakbenaran, yang pada gilirannya mengancam keselamatan jiwa. Dalam AuVon den Konsili und KirchenAy . Luther menyatakan bahwa hanya agama Kristen yang menawarkan keselamatan melalui iman kepada Kristus. Luther percaya bahwa keselamatan hanya dapat ditemukan dalam ajaran Kristen yang sejati. Luther juga menekankan pentingnya negara dalam menjaga ketertiban agama dan membatasi penyebaran ajaran-ajaran sesat, termasuk agama-agama non-Kristen. Dalam bukunya yang terkenal. AuThe Babylonian Captivity of the ChurchAy . , ia tidak hanya mengkritik gereja Katolik tetapi juga menegaskan bahwa ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Alkitab, termasuk ajaran dari agama lain, harus dijauhkan. John Calvin dan Pandangannya tentang Agama Lain John Calvin . , seorang teolog terkemuka lainnya dalam reformasi Protestan, memiliki pandangan yang lebih tegas tentang ketidakbenaran agama-agama non-Kristen. Dalam karyanya yang paling terkenal. AuInstitutes of the Christian ReligionAy8. Calvin menulis tentang pengajaran keselamatan melalui Kristus sebagai satu-satunya jalan menuju keselamatan. Calvin tidak memberikan ruang bagi agama lain dalam sistem teologisnya, yang berdasarkan prinsip bahwa hanya orang yang menerima Kristus sebagai juru selamat yang dapat diselamatkan. Calvin menganggap bahwa agama-agama non-Kristen, seperti agama-agama pagan atau agama politeistik adalah bentuk penyembahan berhala. Dalam AuInstitutesAy, ia mengkritik berbagai praktik agama yang tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan melihat mereka sebagai keliru dalam memahami Tuhan. Calvin menegaskan bahwa penyembahan kepada Tuhan harus dilakukan hanya melalui Kristus, yang ia anggap sebagai satu-satunya jalan Oleh karena itu, dalam pandangannya, agama-agama lain dianggap sesat dan tidak dapat membawa orang pada keselamatan. Luther. Von den Konzili und Kirchen. Dalam LutherAos Works: Volume 41 Ae Church and Ministry I. Fotress Press, 1957. Calvin. Institutes of the Christian religion. Translated by Henry Beveridge, 1845. T&T Clark. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 Namun, berbeda dengan Luther. Calvin lebih terbuka dalam hal keberadaan otoritas negara yang dapat memainkan peran dalam menjaga ortodoksi agama Kristen. Calvin juga mengembangkan pandangan tentang kebebasan beragama yang mengarah pada hubungan antar gereja dan negara yang lebih terorganisir dalam Pengaruh Pandangan Klasik ini Terhadap Pemahaman Agama Lain Kedua tokoh ini, melalui ajaran-ajaran mereka yang memandang agama lain sebagai sesuatu yang tidak dapat memberikan keselamatan karena hanya iman dalam Kristus yang dianggap sah. Hal ini tercermin dalam teologi eksklusivisme, yang berpendapat bahwa agama Kristen adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan9. Meskipun demikian, walaupun mereka sangat kritis terhadap agama lain, ajaran-ajaran Luther dan Calvin berpengaruh dalam membentuk sikap teologis terhadap agama-agama lain di dunia Kristen. Namun, pandangan mereka bukan tanpa kritik, karena pada abad-abat berikutnya, terutama dalam konteks dunia modern yang lebih pluralistik, banyak teolog Kristen yang mengajukan pandangan yang lebih inklusif terhadap agama-agama lain, menganggapnya sebagai jalan yang sah menuju Tuhan, meskipun pandangan eksklusif masih sangat mempengaruhi banyak denominasi Kristen hingga saat ini. Perkembangan Pemikiran Protestan Modern tentang Hubungan Antar Umat Beragama Perkembangan pemikiran Protestan modern tentang hubungan antar umat beragama telah mengalami transformasi yang signifikan dibandingkan dengan pandangan klasik yang cenderung eksklusif. Pemikiran ini berkembang seiring dengan perubahan sosial, budaya dan politik yang terjadi di dunia Barat, serta dengan semakin terbukanya dunia terhadap pluralisme agama. Dari pandangan yang lebih tegas terhadap eksklusivitas ajaran Kristen, banyak pemikiran Protestan modern yang mulai mengembangkan sikap yang lebih inklusif dan dialogis terhadap agama-agam lain. Ekslusivisme dan Inklusivisme dalam Pemikiran Protestan Pada abad ke-20 dan 21, beberapa tokoh protestan mulai mengajukan pandangan yang lebih inklusif tentang keselamatan dan hubungan antar umat beragama. Ini mencakup argumen yang lebih terbuka terhadap kebenaran dan nilai-nilai yang ada dalam agama-agama lain10. Pemikiran ini berkembang setelah berabad-abad dominasi teologi eksklusivisme yang menganggap bahwa keselamatan hanya dapat dicapai melalui iman kepada Kristus. Eksklusivisme adalah pandangan yang masih banyak dianut dalam tradisi Protestan awal, yang berpendapat bahwa hanya orang-orang yang menerima Kristus sebagai Juru Selamat yang dapat diselamatkan. Pandangan ini, meskipun masih dianut oleh sebagian besar denominasi konservatif, semakin dipertanyakan dalam konteks globalisasi dan pluralisme agama yang semakin berkembang. Di sisi lain, inklusivisme menjadi salah satu pendekatan utama dalam teologi Protestan modern. Pemikir seperti Karl Rahner . eskipun seorang Katoli. dan John Hick . eorang filsuf agam. memberi kontribusi besar terhadap perkembangan inklusivisme, yang menganggap bahwa meskipun Yesus Kristus adalah jalan utama keselamatan, terdapat kemungkinan bahwa agama-agama lain juga dapat berkontribusi pada keselamatan. Menurut pandangan ini, orang yang tidak mengenal Kristus secara eksplisit bisa saja mendapat keselamatan melalui Rahmat Tuhan yang bekerja di luar Batasan agama Kristen. Teologi Dialogis dan Pluralisme Agama Teologi dialogis merupakan salah satu pendekatan yang berkembang pesat dalam konteks hubungan antar umat beragama di kalangan Protestan modern. Dialog antar agama dianggap sebagai kesempatan untuk saling belajar McGrath. Theology: An Introduction. Blackwell Publishing. Tracy. The Analogical Imagination: Christian Theology and the Culture of Pluralism. Crossrod. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 dan bertumbuh Bersama, meskipun ada perbedaan teologis yang mendalam11. Tokoh-tokoh seperti Hans Kung, seorang teolog Katolik yang berpengaruh, dan beberapa teolog Protestan, mendorong pentingnya dialog antar agama untuk membangun saling pengertian dan perdamaian dunia12. Pada akhir abad ke-20, banyak gereja Protestan mulai mendekati pluralisme agama dengan sikap yang lebih terbuka, terutama pasca-perang dunia II. Perubahan ini dipengaruhi oleh Deklarasi Nostra Aetate dari Konsili Vatikan II pada tahun 1965 yang membuka jalan untuk dialog antar agama, meskipun hal ini lebih berpengaruh dalam tradisi Katolik. Namun, banyak pemikir Protestan seperti David Tracy dan Paul Knitter yang melihat nilai dari dialog antar agama dan memperkenalkan konsep teologi yang lebih pluralistik, yang mengakui keberadan kebenaran dalam tradisi agama lain13. Keselamatan di luar Gereja Beberapa pemikir Protestan modern mulai mempersoalkan pandangan tradisional yang mengaggap gereja sebagai satu-satunya jalan keselamatan. John Hick dan Paul Knitter mengusulkan bahwa keselamatan bisa datang melalui banyak jalur, dan setiap agama berfungsi sebagai saluran yang sah untuk membawa umat manusia kepada Tuhan14. Dalam pandangan mereka, meskipun teologi Kristen mengakui Yesus sebagai pusat keselamatan, tidak harus ada penolakan terhadap kemungkinan bahwa Tuhan dapat bekerja di luar Batasan gereja Kristen. Pemikiran ini berakar pada pemahaman bahwa Tuhan bekerja secara universal dan bahwa agama-agama lain juga memiliki bagian dalam upaya manusia mencari kebenaran dan berhubungan dengan Tuhan. Sehingga, meskipun Yesus Kristus adalah jalan utama keselamatan dalam tradisi Kristen, jalan-jalan lain juga dapat dipandang sebagai valid untuk perjalanan spiritual umat manusia. Peran Gereja dalam Hubungan antar Umat Beragama Di Protestan modern, banyak gereja yang mulai membuka diri terhadap Kerjasama lintas agama dalam isuisu sosial dan kemanusiaan. Ini termasuk berkerja Bersama dalam masalah-masalah global seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan perdamaian dunia. World Council of Churches (WCC), yang didirikan pada tahun 1948, memainkan peran penting dalam menggalang dialog dan kerjasama antar gereja Protestan dan agama-agama lain. Pandangan WCC tentang pluralisme agama adalah bahwa meskipun gereja Kristen memiliki klaim kebenaran tersendiri, gereja harus terlibat dalam kerjasama dengan agama-agama lain demi kepentingan umat manusia secara Pentingnya Konteks Sosial dan Politik Dalam konteks sosial dan politik, teologi Protestan modern sering dipengaruhi oleh realitas pluralisme agama yang semakin berkembang dibanyak negara. Gereja-gereja Protestan, terutama di negara-negara Barat, semakin menyadari pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan agama-agama lain dalam upaya mempromosikan toleransi dan perdamaian. Dalam hal ini, teologi Protestan modern berusaha menciptakan pemahaman yang lebih inklusif dan damai tentang bagaimana orang dari berbagai agama dapat hidup berdampingan dalam Masyarakat yang Konstitusi dan Deklarasi Resmi dari Organisasi Protestan Ibid. Kung. Global Responsibility: In Search of a New World Ethic. Crossroat. Ibid. Hick. An Interpretation of Religion: Human Responses to the Transcendent. Yale University Press. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 Organisasi Protestan internasional, seperti World council of Churches (WCC), memiliki sebuah konstitusi dan deklarasi resmi yang mencerminkan pandangan teologi, misi dan prinsip dasar mereka15. WCC adalah salah satu organisasi Protestan terbesar yang didirikan untuk mempromosikan kesatuan gereja Kristen dan dialog antar agama, serta untuk memberikan respons terhadap tantangan sosial dan moral di dunia modern. World Council of Churches (WCC) adalah organisasi internasional yang menyatukan gereja-gereja dari berbagai denominasi Kristen untuk bekerja Bersama dalam pelayanan iman, dialog antar agama dan pengembangan WCC didirikan pada tahun 1948 di Amsterdam dengan tujuan untuk memperkuat kesatuan gereja dan untuk mempromosikan kerja sama dalam menghadapi tantangan dunia. WCC kini memiliki lebih dari 350 anggota dari berbagai tradisi Kristen, termasuk gereja-gereja Protestan. Ortodoks dan beberapa gereja Anglikan16. Tanggapan Gereja Terhadap Pluralisme dan Inklusivisme dalam Praktik Penerimaan terhadap pluralisme agama dan inklusivisme bervariasi di antara denominasi-denominasi gereja. Gereja-gereja yang lebih liberal dan ekumenis, seperti yang tergabung dalam World Council of Churches (WCC), lebih cenderung mengadopsi pendekatan inklusif dan mendukung dialog antar agama. WCC secara aktif berpartisipasi dalam pertemuan antar agama dan mendorong gereja-gereja anggotanya untuk bekerja sama dalam isu-isu kemanusiaan dan perdamaian, meskipun masih berpegang pada ajaran dasar bahwa Kristus adalah jalan keselamatan. Di sisi lain, gereja-gereja yang lebih konservatif dan fundamentalis tetap mempertahankan pandangan eksklusivisme, dengan tegas menyatakan bahwa keselamatan hanya dapat dicapai melalui iman dalam Yesus Kristus dan bahwa agama-agama lain tidak dapat membawa pada keselamatan. Pandangan Protestan dalam Dialog antar Umat Beragama Pandangan Protestan dalam dialog antar umat beragama ini telah berkembang seiring dengan dinamika sosial, budaya dan politik dunia, serta semakin intensnya interaksi antar umat Kristen dan umat beragama lainnya. Dalam tradisi Protestan, ada perbedaan yang cukup besar dalam cara pandang terhadap dialog antar agama, yang mana tergantung pada denominasi dan pendekatan teologis yang diambil. Sebagian gereja Protestan tetap memegang teguh pandangan ekslusivisme bahwa keselamatan hanya bisa ditemukan melalui Yesus Kristus, sementara gereja-gereja lainnya lebih terbuka terhadap pluralisme agama dan berkomitmen pada dialog antar umat beragama. Teologi Eksklusivis: Pandangan Tradisional Protestan Tradisi Protestan yang lebih konservatif, seperti banyak gereja evangelikal dan fundamentalis, memegang teguh pada pandangan eksklusivis dalam hal keselamatan. Dalam pandangan ini, hanya mereka yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat yang dapat diselamatkan. Gereja-gereja ini cenderung skeptis terhadap dialog antar agama, dengan alasan bahwa memperkenalkan ajaran Kristen kepada orang-orang dari agama lain merupakan tugas penting dalam memenuhi Amanat Agung (Matius 28:19-. John Stott, salah satu teolog Evangelikal terkemuka, mengungkapkan pentingnnya misi Kristen di dunia dan memperingatkan bahaya toleransi agama yang dianggap dapat mereduksi urgensi penyebaran Injil. Dalam bukunya yang berjudul Christian Mission in the modern world. Stott menekankan bahwa meskipun penting untuk berinteraksi dengan umat dari agama lain, tugas utama Kristen adalah untuk membawa mereka kepada iman Kristiani, karena menurutnya, keselamatan hanya ada di dalam Kristus17. World Council of Churches. The Church: Towards a Cammon Vision. World of Churches Publications. World Council of Churches. Constitution of the World Council of Churches. retrieved from Stott. Christian Mission in the Modern World. Inter-varsity Press. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 Dalam kerangka ini, dialog antar agama lebih dipandang sebagai kesempatan untuk menyampaikan pesan Kristen, dan gereja cenderung menghindari pengakuan terhadap kebenaran atau nilai dari agama-agama lain18. Sebagai contohnya, dalam pandangan ini, ajaran Islam. Hindu atau Buddha, meskipun mengandung ajaran moral yang baik, tidak dianggap dapat membawa keselamatan seseorang pada keselamatan. Teologi Inklusif: Pandangan Lebih Terbuka dalam Gereja Protestan Seiring dengan berkembangnya pemikiran teologis, banyak pemikir Protestan, terutama dalam konteks teologi inklusivisme, mulai menerima gagasan bahwa agama-agama lain dapat memiliki kebenaran dan nilai-nilai yang sah. Inklusivisme adalah pandangan yang percaya bahwa keselamatan memang ada melalui Kristus, namun orang-orang yang tidak mengetahui Kristus atau tidak secara eksplisit mengikutinya, masih dapat menerima keselamatan melalui Rahmat Tuhan yang bekerja di luar agama Kristen. Karl Rahner, meskipun seorang teolog Katolik, memberikan pengaruh besar dalam perkembangan inklusivisme yang kemudian diterima oleh beberapa kalangan Protestan. Dalam konsep AuAnonymous ChristiansAy yang dikemukakan oleh Rahner, ia menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mengenal Kristus secara eksplisit namun hidup dengan baik dan mencari kebenaran, dapat dianggap sebagai AuKristen yang tidak dikenalAy. Beberapa pemikir Protestan, seperti David Tracy dan John Hick, mengembangkan ide ini lebih lanjut dengan melihat agama lain sebagai saluran yang sah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dikalangan gereja Protestan sendiri, terutama gereja-gereja yang lebih progresif, dialog antar agama dianggap sebagai sarana untuk saling memahami dan menghargai perbedan, sambil tetap mempertahankan identitas Kristen. Misalnya, gereja-gereja Presbiterian dan Lutheran yang lebih liberal mengadopsi pandangan inklusif ini, melihat bahwa dialog antar agama sebagai cara untuk memperluas pemahaman dan mendalami kebenaran universal yang ada dalam berbagai tradisi keagamaan. Dialog Antar Agama dalam Tradisi Ekumenis dan Progresif Dalam tradisi ekumenis dan progresif dalam teologi Protestan, dialog antar agama dipandang sebagai Upaya untuk membangun pemahaman dan perdamaian antar umat beragama, serta untuk memperjuangkan keadilan sosial Bersama. World council of Churches (WCC), organisasi yang mengumpulkan gereja-gereja Kristen dari berbagai denominasi, termasuk Protestan, memainkan peran kunci dalam mengedepankan dialog antar agama. WCC berkomitmen untuk menghargai keberagaman agama sambil tetap mempertahankan ajaran dasar Kristen. Sebagai contoh, dalam Deklarasi AuThe Church: Towards a Cammon VisionAy yang dikeluarkan oleh WCC, mengakui akan pentingnya dialog antar agama dalam konteks globalisasi dan pluralisme. Deklarasi ini menekankan bahwa meskipun gereja-gereja Kristen berbeda dalam banyak aspek doktrin dan liturgi, mereka tetap memiliki komitmen Bersama untuk membangun dunia yang lebih adil dan damai. Ini mencakup Kerjasama dengan agamaagama lain dalam memperjuangkan isu-isu sosial dan kemanusiaan, seperti kemiskinan, perdamaian dan pelestarian lingkungan hidup19. Selain itu, para pemikir Protestan seperti Paul Knitter dan Leonard Swidler telah menekankan pentingnya membangun jembatan antara agama Kristen dan agama-agama lain mellui dialog interfaith yang tulus dan tanpa Kritik dan Tantangan dalam Dialog Antar Agama Meskipun ada kecenderungan dalam teologi Protestan untuk mengadopsi dialog antar agama, hal ini tidak lepas dari tantangan dan kritik, baik dari kalangan yang lebih konservatif dari dalam komunitas interfaith itu sendiri. Ibid. World Council of Churches. The Church: Towards a Cammon Vision. World Council of Churches Publications, 2013. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 Beberapa kritik datang dari mereka yang tetap berpegang pada pandangan eksklusivistik, yang berpendapat bahwa dialog antar agama bisa mereduksi klaim eksklusif Kristen tentang keselamatan melalui Kristus. Selain itu, ada juga perdebatan tentang bagaimana dialog ini dapat dilaksanakan tanpa mempromosikan ajaran dasar dari masing-masing agama. Muncul kekhawatiran bahwa dialog antar agama bisa menyebabkan sinkretisme . enggabungan ajaran agam. atau relativisme, di mana kebenaran agama-agama dipandang sama derajatnya, meskipun jelas ada perbedaan mendasar dalam ajaran dan keyakinan20. PENUTUP Dialog antar umat beragama menjadi semakin penting dalam konteks global yang semakin pluralistik. Tengah keragaman agama dan budaya yang ada, dialog ini berperan sebagai jembatan untuk menciptakan pemahaman, toleransi dan kerja sama antar umat beragama. Ketegangan agama yang sering muncul sebagai akibat dari ketidaktahuan terhadap ajaran agama lain dapat diatasi melalui komunikasi yang terbuka dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan. Dalam hal ini, dialog bukan hanya menjadi ruang untuk berbagai ajaran agama, tetapi juga untuk berkolaborasi dalam isu-isu global yang mempengaruhi umat manusia seperti kemiskinan, perubahan iklim dan ketidaksetaraan sosial. Dalam perspektif Kristen Protestan, dialog antar agama memiliki tantangan dan peluang yang signifikat. Sebagian besar denominasi Protestan memegang teguh pada pandangan eksklusivis tentang keselamatan, yang menjadikan dialog antar agama terkadang dipandang sebagai ancaman terhadap ajaran fundamental Kristen. Namun, banyak gereja Protestan yang lebih inklusif dan progresif mengadopsi pendekatan inklusivisme, yang mengakui bahwa meskipun keselamatan melalui Kristus tetap menjadi inti ajaran Kristen. Rahmat Tuhan dapat bekerja di luar gereja Kristen. Hal ini membuka peluang bagi gereja Protestan untuk terlibat aktif dalam dialog antar agama, memperkuat kerja sama antar komunitas keagamaan, serta berkontribusi pada perdamaian dan keadilan sosial. Peran Kristen Protestan dalam dialog antar umat beragama sangat krusial. Gereja-gereja Protestan, baik yang konservatif maupun progresif, memiliki kesempatan untuk mempengaruhui dunia melalui ketertiban mereka dalam diskursus interfaith, baik dalam konteks teologis, sosial, maupun kultutal. Melalui platform seperti World Council of Churches (WCC) dan inisiatif-inisiatif ekumenis lainnya, gereja Protestan dapar menjadi agen perubahan yang mendukung perdamaian dan kerja sama lintas agama. REFERENSI