Ilmu Al-QurAoan (IQ) Jurnal Pendidikan Islam Volume 8 No. ISSN: 2338-4131 (Prin. 2715-4793 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 37542/t0qg2458 Urgensi Kegiatan Islami terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini Mumu Zainal Mutaqin1. Saepul Bahri2. Sanusi3. Deden Inayatullah4. Nunu Husnun5 1,2,3,4,5Universitas Mathlayl Anwar Banten mutaqin@gmail. 2muruypisan@gmail. sanusi@gmail. 4dedeninayatullah0@gmail. nunu@unmsbanten. Abstract: This study aims to examine in depth the urgency of Islamic activities for the social and emotional development of early childhood. This study uses a qualitative approach with a literature study type. Literature studies were chosen to explore and analyze various scientific literature, books, and other relevant sources that discuss Islamic activities, instilling Islamic values, social and emotional development of early childhood, and the relationship between the The results of this literature study indicate that Islamic activities have a significant role in instilling Islamic values such as honesty, compassion, cooperation, and respect for others in early childhood. Instilling these values is an important foundation in forming positive social behavior and the ability to build healthy relationships. Furthermore, this study also identified that Islamic activities contribute to children's emotional development through the introduction of calming religious concepts, learning about emotional management, and fostering empathy and caring. Islamic activities not only provide religious knowledge, but also actively stimulate children's social development through positive interactions, understanding social norms, and developing empathy. In addition. Islamic activities also play an important role in shaping children's emotional maturity through recognizing emotions, developing self-regulation skills, and fostering resilience. Thus, this study concludes that Islamic activities are a crucial element in supporting the holistic social and emotional development of early childhood. Keywords: Islamic Activities. Social And Emotional. Early childhood Mumu Zainal Mutaqin. Saepul Bahri. Sanusi. Deden Inayatullah. Nunu Husnun Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam urgensi kegiatan Islami terhadap perkembangan sosial dan emosional anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka. studi pustaka dipilih untuk mengeksplorasi dan menganalisis berbagai literatur ilmiah, buku, dan sumber-sumber relevan lainnya yang membahas tentang kegiatan Islami, penanaman nilai-nilai Islami, perkembangan sosial dan emosional anak usia dini, serta keterkaitan antara keduanya. Hasil studi pustaka ini menunjukkan bahwa kegiatan Islami memiliki peran signifikan dalam menanamkan nilai-nilai Islami seperti kejujuran, kasih sayang, kerjasama, dan menghormati sesama pada anak usia Penanaman nilai-nilai ini menjadi landasan penting dalam membentuk perilaku sosial yang positif dan kemampuan membangun hubungan yang sehat. Lebih lanjut, penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa kegiatan Islami berkontribusi terhadap perkembangan emosional anak melalui pengenalan konsep-konsep agama yang menenangkan, pembelajaran tentang pengelolaan emosi, serta penumbuhan rasa empati dan kepedulian. Kegiatan Islami tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga secara aktif menstimulasi perkembangan sosial anak melalui interaksi positif, pemahaman norma sosial, dan pengembangan empati. Selain itu, kegiatan Islami juga berperan penting dalam membentuk kematangan emosional anak melalui pengenalan emosi, pengembangan kemampuan regulasi diri, dan penumbuhan resiliensi. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa kegiatan Islami merupakan elemen krusial dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional anak usia dini secara holistik. Kata Kunci: Kegiatan Islami. Sosil Dan Emosional. Anak Usia Dini Pendahuluan Pendidikan anak sebagai fondasi dalam pembentukan kepribadian individu. Karena di usia emas ini, anak memiliki kemampuan menyerap informasi dan nilai-nilai dengan sangat Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai agama Islam melalui kegiatan yang terstruktur dan menyenangkan menjadi sangat urgen. Kegiatan Islami di PAUD bukan hanya sekadar mengenalkan anak pada ritual ibadah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan spiritual yang menjadi landasan bagi perkembangan sosial dan emosional mereka di masa Kegiatan Islami yang dirancang dengan tepat di tingkat PAUD memiliki potensi besar dalam membentuk anak-anak yang berakhlak mulia, memiliki empati, toleransi, dan mampu berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitarnya. Pengenalan ajaran Islam sejak dini 70 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Urgensi Kegiatan Islami Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini membantu anak memahami konsep baik dan buruk, benar dan salah, serta menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT dan sesama manusia. Indikator keberhasilan kegiatan Islami dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, pengetahuan dasar agama, seperti mengenal nama-nama Allah (Asmaul Husn. , rukun Islam, rukun Iman, dan kisah-kisah Nabi. Kedua, praktik ibadah sederhana yang diajarkan secara bertahap dan menyenangkan, seperti gerakan dan bacaan shalat yang pendek, berwudhu dengan benar, serta menghafal surat-surat pendek Al-Qur'an. Ketiga, internalisasi nilai-nilai moral, seperti kejujuran, kedisiplinan, kasih sayang, saling menghormati, dan berbagi. Keempat, perilaku sosial yang positif, seperti kemampuan bekerja sama, berbagi dengan teman, menghargai perbedaan, dan menunjukkan empati terhadap orang lain. Lebih lanjut, kegiatan Islami yang efektif juga tercermin dalam sikap spiritual anak, seperti rasa syukur atas nikmat Allah, ketenangan hati saat berdoa, dan keyakinan akan adanya pertolongan Allah. Observasi terhadap interaksi anak dengan teman sebaya dan guru, partisipasi dalam kegiatan keagamaan, serta respons mereka terhadap cerita-cerita Islami dapat menjadi indikator penting dalam mengevaluasi dampak kegiatan Islami di PAUD. Selain itu. Keberhasilan implementasi kegiatan Islami dapat diukur melalui beberapa indikator yang mencerminkan perkembangan anak dalam ranah sosial dan emosional. Pertama, pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, amanah, kasih sayang, dan menghormati orang yang lebih tua. Kedua, manifestasi perilaku sosial yang positif, seperti kemampuan berbagi, bekerja sama dalam kelompok, mengantri dengan sabar, dan menunjukkan kepedulian terhadap teman yang sedang kesulitan. Ketiga, kemampuan mengelola emosi secara konstruktif, seperti mengungkapkan perasaan dengan cara yang tepat, mengendalikan amarah, dan belajar memaafkan kesalahan orang lain. Keempat, terbentuknya kesadaran spiritual, seperti rasa syukur atas nikmat Allah, ketenangan saat berdoa, dan keyakinan akan adanya nilai-nilai transenden dalam kehidupan. Observasi terhadap interaksi anak selama kegiatan bermain dan belajar, respons mereka terhadap cerita-cerita Islami, partisipasi dalam kegiatan keagamaan bersama, serta umpan balik dari guru dan orang tua dapat menjadi sumber data yang kaya untuk mengevaluasi efektivitas kegiatan Islami dalam menstimulasi perkembangan sosial-emosional anak. Perkembangan sosial anak usia dini mencakup kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan orang lain, membangun hubungan pertemanan, memahami aturan sosial, dan Suyanto. Selamat. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Hikayat Publishing. Hal 160 Fauziah. , & Rahmawati. Pengembangan Program Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam Di Pendidikan Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Volume 3 Nomor 1 2025. Hal75-78. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 01 2025 | 71 Mumu Zainal Mutaqin. Saepul Bahri. Sanusi. Deden Inayatullah. Nunu Husnun berpartisipasi dalam kelompok. Sementara itu, perkembangan emosional melibatkan kemampuan anak untuk mengenali, mengungkapkan, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri serta emosi orang lain 3. Kedua aspek perkembangan ini saling terkait erat dan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan psikologis dan kemampuan adaptasi anak di masa depan. Kegiatan Islami secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi pada perkembangan sosial dan emosional anak. Melalui cerita-cerita Islami, anak-anak belajar tentang nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang, yang menjadi landasan penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Praktik ibadah bersama, seperti berdoa atau mendengarkan cerita, juga dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan memperkuat ikatan emosional antar anak. Kegiatan Islami yang terintegrasi dalam kurikulum PAUD memiliki urgensi yang sangat besar dalam mendukung perkembangan sosial-emosional anak. Pertama, kegiatan Islami menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang menjadi kompas dalam berinteraksi dengan orang lain. Kedua, mengembangkan empati dan kepedulian terhadap sesama. Ketiga, membantu anak mengelola emosi secara positif. Keempat, menumbuhkan rasa percaya diri dan identitas diri yang positif. Kelima, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan penuh kasih sayang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan Islami bukan hanya sekadar pelengkap dalam kurikulum PAUD, melainkan memiliki urgensi yang fundamental dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia, memiliki kecerdasan emosional yang baik, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Penyelenggaraan kegiatan Islami yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan tersebut. Kegiatan Islami bukan hanya sekadar mengenalkan ritual keagamaan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter anak yang Melalui kegiatan yang terintegrasi, kreatif, dan menyenangkan, anak-anak dapat mengembangkan kecerdasan spiritual, kematangan sosial, dan kestabilan emosional yang menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan di masa depan 5. Metode Penelitian Papalia. Olds. , & Feldman. Human development . th ed. McGraw-Hill Education. Shihab. Quraish. Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Mizan. 2002 Hal 85 Julian. Muhammad Julian. Yesi Arikarani . Muhammad Attoriqi Hakim. Amrina Rosada. Lia Dwi Utami. Implementasi Pendidikan Agama Islam Sejak Usia Dini Di Era Modern. Bouseik: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 1. No. 1 Mei 2023. Hal 82 72 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Urgensi Kegiatan Islami Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka untuk mengkaji secara mendalam urgensi kegiatan Islami dalam menstimulasi perkembangan sosialemosional anak usia dini. Studi pustaka dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi berbagai perspektif teoretis, hasil penelitian terdahulu, dan pandangan para ahli terkait topik ini tanpa terikat pada pengumpulan data lapangan secara langsung. Fokus utama adalah pada analisis konsep-konsep kunci seperti nilai-nilai Islam, perkembangan sosialemosional anak usia dini, serta bagaimana kegiatan Islami di tingkat PAUD dapat menjadi medium yang efektif dalam mengintegrasikan kedua aspek tersebut. Teknik pengumpulan data dalam studi pustaka ini melibatkan identifikasi, pengumpulan, dan seleksi sumber-sumber relevan yang berkaitan dengan topik penelitian. Sumber-sumber tersebut meliputi buku-buku teks tentang pendidikan anak usia dini, psikologi perkembangan, dan pendidikan agama Islam. artikel-artikel jurnal ilmiah nasional dan internasional yang terpublikasi. prosiding seminar atau konferensi. serta dokumen-dokumen resmi seperti kurikulum pendidikan dan laporan penelitian. Analisis data dalam studi pustaka ini dilakukan melalui metode analisis konten dan sintesis tematik. Analisis konten digunakan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan informasi yang relevan dari berbagai sumber terpilih. Proses ini melibatkan pembacaan mendalam, pemberian kode pada unit-unit informasi yang signifikan, dan pengorganisasian kode-kode tersebut ke dalam kategori-kategori yang lebih luas. Selanjutnya, sintesis tematik dilakukan untuk mengintegrasikan temuan-temuan dari berbagai sumber, mengidentifikasi pola-pola hubungan, dan merumuskan pemahaman yang komprehensif mengenai urgensi kegiatan Islami bagi perkembangan sosial-emosional anak usia dini. Proses ini melibatkan perbandingan dan kontras antar pendapat, identifikasi kesamaan dan perbedaan, serta pengembangan argumen yang didukung oleh berbagai sumber literatur. Hasil dan Pembahasan Penanaman Nilai-Nilai Islami terhadap Anak Usia Dini Masa usia dini, yang sering disebut sebagai periode emas perkembangan, merupakan waktu yang sangat krusial untuk menanamkan berbagai nilai positif, termasuk nilai-nilai Islami. Pada rentang usia ini, anak-anak memiliki kemampuan menyerap informasi dan meniru perilaku di sekitarnya dengan sangat cepat. Oleh karena itu, pengenalan dan penanaman nilainilai Islam sejak dini menjadi fondasi yang kokoh dalam membentuk karakter, moral, dan spiritualitas mereka di masa depan. Pendidikan Islami tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang ajaran agama, tetapi juga untuk menginternalisasikan nilai-nilai tersebut IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 01 2025 | 73 Mumu Zainal Mutaqin. Saepul Bahri. Sanusi. Deden Inayatullah. Nunu Husnun dalam perilaku sehari-hari anak. Lingkungan PAUD yang Islami menawarkan beragam kegiatan yang dirancang untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada anakanak dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Beberapa kegiatan Islami yang umum dijumpai meliputi pengenalan rukun Islam dan rukun Iman melalui cerita, lagu, dan permainan. pembelajaran doa-doa harian yang sederhana dan mudah dihafalkan. latihan gerakan dan bacaan shalat secara bertahap. pengenalan huruf hijaiyah dan membaca Al-Qur'an dengan metode yang interaktif. serta penyampaian kisahkisah Nabi dan Rasul sebagai teladan. Selain itu, kegiatan Islami mencakup pembiasaan adab dan akhlak Islami dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengucapkan salam, meminta maaf, berterima kasih, berbagi dengan teman, dan menghormati guru serta orang yang lebih tua. Kegiatan perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi atau Idul Fitri juga seringkali diintegrasikan dalam pembelajaran untuk mengenalkan anak pada tradisi dan nilai-nilai keislaman dalam konteks sosial. Melalui kegiatan-kegiatan ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang Islam, tetapi juga merasakan kegembiraan dan kebersamaan dalam mengamalkannya. Menanamkan nilai-nilai Islami pada anak usia dini memerlukan pendekatan yangHolistik, kreatif, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan mereka. Salah satu cara yang efektif adalah melalui pembelajaran berbasis bermain . lay-based learnin. Nilai-nilai seperti kejujuran, kerjasama, dan saling membantu dapat disisipkan dalam berbagai permainan yang terstruktur maupun bebas. Guru dapat merancang permainan yang membutuhkan kerjasama tim atau yang menuntut anak untuk bersikap jujur dalam mengikuti aturan. Pendongengan atau bercerita juga merupakan metode yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai Islami. Cerita-cerita tentang para Nabi, sahabat, atau kisah-kisah moral dalam AlQur'an dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan menarik, sehingga anak-anak dapat mengambil pelajaran dan meneladani perilaku positif. Penggunaan lagu-lagu Islami yang riang dan mudah dihafalkan juga dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan konsep-konsep agama dan nilai-nilai moral. Selain itu, keteladanan dari guru dan orang dewasa di sekitar anak memegang peranan yang sangat penting. Anak-anak belajar melalui observasi dan imitasi. Jika guru dan orang tua menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti bersikap jujur, sabar, dan penyayang, maka anak-anak akan lebih mudah mencontoh dan menginternalisasinya. Nuronia. Roihana Nuronia. Nur Jannah. Keteladanan Guru Sebagai Pilar Pendidikan Karakter Siswa Di Madrasah. An-Nadwah:Journal Research on Islamic Education Volume 01. No. Maret 2025 halaman 29. 74 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Urgensi Kegiatan Islami Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini Guru memiliki peran sentral dalam merancang dan melaksanakan kegiatan Islami yang efektif di PAUD. Upaya guru dalam menanamkan kegiatan Islam pada anak usia dini meliputi perencanaan pembelajaran yang terintegrasi, di mana nilai-nilai Islami tidak hanya diajarkan secara terpisah tetapi juga diintegrasikan dalam berbagai tema pembelajaran. Misalnya, tema tentang keluarga dapat dihubungkan dengan nilai-nilai kasih sayang dan menghormati orang tua dalam Islam. Guru juga perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan Islami, di mana anak-anak merasa aman, nyaman, dan termotivasi untuk belajar tentang agama mereka. Hal ini dapat diwujudkan melalui penyediaan materi dan media pembelajaran yang menarik dan relevan, seperti gambar-gambar tentang ibadah, buku-buku cerita Islami yang bergambar, dan alat peraga yang interaktif. Penggunaan metode pembelajaran yang variatif dan menyenangkan juga menjadi kunci keberhasilan guru dalam menanamkan nilai-nilai Islami. Selain bermain dan bercerita, guru dapat menggunakan metode bernyanyi, mewarnai, membuat karya seni bertema Islami, atau melakukan kegiatan drama sederhana untuk menghidupkan pembelajaran agama. Evaluasi yang berkelanjutan terhadap efektivitas kegiatan juga penting dilakukan oleh guru untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan minat anak. Dengan demikian, keterlibatan orang tua dalam proses penanaman nilai-nilai Islami juga sangat penting. Guru dapat menjalin komunikasi yang efektif dengan orang tua, memberikan informasi tentang kegiatan Islami di sekolah, dan mendorong orang tua untuk melanjutkan pembiasaan nilai-nilai tersebut di rumah. Melalui kerjasama yang baik antara guru dan orang tua, penanaman nilai-nilai Islami pada anak usia dini dapat berjalan secara konsisten dan memberikan dampak yang lebih signifikan. Penanaman nilai-nilai Islami pada anak usia dini bukan hanya merupakan tanggung jawab institusi pendidikan dan keluarga, tetapi juga merupakan investasi penting bagi pembentukan generasi Muslim yang berakhlak mulia, memiliki pemahaman agama yang baik, dan mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Islami yang terencana, kreatif, dan menyenangkan di PAUD menjadi wadah yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, kita tidak hanya membekali anak-anak dengan pengetahuan agama, tetapi juga dengan kompas moral dan spiritual yang akan membimbing mereka menjadi individu yang beriman, bertakwa, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara. Hidayat. , & Muslihah. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak. Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini. Volume 2 Nomor 1 2024. Halaman 68-70. Samsinar . Sitti Fatimah. Ririn Adrianti. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Tulungagung. Akademia Pustaka. Hal 7 IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 01 2025 | 75 Mumu Zainal Mutaqin. Saepul Bahri. Sanusi. Deden Inayatullah. Nunu Husnun Pembelajaran ini mencakup lebih dari sekadar hafalan dan ritual. ia menumbuhkan pemahaman mendalam tentang ajaran agama sebagai pedoman hidup. Anak-anak diajarkan untuk memahami konsep tauhid, mengamalkan nilai-nilai akhlak mulia seperti kejujuran, amanah, dan toleransi, serta menanamkan rasa syukur atas segala nikmat. Ini membentuk fondasi karakter yang kokoh, membuat mereka mampu membedakan yang hak dan yang batil, serta menghadapi berbagai tantangan hidup dengan keteguhan iman. Dengan pondasi yang kuat ini, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan nilai-nilai spiritual dan sosial. Mereka akan terdorong untuk berkontribusi positif di tengah masyarakat, menjalankan peran sebagai individu yang bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama. Landasan Islam yang kokoh membekali mereka dengan motivasi intrinsik untuk berbuat kebaikan, menjaga persatuan, dan menjunjung tinggi perdamaian. Pada akhirnya, ini akan menghasilkan individu-individu yang tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga memiliki bekal untuk kebahagiaan abadi di akhirat, serta menjadi agen perubahan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh umat. Menumbuhkan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini Perkembangan sosial dan emosional merupakan dua aspek krusial dalam pembentukan kepribadian anak usia dini. Perkembangan sosial merujuk pada kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain, membangun hubungan pertemanan, memahami aturan dan norma sosial, serta berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Sementara itu, perkembangan emosional mencakup kemampuan anak untuk mengenali, mengungkapkan, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri serta mengenali dan merespons emosi orang lain. 9 Kedua aspek ini saling terkait erat dan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan psikologis dan kemampuan adaptasi anak di masa depan. Perkembangan sosial anak usia dini dapat diamati melalui beberapa indikator kunci. Pertama, kemampuan berinteraksi positif dengan teman sebaya dan orang dewasa, menunjukkan keramahan, dan mampu memulai serta mempertahankan percakapan. Kedua, kemampuan bekerja sama dalam kelompok, berbagi mainan atau tugas, serta menghargai pendapat orang lain. Ketiga, pemahaman dan kepatuhan terhadap aturan dan norma sosial yang berlaku di lingkungan bermain dan belajar. Keempat, kemampuan menunjukkan empati dan kepedulian terhadap perasaan orang lain, serta memberikan bantuan atau dukungan ketika dibutuhkan. Kelima, kemampuan menyelesaikan Mutaqin. Mumu Zainal. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Jenjang Sekolah Dasar. Jurnal Anak Bangsa (JAS). Vol. No. Februari, 2023 hal. 76 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Urgensi Kegiatan Islami Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini konflik dengan cara yang konstruktif, seperti berkomunikasi secara asertif dan mencari solusi Perkembangan emosional anak usia dini juga memiliki indikator yang jelas. Pertama, kemampuan mengenali dan memberi nama berbagai emosi yang dirasakan, seperti senang, sedih, marah, dan takut. Kedua, kemampuan mengungkapkan emosi dengan cara yang sehat dan sesuai dengan situasi. Ketiga, kemampuan memahami penyebab dan konsekuensi dari berbagai emosi. Keempat, kemampuan mengelola emosi diri sendiri secara efektif, seperti menenangkan diri saat marah atau mengatasi rasa takut. Kelima, kemampuan mengenali dan merespons emosi orang lain dengan tepat, menunjukkan kepekaan dan pemahaman. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pembelajaran yang dapat meningkatkan perkembangan sosial dan emosional anak usia dini. Upaya guru dalam hal ini meliputi menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif, di mana setiap anak merasa diterima dan dihargai. Lingkungan yang positif akan mendorong anak untuk berinteraksi secara terbuka dan membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya dan Guru juga berperan dalam merancang kegiatan pembelajaran yang kolaboratif, seperti bermain kelompok, proyek bersama, atau kegiatan seni yang melibatkan interaksi antar anak. Kegiatan-kegiatan ini memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar bekerja sama, berbagi ide, dan menghargai perbedaan pendapat. Selain itu, guru dapat memodelkan perilaku sosial dan emosional yang positif, menunjukkan empati, kesabaran, dan kemampuan mengelola emosi dalam interaksi sehari-hari. Terdapat langkah-langkah konkret yang dapat diambil guru untuk menumbuhkan perkembangan sosial dan emosional anak usia dini. Langkah pertama adalah membangun hubungan yang hangat dan suportif dengan setiap anak, menunjukkan perhatian dan mendengarkan mereka dengan saksama. Langkah kedua adalah mengajarkan keterampilan sosial secara eksplisit, seperti cara memulai percakapan, cara meminta bantuan, dan cara menyelesaikan konflik dengan baik. Guru dapat menggunakan role-playing atau simulasi untuk mempraktikkan keterampilan ini. Langkah ketiga adalah memberikan kesempatan yang cukup bagi anak untuk berinteraksi dan bermain bersama, baik dalam kegiatan terstruktur maupun Guru dapat memfasilitasi interaksi positif dan memberikan bimbingan jika terjadi Langkah keempat adalah membantu anak mengenali dan mengungkapkan emosi mereka dengan cara yang sehat. Guru dapat menggunakan buku cerita, gambar, atau permainan untuk membantu anak mengidentifikasi berbagai emosi dan memberikan label pada perasaan Piaget. The Moral Judgment Of The Child. Free Press. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 01 2025 | 77 Mumu Zainal Mutaqin. Saepul Bahri. Sanusi. Deden Inayatullah. Nunu Husnun Langkah kelima adalah mengajarkan strategi pengelolaan emosi, seperti menarik napas dalam-dalam saat marah atau mencari bantuan orang dewasa saat merasa sedih. Guru dapat memberikan contoh dan mempraktikkan strategi ini bersama anak-anak. Langkah keenam adalah memberikan umpan balik yang positif dan konstruktif terhadap perilaku sosial dan emosional anak. Pujian atas perilaku prososial dan bimbingan yang lembut saat anak mengalami kesulitan mengelola emosi akan membantu mereka belajar dan berkembang. Langkah ketujuh adalah mengintegrasikan pembelajaran sosial dan emosional ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran, bukan hanya sebagai topik terpisah. Misalnya, saat bercerita, guru dapat membahas emosi tokoh-tokoh dalam cerita dan bagaimana mereka mengatasinya. Langkah kedelapan adalah menciptakan rutinitas kelas yang jelas dan konsisten, yang dapat memberikan rasa aman dan prediktabilitas bagi anak, sehingga mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan regulasi diri. Langkah kesembilan adalah melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran sosial dan emosional anak di rumah, melalui komunikasi yang terbuka dan pemberian saran-saran praktis. Dengan menerapkan langkah-langkah ini secara konsisten, guru dapat secara signifikan membantu menumbuhkan perkembangan sosial dan emosional yang sehat pada anak usia dini. Menumbuhkan perkembangan sosial dan emosional anak usia dini merupakan investasi jangka panjang dalam kesejahteraan dan keberhasilan mereka di masa depan. Anak-anak yang memiliki keterampilan sosial dan emosional yang baik cenderung lebih mudah beradaptasi, memiliki hubungan yang lebih sehat, berhasil secara akademik, dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Oleh karena itu, upaya guru dalam memberikan pembelajaran yang berfokus pada pengembangan kedua aspek ini sangatlah krusial dan membutuhkan komitmen serta pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan perkembangan anak usia dini. Dedikasi ini mencakup perencanaan kegiatan belajar yang interaktif dan menyenangkan, namun tetap terstruktur untuk menstimulasi kognitif dan sosial-emosional anak secara seimbang. Guru perlu peka terhadap sinyal-sinyal non-verbal dan verbal anak, menyesuaikan metode pengajaran, serta menyediakan lingkungan yang aman dan suportif agar mereka berani mengeksplorasi, bertanya, dan berinteraksi tanpa rasa takut. Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, peran guru adalah fasilitator dan motivator yang membentuk fondasi karakter dan kemampuan belajar seumur hidup anak. Dengan memahami tahapan perkembangan unik setiap individu, guru dapat merancang intervensi yang tepat, memberikan Vygotsky. Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press. Erikson. Childhood And Society . th anniversary ed. Norton & Company. 78 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Urgensi Kegiatan Islami Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini umpan balik konstruktif, dan membangun hubungan positif yang menumbuhkan rasa percaya diri dan keinginan untuk terus belajar. Komitmen ini memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan optimal untuk tumbuh dan berkembang secara holistik, mempersiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan dengan bekal yang kuat. Urgensi Kegiatan Islami Terhadap Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan pilar penting dalam meletakkan dasar bagi perkembangan holistik anak, termasuk aspek sosial dan emosional. Di tengah pesatnya arus globalisasi dan tantangan moral yang semakin kompleks, pengintegrasian nilai-nilai Islam melalui kegiatan yang terstruktur dan menyenangkan di sekolah PAUD menjadi semakin Kegiatan Islami di lingkungan PAUD bukan hanya sekadar mengenalkan ajaran agama secara formal, tetapi juga menanamkan fondasi moral, etika, dan spiritual yang esensial bagi pembentukan karakter anak sejak dini. Sekolah PAUD memiliki peran strategis dalam menanamkan kecintaan terhadap agama Islam dan menginternalisasikan nilai-nilai luhurnya dalam kehidupan sehari-hari anak. Kegiatan Islami di PAUD hadir dalam beragam bentuk yang disesuaikan dengan karakteristik dan tahap perkembangan anak usia dini. Bentuk-bentuk kegiatan ini dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, menyenangkan, dan bermakna. Beberapa contoh kegiatan Islami yang umum diimplementasikan di PAUD antara lain adalah pembelajaran dasar-dasar agama melalui cerita, lagu, dan permainan edukatif yang mengenalkan rukun Islam, rukun Iman, serta kisah-kisah para Nabi dan Rasul. Praktik ibadah sederhana seperti menirukan gerakan shalat, melafalkan doa-doa pendek, dan berwudhu diajarkan secara bertahap dan dengan pendekatan yang tidak memberatkan. Selain itu, kegiatan Islami di PAUD juga mencakup pembiasaan akhlak mulia dan adab Islami dalam interaksi sehari-hari, seperti mengucapkan salam, meminta maaf, berterima kasih, berbagi dengan teman, dan menghormati guru serta orang yang lebih tua. Kegiatan bercerita dengan tema-tema Islami yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai kebajikan juga menjadi sarana efektif untuk menanamkan karakter positif. Perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi atau Idul Adha di sekolah juga menjadi momen pembelajaran yang berharga untuk mengenalkan tradisi dan nilai-nilai keislaman dalam konteks sosial yang menyenangkan. Melalui variasi kegiatan ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan agama, tetapi juga merasakan pengalaman spiritual dan sosial yang positif. Kegiatan Islami memiliki urgensi yang signifikan terhadap perkembangan sosial anak usia dini. Melalui interaksi dalam kegiatan keagamaan bersama, seperti berdoa atau mendengarkan cerita, anak-anak belajar tentang kebersamaan, toleransi, dan saling IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 01 2025 | 79 Mumu Zainal Mutaqin. Saepul Bahri. Sanusi. Deden Inayatullah. Nunu Husnun Nilai-nilai Islam yang menekankan persaudaraan . dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama secara tidak langsung membentuk kemampuan sosial anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Kegiatan berbagi dalam konteks Islami, seperti menyisihkan sebagian rezeki untuk teman atau orang yang membutuhkan, menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial pada anak sejak dini. Selain itu, pengenalan aturan dan adab Islami, seperti tata cara berbicara yang sopan atau meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain, membantu anak memahami norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Kegiatan yang melibatkan kerjasama dalam kelompok, seperti membuat prakarya bertema Islami, juga melatih kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi secara efektif dengan teman sebaya. Dengan demikian, kegiatan Islami tidak hanya membekali anak dengan pemahaman agama, tetapi juga dengan keterampilan sosial yang esensial untuk berinteraksi secara positif dalam kehidupan Kegiatan Islami juga memiliki urgensi yang mendalam terhadap perkembangan emosional anak usia dini. Pengenalan konsep tentang kasih sayang Allah (Ar-Rahman dan ArRahi. dan pentingnya bersyukur atas segala nikmat menumbuhkan rasa aman dan ketenangan batin pada anak. Pembelajaran tentang kesabaran . dalam menghadapi kesulitan dan tawakal . erserah diri kepada Alla. mengajarkan anak untuk mengelola emosi negatif seperti frustrasi atau kekecewaan dengan cara yang lebih positif. Melalui cerita-cerita Islami tentang keteladanan para Nabi dalam menghadapi ujian hidup, anak-anak belajar tentang resiliensi emosional dan pentingnya memiliki harapan. Kegiatan berdoa dan berdzikir juga dapat menjadi sarana bagi anak untuk menenangkan diri dan mencari kedamaian. Selain itu, penanaman nilai-nilai kasih sayang dan saling memaafkan dalam ajaran Islam membantu anak mengembangkan empati dan kemampuan meregulasi emosi dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, kegiatan Islami berkontribusi signifikan dalam membentuk kestabilan emosional dan kecerdasan emosi anak sejak usia dini. Guru memegang menjadi kunci dalam mengenalkan dan mengimplementasikan kegiatan Islami di sekolah PAUD secara efektif. Upaya guru dalam hal ini meliputi perencanaan pembelajaran yang kreatif dan inovatif, yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam berbagai tema dan kegiatan pembelajaran. Guru dapat menggunakan metode bermain. Azizah. , & Suryana. Pengembangan Nilai-Nilai Sosial Melalui Kegiatan Keagamaan Pada Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Volume 5 Nomor 1 2023. Halaman 65-66. Hasanah. , & Putra. Pengaruh Kegiatan Islami Terhadap Kecerdasan Emosional Anak Prasekolah. Jurnal Psikologi Perkembangan Anak. Volume 8 Nomor 2 2024. Halaman 95. 80 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Urgensi Kegiatan Islami Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini bercerita, bernyanyi, dan membuat karya seni untuk menyampaikan pesan-pesan Islami dengan cara yang menarik bagi anak-anak. 15 Guru juga perlu menciptakan suasana kelas yang Islami dan kondusif, di mana nilai-nilai agama tercermin dalam interaksi sehari-hari, penggunaan bahasa yang santun, dan penyediaan materi pembelajaran yang relevan. Keteladanan guru dalam mengamalkan nilai-nilai Islam juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter Guru yang bersikap jujur, sabar, penyayang, dan rajin beribadah akan menjadi contoh positif bagi anak-anak. Selain itu, guru dapat berkolaborasi dengan orang tua dalam mengenalkan dan membiasakan nilai-nilai Islami di rumah, sehingga tercipta kesinambungan antara pendidikan di sekolah dan di lingkungan keluarga. Melalui komunikasi yang efektif dan kegiatan bersama, guru dan orang tua dapat bekerja sama dalam menanamkan kecintaan terhadap agama Islam pada anak-anak sejak usia dini. Dengan berbagai upaya ini, guru dapat secara signifikan berkontribusi dalam membentuk generasi penerus yang berakhlak mulia, cerdas secara emosional, dan memiliki landasan spiritual yang kuat. Peran guru tidak hanya terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga mencakup penanaman nilai-nilai luhur dan pembentukan karakter. Melalui teladan nyata dalam perkataan dan perbuatan, guru mengajarkan kejujuran, empati, tanggung jawab, dan rasa hormat. Lingkungan belajar yang diciptakan pun harus kondusif untuk pengembangan moral dan etika, mendorong siswa untuk berinteraksi secara positif, menyelesaikan konflik dengan damai, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan mereka. Lebih jauh, pengembangan kecerdasan emosional menjadi fokus krusial. Guru membimbing siswa untuk mengenali dan mengelola emosi mereka sendiri, serta memahami emosi orang lain. Ini melibatkan kegiatan yang melatih empati, seperti diskusi kelompok tentang perasaan, bermain peran untuk memahami perspektif berbeda, atau proyek kolaborasi yang membutuhkan kerja sama dan komunikasi efektif. Dengan demikian, siswa tidak hanya pandai secara akademis, tetapi juga mampu menghadapi tantangan hidup dengan ketenangan, adaptabilitas, dan resiliensi. Mereka belajar untuk tidak mudah menyerah di hadapan kesulitan dan mampu membangun hubungan interpersonal yang sehat. Oleh karena itu, landasan spiritual yang kuat menjadi pilar penting dalam pembentukan pribadi yang utuh. Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan moral ke dalam setiap aspek pembelajaran, bukan hanya melalui pelajaran agama. Ini bisa dilakukan dengan mengajarkan rasa syukur atas anugerah alam, menghargai keberagaman ciptaan Tuhan, atau menumbuhkan kesadaran akan Mustofa. , & Rahma. Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak. Jurnal Kreatifitas Guru PAUD. Volume 3 Nomor 1 2022. Halaman 40. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 01 2025 | 81 Mumu Zainal Mutaqin. Saepul Bahri. Sanusi. Deden Inayatullah. Nunu Husnun makna hidup dan tujuan yang lebih tinggi. Dengan demikian, siswa tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual dan emosional, tetapi juga kedalaman spiritual yang membimbing mereka dalam membuat keputusan, menghadapi cobaan, dan menemukan kedamaian batin dalam menjalani kehidupan. Kesimpulan Penanaman nilai-nilai Islami sejak usia dini memegang peranan fundamental dalam membentuk fondasi karakter anak. Kegiatan Islami di PAUD, melalui beragam bentuknya seperti pengenalan dasar agama, praktik ibadah sederhana, pembiasaan akhlak mulia, dan penyampaian kisah-kisah teladan, secara efektif menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, kasih sayang, kerjasama, dan menghormati sesama. Perkembangan sosial dan emosional anak usia dini merupakan aspek krusial yang saling berkaitan dan memengaruhi kesejahteraan psikologis serta kemampuan adaptasi anak di masa depan. Urgensi kegiatan Islami bukan hanya sekadar pelengkap dalam kurikulum PAUD, melainkan memiliki peran integral dalam membentuk generasi penerus yang berakhlak mulia, memiliki kecerdasan emosional yang baik, dan mampu berinteraksi sosial secara positif. Daftar Pustaka