Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember ALAMTARA. JSI by IAI TABAH is licensed under a Creative CommonsAttribution- NonCommercial 4. 0 International License Naskah masuk 06-Desember-2024 Direvisi Diterima Diterbitkan 11- Desember20- Desember30- Desember2024 DOI : https://doi. org/10. 58518/alamtara. Hadis tentang Etika Komunikasi dalam Keluarga: Panduan untuk Komunikasi antar Anak dan Penanaman Akhlak Hafsah Juni Batubara Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal. Panyabungan. Indonesia E-mail: hafsahjunibatubara92@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hadis-hadis yang berkaitan dengan etika komunikasi dalam keluarga, khususnya mengenai komunikasi antar anak-anak dan penanaman akhlak dalam pendidikan anak-anak. Etika komunikasi dalam keluarga merupakan aspek penting dalam membangun hubungan yang harmonis dan saling menghormati, terutama dalam interaksi antara orang tua dan anak. Hadis-hadis yang terkait dengan topik ini memberikan panduan moral dan prinsip komunikasi yang baik dalam konteks keluarga, dengan penekanan pada pembentukan akhlak anak. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, di mana data diperoleh melalui pengkajian dan analisis terhadap sumber-sumber literatur berupa buku, artikel, dan hadis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis-hadis Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk tentang pentingnya kasih sayang, kelembutan, dan komunikasi yang efektif dalam mendidik anak, serta penanaman nilai-nilai akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, hadishadis tersebut mengajarkan tentang pentingnya sikap sabar, adil, dan menghargai hak anak sebagai individu yang juga memiliki perasaan dan Melalui pendidikan yang berbasis pada etika komunikasi yang baik, orang tua dapat membentuk karakter anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia. Penanaman akhlak ini dimulai sejak dini dan memerlukan pendekatan yang konsisten serta penuh kasih sayang. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam bagi orang tua dan pendidik mengenai pentingnya komunikasi yang efektif dalam keluarga dan bagaimana cara menanamkan nilai-nilai akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam pada anak-anak. 229 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Kata Kunci: Etika Komunikasi. Keluarga. Hadis. Penanaman Akhlak. Pendidikan Anak ABSTRACT: This research aims to examine hadiths related to communication ethics in the family, especially regarding communication between children and the cultivation of morals in children's education. Communication ethics in the family is an important aspect in building harmonious and mutually respectful relationships, especially in interactions between parents and children. Hadiths related to this topic provide moral guidance and principles of good communication in the family context, with an emphasis on forming children's morals. This research uses a library study method, where data is obtained through study and analysis of relevant literary sources in the form of books, articles and The research results show that the hadiths of the Prophet Muhammad SAW provide guidance on the importance of love, gentleness and effective communication in educating children, as well as instilling moral values that are in accordance with Islamic Apart from that, these hadiths teach about the importance of being patient, fair and respecting children's rights as individuals who also have feelings and needs. Through education based on good communication ethics, parents can shape children's character who is not only intelligent, but also has noble morals. The cultivation of these morals starts from an early age and requires a consistent and loving approach. It is hoped that this research can provide deeper insight for parents and educators regarding the importance of effective communication within the family and how to instill moral values in accordance with Islamic teachings in children. Keywords: Communication Ethics. Family. Hadith. Moral Cultivation. Children's Education PENDAHULUAN Keluarga adalah unit sosial terkecil yang terdiri dari suami istri dan anakanaknya, ayah dan anaknya, ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah daging dalam garis lurus, baik ke atas maupun ke bawah, hingga derajat ketiga1 Untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anggota keluarga dan memberikan ruang bagi mereka untuk saling berhubungan, kehidupan keluarga berinteraksi dengan masyarakat luas. (Rustina 2. Dalam proses sosialisasi, interaksi, dan komunikasi antaranggota keluarga, prinsip-prinsip kejujuran, kepercayaan, dan kesetiaan menjadi dasar penting agar keluarga tetap kuat dan utuh, meskipun menghadapi tantangan atau kesulitan dalam hidup, yang pada akhirnya dapat diatasi bersama dengan baik. (Soelaeman 1. Setiap keluarga pasti menghadapi tantangan atau masalahnya masingmasing. Masalah-masalah yang sering muncul dalam keluarga, seperti masalah Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Bab I Pasal 1 (Jakarta:Indonesia Legal Center Publishing, 2. , h. 230 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember anak, perselingkuhan, atau perceraian, seringkali berawal dari kurangnya komunikasi yang efektif. Seperti kurangnya komunikasi yang terbangun dengan baik akibat dari ketidakharmonisan hubungan dalam keluarga, yang memunculkan sikap tidak percaya antara suami dan istri, yang disebabkan oleh kurangnya kejujuran dan sikap saling terbuka dari pasangan sehingga terjadi perselingkuhan dan perceraian. (Siregar et al. Keluarga ibarat sebuah bangunan yang harus memiliki fondasi yang kokoh dan kuat, tidak mudah rapuh. Jika terjadi masalah, sebaiknya segera diselesaikan melalui komunikasi yang baik, karena banyak masalah dalam keluarga bermula dari terhambatnya proses komunikasi yang lancar. Jika anggota keluarga saling memahami dan terbuka satu sama lain untuk menyelesaikan berbagai masalah, komunikasi akan berjalan dengan baik. Untuk menjaga keharmonisan keluarga, pemahaman bersama sangat penting, dan keterbukaan sangat penting untuk mengatasi masalah dengan mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan. Oleh karena itu, komunikasi yang baik dalam keluarga sangat penting untuk mempertahankan hubungan yang baik. Hubungan antara kakak dan adik tidak dapat dipisahkan dari komunikasi yang baik dan kekerabatan yang erat. Hubungan yang didasari oleh rasa saling hormat memungkinkan mereka untuk saling memahami pesan yang disampaikan dalam komunikasi. Dalam sebuah keluarga, kakak dan adik berkembang bersama melalui pola pikir yang memungkinkan komunikasi berjalan lancar tanpa adanya Kakak dan adik seharusnya selalu siap untuk saling membantu, terutama ketika salah satu di antaranya menghadapi kesulitan dalam berkomunikasi. Selain itu, keduanya juga perlu saling mengingatkan untuk menjaga tali silaturahmi. Tentu saja, hubungan antara kakak dan adik tidak selalu mulus. muncul masalah yang dapat memicu konflik, seperti ketika kakak tidak memahami maksud dari komunikasi adiknya, atau sebaliknya, adik tidak bisa mengerti tindakan kakaknya karena komunikasi yang kurang jelas. Di era sekarang, dengan berkembangnya media komunikasi, hubungan antara kakak dan adik sering kali terhambat karena kurangnya interaksi langsung. Mereka jarang berbincang, sehingga kekerabatan yang seharusnya terjalin dengan baik, baik di dalam rumah maupun di luar rumah, menjadi terganggu. Hal ini sering kali disebabkan oleh penggunaan media komunikasi yang lebih fokus pada menerima kabar atau mengirim pesan, yang seringkali membuat pesan yang ingin disampaikan tidak sampai dengan jelas, karena perhatian sudah terbagi. Namun, penting untuk diingat bahwa hubungan kakak dan adik juga mengajarkan nilai-nilai penting, seperti sikap adil, tidak pilih kasih, berbakti kepada orang tua, berperilaku baik, serta memperoleh berkah dan pahala. Meskipun ada masalah dalam hubungan kakak dan adik, seperti komunikasi yang tidak tersampaikan, sibuk dengan urusan pribadi, sikap egois, atau salah paham yang menyebabkan ketegangan, penting untuk menyelesaikan masalah tersebut. 231 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Ketika komunikasi terhenti, silaturahmi pun bisa terputus, sehingga perlu ada pihak yang memulai komunikasi dengan tujuan yang jelas agar hubungan bisa kembali berjalan lancar. Ada beberapa cara untuk mempererat hubungan antara kakak dan adik, di antaranya dengan menghindari sikap sombong dan menjaga ucapan satu sama Meskipun terkadang kakak atau adik bisa membuat kesal, mereka tetap merupakan bagian dari ikatan keluarga yang sangat berharga. Menjaga hubungan yang baik dengan kakak atau adik adalah bentuk penghargaan dan balasan atas kebaikan yang telah mereka berikan di masa lalu. Memang, mungkin ada saat-saat di mana kakak atau adik tampak menyebalkan, namun seiring bertambahnya usia, mereka akan menjadi sahabat sejati yang paling mengerti kita. Di saat kita merasa sulit untuk mempercayai orang lain, saudara kandunglah yang bisa diandalkan sebagai pendengar yang setia dan penasihat yang bijaksana. Inilah makna sejati dari hubungan persaudaraan antara kakak dan adik. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. untuk mengkaji dan menganalisis teori-teori, konsep, dan temuan-temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik yang dibahas. (Sari and Asmendri 2. Metode studi pustaka digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menyintesis informasi yang terkandung dalam berbagai sumber sekunder yang terkait dengan permasalahan penelitian. (Sari and Asmendri 2. Berdasarkan kajian pustaka yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa . ingkas hasil dari kajian pustak. Temuan-temuan dalam literatur menunjukkan adanya tren tertentu, perdebatan di kalangan peneliti, dan ruang untuk penelitian lebih lanjut mengenai . ebutkan topi. Studi pustaka ini juga mengidentifikasi sejumlah kekosongan dalam penelitian yang ada, yang nantinya akan menjadi dasar untuk pengembangan penelitian ini lebih lanjut. HASIL DAN PEMBAHASAN Komunikasi dalam Keluarga : Perspektif Islam Interaksi sosial adalah proses pertukaran dan pemaknaan pesan antara individu, baik dalam diri mereka sendiri maupun antar individu atau (Adriansyah and Ananda 2. Interaksi sosial ini dapat terjadi secara langsung . ecara langsun. maupun tidak langsung . ecara tidak langsun. 2 Komunikasi dalam keluarga adalah proses berbicara antara anggota keluarga lainnya tentang ide, keinginan, atau perasaan. (Kusaini 2. Komunikasi dapat 2 Rachmat Kriyantono. Pengantar Lengkap lmu Komunikasi: Filsafat dan Etika Ilmunya serta Perspektif Islam (Cet. Jakarta: Prenadamedia Group, 2. , h. 232 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember dilakukan dengan kata-kata, gerakan, isyarat, atau simbol lain yang dapat dikomunikasikan baik secara verbal maupun non-verbal. (Putra and Purba 2. Tujuan utama komunikasi keluarga adalah untuk saling memahami dan memahami satu sama lain. Keluarga harus berkomunikasi lebih sering dan lebih intensif. Orang tua harus aktif mengajak anak mereka berkomunikasi, dan sebaliknya. Kurang komunikasi yang baik menyebabkan banyak masalah keluarga, dan orang tua harus menyadari hal ini. Setiap anggota keluarga memberikan stimulus dan respons terhadap satu sama lain melalui proses interaksi dan komunikasi yang saling mempengaruhi. (Gunadarma et al. Gambaran tentang masingmasing pihak terbentuk melalui interaksi antara orang tua dan anak. Anak akan memiliki persepsi tertentu mengenai orangtuanya, dan persepsi ini akan membentuk sikap-sikap tertentu terhadap mereka. (Martiastuti 2. Begitu pula, orangtua akan membentuk gambaran atau persepsi terhadap anak, yang kemudian menghasilkan sikap tertentu. Dalam konteks ini, anak menjadi objek sikap bagi orangtua, dan orangtua menjadi objek sikap bagi anak. (Tokoro Dengan demikian, komunikasi yang efektif berperan penting dalam membentuk sikap dan hubungan antara orangtua dan anak. (Ngalimun 2. Anak-anak cenderung memiliki sikap yang berbeda terhadap Ada anak-anak yang melihat orangtuanya sebagai segalanya, sementara ada anak-anak yang melihat orangtuanya sebagai orang yang keras, kejam, pelit, kasar, dan tidak memahami keinginan mereka. Anak-anak yang melihat orangtuanya sebagai teladan akan cenderung meniru dan mencontoh perilaku mereka. Sebaliknya, anak-anak yang melihat orangtuanya dengan pandangan negatif akan cenderung menjauh dan menarik diri, memilih untuk Oleh karena itu, sikap anak terhadap orang tua adalah hasil dari proses interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam keluarga. (Maria 2. Oleh karena itu, komunikasi dan interaksi yang baik dalam keluarga mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan karakter anak. (Situmorang et al. Sangat penting untuk memiliki pola komunikasi yang efektif ketika anak dan orang tua berbicara satu sama lain. Pola ini mencakup penyampaian pesan yang sesuai dengan situasi dan keadaan saat ini, serta pembingkaian pesan agar lebih mudah dipahami. Selain itu, pola komunikasi memberikan konteks yang diperlukan untuk memahami dan menginterpretasikan tindakan atau perilaku, baik secara individu, kelompok, maupun dalam konteks organisasi (Susiana and Susanti 2. Pola ini berguna untuk mengidentifikasi dan mengakses perilaku komunikasi dalam suatu sistem. Saat komunikasi terjadi dalam lingkungan keluarga, pola komunikasi yang digunakan harus sesuai dengan keadaan dan anggota keluarga. (Baihaqi. Suminar, and Prasanti 2. 233 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Tiga komponen membentuk gaya komunikasi individu, yaitu: Proses sejarah atau pengalaman sebelumnya yang menghasilkan kebiasaan yang akhirnya menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Kapasitas diri, yang dipengaruhi oleh pendidikan, pelatihan, dan pengalaman hidup. Tujuan dan maksud dari aktivitas komunikasi, yang menentukan penyesuaian pesan, teknik, dan media yang digunakan. (MaAoarif 2. Orang tua, jika pola komunikasi ini diterapkan dalam keluarga, harus mengajarkan anak-anak mereka kebiasaan yang positif agar dapat membentuk kepribadian mereka dengan baik. Selain itu, orang tua juga harus memastikan bahwa anak-anak mendapat pendidikan yang baik, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat, dan memastikan bahwa ada komunikasi yang baik antara orang tua dan anak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, menjalin hubungan yang baik antara orang tua dan anak melalui penerapan komunikasi yang efektif sangat penting. (Tibo and Sembiring 2. Tiga pola hubungan antara orangtua dan anak berpengaruh besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Pola-pola ini adalah: Keluarga Demokratis Anak-anak akan lebih mudah bergaul dan berinteraksi dengan orang lain dalam keluarga demokratis. Mereka juga akan lebih aktif dan ramah. Anakanak biasanya tidak tertutup. sebaliknya, mereka lebih terbuka terhadap informasi atau gagasan yang datang dari luar diri mereka sendiri. Selain itu, anak-anak akan lebih berani untuk mengemukakan pendapatnya, senang berbicara, dan mengutamakan musyawarah dan persetujuan sebelum membuat keputusan. Keluarga yang Apatis: Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang apatis cenderung tidak terlibat dalam aktivitas sosial dan sering menarik diri dari masyarakat. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga seperti ini dapat mengalami hambatan dalam perkembangan fisik dan emosional mereka. Anak-anak sering merasa frustrasi, yang dapat menyebabkan sikap benci dan curiga terhadap orang lain. Hal ini disebabkan oleh kurangnya interaksi keluarga yang positif. Keluarga Otoriter: Anak-anak dalam keluarga yang otoriter biasanya tidak berani menentang orangtuanya, kurang agresif, dan sering bergantung pada orang tua atau orang lain. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan seperti ini biasanya memiliki tingkat kreativitas yang rendah dan imajinasi yang rendah, yang berdampak pada kemampuan mereka untuk berpikir secara abstrak (Solikin 2. 234 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Berdasarkan ketiga pola hubungan keluarga di atas, pola yang diterapkan oleh orang tua juga sangat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Orangtua memiliki peran penting dalam memilih pola komunikasi terbaik bagi anak mereka. Orangtua yang baik adalah orangtua yang selalu berkomunikasi dengan baik, saling mempercayai, jujur, dan terbuka tentang masalah yang dihadapi anak mereka. (Abdi and Anom 2. Pola hubungan keluarga yang demokratis seharusnya menjadi pilihan untuk mewujudkan hal ini. Komunikasi keluarga terdiri dari tiga bagian utama: komunikasi antara saudara, komunikasi antara orang tua dan anak, dan komunikasi antara suami dan istri(Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2. Untuk memberikan pemahaman yang lebih baik, penulis akan memberikan penjelasan berikut: Komunikasi antara Suami dan Istri Komunikasi sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan keutuhan Oleh karena itu, pasangan suami istri harus memahami cara-cara yang tepat, efektif, dan efisien untuk berkomunikasi agar hubungan mereka tetap kuat dan keluarga tetap harmonis. Dalam al-QurAoan terdapat contoh komunikasi antara suami dan istri . atTahrim/66:3-4 : AEaO aNA AN aaOUo AaEaI Ia aN aOa aN aNA a A EI aO aEO aA a A a aOA a AcEEA a a AaOa A AI ao AaEaI IaNa aN CaEa aII aIa a aE N ao Ca aEA a AA aA a AA a AN aOa aA a AA AEaO aNA A aI aOa aEaOA AO Ea aEOI E aaOeA a a CEOE aIo aOaI a aN aA a AcEEa AaCaA a aAIaIA e a AA aE EI aIIaOIao aOE aI E ai aE a a aE aEA A aNOA a AcEE N aO aIO EN aO a aOE aOA a aIA Terjemahnya: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsa. suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsa. menceritakan Peristiwa itu . epada Aisya. dan Allah memberitahukan hal itu . embicaraan Hafsah dan Aisya. kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian . ang diberitakan Allah kepadany. dan Menyembunyikan sebagian yang lain . epada Hafsa. Maka tatkala (Muhamma. memberitahukan pembicaraan . ntara Hafsah dan Aisya. lalu (Hafsa. bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. " Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah. Maka Sesungguhnya hati kamu berdua telah condong . ntuk menerima kebaika. dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi. Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan . egitu pul. Jibril dan orang-orang mukmin yang baik. dan selain dari itu malaikatmalaikat adalah penolongnya pulaAy. 235 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Ayat-ayat di atas memberikan petunjuk penting tentang komunikasi suami-istri, yaitu dengan selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi, baik untuk berbicara tentang masalah atau sekadar berbagi cerita. Ini mirip dengan cara Rasulullah SAW berbicara dengan Hafsah. Selain itu, suami dan istri harus memilih kata-kata yang tepat saat berkomunikasi agar tidak menyinggung atau membuat pasangan terpojok. Agar tidak menyinggung pasangan, teguran atau koreksi harus diberikan dengan lembut dan tidak Seorang suami juga diharuskan untuk tegas dalam situasi tertentu untuk menjalankan perintah Allah dan melindungi keluarganya dari bahaya(Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2. Keutuhan keluarga akan semakin terjaga dan segala masalah akan diselesaikan dengan komunikasi yang baik antara pasangan. Komunikasi antara Orang Tua dan Anak Hubungan yang baik antara orang tua dan anak sangat penting untuk keharmonisan keluarga. Hubungan yang baik antara orangtua dan anak membentuk kepribadian anak. Anak-anak yang baik dan aman dari pengaruh negatif biasanya dibesarkan dalam lingkungan yang sehat dengan orang tua mereka, sedangkan hubungan yang buruk antara orangtua dan anak dapat mempengaruhi perkembangan mereka. Selain itu, komunikasi yang baik juga ditunjukkan oleh anak-anak yang berperilaku baik kepada orangtuanya, disertai dengan kasih sayang, cinta, dan rasa hormat terhadap mereka . Ini ditunjukkan dalam Al-Qur'an dalam Q. As-Saffat/37:102: aiAOa aaI Oa a O AaO E aII aaIa a aI Oa a a aEa Aa eIa aIa a OA ca aEa acI aEaa aIaNa EA ca AOa CaEa O aIA a AA a a a OIA a aA a aIa Oa aIA a aACaEa OaA AcEEa aIIaa EA aAeA a a A a Ea aI aIA AuMaka tatkala anak itu sampai . ada umur sanggu. berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". Ayat-ayat di atas memberikan petunjuk tentang cara orang tua dan anak berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan bahasa yang penuh kasih sayang, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dari Amerika Serikat, yang menyapa anaknya dengan panggilan "hai anakku", tanpa menyebut nama anaknya. Selain itu, komunikasi yang baik juga memerlukan penjelasan yang mendalam tentang masalah atau peristiwa 236 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember agar anak dapat memahami dan memahami keadaan. Sehingga Ismail dapat memahami situasi sebenarnya. Nabi Ibrahim AS dengan jelas menceritakan mimpinya. Jalan terakhir adalah tidak memaksakan kehendak dan membiarkan anak berbicara apa yang mereka pikirkan. Ini mirip dengan apa yang dilakukan Nabi Ibrahim ketika meminta pendapat Ismail tentang peristiwa yang ia alami(Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2. Kehidupan keluarga akan berjalan harmonis tanpa konflik atau konflik jika metode komunikasi di atas diterapkan. Komunikasi antara Saudara Komunikasi antar saudara sama pentingnya dengan komunikasi antar anggota keluarga lainnya. Keharmonisan dan keutuhan keluarga akan diperkuat oleh hubungan komunikasi yang baik antara (Astuti and Triayunda 2. Oleh karena itu, untuk menjaga keharmonisan keluarga, sangat dianjurkan dalam Islam untuk senantiasa menjaga tali silaturahim dan menjalin hubungan yang erat. Sebagaimana disebutkan dalam Q. an-Nisa/4:1: ca a acO aEaCaa aI I aN a O a aN aO aA a a AaOa aEaCaE Ia aI Ia Iac Aa acOA AOAaOac aN EIaca acC O aacEIa EacA aAcEEA AcEEa EacA aAIa ia acaIA A e Ua ia aOacCOA a a AaOa A a aI IN aI a a UEa aE a O U acOIA a A e aE OIaa aNa aO Ea aA AEa OE Ia aCa OUA a aEIA AuHai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya. Allah menciptakan dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan . nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan . hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamuAy. Hubungan silaturahim yang dimaksud dalam konteks ini merujuk pada ikatan persaudaraan yang mencakup baik hubungan dengan saudara dekat, seperti keluarga inti, maupun dengan saudara jauh, seperti kerabat yang lebih jauh atau teman-teman dalam komunitas. Silaturahim dalam Islam tidak hanya diartikan sebagai hubungan darah semata, tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga kedekatan dan saling mendukung antar sesama, meskipun jarak dan waktu memisahkan. Salah satu cara yang efektif untuk menjaga dan mempererat hubungan silaturahim ini adalah melalui interaksi dan komunikasi yang Komunikasi yang sehat dan penuh kasih sayang antara anggota keluarga, baik yang masih dekat maupun yang terpisah oleh jarak, dapat menjadi sarana untuk saling memahami, memberi dukungan emosional, 237 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember dan memperkuat rasa kebersamaan. Dengan demikian, menjalin komunikasi yang baik bukan hanya sekadar bertukar kata, tetapi juga menciptakan saling pengertian, menghargai, dan mempererat hubungan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Hadits tentang Komunikasi antar Anak-Anak Hadits tentang Persaudaraan Ibarat Satu tubuh ca A eI aEA ca A e aA aA eIA a a a A eaOA a a AacEEaa a aeI aI aIOe a aacaIa a a aO a aacaIa aa aE aOacA a a acaIa aI a acI aeIA a aAIa aeIa aaOaCaEA a AEIac e aIA e AEac aI a aIaEA ca AAEacOA ca AaOEA aO a a aI aN eIA a a AacEEA a AaOA a a acEEA a ACa aEA a AaEIe aIIaOIa aO a a aO a aN eIA a AEa eO aNA e A aA aA aN aA ca A a a aEA a A a a aua a e a aEOA a AaI eIN a UeO a a AaE aA a a AO aEaNA a AaOa a aA aN eI a aIaE a eE aA a AaO eE acIOA e acaIaaua e aCA a A eI aIA a AaE a eIA ca A eI aEA aAI a aeIA U AO a a ea aIaa a aA a aa A eaOA a a A a a a AOA a A eI aEIac e aIA ca A aEA ca caEA (HR. Bukhari - 5. : a aO aNA e AEac aIa aIA a aAOacEEA a aOA a aOA a a eIaEIac aOA a AEa eO aNA AuTelah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Zakariya` dari 'Amir dia berkata. saya mendengar An Nu'man bin Basyir berkata. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas . urut merasakan Hadits di atas menggambarkan betapa eratnya hubungan sesama kaum Muslim menurut ajaran Islam. Islam mengajarkan bahwa hubungan antar sesama Muslim bukan hanya sekedar hubungan sosial, tetapi lebih dari itu, hubungan ini dibangun atas dasar kasih sayang, cinta, dan saling (Pulthinka 2. Dalam pandangan Islam, hubungan ini ibarat hubungan antara anggota tubuh. Setiap anggota tubuh saling bergantung satu sama lain, saling membutuhkan, dan tidak dapat Jika salah satu bagian tubuh mengalami rasa sakit atau kesulitan, bagian tubuh yang lain akan merasakan penderitaan yang sama. Begitu pula dengan umat Islam, jika seorang Muslim menderita atau mengalami kesulitan, umat Muslim lainnya juga merasakannya dan turut (Arabi. Harahap, and Ekowati 2. Konsep ini menekankan pentingnya solidaritas, kepedulian, dan rasa saling memiliki antar sesama Muslim, yang pada dasarnya menggambarkan persatuan yang sangat kuat dan tidak terpisahkan. (Hesti Agusti Saputri et al. 238 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember ca A eIaEA aA eIA a ca a eA a a e aOA a aAcEEa aeIaI aIOea aacaIaa a aOa aacaIa aE aOacA a acaIaaI a acIaeIA e AEac aIa aIaEA ca caEA ca AaOEA aEIe aIIaOIa aOA a aAOacEEA a AaOA a acEEA a AIa aeIaOaCaE Ca aEA a AEIac e aIA a AEa eO aNA e AaOaa aA aN eIa aIaEA aAOaEaNA a aua e a aEA a AOaI eINa UeOa a aEA a AaOa a aI aN eIA a A a aO a aN eIA e AaO eE acIO aacaIaa au e aCA e a a AaE a eIA aA eIA ca a aEA U AOa a ea aIaa a aA a aAOA a AaE aA ca A aEA a A aN aA ca ca ca ca ca ca AAEA aAEa aIA a aAOacEEA a aIaE e aOA a aAI a a AaOA a aIa aeIaOa aIaEI aOA a AIaEI e aIA a AE eO aNA (HR. Muslim - 4. : a aO aNA e AaIA AuTelah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdillah bin Numair. Telah menceritakan kepada kami Bapakku. Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari Asy Sya'bi dari An Nu'man bin Bisyir dia berkata. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga . idak bisa tidu. dan panas . urut merasakan sakitny. '" Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al Hanzhali. Telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Mutharrif dari Asy Sya'bi dari An Nu'man bin Bisyir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan Hadits yang serupaAy. Islam memberikan petunjuk yang jelas kepada umatnya tentang pentingnya menjaga dan mempererat persaudaraan di antara sesama Muslim. Salah satu cara yang diajarkan adalah dengan saling tolongmenolong dan memperhatikan keadaan satu sama lain. Dalam sebuah hadis. Rasulullah SAW menggambarkan hubungan antara sesama Muslim seperti satu tubuh yang utuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit atau terluka, seluruh tubuh akan merasakannya. Begitu pula dalam hubungan persaudaraan antar umat Islam, jika ada seorang Muslim yang mengalami kesulitan atau penderitaan, umat Muslim lainnya akan ikut Pesan ini mengingatkan kita akan pentingnya solidaritas dan rasa saling membantu dalam setiap kondisi, baik suka maupun duka. Dengan menjaga persaudaraan yang kuat, kita akan terhindar dari perpecahan dan dapat membangun komunitas yang penuh dengan empati, kasih sayang, dan perhatian terhadap sesama. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa umat Islam harus selalu bersatu, mendukung satu sama lain, dan saling berempati dalam menghadapi segala permasalahan, karena itulah inti dari ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya. Dilarang Mendiamkan Saudaranya Selama Tiga Hari e acaIa ca Aea a eIA aAOA U AIa a ea aIaOA a a a AaE eN aOaaCa aEa aacaIaOaaIaaeIa aI aEEA a AOaEOa aIA a AA ca caEA ca aAOaO aEA a ca AaO aEA a aAOacEEA a AOaO aEaa aA a AaOA a acEEA a AcEEa a eINa a acIA a AA a AEac aIaCa aE aaEa a a a AEa eO aNA 239 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember aO aEa aO a acEa aEI e aEIa a eIa aO eN aNa eOCa aE a aOacIA a ca aAOaOEOIOa a aA a UAacEEa au e aOIA a a aA (HR. Bukhari - 5. AyTelah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri dia berkata. telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Hadis tersebut mengingatkan umat Islam untuk menjaga hubungan baik dengan sesama Muslim dan menghindari sifat-sifat yang dapat merusak keharmonisan di antara Rasulullah SAW bersabda, *"Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang Dan tidak halal seorang Muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga hari. "* Hadis ini memberikan petunjuk jelas tentang beberapa hal yang harus dihindari agar tidak terjadi perpecahan di kalangan umat IslamAy. Kesimpulan yang dapat diambil dari hadis ini adalah bahwa umat Islam dilarang untuk melakukan tindakan yang dapat merusak hubungan persaudaraan, seperti membenci, mendengki, atau berpaling dari sesama Muslim. Memalingkan wajah atau mengabaikan seseorang dalam interaksi menunjukkan sikap tidak peduli dan dapat menambah jarak antara satu dengan yang lain. Selain itu, perasaan iri dengki, saling marah, atau persaingan yang tidak sehat dalam urusan duniawiAimisalnya dalam perdagangan atau bisnisAidapat menyebabkan perselisihan dan merusak ukhuwah Islamiyah. Islam mengajarkan agar umatnya selalu menjaga hubungan dengan sesama penuh kasih sayang, saling menghormati, dan menghindari sikap yang dapat memicu permusuhan atau perpecahan. Oleh karena itu, setiap Muslim seharusnya menghindari sifat-sifat negatif seperti iri, dengki, atau marah yang berlebihan, serta menghindari segala bentuk tindakan yang dapat merusak persaudaraan dan keharmonisan. Dalam konteks ini. Rasulullah SAW mengingatkan agar tidak ada seorang Muslim yang mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, karena hal tersebut dapat memperburuk hubungan dan menambah kesenjangan di antara mereka. Menjaga ukhuwah Islamiyah adalah kewajiban setiap Muslim agar tercipta masyarakat yang saling mendukung, penuh kasih, dan harmonis. Furqon Hidayatullah menjelaskan ada beberapa tahapan pembinaan akhlak anak adalah: (Hidayatullah, 2. Pembinaan Akhlak pada Anak Sangat penting dan wajib dilakukan dengan serius untuk mendidik anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang baik dan akhlak mulia. Proses ini sangat mempengaruhi perkembangan karakter anak di masa depan, jadi tidak boleh diabaikan atau diperlambat. Hati anak digambarkan oleh al-Qasimi dalam kitabnya seperti kertas kosong yang tidak 240 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember terpengaruh oleh tulisan atau gambar. Artinya, hati anak sangat murni pada awalnya dan berbagai hal dapat memengaruhinya. Anak-anak biasanya menerima pengetahuan, nilai, atau kebiasaan. Mereka cenderung beradaptasi dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Kebiasaan ini akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi keyakinan atau kepercayaan yang mereka pegang teguh. Akibatnya, sangat penting bagi orang tua dan pendidik untuk menjadi orang tua yang baik, mengajarkan nilai-nilai moral, dan membimbing anak-anak mereka dengan cara yang benar sejak dini. Anak-anak akan tumbuh menjadi orang yang memiliki akhlak yang mulia dan siap menjalani kehidupan yang penuh dengan tanggung jawab jika mereka dididik dengan baik(Al-Qasimi 2. Anak adalah anugerah Tuhan kepada orang tuanya. Sebagai pemegang amanah di hadapan Allah, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka dengan sebaik mungkin. Anak-anak diciptakan oleh Allah dengan kekuatan pendorong alami yang dapat mengarahkan mereka ke arah yang baik atau buruk, tergantung pada apa yang mereka lakukan. Jika amanah ini diabaikan dan anak-anak tidak dididik dengan benar, orang tua akan memperoleh pahala dari Allah(Sabiq 1. Rasa ingin tahu, semangat, dan potensi adalah beberapa kekuatan alamiah yang dapat menjadi kebiasaan dan proses yang menghasilkan perilaku yang baik pada diri seseorang, baik secara lahiriah maupun batiniah, disebut pembinaan akhlak. Tujuannya adalah membuat seseorang menjadi orang yang seimbang dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Peran orang tua dalam mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam keluarga, sangat terkait dengan pembinaan moral pada anak (Marzuki Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk memahami dan menanamkan nilai-nilai moral ini kepada anak-anak mereka. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa keluarga adalah tempat pertama di mana anak-anak belajar tentang sikap dan prinsip kehidupan. Ini adalah titik di mana anak mulai melihat dan mencontohkan berbagai tindakan dan sikap yang akan membentuk akhlak dan karakternya. Jika orang tua menunjukkan contoh yang baik, anak-anak akan tumbuh dengan prinsip moral yang teguh. Menurut M. Furqon Hidayatullah . , orang tua dan pendidik harus mempertimbangkan beberapa tahapan dalam pembinaan akhlak anak. Tahapan-tahapan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa anak-anak berkembang dengan akhlak yang baik dan seimbang yang sesuai dengan ajaran Islam dan nilai-nilai universal yang diterima masyarakat. 241 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Pendidikan Tauhid Pada usia inilah anak awal di ajarkan kalimat tauhid. Pada saat anak baru lahir orag tua harus mengucapkan kalimat AuLa Illaha illallahAy. Sesuai dengan hadist Nabi : ca AAI aeI a a eO aA a eI a a eOA a a acEEA a A eI a eA aOIa aCa aE a aacaIaOa aA a acUa aacaIaa aO e aOOA a acaIaaIA ca aA eIaa aO aNaCaEA a aAOa a AcEEaa aeIa a aA e AEac aIacIa aOa aIA ca caEA ca AaO aEA aOEaaeNA a A aEOA a aA aIa aeIA a aAOacEEA a AaE aA a AaOA a acEEA a aOeA a aOIA a AEa eO aNA AA aaEA a a ca A aIa aEA (HR. Abudaud - 4. AuTelah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan ia berkata. menceritakan kepadaku Ashim bin Ubaidullah dari 'Ubaidullah bin Abu Rafi' dari bapaknya ia berkata, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengumandangakan adzan layaknya adzan shalat pada telinga Al Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh ibunya. FatimahAy. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r. mengatakan, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengumandangkan adzan seperti adzan shalat pada telinga Al Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh ibunya. Fatimah. " Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya untuk memberi anak-anak kalimat tauhid dan syiar Islam sejak mereka lahir. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak harus diberi pendidikan agama yang mendalam sejak mereka lahir, seperti kalimat Laa ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Alla. , yang merupakan dasar dari aqidah Islam3. Tidak diragukan lagi, upaya ini sangat berpengaruh dalam menanamkan tauhid, aqidah, dan iman pada anak-anak, kata Abdullah Nashih Ulwan. Pandangan pertama anak-anak tentang agama dan dunia dibentuk oleh apa yang mereka dengar. Akibatnya, mengucapkan kalimat tauhid pada telinga bayi, seperti yang dilakukan Rasulullah SAW kepada Al Hasan bin Ali, adalah langkah awal yang sangat penting dalam mendidik anak-anak agar mereka memahami keesaan Allah dan ajaran Islam dengan benar. Selain itu. Hakim meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas r. , di mana Rasulullah SAW bersabda, "Bacakanlah kepada anak-anak kamu kalimat pertama dengan kalimat Laa ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Alla. " Hadis ini menekankan betapa pentingnya mengajarkan anak-anak tauhid sejak usia 3 Ulwan. Tarbiyah al-Aulad fil Islam, juz 1, h. 242 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember dini agar mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang siapa Tuhan mereka dan bagaimana menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, mendengarkan kalimat tauhid sebagai dasar keyakinan dimulai. (Ningsih and Lisnawati 2. Pendidikan Budi Pekerti (Ada. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak budi pekerti . pada usia 4 hingga 6 tahun. Pada usia ini, anak-anak mulai berkembang dalam kemampuan berinteraksi sosial dan memahami dunia sekitarnya, sehingga sangat penting bagi orang tua untuk memperkenalkan nilai-nilai moral yang baik dan mengajarkan sikap yang Salah satu aspek yang paling penting dalam pendidikan budi pekerti pada usia ini adalah mengajarkan anak-anak cara berinteraksi dengan orang lain. (Ningsih and Lisnawati 2. Orang tua juga harus memberi tahu anak mereka apa yang benar dan Anak-anak harus belajar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan agar mereka dapat membedakan tindakan yang sesuai dengan normanorma yang diajarkan dalam agama dan masyarakat. Di usia ini, pendidikan budi pekerti juga mencakup instruksi tentang bagaimana anakanak berperilaku setiap hari. Ini termasuk berbicara dengan sopan, menghormati orang lain, dan memahami aturan dan peraturan. Salah satu contohnya adalah hadis Nabi yang mengatakan, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. " Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya membangun sifat dan tingkah laku yang baik sejak kecil. Dengan mendidik anak budi pekerti, orang tua tidak hanya menanamkan prinsip-prinsip moral, tetapi juga menanamkan landasan yang kuat bagi anak untuk tumbuh menjadi orang yang bermoral, jujur, bertanggung jawab, dan berinteraksi dengan baik dengan orang (Ningsih and Lisnawati 2. Karena anak-anak cenderung meniru apa yang dilihat orang dewasa di sekitar mereka, sebagai orang tua kita harus selalu memberi teladan yang baik kepada anak-anak kita. e AacEEaaeIA ca AeA a aA eIaaIaA e acaIaa aOOeaeIaIA a aa A eIa aCa a a eIa eaA a aA aEA a a a e a aIaA a aEIA ca caEA a caAEac aI aCa aE aaE aOe aII a a aE eI a aacOaO aac aaE a aO aN a aIaO aA a a AOacEEA a AaOA a aa A eI aEIac aOA a AEa eO aNA a aEIaA a aNA U ACa aEa aNaa aA (HR. Tirmidzi - 2. : a U AA aOA a aOA AuTelah menceritakan kepada kami Suwaid bin Nashr telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak dari Syu'bah dari Qatadah dari Anas dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga mencintai untuk saudaranya seperti yang ia mencintai untuk dirinya " Berkata Abu Isa: Hadits ini shahihAy. 243 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Cinta dan kepedulian sesama sangat penting dalam ajaran Islam, seperti yang ditunjukkan dalam hadis, "Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga mencintai saudaranya seperti yang ia mencintai dirinya sendiri. Rasulullah SAW menyatakan bahwa iman seseorang belum sempurna jika tidak memiliki rasa cinta yang tulus dan keinginan untuk memberikan kebaikan kepada saudaranya seperti yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Maksud dari "cinta" dalam hadis ini adalah cinta yang meliputi segala aspek kehidupan, baik yang bersifat fisik . maupun maknawi . Ini berarti, seseorang yang beriman harus merasa senang dan bersyukur jika saudaranya mendapatkan kenikmatan atau kebaikan yang sama, baik dalam hal materi, penghargaan, maupun kebahagiaan spiritual. Cinta yang dimaksud bukanlah hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga mencakup kepentingan orang lain. Selain itu, cinta ini menekankan pentingnya sikap tawadluAo . endah hat. Seseorang yang beriman seharusnya tidak merasa iri atau ingin melebihi orang lain dalam hal apapun, melainkan senang melihat orang lain meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, perasaan iri, dengki, atau berusaha untuk merugikan orang lain harus dijauhi, karena ini bertentangan dengan esensi dari cinta sejati yang diajarkan dalam Islam. Dalam konteks ini. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa rasa cinta yang sejati tidak hanya berbicara tentang memberi, tetapi juga mencakup sikap hati yang bersih dari sifat-sifat buruk seperti dengki, iri hati, atau kecurangan. Semua itu merupakan perangai buruk yang harus dijauhi agar seseorang dapat hidup dengan damai dan harmonis, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang Dengan demikian, untuk mencapai iman yang sempurna, seseorang harus memiliki rasa cinta yang tulus, tidak hanya kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada sesama, dengan melepaskan segala bentuk keburukan dalam hati. Penanaman Tanggung Jawab Orang tua mulai berperan penting dalam menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak mereka pada usia 7 hingga 8 tahun, dengan mewajibkan mereka untuk shalat. Pada usia ini, anak-anak mulai berkembang secara fisik dan mental, dan mereka mulai memahami konsep tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka. Sangat penting untuk membentuk karakter anak-anak di masa depan dengan mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab sejak kecil. Memerintahkan anak untuk shalat secara teratur adalah salah satu cara orang tua mengajarkan anak tanggung jawab. Shalat adalah salah satu ibadah yang mengajarkan anak untuk taat kepada Allah. itu juga mengajarkan mereka disiplin, waktu, dan kewajiban agama. (Khairun Nisa and Abdurrahman 2. Sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud mengatakan, "Perintahkan anakanak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak melaksanakannya ketika mereka berusia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka. " Hadis ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan anak-anak mereka untuk terbiasa melakukan ibadah sejak kecil. 244 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Selain itu, tujuan dari pendidikan tanggung jawab ini adalah untuk memberi anak pemahaman bahwa setiap tindakan memiliki akibat, baik di dunia maupun di akhirat. (Khoiriah and Alrasi 2. Shalat mengajarkan anak-anak cara mengatur waktu, menjaga kebersihan, dan memenuhi kewajiban mereka dengan Dengan demikian, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang tanggung jawab spiritual mereka, tetapi juga tanggung jawab sosial dan moral mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anak mereka dan selalu mendampingi mereka selama proses pembelajaran ini. ca aAO a aO e aIO aeIA a eI a a eA a a A eA a a AaEaca a aacaIa aua ae aNOI aeIA a acaIa aI a acI aeI a aOA ca AAEacOA aA aE eO aNA ca AeE aI aE aE a aeIA a a AacEEA a a A eI aa aO aNA a aa A aeA a a AO a aeIA a aAOA ca A eI a a a aN aCaEaCa aE aEIac aA a AaE aA A e a a aIaOIA ca AO a aEA ca AEac aI aIO aEA a a AaO aua aaEa aA a a aEa a aua aaEa aA a AaOA a aA e a a aIaOIA ca AA aA (HR. Abudaud Ae . : AEa eO aNA a a aeONA AuTelah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Ali bin Abi Thalib-Thabba' telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Abdul Malik bin Ar-Rabi' bin Sabrah dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya". Hadis yang mengatakan, "Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya", menunjukkan betapa pentingnya pendidikan ibadah bagi anak-anak sejak usia Dalam hadis ini. Rasulullah SAW mengajarkan orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka untuk melaksanakan shalat ketika mereka mencapai usia tujuh Pada usia ini, anak-anak mulai memahami dan mampu melakukan ibadah secara langsung. Namun, mereka mungkin masih belum sepenuhnya memahami makna dan kedalaman ibadah. Kemudian, pada usia sepuluh tahun, jika anak masih tidak melaksanakan shalat. Rasulullah SAW memberikan pedoman agar orang tua memberi hukuman berupa pukulan, namun dengan batasan yang jelas. Pukulan yang dimaksudkan bukanlah pukulan kasar atau menyakiti, tetapi lebih kepada peringatan yang dilakukan dengan penuh kasih sayang. Pukulan ini bertujuan untuk memberikan pengajaran dan kesadaran kepada anak agar mereka memahami pentingnya shalat sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan, serta untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap ibadahnya. Hadis ini juga mengajarkan tentang pentingnya pendidikan kedisiplinan, ketertiban, dan tanggung jawab dalam kehidupan seorang anak. Dalam melaksanakan shalat, anak tidak hanya diajarkan untuk taat kepada Allah, tetapi juga diajarkan untuk mengatur waktu, menjaga kebersihan, serta melaksanakan 245 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember ibadah dengan tertib dan disiplin. Hal ini adalah bagian dari pembentukan karakter yang lebih besar, di mana anak-anak belajar untuk menumbuhkan kedewasaan dan rasa tanggung jawab dalam diri mereka. Namun, dalam menerapkan hukuman, orang tua harus selalu menjaga batasbatas kasih sayang dan tidak melampaui batas. Pukulan sebagai peringatan harus dilakukan dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan, dengan tujuan untuk mendidik, bukan untuk menyakiti atau memarahi. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan kasih sayang dalam mendidik dan mengarahkan anakanak agar mereka tumbuh menjadi individu yang baik dan taat kepada Allah. (Rosdiana 2. Pendidikan Kepedulian (Kasih Sayan. Kepedulian adalah rasa empati atau perhatian yang mendalam terhadap orang lain, yang mencakup perasaan ingin memahami dan membantu (Rosdiana 2. Salah satu tugas utama orang tua adalah menanamkan rasa kepedulian ini pada anak-anak mereka. Kepedulian yang dimaksud tidak hanya berupa perhatian terhadap kebutuhan fisik, tetapi juga melibatkan sikap peduli terhadap perasaan, hak, dan kesejahteraan orang lain. Pada usia sekitar 9 hingga 10 tahun, anak-anak mulai terbiasa bergaul dan berteman dengan teman sebaya mereka. Pada masa ini, mereka mulai membentuk hubungan sosial yang lebih kompleks dan membutuhkan bimbingan dari orang tua untuk memahami nilai-nilai kepedulian, kasih sayang, dan saling menghormati. Orang tua harus memberikan pengajaran tentang pentingnya rasa empati terhadap sesama, baik terhadap temanteman sebaya, orang yang lebih tua, maupun orang yang lebih muda. Pada usia ini, anak-anak harus diajarkan untuk menghormati dan menyayangi satu sama lain. Hadis Nabi SAW, "Barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi," menekankan pentingnya kasih sayang dan kepedulian sebagai bagian dari akhlak Islam yang mulia. Diharapkan anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang peka terhadap perasaan orang lain, memiliki empati, dan mampu menghormati setiap orang dalam berbagai situasi dengan menanamkan nilai-nilai ini. Selain itu, pendidikan kepedulian ini mengajarkan bagaimana menunjukkan kasih sayang kepada orang lain, seperti adik-adik atau bahkan binatang dan lingkungan sekitar. Anak-anak harus dipahami bahwa kasih sayang tidak hanya untuk orang yang kita kenal atau yang sebanding dengan kita, tetapi juga untuk semua makhluk tanpa memandang usia, status, atau kedudukan. Orang tua dapat mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan kepedulian yang baik untuk menjadi orang yang peduli terhadap orang lain dan diri mereka sendiri. Ini adalah langkah awal 246 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember menuju masyarakat yang lebih harmonis di mana kasih sayang dan kepedulian menjadi dasar hubungan antar orang. e AeA aA eIA a AaE aOA a aA eIaI a acI a a aeIa a aOa au e aI aO aEA a a Aa aOA a acaIaa aO e aOOaeIa aO e aOOaa e a aIaA a A aaeIA ca AaOEA ca A e aA aEacOA ca A e aA a a aAO aeIA a a AaE e aI aI a aeI a aN aaEE aCa aEA a a acEEA a AacEEa aOaCOEa Ca aEA a A aI e a a aA e AaE eACa aO e a eIA e AaE eACa a a aIA ca (HR. AaEA a a AcEEA a AaOA a AaE aO ae aa eO a aI eI aO e a eIA a AEac aI a aI eI a a aIA a AEa eO aNA Muslim- 4. AuTelah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya. Telah mengabarkan kepada kami 'Abdul Wahid bin Ziyad dari Muhammad bin Abu Isma'il dari 'Abdur Rahman bin Hilal dia berkata. Aku mendengar Jarir bin 'Abdullah berkata. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Barang siapa dijauhkan dari sifat lemah lembut . asih sayan. , berarti ia dijauhkan dari kebaikan. Hadits, "Barang siapa dijauhkan dari sifat lemah lembut . asih sayan. , berarti ia dijauhkan dari kebaikan," memberikan gambaran yang sangat baik tentang seberapa penting sifat kasih sayang dalam kehidupan seharihari. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk selalu lemah lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang adalah salah satu nilai utama dalam ajaran Islam yang mendasari interaksi sosial antara sesama manusia. Berdasarkan hadits ini. Rasulullah SAW menyatakan bahwa kebaikan dan kebahagiaan seseorang tidak dapat terjadi tanpa adanya sifat lemah lembut, yang sering disebut sebagai kasih Karena kasih sayang, kita tidak hanya dapat mendekatkan diri kita kepada Allah, tetapi juga dapat mempererat hubungan kita satu sama lain. Sangat sulit bagi seseorang untuk mencapai kedamaian dalam hidupnya jika mereka tidak memiliki kasih sayang. Ajaran ini sangat penting untuk ditanamkan pada usia anak-anak. Anakanak adalah generasi yang akan membentuk masa depan negara. Oleh karena itu, mereka harus terlibat dalam proses pembelajaran nilai-nilai kepedulian, kasih sayang, dan toleransi sejak kecil. Ini tidak hanya mengajarkan kita cara mencintai satu sama lain, tetapi juga tentang pentingnya menghormati dan memahami apa yang dirasakan orang lain. Sangat penting untuk mengajarkan anak untuk berperilaku lemah lembut, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Selain itu, mereka harus dididik untuk menghindari sifat egois, kasar, dan tidak peduli terhadap orang lain. Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang lebih baik yang peduli pada orang lain dan diri mereka sendiri. Dididik dengan nilai kasih sayang pada usia ini akan membuat mereka menjadi orang yang penuh kasih dan baik hati, yang akan berdampak positif pada masyarakat secara keseluruhan. Akibatnya, hadits ini mengingatkan kita semua, terutama orang tua dan pendidik, untuk 247 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember memberikan teladan dan pengajaran kasih sayang yang baik kepada anakanak. Dengan demikian, generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk menjadi generasi. Pendidikan Kemandirian pada Usia 10-12 Tahun Pada usia sepuluh hingga dua belas tahun, anak berada dalam fase perkembangan yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan identitas dirinya. Ini adalah fase transisi di mana mereka telah mengalami berbagai pengalaman yang membentuk cara mereka berpikir, bersikap, dan Selama periode perkembangan ini, anak-anak mulai mematangkan karakter mereka sendiri dan belajar menjadi mandiri. Pada tahap ini, anak tidak hanya belajar tentang apa yang diharapkan darinya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mulai memahami bagaimana mereka dapat mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Fase ini adalah masa di mana pendidikan kemandirian menjadi sangat penting. Kemandirian yang dimaksud bukan hanya dalam hal tugas-tugas rumah atau kegiatan sehari-hari, tetapi juga dalam hal pemahaman tentang aturan, nilai-nilai, serta konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil. Pada usia ini, anak sudah mulai mampu mengenal dan membedakan antara apa yang diperintahkan atau dianjurkan, dan apa yang dilarang atau Mereka mulai lebih memahami batasan-batasan yang ada dan mulai dapat menilai serta memutuskan apakah suatu tindakan sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka, baik oleh orang tua, guru, maupun lingkungan sosial mereka. Mereka mulai tahu bahwa setiap tindakan yang dilakukan memiliki akibat atau konsekuensi tertentu, baik itu positif maupun negatif. Pendidikan kemandirian pada usia 10 hingga 12 tahun sangat bergantung pada pembekalan orang tua dan pendidik dalam memberikan bimbingan yang tepat. Dalam fase ini, anak perlu diberi kebebasan untuk mengambil keputusan sederhana namun bermakna, sekaligus dibimbing untuk memahami dan menerima tanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Misalnya, mereka dapat diberikan kebebasan dalam menentukan kegiatan yang ingin mereka lakukan, namun tetap harus mengingatkan mereka untuk mempertimbangkan waktu dan prioritas yang ada. Lebih jauh, anakanak pada usia ini juga mulai menunjukkan minat dan keinginan untuk lebih aktif dalam menentukan jalan hidup mereka, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun kegiatan lainOleh karena itu, pendidikan kemandirian harus mengimbangi pengawasan yang bijak dan kebebasan untuk mengeksplorasi. 248 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Dengan mengajarkan nilai-nilai kemandirian pada usia ini, anak-anak tidak hanya memperoleh keterampilan praktis, tetapi mereka juga belajar tentang tanggung jawab pribadi dan resiko yang terkait dengan pilihan Pendidikan kemandirian ini akan membangun mereka menjadi orang yang percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu menangani tantangan hidup dengan cara yang lebih rasional. aA eIa aa aE a a aeIA a a A eI a a eOA a a a AO a a e a aIa a aOA a acaIa a au ae aNOI aeI aIOA a AO aeI aOOIA e A eIA ca caEA ca AaO aEA ca AOA aAEac aI aCa aEA a a AOacEEA a acEE a a eINA a a a a aI eaIA a AaOA a a acEEA a A eIA a AaE aI eCa aIA a AEa eO aNA a AA ca aA a UIaCA a aU AaIa a aE aE a a aA ca AOA acEEa aaOA a AaI eI a a eI aOaeE aEA a A a aO UeA ca AaO au acI a aI aA a AaI eI a a aI aE aOa a aNA (HR. Bukhari - 1. aAEa aO a aNA ca AEa eO aNaEA a AaEIa aEIa a aOeA a aI eIA a A aIA AuTelah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami 'Isa bin Yunus dari Tsaur dari Khalid bin Ma'dan dari Al Miqdam radliallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri. Ay Kutipan ini memiliki pesan yang sangat dalam tentang pentingnya kerja keras dan menjadi diri sendiri. Kalimat "Tidak ada seorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri" menunjukkan bahwa makanan yang dihasilkan melalui kerja keras dan usaha sendiri adalah yang paling memuaskan dan berharga. Rasa kebanggaan, kepuasan, dan keikhlasan yang dihasilkan dari makanan yang kita buat dengan jerih payah kita sendiri muncul karena kita tahu bahwa semua upaya yang kita lakukan berkontribusi untuk mencapainya. Melalui hadits ini. Rasulullah SAW menekankan pentingnya kerja keras dan Hal ini juga mencerminkan ajaran Islam, yang mendorong umatnya untuk bekerja dengan tekun dan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang halal. Bekerja keras tidak hanya menghasilkan Hadits ini juga mengingatkan kita pada teladan Nabi Allah Daud AS. Meskipun dia adalah nabi yang dimuliakan oleh Allah. Nabi Daud tidak pernah merasa malu untuk bekerja dengan tangan sendiri. Beliau bekerja sebagai pandai besi, membuat alat-alat besi sendiri, dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, bekerja keras dan mencari nafkah dengan usaha sendiri sangat dihargai, tidak peduli status atau kedudukan seseorang. Dengan mengikuti teladan Nabi Daud AS, kita diajarkan untuk tidak bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, kecuali 249 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember kepada Allah. Ini juga mencerminkan kesederhanaan dan keteladanan Nabi Daud yang hidup sederhana meskipun dia memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah. Makanan yang diperoleh dengan usaha sendiri dianggap memiliki nilai yang lebih besar. Makanan yang dihasilkan dengan usaha sendiri dianggap lebih berharga dan berharga karena mengandung kerja keras, doa, dan keberkahan dari Allah. Secara keseluruhan, hadits ini mengajarkan kita untuk bekerja dengan tangan sendiri dengan penuh semangat dan tidak malu. Kerja keras tidak hanya menghasilkan uang halal, tetapi juga menghasilkan kebahagiaan dan keberkahan yang lebih besar. Ini karena segala sesuatu yang diperoleh melalui usaha sendiri lebih berharga dan (Fadillah 2. Pendidikan Bermasyarakat Anak-anak di atas usia 13 tahun telah memasuki tahap remaja, di mana mereka berkembang secara fisik, emosional, dan sosial. Dianggap bahwa anak-anak pada usia ini memiliki kepribadian yang lebih stabil dan siap untuk bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Remaja memperoleh kepribadian ini dari pengalaman awal mereka dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial lainnya. Pengalaman ini membantu mereka lebih baik beradaptasi dengan dunia luar dan menjalankan peran sosialnya. Pendidikan bermasyarakat pada usia remaja ini sangat penting karena mereka berada dalam fase kehidupan yang sangat sensitif, di mana mereka mulai mencari identitas diri, mengembangkan pola pikir, dan membentuk nilai-nilai hidup yang akan membimbing mereka di masa depan. (Suryana et al. Oleh karena itu, pendidikan pada tahap ini harus fokus pada penanaman nilai-nilai integritas, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap orang lain, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang beragam(Nizzah et al. Orang tua dan pendidik memiliki peran penting dalam membantu anak memahami bagaimana cara berinteraksi dengan masyarakat secara positif dan konstruktif. Mereka perlu diajarkan untuk menghargai perbedaan, bekerja sama dalam kelompok, dan mengembangkan empati terhadap orang lain. Selain itu, kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar anak bisa hidup harmonis dengan lingkungan sosial yang terus berubah. Jika anak-anak melakukan langkah-langkah pendidikan sejak usia dini dengan baik, anak-anak pada usia remaja hanya perlu memperbaiki dan mengembangkan kemampuan yang sudah mereka miliki. Misalnya, mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain dan empati. Pada usia ini, akan lebih mudah bagi anak untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam 250 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember kehidupan sehari-hari, baik dengan orang tua, teman sebaya, dan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, pendidikan bermasyarakat adalah proses yang berkelanjutan di mana remaja diharapkan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya mandiri dan bertanggung jawab tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat secara keseluruhan. Hal ini akan membantu mereka tumbuh menjadi orang yang tidak hanya empati, mampu menghargai keragaman, dan mampu bekerja sama dengan orang lain. e A eI a a aA aAOaEI a aO aE aEA a AO a a e a aIaaNA a acaIaa aO e aOOaeI a aO e aOOaE ac aIA a a A eI aa aOa a eA a a A eO UIA ca AOIA ca caEA ca AaO aEA aAEac aIA a AA U A aOa eE aeOa a a acIaIaA e a AaI eIaA a AA aA a aAOacEEA a AaOA a aA eIaOA a acEEA a AA a AEa eO aNA e AA aAOAON eIA a aI eI aa eOA a a a aI acO a a aOA a AaE a aA a a A a aA eA a AAON eI aEa eI aOA a a AaEIO aOA e aA aOA aI eIN eI a aI a eIA U a a Aa UEA a a AaC au a acIA a A aCa aEA a AaE aO aaEaaO U a a eO aIA a aCaEOaEaN eI aN eaE a aAOE eIA e aN a aCaN a a aA a a AaI eIA aAIaI aOa a eI aOa eCaEa aNA a UAO aCa aOA a AaEaE a ca a A a aA a AaE aEaA a AeA ca caEA ca caEA aAEa eO aNA a a AOacEEA a a AOacEEA a AaOA a aAOA a aa AaOCa aE a aacOa a eE a aa aE aE a aEEIac aOA ca AEac aI aOaEIac aA a AEa eO aNA e AcEEa a aI a aCaOe a au acE a a a a aA ca AaOA ca AaO aEA aA aIA ca A a aA a AaE aEaA a AaOA a AEac aI a aE a aa aE aE aEaN aCa aE a aOA a acEEA aA eNIa aI aE eIa aacaIaA a AaO aIaa aeA a AEaaIac aNa eC aOUa acIaCa aEaA a AaO aeOa aEOa aA a AOaI eIN eIA a AaOCa aEA ca aAI a acI aeI aA aA eIA a a A eI a eIa aI a acI a a ea aI a a e a a a AaOaO a a eE a aeI aIa a aE aaEN aIA a AA e A a a a aE aOa eC a a acIA e AaOCa aE aOA aAIA a AaE aaOA a AaEC eA a e A eaa a a eI a a aO a a e a a aNaA a AaeE eIa aA (HR. Muslim 4. aEEA ca a AaO aOe aAEa a aA a AaO aO e aIaa CaNA AuDiriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r. a katanya: Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah saw. sedang berada dalam Mereka pergi ke salah sebuah kampung Arab dan mereka berharap agar boleh menjadi tetamu kepada penduduk kampung tersebut. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Tetapi ada yang bertanya: Apakah ada di antara kamu yang boleh menjampi? Karena ketua atau penghulu kampung kami terkena sengat. Salah seorang dari para Sahabat menjawab: Ya, ada. Lalu beliau menemui ketua kampung tersebut dan menjampinya dengan surah al-Fatihah. Kemudian ketua kampung tersebut sembuh, maka Sahabat tersebut diberi beberapa ekor kambing. Beliau tidak mau menerimanya dan mengajukan syarat: Aku akan menyampaikannya kepada Nabi s. w, beliau pun pulang menemui Nabi saw. dan menyatakan pengalaman tersebut. Beliau berkata: Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya menjampi dengan surah al-Fatihah. Mendengar kata-kata 251 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember itu. Rasulullah saw. tersenyum dan bersabda: Tahukah engkau, bahawa alFatihah itu memang merupakan jampi. Kemudian baginda bersabda lagi: Ambillah pemberian daripada mereka dan pastikan aku mendapatkan bahagian bersama kamuAy. Hadits yang Anda sebutkan menggambarkan situasi sosial yang terjadi antara suku bangsa Arab pada masa Nabi Muhammad SAW, yang menunjukkan pentingnya hubungan saling memenuhi kebutuhan dan saling bekerja sama. Dalam konteks ini, hadis tersebut menjelaskan bagaimana suatu hubungan sosial dapat berkembang, namun juga bisa terhambat atau bahkan tercipta ketegangan akibat pandangan negatif atau ketidakpercayaan antara kelompok-kelompok yang terlibat. Pandangan negatif terhadap orang Arab yang berkunjung menyebabkan munculnya kelompok sosial tertentu. Sahabat Rasul mengunjungi suku Arab dengan harapan diterima dengan baik sebagai tamu. Namun, mereka kecewa ketika kehadiran mereka ditolak. Penolakan ini disebabkan oleh keadaan yang mencekam di masyarakat, terutama karena kepala suku sakit karena tersengat. Ketika situasi menjadi lebih rumit dalam situasi yang penuh dengan ketegangan, kepala suku memanfaatkan kesempatan ini untuk menguji keberanian sahabat Rasul daripada menerima mereka sebagai tamu dengan hati terbuka. Penolakan ini mencerminkan adanya ketegangan sosial yang timbul akibat ketidakpercayaan atau kekhawatiran yang mendalam dalam masyarakat tersebut. Suasana yang mencekam membuat orang lebih cenderung waspada dan lebih terfokus pada keuntungan pribadi atau kelompok daripada menjalin hubungan sosial yang saling menguntungkan. Kepala suku yang sedang sakit, misalnya, lebih memilih untuk memanfaatkan kedatangan sahabat Rasul untuk menanyakan apakah mereka bisa mengobati penyakitnya, daripada menerima mereka secara tulus sebagai tamu. Hal ini mengajarkan kita bahwa hubungan sosial antar suku bangsa atau kelompok sosial tidak selalu berjalan mulus. Ketegangan atau ketidakpastian dapat memengaruhi cara kelompok-kelompok tersebut berinteraksi satu sama lain. Namun, hadis ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya saling memahami dan bekerja sama dalam situasi yang penuh tantangan. Kepercayaan dan niat baik dalam hubungan sosial menjadi kunci utama dalam membangun hubungan yang harmonis dan saling menguntungkan, apalagi ketika dihadapkan pada kondisi yang sulit dan penuh Secara keseluruhan, hadis ini menunjukkan bahwa dalam setiap interaksi sosial, baik itu antar suku bangsa atau individu, perlu adanya keterbukaan, empati, dan niat baik. 4Abu Abdullah Ibn Muhammad Ismail al-Bukhari, shahih al-Bukhari (Saudi Arabia: Idaratul Buhuts Ilmiah wa IftaAo wa al- Irsyad, t. , kitab Kelebihan Al-QurAoan, hadis no. Lihat Hadis Muslim, kitab Salam, hadis no. Tirmizi, kitab Perobatan, hadis no. Abu Daud, kitab Jual Beli, hadis no. 252 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Ketegangan sosial sering kali muncul akibat ketidakpercayaan, dan dalam keadaan seperti ini, penting bagi setiap pihak untuk berusaha memahami dan memenuhi kebutuhan satu sama lain, tanpa menyisakan rasa curiga atau ketakutan yang (Yusuf. Suryani, and Kalsum 2. KESIMPULAN Hubungan antara saudara kandung sangat unik, karena meskipun terjalin konflik atau perselisihan, keduanya tetap memiliki ikatan darah yang tak terputus. Saudara yang lebih sukses dapat membantu saudara lainnya dengan tulus. Penting bagi saudara untuk menjaga hati dan perasaan satu sama lain. Dalam keluarga, etika komunikasi menjadi landasan moral yang mengatur sikap dan perilaku dalam interaksi. Pendidikan keislaman perlu dilakukan secara simultan dan berkesinambungan, dimulai dengan pengajaran nilai-nilai dasar seperti tauhid, budi pekerti, tanggung jawab, kepedulian, kemandirian, dan pendidikan sosial. Peran keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama sangat penting dalam membentuk psikologis dan perilaku anak. Nilai-nilai Islam yang diajarkan di keluarga akan lebih mudah dipahami dan diinternalisasi anak, yang kemudian diperkuat melalui pendidikan di sekolah dan masyarakat. Orang tua dan anggota keluarga harus saling memahami hak dan kewajiban masing-masing saat menerapkan pendidikan keluarga. Orang tua harus memahami apa yang dibutuhkan anak, dan anak-anak harus menghormati dan mengikuti apa yang disampaikan orang tua mereka selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan anak-anak untuk belajar sesuai dengan zaman mereka, karena anak-anak diciptakan untuk menghadapi tantangan dari zaman yang berbeda. Pendidikan tauhid, budi pekerti, tanggung jawab, kepedulian, kemandirian, dan pendidikan bermasyarakat adalah semua aspek yang harus diajarkan kepada anak oleh orang tua. Untuk membentuk karakter anak, ayah dan ibu harus bekerja sama untuk melakukan perilaku moral sejak dini. Tujuannya adalah untuk mendidik anak-anak untuk memiliki akhlakul karimah, yang mencakup akhlak kepada Allah. Rasulullah, dan dirinya Sangat penting untuk memiliki akhlak yang sesuai dengan ajaran AlQur'an, terutama di tengah krisis sosial dan kesehatan jiwa yang melanda Ketidaksesuaian antara keinginan untuk memenuhi kebutuhan material dan nilai moral sering menyebabkan konflik internal dalam diri Tuntunan Allah, yang dapat ditemukan dalam Al-Qur'an dan hadis, dapat membantu mengintegrasikan aspek ruhaniah dan jasmaniah manusia. BIBLIOGRAFI Abdi. Khairul, and Erman Anom. AuPola Komunikasi Orang Tua Dalam Membentuk Kepribadian Anak Di Kepenghuluan Panipahan Darat 253 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Kecamatan Pasir Limau Kapas. Ay FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan Dan Manajemen Islam 16. :252Ae69. doi: 10. 32806/jf. Adriansyah. Rian, and Nabila Riski Ananda. AuPenggunaan Twitter Sebagai Medium Distribusi Berita Dan News Gathering Oleh Tirto. Id. Ay Pp. 35Ae45 in Jurnal Prosiding Ilmu SOsial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa. Vol. Al-Qasimi. Muhammad Jamaluddin. MauiAodzah Al-Mukminin Min Ihya Ulumiddin. Jilid II. Jakarta: Dar al Kutub al Islamiyah. Arabi. Arianto. Indra Harahap, and Endang Ekowati. AuKonsep Persaudaraan Dalam Pandangan Islam Dan Budha. Ay Jurnal Ushuluddin 19. :102Ae29. 55759/zam. Astuti. Margaretha Tri, and Laras Triayunda. AuKomunikasi Keluarga Sebagai Sarana Keharmonisan Keluarga. Ay Journal Of Social Science Research Volume 3. :4609Ae17. Baihaqi. Novan. Jenny Ratna Suminar, and Ditha Prasanti. AuPOLA KOMUNIKASI ANGGOTA KELUARGA DENGAN PENYANDANG STROKE ISKEMIK SEBAGAI UPAYA PEMULIHAN. Ay Humanus : Jurnal Sosiohumaniora Nusantara 1. :444Ae58. Fadillah. Nur. AuMenumbuhkan Jiwa Entrepreneurship Muslim Yang Sukses. Ay Eksis: Jurnal Riset Ekonomi Dan Bisnis 10. 26533/eksis. Gunadarma. Universitas. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Gunadarma. Fakultas Ilmu Komunikasi, and Universitas Gunadarma. AuKOMUNIKASI INTERPERSONAL KELUARGA DALAM MENJAGA KESEHATAN MENTAL. Ay 3. :8Ae14. Hesti Agusti Saputri. Siti Nur Kholifah. Farzila Wati, and Rajif Adi Sahroni. AuPeran Sosial Umat Dalam Membangun Solidaritas Menurut Tafsir Surah AtTaubah Ayat 71. Ay Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam 2. :01Ae19. doi: 10. 61132/jmpai. Khairun Nisa. Siti, and Zulkarnain Abdurrahman. AuPola Asuh Orang Tua Dalam Pelaksanaan Ibadah Sholat Anak. Ay Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 4. :517Ae27. doi: 10. 37985/murhum. Khoiriah, and Fitri Alrasi. AuTanggung Jawab Pendidikan Anak Dalam Perspektif Islam Responsibility of Child Education in Islamic Perspective. Ay Jurnal Media Ilmu 1. :164Ae72. Kusaini. Utami Niki. AuPengaruh Media Sosial Terhadap Hubungan Dan Interaksi Antar Keluarga. Ay Innovative: Journal of Social Science Research 2. :1Ae MaAoarif. Bambang S. Komunikasi Dakwah : Paradigma Untuk Aksi. Cet. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Maria. Pismaria Cema. AuPengaruh Komunikasi Orang Tua Terhadap Perilaku Anak. Ay Smart Kids: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 4. :17Ae23. doi: 10. 30631/smartkids. 254 Hafsah Juni Batubara Hadis tentang Etika Komunikasi Alamtara :JurnalKomunikasi dan Penyiaran IslamISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 8,Nomor2. Desember Martiastuti. Kenty. AuPengaruh Persepsi Nilai Anak Terhadap Gaya Pengasuhan Pada Keluarga Dengan Anak Usia Dini. Ay JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidika. :15Ae25. doi: 10. 21009/jkkp. Marzuki. Prinsip Dasar Akhlak Muli. Yogyakarta: Debut Wahana Press. Ngalimun. Ilmu Komunikasi : Sebuah Pengantar Praktis. Cet. Yogyakarta: Pustaka Baru.