66 PENERAPAN MODEL APPRENTICE TRAINING YANG BERWAWASAN KONSTRUKTIVISME DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN KIMIA Oleh: Mariati MR dan Cut Nova Riska Abstrak: Penelitian ini bertujuan meningkatkan kualitas proses pembelajaran, meningkatkan hasil belajar siswa, dan meningkatkan keterampilan siswa pada konsep larutan asam dan larutan basa melalui penerapan model apprentice training yang berwawasan konstruktivisme di SMA Negeri 4 Kota Banda Aceh. Penelitian tindakan ini melibatkan 38 orang siswa. Data penelitian dikumpulkan dengan tes, uji keterampilan, kuisioner, pedoman observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa, dan dianalisis analisis secara naratif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I, proses pembelajaran berlangsung cukup efektif, rerata hasil belajar siswa mencapai 77,6. sedangkan rerata nilai uji keterampilan siswa sebesar 78,7. Pada siklus 11, proses pembelajaran berlangsung lebih efektif, rerata hasil belajar siswa mencapai 80,1. sedangkan rerata nilai uji keterampilan siswa sebesar 80,3. Hasil analisis respon siswa menunjukkan bahwa siswa yang memiliki persepsi dan sikap positif jauh lebih besar dibandingkan yang memiliki respon negative. Kata Kunci : Model apprentice training, konstruktivisme, hasil belajar, keterampilan. Kedudukan guru dalam proses pembelajaran pada kurikulum ditegaskan bahwa sangatlah strategis dan menentukan. Strategis karena guru akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran, sedangkan bersifat menentukan karena gurulah yang memilih dan memilah bahan pelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi guru dalam upaya mempeluas dan memperdalam pembelajaran yang dibuat dan dipilihnya. Melalui fungsi ini proses pembelajaran yang efektif, efisien, menarik dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dan dicapai oleh setiap guru. Berdasarkan pengamatan, guru di lapangan jarang memanfaatkan fungsi ini secara optimal. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa tugas yang diemban guru sebagai perancang pembelajaran sangat rumit, karena dia berhadapan dengan dua variable di luar kontrolnya, yaitu cakupan isi pelajaran yang telah ditetapkan tedebih dahulu berdasarkan tujuan yang akan dicapai, dan siswa yang membawa seperangkat sikap, kemampuan awal dan karakteristik perseorangan lainnya ke dalam Guru berpeluang memanipulasi strategi atau metode pembelajaran di bawah karakteristik tujuan pembelajaran dan siswa. Hal ini diakui oleh Reigluth . yang menyatakan bahwa pada hakekatnya hanya berpeluang besar untuk dapat dimanipulasi Keberhasilan dan kebermaknaan pada pelajaran kimia sangat terkait dengan kesinergian antara pemaparan konsep di kelas dengan kegiatan praktikum di Di kalangan guru dan terlebih lagi di kalangan siswa, masih sangat banyak ditemui keluhan. Pada guru sendiri kemampuan konsep dan keterampilan dalam melaksanakan kegiatan praktikum. Untuk mengantisipasi dampak ini, maka salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah melalui perbaikan sistem pembelajaran dengan penerapan model apprentice training dalam proses pembelajaran kimia. Model merupakan salah satu bentuk gabungan antara pembelajaran di kelas, praktek dan pengalaman kerja di laboratorium yang dilakukan secara terstruktur dan terintegrasi. Guna membantu guru dalam menciptakan Dra. Mariati MR. Si adalah Dosen Tetap Yayasan Serambi Mekkah Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu. Edisi September 2012. Volume 13 Nomor 2 suasana pembelajaran yang kondusif dan berkualitas maka dicobalakukan penelitian . ction menerapkan model apprentice training. Penelitian ini sifatnya on the spot yaitu berawal dari situasi dan kondisi alamiah . untuk mengatasi permasalahan yang mendongkrak prestasi belajar siswa ke arah yang lebih baik. Metode Penelitian Subyek pada penelitian ini dipilih secara random 1 . kelas siswa pada kelas XI SMA Negeri 4 Banda Aceh. Penelitian ini dilakukan pada konsep larutan asam dan larutan basa yang dibagi menjadi dua siklus besar, yaitu siklus I dan siklus II. Rancangan penelitian tindakan untuk masing-masing siklus mencakup beberapa tahapan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Siklus I Perencanaan. Pada penelitian, menelusuri pengetahuan awal dan keterampilan awal siswa, manyusun dan menyempurnakan LKS yang berorientasi konstruktivisme, dan menyiapkan buku panduan. Tindakan. Pada tahap tindakan I-angkah-langkah: melaksanakan program pembelajaran dan pelatihan, sebelum pelatihan, demonstrasi di hadapan siswa tentang selanjutnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan sendiri di bawah bimbingan dan petunjuk instruktur Observasi/evaluasi. Pada tahap ini langkah-langkah: pembelajaran dan pelatihan dengan lembaran observasi, mengevaluasi pembelajaran, dan respon siswa. Refleksi. Berdasarkan observasi/evaluasi yang dilakukan pada siklus I, maka dilaksanakan refleksi untuk melakukan tindakan pada siklus berikutnya. Siklus II Kegiatan yang dilakukan pada siklus II pada prinsipnya sama dengan pada siklus I, tetapi dengan perbaikan-perbaikan berdasarkan hasil refleksi siklus I. Pengumpulan data Data yang dikumpulkan terdiri dari data awal dan data akhir setelah tindakan pada setiap siklus penelitian, yaitu: Data hasil belajar siswa tentang konsep larutan asam dan larutan basa dikumpulkan dengan teknik pre-test dan post-test yang berbentuk essay Data tingkat keterampilan awal dikumpulkan dengan teknik uji Data mengenai proses pembelajaran dan praktikum di laboratorium Data respon mahasiswa dikumpulkan dengan teknik angket. Analisis data dan indikator penelitian Data yang terkumpul kemudian dideskripsikan secara naratif. Hasil belajar Keberhasilan siswa dalam pembelajaran tercapai jika nilai rata-rata hasil post-test pada setiap siklus mencapai 70. Data tentang tingkat keterampilan mahasiswa dianalisis secara deskriptif. Keberhasilan siswa dalam menguasai keterampilan tercapai jika nilai rata-rata post-test mencapai minimal 70. Analisis terhadap respon siswa dilakukan perhitungan persentase. Hasil Penelitian Materi ajar yang dibelajarkan pada siklus I adalah larutan asam, yang dilakukan dengan pendekatan/teknik bertanya. Siswa dalam proses pembelajaran tampak masih kurang aktif merespon pertanyaan guru. Kemasan LKS yang kurang menarik, dan keterlambatan dalam pendistribusian LKS kepada siswa cukup menyulitkan siswa mengikuti pembelajaran yang dilakukan. Pada kegiatan praktikum, siswa masih lebih banyak menunggu instruksi dari guru, karena pengetahuan awal siswa tentang larutan asam relatif masih rendah. Rerata nilai hasil belajar dan uji keterampilan praktikum yang diperoleh siswa pada siklus I seperti ditunjukkan pada Mariati Mr Dan Cut Nova Riska. Penerapan Model Apprentice Training Yang Berwawasan table berikut. Table 1. Nilai uji keterampilan dan hasil belajar siklus I Pre Aspek Uji Keterampilan 22,8 10,1 Hasil Belajar 39,8 11,0 Dari tabel di atas tampak bahwa rata-rata hasil belajar dan tingkat keterampilan siswa setelah tindakan termasuk dalam kategori baik. Bertolak dari hasil yang diperoleh pada siklus I, maka pelaksanaan pembelajaran dan praktikum pada siklus II diusahakan upaya-upaya perbaikan dengan mendistdbusikan LKS sedini mungkin, dan memberikan bimbingan di saat praktikum yang lebih intensif. Materi Pembahasan Pembelajaran pada konsep larutan asam basa dengan model apprentice training yang berwawasan konstruktivisme diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan keterampilan praktikum siswa di laboratorium. Penelitian tindakan yang dilakukan terhadap siswa menunjukkan bahwa pembelajaran pada materi larutan asam dan larutan basa dengan penerapan model apprentice training baik pada siklus I maupun siklus II telah menunjukkan peningkatan penguasaan konsep. Peningkatan penguasaan konsep-konsep larutan asam dan larutan basa secara ilmiah akan memberikan kontribusi pada peningkatan kemampuan siswa Gain ajar yang diberikan pada siklus II adalah larutan basa. Pada proses pembelajaran, siswa tampak sudah aktif merespon keterlibatan yang cukup banyak. Rerata nilai hasil belajar dan uji keterampilan yang diperoleh siswa pada siklus II ini seperti ditunjukkan pada tabel 2 Table 2. Nilai uji keterampilan dan hasil belajar siklus II Pre Aspek Uji Keterampilan 38,9 9,6 Hasil Belajar 40,1 10,8 Dari tabel di atas tampak bahwa ratarata hasil belajar dan tingkat keterampilan siswa setelah tindakan termasuk dalam kategori baik, namun hasilnya belum optimal karena masih ada siswa yang masih mendapatkan program remedial untuk bias melewati standar KKM yang ditetapkan. Hasil terhadap respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran larutan asam basa diperoleh bahwa persentase siswa dengan jawaban skor 4 dan 5 sebesar 54. 8%, sedangkan jawaban skor 3 sebesar 10%, dan jawaban dengan skor 1 dan 2 sebesar 15,11%. Pos Pos Gain untuk menganalisis permasalahan pada materi larutan asam dan larutan basa. Hal ini teriihat dari hasil belajar yang dicapai siswa pada siklus I termasuk kategori baik dengan rerata 78,7 dan 80,1 pada siklus II. Begitu pula terjadi peningkatan gain score dari 32,8 . ada siklus I) menjadi 47,1 . ada siklus II). Hasil belajar yang dicapai siswa baik pada siklus I maupun pada siklus II sudah memenuhi target penelitian tindakan ini. Namun demikian, hasil yang dicapai belum optimal karena masih ada beberapa siswa yang diremedial untuk mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Lebih lanjut, pelaksanaan praktikurn pada konsep larutan asam larutan basa telah mampu meningkatkan keterampilan siswa bekerja di laboratorium secara lebih merata pada seluruh siswa . iasanya hanya beberapa siswa saja yang aktif dan terampi. Guru memberikan bimbingan dan latihan yang lebih intensif kepada siswa yang memiliki tingkat keterampilan awal yang relatif masih rendah, dan mengelola proses praktikum sedemikian rupa sehingga siswa yang relatif lebih aktif dan lebih terampil mau membantu siswa yang kurang aktif dan kurang terampil, sehingga pada akhimya siswa dapat bekerja secara mandiri. Dari dua siklus yang dilaksanakan tampak Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu. Edisi September 2012. Volume 13 Nomor 2 terjadi peningkatan tingkat keterampilan siswa dalam bekerja, dimana pada siklus I rerata nilai uji keterampilan siswa 79,8 dan pada siklus II 80,1. Begitu pula terjadi peningkatan gain score dari 23,8 . ada siklus . menjadi 40,9 . ada siklus II). Penerapan model apprentice training menunjukkan telah mampu meningkatkan keterampilan siswa bekerja di laboratorium pada praktikum konsep larutan asam dan larutan Hasil empiris ini mendukung pernyataan Kearsley . yang menyatakan bahwa keterampilan bekerja di laboratorium dalam pelaksanaan praktikum suatu konsep tidak bisa diperoleh dengan pembelajaran konsep yang biasa dilakukan lewat kegiatan demonstrasi. Di samping terjadinya peningkatan hasil belajar dan tingkat keterampilan siswa, penerapan model apprentice trandrig juga pembelajaran kimia. Jawaban angket yang diberikan kepada siswa pada akhir dari siklus II menunjukkan bahwa persentase siswa yang memiliki persepsi dan sikap yang positif sebanyak 54,8% lebih besar dibandingkan persentase siswa yang memiliki persepsi dan sikap negative sebanyak 25,1%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sangat bergairah penerapan model apprentice training pada konsep larutan asam dan larutan basa, sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dibandingkan sebelumnya. Kesimpulan A Penerapan model apprentice training yang berwawasan konstruktivisme dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa pada konsep larutan asam dan larutan A Penerapan model apprentice training yang berwawasan konstruktivisme dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam pelaksanaan praktikum pada konsep larutan asam dan larutan basa. A Siswa memiliki respon yang positif terhadap proses pembelajaran kimia dengan penerapan model apprentice Saran A Perlu pendamping, mengingat bahwa proses kegiatan praktikum di laboratorium yang keterampilan siswa secara individual pendamping/instruktur yang rnemadai. Menindaklanjuti respon positif dari siswa, perlu kiranya penerapan model apprentice konstruktivisme ini dilanjutkan pada konsep-konsep lain yang relevan. Daftar Pustaka