Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Halaman jurnal di https://journal. id/skenoo Upaya Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Yaaman Gulo Sekolah Tinggi Teologi REAL Batam email: yamn. gulo@gmail. INFO ARTIKEL Sejarah artikel: Dikirim 14 September 2023 Direvisi 18 Oktober 2024 Diterima 11 November 2024 Terbit 30 Desember 2024 Kata kunci: Karakter Religius Guru Peserta didik Pendidikan Agama Kristen Keywords: Character Religious Teacher Students Christian Religious Education ABSTRAK Penelitian ini dimulai dari permasalahan karakter yang dialami oleh para siswa. Beberapa isu perilaku yang sering terjadi di kalangan siswa termasuk memberontak kepada guru, menonton dan menyimpan konten pornografi, bolos sekolah, dan terlibat dalam pergaulan bebas. Salah satu langkah untuk menyelesaikan isu tersebut ialah dengan guru berusaha untuk mengarahkan dan membentuk kepribadian religius pada murid-murid. Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif melalui metode tinjauan pustaka. Data primer diperoleh melalui kajian mendalam terhadap berbagai sumber, termasuk buku-buku referensi, jurnal ilmiah bereputasi, dan penelitian-penelitian terdahulu yang relevan. Analisis data yang komprehensif dilakukan untuk mengidentifikasi temuan yang Hasil penelitian mengindikasikan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter religius siswa. Proses pembentukan karakter ini melibatkan berbagai strategi, di antaranya pengajaran nilai-nilai agama, stimulasi praktik berdoa, serta pendalaman pemahaman terhadap Alkitab. Dengan demikian, guru dapat bertindak sebagai fasilitator yang efektif dalam membimbing siswa untuk mengembangkan karakter religius yang ABSTRACT This research started from the character problems experienced by the students. Some behavioral issues that often occur among students include rebelling against teachers, watching and storing pornographic content, skipping school, and engaging in promiscuity. One step to resolve this issue is for teachers to try to direct and form religious personalities in students. This research adopts a descriptive qualitative approach with a literature study method. Primary data was obtained through in-depth study of various sources, including reference books, reputable scientific journals, and relevant previous research. Comprehensive data analysis was conducted to identify significant findings. The research results indicate that Christian Religious Education teachers have a central role in forming students' religious character. This character building process involves various strategies, including teaching religious values, stimulating the practice of prayer, and deepening understanding of the Bible. Thus, teachers can act as effective facilitators in guiding students to develop strong religious character. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 143 PENDAHULUAN Membentuk karakter siswa adalah bagian dari tugas pendidik di sekolah. Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi siswa, namun selain itu, bertujuan juga untuk mengarahkan siswa agar mencapai karakter dan tumbuh menjadi insan yang berpendidikan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menjelaskan bahwa pembelajaran bertujuan untuk membangun karakter dan harkat manusia, berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berpengetahuan, mahir, dan bertanggung jawab. Target pembelajaran tersebut menekankan bahwa guru atau lembaga pendidikan bertanggung jawab untuk menciptakan individu yang berpengetahuan dan berbudi pekerti. Salah satu karakter yang perlu dibangun sejak usia muda pada siswa adalah karakter Menanamkan nilai-nilai religius . pada siswa sangat krusial karena karakter religius mengajarkan siswa untuk memiliki kontrol diri yang baik. Prinsip-prinsip dalam nilai religius seperti kesabaran, kejujuran, dan ketulusan membantu siswa mengatasi godaan dan tantangan dalam berbagai situasi. Selain itu nilai-nilai religius juga penting karena kemajuan teknologi yang cepat dan dampak buruk yang menyertainya. Pentingnya pembentukan karakter religius semakin terasa di abad modern ini, yang mana kemajuan teknologi berkembang pesat yang tidak disertai dengan karakter yang baik berpotensi mendatangkan pengaruh buruk bagi siswa. Perkembangan pesat teknologi informasi, khususnya media sosial dan perangkat mobile, telah membuka akses yang mudah bagi generasi muda terhadap konten digital yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral. Data UNICEF tahun 2017 menunjukkan prevalensi tinggi paparan konten kekerasan, pornografi, dan eksploitasi komersial di komunitas anakanak dan remaja. 2 Senada dengan temuan UNICEF, penelitian Nuriyanto menjelaskan bahwa perkembangan teknologi turut memicu perilaku negatif di kalangan pelajar, seperti pergaulan bebas, penggunaan narkoba, serta penyebaran pornografi dan tindakan tidak senonoh di kalangan siswa. Akibat buruk tersebut berdampak signifikan terhadap perkembangan masyarakat yang beradab. Jika tidak segera ditangani, siswa berisiko mengalami penurunan moral yang dapat menghalangi pembentukan manusia seutuhnya, sehingga tujuan pendidikan tidak akan tercapai. Surbakti mengklaim bahwa kekurangan pendidikan spiritual dan kurangnya pengajaran moral adalah penyebab masalah moral remaja. 4 Sementara itu. Suluh juga menjelaskan bahwa remaja cenderung memilih pergaulan bebas yang cukup meresahkan orang tua dan masyarakat. Remaja sering kali terpengaruh untuk mencoba kebiasaan negatif 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. SISDIKNAS Dan Peraturan Pemerintah RI Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Serta Wajib Belajar (Bandung : Citra Umbara, 2. 2 UNICEF. AuThe State Of The WorldAos Children 2017 : Children in a Digital WorldAy . 3 Lilam Kadarin Nuriyanto. AuPengaruh Implementasi Pendidikan Agama Terhadap Perilaku Keagamaan Peserta Didik,Ay Edukasi:Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan 13, no. 407Ae421. 4 E. Surbakti. Kenalilah Anak Remaja Anda (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2. 144 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. seperti narkoba, minuman keras untuk mencari sensasi. 5 Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dipahami bahwasanya pengembangan karakter spiritual siswa penting dan perlu dilakukan secara optimal. Melalui pembentukan karakter religius, upaya ini dapat membantu mengatasi permasalahan moral yang telah dijelaskan sebelumnya. Adanya keberadaan sifat rohani, siswa bisa dilengkapi dengan sikap dewasa, pola pikir positif, dan ketahanan terhadap pengaruh negatif teknologi, serta saling menghargai yang tinggi serta kejujuran. Marampa juga setuju bahwa keberadaan karakter religius pada siswa dapat membuat sadar dan rela untuk melaksanakan perintah Tuhan, dan juga mencerminkan prinsip nilai kekristenan di kehidupan keseharian. 6 Jadi, sangat penting untuk mengajarkan nilai-nilai religius . kepada siswa agar berkembang menjadi individu yang utuh, bukan saja tentang pengetahuan dan keterampilan, melainkan pula dalam sikap yang baik. Salah satu cara untuk mengembangkan moralitas siswa dapat dibina melalui kehadiran pengajar Pendidikan Agama Kristen dalam konteks sekolah memiliki tanggung jawab yang signifikan dalam menanamkan nilai-nilai religius pada peserta didik. Pengajar agama Kristen memiliki tanggung jawab penting dalam mendukung pertumbuhan kepribadian siswa yang selaras dengan nilai-nilai Kristiani. Salah satu sasaran pokok dari pengajaran agama Kristen adalah membentuk pribadi siswa yang mencerminkan kepribadian Kristus. 7 Maka dari itu, pengajar Pendidikan Agama Kristen dituntut agar secara proaktif mengupayakan mengembangkan karakter religius siswa dalam lingkungan Studi terdahulu oleh Mbeo dan Krisdiantoro menegaskan pentingnya integritas moral seorang pendidik agama Kristen. Pendidik bukan saja berlaku sebagai pemberi pengetahuan, tetapi juga sebagai model peran yang menginspirasi pertumbuhan spiritual peserta didik. Senada Sinaga menggarisbawahi signifikansi kehadiran pendidik Agama Kristen dalam pembinaan kepribadian siswa. Melalui interaksi pedagogis secara intensif, pendidik dapat memfasilitasi internalisasi nilai-nilai Kristiani sehingga siswa mampu merefleksikan karakter Kristus 5 Gusriani SuluAo. AuKajian Teologis Pengudusan Diri Dalam 1 Petrus 1:13-15 Dan Implikasinya Bagi Kekudusan Hidup Remaja,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. 1 (June 2. : 88Ae102. 6 Elieser R Marampa. AuPeran Orangtua Dan Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Membentuk Karakter Kerohanian Peserta Didik,Ay Sesawi:Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. : 100Ae115. 7 Kiki Debora and Chandra Han. AuPentingnya Peranan Guru Kristen Dalam Membentuk Karakter Siswa Dalam Pendidikan Kristen: Sebuah Kajian Etika Kristen,Ay Diligentia: Journal of Theology and Christian Education 2, no. : 1Ae14. 8 Ella Tesalonika Mbeo and Andreas Bayu Krisdiantoro. AuPembinaan Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Pendidikan Karakter Peserta Didik Di Sekolah,Ay Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 3, no. 1 (December 2. : 17Ae29. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 145 dalam kehidupan. 9 Artinya bahwa di era globalisasi dan digitalisasi, siswa menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Nilai-nilai moral dan spiritual sering kali terkikis oleh pengaruh lingkungan yang cepat berubah. Oleh karenanya, peranan pendidik Agama Kristen semakin krusial untuk memberikan fondasi moral yang kuat bagi siswa. Dari kedua penelitian tersebut, disimpulkan bahwa pendidik Agama Kristen memainkan peran kunci dalam membangun kepribadian siswa dengan dampak positif yang mendorong pengembangan kepribadian siswa menuju perilaku yang baik. Namun, penelitian-penelitian tersebut lebih berfokus pada karakter dan kepribadian ideal seorang pendidik dalam menanamkan karakter pada siswa, tanpa merinci langkah-langkah spesifik yang bisa diterapkan oleh pendidik Agama Kristen untuk membina kepribadian spiritual peserta didik di lingkungan sekolah. Jadi, studi ini secara khusus berfokus pada eksplorasi praktik-praktik terbaik dalam menanamkan nilai-nilai religius siswa melalui pengajaran agama Kristen. Temuan-temuan kajian ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif untuk pengembangan profesional pendidik Agama Kristen, dengan menyediakan kerangka kerja yang komprehensif untuk merancang dan melaksanakan program pendidikan karakter yang relevan di lingkungan Adapun fokus utama dari studi Ini berkaitan dengan tindakan yang diupayakan oleh pendidik Agama Kristen untuk menumbuhkan karakter keagamaan siswa di sekolah, dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan memahami langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan guru dalam mencapai tujuan tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengandalkan studi pustaka sebagai metode pengumpulan data. 10 Diawali dengan analisis mendalam terhadap berbagai literatur relevan, tujuan penelitian ini untuk memaparkan gambaran secara terinci tentang beragam usaha yang dilakukan oleh pengajar agama Kristen dalam membangun kepribadian religius peserta didik. 11 Teknik analisis data Miles dan Huberman diterapkan untuk mengolah informasi yang didapatkan, meliputi pengolahan data, penyajian informasi, dan penarikan kesimpulan. 12 Jadi, penelitian ini akan menjelaskan secara lengkap dan teratur berbagai pendekatan tindakan yang diambil oleh pengajar Pendidikan Agama Kristen dalam membangun kepribadian religius siswa. Janes Sinaga and dkk. AuFungsi Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Pembentukan Karakter Anak Di Sekolah Kristen,Ay SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 3, no. 1 (December 2. : 58Ae73. 10Anan Sutisna. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Pendidikan (Jakarta Timur: UNJ Press, 2. 11Miza Nina Adlini and dkk. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,Ay EDUMASPUL: Jurnal Pendidikan 6, no. : 974Ae980. 12 Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2. 146 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. HASIL DAN PEMBAHASAN Pentingnya Pembentukan Karakter Religus Membangun kepribadian religius adalah tindakan yang sangat krusial untuk memastikan individu memiliki sikap dan tingkah laku yang positif. Secara etimologi, karakter berasal dari kata Latin character, yang mengacu pada sifat-sifat jiwa, watak, tabiat, budi pekerti, kepribadian, dan akhlak. 13 Hasan mengatakan karakter merupakan sekumpulan sifat, moral, dan kepribadian individu yang berkembang dari pembelajaran nilai-nilai baik dan digunakan sebagai dasar dalam membentuk pola pikir, sikap, dan 14 Artinya, karakter adalah kepribadian yang dibentuk untuk menjadi acuan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Pendapat Jalaluddin, menjadi religius adalah merupakan cerminan dari hubungan batin yang mendalam dengan Tuhan, di mana sikap dan tindakan seseorang didasarkan pada keyakinan spiritual dan mengikuti perintah-Nya. 15 Sedangkan Gunawan menjelaskan bahwa karakter religius adalah ekspresi konkret dari aspek nilai ketuhanan yang dianut seseorang, dan nampak pada pikiran, perkataan, dan tindakan. Dalam konteks ini, karakter religius berfungsi sebagai kerangka etis dan moral yang membimbing seseorang dalam menjalani hidupnya. Oleh karena itu, karakter religius bukan hanya mencakup kepatuhan terhadap ajaran agama, tetapi juga mencerminkan kesadaran moral yang tinggi. Seseorang dengan karakter religius tidak hanya berperilaku baik karena tuntutan eksternal atau aturan, tetapi karena adanya pemahaman mendalam tentang makna kebaikan dan tanggung jawab spiritual. Karakter religius menuntun individu untuk bertindak dengan empati, kejujuran, dan integritas, bukan hanya dalam ranah keagamaan, namun juga dalam kehidupan sosial dan Sebaliknya menurut Rannu dan Sari seseorang yang tidak mengalami pertumbuhan religius akan kehilangan identitas, tidak memiliki kesetiaan kepada Tuhan bahkan bisa kehilangan imannya. 17 Artinya bahwa karakter religius ini sangat penting dalam menghadapi tantangan moral dan etis yang dihadirkan oleh perkembangan zaman, teknologi, serta budaya modern yang cenderung negatif dan mengaburkan nilai-nilai etika. Pengembangan karakter religius pada siswa adalah unsur yang krusial dalam pendidikan kepribadian secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan individu dengan karakter religius yang kuat cenderung memiliki resiliensi yang lebih tinggi, sehingga mampu menghadapi tekanan psikologis dengan lebih baik. Hal ini sesuai dengan pandangan 13 Yahya Khan. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri (Yogyakarta: Pelangi Publishing, 2. 14Hamid Hasan. Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa (Jakarta: Kantor Kementerian Pendidikan Nasional, 2. 15 M. Jalaluddin. Psikologi Agama Memahami Perilaku Keagamaan Dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2. 16 Heri Gunawan. Pendidikan Karakter (Bandung: Alfabeta, 2. 17 Risky Rannu and Ririn Novita Sari. AuDinamika Tantangan Iman Generasi Muda Masa Kini Dan Strategi Pastoral Untuk Mendorong Pertumbuhan Kerohanian,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 3, no. 2 (December 2. : 121Ae136. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 147 Kartowagiran yang berpendapat bahwa karakter religius berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan psikologis individu. 18 Selain itu. Marampa juga menegaskan bahwa pendidikan karakter yang positif memiliki dampak yang signifikan, baik terhadap individu maupun terhadap lingkungan sosialnya. 19 Jadi, dapat dipahami bahwa karakter religius adalah fondasi yang kokoh bagi pengembangan pribadi yang holistik. Pembentukan karakter religius bukan hanya berdampak pada aspek moral individu, namun juga memiliki implikasi yang signifikan terhadap pengembangan sumber daya Sejalan dengan pandangan Hamalik, karakter religius yang kuat dapat mendorong terbentuknya individu yang memiliki integritas tinggi, kreativitas, dan rasa tanggung jawab yang besar. Artinya, karakter religius merupakan fondasi krusial dalam membentuk generasi muda yang berkualitas dan dapat memberikan sumbangsih yang baik bagi 20 Pernyataan ini mempertegas pentingnya penanaman karakter agama dalam diri siswa di sekolah, di mana guru memiliki peran besar dalam mewujudkannya agar berhasil dengan baik. Oleh karena itu, penanaman karakter rohani harus dilakukan dengan pendekatan yang holistik, mencakup aspek dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter rohani tidak hanya sebatas teori yang diajarkan di kelas, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan. Guru perlu menciptakan suasana yang mendukung pengembangan karakter religius, misalnya dengan melakukan praktik ibadah, diskusi nilai-nilai moral, dan keterlibatan dalam aktivitas kemasyarakatan yang menandai aspek nilai rohani. Sehingga, siswa bukan hanya memahami tentang agama, namun turut merasakan bagaimana aspek rohani tersebut berfungsi di kehidupan nyata. Kepribadian religius yang kokoh dapat menjadi perlindungan bagi siswa dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks seperti kehilangan identitas, depresi atau rasa cemas, serta pergaulan bebas, sehingga peserta didik tidak hanya menjadi individu yang berilmu, tetapi juga menjadi pribadi yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat. Nilai-nilai Karakter Religius Menurut Daryanto dan Suryatri nilai Ae nilai yang terkandung dalam karakter religius adalah kejujuran, toleransi, disiplin, peduli sosial, dan peduli lingkungan. 21 Namun, agar lebih jelas dan fokus, penulis membatasi pembahasan hanya pada nilai kejujuran, toleransi, dan rasa hormat kepada Tuhan. Anita and Badrun Kartowagiran. AuKarakter Religius Pada Mahasiswa Program Pascasarjana,Ay Jurnal Pendidikan Karakter 9, no. : 163Ae178. 19 Marampa. AuPeran Orangtua Dan Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Membentuk Karakter Kerohanian Peserta Didik. Ay 20 Oemar Hamalik. Proses Pembelajaran Mengajar (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2. 21 Daryanto and Suryatri. Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah (Yogyakarta: Gava Media, 2. 148 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Kejujuran Kejujuran adalah salah satu nilai religius yang penting untuk diajarkan pada siswa. Kejujuran merupakan nilai yang mampu memberikan kontribusi bagi siswa agar tidak masuk di dalam pengaruh negatif teknologi. Kejujuran berasal dari kata dasar jujur, yang artinya kesesuaian antara perkataan dan tindakan. 22 Menurut Inten, kejujuran adalah salah satu unsur rohani yang menghasilkan berbagai tindakan terpuji. 23 Sedangkan menurut White, kejujuran adalah mandat dari Alkitab, dalam arti tidak hanya sebatas berbohong, tetapi Kejujuran adalah fondasi etis yang menjiwai seluruh aspek kehidupan manusia. Pola pikir yang jujur akan melahirkan tindakan-tindakan yang berintegritas, sehingga bermuara pada kualitas hidup yang lebih sejahtera. 24 Kitab Bilangan 23:19 juga menegaskan bahwa Allah adalah sumber kebenaran, sehingga orang percaya dipanggil untuk hidup dalam Allah. Dengan menghasilkan cara hidup yang baik dan berkualitas. Menghadapi arus informasi yang sangat cepat dan mudah diakses, maka perlu mempersiapkan siswa dengan nilai kejujuran agar tidak terjerumus di dalamnya. Siswa harus dilatih untuk jujur pada diri sendiri, jujur dalam setiap tindakan, dan jujur saat menggunakan media sosial. Tidak sedikit di kalangan siswa yang suka menyebarkan berita hoax untuk mengadu domba melalui media sosial yang berakibat kepada pertikaian dan perkelahian atau tawuran di kalangan siswa. Iqbal dan Prawening dalam penelitiannya menunjukkan bahwa hanya sepertiga responden yang selalu memvalidasi kebenaran sebuah 25 Hal ini jelas bahwa media sosial harus digunakan dengan jujur, karena jika tidak akan merusak hubungan sosial itu sendiri. Kitab Amsal 12:22 juga menjelaskan bahwa Allah menghargai kejujuran dan membenci dusta, yang dapat merusak hubungan dengan-Nya dan sesama. Artinya, kejujuran adalah dasar dari hubungan yang sehat, baik dengan Allah maupun sesama Selain itu, tidak adanya nilai kejujuran dalam diri siswa akan merusak hubungan sosial, hal ini akan berakibat pada cara hidup yang buruk siswa tersebut yang selalu menutup diri, takut bergaul, dan tidak percaya diri. Bahkan Iqbal dan Prawening menegaskan bahwa perilaku tidak jujur terhadap diri sendiri akan menyebabkan klaim kebenaran secara sepihak seolah otoritas Tuhan menjadi hilang. 26 Hal ini yang menjadikan kejujuran sangat penting ditanamkan dalam diri siswa karena berpengaruh pada cara hidup siswa itu sendiri. 22 Marsi Bombongan Rantesalu. AuKarakter Kejujuran Dalam Gereja Masa Kini,Ay Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. : 43Ae54. 23 N. Inten. AuPenanaman Kejujuran Pada Anak Dalam Keluarga,Ay FamilyEdu: Jurnal Pendidikan Kesejahteraan Keluarga 3, no. : 35Ae45. 24 J. White. Kejujuran Moral Dan Hati Nurani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. 25 Muhamad Iqbal and Cesilia Prawening. AuRefleksi Kebenaran: Prinsip Kejujuran Sebagai Komunikasi Spiritual Anak Di Era Digital,Ay Jurnal Komunikasi 3, no. : 175Ae192. 26 Ibid. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 149 Oleh karena itu, sangat penting nilai kejujuran ditanamkan dalam diri siswa, khususnya dalam penggunaan media sosial sehingga teknologi yang ada dapat dimanfaatkan dengan maksimal untuk kehidupan yang lebih baik. Kejujuran merupakan prasyarat mutlak dalam mencapai kemajuan hidup. Tanpa adanya kejujuran, segala upaya yang dilakukan akan mengalami stagnasi bahkan kemunduran. 27 Artinya, kejujuran adalah faktor penting bagi keberlangsungan hidup manusia, sehingga tidak bisa dianggap hal yang biasa karena pada dasarnya kejujuran sulit dilakukan. Untuk itu, diperlukan kesungguhan agar nilai kejujuran dapat ditanamkan dalam diri siswa dengan maksimal. Toleransi Toleransi adalah hal penting sebagai salah satu nilai religius untuk ditumbuhkan dalam pribadi siswa. Masalah intoleransi bukan masalah yang baru terjadi, bahkan perkembangan teknologi juga memicu terjadinya masalah intoleransi. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Peter yang menyebutkan bahwa isu intoleransi akhir-akhir ini sering kali dipicu oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang bersifat 28 Isu tersebut harus ditanggapi dengan serius agar tidak mengakibatkan perpecahan di dalam masyarakat maupun pendidikan. Siswa perlu dibekali dengan nilai toleransi yang baik agar bisa hidup rukun dan damai. Sikap toleransi dalam Alkitab mengajarkan untuk hidup berdamai dengan semua Damai dengan orang lain mencerminkan sikap saling menghargai dan menerima perbedaan tanpa memaksakan kehendak atau keyakinan. Di dalam Roma 12:18 menjelaskan tentang pentingnya usaha untuk menjaga kedamaian, termasuk menghormati keyakinan orang lain. Markus 12:31 juga dituliskan bahwa mengasihi sesama berarti menghargai keberadaan dan nilai orang lain, termasuk dalam hal perbedaan atau toleran. Toleransi dalam lingkungan siswa tidak hanya terbatas dalam pengertian menghargai keyakinan orang lain, tetapi lebih spesifik toleransi dalam lingkungan siswa adalah tentang sikap menghargai sesama, menghargai dan sopan terhadap individu yang lebih dewasa, terbuka terhadap perbedaan, baik itu pandangan, suku, maupun status sosial. Arifianto juga mengungkapkan bahwa toleransi tidak hanya berlandaskan pada keimanan, melainkan lebih ditekankan dalam bingkai toleransi sebagai ikatan kemanusiaan secara khusus dalam lingkungan siswa di sekolah. 29 Artinya toleransi dalam ruang lingkup siswa tidak bersifat semu dan pasif, tetapi juga bersifat aktif, yaitu bersedia menghargai orang lain, teman, guru, maupun orang tua. 27 Alfi Rachma Hidaya and dkk. AuPenanaman Nilai Kejujuran Melalui Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini Dengan Teknik Modeling,Ay in Prosiding Konferensi Pendidikan Nasional (Yogyakarta: Mercubuana, 2. , 109Ae114. 28 Ramot Peter. AuPendidikan Agama Kristen Dalam Membangun Wawasan Kebangsaan Menghadapi Isu Intoleransi Dan Radikalisme,Ay Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral 1, no. : 89Ae 29 Yonatan Alex Arifianto. AuMenumbuhkan Sikap Kerukunan Dalam Persepektif Iman Kristen Sebagai Upaya Deradikalisasi,Ay Khazanah Theologia 3, no. : 93Ae104. 150 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Namun, sikap intoleransi, tidak saling menghargai di kalangan siswa dan guru, tidak menerima perbedaan, serta bullying hingga tindakan kekerasan di antara siswa merupakan masalah serius dalam dunia pendidikan. 30 Maka nilai toleransi sangat penting ditanamkan dalam diri siswa yang dimana menurut Arifianto mengatakan bahwa, dengan adanya nilai toleransi akan membentuk pola pikir dalam bergaul, hidup dalam kedamaian, dan cinta kasih serta saling menghormati. 31 Hal ini berarti, nilai toleransi adalah salah satu kebutuhan dalam membentuk kepribadian rohani siswa di era teknologi. Dengan demikian, guru memiliki peran penting untuk membiasakan siswa dengan nilai-nilai toleransi melalui pendidikan, secara khusus Pendidikan Agama Kristen. Karena melalui pendidikan akan mendorong keterbukaan pola pikir, menghargai perbedaan yang ada, dan mampu bersikap kritis. 32 Dengan sikap tersebut siswa tidak akan terjerumus dalam degradasi moral yang semakin merosot di era perkembangan teknologi yang semakin pesat. Sikap Takut akan Tuhan Sikap hormat kepada Tuhan menjadi salah satu nilai spiritual yang perlu ditanamkan dalam diri siswa. Rasa hormat kepada Tuhan akan mendorong siswa untuk hidup sesuai dengan norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Sikap hormat kepada Tuhan adalah refleksi diri siswa terhadap nilai-nilai rohani Kristen yang diajarkan di sekolah, melalui pembentukan rasa hormat kepada Tuhan siswa dapat mempunyai pola pikir dan perilaku positif sehingga tidak terjebak dalam degradasi moral. Pembentukan karakter religius siswa dengan menanamkan nilai sikap takut akan Tuhan merupakan tanggung jawab besar Pendidikan Agama Kristen demi mempersiapkan siswa yang berkarakter. Menurut Simanjuntak, takut akan Tuhan merupakan fondasi spiritual yang mengakar pada keyakinan terhadap keberadaan Tuhan. Ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya merupakan bentuk pengakuan atas kedaulatan Tuhan dalam kehidupan manusia. 33 Penanaman nilai takwa menjadi prioritas dalam ajaran agama, karena memiliki peran sentral dalam pembentukan moral individu. Alkitab mencatat bahwa hikmat dimulai dengan menghormati Tuhan, dan setiap orang yang melakukannya memiliki kebijaksanaan (Maz. , kitab Amsal juga menuliskan hal yang demikian, takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan dan takut akan Tuhan membenci kejahatan (Amsal 1:7. Bahkan dalam 2 Korintus 7:1 lebih ditekankan bahwa rasa hormat kepada Tuhan mendorong seseorang untuk hidup dalam kekudusan dan memelihara kesucian. Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai rasa hormat kepada Tuhan dalam diri siswa merupakan sesuatu yang penting. 30 Frets Keriapy. AuPendidikan Kristiani Transformatif Berbasis Multikultural Dalam Konteks Indonesia,Ay Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen 5, no. : 82Ae93. 31 Arifianto. AuMenumbuhkan Sikap Kerukunan Dalam Persepektif Iman Kristen Sebagai Upaya Deradikalisasi. Ay 32 Ibid. 33 Irfan Simanjuntak. AuMembentuk Generasi Yang Takut Akan Tuhan,Ay in Prosiding Seminar Nasional: Keluarga Yang Misioner (Batam: STT Real Batam, 2. , 93Ae102. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 151 Dengan demikian, penanaman nilai sikap takut akan Tuhan perlu dijalankan dengan Suharta menambahkan bahwa sikap takut akan Tuhan memberikan dampak positif bagi perkembangan siswa, bahkan pembentukan sikap takut akan Tuhan adalah modal dasar untuk membentuk karakter siswa dengan benar. 34 Maka dari itu, rasa hormat kepada Tuhan adalah salah satu solusi dalam memperlengkapi siswa untuk dapat berkarakter baik dan terhindar dari kemerosotan moral. Upaya Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Penguatan Pengajaran Pendidikan Agama Kristen Pendidikan agama Kristen, sebagai komponen integral dalam sistem pendidikan, sangat berperan penting dalam meningkatkan karakter kerohanian dan mengembangkan spiritualitas siswa. Keberadaan pengajaran agama Kristen menjadi elemen tidak dapat dipisahkan dari kurikulum pendidikan dan memiliki peran yang sangat penting, bukan hanya dalam penyampaian pengetahuan, melainkan juga dalam pembentukan nilai-nilai moral dan spiritual yang esensial bagi pertumbuhan individu. Penelitian empiris menunjukkan korelasi yang kuat antara pengajaran agama Kristen dengan pembentukan karakter siswa, di mana kontribusi rata-rata mencapai 45,3%. 35 Senada dengan temuan tersebut. Gulo dkk. menegaskan bahwa melalui pembelajaran agama Kristen, peserta didik dapat mengembangkan kepribadian yang utuh, bermoral, dan bertanggung jawab. 36 Selain itu. Harmadi dan Jatmiko turut menekankan bahwa tujuan utama pendidikan agama Kristen adalah untuk membekali siswa dengan keterampilan hidup yang berakar pada nilai-nilai Kristiani serta memfasilitasi pengalaman spiritual yang autentik. 37 Dengan kata lain. Pendidikan Agama Kristen berperan krusial dalam membentuk pribadi yang berbudi pekerti, beriman, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Kehadiran guru agama Kristen memberikan efek dan tanggung jawab yang signifikan untuk menyampaikan materi pembelajaran agama Kristen di sekolah secara Pengajaran yang efektif dalam Pendidikan Agama Kristen akan mendorong siswa untuk mengalami perubahan, pembaruan, dan reformasi dalam diri mereka. 38 Menurut Nainggolan, pendidikan agama Kristen berfungsi sebagai wahana yang efektif dalam membentuk spiritualitas siswa, sehingga mereka dapat berkontribusi secara konstruktif 34 Ibid. Yaaman Gulo et al. AuPengaruh Pendidikan Agama Kristen Di Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Siswa,Ay REAL DIDACHE: Journal of Christian Education 2, no. 2 (September 2. : 113Ae122. 36 Ibid. 37 Mariani Harmadi and Abednego Agung Jatmiko. AuPembelajaran Efektif Pendidikan Agama Kristen Generasi Milenial,Ay PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 16, no. : 62Ae74. 38 Yornan Masinambow and Yosef Nasrani. AuPendidikan Kristiani Sebagai Sarana Pembentukan Spiritualitas Generasi Milenial,Ay PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 17, 1 . : 64Ae81. 152 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. dalam masyarakat yang plural. 39 Dengan begitu, penyusunan pembelajaran agama Kristen di sekolah dapat membangkitkan kesadaran religius dan nilai-nilai moral dalam diri siswa, sehingga melahirkan individu yang beriman dan memiliki rasa tanggung jawab. Dengan demikian, tugas pendidik Pendidikan Agama Kristen tidak semata-mata sebagai penyampai informasi, melainkan sebagai fasilitator pembelajaran yang holistik. Pendidik penting untuk membangun suasana belajar yang kondusif bagi terjadinya dialog kritis dan refleksi diri. Dengan demikian, peserta didik dapat mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam kegiatan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menanamkan pemahaman tentang etika penggunaan teknologi, agar peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang pasif, tetapi juga pengguna yang bertanggung jawab. Stimulus Doa Dalam konteks pendidikan agama Kristen, praktik doa tidak hanya sebatas ritual, tetapi juga merupakan sarana yang penting dalam pengembangan karakter spiritual peserta Penelitian yang dikerjakan oleh Pinat dkk. menunjukkan bahwa doa dapat menjadi media yang ampuh untuk menginternalisasi nilai spiritual dalam kehidupan siswa. 40 Selain itu. Sriyanti dan Nakamnanu menegaskan bahwa melalui doa, siswa dapat mengembangkan kepekaan spiritual yang lebih dalam. 41 Oleh karena itu, upaya untuk merangsang praktik berdoa secara konsisten dapat menjadi upaya yang signifikan dalam pengembangan karakter kerohanian siswa. Hal Pendidikan Agama Kristen mengimplementasikan praktik doa sebagai bagian dari pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di lingkungan sekolah. Ciri khusus keunikan Pendidikan Agama Kristen yakni dalam praktik pendalaman spiritual tidak sebatas ritual bersama, melainkan juga hubungan personal antara guru dan siswa. Berbeda dengan mata pelajaran umum yang seringkali menggunakan doa sebagai pembuka atau penutup kegiatan, pendidik agama Kristen berperan untuk memberikan dukungan spiritual secara individual melalui doa. Contoh ini dapat dilihat dari tindakan Yesus sendiri, tercatat di Matius 10:16 dinyatakan, "lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati " Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus, sebagai Guru Agung, memberikan perhatian istimewa kepada para anak melalui doa dan berkat secara pribadi. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat hubungan spiritual antara guru dan siswa, namun juga menciptakan atmosfer kelas yang lebih mendukung dan penuh kasih. Melalui doa pribadi, siswa dapat merasakan dukungan dan perhatian yang lebih besar dari guru. John M. Nainggolan. PAK Dalam Masyarakat Majemuk (Bandung: Bina Media Informasi, 40 Nahum Pinat. Ezra Tari, and Purnama Pasande. AuImplementasi Pendidikan Agama Kristen Dalam Membentuk Karakter Anak,Ay Kapata: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. : 77Ae78. 41 Sriyanti and Esen Hon Nakamnanu. AuPeran Guru Dalam Menerapkan Pendidikan Agama Kristen Untuk Menumbuhkan Iman Kristen Anak Sejak Dini,Ay Shamayim: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 1, no. : 14Ae28. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 153 yang selanjutnya mampu mengembangkan rasa percaya diri dan keamanan emosional. Dengan mengikutsertakan siswa dalam praktik doa yang konsisten dan penuh makna, guru Pendidikan Agama Kristen dapat mengarahkan siswa meningkatkan kesadaran spiritual yang terfokus, serta menginternalisasi nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan. Jadi, guru Pendidikan Agama Kristen saat ini seharusnya menerapkan praktik mendoakan setiap siswa secara pribadi. Mendoakan siswa secara personal bukan hanya sekadar ritual, tetapi merupakan cara yang efektif untuk mengembangkan kesadaran spiritual dan moral siswa. Ketika siswa merasa diperhatikan melalui doa, peserta didik akan lebih mungkin untuk mengekspresikan prinsip-prinsip tersebut dalam perilaku keseharian. Melalui pendekatan ini, siswa akan merasakan perhatian, penghargaan, dan pengakuan dari guru, yang dapat memperkuat ikatan emosional antara keduanya. Hal ini pada akhirnya berkontribusi pada pembentukan karakter religius siswa, sehingga menjadi lebih jujur, toleran, dan memiliki sikap yang penuh rasa hormat kepada Tuhan. Penguatan Pengajaran Firman Tuhan (Pendalaman Alkita. Internalisasi prinsip-prinsip religius pada diri siswa dapat difasilitasi melalui penyampaian ajaran firman Tuhan. Alkitab, sebagai sumber pokok utama ajaran Kristen, menjadi landasan utama dalam kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Kristen. Sahartian berpendapat bahwa pemahaman yang benar mengenai firman Tuhan dapat mendukung siswa dalam pertumbuhan spiritual dan perkembangan karakter yang 42 Selain itu. Widiyaningtyas, juga menambahkan bahwa mendidik anak harus berpusat pada kebenaran Firman Tuhan dan dilakukan secara berulang berdasarkan kasih Allah. 43 Pernyataan ini menjelaskan bahwa inspirasi Ilahi yang terkandung dalam seluruh Kitab Suci menjadikan Alkitab sebagai sumber yang lengkap untuk pertumbuhan rohani. Ayat 2 Timotius 3:16 secara eksplisit menyatakan bahwa Alkitab memiliki kuasa untuk mengajar kebenaran, mengoreksi kesalahan, memperbaiki perilaku, dan membentuk karakter yang saleh. Dari ayat ini, terlihat jelas bahwa pengajaran firman Tuhan memberikan pengaruh besar terhadap pengembangan karakter, terutama dalam aspek religius, di mana siswa diajarkan untuk mengakui kesalahan . , memperbaiki perilaku, dan mendapatkan pendidikan yang benar. Namun pendidik Pendidikan Agama Kristen sering kali menghindari hal ini karena fokus lebih pada materi pelajaran untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan siswa. Sahartian juga mengungkapkan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen sering kali mengesampingkan ajaran firman Tuhan kepada murid dan lebih condong memberikan 42 Santy Sahartian. AuPemahaman Guru Pendidikan Agama Kristen Tentang II Timotius 3:10 Terhadap Peningkatan Kecerdasan Spiritual Anak Didik,Ay Jurnal Fidei 1, no. : 146Ae172. 43 Ester Widiyaningtyas. Clive Johday Welan, and Dony Wijaya. AuPeranan Konseling Behavior Dalam Menangani Dampak Adiksi Dari Game Online,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 3, no. 2 (December 2. : 184Ae195. 154 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. tafsirannya sendiri terhadap firman Tuhan. 44 Pendapat serupa juga disampaikan oleh Tenny dan Arifianto juga mengungkapkan bahwa Pendidikan Agama Kristen di sekolah masih belum dilaksanakan secara komprehensif, sebagian besar hanya berfokus pada aspek teoretis dan diterapkan sekadar untuk memenuhi tuntutan akademis. 45 Artinya bahwa analisis terhadap praktik pengajaran agama di sekolah menunjukkan adanya kesenjangan antara teori dan praktik. Meskipun materi keagamaan telah diajarkan, implementasi prinsip agama yang diterapkan dalam keseharian siswa masih belum optimal. Dengan demikian, agar proses pembelajaran agama Kristen dapat mencapai tujuan yang optimal, guru perlu menyeimbangkan antara pengembangan kognitif dan afektif peserta didik. Selain mentransfer pengetahuan teologis, guru juga perlu memfasilitasi internalisasi nilai-nilai religius melalui praktik-praktik spiritual, seperti pengajaran firman Tuhan. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengalami transformasi karakter, terutama dalam hal kepribadian spiritual, menuju arah yang lebih baik. KESIMPULAN Temuan hasil penelitian mengindikasikan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peran penting dan signifikan bagi pengembangan karakter spiritual peserta didik. Melalui implementasi strategi pedagogis yang efektif, seperti pendalaman Kitab Suci, pembiasaan berdoa, dan pengajaran yang berpusat pada firman Tuhan, guru dapat memfasilitasi internalisasi nilai-nilai Kristiani pada diri siswa. Melalui pengajaran firman Tuhan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teologis, tetapi juga mengalami transformasi spiritual. Firman Tuhan, sebagai wahyu ilahi, berfungsi sebagai pedoman hidup yang mampu membentuk karakter, memperbaiki perilaku, dan mengarahkan siswa pada kebenaran sejati. Selain itu, interaksi yang positif antara guru dan siswa adalah faktor kunci dalam keberhasilan pembelajaran agama Kristen. Melalui praktik-praktik spiritual seperti doa, guru dapat membangun kedekatan emosional dengan siswa, menciptakan suasana yang kondusif bagi pertumbuhan rohani. Dengan demikian, pengajaran firman Tuhan dan lingkungan belajar yang penuh kasih sayang dan saling menghargai akan mendorong peserta didik untuk membangun sikap konstruktif seperti kejujuran, toleransi, dan rasa hormat yang mendalam kepada Tuhan. Dimana dengan sikap ini mendorong siswa untuk menghormati orang lain sebagai sesama ciptaan Tuhan. Siswa akan menunjukkan sikap sopan, memahami perbedaan, dan bersikap toleran terhadap sesama, serta siswa akan cenderung untuk selektif memilih konten yang diakses. Siswa akan menjauhkan diri dari perkara yang tidak sesuai dengan norma moral dan keyakinan yang diyakini, seperti kekerasan, pornografi, atau hoax, yang dapat merusak pemikiran dan moralitas. Sahartian. AuPemahaman Guru Pendidikan Agama Kristen Tentang II Timotius 3:10 Terhadap Peningkatan Kecerdasan Spiritual Anak Didik. Ay 45 Tenny Tenny and Yonatan Alex Arifianto. AuAktualisasi Misi Dan Pemuridan Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Era Disrupsi,Ay Didache: Journal of Christian Education 2, no. 1 (June 2. : 41. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 155 Daftar Pustaka