Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Analisis Pementasan Tari Leko Pada Upacara Dewa Yadnya Di Banjar Tangkup. Desa Kedisan. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar Ida Ayu Ketut Surya Wahyuni*. Ni Made Dwi Ari Astuti. Ida Ayu Arniati Universitas Hindu Indonesia. Denpasar. Indonesia *ayoen43@gmail. Abstract The performance of the Leko Dance at the Dewa Yadnya ceremony in Banjar Tangkup. Kedisan Village. Tegallalang District. Gianyar Regency, has a uniqueness in terms of its performance and its existence is quite rare. This makes the Leko Dance important to study. In this study, the problems to be discussed are focused on two things, namely the reasons for performing the Leko Dance at the Dewa YajnA ceremony in Banjar Tangkup and the form of the Leko Dance performance. This study uses a qualitative Data collection was carried out using observation techniques, in-depth interview techniques, and document study techniques. The technique used to analyze the data is The results of the study show that the performance of the Leko Dance is based on the religious encouragement of the community which is based on sincere feelings called ngayah. Mythologically, the performance of the Leko Dance is believed by the Banjar Tangkup community to be a duwe sesuunan at Pura Puseh. The variety of movements and the structure of the presentation of the Leko Dance in Banjar Tangkup are very simple, delivered with soft, flexible and supple movements, consisting of the panglembar and pengipuk parts. In the Leko Dance, two characters appear, namely the male character and the female character. The male character in this case is the role of Natraduwa and the female character is the two nymphs who tempt Natraduwa in his Keywords: Leko Dance. Ceremony. Dewa Yadnya Abstrak Pementasan Tari Leko pada upacara Dewa YajnA di Banjar Tangkup. Desa Kedisan. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar, mempunyai kekhasan dari segi pementasannya dan keberadaannya sudah cukup langka. Hal tersebut membuat Tari Leko penting untuk diteliti. Dalam penelitian ini masalah yang akan dibahas difokuskan pada dua hal yakni yaitu alasan dipentaskan Tari Leko pada upacara Dewa YajnA di Banjar Tangkup dan bentuk pementasan Tari Leko. Penelitian ini menggunakan metode Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, teknik wawancara mendalam, dan teknik studi dokumen. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data adalah verstehen. Hasil penelitian menunjukan bahwa pementasan Tari Leko didasarkan atas dorongan religius masyarakat yang dilandasi dengan perasaan tulus ikhlas yang disebut ngayah. Secara mitologi pementasan Tari Leko diyakini oleh masyarakat Banjar Tangkup merupakan duwe sesuunan di Pura Puseh. Ragam gerak dan struktur penyajian Tari Leko di Banjar Tangkup sangat sederhana yang disampaikan dengan gerakan lembut, luwes dan lentur, terdiri dari bagian panglembar dan pengipuk. Dalam Tari Leko dimunculkan dua karakter yaitu karakter laki-laki dan karakter perempuan. Karakter lakilaki dalam hal ini adalah peran Natraduwa dan karakter perempuan adalah dua bidadari yang menggoda Natraduwa dalam pertapaannya. Kata Kunci: Tari Leko. Upacara. Dewa Yadnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Tari Legong sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Ditambah lagi dengan begitu banyaknya jenis Tari Legong yang ada di Bali. Meski jenisnya berbeda, tetapi setiap orang selalu bisa mengenali tari tersebut karena memiliki ciri khas tersendiri, misalnya dari gaya tari, iringan musik, kostum, dan properti tari. Bahkan satu jenis Tari Legong terkadang bisa memiliki gaya tari yang berbeda. Sebut saja salah satunya Tari Legong keraton, style gerak tari daerah Badung berbeda dengan style gerak tari daerah Peliatan padahal tari ini memiliki sinopsis yang sama. Dari sana dapat diketahui bahwa Tari Legong berkembang baik hampir di seluruh daerah Bali. Sebagai sebuah tari klasik, dalam sejarahnya Legong diciptakan sebagai tari hiburan bagi kalangan raja di istana. Dalam waktu bersamaan juga muncul tari-tari yang berkembang di masyarakat, salah satunya adalah Tari Leko. Tari Leko merupakan salah satu peninggalan tari tradisi Bali. Tari Leko merupakan perpaduan dari Tari Legong dan Tari Joged. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Susilawati & Sarpa . , yang menyatakan bahwa Tari Leko merupakan perkembangan dari Tari Joged. Hal ini bisa dipahami karena kesenian, khususnya seni pertunjukan selalu mengalami perubahan atau perkembangan baik berskala besar . maupun berskala kecil . Sampai saat ini. Tari Leko masih dilestarikan dan dikenal oleh masyarakat Bali yang ada di Banjar Parekan. Sibang Gede (Kabupaten Badun. Desa Pendem (Kabupaten Jembran. dan Desa Tunjuk (Kabupaten Tabana. Tari Leko di daerah tersebut menurut Bandem . dapat dikatagorikan sebagai tari upacara, karena Tari Leko dipentaskan dalam rangka pemenuhan janji/mesesangi antara manusia dengan Tuhan atau leluhurnya. Leko juga dipentaskan untuk kepentingan amal . dan juga untuk kepentingan lainnya. Dilihat dari bentuk pertunjukannya. Tari Leko termasuk kesenian rakyat yang mempunyai dua fungsi, yaitu berfungsi sebagai tari upacara dan juga berfungsi sebagai tari hiburan. Ketiga daerah yang diketahui masih melestarikan Tari Leko tersebut memiliki perbedaan dari segi iringan musik, struktur pertunjukan dan lakon yang digunakan. Tari Leko di daerah Tabanan diringi dengan alat musik palegongan. Tari Leko di daerah Jembrana diiringi dengan alat musik bambu sama halnya dengan yang ada di daerah Badung. Dilihat dari segi kostum, ketiga tari ini lebih banyak memiliki kesamaan, tentu saja karena tari palegongan memiliki ciri tersendiri dalam bentuk kostum. Tari Leko memang dikenal sebagai kesenian rakyat yang berbentuk palegongan. Sejak dirintis tari ini dari segi bentuk sangat mirip dengan Tari Legong, hanya bagian akhir dari garapan menampilkan ibing-ibingan. Di Bali, tidak banyak daerah yang masih memiliki kesenian Leko, sehingga Tari Leko dapat dikategorikan sebuah kesenian yang langka. Selain di Tabanan. Jembrana dan Badung. Tari Leko juga ada di Banjar Tangkup. Desa Kedisan. Tegallalang. Gianyar. Tari Leko di Banjar Tangkup yang merupakan ciri khas dari daerah tersebut dan tentu saja tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Tari Leko di Banjar Tangkup bukan merupakan tari wali, tetapi dipentaskan hanya pada saat ada upacara piodalan di pura sebagai tari hiburan. Keunikan Tari Leko dibandingkan dengan Tari Legong lainnya adalah terletak pada kostumnya dan jenis iringan musiknya. Sebagai sebuah tari tradisional yang mencirikan daerah Banjar Tangkup tentu saja masih banyak perbedaan, yang tidak ada pada Tari Leko di daerah lain. Mengingat keunikan dan kekhasan Tari Leko yang ada di banjar Tangkup. Desa Kedisan. Tegallalang. Gianyar tersebut, maka menjadi menarik untuk didalami. Apa yang menjadi alasan Tari Leko yang berfungsi sebagai tari balih-balihan namun harus dipentaskan pada setiap upacara Dewa YajnA, menjadi menarik untuk diungkap secara Begitu juga bagaimana bentuk penyajian Tari Leko yang ada di Banjar Tangkup. Desa Kedisan. Tegallalang. Gianyar sehingga membedakan dengan Tari Leko https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH di daerah lainnya. Ditambah lagi dengan keunikan-keunikan lainnya yang belum terungkap disertai penjelasan dan maknanya sangat penting digali lebih dalam lagi. Serta apa saja implikasi pementasan Tari Leko terhadap kehidupan sosial, budaya, dan religius masyarakat Banjar Tangkup. Desa Kedisan. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Selain itu. Tari Leko dari segi keberadaannya sudah mulai memudar, bahkan hampir punah ditelan waktu, oleh karena itu keberadaan tari ini perlu diteliti secara akademik. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berlandaskan fenomenologi dan paradigma konstruktivisme. Pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara Informan dipilih secara purposive dengan mempertimbangkan pengetahuan terhadap tema kajian. Informan yang dipilih yakni seniman Tari Leko di Banjar Tangkup. Desa Kedisan. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Pengambilan lokasi ini dikarenakan Banjar Tangkup merupakan salah satu banjar yang melestarikan kesenian khususnya seni tari tradisional sejak tahun 1930 an. Sementara teknik obervasi yang digunakan adalah observasi non partisipan karena peneliti tidak terlibat langsung dalam penelitian tersebut. Studi dokumen dilakukan dengan menelusuri dokumen-dokumen sejarah pementasan Tari Leko. Data lalu dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil Dan Pembahasan Sejarah Tari Leko di Banjar Tangkup Tari Leko merupakan sebuah tari balih-balihan yang diciptakan dengan tujuan sebagai hiburan bagi masyarakat. Penciptaan Tari Leko diyakini berhubungan erat dengan keberadaan Tari Legong. Sebagai sajian estetik. Tari Legong muncul sebagai tari puri yang merupakan hasil kreativitas Anak Agung Gede Rai Perit dari Sukawati atas perintah raja Gianyar yaitu I Dewa Manggis. Sejak muncul Tari Legong, pementasannya dikhususkan bagi kalangan raja-raja di Puri. Dijelaskan oleh Bandem . , bahwa Tari Legong dahulunya merupakan salah satu tarian kebanggaan dari puri-puri di Bali, karena tarian ini sangat luwes, ekspresif, dan anggun, dengan busana keemasan berhiaskan bunga-bunga. Tari Legong sering dipentaskan dihadapan tamu-tamu kerajaan sebagai penghormatan raja terhadap tamunya. Pada masa itu, banyak muncul tari-tari yang difungsikan sebagai hiburan bagi masyarakat, karena masih kuatnya keyakinan bahwa tari yang tumbuh dan berkembang di kalangan istana tidak boleh dinikmati oleh rakyat biasa. Salah satu tari yan kemudian diciptakan sebagai hiburan untuk masyarakat yaitu Tari Leko di Banjar Tangkup. Keberadaan Tari Leko di Banjar Tangkup tidak bisa dilacak secara pasti karena minimnya data tertulis, hanya mengandalkan daya ingat dari narasumber. Kemunculan Tari Leko di Banjar Tangkup diperkirakan pada tahun 1948 oleh seorang seniman dari Babakan. Sukawati bernama I Nyoman Bir. Tarian yang dirintis ini, dari segi bentuk sangat mirip dengan tari pelegongan. Sejak tari ini diciptakan, masyarakat Banjar Tangkup sudah menyukai dan mendapatkan perhatian dari masyarakat setempat. Tari Leko ini diiringi dengan instrumen musik yang diberi nama kembang kirang. Penciptaan Tari Leko tidak dapat dipisahkan dengan alat musik pengiringnya yang diketahui sangat jarang ada di Bali. Pada waktu itu di Banjar Tangkup sudah memiliki alat musik berupa angklung yang dipakai untuk pelaksanaan upacara Dewa YajnA. Karena kebutuhan untuk bisa mengiringi sebuah tari pelegongan, maka masyarakat meminta pande gamelan untuk membuatkan satu barungan gamelan yang jumlah instrumennya lebih sedikit. Hal tersebut dikarenakan jumlah penduduk di Banjar Tangkup sangat kecil. Menurut pande gamelan, yang memungkinkan untuk dibuatkan adalah gamelan kembang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kirang dimana ada beberapa jenis instrumen musik yang dihilangkan. Gamelan jenis kembang kirang dianggap sakral, namun disetujui untuk dibuatkan karena di Banjar Tangkup memiliki kesenian barong kedingkling . arong blasblasa. Gamelan kembang kirang yang dimiliki oleh Banjar Tangkup berasal dari gamelan angkulng yang bilangnya ditambah sehingga berlaras slendro. Masyarakat di sana memiliki keyakinan bahwa gamelan kembang kirang ini merupakan duwe dari sesuunan Barong Kedingkling yang disungsung di Pura Puseh Banjar Tangkup. Akhirnya setelah dibuatkan gerak tari, masyarakat Banjar Tangkup meminta bantuan kepada seorang seniman tabuh dari Tampaksiring yang bernama Pan Griya. Sejak memiliki seni Tari Leko, masyarakat mementaskan tari tersebut untuk ngayah dan sebagai sajian wisata. Tari Leko merupakan tari yang diciptakan untuk hiburan . alih-baliha. , yang pada tahun 1950-an selalu pentas untuk menghibur Penari pertama Tari Leko adalah Ni Nyoman Mentik sebagai penari condong. Ni Wayan Renik dan Ni Made Pulung sebagai penari legong. Banjar Tangkup sejak dulu memang sudah dikenal dengan keseniannya, bahkan pada tahun 1980-an sudah dipercaya untuk mengisi acara hiburan di Puri Ubud dengan membawakan Tari Leko. yang disaksikan oleh turis ini, membuat Tari Leko semakin dikenal oleh masyarakat dan oleh wisatawan. Beberapa waktu kemudian masyarakat mampu mengadakan pementasan Tari Leko di jaba pura puseh dengan mendatangkan penonton wisatawan dari luar. Perkembangan Tari Leko yang ada di Banjar Tangkup sejak tahun 1948 sampai saat ini . sudah memiliki beberapa generasi, sehingga sudah mengalami pergeseran bentuk Tari Leko yang dulunya diciptakan untuk menghibur masyarakat bisa dipentaskan dari malam sampai hampir subuh, namun saat ini dipentaskan hanya dalam waktu 40 menit saja. Karena perubahan jaman. Tari Leko saat ini sudah mengalami pengurangan gerak dan struktur penyajian. Alasan Pementasan Tari Leko Pada Upacara Dewa Yadnya Alasan Religius-Magis Setiap pelaksanaan upacara Dewa YajnA di setiap pura yang ada di Banjar Tangkup selalu diiringi dengan tari-tarian sebagai ungkapan rasa ekspresi masyarakat . rama banja. dalam menyambut turunnya para dewata pada saat pelaksanaan upacara Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Arini . bahwa seni tari berdasarkan fungsinya, dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu . seni tari wali, dilakukan di tempat persembahyangan atau di tempat yang berkaitan langsung dengan . seni tari bebali, berfungsi untuk mengiringi upacara keagamaan dan biasanya dipentaskan di bagian tengah pura. seni tari balih-balihan, berfungsi sebagai tontonan dan dipertunjukkan di bagian luar pura. Dari pembagian seni tari berdasarkan fungsi tersebut, maka Tari Leko dapat digolongkan sebagai tari balih-balihan karena dipentaskan di bagian luar pura. Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Jero Mangku Pura Puseh Banjar Tangkup sebagai berikut. Tari Leko bukan merupakan tari wali, karena jika dikaitkan dengan fungsinya dalam pementasan, ketika Tari Leko tidak dipentaskan maka pelaksanaan upacara Dewa YajnA sudah bisa dibilang puput. Dalam pelaksanaan upacara Dewa YajnA, yang muputin wali adalah tari Barong Kedingkling, meskipun tidak ada tari topeng pajegan, tari rejang, dan Tari Leko. Namun jika masih memungkinkan, akan lebih baik jika semua tarian tersebut dipentaskan. Jadi Tari Leko ini lebih tepat dianggap sebagai tari balih-balihan yang masih memiliki nilai magis (Wawancara, 7 Juli 2. Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan upacara Dewa YajnA, keberadaan seni tari sangat penting. Bukan hanya tari yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH berfungsi sebagai wali, tetapi tari yang berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat juga perlu dipentaskan. Dalam pelaksanaan upacara Dewa Yadnya, sebuah tarian harus dipentaskan karena dianggap sebagai pemuput karya. Ketika persembahyangan selesai, masyarakat sudah biasa disajikan balih-balihan sebagai hiburan di bagian luar pura. Ada beberapa jenis tari yang disajikan sebagai balih-balihan dalam upacara Dewa Yadnya. Tari Leko adalah salah satu jenis tari yang harus dipentaskan meskipun bukan merupakan tari wali, karena dianggap memiliki nilai magis. Salah satu informan. I Made Karya . , yang merupakan kelihan kesenian menyebutkan bahwa pementasan Tari Leko memiliki nilai religi dalam pelaksanaan dewa Yadnya, karena tarian ini milik sesuunan blasblasan yang disungsung. Ini yang menyebabkan tarian Leko mesti dipentaskan saat pelaksanaan Dewa Yadnya. Berikut kutipan wawancaranya. Tari Leko merupakan warisan dari penglingsir kami yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Sejak saya mulai mengenal seni tabuh, saya sudah ikut bergabung dalam sekaa tabuh leko. Pementasan Tari Leko memiliki nilai religi dalam pelaksaan upacara dewa yadnya, dimana sudah dilaksanakan dari dulu sampai saat ini. Kami disini meyakini bahwa Tari Leko adalah milik sesuunan blasblasan yang kami Karena itulah Tari Leko harus dipentaskan setiap kali pelaksanaan upacara dewa yadnya (Wawancara, 2 Juli 2. Gambar 1. Tari Leko yang Dipentaskan Saat Upacara Dewa Yadnya di Pura Puseh Banjar Tangkup (Dokumen Peneliti, 2. Alasan Sosiobudaya Sosiologi budaya menempatkan budaya sebagai bagian penting yang membentuk interaksi dan hubungan sosial masyarakat. Dalam hal ini kehidupan masyarakat dipandang sebagai suatu sistem sosial, yaitu suatu keseluruhan dari unsur-unsur yang saling berhubungan dalam suatu kesatuan. Unsur-unsur kebudayaan tersebut dapat dirinci dan dipelajari yang meliputi . Sistem dan organisasi kemasyarakatan. Sistem religi dan upacara keagamaan. Sistem mata pencaharian. Sistem . Sistem teknologi dan peralatan. Bahasa. Kesenian (Koentjaraningrat, 1. Unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal tersebut menjadi sebuah kesatuan dan saling berkaitan dalam lingkungan masyarakat. Seluruh unsur kebudayaan tersebut menjelma dalam tiga wujud kebudayaan berupa kebudayaan dalam wujud ide . ultural idea. , kebudayaan dalam wujud tindakan dan aktivitas . ultural activitie. , dan kebudayaan dalam wujud benda . ultural artifact. Ketiganya tidak dapat dipisahkan karena memiliki hubungan saling mempengaruhi dan saling terikat satu sama lain. Kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan, juga mengambil bentuk dalam tiga wujud tersebut. Kesenian terbentuk atas dasar ide oleh yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH membuat, kemudian dilanjutkan dengan tindakan dalam berkarya sehingga terbentuklah sebuah hasil karya seni yang bisa dinikmati melalui indra penglihatan dan indra Selanjutnya menurut Banoe . , kesenian adalah karya indah yang merupakan hasil budi daya manusia dalam memenuhi kebutuhan jiwanya. Kesenian pula dapat dikelompokkan ke dalam rumpun seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam (Takari et al. , 2. Eksistensi budaya tidak terlepas dari masyarakat tempat di mana budaya tersebut tumbuh dan berkembang. Sama halnya dengan kesenian dalam masyarakat, akan menjadi warisan secara turun temurun. Di Banjar Tangkup, kesenian terutama seni tari menjadi salah satu warisan budaya yang selalu di transformasikan dari satu generasi ke generasi I Wayan Tegeg . , seorang Kelihan Adat Banjar Tangkup menceritakan sebagai berikut. Kesenian di Banjar Tangkup tumbuh dan berkembang dengan baik. Kebanyakan masyarakat menjadi penari maupun penabuh karena diwarisi langsung oleh Begitulah yang terjadi pada masyarakat di Banjar Tangkup, mulai dari kakek, kemudian diturunkan kepada anak, bahkan kemudian dilanjutkan oleh Dengan begitu, kesenian dapat dilestarikan dengan baik oleh masyarakat (Wawancara, 4 Mei 2. Dari pemaparan di atas, dapat dibangun sebuah pemahaman bahwa keberadaan Tari Leko di Banjar Tangkup dilestarikan secara turun temurun sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya yang dimiliki. Budaya yang merupakan tata nilai dalam masyarakat berasal dari pola pikir dan akal budi manusia. Hasilnya berupa penciptaan berupa kesenian, kepercayaan, maupun adat istiadat yang menjadi ciri khas suatu Sagala . mengungkapkan bahwa budaya adalah suatu konsep yang membangkit minat dan berkenaan dengan cara manusia hidup, belajar berpikir, merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut budanya dalam arti kata merupakan tingkah laku dan gejala sosial yang menggambarkan identitas dan citra suatu Tari Leko merupakan hasil budaya dalam bentuk seni tari yang menjadi ciri khas bagi masyarakat Banjar Tangkup. Tidak ada daerah lain yang memiliki tari persis sama seperti Tari Leko di Banjar Tangkup. Hal serupa disampaikan pula oleh I Nyoman Mentik . , salah satu penari leko generasi pertama yang merupakan informan dalam penelitian ini menyebutkan bahwa Tari Leko sudah diciptakan sejak lama, dan tari serta tabuhnya menjadi ciri khas Banjar Tangkup, seperti ucapannya berikut ini. Saya sudah berlatih dan menarikan Tari Leko sejak usia 10 tahun, mungkin itu sekitar tahun 1950-an. Setelah tari ini sukses dipentaskan keluar daerah, kemudian gelungan condong nya di taruh di pura dan sejak itu Tari Leko selalu ngayah setiap kali piodalan di semua pura yang ada di Banjar Tangkup. Selain itu, juga gambelan yang dipakai untuk mengiringi tarian ini bisa dibilang sangat langka ada di Bali, sehingga sejak saat itu diputuskan untuk selalu ngayah setiap piodalan (Wawancara, 20 Juni 2. Pernyataan informan di atas menunjukkan bahwa Tari Leko di Banjar Tangkup sebagai pelestarian unsur seni dan budaya, dikarenakan tari tersebut merupakan produk seni dari masyarakat banjar tersebut. Hal ini sebangun dengan pemikiran Wibowo . bahwa budaya adalah merupakan pola asumsi dasar sekelompok masyarakat atau cara hidup orang banyak atau pola kegiatan manusia yang secara sistematis diturunkan dari generasi ke generasi melalui berbagai proses pembelajaran untuk menciptakan cara hidup tertentu yang paling cocok dengan lingkungannya. Para seniman di Banjar Tangkup menyatu dengan masyarakat, mendukung dan mengayomi warisan kesenian leluhurnya sehingga tetap memiliki pesona bagi masyarakat. Hal tersebut tidak berarti akan menolak https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kesenian lain yang ada. Hanya saja ada sebuah tari yang telah dimiliki, dapat dikatakan sebagai identitas dari Banjar Tangkup. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan informan I Wayan Lunga . seorang penabuh leko pertama dan pernah menjabat menjadi kelihan adat Banjar Tangkup menyatakan sebagai berikut. Jika piodalan di sini tidak mementaskan Tari Leko, terasa ada sesuatu yang kurang dan masyarakat disini sangat yakin dengan adanya tari ini masyarakat akan menemukan kerahayuan. Kami sangat taat dan yakin pada tradisi leluhur dari sejak dulu. Apalagi saya dulu pernah diberikan pesan oleh Pan Griya, yang menciptakan tabuh leko ini untuk tidak menghilangkan Tari Leko yang sudah dimiliki oleh Banjar Tangkup karena merupakan sebuah identitas. Kami memegang teguh prinsip tersebut sampai sekarang, sehingga Tari Leko ini masih bisa dilestarikan (Wawancara, 4 Mei 2. Pernyataan di atas menegaskan bahwa sejak diciptakan Tari Leko hingga saat ini, sudah banyak sekali muncul tari-tari hiburan lain yang berbentuk tradisional maupun tari Meski demikian, masyarakat di Banjar Tangkup mampu mempertahankan keberadaan Tari Leko ini. Bahkan bukan saja orang tua yang melestarikan, tetapi mulai dari anak-anak sampai pemuda juga ikut menjaga dan melestarikan tari tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Ni Kadek Windiawati . , yang merupakan seorang seniman sekaligus pemilik sanggar di Banjar Tangkup mengungkapkan sebagai berikut. Sanggar tari dan tabuh ini merupakan warisan dari ayah saya karena beliau merupakan seorang seniman juga. Sejak dulu ayah saya sangat bersemangat untuk melestarikan kesenian, terutama di banjar saya. Apalagi disini kami memiliki sebuah tari sakral yaitu barong kedingkling dan Tari Leko yang merupakan tari Sebagai seorang penari, saya lumayan banyak mengetahui tari pelegongan, tetapi Tari Leko ini sangat berbeda dengan tari pelegongan lain. Keunikannya banyak, diantaranya instrumen pengiringnya dan jika dibandingkan dengan Tari Legong biasa, keunikannya terlihat pada busana dimana Tari Leko tidak memakai baju kain. Dengan keunikan yang dimiliki tersebut, saya dan termasuk masyarakat disini sangat menghargai serta tetap melestarikan tari Banyak anak-anak yang latihan di sanggar ini, untuk belajar tari terutama mereka bersemangat belajar Tari Leko agar dapat ngayah di pura (Wawancara, 10 Juni 2. Berdasarkan petikan wawancara di atas, diketahui bahwa tugas untuk melestarikan kesenian adalah seluruh lapisan masyarakat dimana kesenian tersebut Mengenai pelestarian budaya lokal. Jacobus Ranjabar . mengemukakan bahwa pelestarian budaya lokal adalah mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan perwujudan yang bersifat dinamis, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang. Seni tari merupakan salah satu produk kesenian yang bersifat dinamis dan cenderung untuk mengalami sejalan dengan perkembangan masyarakat pendukungnya. Begitu pula pada Tari Leko, perubahan yang terjadi adalah struktur pementasan tari yang kini dipersingkat mengingat sudah banyak muncul tari-tari baru lainnya. Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui bahwa Tari Leko merupakan warisan leluhur yang masih dipertahankan sampai saat ini. Dengan menggunakan iringan instrumen yang unik, keberadaan Tari Leko menjadi salah satu identitas Banjar Tangkup. Disebut sebagai identitas karena Tari Leko ini tidak dimiliki oleh banjar-banjar lain di sekitarnya maupun oleh daerah lain. Identitas bisa bersifat personal maupun bersifat sosial yang dapat dipakai untuk menandai perbedaan. Untuk mendefinisikan identitas dapat dilakukan dengan cara membandingkan maupun mengkontraskan ciri-ciri, sikap, kepercayaan, dan gaya hidup masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain (Burke, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH 2. Terkait dengan Tari Leko sebagai identitas Banjar Tangkup, dapat dipahami bahwa Tari Leko memiliki ciri-ciri yang khas dengan gerakan sederhana, kostum berbeda, struktrur pertunjukan, dan iringan musiknya. Hampir keseluruhan unsur pendukung tarinya memiliki keunikan jika dibandingkan dengan Tari Leko di daerah lain. Dengan begitu, masyarakat Banjar Tangkup sangat menghargai dan melestarikan hasil cipta seni dan budayanya dengan mengusung keunikan tersendiri dari iringan dan gerak tarinya. Pementasan Tari Leko merupakan suatu wahana dalam pelestarian nilai seni dan budaya yang ada, sehingga terus dilestarikan keberadaannya dan dipentaskan dalam upacara agama. Bentuk Penyajian Tari Leko Pada Upacara Dewa Yadnya Struktur Penyajian Gerak Tari Tari Leko dibawakan oleh empat orang penari putri dengan perannya masingmasing. Dari empat orang penari itu, seorang penari berperan sebagai condong, dua orang berperan sebagai penari legong, dan satu orang sebagai natadruwa . Gerak tari dalam Tari Leko masih berpijak pada gerak tari tradisi tanpa ada gerakan kreasi, mengingat tari ini merupakan tari klasik yang sudah ada pada tahun 1950-an. Prinsip dasar tari Bali pada umumnya terfokus pada gerak, maka struktur pementasannya dapat dibagi ke dalam beberapa bagian yang ditandai dengan gerak. Adapun jenis-jenis gerakan dalam Tari Leko secara umum hampir sama dengan perbendaharaan gerak Tari Legong Keraton yaitu sebagai berikut. Agem . Nyeregseg . Mungkah lawang . Nyakup bawa . Ngegol . Ngelier dan Nyeledet . Miles . Ngumbang . Luk nerudut . Ngotag . Nyalud . Mekecog . Ngelikas . Tanjek . Ngitir . Gandang arep dan gandang uri . Ngunda . Nyabit . Ngepik . Nuding . Ngepel. Ngeliput, dan Ngiluk . Ulap-ulap . Nabdab gelung . Ngelo Sebagai sebuah kesenian klasik, penyajian Tari Leko memiliki struktur formal yang sudah baku sama seperti Tari Legong. Jika diamati, penyajian Tari Leko di Banjar Tangkup dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu bagian awal berbentuk igel panglembar dan bagian dua disebut pengipuk. Secara garis besar, struktur koreografi Tari Leko sama dengan Tari Legong. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Ni https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kadek Windiawati . salah satu penari leko yang sampai saat ini aktif menjadi seorang guru tari di sanggarnya sendiri, menyatakan sebagai berikut. Tari Leko yang di desa Banjar Tangkup berbentuk palegongan, dengan struktur yang hampir sama seperti tari palegongan lain yaitu pertama panglembar condong dengan struktur pepeson, pengawak, dan pekaad. Dilanjutkan dengan panglembar legong, dan terakhir panglembar bebancihan. Bagian kedua hanya bagian pengipuk dimana ceritanya natadruwa bertapa dan digoda oleh dua dedari yang diperankan oleh penari legong. Ketika menjadi dedari, kedua penari legong hanya berganti hiasan kepala untuk menunjukan identitasnya (Wawancara, 10 Juni Sesaji Sesaji atau banten merupakan sarana penting yang harus ada setiap upacara keagamaan Hindu. Banten sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayan agama Hindu terdapat simbol-simbol, sebagai media penghubung untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Umat Hindu dalam melaksanakan kegiatan apapun, meyakini bahwa segala kegiatan akan berjalan lancar dengan ijin dari Ida Sang Hyang Widi Wasa. Begitu pula dalam pementasan Tari Leko, apalagi pementasan ini masih berkaitan dalam rangkaian upacara Dewa YajnA. Peristiwa tersebut ditunjukan dengan adanya kepercayaan yang berkaitan dengan kekuatan gaib, yang diperlihatkan melalui adanya beberapa sarana seperti, adanya banten, melakukan persembahyangan, dan sebagainya. Pendapat ini diperkuat oleh Hadi . yang menyatakan bahwa ritual merupakan suatu bentuk upacara atau perayaan yang berhubungan dengan beberapa kepercayaan atau agama, ditandai oleh sifat khusus yang menimbulkan rasa hormat yang luhur. Banten bila dikaitkan dengan pertunjukan Tari Leko, sangatlah penting maknanya yang berhubungan dengan kekuatan secara spiritual. Bagi pelaku seni akan menambah kepercayaan dirinya tampil sebagai seniman dan bagi penonton ikut berbahagia dan bergembira akan mendapat hiburan secara rohani. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Jro Mangku Pura Puseh Banjar Tangkup . sebagai berikut. Gelungan penari ini ditaruh di wantilan, sebelum pentas gelungan tersebut di upacarai dulu dengan banten daksina, sama pesucian. Di tempat pentas ngaturang suci sama prasantun. Saya sendiri yang menghaturkan banten tersebut sebelum pentas, dengan tujuan memohon keselamatan bagi semua penabuh dan penari. Sebelum pementasan tari tidak ada banten khusus untuk para penari, hanya saja para penari sembahyang dulu memohon untuk dilancarkan pementasannya nanti. Ritual ini agar tarian lancar dan diharapkan penari memiliki taksu (Wawancara, 4 Mei 2. Berdasarkan pernyataan informan di atas dapat ditegaskan bahwa pertunjukan Tari Leko memerlukan 2 sesaji yaitu, banten gelungan dan banten kalangan. Sebelum gelungan digunakan oleh penari, sebelumnya dipersembahkan sesaji berupa daksina dan pesucian oleh jero mangku. Setelah gelungan selesai di upacarai, barulah diberikan kepada penari untuk digunakan menari. Banten daksina merupakan sesaji yang selalu ada dalam hampir setiap adanya pementasan tari. Adapun gambar banten daksina seperti pada gambar berikut. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 2. Banten Daksina Untuk Gelungan Penari Leko (Dokumen Peneliti, 2. Sedangkan untuk Banten kalangan diperlukan yaitu suci berisi peras, daksina, ajengan, canang. Banten suci untuk dihaturkan di kalangan dengan tujuan memohon keselamatan bagi para penari dan memohon ijin untuk menggunakan tempat tersebut. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, banten-banten tersebut berfungsi sebagai perantara manusia untuk meminta perlindungan dari Ida Sang Hyang Widi Wasa, semoga dalam pertunjukan tersebut mendapat kelancaran. Bagi seorang penari kekuatan emosional yang diakibatkan adanya komunikasi antara dirinya dengan Tuhan akan menimbulkan taksu. Taksu ini merupakan daya pesona bagi penari saat menarikan tarian. Taksu . nner powe. bagi seorang seniman didapat dengan cara memohon kepada Dewa Taksu dan mengasah keterampilan menari terus-menerus (Dana & Arini, 2. Begitu juga yang dilakukan oleh para seniman di Banjar Tangkup untuk bisa mementaskan tari ini dengan Seniman percaya bahwa sebanarnya taksu berada dalam diri, dan bisa dibangkitkan dengan melakukan ritual. Sebuah tari yang dipentaskan di Pura, tentu lebih membantu dalam memunculkan kekuatan daya tarik alam diri tersebut. Sejalan dengan apa yang disampaikan Dibia . bahwa ruang pertunjukan adalah tempat dimana taksu itu mungkin berada. Gambar 3. Penari Leko Sembahyang Sebelum Pementasan Dimulai (Dokumen Peneliti, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dengan dilaksanakan ritual dalam proses pementasan, penonton seringkali merasakan sajian yang disaksikan sangat mengesankan, bahkan sampai terbawa emosi oleh tarian maupun musik pengiringnya. Seniman Bali mempercayai bahwa segala kemampuan yang dimilikinya merupakan karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa, oleh sebab itu maka keahlian yang dimiliki harus dipersembahkan kembali kepada Tuhan (Sadguna, 2. Terkait dengan sistem kepercayaan yang dianut oleh umat Hindu, setiap aktivitas yang akan dilakukan selalu diawali dengan sebuah prosesi upacara, termasuk aktivitas pementasan Tari Leko. Sebelum menarikan tarian ini, terlebih dahulu diawali dengan sebuah upacara persembahyangan bersama oleh para penarinya seperti tampak pada gembar di bawah ini. Kesimpulan Penelitian ini difokuskan pada pementasan Tari Leko pada upacara Dewa YajnA di Pura Puseh Banjar Tangkup. Desa Kedisan. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Pembahasannya diarahkan pada tiga kajian utama yaitu alasan dipentaskan Tari Leko pada upacara Dewa YajnA di Banjar Tangkup, bentuk pementasan Tari Leko, dan implikasi Tari Leko terhadap kehidupan religius, sosial, dan budaya masyarakat Banjar Tangkup. Berdasarkan pembahasan tersebut, diperoleh simpulan sebagai berikut. Pertama, . Alasan religius pementasan Tari Leko berdasarkan fungsi seni tari bahwa Tari Leko ditujukan sebagai hiburan untuk masyarakat dalam konteks religius, semua anggota penabuh dan penari leko yang terlibat dalam pementasan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, semua dilandasi dengan perasaan tulus ikhlas yang disebut . Alasan sosiobudaya pementasan Tari Leko dimana tari ini sebagai identitas Banjar Tangkup, yang memiliki ciri khas dari berbagai unsur tarinya. Masyarakat Banjar Tangkup sangat menghargai dan melestarikan hasil cipta seni dan budayanya sehingga pementasan Tari Leko dijadikan suatu wahana dalam pelestarian nilai seni dan budaya. Kedua, . Ragam gerak dan struktur penyajian Tari Leko di Banjar Tangkup sangat sederhana yang disampaikan dengan gerakan lembut, luwes dan lentur. Namun dengan kesederhanaan gerak tersebut, tidak mengurangi nilai estetika di dalamnya. Struktur penyajian gerak tari dapat bertujuan juga untuk memberikan karakter dalam penampilan tari, yang secara umum terdiri dari pepeson, pengawak, dan pekaad. Dalam Tari Leko dimunculkan dua karakter yaitu karakter laki-laki dan karakter perempuan. Karakter lakilaki dalam hal ini adalah peran Natraduwa dan karakter perempuan adalah dua bidadari yang menggoda Natraduwa dalam pertapaannya. Tata rias, busana, dan properti yang digunakan digunakan dalam tari leko menunjukan bahwa tari ini merupakan jenis tari Tata rias penari menggunakan tata rias seperti tari-tari lainnya dengan karakter putri keras dan bebancihan. Dari busana yang digunakan, untuk menunjukkan membedakan dengan Tari Legong dan menunjukkan identitas Tari Leko di Banjar Tangkup, maka dapat dilihat bahwa para penari leko tidak memakai baju kain. Properti pada tari ini juga menggunakan kipas yang hanya dipakai oleh penari legong leko. Musik iringan Tari Leko di Banjar Tangkup mempergunakan seperangkat alat musik atau iringan yang disebut dengan gamelan kembang kirang. Gamelan kembang kirang berlaras slendro yang merupakan bebarungan gamelan Bali yang jumlahnya cukup sedikit diantara gamelan lainnya. gamelan kembang kirang yang dipakai sebagai musik iringan Tari Leko terdiri dari satu pasang kendang . anang dan wado. , dua buah gangsa ugal, empat buah gangsa pemade, dua buah gangsa kantil, dua buah jublag, satu buah cengceng, satu buah kajar, satu gong, satu buah reong, suling, satu buah kempur, dan dua buah . sesaji yang diperlukan dalam pementasan Tari Leko yaitu, banten gelungan dan banten kalangan. Banten-banten tersebut berfungsi sebagai perantara untuk meminta perlindungan dari Ida Sang Hyang Widi Wasa, semoga dalam pertunjukan tersebut https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mendapat kelancaran. Bagi seorang penari kekuatan emosional yang diakibatkan adanya komunikasi antara dirinya dengan Tuhan akan menimbulkan taksu. Taksu ini merupakan daya pesona bagi penari saat menari. Daftar Pustaka