Jurnal Kebidanan Besurek ISSN : 2527 - 3698 STATUS EKONOMI KELUARGA. TINGKAT PENDIDIKAN IBU. KEADAAN LINGKUNGAN. DAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA Family Economy Status. Education Level of Mother. Environmental Condition, and Infection Respiratory Acute (IRA) of Children Under Five Maritta sari Akademi Kesehatan sapta Bakti Bengkulu Jl. Mahakam Raya No. 16 Bengkulu midfiweryjournal@yaho. Abstrak ISPA merupakan masalah kesehatan utama dalam masyarakat yang termaksud dalam penyakit infeksi dan menempati posisi teratas pada balita di Indonesia. Angka kejadian ISPA di Provinsi Bengkulu setiap tahunnya mengalami peningkatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA pada balita yang berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional. Sampel pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita yang berumur 0-4 tahun yang datang berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu pada bulan November-Desember 2016sebanyak 165 ibu. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Simple Random Sampling. Analisis data menggunakan dengan uji statistic Chi-Square. Hasil penelitian ini hubungan yang signifikan antara hubungan ekonomi, pendidikan dan lingkungan dengan kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu . value = 0,000 < =0,. Kata Kunci: Kejadian ISPA, keadaan lingkungan, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan ibu Abstrack ISPA is a major health problem in the community of infectious diseases and is the leading position among children under five in Indonesia. The incidence of ARI in Bengkulu Province increases every year. The purpose of this study is to determine the factors that affect the incidence of ARI in toddlers who visited the Market Community Fish Market of Bengkulu City. This research uses Cross Sectional design. The sample in this research is mother who have 0-4 years old toddler who come to visit Health Center Pasar Ikan Bengkulu City in November-December 2016 as many as 165 mothers. Sampling this research using Simple Random Sampling technique. The data were analyzed using ChiSquare statistical test. The result of this study is a significant relationship between economic, educational and environmental relationships with ARI occurrence in Toddlers at Health Center Pasar Ikan Bengkulu City . value = 0,000 < = 0,. Keywords: Ispa Event. Family Economic Status. Maternal Education Level. Situation Environment. Vol. No. Juni 2017 : 60 - 66 Jurnal Kebidanan Besurek PENDAHULUAN ISPA adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran pernapasan mulai dari hidung hingga alveoli, biasanya penyakit ini ditimbulkan dalam bentuk gejala batuk, pilek, demam/panas atau ketiga gejala tersebut muncul dalam waktu Pilek merupakan gejala utama dalam penyakit ISPA yang jika tidak diobati /dirawat dengan baik dapat berkembang menjadi penyakit saluran pernapasan yang lebih berat bahkan bisa menyebabkan kematian (Kemenkes RI, 2. World Health Organization (WHO) memperkirakan insiden Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada usia balita. Di Indonesia. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Berdasarkan prevalensi ISPA tahun 2012 di Indonesia telah mencapai 25% dengan rentang kejadian yaitu sekitar 17,5 % - 41,4 % dengan 16 provinsi diantaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2016 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbanyak di rumah sakit. terbesar di Indonesia dengan persentase 32,10% dari seluruh kematian balit. , sedangkan di provinsi Bengkulu 28 % . , 27,2 % tahun 2016 (DepKes, 2. Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak khusunya balita, diperkirakan pada masa ini cenderung lebih rentan untuk tertular penyakit karena daya tahan tubuh anak belum bekerja secara maksimal dan sempurna serta keadaan fisiknya belum sekuat orang dewasa. Faktor-faktor yang mempengaruhi resiko balita terkena ISPA antara lain: gizi kurang, imunisasi tidak lengkap, defisiensi vitamin A. BBLR, jangkauanpelayanan kesehatan yang rendah, tingkat pendidikan ibu yang rendah, keadaan Vol. No. Juni 2017 : 60 - 66 ISSN : 2527 - 3698 lingkungan, dan menderita penyakit kronis (Kemenkes RI, 2. Menurut Azwar . penyakit infeksi lebih banyak diderita masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah artinya, jika suatu keluarga mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi maka dapat memberikan asupan gizi yang baik bagi anaknya, sehingga anak tersebut memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan tidak mudah terserang penyakit. Keluarga yang mempunyai tingkat ekonomi yang rendah, pada umumnya kurang mampu memberikan asupan gizi yang baik dan tepat bagi anaknya. Perilaku hidup bersih dan sehat sangat dipengaruhi dengan budaya dan tingkat pendidikan pendidikan dimasyarakat, maka akan sangat berpengaruh positif terhadap pemahaman masyarakat dalam menjaga kesehatan balita agar tidak terkena (Dharmage, 2. Pengaruh keadaan lingkungan yang kotor khusunya rumah yang kotor, padat akan memudahkan terjangkit berbagai penyakit dan pencemaran lingkungan seperti asap dapur, gas buangn sarana transportasi dan polusi udara yang terdapat dalam rumah dapat mengancam kesehtan terutama penyakit (Maya Sari 2. Rumusan masalah dalam penelitian ini Aufaktor-faktor berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita yang berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Bengkulu?Ay. Tujuan dari penelitian ini adalah faktor-faktor berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita yang berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Bengkulu METODE DAN BAHAN Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional. Jenis penelitian ini adalah descriptive populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak balita yang datang berobat ke puskesmas pasar ikan kota Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tehnik Simple Random Sampling, sebanyak 165 Balita. Instrumen penelitian yang digunakan pada Jurnal Kebidanan Besurek menggunakan kuesioner sedangkan variable lingkungan dilakukan observasi. Dalam HASIL Analisa Univariat Analisis ISSN : 2527 - 3698 penelitian ini peneliti menggunakan analisa Chi-Square. frekuensi ekonomi, pendidikan dan keadaan lingkungan serta kejadian ISPA. Tabel 1: Distribusi Frekuensi Status Ekonomi Ibu yang Memiliki Balita yang Berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Status Ekonomi Frekuensi Persentase (%) Rendah Menengah Jumlah Berdasarkan Tabel 1 diatas terlihat sebagaian responden mempunyai tingkat ekonomi rendah yaitu sebanyak 79responden . ,9%). Tabel 2 : Distribusi FrekuensiPendidikan Ibu yang Memiliki Balita yang Berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Pendidikan Frekuensi Persentase (%) Rendah Tinggi Jumlah Berdasarkan Tabel 2 diatas terlihat bahwa dari sebagian responden mempunyai pendidikan rendah yaitu sebanyak 71 . %). Tabel 3 : Distribusi Frekuensi Keadaan Lingkungan Rumah Ibu yang Memiliki Balita yang Berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Keadaan Lingkungan Frekuensi Persentase % Kurang Baik Baik Jumlah Berdasarkan Tabel 3 diatas terlihat bahwa sebagian besar keluarga balita Vol. No. Juni 2017 : 60 - 66 memiliki keadaan lingkungan yang kurang baik yaitu 115 . ,7%). Jurnal Kebidanan Besurek ISSN : 2527 - 3698 Tabel 4 : Distribusi Frekuensi Kejadian ISPA pada Balita yang Berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Kejadian ISPA Frekuensi Persentase % ISPA Tidak ISPA Jumlah Analisis Bivariat Berdasarkan Tabel 4 diatas terlihat bahwa sebagian besar balita mengalami kejadian ISPA yaitu 146 . ,5%). Analisis Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara ekonomi, pendidikan, keadaan lingkungan dengan kejadian ISPA menggunkan uji statistik Chi-Square (NA). Adapun hasil analisisnya Tabel 5 : Hubungan Status Ekonomi dengan Kejadian ISPA pada Balita yang Berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Kejadian ISPA Status Ekonomi Total Tidak Rendah 21,05 Menengah Berdasarkan Tabel 5 diatas terlihat bahwa dari 146 keluarga yang memiliki ekonomi rendah terdapat 75 . ,9%) ibu yang memiliki anak yang menderita ISPA, sedangkan yang tidak menderita ISPA sebanyak 4 . ,1%). Hasil uji statistik Vol. No. Juni 2017 : 60 - 66 5,037 0,025 didapatkan NA hitung . NA tabel yaitu . dan nilaip . < . hal ini menunjukan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara ekonomi keluarga dengan kejadian ISPA pada usia 0-4 tahun. Jurnal Kebidanan Besurek ISSN : 2527 - 3698 Tabel 6 : Hubungan Pendidikan dengan Kejadian ISPA pada Balita yang Berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Kejadian ISPA Total Pendidikan Tidak Rendah Tinggi 52,05 NA 0,001 10,813 statistik didapatkan NAhitung . NAtabel yaitu . dan nilaip . < . ini menunjukan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan kejadian ISPA pada usia 0-4 tahun. Berdasarkan Tabel 6 diatas terlihat bahwa dari 146 ibu yang berpendidikan rendah terdapat 70 . ,6%) ibu yang memiliki anak yang menderita ISPA, sedangkan yang tidak menderita ISPA sebanyak 1 . ,4%). Hasil uji Tabel 7 : Hubungan Keadaan Lingkungan dengan Kejadian ISPA pada Balita yang Berkunjung ke Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Kejadian ISPA Pendidikan Total Tidak Kurang baik 31,57 Baik 52,05 68,42 NA 0,000 12,803 Berdasarkan Tabel 6 diatas terlihat bahwa dari 115 keluarga yangkeadaan lingkungannya kurang baik terdapat 109 . ,8%) ibu yang memiliki anak yang menderita ISPA, sedangkan yang tidak menderita ISPA sebanyak 6 . ,2%). Hasil uji statistik didapatkan NA hitung . NA tabel yaitu . dan nilaip . < . ini menunjukan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara keadaan lingkungan yang kurang baik dengan kejadian ISPA pada usia 0-4 tahun. Vol. No. Juni 2017 : 60 - 66 PEMBAHASAN Hasil penelitian yang dilakukan bahwa dari 146 keluarga yang memiliki ekonomi rendah terdapat 75 . ,9%) ibu yang memiliki anak yang menderita ISPA, sedangkan yang tidak menderita ISPA sebanyak 4 . ,1%). Hasil uji statistik didapatkan NAA hitung . NA tabel yaitu . dan nilaip . < . ini menunjukan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara ekonomi keluarga dengan kejadian ISPA pada usia 0-4 Jurnal Kebidanan Besurek Sesuai yang dikemukakan oleh Azwar . penyakit infeksi lebih banyak diderita masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah artinya, jika suatu keluarga mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi maka dapat memberikan asupan gizi yang baik bagi anaknya, sehingga anak tersebut memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan tidak mudah terserang penyakit. Keluarga yang mempunyai tingkat ekonomi yang rendah, pada umumnya kurang mampu memberikan asupan gizi yang baik dan tepat bagi anaknya. Sesuai dengan hasil penelitian Herlinda . yang mempunyaihubungan yang bermakna dengan kejadian ISPA pada Balita dengan hasil uji Chi-Square nilai p=0,002. Berdasarkan Tabel 6 terlihat bahwa dari 146 ibu yang berpendidikan rendah terdapat 70 . ,6%) ibu yang memiliki anak yang menderita ISPA, sedangkan yang tidak menderita ISPA sebanyak 1 . ,4%). Hasil uji statistik didapatkan NA hitung . NA tabel yaitu . dan nilaip . < . ini menunjukan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan kejadian ISPA pada usia 0-4 tahun. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo . , bahwa mangkin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin mudah menerima informasi sehingga semangkin banyak pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan hidup sehat. Terlihat bahwa dari 115 keluarga yang keadaan lingkungannya kurang baik terdapat 109 . ,8%) ibu yang memiliki anak yang menderita ISPA, sedangkan yang tidak menderita ISPA sebanyak 6 . ,2%). Hasil uji statistik didapatkan NA hitung . NA tabel yaitu . dan nilaip . < . ini menunjukan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara keadaan lingkungan yang kurang baik dengan kejadian ISPA pada usia 0-4 tahun. Vol. No. Juni 2017 : 60 - 66 ISSN : 2527 - 3698 Sejalan dituangkan oleh Kemenkes RI . , yang menyatakan bahwa mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap tingkat kesehatan masyarakat. Keadaan lingkungan yang padat dan kotor akan memudahkan terjangkitnya berbagai Jika lingkungan tercemar maka dapat mengganggu atau membahayakan kesehatan, seperti asap yang berasal dari polusi udara dalam rumah merupakan ancaman kesehatan terutama penyakit ISPA. KESIMPULAN Sebagian besar balita mengalami kejadian ISPA yaitu sebanyak 146 balita . ,5%). Adanya hubungan antara status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan ibu dan keadaan lingkungan ibu dengan kejadian ISPA pada SARAN Diharapkan petugas kesehatan dapat selalu menginformasikan dan memberikan pengetahuan yang baik melalui konsling atau penyuluhan kesehatan terutama dengan menginformasikan lagi tentang penyakit yang sering dialami oleh balita, faktor yang mempengaruhi balita sakit serta penangan pada balita sakit. Perlunya keterlibatan dan dukungan langsung dari pihak keluarga sehingga akan mengurangi angka kematian pada anak dan balita. DAFTAR PUSTAKA