DEUTEROKANONIKA MENURUT DOKUMEN KOMISI KITAB SUCI KEPAUSAN Indra SanjayaO Abstract: In 2001 the Pontifical Biblical Commission published a document entitled The Jewish People and their Sacred Scriptures in the Christian Bible with the purpose of promoting Jewish-Christian The Commission puts forward the canonization proccess of the so-called deuterocanonical writings, considered sacred and divinely inspired by Roman Catholic Church and several other Eastern Churches but rejected by Judaism and Reformations Churches. This seems to be the only official teaching from the Catholic Church. Regardless of the weight of the Pontifical CommissionAos document as the ChurchAos official teaching, this document needs to be appreciated, because it provides the faithful with sound and responsible teaching on the canonization proccess of the deuterocanonical writings. Keywords: Pontifical Biblical Commission. Septuagint. Old Testament Canon. Deuterocanonical Books, unclosed canon. Hebrew Bible. CommissionAos Document. Ketubim. Abstrak: Pada 2001 Komisi Kitab Suci Kepausan menerbitkan sebuah dokumen berjudul The Jewish People and their Sacred Scriptures in the Christian Bible dengan maksud untuk mengembangkan dialog Kristen-Yudaisme. Sebagai bagian dari argumen yang dikemukakan. Komisi menjelaskan proses kanonisasi tulisan-tulisan Deuterokanonika. Oleh Gereja Katolik dan beberapa Gereja Timur lainnya, tulisan itu dianggap kudus dan diinspirasikan oleh Roh Kudus. sementara Gereja Reformasi dan Yudaisme menolak tulisan-tulisan tersebut. Ajaran yang terkandung di sini tampaknya merupakan satu-satunya penjelasan resmi yang dikeluarkan oleh Gereja Katolik. Apa pun bobot dokumen yang dikeluarkan O V. Indra Sanjaya. Program Studi Ilmu Teologi. Fakultas Teologi. Universitas Sanata Dharma. Jl. Kaliurang KM 7. Jogjakarta 55011. E-mail: don_indrasan@yahoo. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 oleh sebuah Komisi Kepausan ini, dokumen ini perlu dihargai karena memberikan gambaran kepada umat tentang proses kanosisasi untuk tulisan-tulisan Deuterokanonika. Kata-kata Kunci: Komisi Kitab Suci Kepausan. Septuaginta. Kanon Perjanjian Lama, tulisan-tulisan Deuterokanika, kanon terbuka. Kitab Suci Ibrani. Dokumen Komisi. Ketubim. PENDAHULUAN Rupanya sudah diketahui oleh semua orang Kristen, bahwa perbedaan fundamental antara Kitab Suci Katolik dan Kitab Suci Protestan1 adalah keberadaan sekelompok tulisan yang biasa disebut tulisan-tulisan Deuterokanonika. Nama Deuterokanonika adalah sebutan khas yang digunakan oleh kelompok Katolik. sementara kelompok Protestan menyebutnya kitab-kitab Apokrifa. 2 Justru karena tulisan-tulisan tersebut menjadi garis pemisah antara kedua kelompok tersebut, tidak mengherankan bahwa diskusi, khususnya yang bersifat polemik apologetik, tentang tulisan-tulisan tersebut terus berjalan, terutama di kalangan umat. Di kalangan para ahli, diskusi rupanya tidak lagi diarahkan pada masalah mana yang benar antara kanon AupanjangAy dan kanon Aupendek,Ay tetapi lebih pada sumbangan tulisan-tulisan tersebut untuk memahami konteks sejarah pada waktu itu. Justru karena tidak banyak diskusi di kalangan para ahli, sangat Dua kategori yang dipakai di sini, yaitu Katolik dan Protestan, diambil dengan alasan yang tersedia yang berkaitan dengan juga tulisan-tulisan Selain oleh Gereja Katolik, tulisan-tulisan Deuterokanonika dipakai oleh Gereja-gereja Ortodoks Timur. Hanya saja, karena kelompok Katolik dan Protestan merupakan dua kelompok dominan dalam kekristenan di Indonesia, maka dipakai penggolongan sederhana menjadi dua kategori saja. Terminologi yang dipakai oleh kelompok Katolik dan Protestan untuk menyebut Perjanjian Lama dan dokumen-dokumen di sekitarnya memang agak membingungkan. Secara sederhana ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut: Katolik Protokanonika Deuterokanonika Apokrifa Protestan Perjanjian Lama Kanonik Apokrifa Pseudepigrafa Lihat misalnya Daniel J. Harrington. AuThe Old Testament Apocrypha in the Early Church and TodayAy in The Canon Debate, edited by Lee Martin McDonald and James A. Sanders (Peabody: Hendrickson, 2. , p. Di kalangan para ahli Kitab Suci. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. Deuterokanonika, khususnya yang berkaitan dengan proses kanonisasi tulisan-tulisan tersebut. Mengapa dapat terjadi perbedaan kanon antara kelompok Katolik dan Protestan? Bagaimana memahami tradisi Gereja Katolik yang menerima tujuh4 tulisan Deuterokanonika sebagai bagian dari kanon Perjanjian Lamanya? Dalam situasi seperti ini, dokumen Komisi Kitab Suci Kepausan. The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible yang dikeluarkan pada 24 Mei 2001 menawar-kan sesuatu yang menarik. 5 Mengapa? Karena dokumen tersebut secara eksplisit menuliskan bagaimana kanonisasi tulisan-tulisan Deutero-kanonika itu dapat dan harus dipahami. Tulisan ini bermaksud membahas pernyataan dokumen kepausan itu, baik konteks, isi maupun implikasinya. Oleh karena itu, akan dibahas secara singkat instansi yang mengeluarkan dokumen tersebut. Setelah itu, kita akan melihat bagaimana JPSS memaparkan pandangannya tentang perbedaan kanon tampaknya sudah diterima sebagai sesuatu yang lebih menyangkut keyakinan pribadi. Oleh karena itu, berhadapan dengan tulisan-tulisan Deuterokanonika, mereka tidak lagi berbicara tentang mana yang benar dan mana yang salah, melainkan lebih memusatkan perhatian untuk mengapresiasi masing-masing tulisan tersebut. Dengan demikian, para ahli dari berbagai denominasi dapat duduk bersama untuk Sebagai contoh, para sarjana Alkitab Indonesia yang tergabung dalam ISBI (Ikatan Sarjana Biblika Indonesi. pada 2008 mengadakan simposium nasional dengan mengambil tema AuLiteratur Intertestamental. Ay Di dalamnya tercakup juga tulisan-tulisan Deuterokanonika. Jumlah ini sebenarnya tergantung bagaimana orang mau menghitung tulisan-tulisan yang ada. Penulis mengikuti pandangan umum yang mengatakan bahwa Gereja Katolik menerima 46 . mpat puluh ena. tulisan Perjanjian Lama, yang terdiri dari 39 . iga puluh sembila. tulisan Protokanonika dan 7 . tulisan Deuterokanonika. Tujuh tulisan yang dimaksud adalah Sirakh. Barukh. Tobit. Yudit. Kebijaksanaan Salomo, 1 & 2 Makabe, serta bagian tambahan pada kitab Ester dan Daniel. Lihat Pontifical Biblical Commission. The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible (Vatican: Libreria Editrice Vaticana, 2. , p. 37, catatan nomor 27. Dokumen ini aslinya diterbitkan dalam bahasa Italia dan Prancis pada 24 Mei 2001. Terjemahan Inggris baru muncul sekitar enam bulan kemudian. Terjemahan ke dalam bahasa Inggris tampaknya mengandung cukup banyak kesalahan dibandingkan dengan bahasa aslinya. Lihat Charles H. Millar. AuTranslation Errors in the Pontifical Biblical CommissionAos The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible,AyBiblical Theology Bulletin 35 . : 34-39. Karena tulisan ini terutama membahas dokumen ini, maka untuk memudahkan penulisan penulis menggunakan singkatan JPSS (Jewish People and Their Sacred Scripture. sebagaimana diusulkan oleh John R. Donahue dalam kuliah umumnya tentang dokumen tersebut di Immaculate Conception Seminary Huntington. Long Island. Amerika Serikat, pada 16 Maret 2003. http://w. edu/dam/files/research_sites/cjl/texts/cjrelations/resources/articles/ Donahue. Diunduh pada 3 Februari 2011. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 tulisan Deuterokanonika, dilanjutkan dengan sekelumit catatan kritis dari KOMISI KITAB SUCI KEPAUSAN DAN DOKUMEN-DOKUMENNYA Komisi Kitab Suci Kepausan (Pontifical Biblical Commissio. 6 dibentuk oleh Paus Leo Xi dengan surat apostoliknya Vigilantiae studiique7 tertanggal 30 Oktober 1902. Meskipun bukan Kongregasi dalam arti ketat. PBC disusun seperti layaknya Kongregasi-kongregasi Romawi lainnya. Sebelum Konsili Vatikan II, anggota PBC terdiri dari beberapa kardinal, sebagian merupakan anggota dari Kuria Romana, dibantu oleh sejumlah consultores yang merupakan para ahli Kitab Suci Katolik dari berbagai negara. Berdasarkan surat apostolik Leo Xi itu, kepada PBC dipercayakan dua tugas utama. 8 Di satu pihak. Komisi ini diharapkan terus mendorong studi ilmiah Kitab Suci sebagaimana sudah diarahkan oleh ensiklik Providentissimus Deus (Leo Xi, 18 November 1. Oleh karena itu, studi filologi serta ilmu-ilmu lain yang membantu harus semakin dikembangkan. 9 Di lain pihak. Komisi juga mendapat tugas untuk secara aktif dan cermat menjaga kewibawaan Kitab Suci dan melindunginya tidak hanya dari Auevery breath of error but also from all inconsiderate opinions. Ay10 Kendati ada usaha untuk memajukan studi Kitab Suci secara ilmiah, rupanya tetap tampak juga sikap defensif Gereja di hadapan arus perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan modern. Sikap defensif ini tampak dari tanggapan-tanggapan (Respons. terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sehubungan dengan beberapa topik alkitabiah, khususnya yang berkaitan dengan kesejarahan. Sesudah Konsili Vatikan II, situasinya agak berbeda. Dengan dijiwai Untuk selanjutnya disebut PBC. Untuk selanjutnya disebut Vigilantiae diikuti dengan nomor artikel dari dokumen Dean P. Bychard. AuThe Early Responsa of the Pontifical Biblical Commission,Ay in Dean P. Bychard. The Scriptures Documents (Collegeville: Liturgical Press, 2. , p. Vigilantiae no. Untuk penomoran ini, penulis mengikuti penomoran yang terdapat dalam edisi dan terjemahan yang dikerjakan oleh Dean P. Bychard. Teks dari surat apostolik ini terdapat dalam Dean P. Bychard. The Scriptures Documents, pp. 10 Vigilantiae no. 3 dan 6. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. oleh semangat Konsili Vatikan II yang mengharapkan Kitab Suci lebih dibuka kepada jemaat awam. Paus Paulus VI melalui surat apostolik Sedula Cura . Juni 1. bermaksud merestrukturisasi PBC. Sambil tetap menyatakan bahwa fungsi Komisi adalah mendorong studi-studi Kitab Suci dan membantu Magisterium dalam hal penafsiran Kitab Suci, ada dua hal baru yang terjadi dalam PBC. 11 Perubahan pertama menyangkut keberadaan PBC. Sejak saat itu PBC berada di bawah Kongregasi Suci Ajaran Iman. Dengan demikian, kardinal prefek Kongregasi sekaligus menjadi presiden PBC. Perubahan kedua menyang-kut keanggotaan Komisi. Anggota Komisi tidak lagi terdiri dari para kardinal, melainkan para pakar Kitab Suci dari berbagai bangsa di seluruh dunia. Jumlahnya tidak melebihi dua puluh orang. Dalam periode sesudah Konsili Vatikan II. Komisi yang diperbarui sudah menerbitkan beberapa dokumen penting. Pada 1984. Komisi menerbitkan Bible et christologie yang membahas beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan Kristologi. Kemudian pada 15 April 1993. Komisi menyerahkan kepada Paus Yohanes Paulus II dokumen berjudul The Interpretation of the Bible in the Church. Komisi berusaha memberikan sumbangan sehubungan dengan cara-cara yang paling tepat untuk dapat sampai pada penafsiran Kitab Suci yang tetap setia pada karakter teks yang sekaligus bersifat ilahi dan manusiawi. Dokumen PBC yang menjadi pokok pembicaraan kita. Le peuple juif et ses Saintes yOcritures dans la Bible chrytienne (The Jewish People and their Sacred Scriptures in the Christian Bibl. diterbitkan pada 24 Mei 2001. Dokumen yang paling baru dari PBC adalah The Bible and Morality: Biblical Roots of Christian Conduct, yang diterbitkan pada 11 Mei 2008. Sejauh pengetahuan penulis, hanya satu dari dokumen-dokumen tersebut yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Itu pun sudah agak terlambat. Terjemahan Indonesia dari dokumen The Interpretation of the Bible in the Church baru diterbitkan pada 2003. 12 Dokumen yang akan 11 J. Lambrecht. AuPontifical Biblical Commission,Ay in The New Catholic Encyclopedia. Volume Second Edition, edited by Thomas Carson, et al. (Farmington Hills: Gale, 2. , p. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 dibahas dalam tulisan ini memang berasal dari tahun 2001, akan tetapi permasalahan yang diangkat rupanya masih cukup relevan mengingat pembahasan dokumen-dokumen PBC itu sangat jarang atau hampir tidak pernah dilakukan di Indonesia. Tentu saja hal ini sangat disayangkan mengingat dokumen-dokumen tersebut sebenarnya dapat memberikan sumbangan pemikiran atau pun arah pastoral bagi kita. KONTEKS JPSS Sebelum topik utama tulisan ini yaitu ajaran Gereja, atau paling tidak ajaran PBC, berkaitan dengan tulisan-tulisan Deuterokanonika dibicarakan, rupanya baik jika konteks dan paparan umum JPSS disam-paikan terlebih Secara umum, dokumen ini mau menyumbangkan pemikiran yang diharapkan dapat menumbuhkembangkan relasi antara Gereja dengan orang-orang Yahudi. Dalam hal ini tampak jelas bahwa PBC mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Paus Paulus VI dalam homilinya pada 28 Oktober 1965 saat deklarasi Nostra Aetate dipromulgasikan. Pertama-tama topik ini dikembangkan berdasarkan pengalaman tragis yang menimpa orang Yahudi pada sekitar Perang Dunia II. Di hadapan peristiwa mengenaskan itu, sebagian orang Kristen gagal melakukan sesuatu yang sebenarnya diharapkan dari murid-murid Kristus. tetap harus diakui bahwa sebagian lainnya membantu orang-orang Yahudi yang berada dalam bahaya kendati dengan resiko hidup mereka sendiri. 14 Di hadapan pengalaman seperti itu Gereja ditantang untuk meninjau kembali hubungannya dengan orang-orang Yahudi. Usaha PBC untuk menelusuri kembali relasi Kristen-Yahudi dari sudut pandang alkitabiah merupakan sesuatu yang penting. Tidak dapat 12 Dalam bahasa ini berjudul Penafsiran Alkitab dalam Gereja. Terjemahannya dikerjakan oleh V. Indra Sanjaya dan diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. 13 Tentang orang-orang Yahudi, dalam homili tersebut Paus mengharapkan Authat we would have respect and love to themAu dan juga Authat we would have hope in them. Ay Dikutip dari AuCardinal Vanhoye on Jews and ScriptureAu yang merupakan sambutan yang disampaikan oleh Kardinal Albert Vanhoye, mantan sekretaris umum PBC di hadapan Sinode para Uskup tentang AuSabda Allah dalam Hidup dan Perutusan GerejaAy pada 7 Oktober 2008. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. diingkari bahwa nada Anti-Yudaisme15 yang dalam arti tertentu memicu kekerasan terhadap orang Yahudi juga mempunyai akarnya dalam Kitab Suci Kristiani, dalam hal ini Perjanjian Baru. Oleh karena itu, secara umum dokumen ini mau mengolah dua pertanyaan. Pertama, bagai-mana bangsa Yahudi digambarkan dalam Kitab Suci Kristiani, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Kedua, di mana tempat Kitab Suci Ibrani dalam Kitab Suci Kristiani? Dokumen ini terdiri dari tiga bab besar dengan diapit oleh sebuah Introduksi dan Kesimpulan. Bab pertama memperlihatkan bahwa Perjanjian Baru mengakui dan menerima wibawa Perjanjian Lama sebagai pewahyuan Diakui juga bahwa Perjanjian Baru tidak dapat dipahami secara utuh terlepas dari Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi yang meneruskannya. Dengan demikian, dicoba diatasi sebuah teologi yang memandang Perjanjian Lama sebagai sesuatu yang sudah kuno dan tidak berguna lagi karena yang baru yang merupakan pemenu-hannya sudah muncul. Bab kedua menelusuri hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan meneliti topik-topik yang terdapat di dalam kedua Perjanjian itu, seperti misalnya pewahyuan Allah, pribadi manusia, perjanjian, hukum, dan sebagainya. Pada setiap pembahasan ditunjukkan bahwa relasi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, di satu pihak dicirikan oleh kontinuitas, di lain pihak, oleh diskontinuitas. Bab ketiga secara khusus meninjau bagaimana orang Yahudi dilukiskan dalam Perjanjian Baru. Pernyataan JPSS tentang proses kanonisasi tulisan-tulisan Deutero-kanonika yang menjadi topik tulisan ini, terdapat pada bab pertama yang terdiri dari lima sub bab. 17 Berbicara tentang relasi Yahudi-Kristen mau tidak mau harus berbicara tentang Kitab Suci Ibrani yang dalam kosa Kristiani disebut Perjanjian Lama. Kitab Suci Kristiani memuat, di 14 Bdk. JPSS, no. 15 Rumusan Anti-Yudaisme dipergunakan karena dianggap lebih tepat daripada rumusan yang mungkin lebih dikenal: Anti-Semitisme. Istilah Aubangsa SemitAy mencakup juga bangsa-bangsa lain selain bangsa Yahudi. 16 Dengan demikian, istilah Perjanjian Lama dapat ditafsirkan sebagai berbau Anti-Yudaisme. Lihat J. Barton. The Old Testament: Canon. Literature and Theology (Burlington: Ashgate, 2. , p. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 satu pihak. Kitab Suci Ibrani, akan tetapi di lain pihak, juga mempunyai kumpulan tulisan lain yang kemudian menjadi Perjanjian Baru. Meskipun demikian, kanon Perjanjian Lama Yahudi ternyata berbeda dari kanon Perjanjian Lama menurut tradisi Kristen. JPSS berusaha menjelaskan perbedaan kanon ini dalam bagian terakhir bab pertama: The Extension of the Canon of Scripture atau no. DEUTEROKANIKA MENURUT JPSS Setelah memperhatikan konteks munculnya dokumen PBC ini, kita dapat masuk pada tema yang sesungguhnya dari tulisan ini, yaitu mengamati bagaimana pandangan JPSS tentang proses kanonisasi tulisan-tulisan Deuterokanonika. Pandangan JPSS ini terdapat dalam no. 16-18 dokumen ini. Untuk lebih membantu pembaca, bagian dokumen yang relevan akan disajikan disertai dengan komentar dan analisis penulis. No. The title AucanonAy (Greek kanyn. AuruleA. means the list of books which are accepted as inspired by God and having a regulatory function for faith and morals. We are only concerned here with the formation of the canon of the Old Testament. In Judaism There are differences between the Jewish canon of Scripture and the Christian canon of the Old Testament. To explain these differences, it was generally thought that at the beginning of the Christian era, there existed two canons within Judaism: a Hebrew or Palestinian canon, and an extended Alexandrian canon in GreekAi called the SeptuagintAiwhich was adopted by Christians. Recent research and discoveries, however, have cast doubt on this It now seems more probable that at the time of ChristianityAos birth, closed collections of the Law and the Prophets existed in a textual form substantially identical with the Old Testament. The collection of AuWritingsAy, on the other hand, was not as well 17 A. The New Testament recognizes the authority of the Sacred Scriptures of the Jewish People. The New Testament attests conformity to the Jewish Scriptures. Scripture and Oral Tradition in Judaism and Christianity. Jewish Exegetical Methods employed in the New Testament. The Extension of the Canon of Scriptures. 18 Teks Inggris yang dipergunakan adalah terjemahan resmi dari bahasa Prancis yang dikerjakan oleh Maurice Hogan. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. defined either in Palestine or in the Jewish diaspora, with regard to the number of books and their textual form. Towards the end of the first century A. , it seems that 24/22 books were generally accepted by Jews as sacred, but it is only much later that the list became exclusive. When the limits of the Hebrew canon were fixed, the deuterocanonical books were not included. Many of the books belonging to the third group of religious texts, not yet fixed, were regularly read in Jewish communities during the first century A. They were translated into Greek and circulated among Hellenistic Jews, both in Palestine and in the diaspora. JPSS mengawali uraiannya tentang Deuterokanonika dengan menunjuk situasi seputar kanon Perjanjian Lama yang terjadi pada dua tradisi, yaitu Yudaisme dan Gereja Perdana . JPSS mulai dengan mengutip pendapat lama yang diikuti cukup banyak orang, yaitu bahwa pada awal periode Kekristenan, ada dua kanon di dalam Yudaisme. Yang pertama adalah kanon Ibrani/Palestina. Yang kedua adalah kanon Aleksandria yang ditulis dalam bahasa Yunani, yaitu Septuaginta (LXX)19 yang kemudian diambil alih oleh orang Kristen. Pendapat tentang adanya kanon AupendekAy dan kanon AupanjangAy sebenarnya merupakan pandangan yang cukup populer di kalangan orang banyak untuk menjelaskan dan mempertanggungjawabkan masuknya tulisan Deuterokanonika ke dalam kanon Perjanjian Lama Kristen. Kanon pendek terdiri dari 24/22 kitab Perjanjian Lama Ibrani. Sementara kanon panjang yang merupakan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani, mencakup juga tulisan-tulisan Deuterokanonika. Kanon Aupendek,Ay atau kanon Palestina, biasanya dikaitkan dengan Konsili Yamnia. Di Yamnia inilah pada 90 M, para rabi berkumpul bersama dan secara resmi memutuskan tulisan-tulisan mana serta teks mana yang dianggap ditulis berdasarkan inspirasi ilahi sehingga dapat digolongkan sebagai Kitab Suci. 20 Sementara kanon AupanjangAy dihu-bungkan dengan terbentuknya versi Yunani dari Perjanjian Lama atau lebih dikenal dengan nama Septuaginta (LXX). Akan tetapi belakangan ini, demikian dikatakan oleh JPSS, gagasan tentang adanya dua kanon itu tampaknya tidak lagi dapat dipertahankan. 19 Untuk selanjutnya digunakan LXX. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 Keberadaan Konsili Yamnia yang dianggap merupakan saat untuk memutuskan kanon Perjanjian Lama Ibrani sangat diragukan oleh banyak ahli. Joseph Blenkinsopp menyebut peristiwa itu sebagai Aua myth of Christian scholarship without documentary foundation. Ay22 Satu-satunya teks yang paling sering diacu dan dianggap menjadi dasar bagi gagasan ini adalah m. Yadayim 3,5. Traktat ini membicarakan diskusi antara para rabi . i Yamnia?} sehubungan dengan kitab-kitab yang dianggap dapat Aumence-markan tangan,Ay atau kudus. Akan tetapi yang dibicarakan di sana hanyalah Kidung Agung dan Pengkhotbah. Tidak ada diskusi tentang tulisan-tulisan lain, dan juga tidak ada keterangan bahwa tulisan-tulisan apokrifa dari kanon Ibrani. Demikian juga keberadaan kanon AupanjangAy atau kanon Aleksandria yang merupakan versi Yunani dari Kitab Suci Ibrani tidak lagi dapat dipertahankan. Setidaknya ada dua alasan yang meragukan keberadaan kanon Aleksandria. 24 Yang pertama, proses terjadinya LXX sebagaimana diceritakan dalam Surat Aristeas sekarang ini dianggap sebagai sebuah legenda. Seluruh Perjanjian Lama, atau bahkan Pentateukh, tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada saat yang bersamaan . alam waktu tujuh puluh dua hari pada 275 sM) oleh 72 . ujuh puluh du. atau 70 . ujuh pulu. penerjemah yang bekerja di bawah perlindungan raja Ptolomeus II Philadelphus. Kedua, sebelumnya pernah dipikirkan bahwa tulisan-tulisan 20 Demikian pandangan terdahulu sebagaimana terdapat dalam, antara lain. Bruce M. Metzger. An Introduction to the Apocrypha (New York: Oxford University Press, 1. Fritsch. AuApocrypha,Ay in InterpreterAos Dictionary of the Bible. Volume I, edited by G. Buttrick, et al. (Nashville: Abingdon Press, 1. , p. Pfeiffer. AuCanon of the OTAy in InterpreterAos Dictionary of the Bible. Volume I, p. Oesterley. An Introduction to the Books of the Apocrypha (London: SPCK, 1. , p. Bahkan, pendapat seperti ini juga terdapat dalam The Cambridge History of Judaism yang terbit pertama kali Lihat The Cambridge History of Judaism, edited by Davies and Louis Finkelstein. Volume II (New York: Cambridge University Press, 2. , p. 21 Lihat ringkasan yang terdapat dalam Jack P. Lewis. AuJamnia Revisited,Ay in The Canon Debate, pp. Raymond E. Brown and R. Collins. AuCanonicity,Ay in The New Jerusalem Biblical Commentary edited by Raymond E. Brown. Joseph A. Fitzmyer, and Roland E. Murphy (New Jersey: Prentice Hall, 1. , p. Lihat juga JPSS, catatan 22 J. Blenkinsopp. Prophecy and Canon (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1. Lewis. AuJamnia Revisited,Ay p. Istilah AuapokrifAy di sini digunakan dalam arti sebagaimana dipahami oleh kelompok Protestan. Bagi orang Katolik, tulisan-tulisan tersebut disebut Deuterokanonika. 23 Lewis. AuJamnia Revisited,Ay p. Istilah AuapokrifaAy di sini digunakan dalam arti Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. Deuterokanonika yang terdapat dalam LXX ditulis langsung dalam bahasa Yunani, dan bukan dalam bahasa Ibrani atau Aram, yaitu bahasa suci yang dikenal di Palestina. Akan tetapi, sekarang terbukti bahwa sejumlah tulisan-tulisan Deutero-kanonika aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani (Kitab Putra Sirakh. Yudit, 1Makab. atau Aram (Kitab Tobi. Bertitik tolak dari sini. JPSS menyampaikan pendapatnya. Pada seputar lahirnya kekristenan, tampaknya sudah terbentuk kumpulan tertutup dari bagian pertama dan kedua dari Kitab Suci Ibrani, yaitu AuHukumAy dan AuNabi-nabiAy dengan tradisi tekstual yang kurang lebih sama dengan Perjanjian Lama yang kita miliki. Gagasan ini bukanlah gagasan yang sama sekali baru. Kitab-kitab AuHukumAy dan AuNabi-nabiAy sudah sejak lama mendapatkan tempat utama di dalam jemaat. Sebagai variasi dari gagasan tentang kanon Yamnia, dikatakan bahwa kitab AuHukumAy mendapatkan bentuk akhirnya pada sekitar 400 sM. Sementara bentuk definitif AuNabi-nabiAy dicapai pada kira-kira 200 sM. Sementara bagian ketiga dari Kitab Suci Ibrani, yaitu AuTulisanAy (Ketubi. masih belum ditentukan, baik di Palestina maupun di diaspora, sehubungan dengan kitab mana yang termasuk serta juga teks mana yang Hal ini rupanya didukung juga oleh ketidakseragaman cara menyebut bagian ini seperti yang terdapat dalam Pengantar Penerjemah kitab Putra Sirakh serta Perjanjian Baru. 26 Dalam Luk 24: 44 digunakan istilah Aukitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Ay Sementara dalam Kata Pengantar kitab Putra Sirakh tiga kali digunakan ungkapan yang berbeda: AuKitab Taurat, para Nabi dan kitab-kitab yang kemudian dari itu,Ay27 AuKitab Taurat, para Nabi dan kitab-kitab nenek moyang kita,Ay dan AuKitab Taurat, para Nabi dan kitab-kitab lain itu. Ay Dengan demikian, pada akhir abad pertama, tampaknya secara umum, 22/2428 buku sudah dianggap kudus oleh orang Yahudi kendati sebagaimana dipahami oleh kelompok Protestan. Bagi orang Katolik, tulisan-tulisan tersebut disebut Deuterokanonika. 24 Bdk. Raymond E. Brown and R. Collins. AuCanonicity,Ay in The New Jerusalem Biblical Commentary, p. 25 R. Pfeiffer. AuCanon of the OT,Ay In InterpreterAos Dictionary of the Bible. Volume I, pp. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 kanonisasi dalam arti ketat masih belum tercapai. Sementara AuTulisanAy atau bagian ketiga dari Kitab Suci Ibrani masih belum ditentukan jangkauannya. Dokumen kemudian melanjutkan dengan menyatakan bahwa banyak dari tulisan-tulisan yang termasuk bagian ketiga ini secara rutin dibaca di dalam komunitas Yahudi pada abad pertama ini. Tulisan-tulisan itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan beredar di kalangan orang Yahudi helenis, baik di Palestina maupun di diaspora. Menanggapi pernyataan JPSS ini, harus dikatakan bahwa tidak mudah menunjukkan bahwa tulisan-tulisan dari bagian ketiga ini memang sungguh-sungguh dibaca secara reguler dalam komunitas Yahudi. 29 Sebenarnya tidak ada kesaksian yang cukup kuat untuk mendukung hal ini. Di antara tulisan-tulisan rabinik, sekali Tosefta menyebut kitab Putra Sirakh . Yad 2,. Akan tetapi kalau kita memperhatikan dokumen yang ditemukan di Qumran, kita temukan cukup banyak fragmen dari kitab Putra Sirakh. Yudit. Surat Yeremia, serta Tobit . an mungkin juga kisah Daniel dan Susana?). Bahkan dikatakan bahwa dua pertiga versi Ibrani dari Kitab Putra Sirakh telah berhasil direkonstruksi berdasarkan pada fragmen-fragmen yang ditemukan di Cairo Geniza. Qumran, dan Masada. 30 Jika manuskripmanuskrip ini dapat dijadikan bahan pertim-bangan, tampaknya tulisan-tulisan Deuterokanonika tersebut memang pernah mendapat tempat dalam tradisi Yudaisme. Fakta bahwa tulisan-tulisan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan menjadi bagian dari Perjanjian Lama Yunani menunjukkan beta26 Bdk. Raymond E. Brown and R. Collins. AuCanonicity,Ay in The New Jerusalem Biblical Commentary, p. 27 Rumusan Aukitab-kitab yang kemudian dari itu . Ay dapat dipahami dalam arti status (Hukum dan Nabi-nabi lebih penting daripada Tulisa. atau dalam arti kronologi (Hukum dan Nabi-nabi lebih awal dibandingkan dengan Tulisa. Julio C. Trebolle Barrera. AuOrigins of a Tripartite Old Testament Canon,Ay in The Canon Debate, 28 Secara umum, kitab-kitab Perjanjian Lama Ibrani berjumlah 24 . ua puluh empa. Jumlah 22 . ua puluh du. muncul di dalam tulisan Yosephus. Against Apion I, 8 . erjemahan William Whiston dari tahun 1. Jumlah yang sama dengan abjad Ibrani ini dicapai dengan menggabungkan Kitab Hakim-hakim dengan kitab Rut serta Kitab Nabi Yeremia dengan kitab Ratapan. Roger Beckwith. The Old Testament Canon of the New Testament Church (Grand Rapid: William B. Eerdmans, 1. ,p. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. pa populernya tulisan-tulisan tersebut. 31 AuIf they used the Deuterocano-nical books in the Diaspora, it was because they had received them from Palestine,Ay demikian kata James C. Turro. 32 Demikian juga halnya kalau kita memperhatikan bahwa teks-teks tersebut tersebar dari Palestina sampai ke Mesir. In the Early Church Since the first Christians were for the most part Palestinian Jews, either AuHebrewAy or AuHellenisticAy . Ac 6:. , their views on Scripture would have reflected those of their environment, but we are poorly informed on the subject. Nevertheless, the writings of the New Testament suggest that a sacred literature wider than the Hebrew canon circulated in Christian communities. Generally, the authors of the New Testament manifest a knowledge of the deuterocanonical books and other non-canonical ones since the number of books cited in the New Testament exceeds not only the Hebrew canon, but also the so-called Alexandrian canon. When Christianity spread into the Greek world, it continued to use sacred books received from Hellenistic Judaism. Although Hellenistic Christians received their Scriptures from the Jews in the form of the Septuagint, we do not know the precise form, because the Septuagint has come down to us only in Christian writings. What the Church seems to have received was a body of Sacred Scripture which, within Judaism, was in the process of becoming canonical. When Judaism came to close its own canon, the Christian Church was sufficiently independent from Judaism not to be immediately It was only at a later period that a closed Hebrew canon began to exert influence on how Christians viewed it. Setelah berbicara tentang situasi yang terdapat dalam Yudaisme, kini dalam no. 17 JPSS menguraikan situasi yang terjadi di Gereja Perdana di Palestina. Berdasarkan informasi yang terdapat dalam Kis 6:1 jemaat Kristen Perdana tampaknya terdiri dari kelompok Yahudi Palestina, baik 29 Dalam artikelnya di dalam InterpreterAos Dictionary of the Bible. Fritsch pernah menulis tentang tulisan Deuterokanonika demikian. AuThese worksAenjoyed great popularity at first, as we see by the large number of MSS of individual works discovered at Qumran, and by the fact that both Hebrew and Aramaic copies of many of these works circulated among the people. Ay Fritsch. AuApocrypha,Ay p. Akan tetapi, tidak ada keterangan lebih lanjut tentang hal itu. 30 Reginald C. Fuller. AuThe Deuterocanonical Writings,Ay in The International Bible Commentary, edited by William R. Farmer (Collegeville: Liturgical Press, 1. , p. lihat juga Julio Trebolle Barrera. The Jewish Bible and the Christian Bible (Leiden: Brill, 1. , p. 31 C. Fritsch. AuApocrypha,Ay p. 32 James C. Turro. AuHistory of Old Testament Canon,Ay in New Catholic Encyclopedia. Volome Second Edition, p. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 Kristen Yahudi maupun Kristen Yunani. Dapat dipahami bahwa pandangan mereka tentang Kitab Suci juga dipengaruhi oleh latar belakang situasi namun demikian. Komisi merasa kekurangan informasi. Yang jelas, menurut JPSS, tulisan-tulisan Perjanjian Baru sebe-narnya menyiratkan adanya literatur yang lebih luas daripada kanon Ibrani yang beredar di komunitas Kristen. Tulisan-tulisan Perjanjian Baru memberikan kesan bahwa penulisnya mengenal tulisan-tulisan Deuterokanonika dan tulisan non-kanonik yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak hanya mengacu pada kanon Ibrani, tetapi juga kanon yang lebih luas, yang biasa disebut kanon Aleksandria. 33 Meskipun demikian. Fakta ini sebenarnya menarik untuk diperhatikan. Saat Perjanjian Baru mengutip Perjanjian Lama, kita dapat menemukan kutipan langsung dari teks Perjanjian Lama atau adanya pengantar, misalnya. AuSeperti ada tertulis. Ay Tidak demikian halnya relasi dengan teks-teks Deuterokanonika di atas. Tidak ada satu pun yang eksplisit atau diberi pengantar sebagai-mana layaknya. Mengapa demikian? Ketika kekristenan menyebar ke dunia Yunani, dan dengan demikian semakin banyak orang Kristen berasal dari dunia Yunani, mereka tetap menggunakan Kitab Suci yang mereka warisi dari Yudaisme helenis, yaitu LXX. Kumpulan ini tidak hanya memuat tulisan-tulisan yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, tetapi juga tulisan-tulisan yang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani. Ini tampak jika kita membandingkan kutipan Perjanjian Lama yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Sebagian besar kutipan tersebut . ekitar 80%) tidak diambil dari teks Ibrani, melainkan dari LXX. Contoh yang paling terkenal tentu saja adalah Mat 1:23 yang mengutip Yes 7:14 LXX. Gejala ini akan lebih mudah dipahami kalau rujukan yang tersedia bagi para pengarang Perjanjian Baru adalah LXX, atau versi Yunani dari Kitab Suci Ibrani. Hanya saja, kita tidak 33 Di sini Komisi menyatakan bahwa jika jemaat Kristen Perdana mengambil kanon Aleksandria dalam bentuk yang sudah definitif, maka semestinya manuskrip LXX yang ada sama dengan daftar Perjanjian Lama Kristen. Akan tetapi halnya tidak demikian. Tidak ada keseragaman antara LXX dan Perjanjian Lama sebagaimana tampak dalam daftar yang terdapat dalam Bapa-bapa Gereja serta Konsili-konsili. Dengan kata lain, bukan orang Yahudi Aleksandria yang menentukan kanon Kitab Suci, melainkan Gereja, dimulai dengan LXX. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. harus dikatakan bahwa di dalam Perjanjian Baru, tidak ditemukan satu pun kutipan langsung dari tulisan-tulisan Deuterokanonika. Yang ada hanyalah semacam alusi atau rujukan tidak langsung. Para ahli mencatat kedekatan, misalnya. Yak 1:19 dengan Sir 5:11, 1Ptr 1:6 dengan Keb 3:5-7, lbr 11:35 dengan 2Mak 7:9,11,14,23,29,36,34 lbr 1:3 dengan Kol 1:15 dengan Keb 7:26, serta Rom 1:18-21 dengan Keb 13:1-9. 35 Selain itu. Yud 14-15 jelas mengutip dari 1 Henoch 1:9. Sementara Yud 9 menurut Origenesis merujuk pada Assumption of Moses. Tentu saja kutipan-kutipan seprti ini tidak harus berarti bahwa sumber-sumber itu dikutip karena mereka adalah bagian dari Kitab Suci. Paulus dalam Kis 17:28 mengutip penyair Yunai. Arutus, dan tidak ada seorang pun yang menganggap bahwa hasil karya penyair ini diterima dan diakui sebagai teks kanonik. Dengan kata lain, alusi atau rujukan seperti ini hanya dapat berarti bahwa penulis Perjanjian Baru mengenal tulisan-tulisan lain di luar kanon Kitab Suci Ibrani. Dari fakta ini, tidak dapat ditarik kesimpulan tentang wibawa, kanonisitas atau karakter lainnya dari teks-teks yang dikutip itu. 37 Akan tetapi sebaliknya, kita juga tidak dapat menyimpulkan dengan pasti bahwa teks-teks itu tidak mempunyai wibawa, tidak kanonik, tidak dianggap kudus, dan sebagainya. 34 Khusus untuk ayat ini, menarik memperhatikan bahwa pada catatan kaki Alkitab kita diusulkan bahwa latar belakang Ibr 11:35 adalah 1Raj 17:17-24 yaitu kisah Elia yang membangkitkan anak janda dari Sarfat. Di dalam Kitab Suci memang ada beberapa kisah yang menceritakan bagaimana anak-anak dari seorang ibu yang tadinya mati kemudian dihidupkan kembali, tetapi kisah yang mengandung unsur penganiayaan hanya terdapat dalam 2Mak 7. Lihat James Akin. AuDefending Deuterocanonicals. Ayhttp:// com/library/ANSWERS/DEUTEROS. Diakses pada 7 Februari 2011. 35 Reginald C. Fuller. AuThe Deuterocanonical Writings,Ay in The International Bible Commentary , edited by William R. Farmer, et al. (Collegeville: Liturgical Press, 1. , p. Untuk sekedar pembanding dan diambil dari tulisan populer, dapat dilihat, misalnya. Bob Stanley. AuThe Canon of Scripture,Ay http://home. com/bstanley/canon. diakses pada 15 Februari 2011. 36 R. Pfeiffer. AuCanon of the OT,Ay p. 37 Daniel J. Harrington. AuThe Old Testament Apocrypha in the Early Church and Today,Ay DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 tahu bentuk persis LXX yang diwariskan kepada kekristenan Yunani itu. Yang diwarisi oleh kekristenan Yunani itu tampaknya adalah tulisan-tulisan yang di dalam Yudaisme sendiri sudah dianggap sebagai Kitab Suci, akan tetapi masih berada dalam proses kanonisasi, terutama berkaitan dengan bagian AuTulisanAy atau Ketubim. 38 Dengan membawa LXX sebagai Kitab Suci, boleh dikatakan Gereja Perdana mulai mengarungi jalannya sendiri, khususnya setelah perpecahan antara kekristenan dan Yudaisme akhirnya memang terjadi. Dalam konteks ini, dapat dipahami usaha para Bapa Gereja untuk membela otoritas atau wibawa LXX sebagai tulisan yang juga diinspirasikan oleh Roh Kudus . isalnya Agustinus. De Doctrina Christiana. II, 22. Sirilus dari Yerusalem. Catechesis IV, 33-. Justru karena Gereja Perdana sudah berada di jalurnya sendiri, terpisah dari Yudaisme, maka ketika Yudaisme akhirnya menentukan kanon Kitab Sucinya. Gereja sudah tidak banyak terpengaruh lagi. Dengan kata lain, kekristenan bebas untuk memutuskan bagi mereka sendiri tulisan mana yang layak dimasukkan ke dalam Kitab Suci mereka. 40 Secara teoretis, sudah terbuka jalan bagi masuknya tulisan-tulisan Deuterokanonika ke dalam kanon Kitab Suci Kristen. Inilah sebenarnya yang menjadi inti dari gagasan dokumen ini sehubungan dengan kanonisasi tulisan-tulisan Deuterokanonika. Bagian berikutnya dari JPSS, lebih merupakan suatu usaha untuk menelusuri perkembangan lebih lanjut dari kanon Kitab Suci Kristen setelah berpisah dari bayang-bayang Yudaisme sampai dengan proklamasi definitif yang dibuat oleh Konsili Trento. Formation of the Christian Canon The Old Testament of the early Church took different shapes in different regions as the diverse lists from Patristic times show. The majority of Christian writings from the second century, as well as manuscripts of the Bible from the fourth century onwards, made use of or contain a great number of Jewish sacred books, including those which were not admitted into the Hebrew canon. It was only after the Jews had defined their canon that the Church thought of closing its own Old Testament canon. But we are lacking 38 Pandangan bahwa bagian ketiga Tanak atau AuTulisanAy masih belum ditentukan secara definitif pada saat itu bukanlah satu-satunya pandangan. Childs melihat ada empat keberatan untuk hal tersebut. Lih. Brevard S. Childs. Biblical Theology: A Proposal (Minneapolis: Fortress Press, 2. , pp. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. information on the procedure adopted and the reasons given for the inclusion of this or that book in the canon. It is possible, nevertheless, to trace in a general way the evolution of the canon in the Church, both in the East and in the West. In the East from OrigenAos time . there was an attempt to conform Christian usage to the Hebrew canon of 24/22 books using various combinations and stratagems. Origen himself knew of the existence of numerous textual differences, which were often considerable, between the Hebrew and the Greek Bible. this was added the problem of different listings of books. The attempt to conform to the Hebrew text of the Hebrew canon did not prevent Christian authors in the East from utilizing in their writings books that were never admitted into the Hebrew canon, or from following the Septuagint text. The notion that the Hebrew canon should be preferred by Christians does not seem to have produced in the Eastern Church either a profound or long-lasting In the West, the use of a larger collection of sacred books was common and was defended by Augustine. When it came to selecting books to be included in the canon. Augustine . based his judgment on the constant practice of the Church. the beginning of the fifth century, councils adopted his position in drawing up the Old Testament canon. Although these councils were regional, the unanimity expressed in their lists represents Church usage in the West. As regards the textual differences between the Greek and the Hebrew Bible. Jerome based his translation on the Hebrew text. For the deuterocanonical books, he was generally content to correct the Old Latin . From this time on, the Church in the West recognized a twofold biblical tradition: that of the Hebrew text for books of the Hebrew canon, and that of the Greek Bible for the other books, all in a Latin translation. Based on a time-honored tradition, the Councils of Florence in 1442 and Trent in 1546 resolved for Catholics any doubts and Their list comprises 73 books, which were accepted as sacred and canonical because they were inspired by the Holy Spirit, 46 for the Old Testament, 27 for the New. In this way the Catholic Church received its definitive canon. To determine this canon, it based itself on the ChurchAos constant usage. In adopting this canon, which is larger than the Hebrew, it has preserved an authentic memory of Christian origins, since, as we have seen, 39 Untuk menunjukkan kualitas ilahi dari LXX, argumen yang disampaikan baik oleh Agustinus maupun oleh Sirilus adalah kisah penerjemahan yang ajaib sebagaimana diceritakan dalam Surat Aristeas. 40 Reginald C. Fuller. AuThe Deuterocanonical Writings,Ay p. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 the more restricted Hebrew canon is later than the formation of the New Testament. Dalam nomor 18 ini. Komisi melanjutkan pemaparannya dengan menyampaikan perkembangan kanon Kristen di dalam Gereja. Yang jelas, perjalanan proses ini ternyata harus melalui lorong yang berliku-liku. Sebagaimana dapat dilihat dari karya para Bapa Gereja. Perjanjian Lama Kristen ternyata mempunyai bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan daerahnya. Pada dasarnya, proses terbentuknya kanon Perjan-jian Lama Kristen berbeda di dua kubu utama Gereja, yaitu di Gereja Barat dan Gereja Timur. Inilah yang kemudian disampaikan oleh JPSS pada bagian berikutnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa Gereja sebenarnya tidak pernah mencapai kesepakatan utuh sehubungan dengan kanonisitas dari tulisan-tulisan Deuterokanonika yang tidak termasuk kanon Ibrani,41 akan tetapi di sini kita berhadapan dengan sebuah gejala yang menarik. Di satu pihak, beberapa Bapa Gereja menyadari dan mengakui bahwa kanon yang harus diikuti adalah kanon Kitab Suci Ibrani yang memuat 22/24 kitab tanpa menyertakan tulisan-tulisan Deuterokanonika. Akan tetapi di lain pihak, sebagai seorang tokoh Gereja mereka tetap begitu saja menggunakan dan mengutip tulisan-tulisan Deuterokanonika dan memperlakukannya seolah-olah bagian dari Kitab Suci. Hal ini kentara khususnya di wilayah Timur. Di Timur, ada kecenderungan cukup kuat untuk mengikuti kanon Ibrani dan dengan demikian menolak tulisan-tulisan Deuterokanonika, khususnya mulai dengan Origenes. Origenes mengakui ada perbedaan yang tidak kecil antara teks Ibrani dan teks Yunani. Ia juga menerima keistimewaan teks Ibrani karena menyadari bahwa teks Ibrani menjadi bekal agar dapat berdiskusi dengan orang-orang Yahudi. Akan tetapi tidak berarti bahwa ia menolak atau melepaskan LXX. Origenes Ausaw no reason why the Church should be disposessed of them just because the Jews did not acknowledged them and there was no Hebrew version in existence. Ay42 Demikian juga Athanasius mendesak agar Gereja hanya menerima 22/24 tulisan seperti yang diyakini orang Yahudi. akan tetapi ia sendiri tetap menggunakan tulisan-tulisan yang meragukan itu. Tokoh lain yang Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. harus disebut di sini adalah Hieronimus. Di satu pihak, bertitik tolak dari prinsip Veritas Hebraica. Hieronimus hanya mau menerima tulisan-tulisan yang terdapat di dalam kanon Ibrani. akan tetapi di lain pihak, ia juga . arena tekanan?. menerjemahkan dan memasukkan tulisan-tulisan Deuterokanonika ke dalam versi Latin. Vulgata yang dikerja-kannya. Untuk tulisan-tulisan Deuterokanonika. Hieronimus hanya sekedar mengoreksi teks Latin yang sudah ada (Vetus Latin. Hieronimus membedakan libri canonici . ulisan-tulisan yang terdapat dalam kanon Ibran. dan libri ecclesiastici . ulisan-tulisan apokrif. Tulisan-tulisan terakhir ini, menurut Hieronimus, dapat dan harus dibaca untuk pem-bangunan jemaat, tetapi tidak dapat digunakan untuk menetapkan suatu doktrin gerejawi. Di wilayah Barat. Agustinus tampil sebagai pembela kanon AupanjangAy yang diwarisi oleh Gereja. Daftar kitab yang disusun oleh Agustinus didasarkan pada kebiasaan menggunakan tulisan-tulisan tersebut yang sudah cukup lama hidup di dalam Gereja. Konsili-konsili regional yang diadakan pada abad 4-5Aiseperti misalnya Sinode Hippo . Konsili Kartago i . , dan Konsili Kartago IV . Aimengambil alih daftar tulisan yang merupakan isi Perjanjian Lama Kristen sebagaimana disusun oleh Agustinus. 45 Paus Innosensius I menerima daftar tersebut dan dalam suratnya kepada Uskup Toulouse pada 405, ia menulis: AuApart from the canonical scriptures, nothing must be read in Church, under the title of the divine Scriptures. Ay46 Penegasan Paus ini menambah wibawa pada kanon Kristen sebagaimana dirumuskan kembali oleh Agustinus dengan berdasar pada praksis jemaat. Setelah perjalanan panjang, akhirnya pada 8 April 1546, dalam sesi ke-IV Konsili Trento, melalui dekrit De Canonicis Scripturis, dinya-takanlah secara definitif dan mengikat kanon Kitab Suci Katolik. Ada tujuh puluh 41 Reginald C. Pfeiffer. AuCanon of the Old Testament,Ay p. 42 M. Wiles. AuOrigen as Biblical Scholar,Ay in P. Ackroyd and C. Evans. The Cambridge History of the Bible. Volume I (Cambridge: Cambridge University Press, 1. , pp. 43 Sekurang-kurangnya dua kali Agustinus mengirim surat kepada Hieronimus untuk meminta dia agar tidak membuat terjemahan baru Perjanjian Lama dari teks Ibrani (Surat 28 dari tahun 394-. dan mendesaknya untuk menggunakan LXX (Surat 71 dari tahun Demikian juga Rufinus dari Aquileia . mengkritik Hieronimus karena menyingkirkan LXX dan tulisan Deuterokanonika dari kekayaan Gereja. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 tiga kitab yang dinyatakan kanonik, terdiri dari empat puluh enam kitab Perjanjian Lama dan dua puluh tujuh tulisan-tulisan Perjan-jian Baru. Banyak orang mengatakan bahwa Konsili Trento diadakan dalam situasi yang tidak ideal. Nuansa polemik dengan reformasi dapat dipastikan mempengaruhi dekrit-dekrit yang dihasilkan oleh Konsili Trento, akan tetapi dengan menerima kanon AupanjangAy Konsili Trento justru memelihara semangat dan tradisi Gereja awal. Sementara kelompok yang ingin kembali ke kekristenan awal primitif dengan mengikuti kanon Ibrani, yang sebenarnya ditentukan pada periode yang lebih kemudian. Keputusan Konsili Trento ini tidak hanya didasarkan pada pertimbangan sejarah, akan tetapi juga pertimbangan teologis, yaitu bahwa sejak awal Gereja sudah menggunakan tulisan-tulisan tertentu. KOMENTAR Demikian secara agak panjang lebar kami mencoba menampilkan ajaran tentang tulisan-tulisan Deuterokanonika sebagaimana tercantum dalam dokumen PBC. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa proses kanonisasi tulisan-tulisan Deuterokanonika terjadi karena setidaknya dua faktor penting. Pertama, dengan mengambil dan menerima tulisan-tulisan Deuterokanonika sebagai bagian dari kanon Kitab Sucinya, kekristenan awal sebenarnya hanya mengikuti kebiasaan yang sudah terjadi di dalam Yudaisme dan dilanjutkan oleh jemaat Kristen Perdana. Kedua, kekristenan dapat mengambil dan memasukkan tulisan-tulisan tersebut ke dalam kanonnya sendiri karena pada waktu itu, kanon Ibrani masih belum tertutup, paling tidak untuk bagian ketiga dari Tanak, yaitu AuTulisan. Ay Dengan kata lain, perbedaan antara kanon Ibrani dan kanon Perjanjian Lama Kristen sebenarnya lebih menyangkut masalah sejarah dan bukan masalah 47 Kekristenan tidak mempunyai kriteria khusus untuk memilih dan 44 Daniel J. Harrington. AuThe Old Testament Apocrypha in the Early Church and Today,Ay Menjelang Konsili Trento, dua kategori ini diikuti juga oleh Kardina Kayetanus (Thomas de Vio 1470-1. Meskipun menerima bahwa tulisan-tulisan Deuterokanonika sebagai tulisan kanonik. Kayetanus menilai AokadarAo kanoni-sitasnya masih di bawah tulisan Protokanonika. 45 Untuk daftar kitab yang termasuk kanon dari para Bapa Gereja, silakan melihat di http://w. bible-researcher. com/canon8. 46 Reginald C. Fuller. AuThe Deuterocanonical Writings,Ay p. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. menentukan teks-teks yang akan dimasukkan dalam kanonnya. Lepas dari isi gagasan yang ditawarkan, kehadiran ajaran tentang proses kanonisasi tulisan-tulisan Deuterokanonika sebagaimana ditampil-kan JPSS perlu mendapat perhatian sekurang-kurangnya untuk hal-hal berikut Pertama, seperti sudah disadari oleh banyak pihak, tulisan-tulisan yang mau mempertanggungjawabkan kehadiran tulisan deutero-kanonika sehingga dapat membantu pemahaman umat beriman ternyata amat sedikit. Memang ada banyak tulisan tentang kanon Kitab Suci, akan tetapi kebanyakan dari mereka, atau tidak berbicara apa-apa tentang Deuterokanonika atau justru bertentangan dengan atau menyerang tradisi Gereja Katolik yang mengakui tulisan-tulisan Deuterokanonika sebagai bagian dari Kitab Sucinya. Sejauh jangkauan penulis, ada dua tulisan yang cukup jelas dan seimbang dalam menguraikan problem Deuterokanonika. Pertama, artikel berjudul AuCanonicityAy hasil karya patungan almarhum Raymond E. Brown dan Raymond F. Collins dalam The New Jerome Biblical Commentary . Kedua, artikel dari Reginald C. Fuller yang berjudul AuThe Deuterocanonical WritingsAy yang terdapat dalam The International Bible Commentary . Ketiganya adalah ahli kitab yang juga imam Gereja Katolik. Secara umum kedua artikel itu memberikan gambaran yang mirip satu sama lain. Paparan yang terdapat dalam dokumen PBC ini, sebenarnya juga tidak banyak berbeda dari tulisan yang sudah ada. Rupanya memang AuhanyaAy demikianlah gagasan tentang proses kanonisasi tulisan-tulisan Deuterokanonika. Kelihatan bahwa dokumen PBC ini pun cukup besar dipengaruhi terutama oleh artikel Brown dan Collins. Hal ini tidak amat meng-herankan apalagi kalau diingat bahwa pada 1996. Brown sekali lagi dipilih menjadi anggota PBC. Kehadiran dokumen ini merupakan kontribusi yang berharga untuk jemaat beriman. Diharapkan para pembaca juga terbantu dalam memahami tulisan-tulisan Deuterokanonika yang merupakan salah satu crux dalam relasi Gereja Katolik dengan Gereja-gereja lain. 47 Johannes Beutler. AuThe Jewish People and their scriptures in the Christian Bible,AyTheology Digest 50 . : 104. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 Kedua. JPSS tidak hanya sekedar memberikan keterangan kepada jemaat beriman sehubungan dengan proses kanonisasi tulisan-tulisan Deuterokanonika. Bobot penjelasan ini menjadi berlipat-lipat justru karena disampaikan oleh Komisi Kitab Suci Kepausan, lembaga yang oleh Tahta Suci mendapat kepercayaan untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan Kitab Suci. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa ajaran tentang tulisan-tulisan Deuterokanonika yang terdapat dalam JPSS meru-pakan ajaran resmi Gereja. Memang masih dapat diperdebatkan dan didiskusikan sejauh mana bobot pernyataan sebuah Komisi Kepausan. Apakah JPSS memang mempunyai kualifikasi sebagai suatu ajaran resmi yang mengikat semua orang Katolik? Tanpa harus berkutat lebih lanjut dengan pertanyaan yang berkaitan dengan otoritas seperti ini, rupanya JPSS tetap merupakan suatu sumbangan yang meneguhkan jemaat beriman. Sudah biasa dikatakan bahwa dibandingkan dengan kelompok Reformasi yang begitu mengandalkan sola scriptura. Gereja Katolik berpegang pada Kitab Suci dan Tradisi. Dengan kata lain, bagi orang beriman Katolik. Tradisi yang dapat berarti ajaran Gereja atau Magisterium juga harus dipertimbangkan dalam menghadapi suatu persoalan tertentu. Berkaitan dengan Kitab Suci, bagi orang Katolik sebenarnya ada banyak persoalan yang seolah-olah masih mengambang, misalnya, bagaimana harus memahami kebenaran Kitab Suci. bagai-mana orang dapat menafsirkan Kitab Suci. bagaimana memahami hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan sebagainya. Di hadapan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, memang dapat diusulkan aneka macam jawaban. Akan tetapi sebenarnya kita juga dapat berpaling pada dokumen-dokumen Gereja dan mencari jawaban di Dalam hal tulisan-tulisan Deuterokanonika, daripada mengajukan aneka macam teori, mungkin akan lebih sederhanaAidan sekaligus berwibawaAi kalau kita merujuk saja pada penjelasan yang sudah disampaikan oleh Gereja, melalui dokumen yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang, 48 Artikel ini merupakan hasil revisi dari artikel dengan judul yang sama yang ditulis oleh James C. Turro dan Raymond E. Brown yang terdapat dalam The Jerome Biblical Commentary . Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. dalam hal ini Komisi Kitab Suci Kepausan. Ketiga, kendati segala hal positif yang sudah disebutkan di atas, catatan kritis tetap dapat dan perlu diberikan. Meskipun pernyataan PBC sehubungan dengan tulisan-tulisan Deuterokanonika cukup jelas dan dapat diterima, tetap harus diakui bahwa pernyataan atau ajaran yang disampaikan bukanlah satu-satunya ajaran yang mungkin. Terus terang, topik ini merupakan topik yang cukup problematik. Tidak ada unanimitas di antara para ahli sehubungan dengan hal ini. Ada banyak penjelasan lain yang mungkin dapat diajukan untuk memahami masuknya tulisan Deuterokanonika ke dalam Kitab Suci Kristen. 49 Dengan mengambil dan memilih salah satu dari sekian banyak teori yang ada, berarti pandangan dan teori lain praktis tersingkirkan. Apa alasannya? Persoalan dapat bertambah karena dengan Aumeningkatkan statusAy satu pandangan menjadi ajaran Gereja, pandangan tersebut menjadi terbakukan dan terbekukan. Dengan demikian, kalau ada kritik yang muncul, kritik tersebut tidak lagi melawan satu pandangan atau teori saja, tetapi akan dianggap menghadapi ajaran Gereja. PENUTUP Dokumen Komisi Kitab Suci Kepausan yang baru saja kita bahas sebenarnya merupakan dokumen yang diterbitkan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Di satu pihak, tulisan seperti ini rupanya memang sudah amat akan tetapi di lain pihak, harus diakui bahwa di dalam konteks Gereja Indonesia, masih amat sedikit tulisan-tulisan yang mengomentari suatu dokumen seperti ini. Dokumen JPSS ini sebenarnya amat kaya dan menantang. Meskipun pertama kali dialamatkan untuk mempromosikan hubungan antara Gereja Katolik dan Yudaisme, dokumen ini menyiratkan beberapa implikasi teologis yang perlu dielaborasi lebih lanjut. Hal ini jelas seperti yang dikatakan oleh Kardinal Walter Kasper dalam sebuah simposium di Yerusalem pada 31 Oktober 2007: AuThere are a lot of open theological questions raised by this document that should be dealt with in theological academic circles, faculties, symposims and seminars. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123 DAFTAR RUJUKAN Akin. James. AuDefending Deuterocanonicals. Ay http://w. library/ANSWERS/DEUTEROS. Diakses pada 7 Februari 2011. Barton. The Old Testament: Canon. Literature and Theology. Burlington: Ashgate, 2007. Bychard. Dean P. The Scriptures Documents. Collegeville: Liturgical Press. Beckwith. Roger. The Old Testament Canon of the New Testament Church. Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1987. Beutler. Johannes. AuThe Jewish People and their scriptures in the Christian Bible. Ay Theology Digest 50 . : 103-109. Blenkinsopp. Prophecy and Canon. Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1977. Brown. Raymond E. and Raymond F. Collins. AuCanonicity. Ay In Raymond Brown. Joseph A. Fitzmyer, and Roland E. Murphy, eds. The New Jerusalem Biblical Commentary. New Jersey: Prentice Hall, 1990, pp. Fritsch. AuApocrypha. Ay In G. Buttrick et al. , eds. InterpreterAos Dictionary of the Bible. Volume I. Nashville: Abingdon Press 1992, pp. Childs. Brevard S. Biblical Theology: A Proposal. Minneapolis: Fortress Press, __________. Introduction to the Old Testament as Scripture. London: SCM Press, 1979. Davies. and Louis Finkelstein, eds. The Cambridge History of Judaisme. Volume II. New York: Cambridge University Press, 2007. Fuller. Reginald C. AuThe Deuterocanonical Writings. Ay In William R. Farmer, et al. , eds. The International Bible Commentary. Collegeville: Liturgical Press, 1998. Harrington. Daniel J. AuThe Old Testament Apocrypha in the Early Church and Today. Ay In Lee Martin McDonald and James A. Sanders. The Canon Debate. Peabody: Hendrickson, 2002, pp. Lambrecht. AuPontifical Biblical Commission. Ay In Thomas Carson, et al. The New Catholic Encyclopedia. Volume I. Second Edition. Harmington Hills: Gale, 2003, pp. Lewis. Jack P. AuJamnia Revisited. Ay In Lee Martin McDonald and James A. Sanders, eds. The Canon Debate. Peabody: Hendrickson, 2002, pp. 49 Lihat misalnya penjelasan yang diusulkan oleh Brevard S. Childs dalam bukunya Biblical Theology, pp. 24-37 dan Introduction to the Old Testament as Scripture (London: SCM Press, 1. , pp. Deuterokanonika (V. Indra Sanjay. McDonald. Lee Martin and James A. Sanders, eds. The Canon Debate. Peabody: Hendrickson, 2002. Metzger. Bruce M. An Introduction to the Apocrypha. New York: Oxford University Press, 1957. Millar. Charles H. AuTranslation Errors in the Pontifical Biblical CommissionAos The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible,Ay Biblical Theology Bulletin 35 . : 34-39. Oesterley. An Introduction to the Books of the Apocrypha. London: SPCK, 1953. Pfeiffer. AuCanon of the OT. Ay In G. Buttrick, et al. , eds. InterpreterAos Dictionary of the Bible. Volume I. Nashville: Abingdon Press 1992. Trebolle Barrera. Julio C. The Jewish Bible and the Christian Bible. Leiden: Brill, 1998. __________. AuOrigins of a Tripartite Old Testament Canon. Ay In Lee Martin McDonald and James A. Sanders. , eds. The Canon Debate. Peabody: Hendrickson, 2002, pp. Turro. James C. AuHistory of Old Testament Canon. Ay In Thomas Carson, et , eds. New Catholic Encyclopedia. Volume I. Second Edition. Farmington Hills: Gale, 2003, pp. Wiles. AuOrigen as Biblical Scholar. Ay In P. Ackroyd and C. Evans. The Cambridge History of the Bible. Volume I. Cambridge: Cambridge University Press, 1970, pp. DISKURSUS. Volume 10. Nomor 1. April 2011: 98-123