Al-Insyirah Midwifery Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science. https://jurnal. id/kebidanan Volume 13. Nomor 2. Tahun 2024 p-ISSN: 2338-2139 e-ISSN: 2622-3457 DILEMA IBU BERKARIR: MAMPUKAH ASI EKSKLUSIF TETAP TERPENUHI? Eni Sulastri. Lutfiana Puspita Sari. Izzah Kholidatul Adillah. Prodi Diploma Tiga Jurusan Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Surakarta. Indonesia *email: enimuhfi2013@gmail. ABSTRAK Tahun 2022 cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia menurun dari 69,7% menjadi 67,96%. Ketidakpatuhan ini berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan bayi. Diantara hambatan utama dalam pemberiannya adalah pekerjaan, di mana ibu bekerja sering mengalami keterbatasan karena masa cuti melahirkan yang lebih singkat dari durasi menyusui yang direkomendasikan, sehingga mengganti dengan susu formula. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi status pekerjaan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Wedi. Klaten tahun 2024. Studi ini menggunakan desain cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari ibu yang memiliki bayi berusia 6-12 bulan berjumlah 230 ibu, dengan total 77 responden yang dipilih melalui teknik cluster random sampling. Data dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 14 responden . ,2%) merupakan ibu bekerja, sementara 63 responden . ,8%) tidak bekerja. Dari jumlah tersebut, 62 responden . ,5%) berhasil memberikan ASI eksklusif, sedangkan 15 responden . ,5%) tidak berhasil. Uji statistik menunjukkan nilai A value = 0,024 (A<0,. , yang menandakan adanya hubungan antara status pekerjaan dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Perlunya dukungan dari masyarakat, lingkungan kerja, hingga pemerintah terhadap ibu menyusui untuk keberhasilan ASI eksklusif. Kata kunci: Ibu bekerja. ASI eksklusif, kebijakan ABSTRACT In 2022. Indonesia saw a reduction in exclusive breastfeeding rates, decreasing from 69. 7% to This decrease negatively impacts the health of mothers and infants alike. A major barrier to breastfeeding is employment, as working mothers often face difficulties due to maternity leave being shorter than the recommended duration for breastfeeding, which can lead to the use of It aims to examine the connection between employment status and the effectiveness of exclusive breastfeeding in the Puskesmas Wedi. Klaten area. Utilizing a cross-sectional design, the research focuses on mothers with infants aged 6 to 12 months, with a total of 77 respondents chosen through cluster random sampling techniques. The collected data were analyzed using the chi-square test. The results indicated that 14 respondents . 2%) were working mothers, while 63 respondents . 8%) were not. Among these mothers, 62 respondents . 5%) successfully provided exclusive breastfeeding, while 15 respondents . 5%) did not succeed. The statistical analysis revealed a p-value of 0. < 0. , indicating a significant relationship between employment status and the success of exclusive breastfeeding. Keywords: Working mother, exclusive breastfeeding, policy PENDAHULUAN Masalah gizi di Indonesia menjadi perhatian penting karena adanya kondisi gizi kurang dan gizi lebih yang terjadi Gizi menyebabkan stunting dan kekurusan, 111 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 sedangkan gizi lebih berisiko memicu Pada tahun 2022, prevalensi stunting tercatat sebesar 21,6%, sementara overweight mencapai 3,5%. Kedua kondisi ini memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan fisik dan kognitif serta meningkatkan risiko kesakitan dan kematian. Salah satu solusi untuk masalah gizi anak adalah dengan ASI (Kemenkes RI, 2022. ASI eksklusif berarti anak diberikan ASI saja hingga usia mencapai enam Manfaat ASI eksklusif antara lain mendukung kecerdasan dan sistem imun bayi, meningkatkan ikatan antara ibu dan anak, serta menyediakan nutrisi yang optimal (Kemenkes RI, 2022. Pada tahun 2022, cakupan ASI eksklusif di Indonesia mencapai 67,9%, lebih tinggi dari target nasional 50%, meski terjadi penurunan dari 69,7% pada tahun Di Jawa Tengah, cakupan ASI eksklusif sebesar 71,4%, dan di Kabupaten Klaten mencapai 86,3%, meskipun delapan puskesmas di daerah tersebut belum memenuhi target Renstra (Dinkes Jawa Tengah, 2022. Dinkes Klaten, 2. Ketidakpatuhan pemberian ASI eksklusif dapat memicu berbagai masalah kesehatan bayi seperti infeksi saluran cerna, infeksi pernapasan perkembangan kognitif. Selain itu, bayi yang tidak menerima ASI eksklusif berisiko stunting dan obesitas. Bagi ibu, risiko terkena kanker payudara juga meningkat, dan ketergantungan pada susu formula dapat menambah beban biaya kesehatan (Hizriyani, 2021. Polwandari & Wulandari, 2. UNICEF . melaporkan bahwa ASI eksklusif selama 6 bulan awal mampu menurunkan risiko ribuan mortalitas bayi di Indonesia dan di seluruh dunia setiap tahun. Meskipun budaya menyusui sudah umum, banyak ibu, terutama yang bekerja, masih menerapkan ASI eksklusif. Cuti melahirkan yang singkat sering menjadi kendala bagi ibu bekerja, sehingga mereka memilih susu formula (Olya et , 2. Keberhasilan ASI dipengaruhi berbagai faktor seperti usia ibu, pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, sikap, dan paritas, serta kondisi bayi seperti berat lahir dan kesehatan. Kegagalan ASI eksklusif sering dialami oleh ibu bekerja karena keterbatasan waktu dan beban kerja. Sebaliknya. IRT berpeluang empat kali berhasil (Astuti et , 2. Penelitian di Puskesmas Menteng menunjukkan bahwa 75% ibu bekerja tidak memberikan ASI eksklusif, 58,8% IRT signifikansi antara pekerjaan ibu dan pemberian ASI eksklusif (Olya et al. Penelitian lain juga menemukan bahwa pekerjaan ibu signifikan memengaruhi pemberian ASI eksklusif 78 lebih besar (Indriani et al. , 2. Studi pendahuluan di Puskesmas Wedi Januari mengungkapkan bahwa dari 10 bayi, 4 di antaranya tidak menerima ASI eksklusif, dengan alasan utama kurangnya informasi, dukungan keluarga, serta keterbatasan waktu karena pekerjaan Penelitian Widaryanti . di Puskesmas Wedi menunjukkan bahwa ibu bekerja memiliki risiko 4,6 kali mengalami kegagalan dalam pemberian ASI Namun, penelitian tersebut karakteristik populasi yang diteliti, sehingga hasilnya mungkin kurang mewakili kondisi yang lebih luas. Untuk mengisi celah tersebut, penelitian ini menggunakan sampel dengan metode 112 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Puskesmas Wedi Klaten dan berdomisili di desa-desa yang terpilih sebagai Ibu yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian serta memberikan data yang diperlukan, dan yang sehat secara fisik dan mental untuk mengikuti prosedur pengumpulan data seperti wawancara atau pengisian kuesioner, juga termasuk dalam kriteria inklusi. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi ibu yang tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian, serta ibu yang mengalami kondisi kesehatan tertentu yang dapat mengganggu proses menyusui, misalnya ibu dengan penyakit kronis atau gangguan laktasi. Ibu yang tidak berada di rumah atau tidak dapat dihubungi selama periode pengumpulan data, serta ibu yang memiliki bayi dengan masalah kesehatan serius seperti prematuritas atau penyakit bawaan yang dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, juga dikecualikan dari penelitian ini. Data didapatkan dengan kuesioner yang berisi 10 pertanyaan tertutup pilihan jawaban "Ya" atau "Tidak". Kuesioner ini diadaptasi dari Kemenkes RI . dan digunakan untuk mengukur keberhasilan ASI eksklusif. Penilaian dilakukan dengan skala ordinal yang dibagi menjadi dua kategori: . ASI eksklusif jika semua pertanyaan dijawab "Ya" . %), dan . tidak ASI eksklusif jika ada jawaban "Tidak". Data dianalisis menggunakan uji chi-square. kluster, guna mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif terkait keberhasilan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Wedi. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih representatif dan memperkaya pemahaman tentang faktor-faktor yang ASI eksklusif, khususnya di kalangan ibu Riset ini bertujuan untuk pekerjaan ibu dengan keberhasilan ASI METODE Metode observasional analitik dengan desain cross-sectional digunakan dalam penelitian, di mana data dikumpulkan pada satu waktu untuk melihat hubungan antara variabel yang Pengambilan data dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Wedi Klaten selama bulan Agustus 2024. Populasi penelitian yaitu semua ibu yang memiliki bayi berusia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Wedi Klaten, dengan total 230 ibu. Sampel dihitung menggunakan rumus Slovin, dengan tambahan 10% dari hasil perhitungan awal untuk mengantisipasi adanya drop Jumlah sampel akhir yang dibutuhkan adalah 77 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode cluster random sampling, yang dilakukan di 7 desa dari total 19 desa di wilayah Puskesmas Wedi, yaitu Kalitengah. Pandes. Sukorejo. Pesu. Canan. Pasung, dan Birit. Kriteria inklusi dalam penelitian ini mencakup ibu yang memiliki bayi berusia 6-12 bulan di wilayah kerja HASIL Distribusi frekuensi status pekerjaan responden ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Status Pekerjaan Karakteristik Tidak Bekerja Bekerja Jumlah 113 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Menurut Tabel 1. diketahui data status pekerjaan ibu, bahwa sebesar 14 responden . ,2%) ibu bekerja dan tidak bekerja yaitu sebanyak 63 ibu . ,8%). Gambaran ASI eksklusif dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Keberhasilan ASI Eksklusif Keberhasilan ASI Eksklusif Tidak ASI Ekslusif ASI Ekslusif Jumlah Dari Tabel 2, didapatkan dari 77 responden, sejumlah 62 ibu . ,5%) berhasil memberikan ASI eksklusif, sementara 15 ibu . ,5%) gagal memberikan ASI eksklusif. Korelasi status pekerjaan ibu dengan keberhasilan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Wedi Klaten diperinci pada Tabel 3. Tabel 3. Hubungan Status Pekerjaan dengan Keberhasilan ASI Eksklusif Variabel Status Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja Jumlah Keberhasilan ASI Eksklusif Tidak Berhasil Berhasil Jumlah Tabel 3 menyajikan data dari total 77 responden, 14 responden . ,2%) memiliki status pekerjaan sebagai ibu Dari kelompok ini, 8 responden . ,4%) berhasil memberikan ASI eksklusif, sedangkan 6 responden . ,8%) Sebagian responden, yaitu 63 ibu . ,8%), merupakan ibu tidak bekerja. Diantara mereka, 54 ibu . ,1%) berhasil memberikan ASI eksklusif, sementara 9 ibu . ,7%) gagal. Uji statistik menunjukkan nilai A = 0,024 (A<0,. , mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara status pekerjaan ibu dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Wedi Klaten. PEMBAHASAN Penelitian ini melibatkan 77 responden, dengan 14 di antaranya 0,024 merupakan ibu bekerja. Dari kelompok ibu bekerja, hanya 8 ibu . ,4%) yang sukses memberikan ASI eksklusif, sementara 6 ibu . ,8%) gagal. Sebaliknya, dari 63 ibu yang tidak bekerja, 54 orang . ,1%) berhasil memberikan ASI eksklusif, sementara 9 orang . ,7%) tidak berhasil. Data ini menunjukkan perbedaan yang cukup besar antara ibu bekerja dan IRT dalam keberhasilan memberikan ASI eksklusif. Di wilayah kerja Puskesmas Wedi Klaten, sebagian besar ibu menyusui tidak bekerja, yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor sosial, ekonomi, dan budaya setempat. Sebagai daerah pedesaan, kesempatan kerja formal bagi perempuan mungkin terbatas, sehingga banyak ibu memilih untuk fokus pada peran sebagai ibu rumah tangga dan merawat keluarga. Selain itu, norma budaya di wilayah tersebut mungkin 114 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 masih mendorong peran tradisional perempuan sebagai pengasuh utama anak, yang menjadikan mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Faktor mempengaruhi adalah keterbatasan fasilitas penitipan anak atau dukungan keluarga dalam menjaga anak saat ibu bekerja, sehingga membuat para ibu merasa lebih nyaman dan aman untuk tidak bekerja di luar rumah demi memastikan perawatan optimal bagi bayinya, termasuk dalam hal pemberian ASI eksklusif. Selain itu, keberhasil memberikan ASI eksklusif di lokasi penelitian karena adanya berbagai faktor pendukung yang berperan penting. Salah satu faktor utama adalah tingginya kesadaran ibu tentang pentingnya ASI eksklusif untuk kesehatan dan perkembangan bayi. Informasi mengenai manfaat ASI eksklusif sering kali disosialisasikan melalui program-program kesehatan yang dijalankan oleh Puskesmas Wedi, termasuk penyuluhan yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada ibu-ibu Selain itu, banyak ibu di wilayah ini yang tidak bekerja, sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk fokus merawat bayi dan menyusui secara langsung tanpa tekanan waktu dari pekerjaan. Dukungan dari keluarga, terutama dari suami dan anggota keluarga lain, juga berperan besar dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif, karena ibu merasa didukung secara emosional dan praktis dalam menjaga pola pemberian ASI yang konsisten. samping itu, adanya fasilitas kesehatan yang mudah diakses dan interaksi dengan kader kesehatan setempat juga membantu ibu mendapatkan bimbingan serta bantuan yang dibutuhkan untuk mengatasi berbagai tantangan menyusui. Salsabila & Ismarwati . juga menemukan bahwa ibu rumah tangga berpotensi melakukan ASI eksklusif, karena waktu lebih fleksibel. Ibu rumah tangga lebih mudah mengatur jadwal menyusui tanpa terganggu oleh jam Sebaliknya, ibu bekerja sering mengandalkan strategi seperti memerah ASI sebelum bekerja, tetapi strategi ini tidak selalu efektif dalam menjaga ASI Tantangan utama yang dihadapi ibu bekerja untuk keberhasilan ASI eksklusif adalah kesibukan serta tuntutan pekerjaan, yang sering kali mengurangi waktu untuk menyusui atau memerah ASI. Penelitian Mandasari & Budianto . menunjukkan bahwa setelah kembali bekerja pasca-cuti melahirkan, banyak ibu mengalami penurunan dalam pemberian ASI eksklusif. Ini disebabkan oleh keterbatasan waktu dan tekanan dari mendukung praktik menyusui (Azizah et , 2. Menurut Rani et al. keberhasilan pemberian ASI eksklusif tidak bergantung pada niat ibu saja, tetapi juga pada faktor eksternal seperti status pekerjaan. IRT memiliki waktu lebih dihabiskan dengan bayi mereka, tentunya ASI dapat diberikan secara Di sisi lain, ibu bekerja sering terkendala oleh keterbatasan waktu yang disebabkan oleh pekerjaan. Tersedianya fasilitas seperti ruang laktasi di tempat kerja krusial untuk mendukung ibu agar memberikan ASI eksklusif. Beban kerja yang berat juga dapat memengaruhi produksi ASI, terutama jika ibu kelelahan (Audia et al. , 2. Penelitian Natsir & Nirwana . menemukan bahwa ibu bekerja kesulitan memberikan ASI eksklusif karena singkatnya cuti melahirkan. Banyak ibu diharuskan bekerja kembali sebelum masa enam bulan, sehingga waktu Kelelahan setelah bekerja juga dapat menurunkan produksi ASI, dan banyak 115 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 ibu akhirnya memilih susu formula. Ini menunjukkan bahwa kemampuan ibu dalam mengatur waktu antara pekerjaan dan menyusui berpengaruh untuk menjaga keberhasilan ASI eksklusif (Gemilang, 2. Kurniawati et al. menambahkan bahwa IRT berpeluang 3,5 kali lebih sukses dalam ASI mempertegas pengaruh status pekerjaan. Disamping itu, dukungan dari keluarga dan tempat kerja termasuk faktor penting. Dukungan emosional dari suami, keluarga, dan rekan kerja dapat meningkatkan peluang keberhasilan pemberian ASI eksklusif (Rodianto. Ulya, 2023. Wahyudi et al. , 2. Ketersediaan fasilitas laktasi dan memudahkan ibu untuk terus melakukan ASI eksklusif (Kurniasih, 2020. Santi et , 2. Tanpa dukungan ini, ibu sering merasa terbebani dan mengalami produksi ASI. Keterbatasan keterampilan dalam manajemen ASI juga menjadi kendala bagi ibu bekerja. Banyak ibu yang tidak memiliki akses ke informasi atau pelatihan yang cukup tentang cara memerah, menyimpan, dan memberikan ASI perah dengan efektif. Oleh karena itu, program edukasi yang tepat sangat diperlukan untuk membantu ibu bekerja mengatasi tantangan ini (Agustina, 2022. Widiastuti et al. , 2. Secara keseluruhan, tantangan bagi ibu bekerja dalam memberikan ASI pekerjaan, kurangnya dukungan, serta Untuk ASI eksklusif, diperlukan kerja sama dari keluarga, tempat kerja, dan penyedia layanan kesehatan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung ibu menyusui (Irianti et al. , 2. Meski demikian. Ramli . menemukan bahwa status pekerjaan tidak selalu menjadi hambatan utama dalam pemberian ASI eksklusif. Ruang laktasi dan kebijakan yang mendukung ibu menyusui memungkinkan mereka untuk memerah ASI selama jam kerja dan mengirimkannya kepada bayi di rumah, sehingga keberhasilan ASI eksklusif tetap terjaga. Untuk mengatasi kendala tersebut, beberapa strategi dapat diterapkan, termasuk menciptakan lingkungan kerja yang ramah bagi ibu menyusui. Penelitian menunjukkan bahwa fasilitas laktasi yang memadai, seperti ruang menyusui yang bersih dan nyaman, dapat meningkatkan peluang keberhasilan pemberian ASI eksklusif (Chen et al. Dukungan dari atasan dan rekan kerja juga sangat penting. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang merasa didukung di tempat kerja lebih cenderung berhasil dalam memberikan ASI eksklusif (Osibogun et al. , 2. Selain itu, program pelatihan untuk manajer dan rekan kerja tentang pentingnya ASI eksklusif dapat membentuk budaya yang baik bagi ibu di tempat kerja (Wallenborn et al. , 2. Selain itu, pengetahuan dan keterampilan ibu dalam manajemen laktasi sangat penting. Ibu yang memahami cara memerah, menyimpan, dan memberikan ASI perah cenderung lebih berhasil dalam mempertahankan ASI eksklusif setelah kembali bekerja (Irdawati et al. , 2. Program pelatihan dan edukasi yang tepat dapat membantu ibu bekerja menghadapi tantangan ini. Dengan dukungan keluarga, tempat kerja, dan kebijakan yang memadai, ibu bekerja dapat tetap berhasil memberikan ASI eksklusif. SIMPULAN Peneliti menyimpulkan bahwa ibu berkarir memiliki tingkat keberhasilan 116 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 ASI eksklusif lebih rendah daripada ibu rumah tangga. Faktor-faktor seperti keterbatasan waktu, dukungan laktasi di tempat kerja, dan tantangan dalam produksi ASI hambatan signifikan bagi ibu bekerja. Maka, diperlukan dukungan lebih, baik dari lingkungan kerja ataupun keluarga, dalam mendukung pemberian ASI eksklusif di kalangan ibu yang bekerja. Implementasi kebijakan fleksibilitas kerja dapat menjadi solusi dalam meningkatkan cakupan ASI eksklusif pada ibu bekerja. DAFTAR PUSTAKA