Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 9-17 Available at http://jurnal. id/jpterpadu Jurnal Perikanan Terpadu P-ISSN : 2599-154X E-ISSN : 2745-6587 Pemetaan Vegetasi Mangrove Dengan Penginderaan Jarak Jauh (Citra Landsat . di Kota Lhokseumawe Mangrove Vegetation Mapping with Remote Sensing Approach (Citra Landsat . in Lhokseumawe City Imamshadiqin1*. Nurmayana1. Imanullah1. Syahrial1. Cut Meurah Nurul AoAkla1. Salmarika1. Afdhal Fuadi2 Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Pertanian. Universitas Malikussaleh. Indonesia. Program Studi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Teuku Umar. Indonesia *koresponden : imamshadiqin@unimal. Article Information Submitted Revised Accepted Published 07/06/2024 11/07/2024 22/07/2024 13/08/2024 Keywords : GIS Lhokseumawe City Mangrove Vegetation Abstract One of the best potential mangrove forests is located in Lhokseumawe City. Mangrove forests function as protected areas in coastal areas and are used as vegetation whose existence must be maintained. Efforts to protect it can be carried out by mapping the distribution of mangrove forest areas as a database in Lhokseumawe City. Mapping the distribution of mangrove forest areas can be done using remote sensing. This research was conducted in October - November 2022 in Lhokseumawe City. The method used in this study is the visual interpretation of remote sensing imagery and field surveys. Visual interpretation techniques are used to find out the extent of information from satellite imagery in 2022 which has been geometrically corrected regarding mangrove forest vegetation. Field surveys are needed to obtain more accurate data results. The results of research on mangrove vegetation in Lhokseumawe City are found in 4 subdistricts, namely: Muara Satu District. Banda Sakti District. Muara Dua District, and Blang Mangat District with a total area of A 74 Ha. The results of the density level of mangroves in Lhokseumawe City are dominantly rare with a value of 0. 32 m2. Imamshadiqin. Nurmayana. Imanullah. Syahrial. AoAkla. Salmarika. , & Fuadi A. Pemetaan vegetasi mangrove dengan penginderaan jarak jauh . itra landsat . di Kota Lhokseumawe. Jurnal Perikanan Terpadu 5. : 9-17. PENDAHULUAN Kawasan mangrove merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai ekologis, ekonomis dan sosial yang sangat penting bagi keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal serta global. Mangrove umumnya terdapat di pantai dan hidup serta tumbuh berkembang pada lokasi-lokasi yang mempunyai hubungan pengaruh pasang surut yang menggenangi pada aliran sungai yang terdapat di sepanjang pesisir pantai (Tarigan, 2. Mangrove adalah ekosistem Page | 9 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 9-16 utama pendukung aktivitas kehidupan di wilayah pantai dan memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan siklus biologis di lingkungannya. Berdasarkan peta mangrove Nasional yang resmi dirilis oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2021, diketahui bahwa total luas mangrove Indonesia seluas 3. 076 Ha. Hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat diantaranya sebagai pelindung pesisir dan daratan dari ancaman bencana alam seperti angin topan, tempat mencari makan, daerah pemijahan berbagai jenis biota dan juga sebagai tempat wisata. Hal tersebut juga didukung oleh Silitonga et al. , . , menyatakan bahwa mangrove dapat dijadikan sebagai habitat dari berbagai macam biota, sebagai pelindung dan penahan dari intrusi air laut, sebagai perangkap sedimen, melindungi pantai dari abrasi dan merupakan salah satu penyuplai nutrisi berupa serasah pada ekosistem laut. Berdasarkan pada manfaat hutan mangrove tersebut, diperlukan data dan informasi sebagai dasar untuk menjaga ekosistem mangrove tetap berkelanjutan. Satelit penginderaan jauh dapat memberikan informasi yang diperlukan untuk klasifikasi dan pemetaan sumberdaya alam. Salah satunya adalah dengan menggunakan teknologi yang ada dan sekarang sudah banyak digunakan yaitu teknologi penginderaan jauh dengan satelit citra landsat 8 (Kuenzer et al. , 2. Pemetaan menggunakan teknologi penginderaan jauh dapat dijadikan salah satu solusi alternatif untuk penelitian yang membutuhkan jangka waktu yang cukup panjang (Putra et al. , 2. Dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis ini, pemantauan ekosistem mangrove bisa dilakukan sepanjang waktu dengan skala wilayah yang luas serta lebih menghemat biaya (Yunita et al. , 2. Letak geografis ekosistem mangrove yang berada pada daerah peralihan darat dan laut memberikan efek perekaman yang khas jika dibandingkan obyek vegetasi darat lainnya (Faiza dan Amran, 2. Kota Lhokseumawe secara geografis terletak diantara 4o-5o LU dan 96o-97o BT dengan ketinggian rata-rata 13 m dari atas permukaan laut dengan luas Kota Lhoksemawe yaitu 181,06 Km2. Kota Lhokseumawe memiliki luas hutan mangrove A 88. 34 Ha yang terdistribusi di 4 Kecamatan yaitu Kecamatan Muara Satu. Kecamatan Banda Sakti. Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Blang Mangat. Hutan mangrove yang terletak di Kota Lhokseumawe sebagian besar terbentuk dari hasil reboisasi namun sejauh ini belum dilaporkan mengenai informasi vegetasi dan luas hutan mangrove sehingga perlu dilakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi luas vegetasi hutan mangrove dan memetakan tingkat kerapatan ekosistem hutan mangrove menggunakan Citra Satelit di Kota Lhokseumawe. Page | 10 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 9-16 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini telah dilaksanakan pada Bulan Oktober-November 2022. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Lhokseumawe mencakup 4 Kecamatan yaitu Kecamatan Muara Satu. Kecamatan Muara Dua. Kecamatan Banda Sakti dan Kecamatan Blang Mangat (Gambar . Figure 1. Research location Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah observasi dan survei dengan menggunakan pendekatan penginderaan jarak jauh. Interpretasi citra penginderaan jarak jauh secara visual dan survei lapangan. Teknik interpretasi visual digunakan untuk mengetahui luas informasi dari citra satelit tahun 2022 yang telah dikoreksi geometrik mengenai hutan mangrove. Survei lapangan diperlukan untuk mendapatkan hasil data yang lebih akurat. Teknik Pengolahan Data Data dikumpulkan dari citra satelit landsat tahun 2022. Proses pengumpulan data dari google earth pada tahun 2022 untuk mendapatkan data luas mangrove. Selanjutnya, peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) digunakan untuk melihat peta batas Kecamatan Kota Lhokseumawe dan data citra landsat 8 dari website USGS (United States Geological Surve. bertujuan untuk mendapatkan data analisis tingkat kerapatan vegetasi mangrove. Tahapan pengolahan data ekosistem mangrove meliputi luas mangrove dan tingkat kerapatan mangrove. Pengolahan data mangrove dengan citra Page | 11 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 9-16 satelit untuk menghasilkan peta luas mangrove dan peta kerapatan vegetasi hutan mangrove yang ada di Kota Lhokseumawe. Tahapan pengolahan data sebagai berikut: Input citra landsat tahun 2022 untuk dilakukan pengolahan data hutan mangrove Kota Lhokseumawe. Input peta RBI digunakan sebagai patokan batas wilayah penelitian yang akan dilakukan. Koreksi geometrik sebagai transformasi citra hasil dari kegiatan penginderaan jauh sehingga citra yang di olah tersebut memiliki berbagai macam sifat peta, baik itu bentuk proyeksi, maupun skala. Digitasi untuk proses klasifikasi kawasan mangrove dari Citra Landsat 2022 dengan membuat polygon pada setiap kawasan mangrove. Layout sebagai tahapan terakhir setelah melakukan pengimputan data, editing data dan mengatur legenda pada peta. Melalui fasilitas layout dakan dibuat dan diatur data yang akan digunakan serta bagaimana data tersebut akan ditampilkan. Analisis Data Data penelitian dianalisis dengan dua indikator yaitu analisis terkait pengunaan kawasan mangrove dan indeks vegetasi. Analisis penggunaan kawasan mangrove dilakukan untuk menghitung luas mangrove di Kota Lhokseumawe. Adapun kawasan hutan mangrove diambil dari digitasi polygon dari google earth kemudian analisis luas hutan mangrove dapat dihitung dengan menggunakan perangkat lunak Ms. Excel. Sementara analisis indeks vegatasi dilakukan dengan memanfaatkan saluran merah . and 4 dari citra landsat . dan saluran inframerah dekat . and 5 dari citra landsat . dengan citra (Purkis dan Klemas, 2. Analisis studi mangrove menggunakan citra landsat 8 dilakukan berdasarkan hasil perhitungan NDVI (Normalize Differencce Vegetation Inde. menggunakan saluran inframerah dekat dan saluran inframerah (Asirwan, 2. NDVI merupakan sebuah transformasi citra penajaman spektral untuk menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan vegetasi (Putra, 2. Berikut merupakan algoritma NDVI menurut Purkis dan Klemas . ycAyaycIOeycIyaya NDVI = ycAyaycI ycIyaya Keterangan: NIR = Nilai digital pada citra kanal infra merah dekat . RED = Nilai digital pada citra kanal merah . Page | 12 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 9-16 Table 1. Density level criteria (Dept of Forestry, 2. NDVI Value Density level 0 Ae 0. Rarely 33 Ae 0. Dense 43 Ae 1. Very dense HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa luas hutan mangrove di Kota Lhokseumawe yaitu sebesar A 65. 74 Ha. Luasan tersebut diperoleh dari 49 poligon yang tersebar di Kota Lhokseumawe (Tabel . Table 2. Lhokseumawe City mangrove forest area No. Polygon Luas area (H. Page | 13 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 9-16 No. Total Polygon Luas area (H. Nilai kerapatan vegetasi mangrove di Kota Lhokseumawe memiliki tingkat kerapatan jarang, sedang dan rapat. Berdasarkan hasil analisis, kerapatan mangrove di Kecamatan Muara Satu memiliki nilai 0. 32 m2 dan termasuk ke dalam kategori tingkat kerapatan jarang (Gambar . Figure 2. Mangrove vegetation density in Muara Satu District Kerapatan vegetasi mangrove di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, memiliki tingkat kerapatan jarang dengan nilai 0. 32 m2 (Gambar 3. Sementara, kerapatan ekosistem mangrove di Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe juga termasuk dalam kategori jarang dengan nilai sebesar 0. 32 m2. Berdasarkan nilai kerapatan hutan mangrove di Kota Lhokseumawe secara keseluruhan termasuk ke dalam kategori jarang. Kerapatan vegetasi mangrove dapat mengindikasikan tingkat kesehatan (Muzakki et al. , 2. Page | 14 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 9-16 . Figure 3. Density of mangrove vegetation at Kerapatan vegetasi mangrove di . Banda Sakti District, . Muara Dua District, . Blang Mangat District Kerapatan vegetasi mangrove menjadi jarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu . gangguan manusia karena terjadinya pengembangan pantai menjadi tempat wisata. invasi spesies asing yang dapat mengganggu ekosistem mangrove. pencemaran lingkungan yang Page | 15 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 9-16 dihasilkan dari limbah industri, pertanian maupun domestik. perubahan aliran air yang disebabkan dari pembangunan infrastruktur atau perubahan alami dalam pola air. Perubahan vegetasi mangrove dapat terjadi secara alami maupun sebagai dampak dari kegiatan manusia (Susilo et al. , 2. Berdasarkan empat faktor tersebut, dapat mengganggu pertumbuhan dan keberlanjutan mangrove sehingga perlu adanya upaya untuk melindungi dan memelihara hutan mangrove dari tekanan manusia dan lain sebagainya. Beberapa hal yang menyebabkan penurunan kerapatan mangrove yaitu adanya erosi, alih fungsi lahan menjadi area tambak, serta baru-baru ini yaitu adanya pembangunan tanggul laut (Safitri et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dari citra penginderaan jarak jauh penelitian ini dapat disimpulkan bahwa luas vegetasi mangrove di Kota Lhokseumawe A 65. 74 Ha. Tingkat kerapatan vegetasi mangrove pada Kota Lhokseumawe yang terletak pada empat Kecamatan yaitu Kecamatan Muara Satu memliki tingkat vegetasi dominan jarang dengan nilai 0. 32 m2. Kecamatan Banda Sakti memiliki tingkat vegetasi dominan jarang dengan nilai 0. 32 m2. Kecamatan Muara Dua memiliki tingkat kerapatan vegetasi dominan jarang dengan nilai 0. 32 m2, dan pada Kecamatan Blang Mangat memiliki tingkat kerapatan vegetasi jarang dengan nilai 0. 32 m2. DAFTAR PUSTAKA