Hymnos Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen Volume 1 No. : 1-14 e-ISSN 3109-2586 DOI: https://doi. org/x A Panuel Yabes. Paulus Dimas Prabowo, 2024 Diajukan: 20 Desember 2023 Direvisi: 29 Desember 2024 Diterima: 31 Desember 2024 IBADAH SAKRAL DENGAN HATI DAN AKAL: KAJIAN TEOLOGIS MAZMUR 100 :1-5 Panuel Yabes. Paulus Dimas Prabowo Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia-Samarinda yabesel@gmail. com, paul110491@gmail. Abstract: This study discusses the understanding of sacred worship that involves both heart and mind, highlighting the fallacy of the view that true worship is only determined by liturgy. The author argues that finite humans cannot establish the qualifications of true worship to God, and to respond to this, the author analyzes Psalm 100:1-5 using qualitative research methods and the hermeneutics of Old Testament poetry. The five practical steps in the analysis, called the 5T formula, include finding parallelism, determining the poetic structure, tracing figurative language, reviewing the historical background, and finding theological themes. Through this study, the author aims to provide a more appropriate perspective on sacred worship that should involve both the heart and the mind. Looking at the context of Psalm 100:1-5 has given a clear picture of sacred worship, which includes: the right attitude of heart, the right action in worship, and the right reason for worship. Keywords: worship Abstrak: Penelitian ini membahas tentang pemahaman ibadah yang sakral yang melibatkan hati dan akal, menyoroti kesalahan pandangan bahwa ibadah yang benar hanya ditentukan oleh liturgi. Penulis berargumen bahwa manusia yang terbatas tidak dapat menetapkan kualifikasi ibadah yang benar kepada Tuhan, dan untuk merespons hal ini , penulis menganalisis Mazmur 100:1-5 menggunakan metode penelitian kualitatif dan hermeneutik puisi Perjanjian Lama. Lima langkah praktis dalam analisis, yang disebut formula 5T, meliputi menemukan paralelisme, menentukan struktur puisi, menelusuri bahasa figuratif, meninjau latar belakang historis, dan menemukan tema teologi. Melalui kajian ini, penulis bertujuan untuk memberikan perspektif yang lebih tepat mengenai ibadah sakral yang seharusnya melibatkan hati dan akal. Dengan melihat konteks Mazmur 100:1-5 telah memberikan gambaran yang jelas tentang ibadah yang sakral, yaitu meliputi: sikap hati yang benar, tindakan yang benar dalam beribadah, dan alasan yang benar dalam beribadah. Kata kunci: ibadah Copyright 2024 by author. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat - Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Pendahuluan Pendahuluan Penulisan artikel ini dilatarbelakangi adanya dua kelompok kekristenan yang berbeda pandangan terkait ibadah. Kelompok yang pertama lebih menekankan hati dan mengabaikan Beberapa penelitian telah menemukan hal ini. Ibadah karismatik memang lebih menekankan aspek perasaan, karena ditandai oleh interaksi yang dinamis antara ekspresi emosional dan pengalaman bersama. Menurut Elliott Pemahaman Karismatik mengenai pengalaman religius memiliki ciri khas, tidak hanya karena penekanannya pada peningkatan emosi dan perasaan yang mempengaruhi individu, tetapi juga karena orang Karismatik meyakini bahwa, berbeda dengan tindakan yang mengembalikan kehidupan, tindakan peremajaan dan rangsangan dapat terjadi secara berulang. 1 Lalu Matalu mengatakan bahwa Bagi para penganut Karismatik, emosi memiliki peranan yang sangat krusial dalam pelaksanaan ibadah. Terdapat beberapa contoh yang dapat diungkapkan di sini. Salah satunya adalah ketika mereka menceritakan pengalaman emosional yang mereka rasakan terkait dengan "Roh KudusAy. 2 dan Penttila juga mengatakan gerakan karismatik di seluruh dunia menekankan pentingnya dipenuhi dengan Roh Kudus, yang terwujud melalui berbicara dalam bahasa roh, serta berbagai karunia rohani dan keajaiban lainnya3. Dengan demikian pemahaman Karismatik tentang pengalaman religius ditandai oleh penekanan pada emosi dan perasaan yang mempengaruhi individu, serta keyakinan bahwa peremajaan dan rangsangan spiritual dapat terjadi berulang kali. Emosi dianggap sangat penting dalam ibadah, di mana penganut Karismatik sering berbagi pengalaman emosional terkait dengan "Roh Kudus. " Selain itu, gerakan ini menekankan pentingnya dipenuhi dengan Roh Kudus, yang terwujud dengan berbicara dalam bahasa roh dan berbagai karunia rohani serta keajaiban lainnya. Akan tetapi kelompok yang kedua menekankan akal dan mengabaikan hati. Duzgun mengatakan bahwa. Ibadah dirancang sebagai sarana untuk mengembangkan spiritualitas seseorang, di mana melalui tindakan penyerahan diri yang sadar dan disengaja kepada Kehendak Allah yang Maha Kuasa, seseorang dapat bertemu dengan Tuhan yang Esa. 4 dan Moser menegaskan bahwa keyakinan akan Tuhan dapat dibangun atas dasar akal, dengan menunjukkan bahwa pengalaman pribadi dan pertahanan memainkan peran krusial dalam memahami hubungan antara iman dan akal. 5 Majeed berpendapat bahwa mengeksplorasi konsep Akan tentang Tuhan dengan menganalisis ekspresi-ekspresi yang terkait dengan Tuhan dan mengevaluasi rasionalitas argumen bahwa kebaikan-Nya harus dihormati dan disembah. Selain itu, akan dibahas apakah Tuhan memiliki sifat pribadi atau tidak, dengan tujuan untuk Esther Elliott. AuWorship Time. The Journey Towards the Sacred and the Contemporary Christian Charismatic Movement in England. ,Ay Faculty of Arts: School of Humanities (University of Nottingham, 1. , 159. Muriwali Yanto Matalu. AuEmotion and Its Relevance To the Polemic Between Reformed and Pentecostal/ Charismatic,Ay Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili 7, no. 1 (April 2. : 71. Maija Penttily. AuIndividual Emotions Describing Continuity and Engagement in Religion: Charismatic Communality in the Light of Interaction Ritual Theory,Ay Religions 14, no. 4 (March 2. : 1. aban Ali DyuZGyuN. AuWorship as Cognition. Intentionality and Freedom,Ay Kader 20, no. (December 2. : 842. Paul K. Moser. AuReason and Faith in God,Ay Roczniki Filozoficzne 64, no. : 6. memperjelas pemahaman tentang konsep Akan tentang Tuhan. 6 Kedua pandangan inilah yang membuat penulis sangat tertarik membahas masalah ini, sebab kedua penganut paham ini memiliki dasar argumentasi yang dapat dipertahankan. Ibadah merupakan sarana penyembahan manusia kepada Allah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ibadah adalah tindakan yang menunjukkan pengabdian kepada Allah yang didasarkan pada ketaatan dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 7 Ini adalah momen yang mengajak umat untuk merasakan kehadiran Allah yang penuh perhatian dan kasih, serta untuk memuji-Nya. Tujuannya adalah mengalihkan fokus dari kepentingan pribadi ke Allah dan orang lain, mengutamakan kepedulian terhadap sesama. 8 Lalu Levi menjelaskan ibadah sebagai serangkaian ritual yang membentuk seseorang untuk mengembangkan sikap yang sesuai terhadap otoritas, seperti Tuhan. 9 Dengan demikian berarti Ibadah adalah sarana penyembahan manusia kepada Allah, yang melibatkan ketaatan dan pengabdian kepada-Nya. Tujuannya adalah untuk mengalihkan fokus dari kepentingan pribadi ke Allah dan orang lain, serta mengembangkan sikap yang sesuai terhadap otoritas, seperti Tuhan, melalui serangkaian ritual. Dari analisa penulis menemukan kesenjangan dari berbagai karya ilmiah yang lainya terkait pembahasan seputar ibadah sakral, contohnya: dalam tulisan Kibble yakni AuTeaching about Christian Worship,Ay British Journal of Religious Education 8. Membahas karakteristik ibadah dalam agama Kristen, dengan penekanan pada dimensi kemanusiaan dan ketuhanan, serta memberikan kritik terhadap representasi ibadah dalam bahan ajar, lalu mempunyai temuan tentang aspek ilahi dari ibadah Kristen dan Kebutuhan akan representasi dinamika ibadah yang lebih baik dalam agama lain. 10 lalu dalam karya yang di tulis oleh Hegy yang berjudul AuWorship and Culture: Endogenous and Exogenous Factors in a Local Church,Ay SN Social Sciences 1, no. membahas tentang faktor-faktor eksogen yang mempengaruhi dinamika ibadah dan Kurangnya keterlibatan pendeta dalam devosi awam. 11 lalu dalam temuan Herman at. al tentang prinsip penggembalaan berdasarkan Mazmur 100:3, adapun pusat pembahsannya adalah Analisis teks Mazmur 100:3 akan dilakukan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip penggembalaan Allah yang terdapat dalam pengalaman dan pujian bangsa Israel. 12 Dari hasil analisa penulis terkait beberapa karya diatas, ada bagian yang dapat menjadi temuan baru yaitu dari pembahasan terkait isu penyembahan yang benar kepada Tuhan untuk menanggapi dua pandangan yang mengadopsi penyembahan berdasarkan hati atau pun berdasarkan akal. Dalam karya penulisan Lumantow dan Semuruk yang berjudul "Analisis Biblika Mengenai Tata Cara Beribadah Hasskei M. Majeed. AuOn the Rationality of Traditional Akan Religion: Analyzing the Concept of God,Ay Legon Journal of the Humanities 25, no. 0 (May 2. : 132. Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2. , 536 Matsobane J. Manala. AuChristian Worship: A Matter of Justice,Ay Missionalia 40, no. 3 (June 2. Avital Hazony Levi. AuWorship: Bowing down in the Service of God,Ay Religious Studies 58, no. (September 2. : 487Ae504. David G. Kibble. AuTeaching about Christian Worship,Ay British Journal of Religious Education 8, no. 1 (September 1. : 26. Pierre Hegy. AuWorship and Culture: Endogenous and Exogenous Factors in a Local Church,Ay SN Social Sciences 1, no. 5 (May 2. : 1. Otniel dan Harefa Herman. Abehud. Rita. Irfan. AuStudi Eksegesis Prinsip Penggembalaan Allah Bagi Umat-Nya Berdasarkan Mazmur 100:3,Ay Real Didache 6, no. : 12. Berdasarkan Mazmur 100:1-5 dan Penerapannya di Era Modern" mengkaji ibadah sesuai dengan Mazmur 100:1-5, dengan penekanan pada dua aspek penting, yaitu melayani Tuhan dan sesama sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ibadah, adapun fokus pembahasan jurnalnya adalah Meneliti makna ibadah dalam konteks Mazmur 100:1-5 dan juga Menekankan ibadah sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan dan sesama. 13 Karya Mays yang mempunyai judul Worship, world, and An Interpretation of Psalm 100 yang membahas tentang menginterpretasikan Mazmur 100 sebagai suatu tindakan ibadah yang penting, dengan penekanan pada tujuan majelis dan makna historisnya. Ini menegaskan bahwa ibadah merupakan pengakuan publik terhadap kedaulatan Yahweh, yang melampaui sekadar ritual dan berinteraksi dengan struktur kekuasaan dunia dan yang menjadi fokus pembahasannya adalah Membahas referensi yang bersifat universal dalam mazmur yang sejenis. Mengkaji penelitian terkini mengenai Hesed dan Jadi dapat dikatakan bahwa berbagai karya ilmiah tentang penyembahan mengungkapkan adanya kesenjangan yang signifikan dalam pembahasan ini. Terdapat fokus pada karakteristik ibadah Kristen, faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika ibadah, serta pentingnya pengalaman dan pujian dalam konteks ibadah. Selain itu, ada peluang untuk menemukan sudut pandang baru mengenai ibadah sakral, yang dapat menjawab pandangan yang menekankan penyembahan dari hati atau akal. Pembahasan ini juga menekankan pelayanan kepada Tuhan dan sesama sebagai bagian integral dari ibadah. Secara keseluruhan, analisis ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih menyeluruh dan terintegrasi untuk memahami penyembahan dalam konteks teologi Kristen. Penganut ibadah yang mengutamakan perasaan . dan Ibadah yang mendasarkan akal memiliki pendekatan yang berbeda dalam pengalaman penyembahan atau ibadah, di mana golongan yang memusatkan perasaan dalam ibadah cenderung mengedepankan aspek emosional dan pengalaman langsung dengan Roh Kudus. Dalam ibadahnya, ungkapan perasaan yang kuat, seperti pujian yang dinamis dan doa berbahasa roh, menjadi ciri khas, menciptakan suasana yang penuh semangat dan interaksi langsung dengan Tuhan. Sebaliknya, berbeda hal dengan paham yang satunya lebih menekankan pada penggunaan akal dan pemahaman teologis yang mendalam, dengan fokus pada liturgi yang terstruktur dan pengajaran Alkitab yang Dalam konteks ini, ibadahnya berorientasi pada refleksi intelektual dan penghormatan terhadap tradisi gereja, di mana kebenaran firman Tuhan menjadi pusat dari pengalaman ibadah. Meskipun berbeda, kedua aliran ini berusaha untuk memuliakan Tuhan dan membangun iman jemaat dengan cara yang unik. Berdasarkan kedua paham inilah yang membuat penulis tertarik membahas tentang ibadah sakral dengan hati dan akal, sebab kemungkinan besar kedua paham ini dapat membuat Anatje Ivone Sherly Lumantow and Asdin Simuruk. AuAnalisis Biblika Tentang Tata Cara Beribadah Menurut Mazmur 100:1-5 Dan Penerapannya Di Masa Kini,Ay Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. 4, no. 1 (February 2. : 32Ae44. Ana Suheri et al. AuPengaruh Media Sosial Terhadap Nasionalisme Dan Integrasi Bangsa Di Era Modern,Ay Prosiding Seminar Nasional Universitas Pgri Palangka Raya 1 . 327Ae341. James L. Mays. AuWorship. World, and Power,Ay Interpretation: A Journal of Bible and Theology 23, 3 (July 1. : 328. gap atau jarak antara sesama denominasi gereja sehingga akan memicu rasa tinggi hati akan liturgi ibadah masing-masing. Oleh sebab itu penulis akan menguraikan beberapa hal yang akan menjadi bagian pembelajaran terkait penyembahan, yang didasarkan pada Mazmur 100:1-5. Metode Dalam menanggapi kedua pandangan di atas, penulis menggunakan penelitian kualitatif dan metode hermeneutik puisi Perjanjian lama, menurut Prabowo Ada lima langkah praktis yang bisa disebut dengan formula 5T, yakni: . Temukan paralelisme. Tentukan struktur keseluruhan . Telusuri bahasa figuratif. Tinjau latar belakang historis. Temukan tema teologi. 15 lalu dengan mengkaji ayat Firman Tuhan dari Mazmur 100:1-5 (Terjemahan Bar. , yang bertujuan untuk menanggapi paham terhadap ibadah sakral dengan hati dan akal. Dari metode inilah yang dapat menjadi bahan perbandingan untuk menanggapi kasus seputar ibadah yang sakral. Temuan dan Pembahasan Untuk memahami bagian penting dari kasus ini, hal yang krusial untuk diselidiki adalah konteks Firman Tuhan yang menjadi dasar dalam memahami ibadah sakral yang berlandaskan hati dan akal, sebagaimana diungkapkan dalam Mazmur 100:1-5. dalam konteks ini, perlu untuk mengeksplorasi beberapa aspek, termasuk latar belakang historis dan budaya yang melatarbelakangi penulisan mazmur tersebut, yang mencerminkan ungkapan syukur dan pujian kepada Tuhan sebagai respons terhadap kasih dan kebaikan-Nya, serta prinsip-prinsip ibadah yang dapat diambil dari teks ini, seperti pentingnya bersukacita, mengakui Tuhan sebagai pencipta, dan menyembah dengan tulus, yang semuanya berfungsi untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan. lebih jauh lagi, relevansi prinsip-prinsip ini dalam kehidupan masa kini sangat signifikan, karena hal bertujuan untuk mengajak individu untuk merenungkan cara beribadah dan berinteraksi dengan Tuhan dalam konteks kehidupan sehari-hari, mendorong penerapan nilai-nilai spiritual yang dapat memperkaya pengalaman iman dan komunitas. Konteks Mazmur 100:1-5 Dalam bagian ini, penulis hendak menjabarkan terkait latar belakang Mazmur 100, termasuk aspek penulisannya, tahun ditulis, konteks sejarah, dan posisi Mazmur 100. Perlu diakui bahwa baik Kitab Mazmur secara keseluruhan maupun Mazmur ini secara khusus memiliki informasi yang terbatas tentang latar belakangnya. Namun, dengan mengacu pada berbagai sumber, diharapkan kita dapat memperoleh informasi yang membantu menjelaskan latar belakang munculnya Kitab ini. Secara umum Kitab Mazmur dapat dibagi ke dalam lima kelompok kitab yang berdasarkan AujilidAy mazmur-mazmur untuk diparalelkan dengan kelima kitab Musa. Kitab I : Mazmur 1-41. Kitab II : Mazmur 42-72. Kitab i : Mazmur 73-89. Kitab IV : Mazmur 90-106, dan Paulus Dimas Prabowo. AuKaidah Penafsiran Puisi Perjanjian Lama,Ay HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 3, no. : 20. Kitab V : Mazmur 107-150. 16 Sehingga dapat di golongkan bahwa teks Mazmur 100 termasuk ke dalam kitab keempat atau jilid empat. Menurut Prinsloo dikatakan, analisis menunjukkan bahwa Mazmur 100 ini adalah puisi yang terampil, menggunakan berbagai teknik puitis untuk menyampaikan pujian dan rasa syukur kepada Yahweh sebagai Pencipta dan pelindung setia. Mazmur ini adalah puisi yang terampil, jadi Mazmur 100 menggunakan teknik puitis untuk menyampaikan pujian dan rasa syukur kepada Yahweh sebagai Pencipta dan pelindung setia. Lalu menurut David G Firth dari kumpulan Mazmur ini. Mazmur 100 mentransformasikan bahasa ini, sehingga kerajaan Yahweh atas seluruh bumi dinyatakan bukan dalam kekerasan penaklukan, melainkan dalam penyerahan yang penuh sukacita dari penyembahan yang diberikan dengan cuma-cuma. 18 Di sini juga ditegaskan dalam Mazmur 100 yang tergolong dalam tindakan praktis manusia terkait pengagungan kepada Yahweh. Pemazmur mengajak bagaimana sikap orang pilihan Allah pada masa itu, di jelaskan oleh pemazmur pada ayat 1 sampai 5. Amzallag mengatakan bahwa. Istilah "todah" dalam judul mazmur 100 mengindikasikan petunjuk musik yang berkaitan dengan konteks pertunjukan, kemungkinan sebagai karya musik yang dimainkan saling bersahut-sahutan, sehingga semakin memperkaya makna komunal dan liturginya. 19 Jadi penulis menganggap Mazmur 100 ini merupakan deklarasi pemazmur kitab ini tentang kerajaan Yahweh dinyatakan melalui penyerahan sukacita dalam penyembahan, bukan melalui Dalam Mazmur 100. Pemazmur mengajak orang-orang pilihan Allah untuk menunjukkan sikap penghormatan dan pengagungan kepada Yahweh, yang dijelaskan dalam ayat 1 hingga 5. Struktur Sastra Dalam ini bertujuan untuk memperkenalkan pembahasan mengenai struktur sastra yang terdapat dalam Mazmur 100:1-5, yang memiliki ciri khas yang mengesankan dan kaya akan Dalam teks ini, pemazmur menggunakan teknik sastra yang mendalam, terutama melalui penggunaan paralelisme dan bahasa figuratif, yang tidak hanya memperkaya pengalaman pembaca, tetapi juga memberikan kedalaman teologis dalam penyampaian pesan. Paralelisme, sebagai salah satu elemen penting dalam puisi Ibrani, menciptakan ritme dan keseimbangan yang memperkuat ungkapan pujian dan syukur kepada Tuhan, sementara bahasa figuratif memberikan gambaran yang lebih hidup dan emosional tentang hubungan antara umat dan Sang Pencipta. Dengan memahami struktur sastra ini, kita dapat lebih menghargai keindahan dan kedalaman spiritual yang terkandung dalam Mazmur 100, serta bagaimana elemen-elemen sastra ini berkontribusi pada pengalaman ibadah yang holistik dan bermakna. W VanGemeren. Psalms (Zondervan Academic, 2. , 529. Prinsloo. AuPsalm 100: Aon Poyties Minderwaardige En Saamgeflansde Teks?,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 47, no. 4 (January 1. Firth. AuTransformation of War Language in the Worship of All the Earth in Psalm 100,Ay in Acta Theologica, vol. 2021, 2021, 380Ae391. Nissim Amzallag. AuThe Meaning of Todah in the Title of Psalm 100,Ay Zeitschrift fur die Alttestamentliche Wissenschaft 126, no. : 535Ae545. Paralelisme Pemazmur menggunakan Paralelisme, menurut. Bishop Robert Lowth Pada pertengahan abad ke-17 memperkenalkan prinsip kesejajaran baris yang disebut paralelisme. Ia menemukan bahwa setiap baris dalam puisi Ibrani terdiri dari setidaknya dua bagian, di mana bagian kedua berfungsi untuk melengkapi pemikiran yang terdapat dalam bagian pertama. 20 lalu dari pengamatan penulis bahwa ada paralelisme Sinonimisi yang terdapat dalam Mazmur 100:1-5. Osborn mengatakan bahwa Paralelisme sinonimi adalah suatu bentuk kesejajaran di mana baris kedua mengulangi baris pertama dengan sedikit atau tanpa penambahan makna. 21 pada bagian ini paralelisme terdapat pada ayat . b dan . ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian . Bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah Nama-Nya. Kata Ao puji-pujianAo dan pujilah sama merujuk kepada ungkapan kata-kata tentunya itu adalah nayanyian atau pujian, sehingga penulis menympulkan bahwa bagain ayat ini termasuk kedalam paralelisme sinonimisi. Lalu ada bagian paralelisme yang kedua yaitu sinteis, menurut Richard berkata Paralelisme sintesis adalah suatu bentuk kesejajaran di mana baris pertama dan baris kedua saling melengkapi satu sama lain. 22 paralelisme sintesis penulis menemukan pada bagain ayat 3 dan 5, ada pun contohnya sebagai berikut: Ayat 3: sadarilah, bahwa TUHANlah Allah . Dialah yang membuat kita dan punya Dialah kita . umat-Nya dan kawanan domba-Nya. ayat 5: Sebab Tuhan itu baik . kasih karunia-Nya untuk selama-lamanya . Dan kesetiaan-Nya tetap dari generasi ke generasi. Dalam Mazmur 100:3, terdapat struktur paralelisme sintesis yang efektif, di mana setiap bagian ayat saling melengkapi untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang Tuhan. Bagian . mengajak umat untuk "sadarilah, bahwa TUHANlah Allah," menegaskan identitas Tuhan sebagai satu-satunya Allah yang patut disembah. Selanjutnya, bagian . memperdalam pemahaman ini dengan menyatakan bahwa Tuhan adalah Pencipta yang membuat umat-Nya dan bahwa umat adalah milik-Nya, diibaratkan sebagai kawanan domba di bawah penggembalaanNya. Dengan demikian, keseluruhan ayat menciptakan kesatuan yang harmonis, mengajak pembaca untuk merenungkan identitas Tuhan dan hubungan intim mereka sebagai ciptaan yang berharga dalam rencana-Nya. Robinson. AuHebrew Metre and Old Testament Exegesis,Ay The Expository Times 54, no. : 246. Grant R. Osborne. Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab, 2018, 264. Richards. Interpreting Hebrew Poetry (Revie. Hebrew Studies, vol. 35, 1994, 25. Bahasa Figuratif Dalam kitab-kitab puisi Ibrani sangat kaya dengan namanya kata kiasan dan penggambaran, hal ini dapat dikatakan Aobahasa piguratifAo. Menurut prabowo Pemahaman mengenai makna bahasa figuratif yang digunakan tidak hanya membantu penafsir memahami ide yang terkandung di dalamnya, tetapi juga mengarahkan penafsir pada emosi-emosi 23 dan kegunaan lain dari bahasa figuratif juga misalnya Metafora. Weiss mengatakan Metafora, selain berfungsi untuk menghibur pembaca, juga memiliki peran dalam menggambarkan entitas . aik objek maupun oran. , peristiwa, sifat, konsep, atau keadaan pikiran dengan cara yang lebih komprehensif, ringkas, dan jelas, tetapi tetap lebih kompleks dibandingkan dengan penggunaan bahasa literal. 24 Dengan demikian bahwa pada Mazmur 100:15 memiliki unsur satra Aobahasa figuratifAo berikut contohnya yang telah di analisa: sadarilah, bahwa TUHANlah Allah . Dialah yang membuat kita dan punya Dialah kita . umat-Nya dan kawanan domba-Nya. Pada bagian ini, terdapat unsur sastra 'bahasa figuratif' yang kuat, terutama dalam ayat 3b hingga 3c, di mana frasa "dan punya Dialah kita umat-Nya dan kawanan domba-Nya" menggambarkan manusia sebagai domba dalam konteks hubungan mereka dengan Tuhan. Penggambaran ini tidak hanya menekankan bahwa umat adalah ciptaan Allah, tetapi juga menciptakan citra yang mendalam tentang ketergantungan dan perlindungan yang diberikan Tuhan sebagai Gembala. Dengan menggunakan metafora domba, pemazmur menyoroti sifat lembut dan rentan manusia, serta kebutuhan mereka akan bimbingan dan perawatan dari Sang Pencipta, yang menunjukkan hubungan intim dan penuh kasih antara Tuhan dan umat-Nya. Struktur Mazmur 100:1-5 Sebelum mengidentifikasi prinsip-prinsip yang terkandung dalam konteks ayat-ayat yang ditulis oleh Pemazmur, penulis terlebih dahulu menyajikan penafsiran yang mendalam terhadap bagian Firman Tuhan ini, dengan menekankan beberapa aspek penting yang muncul dari teks di antaranya adalah refleksi Pemazmur tentang hubungan intim antara manusia dan Tuhan, yang tercermin dalam ungkapan kerinduan, penyesalan, dan pujian, serta bagaimana pengalaman pribadi Pemazmur dalam menghadapi tantangan hidup memberikan wawasan tentang ketergantungan total kepada Tuhan, adapun hal itu sebagai berikut. Garis Besar Eksegesis Superskripsi . Mazmur untuk Untuk Korban Syukur Prabowo. AuKaidah Penafsiran Puisi Perjanjian Lama. Ay Andrea L. Weiss. Figurative Language in Biblical Prose Narrative: Metaphor in the Book of Samuel. Vetus Testamentum. Supplements, vol. 107 (Leiden: Koninklijke Brill NV, 2. II. Subjek Yang Menyembah Yahweh adalah Seluruh Bumi . Ajakan: Bersorak-soraklah bagi Yahweh Subjek: hai seluruh bumi! i. Sikap hati dalam penyembahan . Sembahlah Tuhan dengan sukacita . datanglah kehadapan-Nya dengan sorak-sorai . IV. Unsur Pikiran (Aka. dalam Menyembah Yahweh . Menyadari bahwa Yahwehlah Allah . Tuhan yang menciptakan dan mempunyai manusia . Kita adalah umat-Nya dan kawanan domba-Nya. Tindakan dalam penyembahan . Perintah pergi ke tempat ibadah . a dan 4. Bersyukurlah dan pujilah Nama Yahweh. VI. Alasan untuk menyembah Yahweh . Sebab Tuhan itu baik . kasih karunia Yahweh untuk selama-lamanya . Dan kesetiaan Yahweh tetap turun-temurun . Tepatnya setelah menganalisa konteks ini, terdapat lima poin penting yang terkandung dalam Mazmur 100, yang merupakan salah satu bagian dari kitab Mazmur yang kaya akan ungkapan syukur dan pujian yaitu sebagai berikut. superskripsi dan subjek . 1a & 1. keadaan hati . pada saat menyembah Yahweh . keadaan pikiran . saat menyembah Yahweh . Tindakan dalam penyembahan kepada TUHAN. Alasan untuk menyembah TUHAN . Penulis mengidentifikasi struktur genre mazmur persembahan syukur yang terdapat dalam Mazmur 100, dengan fokus pada elemen-elemen yang membentuk esensi dan makna dari teks tersebut. Pembukaan mazmur ini mengajak umat untuk bersukacita dan memuji Tuhan, menciptakan suasana kolektif yang menggugah semangat ibadah. Selain itu, terdapat pengakuan akan kebesaran Tuhan sebagai pencipta yang menegaskan hubungan intim antara umat dan Sang Pencipta, serta ajakan untuk memasuki gerbang-Nya dengan pujian dan syukur, yang menunjukkan pentingnya sikap hormat dan pengabdian dalam ibadah. Penegasan tentang kasih setia Tuhan yang abadi menjadi landasan dari semua ungkapan syukur ini, sehingga struktur ini tidak hanya mencerminkan elemen estetika dari genre mazmur, tetapi juga berfungsi sebagai panduan praktis bagi umat untuk menjalani kehidupan beribadah yang penuh makna dan kedalaman spiritual. Ada pun hal-hal penting itu dapat dikategorikan sebagai berikut. Mazmur 100:1 diawali dengan pernyataan yang menegaskan bahwa teks ini adalah "mazmur untuk korban syukur," yang menunjukkan tujuan utama penulisannya adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Dengan kata-kata ini, pemazmur mengajak semua manusia, khususnya bangsa Israel, untuk bersukacita dan memuji Tuhan dengan penuh hati. Penekanan pada "semua manusia yang ada di Bumi" mencerminkan inklusivitas pesan ini, mengajak setiap orang untuk berpartisipasi dalam pujian dan syukur kepada Sang Pencipta. Hal ini menegaskan bahwa sikap syukur adalah respons universal yang seharusnya dimiliki oleh setiap ciptaan, sebagai pengakuan atas kebaikan dan kasih Tuhan yang senantiasa menyertai umat-Nya. Dalam Mazmur 100, ayat 2 secara khusus menyoroti sikap hati . yang seharusnya dimiliki oleh umat dalam penyembahan kepada Tuhan, di mana pemazmur mengajak umat untuk menyembah Tuhan dengan sukacita, menegaskan bahwa ibadah bukan sekadar ritual, melainkan ungkapan kegembiraan dan rasa syukur yang mendalam atas kebaikan dan kasih Tuhan yang telah dinyatakan dalam kehidupan. Dan juga kata sorak-sorai di sini yang dimaksud adalah bersukacita dalam Bahasa Inggrisnya AuRejoiceAy ini menujukan sikap hati . erasaan yang penuh sukacit. Lalu pada ayat 3 menekankan keadaan pikiran . dimana pemazmur mengutamakan betapa pentingnya pengakuan akan Tuhan sebagai pencipta dan gembala, yang mengajak umat untuk menyadari identitas Tuhan yang lebih besar dari diri sendiri dan mengingat bahwa manusia adalah ciptaan-Nya. Kesadaran ini seharusnya membangkitkan rasa hormat dan pengabdian yang tulus dalam setiap tindakan ibadah, sehingga ungkapan hati pemazmur menekankan bahwa penyembahan yang sejati melibatkan tidak hanya tindakan fisik, tetapi juga sikap hati yang penuh sukacita, pengakuan, dan penghormatan kepada Tuhan. Dengan demikian, hal ini menjadi landasan bagi umat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara yang benar dan bermakna, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Dan terdapat kata kiasan yang menggambarkan bahwa manusia adalah domba gembalaan Tuhan itu sendiri. Dilanjutkan pada ayat keempat , pemazmur menjelaskan bahwa setelah menekankan sikap hati yang benar dalam penyembahan, perhatian selanjutnya beralih kepada tindakan yang konkret, yang menjadi aspek penting dalam ibadah. Ayat ini mengajak umat untuk memasuki gerbang Tuhan dengan pujian dan halaman-Nya dengan syukur, menunjukkan bahwa penyembahan tidak hanya melibatkan perasaan atau sikap batin, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Tindakan memasuki gerbang dengan pujian mencerminkan sikap hormat dan pengakuan atas kebesaran Tuhan, sementara syukur yang diungkapkan saat memasuki halaman-Nya menunjukkan rasa terima kasih yang mendalam atas segala berkat yang telah Dengan demikian, pemazmur menekankan bahwa penyembahan yang sejati harus melibatkan tindakan yang sesuai dengan sikap hati yang penuh sukacita dan penghormatan, sehingga menciptakan pengalaman ibadah yang holistik dan bermakna. Hal ini mengingatkan umat bahwa penyembahan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sebuah respons aktif terhadap kasih dan kebaikan Tuhan dalam kehidupan. Lalu diakhiri pada ayat yang kelima, pemazmur menutup bagian ini dengan menegaskan bahwa sentral penyembahan umat-Nya adalah Tuhan, dan hal ini didasarkan pada alasan-alasan yang jelas yang dipaparkan dalam ayat tersebut. Pemazmur menyatakan bahwa Tuhan adalah baik, dan kasih-Nya abadi . , serta kesetiaan-Nya turun-temurun. Pernyataan ini menekankan sifat dasar Tuhan yang tidak hanya mencerminkan kebaikan-Nya, tetapi juga menunjukkan komitmen-Nya yang tak tergoyahkan terhadap umat-Nya. Dengan menegaskan bahwa kasih Tuhan adalah abadi, pemazmur mengajak umat untuk memahami bahwa hubungan mereka dengan Tuhan tidak bersifat sementara, melainkan kekal dan penuh dengan janji-janji yang dapat diandalkan. Kesetiaan Tuhan yang turun-temurun menjadi pengingat bagi umat bahwa mereka dapat selalu mengandalkan-Nya dalam setiap aspek kehidupan mereka. Oleh karena itu, pemazmur mengajak umat untuk menyembah dengan penuh keyakinan dan rasa syukur, karena penyembahan yang sejati berakar pada pengakuan akan kebaikan, kasih, dan kesetiaan Tuhan yang senantiasa menyertai mereka. Dengan demikian. Mazmur 100:5 tidak hanya berfungsi sebagai penutup, tetapi juga sebagai pengingat yang kuat akan alasan mendasar untuk menyembah dan memuji Tuhan dalam setiap keadaan. Dengan memahai konteks ini penulis dapat menyimpulakan dengan jelas bahwa ada bagian-bagain penting dari struktur konteks Firman Tuahan ini. lalu peneliti menemukan titik temu yang dapat dijadikan bagian prinsip-prinsip beribadah dengan sakral berdasakan hati dan akaldimana bagian ini begitu penting terkait ibadah yang sakral berdasarkan hati dan akal, dimana Mazmur 100 telah memberikan gambaran yang detail mengenai kualifikasi ibadah yang sakral berdasarkan hati dan akal, untuk menanggapi kedua kasus diatas tentang penyembahan yang Pemazmur ajarkan kepada Umat Tuhan (Yahwe. yakni orang Israel. Hal ini sangat relevan hingga saat ini, sebab Firman Tuhan adalah otoritas tertinggi yang diyakini wahyu ilahi. Terkait dengan isu yang penulis angkat dalam pembahasan yaitu ibadah sakral berdasarkan hati dan akal, yang mejadi titik fokus pembahasan ini adalah ayat 2 dan 3, akan tetapi jangan melupakan bagian-bagaian lainnya dalam susunan ayat-ayat ini. Adapun beberapa prinsip-prinsip yang menjadi bagian penting terkait sikap beribadah yang sakral itu yaitu. Unsur Perasaan (Hat. Unsur perasaan atau hati dalam menyembah Tuhan merupakan elemen yang sangat penting, sebagaimana diimplikasikan dalam ayat kedua yang disampaikan oleh pemazmur mengenai penyembahan kepada Yahweh. Dalam konteks ini, keadaan hati yang penuh sukacita menjadi inti dari penyembahan yang sejati, di mana sukacita tersebut tidak hanya sekadar ekspresi emosional, tetapi juga mencerminkan kedalaman hubungan spiritual dengan Tuhan. Pemazmur menekankan pentingnya datang ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai, yang menunjukkan bahwa penyembahan harus dilakukan dengan semangat dan kegembiraan yang tulus, menciptakan suasana yang penuh hormat dan pengagungan. Rasa syukur dan sukacita yang mengalir dari hati menjadi pendorong utama dalam setiap ungkapan pujian dan doa, sehingga penyembahan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga pengalaman yang mengubah dan memperkaya jiwa. Dengan demikian, unsur perasaan dalam penyembahan kepada Tuhan berfungsi sebagai penghubung yang memperdalam pengalaman spiritual dan meneguhkan komitmen untuk hidup dalam ketaatan dan pengabdian kepada-Nya. ada beberapa kalimat telah mengulasnya yaitu keadaan hati dengan sukacita, datanglah kehadapan-Nya dengan sorak-sorai. Unsur Pikiran (Aka. Unsur pikiran dalam menyembah Tuhan memiliki peranan yang sangat signifikan, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur dalam ayat yang menekankan pengakuan akan Tuhan sebagai Allah, serta penegasan bahwa manusia adalah ciptaan-Nya dan merupakan umat kawanan Domba-Nya. Dalam konteks ini, pikiran berfungsi sebagai landasan untuk memahami dan menghayati hubungan yang terjalin antara manusia dan Tuhan. pengakuan akan keesaan dan kebesaran-Nya mendorong refleksi mendalam terhadap sifat-sifat ilahi yang patut dihormati dan Kesadaran akan identitas sebagai ciptaan dan bagian dari kawanan-Nya menuntut pengarahan pikiran dalam penyembahan yang tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga rasional dan penuh penghayatan, di mana setiap ungkapan doa dan pujian mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang kebenaran firman Tuhan. Dengan demikian, unsur pikiran dalam penyembahan tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual, tetapi juga memperkuat komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya, menjadikan penyembahan sebagai suatu tindakan yang holistik dan bermakna. bagian ini penulis Kitab mancantumkannya pada konteks ayat ini dimana dikatakan bahwa mengakui Tuhan itu Allah. Manusia adalah ciptaan-Nya, manusia adalah umat kawanan Domba-Nya. Dari beberapa ulasan ayat-ayat Mazmur 100 ini peneliti menyimpulkan ada beberapa prinsip-prinsip penting dalam konteks ini yaitu, . Sikap Hati . eliputi: keadaan hati dengan sukacita, datanglah kehadapan-Nya dengan sorak-sorai,), . Keadaan pikiran . dalam penyembahan . eliputi: keadaan pikiran yaitu, mengakui Tuhan itu Allah. Manusia adalah ciptaan-Nya, manusia adalah umat kawanan Domba-Nya. Kedua prinsip ini adalah bagian vital yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya mempengaruhi kejiwaan manusia yang pada dasarnya unsur ini tidak lepas dari aspek kejiwaan manusia itu sendiri, akan tetapi unsur kehendak itu direalisaikan oleh pemazmur dalam ayat yang keempat, oleh sebab itu bagianbagaian konteks ini tidak dapat dipisahkan sebab semuanya utuh dalam satu pembahasan yang pemazmur paparkan dalam konteks Mazmur 100 ini. Relevansi bagi Ibadah masa Kini Relevansi ibadah masa kini, sebagaimana diungkapkan dalam Mazmur 100:1-5, yang pertama adalah tentunya Tuhan (Yahwe. adalah sang pencipta yang layak menerima pujian dan penyembahan dari ciptaan-Nya, lalu hal-hal krusial dalam penyembahan yang sangat penting adalah terletak pada pentingnya sikap hati yang tulus, sukacita, rasa syukur, dan pengakuan akan kehadiran Tuhan. Ibadah yang sakral tidak hanya terbatas pada tempat ibadah, tetapi harus dihayati dan diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, sehingga setiap tindakan dan interaksi mencerminkan penghormatan serta pengabdian kepada Sang Pencipta. Dengan demikian, ibadah menjadi pengalaman yang holistik, mengintegrasikan iman ke dalam rutinitas dan tantangan yang dihadapi, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan. Dalam konteks masa itu, pemazmur menggambarkan suasana ibadah di Bait Suci, di mana ayat keempat berbicara tentang gerbang-Nya dan pelataran-Nya. Relevansinya bagi orang percaya saat ini adalah bahwa orang percaya dapat menerapkan tindakan ini di tempat ibadah modern seperti gereja. Namun, tiga hal krusial yang perlu diperhatikan dalam ibadah sakral adalah sikap hati, tindakan dalam ibadah, dan alasan yang jelas dalam beribadah, yang semuanya berkontribusi pada kedalaman dan keaslian pengalaman ibadah yang sakral itu. Kesimpulan Unsur penyembahan kepada Tuhan yang meliputi akal dan perasaan merupakan aspek integral dalam pengalaman spiritual yang mendalam, di mana keduanya saling melengkapi untuk menciptakan suatu bentuk pengabdian yang holistik. Akal berperan dalam memahami dan merenungkan kebenaran-kebenaran ilahi, seperti sifat-sifat Tuhan, karya-Nya dalam sejarah, dan ajaran-ajaran-Nya yang tertuang dalam kitab suci. Pemahaman ini mendorong individu untuk mengakui kebesaran dan kedaulatan Tuhan, yang pada gilirannya membangkitkan rasa hormat dan kekaguman. Di sisi lain, perasaan atau hati berfungsi sebagai sumber ekspresi yang tulus dalam penyembahan, di mana sukacita, syukur, dan kerinduan untuk dekat dengan Tuhan mengalir dalam setiap ungkapan pujian dan doa. Ketika akal dan perasaan bersatu dalam penyembahan, terciptalah pengalaman yang tidak hanya rasional tetapi juga emosional, yang memperdalam hubungan dengan Tuhan dan menjadikan penyembahan sebagai suatu tindakan yang penuh makna dan transformasi spiritual. Dengan demikian, penyembahan yang sejati adalah manifestasi dari pengakuan intelektual dan keterlibatan emosional yang saling mendukung dalam perjalanan iman. Akhir kata yang penulis sampaikan bahwa. Rasul Paulus mengatakan dalam Kolose 3:15 Auhendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh, dan bersyukurlahAy. Daftar Pustaka