Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreativitas Ineu Maryani 1* Ahman 2 Juntika Nurihsan 2 Ilfiandra2 Afiliasi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Jawa Barat. Indonesia (Mahasisw. 2 Afiliasi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Jawa Barat. Indonesia * Korespondensi. aturpisan@gmail. com Tel: 06282123430616 Diterima: 25 Maret 2023. Disetujui: 19 Juli 2023. Diterbitkan: 29 Juli 2923 Abstrak: Pekerjaan sosial pada setting sekolahan bertanggung jawab memberikan layanan secara menyeluruh yang didesain pada program pendidikan, karir, pribadi, dan pengembangan sosial untuk seluruh peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mekanisme teori implisit kreativitas yaitu pengetahuan implisit guru bimbingan dan konseling terhadap profil pribadi kreatif . mplisit knowledge of Creative Perso. dan persepsi sosial guru bimbingan dan konseling terhadap profil pribadi kreatif . ocial perception of the creative perso. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subject pada penelitian ini terdiri dari tiga orang guru bimbingan dan konseling yang bertugas di Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bandung Barat - Jawa Barat. Hasil penelitian ini menunjukkan pengetahuan informan terhadap pribadi kreatif dikenal sebagai individu yang penuh semangat dan religius, pantang menyerah, tekun dan memiliki daya imajinasi tinggi. Sedangkan persepsi sosial informan terhadap orang kreatif mengharapkan bahwa keberadaan orang kreatif senantiasa bermanfaat bagi umat, selalu memberikan solusi bagi persoalan di masyarakat dengan karya yang inovatif, serta peduli terhadap kesejahteraan sosial di lingkungan masyarakat . Hasil penelitian ini bermanfaat bagi strategi peningkatan kreativitas melalui persepsi yang positif terhadap orang kreatif sehingga mendorong individu dalam segala bidang untuk meraih pencapaian kreatif dengan melakukan hal-hal baru, belajar hal baru, dan menyelesaikan sesuatu dengan cara dan inovasi baru. Kata kunci: kreativitas, persepsi sosial, pribadi kreatif Abstract: Social workers in the school setting are responsible for providing overall service program design for educational, career, personal, and social development for all students. This study aims to describe the mechanism of the implicit theory of creativity, namely the guidance and counseling teacher's implicit knowledge of the profile of creative people . mplicit knowledge of Creative Peopl. and the social guidance and counseling teacher's perception of the profile of creative people . ocial perceptions of creative peopl. The method used in this research is qualitative with a case study approach. The subjects in this study consisted of three guidance and counseling teachers who served in junior high schools in West Bandung Regency - West Java. The results of the study show that the participants' knowledge of creative people is known as individuals who are passionate and religious, never give up, diligent and have high imagination. Meanwhile, the perceptions of social participants towards creative people expect that the existence of creative people is always beneficial to the people, always provides solutions to problems in society with innovative work, and cares about social welfare in society. The results of this study are useful for strategies to increase creativity through positive perceptions of creative people so as to encourage individuals in all fields to realize creative endeavors by doing new things, learning new things, and getting things done in new ways and innovations. Keywords: creativity, social perception, creative personality https://ejournal. id/index. php/SosioKonsepsia/article/view/3137 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 Pendahuluan Permasalahan peserta didik saat ini yang semakin komplek membutuhkan Guru bimbingan dan konseling (BK) yang berkomitmen untuk mengembangkan dirinya lebih kreatif dengan kemampuan baru yang dibutuhkan pada masa kini dan masa yang akan datang. Agar mampu memenuhi harapan dan kebutuhan peserta didik maka profesionalitas guru BK merupakan proses adaptasi yang niscaya bagi kebutuhan masyarakat global (Rakhmawati, 2. Karakteristik guru termasuk guru BK sangat berimplikasi terhadap karakter masyarakat pada era disrupsi abad 21 yang senantiasa mengalami perubahan (Kemenristekdikti, 2. Karakteristik dan keterampilan layanan BK pada abad 21 sejalan dengan Kurikulum Merdeka yaitu pendidikan karakter dan kompetensi menjadi focus utama dalam sistem pendidikan Indonesia melalui penguatan profil pelajar Pancasila. Visi pendidikan dalam kurikulum merdeka bertujuan mewujudkan masyarakat Indonesia berdaulat yang maju, memiliki kemandirian, serta membentuk pribadi pelajar Pancasila yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki akhlak mulia, memiliki nalar yang kritis, memiliki pemahaman kebhinekaan global yang bekerja secara kreatif, mandiri serta mampu bekerjasama secara bergotong royong. Berdasarkan karakteristik layanan BK , salah satunya adalah memiliki nalar yang kritis dan memiliki pemahaman kebhinekaan global yang bekerja secara kreatif, maka guru BK yang kreatif mampu bekerja dengan tindakan kreatif yang cerdas serta mampu menghasilkan karya produktif yang dapat terlihat melalui usaha secara terus menerus untuk mengembangkan dirinya, tidak tertutup pada situasi dan pengalaman baru, bertanggung jawab terhadap resiko pekerjaannya, serta mampu beradaptasi pada pengalaman baru yang sebelumnya berbeda (Amabile, 1. Kreativitas terdiri dari pemecahan paradigma konseptual saat mereka memecahkan masalah (Csikszentmihalyi, 2. Definisi ensiklopedia (Encyclopedia Britannic. tentang kreativitas merupakan kemampuan untuk membuat atau mewujudkan hal baru, atau jalan keluar yang baru bagi masalah yang dihadapi, metode atau perangkat baru, baik objek atau bentuk artistik baru (Brougher & Rantanen, 2. Definisi di atas sejalan dengan yang dikemukakan oleh Runco yang mendefinisikan AuKreativitas adalah kapasitas untuk mengembangkan ide, perilaku, atau produk baru dan berguna, dan cenderung dilihat sebagai kapasitas kompleks yang mengandung campuran variabel individu, situasional, dan budaya. Ay (M. Runco & Jaeger, 2. Setidaknya terdapat dua unsur paling krusial dalam definisi standar kreativitas yakni originalitas dan efektivitas. Originalitas atau keaslian merupakan ciri yang menunjukkan keaslian yaitu yang mencirikan novelty, sesuatu yang unik . , dan extra ordinary . Sedangkan sesuatu yang bernilai . merupakan indikasi definsi kreativitas dari unsur Effectivenes atau efektifitas yang bercirikan adanya manfaat . , layak untuk di gunakan . , serta kemampuan menyesuaikan dengan situasi terkini dalam berbagai bidang . (James C. Kaufman, 2010. Rubenson, 1991. Rubenson & Runco, 1995. Sternberg & Lubart, 1. Bagi kepentingan itu guru BK harus mengembangkan potensi diri serta lingkungannya dengan memanfaatkan pengalaman yang merangsang peserta didik, provokatif, dan menantang secara psikologis untuk mendorong pertumbuhan yang kreatif (Gladding, 2008. Hurlock, 1998. Lawrence et , 2. Maka dibutuhkan karakteristik personal guru bimbingan dan konseling yaitu memiliki kesadaran diri dan nilai yang menyadari bahwa dirinya adalah helper (Brammer, 1. Karakteristik personal guru bimbingan dan konseling di atas adalah tuntutan secara langsung dan tidak langsung dapat memberikan layanan yang kreatif pada setiap bidang layanan yang diberikan kepada peserta didik untuk menumbuhkan daya kreatif peserta didik sebagai upaya adaptasi pada perubahan yang (Feist & Feist, 2017. Jung & Lee, 2011. Lawrence, 2. Namun data empirik yang dihimpun pTK-BK Jawa Barat menunjukkan, hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) sebanyak 5941 guru BK pada tahun 2015 baik pada tingkat SMP. SMA/MA/SMK di Jawa Barat, rata-rata kompetensinya sebesar 52,75. Hasil itu berarti rata-rata kompetensi professional guru bimbingan dan konseling masih di bawah rata-rata kompetensi minimum yang di harapkan yaitu sebesar 07,00. Walaupun Uji Kompetensi Guru (UKG) bukan merupakan satu-satunya indikator kualitas guru bimbingan dan konseling, namun UKG-BK khususnya di Jawa Barat dapat dijadikan Ineu Maryani . Ahman. Juntika Nurihsan dan Ilfiandra Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreatifitas SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 sebagai data awal bagi pengembangan pelatihan yang tepat dan dibutuhkan untuk memfasilitasi layanan bimbingan dan konseling yang berkualitas. Sejalan dengan data diatas, hasil penelitian tahun 2021 terkait analisis kinerja guru bimbingan dan konseling pada masa pandemik terhadap 117 Guru BK SMP/SMA/SMK di Indonesia. Kesimpulan hasil penelitiannya bahwa guru BK di Indonesia baik di tingkat SMP/MTS/SMK/SMA/lainnya dapat dikatakan belum maksimal dalam merencanakan program layanan BK di masa pandemi (Artha Manora Manurung. Novita Krisdayanti Tanjung, 2. Hasil penelitian lainnya menunjukkan kinerja professional guru BK masih membutuhkan program peningkatan kinerja profesional pada aspek konseling individual dan konseling kelompok serta pada aspek evaluasi pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling menunjukkan bahwa guru BK mengetahui konsep teoritis evaluasi, namun masih membutuhkan program bagi peningkatan dalam implementasi evaluasinya (Maryani, 2. Menurut data lainnya yang dikumpulkan dari pTK-BK pada tahun 2019, menunjukan masih sangat sedikit guru BK dari seluruh Indonesia yang mampu lolos seleksi untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan di luar negeri, yaitu hanya tujuh orang guru BK SMP, lima orang guru BK SMA, dan tiga orang guru BK SMK diberangkatkan ke Ausie Australia yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja yang dilakukan serta torehan prestasinya. Kemudian data empiris lainnya menunjukan hanya terdapat sembilan belas orang guru bimbingan dan konseling dari seluruh Indonesia yang berhasil lolos sebagai finalis pada ajang olimpiade guru bimbingan dan konseling yang dilaksanakan Kemendikbud pada tahun 2019. Menurut data dari P4TK-BK pada tahun 2019, guru BK di Indonesia berjumlah sebanyak 55. 531, sementara guru BK berprestasi yang mengikuti olimpiade bimbingan dan konseling sebanyak 19 orang dari seluruh Indonesia, maka prosentasinya hanya sebesar 0,034%, merupakan jumlah prosentasi yang sangat kecil. Berdasarkan data empirik di atas, maka ada persoalan mendasar yang terkait dengan kreativitas guru BK yang sangat penting untuk diteliti berdasarkan perspektif teori implisit kreativitas, dengan asumsi bahwa kreativitas guru BK akan meningkat, manakala terdapat persepsi sosial terhadap profil pribadi kreatif yang merupakan bagian dari teori implisit. Teori implisit secara sengaja atau tidak sengaja diterapkan pada saat membuat penilaian tentang karakteristik dan perilaku kreatif orang lain, dan berfungsi sebagai standar untuk menilai perilaku dan penampilan kreatif dirinya (Runco & Johnson, 2. Pengetahuan implisit orang yang kreatif dibentuk oleh persepsi sosial dan merefleksikannya. Persepsi sosial, sebagai salah satu pengaruh sosiokultural, diproyeksikan menjadi pengetahuan implisit (Zhang et al. , 2. Teori implisit kreativitas juga mengacu pada keyakinan individu tentang kreativitas (Karwowski. Mark A. Runco, 2020. Sternberg, 1. Penelitian telah menunjukkan bahwa teori implisit kreativitas sangat penting dalam membentuk perilaku individu dan keputusan kehidupan nyata untuk menjadi kreatif. Beberapa peneliti menekankan mekanisme yang mendasari dua jenis teori implisit salah satunya adalah stereotip orang lain yang kreatif . ocial perception of creative perso. diasosiasikan dengan pencapaian kreatif (Zhang et al. , 2. Pengetahuan implisit dan Persepsi sosial terhadap pribadi kreatif, mengacu pada seperangkat keyakinan tentang atribut pribadi seseorang yang kreatif (Stroebe & Insko, 1. Persepsi sosial merupakan seperangkat keyakinan yang didasarkan pada informasi tentang kelompok atau anggota kelompok (Levy et al. , 1. , maka stereotipe/persepsi terhadap orang kreatif konsekuensinya bisa positif, negatif, atau netral (Dionigi, 2. Gambar 1 menunjukkan konsep hubungan interaktif antara pengetahuan implisit dan persepsi sosial informan terhadap orang-orang kreatif yang membangun keputusan perilaku kreatif. Konsep hubungan interaktif antara pengetahuan implisit terhadap profil pribadi kreatif dan persepsi sosial terhadap profil pribadi kreatif adalah jika orang berpikir positif tentang orang lain yang kreatif, maka mereka cenderung ingin menjadi kreatif sendiri. Dengan cara ini, persepsi sosial tentang orang lain yang kreatif . tereotip positi. juga dapat berfungsi sebagai antesedensi terhadap motivasi dan perilaku yang terkait dengan kreativitas. Ineu Maryani . Ahman. Juntika Nurihsan dan Ilfiandra Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreatifitas SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 Pengetahuan Implisit terhadap Profil Pribadi kreatif: Persepsi Sosial terhadap Pribadi Kreatif Siapakah orang Harapan Terhadap Profil Pribadi kreatif kreatif yang dikenal Seperti apakah karakteristik Profil Pribadi Kreatif Keputusan Perilaku Kreatif Sudut pandang terhadap profil pribadi kreatif Gambar 1. Konsep hubungan interaktif antara persepsi sosial dan pengetahuan terhadap profil prkreatif dan fungsinya bagi keputusan dan perilaku kreatif (Zang, 2. Dengan demikian, stereotip positif dari orang lain yang kreatif dapat dikaitkan dengan motivasi kreatif yang lebih tinggi, yang pada akhirnya berkontribusi pada hasil kreatif termasuk perilaku dan pencapaian kreatif. Maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengetahuan implisit dan persepsi sosial terhadap profil pribadi kreatif pekerja sosial pada seting sekolahan. Metode Metodelogi yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif. Informan pada penelitian ini terdiri dari tiga orang guru bimbingan dan konseling yang dipilih berdasarkan kriteria yang pertama adalah guru bombingan dan konseling yang aktif pada Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling Kabupaten Bandung Barat (MGBK-KBB), yang kedua serta telah bertugas lebih dari 10 tahun, yang ketiga memiliki tingkat kepribadian kreatif pada kategori sedang dan rendah, yang keempat adalah guru bimbingan dan konseling yang bersedia menjadi informan pada penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam . eep intervie. , obervasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul selanjutnya kemudian dianalisis secara kualitatif sehingga di temukan tema-tema yang sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu pengetahuan implisit dan persepsi sosial terhadap profil pribadi Pertanyaan sesi pertama terkait pengetahuan implisit terhadap pribadi kreatif terdiri dari dua pertanyaan, demikian pula sesi kedua terdiri dari dua pertanyaan terkait dengan persepsi sosial terhadap profil pribadi kreatif. Menggunakan pedoman wawancara yang telah dirancang oleh peneliti, pertanyaan diajukan kepada informan pada waktu dan tempat yang berbeda, untuk menghindari gangguan atau pengaruh jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan. Peneliti memulai mengeksplorasi kepada Informan 1 pada tanggal 20 Januari 2023. Kemudian dilanjutkan wawancara eksplorasi pada informan 2 pada tanggal 27 Januari 2023. Sedangkan pada informan 3 pada tanggal 03 Maret 2023, masing-masing dalam dua sesi. Hasil Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap tiga informan, maka disajikan dalam tiga pembahasan yakni karakteristik informan, pengetahuan implisit terhadap profil pribadi kreatif dan persepsi sosial terhadap profil pribadi kreatif Ineu Maryani . Ahman. Juntika Nurihsan dan Ilfiandra Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreatifitas SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 Informan 1 Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 1, maka ditemukan data bahwa informan adalah guru BK berusia 42 tahun berjenis kelamin perempuan. Informan 1 merupakan PNS yang sudah bertugas sebagai guru BK selama 16 tahun dan berpangkat/golongan: Pembina/IVa, pendidikan terakhir yang ditempuhnya adalah magister pendidikan pada prodi Bimbingan dan Konseling UPI Bandung. Selain membaca. Informan 1 memiliki hobi menulis , dan telah melahirkan beberapa karya buku Antologi Puisi . ahaya Cinta, tiga bidadari, entah, di matamu kulihat surga, jejak person. Antologi artikel . Senarai Aksara. Ada apa dengan Pelang. , karya Lainnya adalah video layanan parenting, video layanan informasi, video musikalisasi puisi. Selain itu informan 1 juga aktif dalam organisasi masyarakat (Orma. diantaranya : Ketua bidang tarbiyah Pimpinan Pusat. Ketua tim instruktur. Ketua bidang Garapan SDM. Pengurus komunitas pegiat literasi, anggota komunitas pemudi pecinta Al-qurAoan. Selain itu informan 1 juga menjabat sebagai staf Humas di sekolahnya. Berdasarkan hasil wawancara terkait pengetahuan implisit terhadap profil pribadi kreatif, informan 1 menyebutkan satu nama yang dikenalnya pada ormas yang selama ini aktif beraktivitas di Informan 1 mengatakan: Saya kenal beliau ini seorang wanita yang sangat semangat kemudian orang yang memang tidak pernah lelah untuk selalu berkiprah, leader kita di sebuah komunitas,. Beliau saat ini mempunyai beberapa amanah yang beliau miliki, beliau sebagai pengawas di wilayah Garut di bawah Kemenag. Kemudian beliau juga sebagai salah satu dosen di salah satu perguruan tinggi swasta (Informan 1, 20-01-2. Informan 1 juga menambahkan bahwa profil pribadi yang dikenalnya adalah orang yang memiliki karakteristik religius yang sangat kental. Seperti yang diungkapkan oleh informan 1: Kalau menurut saya ciri karakteristik terbesar dimiliki orang kreatif adalah mensyukuri atas potensi yang mereka miliki Motto hidup sama prinsipnya adalah hayatunallah ibadatun, hidup kita segalanya untuk ibadah. (Informan 1: sesi 1, 20-01-2. Selanjutnya terkait persepsi sosial terhadap profil pribadi kreatif, informan 1 mengatakan Saya berharap bahwa pribadi yang kreatif adalah terus berkiprah, memberikan solusi dalam kehidupan, tanpa lelah, karena yang ditujunya adalah ridho Allah. Saya melihat beliau ini selalu memiiliki ide-ide brilian, dan kemudian menghasilkan produk yang berguna bagi umat kalau kata saya adalah orang-orang yang kreatif itu yaitu orang-orang yang memiliki kreativitas yang tanpa batas, tapi tentu sesuai dengan apa yang Allah takar sesuai aturannya Sedangkan sudut pandang terhadap profil pribadi kreatif, informan 1 mengatakan: Kalau menurut saya gitu ya, nah saya teringat dan saya terinspirasi ketika berbicara orang kreatif saya terinspirasi pada al-qur'an surat al-insyirah ayat 7 yang arti nasnya adalah artinya Aumaka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lainAy Nah bagi saya orang kreatif itu dia betul berkiprah meskipun lelah gitu ya bukan karena niatnya adalah tentu untuk meraih ridho Allah. Saya sangat bersyukur bisa bertemu dan beraktivitas bersama beliau yang kreatif, jadi terinspirasi. (Informan 1: sesi 2, 20-01-2. Informan 2 Berdasarkan wawancara mendalam, maka ditemukan data bahwa informan 2 merupakan guru BK berusia 43 tahun berjenis kelamin laki-laki. Informan 2 merupakan guru BK yang telah bertugas sebagai PNS selama 14 tahun dan berpangkat/golongan: penata tk1/id. Saat ini informan diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Hobinya adalah bersepeda dan memiliki koleksi kendaraan roda dua antik . Sebagai guru BK informan 2 tidak melakukan layanan klasikal tapi lebih banyak menangani masalah yang dialami oleh peserta didik . Pada saat wawancara Saya mengenal yang kreatif, berisial A, seseorang yang pantang menyerah, selalu berusaha menelurkan ide-ide Ketika dihadapkan pada masalah selalu memiliki ide-ide untuk menuntaskan masalahnya, jadi tidak mudah menyerah . nforman 2 : sesi 1, 27-01-2. Ineu Maryani . Ahman. Juntika Nurihsan dan Ilfiandra Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreatifitas SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 Terkait dengan persepsi sosial terkait profil pribadi kreatif. Informan 2 mengatakan: Harapan saya terhadap pribadi kreatif adalah menularkan cara berpikir dan bagaimana mengatasi masalah menjadi peluang. Ketika ada masalah , justru dijadikan sebagai cara baginya untuk mendapatkan ide-ide yang memberi solusi (Informan 2. sesi 2, 27-01-2. Sementara itu , terkait dengan sudut pandang terhadap profil pribadi kreatif , informan 2 mengatakan: Sudut pandang saya adalah bahwa mereka itu bisa menyikapi suatu hal dalam kegiatan mungkin kegiatan sehari-harinya yang justru berbeda dari pemikiran orang-orang pada umumnya sehingga menimbulkan suatu ide ataupun gagasan dari apa yang mereka hadapi tersebut. dan itu patut dicontoh terutama bagi saya ingin seperti itu. Saya juga merasa nyaman aja kalau diskusi, karena orangnya juga ramah, jadi enak ngobrolnya, karena selalu ada jalan keluar (Informan sesi 2, 27-01-2. Informan 3 Berdasarkan wawancara dengan informan 3, maka didapatkan data bahwa informan 3 merupakan guru BK berusia 38 tahun dan sudah bertugas menjadi PNS selama 13 tahun berpangkat/golongan Penata tk 1/id. Memiliki hobi kuliner dan jalan-jalan. Apabila melakukan pekerjaan administrasi sangat rapih. Sebagai guru BK, informan 3 paling banyak melakukan layanan Orang kreatif yang saya kenal adalah teman waktu duduk di sekolah dasar (SD) kelas i, anak pindahan, tapi sudah mengalahkan ranking di kelas, selalu juara 1. Dia jago dalam berbagai mata pelajaran, dan kemampuan menggambarnya luar biasa, ketika dia menggambar kita tidak faham yang dia gambar, apa itu, jadi kita loading melihat oretan gambarnya, tapi Ketika sudah jadi baru kita ngerti. nforman 3: sesi 1, 03-03-2. Terkait karakteristik profil pribadi kreatif diketahui oleh informan 3 dengan mengatakan: Hal yang paling menonjol dari karakternya adalah memiliki daya imajinasi tinggi yang juga tekun, terus menerus menekuni yah, maka sekarang pekerjaanya adalah menata interior pesawat terbang, jadi dia keliling dunia, untuk menaiki berbagai pesawat terbang untuk dilihat interior pesawatnya, sehingga nanti dia melaporkan ke Indonesia. Kalau menurut saya itu pekerjaan yang menarik yah karena berkat kreativitas yang dimilikinya . nforman 3: sesi 1, 03-032. Terkait dengan persepsi sosial terhadap profil pribadi kreatif, informan 3 mengatakan harapan terhadap profil pribadi kreatif sebagai berikut: Dengan pekerjaan yang mapan, saya berharap orang kreatif adalah orang yang peduli terhadap lingkungannya, bisa berbagi, bahkan mungkin memberi lapangan pekerjaan yah, artinya memberi manfaat yah bagi kesejahteraan di lingkungannya, tidak hanya buat dirinya sendiri dan keluarga, karena memang keluarganya saat ini banyak dibantu oleh dia. nforman 3, sesi 2, 03-03-2. Sementara sudut pandang terhadap pribadi kreatif, informan 3 mengatakan: Orang kreatif yang dikenal sama saya dalam hidupnya, dia selalu menyukai tantangan gitu ya jadi dia ingin sesuatu yang ada itu selalu dirasa belum cukup harus mencari sesuatu yang baru harus menciptakan sesuatu yang baru atau ada yang sudah ada tapi di make over lagi supaya tidak membosankan produk apa tapi dia harus ditambah sedikit lagi misalnya kenapa dulu pesawat enggak enggak bisa wi-fi kan, bahkan ada mode pesawat kayak gitu, tapi karena ada kreatifitas orang-orang terkait teknologi pesawat, sehingga sekarang kan terjadi perubahan, ternyata di pesawat sekarang pun bisa pakai wifi . Secara pribadi saya kagum aja memiliki teman yang kreatif dan sukses, merasa ikut berbangga juga, dan semoga teru bermanfaat . nforman 3, sesi 2, 03-03-2. Ineu Maryani . Ahman. Juntika Nurihsan dan Ilfiandra Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreatifitas SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 Pembahasan Berdasarkan hasil wawancara, ketiga informan pada penelitian ini adalah guru BK yang memiliki pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun, berdasarkan data empirik menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengalaman mengajar guru dengan kreativitas. Pengalaman Mengajar dan Kreativitas Guru sangat penting dalam memelihara kreativitas (Kinai, 2. Banyak potensi terwujud jika guru mengenali perilaku kreatif dan mendorongnya. Dalam studi lintas budaya tentang produktivitas kreatif oleh Alphaugh dan Birren . memberikan tes kreativitas kepada 111 guru sekolah berusia antara 22 dan 83 tahun. Temuan mereka mendukung gagasan bahwa kreativitas tidak menurun seiring bertambahnya usia (Kinai, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan, menunjukan bahwa pengetahuan implisit terhadap profil pribadi kreatif adalah orang yang dekat dengan kehidupan mereka. Melihat secara langsung aktivitas orang kreatif yang dikenalnya dan berinteraksi dengannya, sehingga informan lebih dapat memaparkan keadaan yang objektif, mengetahui mereka sebagai orang yang istimewa. Informan juga menerima hasil karya yang dilahirkan oleh orang kreatif yang dikenalnya, baik berupa ide-ide dan hasil karya berupa solusi yang dibutuhkan dalam kehidupan yang mereka alami, serta bentuk kekaguman terhadap prestasi yang telah mereka raih dalam kehidupan karir orang-orang Semua informan menyebutkan karakteristik profil pribadi kreatif menurut pandangannya masing-masing. Selanjutnya persepsi sosial terhadap profil pribadi kreatif semua informan menyampaikan harapan -harapannya dan sikap terhadap profil pribadi kreatif. Pengetahuan implisit terhadap profil pribadi kreatif Siapakah orang kreatif? Informan 1 adalah guru BK perempuan dan informan 2 merupakan guru BK laki-laki, serta informan 3 adalah guru BK perempuan. Informan 1 menjawab bahwa profil pribadi kreatif yang dikenalnya juga berjenis kelamin perempuan berinisial Z, begitupula informan2, menyebutkan bahwa profil pribadi kreatif yang dikenalnya adalah berjenis kelamin laki-laki berinisial A . Temuan ini menguatkan data empiris terkait orang kreatif berdasarkan gender. Datanya mengungkapkan pola yang jelas antara siswa laki-laki dan siswa perempuan relatif sama terhadap ekspektasi gender terhadap siswa kreatif. Siswa laki-laki mengharapkan siswa kreatif adalah siswa laki-laki pada tingkat 60,3%. sedangkan siswa perempuan mengharapkan siswa yang kreatif adalah perempuan pada tingkat 53,3% (Li et al. , 2. Selain itu, perbedaan gender dari kekaguman terhadap orang lain tidak hanya terkait dengan model, tetapi juga cerminan dari ideologi peran gender mereka (Estrada et al. , 2. Anak perempuan cenderung memiliki citra yang lebih positif . pada orang kreatif yang dibayangkan dari jenis kelaminnya sendiri (Hopp et al. , 2. Sementara informan 3 mengidentifkasi orang yang dikenalnya sebagai profil pribadi kreatif adalah berjenis kelamin laki-laki. Hal ini menguatkan penelitian lainnya yang mengeksplorasi kombinasi jenis kelamin diri . erempuan atau laki-lak. dan ekspektasi gender dari seorang siswa kreatif . erempuan atau laki-laki yang kreati. yang mana remaja Jerman menunjukkan tingkat kekaguman tertinggi . tau terenda. (Zhang et al. , 2. Hipotesis eksploratif yang dihasilkan adalah bahwa ada perbedaan gender dalam empat kelompok . aitu, anak laki-laki mengharapkan siswa kreatif adalah anak laki-laki, anak perempuan mengharapkan siswa kreatif adalah perempuan, anak laki-laki mengharapkan siswa kreatif adalah perempuan, anak perempuan mengharapkan siswa kreatif adalah anak laki-laki (Zhang et al. , 2. Karakteristik pribadi kreatif Pernyataan informan 1 menunjukkan bahwa karakteristik orang kreatif berhubungan dengan Hal ini menarik karena apabila dicermati beberapa studi selalu ada kontroversi mengenai hubungan agama dan kreativitas . Literatur yang ada mendukung dua sudut pandang yang berlawanan: agama menghalangi kreativitas dan agama memfasilitasi kreativitas (Liu et al. , 2. Beberapa ahli yang bergelut dengan bisnis/manajemen dan kreativitas berpendapat bahwa agama Ineu Maryani . Ahman. Juntika Nurihsan dan Ilfiandra Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreatifitas SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 mengharuskan orang untuk mengikuti tradisi dan tidak menganjurkan orang untuk merangkul keragaman (Okulicz-Kozaryn, 2. Dengan demikian sebagian besar pemeluk agama cenderung menjadi individu konservatif yang cenderung kurang kreatif (Dollinger, 2. Religiusitas telah ditemukan berhubungan positif dengan konformitas yang mengganggu kreativitas, tetapi berhubungan negatif dengan pengarahan diri yang kondusif untuk kreativitas (Schwartz & Huismans. Mengingat hal di atas, tampaknya masuk akal untuk berasumsi bahwa agama menghalangi Namun, ada pendapat lain bahwa sifat-sifat khusus pemeluk agama . isalnya, pengendalian diri, jujur, semangat kerja sama, dan kerja kera. yang dipupuk oleh agama dapat berkontribusi pada kreativitas (Assouad & Parboteeah, 2. Dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan tersebut pada pemeluknya, agama dapat membangun lingkungan dan jaringan yang positif bagi kreativitas dan kewirausahaan (Assouad & Parboteeah, 2018. Dana, 2. Day . lebih lanjut mengusulkan bahwa agama dapat memfasilitasi kreativitas melalui mekanisme yang berbeda. Pertama orang dalam kegiatan keagamaan dapat belajar melihat pengalaman mereka dengan cara baru. Kedua, keyakinan agama dapat memperkaya skema pengikut yang menyediakan lebih banyak cara untuk mengatur Ketiga, kegiatan keagamaan dapat memfasilitasi lokus kontrol internal . nternal loci of contro. , yang terkait dengan pemecahan masalah yang lebih efektif (Day, 2. Data empiris lainnya menunjukkan hubungan positif antara moralitas dan kreativitas, memberikan bukti tidak langsung bahwa agama memfasilitasi kreativitas. Artinya, agama memupuk moralitas, dan moralitas secara positif diasosiasikan dengan kreativitas (Shen et al. , 2. Sedangkan jawaban informan 2 berkaitan dengan karakteristik orang kreatif, selain sebagai pemimpin, juga lebih menekankan kepada pandangan diri orang kreatif yang positif ketika berhubungan dengan masalah, ini dapat berarti bahwa orang kreatif, tidak menghindari masalah, tetapi berupaya mencari jalan keluar dengan menghasilkan produk kreatif yang dapat berupa pengembangan yang sudah ada. Hal ini sejalan dengan pandangan ahli terhadap hasil karya orang kreatif (Munandar, 2. Beberapa individu kreatif berprestasi tinggi, produk kreativitasnya dapat berbentuk ilmiah, artistik, dan kepemimpinan yang dihargai secara sosial. mereka berinovasi dalam sistem dengan cara yang dapat diterima (Davis, 1. Kreativitas dapat juga dilihat sebagai proses mental yang menghasilkan konsep atau ide yang baru dan bermanfaat, atau bisa juga berupa hubungan inovatif antara ide atau konsep yang ada (Houran & Ference, 2. Pernyataan informan 2 menegaskan pentingnya kreativitas profil pribadi kreatif karena kemampuannya untuk menghasilkan ide-ide baru dan tepat untuk memecahkan masalah yang kompleks, untuk meningkatkan efisiensi serta untuk meningkatkan keseluruhan efektivitas (DiLiello & Houghton, 2. Kreativitas mencakup dua prinsip 'penemuan masalah', dan 'pemecahan masalah', dan kreativitas membutuhkan beberapa keterampilan dan bakat yang terus diasah. Individu dapat memiliki kreativitas yang tinggi jika memiliki ciri-ciri kepribadian orang-orang kreatif. Selain itu, keahlian adalah dianggap sebagai dasar dari karya kreatif, dan oleh karena itu orang-orang kreatif tidak menciptakan ide-ide baru dari ketiadaan, tetapi ide-ide baru itu dimulai dari pengetahuan yang relevan dengan domain dan seperangkat keterampilan yang dikembangkan (Simonton, 2. Sementara informan 3 menyebutkan bahwa profil pribadi kreatif adalah orang yang memiliki daya imajinasi tinggi dan tekun. Hal ini menguatkan bahwa Individu dapat memiliki kreativitas yang tinggi jika memiliki ciri-ciri kepribadian orang-orang kreatif. Misalnya, motivasi intrinsik individu meliputi kepuasan rasa ingin tahu, kesenangan, tantangan pribadi, ekspresi imajinasi diri dan minat (Amabile, 1993, 1. Teori implisit kreativitas mencakup kepercayaan atau konsepsi bersama orangorang tentang semua aktivitas kreatif dan kecenderungannya, termasuk tidak terbatas pada kemampuan untuk mengintegrasikan ide-ide dengan cara baru, selera estetika, keterampilan pengambilan keputusan, karakteristik kepribadian seperti menjadi tidak konvensional dan imajinatif, serta sikap dan perilaku dalam mempertanyakan norma dan asumsi sosial (Sternberg, 1. Keyakinan seperti itu dapat bervariasi di seluruh kelompok budaya dan sosial yang berbeda. Pandangan semua informan menyebutkan karakteristik orang kreatif digunakan sebagai isyarat sosial untuk membentuk ekspektasi, penilaian, dan sikap yang dipegang orang lain terhadap mereka. Ineu Maryani . Ahman. Juntika Nurihsan dan Ilfiandra Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreatifitas SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 Menurut Aronson. Wilson, & Akert . proses mengidentifikasi dan memanfaatkan isyarat sosial untuk membuat referensi tentang orang lain disebut persepsi sosial (Zhang et al. , 2. Persepsi karakteristik orang kreatif bagi ketiga informan, merupakan kombinasi dari keyakinan batin mereka tentang karakteristik individu kreatif yang menjadi potret bagi informan. Keberadaan model . ole mode. berupa jumlah orang-orang kreatif pada suatu masa merupakan faktor positif bagi lahirnya orang-orang kreatif lainnya. Ada bukti bukti kuat bahwa periode produktif kreativitas merupakan fungsi dari kehadiran orang-orang terdahulu yang mempengaruhi perkembangan kreativitas orangorang yang datang kemudian. Pengaruh ini terjadi terutama pada tahap formatif dalam perkembangan kreativitas individu (Simonton et al. , 2. Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Harapan terhadap profil pribadi kreatif Berdasarkan hasil wawancara, maka ditemukan data bahwa informan 1 berharap bahwa individu yang kreatif yang dikenalnya adalah tetap berkiprah, dan terus semangat berbagi dan bermanfaat bagi umat, hal ini menjadi bukti bahwa Progresifitas perubahan dalam berbagai kehidupan dan kebudayaan adalah berkat kreativitas manusia dengan berbagai tingkat dan kualitasnya, yang sifatnya kontruktif (D. Treffinger, 1. Melalui kreativitas yang dimilikinya, menusia memiliki bobot dan makna dalam kehidupan. Secara mikro kreativitas diwujudkan dalam produk-produk kreatif individu, dan secara makro,kreativitas dimanifestasikan dalam kebudayaan dan peradaban. Melalui kreativitas manusia memberikan makna terhadap realitas alam semesta dan mengembangkan corak kehidupannya di dunia. Melalui kreativitas memungkinkan manusia secara konstruktif meningkatkan kualitas kehidupannya, melalui interaksi dengan lingkungan fisik, sosial, intelektual dan spiritual (Supriadi, 1. Sedangkan menurut informan 2, harapannya terhadap individu kreatif adalah orang yang senantiasa memberi solusi dan menjadikan setiap masalah adalah kesempatan lahirnya inovasi-inovasi baru, hal ini menguatkan pendapat ahli bahwa kreativitas pada seseorang didayagunakan untuk mengatasi berbagai persoalan dan masalah yang ada manakala berinteraksi dengan lingkungan dan mengupayakan pemecahannya sehingga secara kuat dapat mengadaptasi diri (Munandar, 2. Sementara informan 3 menyebutkan harapan terhadap individu kreatif adalah yang peduli terhadap lingkungannya, yaitu mampu memberikan sumbangan pemikiran dan juga modal bagi kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Pernyataan harapan semua informan terhadap orang kreatif merujuk pada fenomena bahwa kreativitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Kreativitas adalah keniscayaan dalam kehidupan. Kreativitas orang kreatif diharapkan memberikan isi, corak dan nuansa serta makna bagi kehidupan manusia yang positif. Berdasarkan kontribusinya bagi peningkatan kualitas kehidupan manusia yang nyata dalam kebudayaan dan peradaban oleh karena tidak ada seorangpun yang sama sekali tidak memiliki kreativitas (D. Treffinger, 1. Perubahan yang progresif dalam kehidupan dan kebudayaan terjadi berkat kreativitas individu dengan beragam tingkat dan kualitasnya (Supriadi, 1989, 1. Sudut pandang terhadap profil pribadi kreatif Adapun sikap informan 1 terhadap individu kreatif yang menyebutkan sangat bersyukur dapat bertemu dan berinteraksi langsung dengan seseorang yang kreatif dan menjadi terinspirasi. Sedangkan informan 2 menyebutkan sikapnya terhadap orang yang dikenalnya kreatif, adalah keinginan untuk memiliki kemampuan menangani persoalan menjadi peluang dan menurutnya bahwa pribadi kreatif patut menjadi contoh, sedangkan bagi informan 3 sikapnya terhadap individu yang kreatif merasa kagum dan bangga memiliki teman yang kreatif dan sukses menata karirnya. Sikap ketiga informan terhadap pribadi kreatif yang positif dapat difahami karena melalui kreativitas dan inovasi individu yang kreatif memberikan makna terhadap realitas alam semesta dan mengembangkan corak kehidupan di bumi (Supriadi, 1989, 1. Ineu Maryani . Ahman. Juntika Nurihsan dan Ilfiandra Pekerjaan Sosial Pada Seting Sekolahan: Persepsi Sosial Terhadap Profil Pribadi Kreatif Dalam Perspektif Teori Implisit Kreatifitas SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 12. No 2 . : hal 51. - 62 Sejalan dengan hal itu, terdapat tiga manfaat yang konstruktif, yaitu memungkinkan individu atau masyarakat untuk . memberikan respons yang adekuat terhadap situasi-situasi baru. mengadakan reaksi-reaksi yang adekuat terhadap tantangan-tantangan lama. mengorganisasikan situasi-situasi baru dan memberikan respon yang adekuat kepadanya. Dengan kata lain kreativitas memungkinkan manusia untuk secara konsruktif meningkatkan kualitas kehidupannya, melalui interaksi dengan lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan spiritual (Supriadi, 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa semua semua informan umumnya memiliki pengetahuan implisit terhadap profil pribadi kreatif dengan menyebutkan profil pribadi kreatif adalah orang-orang yang tidak jauh dalam kehidupan mereka, artinya semua informan secara langsung berinteraksi dengan mereka. Semua informan mengenal ciri ciri karakteristik orang kreatif sebagai orang yang religius dan tulus berkiprah karena ibadah. Kemudian simpulan karakterisktik lainnya adalah orang yang pantang menyerah serta memiliki ketekunan dengan imajinasi yang tinggi untuk berkarya kreatif. Sementara itu semua informan juga memiliki persepsi sosial terhadap pribadi kreatif dengan menyebutkan harapan, bahwa profil pribadi kreatif adalah orang yang senantiasa bermanfaat bagi umat dan memberi solusi terhadap berbagai persoalan -persoalan dalam masyarakat yang membutuhkan penanganan secara inovatif. Selain itu harapan terhadap profil probadi kreatif adalah selalu peduli terhadap kesejahteraan lingkungan dengan menciptakan lapangan pekerjaan atau bantuan modal agar masyarakat sekitar juga sejahtera. Sudut pandang semua informan terhadap profil pribadi kreatif menunjukkan sudut pandang yang positif, dan semua informan memiliki keinginan untuk mengidentifikasi dan berkiprah seperti profl pribadi kreatif yang dikenalnya. Berdasarkan teori implisit yang menyatakan bahwa persepsi yang positif terhadap profil pribadi kreatif maka akan membentuk kreativitas dengan sendirinya. Maka harapan , bahwa akan muncul keputusan dalam kehidupan informan untuk memiliki karakteristik orang-orang kreatif yaitu religius dan tulus, memiliki karakter pantang menyerah, kemudian juga tekun dan memiliki imajinasi yang Kemudian informan juga diharapkan memiliki keinginan untuk senantiasa bermanfaat bagi umat, serta memiliki keinginan untuk berupaya bahwa masalah yang dihadapi menjadi peluang bagi lahirnya inovasi-inovasi baru terutama bagi layanan bimbingan dan konseling. Terakhir bahwa informan diharapkan memberikan manfaat tidak hanya buat dirinya sendiri, juga bagi masyarakat di lingkungannya seperti harapan informan terhadap profil pribadi kreatif yang dikenalnya. Informan juga diharapkan secara umum melakukan inovasi-inovasi yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya bagi dunia pendidikan . Saran Kelemahan penelitian ini adalah tidak menyertakan variable lainnya terkait teori implisit kreativitas yaitu pola pikir kreatif dan motivasi kreatif yang turut serta membangun pencapaian kreatif, sehingga disarankan adanya penelitian selanjutnya untuk mengetahui pola pikir kreatif dan motivasi kreatif sebagai mediasi bagi pencapaian kreativitas. Namun demikian penelitian ini memberikan kontribusi bagi kajian teori implisit kreativitas yang penting bagi pelatihan dan peningkatan Ucapan terimakasih: Kami sampaikan kepada guru -guru BK yang bersedia menjadi informan pada penelitian ini. Selanjutnya ucapan terima kasih juga dihaturkan kepada dosen-dosen pembimbing atas segala bimbingan, sumbangan pemikiran sehingga tulisan ini dapat terwujud. Daftar Pustaka