PENELITIAN ASLI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME MENGGUNAKAN MODALITAS TENS MWD DAN TERAPI LATIHAN Annisa Adi Pramesti1. Zuyina Luklukaningsih1. Rima Yunitasari1 Program Studi Di Fisioterapi. Program Vokasi. Universitas Widya Dharma. Klaten. Jawa Tengah. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Cervical Root Syndrome kondisi Tanggal Dikirim: 04 Juni 2026 tubuh posisi abnormal akibat tekanan pada akar saraf Tanggal Diterima: 18 Juni 2026 serviks akibat trauma pada diskus intervertebralis di Tanggal DiPublish: 19 Juni 2026 Faktornya peradangan,cedera,osteoartritis, gangguan nyeri myofascial,spasme dan proses Kata kunci: Cervical Root Prevalensi penderita 16,6% orang berumur Syndrome. Microwave mengalami ketidaknyamanan di leher pertahun, dengan Diathermy. Transcutaneus sebagian besar kasus terjadi pada wanita. Electrical Nerve Stimulation. Terapi Latihan Tujuan: untuk memberikan informasi efektif transcutaneus electrical nerve stimulation, microwave diathermy, dan terapi latihan dalam mengurangi Penulis Korespondensi: intensitas sakit, meningkatkan lingkup gerak sendi. Zuyina Luklukaningsi daya tahan otot, serta memperbaiki aktivitas fungsional. Email: lukluk2201@gmail. Metode: Metode yang diaplikasikan pada penelitian ini adalah studi kasus. Data pasien didapatkan melewati anamnesis,pemeriksaan fisioterapi,serta penatalaksanaan fisioterapi dipoli rehabilitasi RSUD Salatiga. Informasi didapatkan dari pasien poli Hasil: Hasil evaluasi menunjukan adanya perubahan otot,peningkatan lingkup gerak sendi, serta perubahan dalam aktivitas fungsional. Kesimpulan: Setelah dilakukan 6 kali terapi dengan Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation,Microwave Diathermy dan Terapi Latihan menunjukkan perubahan intensitas sakit,peningkatan daya tahan otot,peningkatan lingkup gerak sendi, serta perubahan dalam aktivitas fungsional. Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat e-ISSN: 2527-8185 Vol. 11 No. 1 Juni, 2026 (Hal 69-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMKM DOI: https://doi. org/10. 51544/jmkm. How To Cite: Pramesti. Annisa Adi. Zuyina Luklukaningsih, and Rima Yunitasari. AuPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Cervical Root Syndrome Menggunakan Modalitas Tens MWD Dan Terapi Latihan. Ay Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat 11 . : 69Ae77. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jmkm. Copyright A 2026 by the Authors. Published by Program Studi: Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Angka kejadian nyeri leher di Indonesia selama 1 bulan sebesar 19%, dalam 1 tahun mencapai nilai 40% . Nyeri leher menjadi masalah umum bagi banyak orang. Kondisi ini terjadi karena disebabkan ada gangguan pada leher, bisa saja karena postur yang tidak ergonomis dan dalam waktu yang sangat lama . Dalam aktifitas sekarang penggunaan ponsel, laptop, atau elektronik lainnya sangat menarik bagi masyarakat sekarang . Banyak juga pekerjaan-pekerjaan yang membebankan leher,desakan pekerjaan yang susah menjadikan seseorang bertugas lebih cepat dalam postur yang salah . Terdapat 70% orang yang mengalami sakit leher. Setiap tahun terdapat 16 10% s. d 20% orang diumumkan mengalami problem sakit leher. Terdapat 54% person merasakan sakit leher kurun waktu 6 bulan akhir . Prevalensi nyeri leher di Asia Tenggara per 100. 000 orang pada tahun 2017 yaitu sejumlah 697,6 . Data indonesia pertahun 16,6% orang berumur mengalami ketidaknyamanan leher. mayoritas wanita banyak mengalami kejadian CRS. Bahkan, 0,6% awalnya melaporkan sakit leher yang semakin memburuk seiring bertambahnya usia . Cervical Root Syndrome adalah keadaan tubuh dalam posisi abnormal akibat tekanan pada akar saraf serviks akibat trauma atau tertekan diskus intervertebralis dileher . Faktor menyebabkan nyeri, yaitu peradangan, trauma, pengapuran sendi, nyeri myofascial, spasme, serta proses degeneratif . Postur tubuh buruk merupakan alasan yang paling sering menyebabkan CRS, akibat leher dalam kondisi menunduk secara berlebihan jadi berhubungan langsung dengan nyeri leher. Gejala yang dialami yaitu adanya ketegangan otot, sakit bila ditekan, sakit saat bergerak dan juga sakit yang menjalar, rasa kebas pada tangan dan keterbatasan range of motion yang mengakibatkan terjadinya penurunan kemampuan aktivitas fungsional . Terdapat dua faktor utama, yaitu nyeri leher tidak menjalar dan tidak ada gangguan saraf , dan nyeri leher disertai rasa menjalar dan terdapat gangguan fungsi saraf. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation merupakan metode terapi dengan arus listrik untuk merangsang serabut saraf dan menghilangkan rasa sakit. TENS bertujuan mencegah endogen untuk menurunkan rangsangan ke otak . TENS diaplikasikan semua jenis Microwave Diathermy alat yang menggunakan elektromagnetik yang menghasilkan rasa panas secara tidak langsung mampu merubah nilai kekuatan otot dengan melalui penyembuhan jaringan lunak. Tujuannya untuk mengurangi nyeri, memperbaiki aliran darah, membantu penyembuhan jaringan lunak . Aktivitas fisik yang dilakukan terencana tertuju diberikan kepada pasien bertujuan untuk mencegah kelemahan tubuh, memperbaiki atau meningkatkan fungsi fisik, dan mengoptimalkan seluruh anggota tubuh . Latihan yang digunakan pada kasus ini adalah myofascial release, stretching leher, dan hold relax. Salah satu teknik massage yang kerap digunakan oleh fisioterapi disebut myofascial release. Myofascial Release memberikan sensasi rileks pada otot dengan diberikan peregangan dan sedikit tekanan yang bertujuan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi gerak tubuh . Terapi kombinasi yang kerap digunakan dalam meningkatkan kelenturan otot, memulihkan ketegangan otot, meredakan nyeri dan memperbaiki sirkulasi darah adalah Stretching. Hold relax merupakan teknik penguluran dengan perlawanan ringan saat otot dalam kondisi menegang yang tidak menyebabkan perpanjangan otot. Pada kondisi ini terjadi pada seorang pasien yang berprofesi sebagai penata rias (MUA) yang mengalami nyeri yang menjalar dari leher dan timbul rasa kesemutan pada area jari tengah tangan kiri. Make-Up Artist atau biasa disebut sebagai MUA ialah seseorang yang memiliki profesi sebagai penata rias yang sudah memenuhu syarat/ pelatihan. Kondisi ini menjadi salah satu yang terjadi nyeri leher. Dalam melakukan pekerjaan sebagai seorang MUA melibatkan waktu yang lama dalam kondisi kepala cenderung Pasien menjalani terapi dengan waktu 2 kali seminggu. Pelayanan fisioterapi ialah pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk per orangan dan orang banyak bertujuan mencegah dan memulihkan gerak fungsi tubuh. Peran seorang fisioterapi adalah menghilangkan nyeri, meredakan ketegangan otot, memperbaiki LGS dan memulihkan kemampuan aktivitas fungsional pasien. Metode Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus tunggal dengan metode pendekatan deskriptif. Studi kasus tunggal merupakan teknik penelitian yang berfokus pada investigasi komprehensif terhadap suatu subjek spesifik, baik itu berupa perorangan / individu. Tujuannya untuk menggali data secara menyeluruh guna mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai unit yang diteliti tersebut. Populasi penelitian adalah pasien Cervical Root Syndrome di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga dengan sampel penelitian satu pasien yaitu Ny. TD usia 45 tahun dengan diagnosis Cervical Root Syndrome di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga dengan pemberian pemeriksaan fisioterapi, yaitu nyeri, kekebalan otot, lingkup gerak sendi, dan kemampuan aktivitas fungsional. Intervensi diberikan adalah Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation. Microwave Diathermy, dan exercise therapy. Pasien diberikan penangan 6 kali intervensi yang dilakukan pada tanggal 2 Februari 2026 s. 28 Februari 2026 di RSUD Salatiga. Evaluasi yang digunakan adalah evaluasi nyeri dengan Numeric Rating Scale, evaluasi kekuatan otot menggunakan manual muscle testing, evaluasi range of motion dengan goniometer dan evaluasi kemampuan aktivitas fungsional dengan Neck Disability Index. Hasil Pasien Ny. TD usia 45 tahun, keluhan utama adanya rasa nyeri yang menjalar dari leher dan timbul rasa kesemutan pada area jari tengah tangan kiri diberikan intervensi fisioterapi, yaitu Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation. Microwave Diathermy, dan exercise therapy. Penggunaan intervensi tujuan untuk mengatasi problem fisioterapi yaitu nyeri, penurunan nilai kekuatan otot, penurunan Lingkup Gerak Sendi, dan kemampuan aktivitas fungsional dengan pemeriksaan fisioterapi sebagai berikut: Tabel 1. Evaluasi Nyeri Menggunakan Numeric Rating Scale Nyeri Terapi Pertama (T. Terapi Terakhir (T. Diam Gerak Tekan Sumber: Data Primer, 2026 Berdasarkan tabel 1. Hasil evaluasi nyeri menggunakan NRS ,nyeri diam, tekan, dan gerak dari T0 sampai T6 pada leher. Hasil nyeri diam T0 mendapatkan nilai 2 dan T6 adanya penurunan nyeri menjadi 1. Pada nyeri tekan T0 didapatkan hasil nilai 6, dan pada T6 terdapat penurunan nyeri menjadi 3. Pada penilaian nyeri gerak. T0 mendapatkan nilai 6 dan T6 mengalami penurunan nyeri menjadi 3. Tabel 2. Evaluasi nilai kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing Gerakan Terapi Pertama (T. Terapi Terakhir (T. Flexi Extensi Side Flexi Dex Side Flexi Sin Rotasi Dex Rotasi Sin Sumber: Data Primer, 2026 Berdasarkan tabel 2. Hasil evaluasi kekuatan otot menggunakan MMT, pada otot flexi, extensi, side flexi dextra, side flexi sinistra, rotasi dextra, dan rotasi sinistra dari T0 sampai T6 pada leher. Hasil evaluasi otot gerak fleksi T0 mendapatkan nilai 4 dan T6 mengalami peningkatan dengan nilai 5. Hasil penilaian otot gerak ekstensi T0 mendapatkan nilai 5 dan T6 tidak ada perubahan. Hasil penilaian otot gerak side fleksi dextra dengan nilai 4 dan T6 adanya peningkatan dengan nilai 5. Hasil penilaian otot gerak side fleksi sinistra dengan nilai 4 dan T6 tidak ada peningkatan. Hasil penilaian otot gerak rotasi dextra dengan nilai 4 dan T6 tidak ada peningkatan. Hasil penilaian otot gerak rotasi sinistra dengan nilai 4 dan T6 tidak ada peningkatan. Tabel 3. Evaluasi Lingkup Gerak Sendi Menggunakan Goniometer Regio Gerakan Terapi Pertama Terapi Terakhir (T. (T. Neck Extensi - Flexi 45o - 0 - 35o 45o - 0 - 40o Flexi Dextra Ae L. Flexi 35o - 0 - 35o 45o - 0 - 40o Sinistra Rotasi dextra Ae Rotasi 45o - 0 - 45o 46o - 0 - 46o Sumber: Data Primer, 2026 Berdasarkan tabel 3. Hasil evaluasi dari pengukuran lingkup gerak sendi yang dilakukan 6 kali menunjukkan perubahan nilai range of motion pada neck. Pada gerakan flexi neck T0 35o dan T6 menjadi 40o, pada gerak extensi neck T0 45o dan T6 tidak ada perubahan, pada gerak lateral flexi dextra T0 35o dan T6 menjadi 45o, pada gerak lateral flexi sinistra T0 35o dan T6 menjadi 40o, pada gerak rotasi dextra T0 45o dan T6 menjadi 46o, pada gerak rotasi sinistra T0 45o dan T6 menjadi 46o. Tabel 4. Evaluasi Aktivitas Fungsional Menggunakan Neck Disability Index Item Terapi Pertama Terapi (T. Terakhir (T. Intensitas Nyeri Perawatan Diri Mengangkat Benda Membaca Sakit Kepala Konsentrasi Bekerja Mengemudi Tidur Rekreasi Total Skor Interpretasi Keterbatasan Ringan Keterbatasan Ringan Sumber: Data Primer, 2026 Berdasarkan tabel 4. Pada tabel evaluasi penilaian aktivitas fungsional dengan menggunakan Neck Disability Index didapatkan perubahan pada kemampuan fungsional pada item penilaian Intensitas Nyeri. Sakit Kepala. Konsentrasi. Bekerja, dan Mengemudi dari nilai 2 menjadi 1, dari nilai 2 menjadi 0, dan dari nilai 1 menjadi Dengan interpretasi keterbatasan ringan. Pembahasan Nyeri Nyeri dapat digambarkan pengalaman sensoris dan emosional yang disebabkan oleh stimulus tertentu . Nyeri merupakan rasa tidak nyaman dan menjadi pengalaman emosional berhubungan kerusakan jaringan dan digambarkan sebagai adanya kerusakan jaringan. Sering terjadi akibat stimulus, reseptor menerima rangsangan,dan menghantar nyeri. Kemudian otak merespon tubuh agar menghindar . Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation merupakan metode terapi dengan arus listrik untuk merangsang serabut saraf dan menghilangkan rasa nyeri bertujuan bertujuan mencegah endogen untuk menurunkan rangsangan ke otak . Pemberian pada kasus cervical root syndrome sangat berpengaruh untuk mengurangi nyeri pada Mekanisme TENS adalah menghambat sinyal rasa sakit ke otak dan merangsang melepas zat alami tubuh bertujuan untuk menghilangkan rasa myeri. Jadi pemberian TENS sangat tepat dan efektif untuk penanganan nyeri pada gangguan cervical root Microwave Diathermy alat yang menggunakan elektromagnetik yang menghasilkan rasa panas secara tidak langsung mampu merubah nilai kekuatan otot dengan melalui penyembuhan jaringan lunak . Gelombang yang menghasilkan efek panas mampu meningkatkan kemampuan serta ambang rasa saraf dengan tujuan untuk mengurangi nyeri, memperbaiki jaringan secara fisiologis serta memberikan efek rileks. Jadi pemberian MWD kepada pasien bertujuan untuk merileksasi respon otot terhadap suatu Stretching merupakan istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan suatu aktivitas peregangan struktur jaringan yang sedang mengalami pemendekan. Stretching bertujuan untuk memberikan efek sedatif , mengurangi rasa nyeri dan memulihkan otot yang mengalami tegang. Pemberian stretching leher pada pasien cervical root syndrome mampu memberikan efek rileks agar nyeri berkurang dan pasien menjadi Hold relax merupakan teknik penguluran dengan perlawanan ringan saat otot dalam kondisi menegang yang tidak menyebabkan perpanjangan otot. Hold relax dilakukan secara pasif, efek pemberian hold relax pada pasien cervical root syndrome yaitu efek relaksasi pada otot yang spasme dan mengurangi rasa nyeri akibat leher yang Myofascial Release yaitu teknik massage yang kerap digunakan oleh fisioterapi. Masaage ini mampu di berikan pada berbagai kasus, terutama pada nyeri leher. Myofascial Release memberikan sensasi rileks pada otot dengan diberikan peregangan dan sedikit tekanan yang bertujuan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi gerak tubuh . Jadi pemberian Myofascial Release kepada pasien dengan gangguan cervical root syndrome sangat tepat untuk mengurangi rasa nyeri. Kekuatan Otot Pemeriksaan Manual Muscle Testing dilakukan oleh fisioterapis dengan cara menggerakkan anggota badan pasien untuk mengevaluasi seberapa kuat dan optimal fungsi otot mereka. Kemampuan otot ini diukur berdasarkan kapasitas maksimum yang dihasilkan oleh kumpulan otot ketika beraktivitas pada kecepatan tertentu. Pemberian Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation selain mampu mengurangi nyeri, secara tidak langsung juga dapat mengurangi kekakuan pada otot, meningkatkan kemampuan gerak dan meningkatkan aktivitas fungsional . Intervensi selanjutnya ada Microwave Diathermy alat yang menggunakan elektromagnetik yang menghasilkan rasa panas secara tidak langsung mampu merubah nilai kekuatan otot dengan melalui penyembuhan jaringan lunak . Tujuannya tidak hanya untuk mengurangi nyeri, efek rileks yang dihasilkan juga mempercepat penyembuhan jaringan lunak sehingga secara bertahap mampu meningkatkan kekuatan otot. Myofascial Release secara tidak langsung dapat memberikan rasa rileks pada otot yang spasme, efek yang diberikan tidak langsung untuk meningkatkan kekuatan otot, tetapi hanya memberikan efek rileks untuk otot yang mengalami spasme. Stretching merupakan istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan suatu aktivitas peregangan struktur jaringan yang sedang mengalami pemendekan. Tujuan stretching untuk memberikan efek sedatif , mengurangi rasa nyeri dan memulihkan otot yang mengalami tegang. Hold relax merupakan teknik penguluran dengan perlawanan ringan saat otot dalam kondisi menegang yang tidak menyebabkan perpanjangan otot. Hold relax dilakukan secara pasif, efek pemberian hold relax pada pasien cervical root syndrome yaitu efek relaksasi pada otot yang spasme. Jadi pemberian stretching dan hold relax tidak secara langsung mampu meningkatkan kekuatan otot, tetapi efek yang di berikan hanya efek rileks pada otot sehingga mampu membantu proses pemulihan. Lingkup Gerak Sendi Untuk mengetahui sejauh mana suatu sendi dapat menggerakkan bagian tubuh, digunakan instrumen ukur yang biasa disebut sebagai Lingkup Gerak Sendi. Metode pengukuran batas gerakan yang akan diukur disebut range of motion. Alat yang digunakan untuk menggambarkan sejauh mana sendi tubuh manusia dapat bergerak dalam berbagai arah disebut Range Of Motion . Pengukuran digunakan dalam bidang kesehatan karena memungkinkan para profesional kesehatan untuk mengevaluasi kemampuan beradaptasi, mobilitas, dan fungsi sendi . Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation salah satu intervensi menggunakan arus listrik berfrekuensi rendah secara tidak langsung mampu meningkatkan kemampuan gerak dan aktivitas fungsional . Microwave Diathermy alat yang menggunakan elektromagnetik yang menghasilkan rasa panas secara tidak langsung mampu meningkatkan lingkup gerak sendi hanya saja mempercepat penyembuhan jaringan lunak . Tujuannya tidak hanya untuk mengurangi nyeri, efek rileks yang dihasilkan juga mempercepat penyembuhan jaringan lunak sehingga secara bertahap mampu memperbaiki nilai kekuatan otot dan lingkup gerak sendi. Myofascial Release secara tidak langsung dapat memberi rasa rileks pada otot yang spasme, pengaruh yang diberikan tidak langsung untuk meningkatkan lingkup gerak sendi, tetapi hanya memberikan efek rileks untuk otot yang mengalami spasme. Pemberian terapi latihan pada kasus ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi gerak tubuh, mencegah resiko cedera dan mengoptimalkan seluruh status kesehatan. Stretching adalah aktivitas peregangan struktur jaringan yang sedang mengalami Stretching bertujuan untuk memberikan efek sedatif , mengurangi rasa nyeri dan memulihkan otot yang mengalami tegang. Pemberian stretching leher pada pasien cervical root syndrome mampu meningkatkan lingkup gerak sendi. Hold relax merupakan teknik penguluran dengan perlawanan ringan saat otot dalam kondisi menegang yang tidak menyebabkan perpanjangan otot. Hold relax dilakukan secara pasif, efek pemberian hold relax pada pasien cervical root syndrome yaitu efek relaksasi pada otot yang spasme dan meningkatkan lingkup gerak sendi. Aktifitas Fungsional Aktivitas yang menggunakan postur yang tidak ergonomis dan berulang membuat nyeri leher, akibat dari kekuatan atau daya tahan otot yang kurang baik dan postur tubuh yang buruk . Aktivitas fungsional leher adalah kemampuan suatu individu menggerakkan leher yang meliputi gerakan menoleh, gerakan memutar kepala, dan gerakan menunduk secara mandiri. Faktor yang mempengaruhi aktivitas leher yaitu lingkup gerak sendi leher dan nyeri pada leher . Microwave Diathermy mampu mengurangi nyeri dengan efek dari gelombanggelombang mikro yang menciptakan efek panas, sehingga dapat memulihkan kemampuan aktivitas fungsional pasien. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation salah satu intervensi menggunakan arus listrik berfrekuensi rendah secara tidak langsung mampu meningkatkan kemampuan gerak dan aktivitas fungsional . Stretching adalah aktivitas peregangan struktur jaringan yang sedang mengalami Stretching bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri dan memulihkan otot yang mengalami tegang. Pemberian stretching leher pada pasien cervical root syndrome mampu memulihkan tubuh agar mampu melakukan kativitas sehari-hari tanpa adanya gangguan. Hold relax merupakan teknik penguluran dengan perlawanan ringan saat otot dalam kondisi menegang yang tidak menyebabkan perpanjangan otot. Hold relax dilakukan secara pasif, efek pemberian hold relax pada pasien cervical root syndrome yaitu efek relaksasi pada otot yang spasme dan memulihkan lingkup gerak sendi dan mengembalikan kemampuan fungsional pasien. Kesimpulan Disimpulkan bawa pemberian Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation. Microwave Diathermy dan Exercise Therapy pada Ny. TD usia 45 tahun dengan keluhan utama adanya rasa nyeri yang menjalar dari leher dan timbul rasa kesemutan pada area jari tengah tangan kiri bahwa dengan modalitas yang digunakan dapat mengurangi nyeri, meningkatkan range of motion, kekuatan otot dan aktivitas fungsional. Setelah diberikan 6 kali dan didapatkan hasil yang signifikan dan sudah tertera diatas. Ucapan Terimakasih Rasa terima kasih yang mendalam penulis sampaikan kepada ibunda tercinta, keluarga besar, serta dosen pembimbing yang telah memberikan arahan. Apresiasi setinggitingginya juga ditujukan kepada segenap dosen Prodi Di Fisioterapi Universitas Widya Dharma Klaten, rekan-rekan angkatan 7, serta seluruh sahabat yang telah memberikan dukungan moral dan bantuan moral, sehingga penulisan jurnal ini dapat selesai sesuai target. Referensi