Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Penerapan Problem Based Learning Terintegrasi dengan Teaching At The Right Level Terhadap Hasil Belajar Akuntansi Defi Fitriana1. Khusnul Hidayati2. Farida Setyaningrum3 Universitas PGRI Madiun. Madiun. Indonesia SMK Negeri 2 Jiwan. Madiun. Indonesia Email: defi. fitri19@gmail. com, khusnul. hidayati@smkn2jiwan. id, faridastyaningrum@unipma. Abstrak Untuk meningkatkan pembelajaran kognitif siswa pada materi akuntansi keuangan, dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model Problem-Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan teknik Teaching at the Right Level (TaRL) terhadap siswa kelas XI di SMKN 2 Jiwan. Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) digunakan dalam penelitian ini, yang terdiri dari dua siklus dan melibatkan tiga puluh siswa. Format penilaian digunakan untuk mengukur perkembangan yang telah dicapai siswa dalam pembelajarannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi kedua pendekatan tersebut berhasil, terbukti dari fakta bahwa tingkat penyelesaian pembelajaran siswa meningkat secara signifikan dari 57% pada siklus pertama menjadi 77% pada siklus kedua. Kata Kunci: Akuntansi Keuangan. Hasil Belajar. Problem Based Learning. Teaching at The Right Level PENDAHULUAN Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki pengaruh yang besar dalam menyiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi yang relevan dengan dunia kerja. Pendidikan SMK dirancang untuk membimbing peserta didik pada keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara nyata di dunia industri, serta menghasilkan SDM yang kompeten dan berdaya saing. Salah satu program keahlian yang ditawarkan di SMK adalah akuntansi, atau yang lebih dikenal dengan Akuntansi Keuangan dan Lembaga. Keahlian ini tidak hanya berguna bagi siswa yang ingin bekerja di perusahaan atau lembaga, tetapi juga bagi siswa yang bercita-cita untuk menjadi wirausahawan, atau atau bahkan ke jenjang pendidikan selanjutnya (Sari, 2. Sehingga pada pendidikan di jenjang SMK penting bagi peserta didik untuk mendapatkan pendidikan yang memberikan landasan teori yang kuat dan pengalaman praktik yang relevan untuk menghadapi tantangan (Ahmanda et al. , 2. Hasil pembelajaran merupakan indikator utama efektivitas proses pembelajaran karena menunjukkan seberapa baik siswa memahami dan menguasai topik. Hasil belajar yang tinggi menunjukkan bahwa pembelajaran berjalan efektif, di mana peserta didik mampu menyerap dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dengan baik (Ayus et al. , 2. Sebaliknya, jika hasil belajar rendah, maka hal ini menjadi sinyal adanya kendala dalam proses pembelajaran yang perlu segera diidentifikasi dan diperbaiki (Prajumarse et al. , 2. Terdapat penyebab yang berhubungan dengan hasil belajar, mulai dari faktor internal seperti motivasi belajar, minat terhadap mata pelajaran, dan kemampuan kognitif peserta didik, hingga faktor eksternal seperti lingkungan belajar, dukungan dari keluarga, kualitas pengajaran dari pendidik, lingkungan sekolah, dan budaya sekolah (Yandi et al. , 2. Dalam konteks pendidikan di SMK, rendahnya hasil belajar sering kali menjadi indikasi bahwa strategi Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pembelajaran yang digunakan masih belum mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik secara optimal (Hasrifayanti et al. , 2. Mata pelajaran akuntansi keuangan yang bersifat kompleks dan menuntut pemahaman mendalam terhadap konsep-konsep perhitungan dan analisis keuangan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi peserta didik. Sehingga metode pedagogi yang menekankan pendidikan teoritis tanpa partisipasi aktif siswa akan membatasi pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan berujung pada buruknya hasil belajar. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di kelas XI SMKN 2 Jiwan pada mata pelajaran akuntansi keuangan terdapat sebuah permasalahan terkait rendahnya penilaian capaian belajar siswa. Dari 30 siswa, hanya 6 siswa yang memperoleh nilai di atas Kriteria Kelulusan Minimal (KKM), sehingga persentase penyelesaian pembelajarannya < 20%. Metode pembelajaran tradisional, seperti ceramah, turut berkontribusi terhadap skenario ini. Metode pembelajaran ceramah lebih menitikberatkan pada penyampaian materi, tanpa menawarkan siswa sejumlah kesempatan yang memadai untuk berpartisipasi aktif (Riyanto & Hendriani. Ada sisi positif dan negatif yang terkait dengan penggunaan gaya ceramah dalam lingkungan pendidikan. Ketika ada sejumlah besar siswa yang terdaftar dalam satu kelas, teknik ceramah tidak hanya berhasil tetapi juga menguntungkan, ini karena metode ceramah efektif, sedangkan kekurangannya siswa menjadi cenderung pasif, mudah merasa bosan, dan hanya menerima informasi tanpa pemahaman yang mendalam (Fardilah et al. , 2. Dengan demikian, pemahaman materi menjadi tidak optimal dan berimplikasi pada rendahnya hasil Menurut teori pembelajaran konstruktivis, anak-anak belajar secara aktif dengan melibatkan diri dalam lingkungan dan pengalaman siswa. Menurut konstruktivisme, anakanak belajar dengan cara mengeksplorasi, berdiskusi, berkolaborasi, dan berefleksi, yang meningkatkan perkembangan intelektual dan pemahaman siswa (Tohari & Rahman, 2. Penguasaan yang lebih komprehensif dapat diperoleh jika peserta didik diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi dan memecahkan masalah secara langsung, karena proses berpikir dan pembentukan pengetahuan terjadi ketika peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya serta berusaha menemukan solusi atas permasalahan yang siswa hadapi (Andraini & Warsiman, 2. Di samping itu, pembelajaran akan lebih efektif apabila teori belajar konstruktivisme diintegrasikan dengan model inkuiri terbimbing (Pramana et al. , 2. Dalam konsep ini, peserta didik memiliki potensi untuk mencapai pemahaman yang lebih tinggi apabila diberikan bimbingan yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Dengan kata lain, jika materi yang diberikan terlalu sulit tanpa adanya dukungan atau scaffolding dari pendidik, peserta didik akan sukar untuk mengerti konsep yang diajarkan, sedangkan jika materi yang diberikan terlalu mudah, maka pembelajaran menjadi kurang menantang dan tidak mendorong perkembangan kognitif yang optimal. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang hanya berfokus pada penyampaian materi secara satu arah tanpa memberikan ruang bagi peserta didik untuk aktif berpartisipasi harus digantikan dengan metode yang lebih interaktif dan berbasis pengalaman. Kondisi ini menegaskan pentingnya melakukan inovasi dalam pembelajaran. Inovasi pembelajaran pada pendidikan di SMK yaitu memusatkan pembelajaran pada siswa adalah salah satu langkah yang bisa diambil serta mengintegrasikan teori dan praktik agar lebih Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 relevan dan mudah dipahami. Pembelajaran yang efektif harus memberikan pengalaman bermakna, mendorong partisipasi aktif, serta membantu peserta didik menghubungkan teori dengan praktik, khususnya dalam memahami konsep akuntansi keuangan yang kompleks (Rahmawati & Suranto, 2. Selain itu, model pembelajaran harus fleksibel dan adaptif terhadap perbedaan tingkat pemahaman peserta didik agar siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing (Wulandari et al. , 2. Dengan strategi yang lebih personal dan interaktif, diharapkan peserta didik dapat lebih mudah memahami materi, meningkatkan motivasi belajar, serta mencapai hasil yang optimal, sehingga kelak cakap menghadapi rintangan di dunia profesional atau dalam keseharian. Model pembelajaran berbasis masalah (PBL) merupakan salah satu kerangka kerja pendidikan yang berpusat pada pemecahan masalah dan berpotensi untuk meningkatkan capaian pembelajaran siswa. Hal ini dilakukan dengan mendorong siswa untuk menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran melalui penggunaan skenario yang relevan dengan kehidupan nyata. Menurut (Aprilianti & Siswandari, 2. model ini tidak hanya membantu siswa dalam memahami teori, tetapi juga menumbuhkan pengembangan bakat yang meliputi kemampuan berpikir analitis, berpikir kritis, dan pengambilan keputusan. Selain itu, pendekatan pembelajaran berbasis proyek (PBL) dalam pendidikan menggabungkan konsep kolaborasi, yang memungkinkan siswa untuk bekerja sama, berbagi pemikiran, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi satu sama lain (Busan, 2. Melalui implementasinya, pembelajaran berbasis proyek (PBL) memberi siswa kesempatan untuk menyelidiki materi pelajaran secara mandiri sementara guru bertindak sebagai fasilitator. Siswa didorong untuk mencari informasi, menghubungkan teori dengan praktik, serta mengembangkan solusi atas masalah yang diberikan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Haridiati . di SMKN 1 Lemahabang menunjukkan bahwa PBL efektif dalam membuat hasil belajar meningkat sebagai dampak dari keaktifan murid, mandiri, dan berpartisipasi langsung dalam pembelajaran. Sehingga penerapan PBL dalam mata pelajaran Akuntansi Keuangan diyakini dapat lebih memahami prinsip-prinsip akuntansi, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan lebih siap menghadapi kendala yang akan siswa hadapi di dunia kerja atau dalam pendidikan lanjutan sebagai hasil dari pembelajaran ini. Efektivitas model pembelajaran PBL dapat lebih optimal jika diintegrasikan dengan pendekatan Teaching at The Right Level (TaRL). Pendekatan TaRL ini ditujukan untuk menyesuaikan strategi pembelajaran dengan tingkat pemahaman peserta didik agar siswa menerima materi sesuai kemampuannya (Indartiningsih et al. , 2. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendekatan TaRL dijalankan dengan membagi siswa/siswi berdasarkan pemahaman, bukan jenjang pendidikan, dengan tujuan agar pembelajaran lebih terarah dan Peserta didik dengan pemahaman lebih rendah mendapat bimbingan tambahan, sementara yang lebih mahir diberi tantangan lebih kompleks, sehingga kesenjangan pemahaman dapat diminimalkan. Integrasi model pembelajaran PBL dan pendekatan TaRL menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis, mendorong berpikir kritis, serta meningkatkan efektivitas pembelajaran di SMK, sehingga pemahaman dan pembelajar meningkat dengan pesat. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Pebriyani dan Pahlevi . menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek (PBL) meningkatkan pemikiran kritis dan kinerja akademik siswa melalui pemecahan masalah langsung dan penemuan materi. Pada saat yang sama. Prihandini, dkk . menemukan bahwa TaRL (Teaching at the Right Leve. membantu menutup kesenjangan pengetahuan dengan mengklasifikasikan siswa menurut tingkat pemahaman siswa saat ini. Hal ini memungkinkan kelas yang lebih personal dan inklusif. Menurut (Putri et al. , 2. siswa lebih terlibat dalam pembelajaran siswa ketika paradigma pembelajaran PBL dan pendekatan TaRL digunakan bersama-sama. Hal ini karena pengalaman belajar lebih mudah beradaptasi dan Hal ini membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh tentang konten dengan mendorong dialog, kerja tim, dan penerapan praktis. Dengan demikian, model dan pendekatan pembelajaran ini sangat relevan untuk mata pelajaran akuntansi keuangan yang menuntut pemahaman konsep dan keterampilan analitis, sehingga penerapannya berpotensi meningkatkan efektivitas pembelajaran secara keseluruhan. Penelitian ini adalah bagaimana model PBL dan metode TaRL membantu siswa kelas XI SMKN 2 Jiwan belajar secara kognitif. Penelitian ini didasarkan pada penalaran yang telah diberikan sebelumnya. Diharapkan hal ini dapat membantu memecahkan masalah rendahnya hasil belajar. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan membuat anak-anak lebih banyak berbuat, berpikir lebih kritis, dan benar-benar memahami apa yang siswa pelajari. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan untuk membandingkan seberapa baik siswa belajar ketika siswa menggunakan cara belajar tradisional dibandingkan ketika siswa menggunakan model pengajaran PBL dan pendekatan TaRL. Target pembahasan ini untuk mengetahui seberapa baik metode TaRL bekerja dalam membantu siswa memahami berbagai METODE Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Tujuan utama dari Penelitian Tindakan Kelas membahas masalah kelas dan mengusulkan solusi menggunakan teknik praktis yang didasarkan pada tantangan yang diketahui (Pahleviannur et al. , 2. Penelitian ini menerapkan praktik pengajaran untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Penelitian di SMKN 2 Jiwan ini melibatkan 30 siswa kelas XI Akuntansi 4 yang mempelajari akuntansi keuangan kartu piutang. Kedua putaran penelitian meliputi perencanaan, implementasi tindakan, observasi, dan refleksi. Setiap tahapan dirancang secara sistematis agar tindakan yang dilakukan dapat terukur efektivitasnya dan diperoleh perbaikan yang berkelanjutan berdasarkan hasil refleksi pada akhir setiap siklus. Berikut tahapan dalam penelitian ini. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Gambar 1 Siklus Penelitian Penelitian ini mengumpulkan data melalui penilaian formatif dan observasi. Di akhir setiap siklus, penilaian formatif menilai hasil belajar siswa, sementara pengamat mencatat aktivitas dan keterlibatan siswa. Data dari tes diperiksa secara statistik dan deskriptif dengan menentukan persentase pembelajaran yang telah diselesaikan, sementara data dari observasi mengungkapkan keterlibatan dan reaksi siswa terhadap strategi pengajaran yang telah Mengetahui berapa proporsi siswa yang telah memenuhi target penyelesaian pembelajaran 75% dengan KKM 80 atau lebih tinggi menunjukkan bahwa penelitian berhasil. Jika hasil siklus I tidak mencapai target penyelesaian yang diinginkan, siklus II melakukan penyesuaian dengan menerapkan teknik pembelajaran yang lebih efisien. Sebaliknya penelitian dihentikan apabila hasil siklus I telah ditetapkan melampaui KKM. Dengan metode penelitian ini berupaya untuk menentukan seberapa baik kegiatan yang dilaksanakan dapat meningkatkan pembelajaran siswa pada mata pelajaran akuntansi keuangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini diawali dengan pemaparan hasil pra siklus sebelum dilaksanakannya tindakan pada siklus I. Tahap pra siklus dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan memahami permasalahan yang terjadi di kelas XI Akuntansi 4 SMKN 2 Jiwan sebelum diterapkannya PBL dengan diintergrasikan TaRL. Pembelajaran saat ini berbasis ceramah, dengan guru berbicara dan murid mendengarkan serta mencatat. Usai materi disampaikan, peserta didik mengerjakan soal latihan secara mandiri. Model pembelajaran ini masih berfokus pada peran aktif guru sebagai sumber informasi utama, sedangkan peserta didik cenderung pasif dalam menerima materi. Selain itu, interaksi antarpeserta didik dan keterlibatan dalam proses berpikir kritis sangat minim. Hal ini ditunjukkan pada hasil tindakan pra siklus dalam Tabel 1 berikut: Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Tabel 1. Hasil Tes Pra Siklus Item Skor Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata Jumlah peserta didik yang tuntas belajar Jumlah peserta didik yang belum tuntas Persentase ketuntasan belajar Persentase ketidaktuntasan belajar Sumber: Data diolah peneliti . Tahap prasiklus dari proses pembelajaran hanya diselesaikan oleh dua puluh persen Total ada tiga puluh siswa, tetapi hanya enam dari siswa yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan nilai minimal tujuh puluh lima. Selain itu, dua puluh empat siswa tidak memenuhi tujuan yang telah ditentukan. Berdasarkan tingkat penyelesaian pembelajaran yang rendah ini, pendekatan tradisional yang berbasis pada ceramah kurang membantu dalam memperkuat pemahaman siswa terhadap informasi akuntansi, khususnya yang berkaitan dengan subjek kartu akuntansi. Berdasarkan temuan ini, tampaknya sebagian besar siswa terus berjuang untuk memahami konsep-konsep akuntansi fundamental yang berfungsi sebagai dasar untuk materi pendidikan yang berkaitan dengan akuntansi keuangan. Ada kesenjangan antara metode pembelajaran yang sedang digunakan dan persyaratan yang dimiliki siswa untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep fundamental akuntansi keuangan. Berdasarkan hasil pengamatan selama pra siklus, rendahnya hasil belajar peserta didik disebabkan oleh minimnya keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Peserta didik hanya berperan sebagai penerima informasi tanpa adanya interaksi atau diskusi yang mendalam, sehingga proses internalisasi konsep tidak berjalan secara optimal. Selain itu, kemampuan dasar akuntansi peserta didik yang belum terlalu kuat juga menjadi faktor utama kesulitan dalam memahami materi lanjutan, terutama pada topik kartu piutang. Akibatnya, peserta didik menjadi kebingungan ketika dihadapkan pada konsep-konsep yang lebih Kesulitan tersebut semakin nyata ketika peserta didik harus mengaitkan pemahaman dasar dengan penerapan pada kasus nyata atau latihan soal. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis masalah dan TARL harus diintegrasikan untuk meningkatkan hasil Dengan menggabungkan PBL dan TARL. Melalui penerapan model PBL dengan pendekatan TARL, diharapkan peserta didik dapat lebih terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, memperkuat konsep dasar akuntansi, serta meningkatkan pemahaman materi secara bertahap dan terstruktur. Hasil pra siklus ini akan menjadi acuan dalam membandingkan efektivitas hasil belajar sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran tersebut. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Siklus 1 Peneliti menggunakan paradigma pembelajaran berbasis masalah (PBL) dengan TaRL pada Siklus I. Teknik pelaksanaan ini mengikuti proses Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu persiapan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti telah menyusun berbagai instrumen penelitian, termasuk lembar observasi, soal asesmen formatif, perangkat pembelajaran, media pembelajaran berupa presentasi PowerPoint, bahan bacaan berbentuk flipped book, serta Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun. LKPD dirancang sedemikian rupa dengan memuat studi kasus yang perlu diselesaikan oleh peserta didik, sehingga mendukung proses pembelajaran berbasis masalah secara aktif dan mandiri. Pada tahap pelaksanaan, model pembelajaran PBL yang diintegrasikan dengan pendekatan TaRL dilaksanakan sesuai dengan sintaks PBL, di mana peserta didik dikelompokkan secara homogen berdasarkan tingkat kemampuan awal yang diperoleh dari hasil tes pra siklus dan asesmen diagnostik awal. Peserta didik dikelompokkan menjadi tiga tingkatan belajar: mahir . emampuan tingg. , berkembang . emampuan sedan. , dan awal berkembang, sedangkan kelompok awal berkembang terdiri dari peserta didik dengan kemampuan yang masih berkembang. Setiap kelompok belajar diberikan studi kasus dengan tingkat kesulitan yang berbeda, yaitu tipe A untuk kelompok mahir dengan tingkat kesulitan tinggi, tipe B untuk kelompok berkembang dengan tingkat kesulitan sedang, dan tipe C untuk kelompok awal berkembang dengan tingkat kesulitan yang lebih mudah. Melalui pembagian kelompok ini, peserta didik dapat bekerja sama secara aktif dalam menyelesaikan studi kasus sesuai tingkat kemampuan siswa. Tabel 2. Hasil Tes Siklus 1 Item Skor Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata Jumlah peserta didik yang tuntas belajar Jumlah peserta didik yang belum tuntas Persentase ketuntasan belajar Persentase ketidaktuntasan belajar Sumber: Data diolah peneliti . Tabel 2 menunjukkan bahwa Siklus I meningkatkan hasil belajar dibandingkan data pra-siklus. 17 dari 30 siswa memperoleh skor 80 atau lebih tinggi, sehingga persentase penyelesaian pembelajaran menjadi 57%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa model PBL dan teknik TaRL meningkatkan pembelajaran siswa. Banyak siswa terlibat dalam pembelajaran selama Siklus I dengan berpartisipasi dalam diskusi kelompok, menjawab pertanyaan guru, dan menanggapi komentar teman. Meskipun demikian, sejumlah peserta Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 didik masih ada yang belum memenuhi KKM dan cenderung pasif dalam kegiatan Berdasarkan hasil observasi dan refleksi, ditemukan bahwa penyebab utama ketidakaktifan tersebut adalah kebingungan dalam memahami materi dan menyelesaikan studi kasus. Hal ini disebabkan oleh bahan bacaan yang disusun oleh peneliti masih terlalu panjang dan menggunakan bahasa yang sulit dipahami oleh peserta didik. Beberapa peserta didik mengeluhkan bahwa bahan bacaan terlalu berlembar-lembar, sehingga siswa merasa kesulitan dalam memahami inti materi. Meskipun hasil pada siklus I 17 dari 30 siswa menyelesaikan kegiatan tersebut, tidak memenuhi persyaratan keberhasilan penelitian sebesar 75%. Data siklus I menunjukkan peningkatan hasil belajar. Berdasarkan refleksi siklus I, peneliti memutuskan untuk memperbaiki materi bacaan agar lebih jelas dan mudah dipahami pada siklus II. Selain itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta didik, terutama bagi siswa yang masih pasif dalam proses pembelajaran. Tujuan dari peningkatan tersebut adalah untuk meningkatkan hasil belajar pada siklus II lebih baik lagi, dengan harapan dapat mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan. Siklus 2 Peneliti melanjutkan penggunaan model (PBL) dan (TaRL) pada Siklus II. Dengan menggunakan tantangan siklus I, model penerapan ini mengacu pada tahap persiapan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam perencanaan, peneliti menyusun kembali instrumen penelitian, termasuk lembar observasi, soal asesmen formatif, dan perangkat pembelajaran, seperti modul ajar, media pembelajaran menggunakan presentasi PowerPoint, serta bahan bacaan yang diperbaiki dengan dibuat lebih ringkas dan praktis menggunakan template dari mind mapping. Selain itu. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) juga tetap disusun agar memuat studi kasus yang relevan dan perlu diselesaikan secara kolaboratif. Perbaikan pada bahan bacaan dilakukan untuk mempermudah pemahaman peserta didik dengan menyajikan poin-poin penting secara terstruktur dan lebih mudah dipahami. Pada tahap pelaksanaan, model pembelajaran PBL dengan pendekatan TaRL tetap dilakukan sesuai dengan sintaks PBL, di mana peserta didik masih dikelompokkan secara homogen berdasarkan tingkat kemampuan awal yang didapat dari hasil tes pra siklus dan asesmen diagnostik awal. Pengelompokan belajar tetap dibagi menjadi tiga desain, yaitu kelompok mahir, kelompok berkembang, dan kelompok awal berkembang. Setiap kelompok belajar diberikan studi kasus dengan tingkat kesulitan yang berbeda: tipe A untuk kelompok mahir dengan tingkat kesulitan tinggi, tipe B untuk kelompok berkembang dengan tingkat kesulitan sedang, dan tipe C untuk kelompok awal berkembang dengan tingkat kesulitan Melalui pembagian kelompok dan penyusunan studi kasus ini, peserta didik dapat bekerja sama dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan tingkat kemampuan siswa masingmasing. Pada siklus II, keaktifan dan keterlibatan peserta didik meningkat, terutama yang belum tuntas di siklus I. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Tabel 3. Hasil Tes Siklus 2 Item Skor Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata Jumlah peserta didik yang tuntas belajar Jumlah peserta didik yang belum tuntas Persentase ketuntasan belajar Persentase ketidaktuntasan belajar Sumber: Data diolah peneliti . Dapat dilihat pada Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil Siklus II jauh lebih baik daripada Siklus I. Persentase penyelesaian pembelajaran 30 siswa meningkat menjadi 77%, dengan 23 siswa memperoleh skor 80 atau lebih baik. Peningkatan ini mencerminkan perbaikan pada Siklus II, terutama pada aspek penyederhanaan bahan bacaan menggunakan template mind mapping, telah memberikan dampak positif terhadap pemahaman materi oleh peserta didik. Pada siklus II ini, sebagian besar peserta didik jauh lebih aktif selama interaksi Siswa terlibat dalam diskusi kelompok, aktif menjawab pertanyaan dari guru, serta memberikan tanggapan terhadap pendapat teman. Peningkatan partisipasi terutama terlihat di kalangan siswa yang belum menyelesaikan siklus I, sementara beberapa siswa tetap tidak aktif dan hanya mematuhi arahan teman sebayanya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sudah ada perhatian atau treatment khusus dari guru, beberapa peserta didik masih membutuhkan bimbingan lebih lanjut untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam berpartisipasi aktif. Secara keseluruhan, prasiklus, siklus I, dan siklus II mengalami peningkatan yang Kelulusan pembelajaran meningkat dari 20% prasiklus menjadi 57% pada Siklus I dan 77% pada Siklus II. Setiap siklus, hasil pembelajaran siswa rata-rata meningkat. Hal ini menandakan keberhasilan penerapan model PBL yang diintegrasikan dengan pendekatan TaRL dalam pembelajaran akuntansi keuangan pada topik kartu piutang di kelas XI Akuntansi 4 SMKN 2 Jiwan. Peningkatan hasil belajar ini tidak hanya mencerminkan efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan tetapi juga menunjukkan adanya peningkatan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran, tampak dalam diskusi kelompok dan jawaban terhadap pertanyaan guru, maupun menanggapi pernyataan dari Di samping itu, perubahan pada bahan bacaan dari bentuk flipped book yang berlembar-lembar menjadi lebih ringkas dan mudah dipahami melalui penggunaan template mind mapping juga cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta didik. Berdasarkan capaian tersebut, dapat dikatakan siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian, yakni target ketuntasan pembelajaran 77%. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Studi ini menemukan bahwa pemahaman siswa terhadap akuntansi keuangan meningkat ketika teknik mengajar TaRL dikombinasikan denganPBL. Penelitian ini mendukung Rosyidah, dkk . yang menemukan bahwa situasi kehidupan nyata membuat pembelajaran lebih mudah dan pelatihan yang dipersonalisasi meningkatkan motivasi. Lebih lanjut, penelitian oleh Savitri, dkk . menemukan bahwa strategi pengajaran, perangkat pedagogis tersebut meningkatkan pemahaman siswa. Kedua penelitian tersebut menemukan bahwa siswa memperoleh hasil yang lebih baik ketika model pembelajaran PBL dikombinasikan dengan metode TaRL, karena menciptakan lingkungan belajar yang lebih personal dan dinamis. KESIMPULAN Model pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning dan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) meningkatkan pembelajaran akuntansi keuangan, khususnya pada topik kartu piutang di kelas XI Akuntansi 4 SMKN 2 Jiwan. Melalui pengelompokan belajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didik serta penggunaan bahan bacaan yang lebih ringkas dan mudah dipahami melalui template mind mapping, keaktifan dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran semakin nyata. Peningkatan partisipasi dalam diskusi kelompok, keberanian menjawab pertanyaan, dan kesediaan memberikan tanggapan menunjukkan bahwa metode ini meningkatkan rasa percaya diri peserta didik dan mendorong pembelajaran aktif. Pembelajaran terstruktur melalui model PBL mendorong pemikiran kritis dan pemecahan masalah secara kolaboratif di antara peserta didik. Oleh karena itu, sebagai saran guru sebaiknya mempertimbangkan penggunaan model pembelajaran berbasis masalah yang terintegrasi dengan pendekatan TaRL pada materi-materi yang membutuhkan pemahaman konsep secara mendalam, khususnya pada pembelajaran akuntansi atau mata pelajaran lain yang serupa. Guru juga disarankan untuk terus berinovasi dalam menyusun bahan ajar agar lebih ringkas, menarik dan mudah dipahami, sehingga peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan lebih antusias dan aktif. Selain itu, pengelompokan peserta didik berdasarkan tingkat kemampuan dapat dilakukan sebagai upaya memberikan tantangan yang sesuai bagi setiap peserta didik tanpa menimbulkan rasa terbebani. Bagi peneliti selanjutnya, juga disarankan untuk mengembangkan penerapan model pembelajaran ini pada mata pelajaran lain dan memperluas konteks penelitian guna mendapatkan temuan yang lebih beragam dan Selain itu Pembaruan media pembelajaran yang lebih partisipatif dan memikat juga dapat menjadi fokus untuk meningkatkan gairah belajar. Diharapkan penelitian ini mampu menyumbangkan sumbangsih yang positif bagi pendidikan serta menjadi inspirasi dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA