Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Financial Distress Pada Masa Pandemi Covid-19 Tahun 2018 Ae 2021 Siti Aminah1. Sri Handayani2* 1Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Akuntansi. Universitas Esa Unggul. Jakarta. Indonesia Email: 1sitiaminaah99@gmail. com , 2*sri. handayani@esaunggul. Abstrak Oe Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas terhadap financial distress pada industri jasa sub sektor restoran, hotel & pariwisata yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada masa pandemi Covid-19 tahun 2018-2021. Rasio likuiditas diukur dengan menggunakan current ratio. Rasio leverage diukur dengan menggunakan debt to asset Rasio profitabilitas diukur dengan menggunakan net profit margin. Rasio aktivitas diukur dengan menggunakan total assets turnover. Financial distress diukur dengan menggunakan model Springate. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35 perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan jumlah data sebanyak 88 data. Data yang digunakan adalah data kuantitatif yang bersumber dari data sekunder berupa publikasi laporan keuangan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode statistik deskriptif dan metode analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas secara simultan berpengaruh terhadap financial distress. Rasio likuiditas secara parsial tidak berpengaruh terhadap financial distress. Rasio leverage secara parsial tidak berpengaruh terhadap financial distress. Rasio profitabilitas secara parsial tidak berpengaruh terhadap financial distress. Rasio aktvitas secara parsial berpengaruh positif terhadap financial Kata Kunci: Financial Distress. Rasio Likuiditas. Rasio Leverage. Rasio Profitabilitas. Rasio Aktivitas Abstract Oe This study aims to analyze the effect of liquidity ratios, leverage ratios, profitability ratios, and activity ratios on financial distress in the restaurant, hotel & tourism sub-sector service industry listed on the Indonesia Stock Exchange during the Covid-19 pandemic in 2018-2021. The liquidity ratio is measured by using the current ratio. The leverage ratio is measured using the debt to asset ratio. The profitability ratio is measured by using the net profit margin. The activity ratio is measured by using total assets turnover. Financial distress is measured using the Springate model. The sample used in this study were 35 restaurants, hotels & tourism sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange with a total of 88 data. The data used is quantitative data sourced from secondary data in the form of financial report publications. The data analysis method used is a descriptive statistical method and multiple linear regression analysis method. The results of this study indicate that the liquidity ratio, leverage ratio, profitability ratio, and activity ratio simultaneously affect financial distress. Liquidity ratio partially has no effect on financial distress. Leverage ratio partially has no effect on financial distress. Profitability ratio partially has no effect on financial distress. Activity ratio partially has a positive effect on financial distress. Keywords: Financial Distress. Liquidity Ratio. Leverage Ratio. Profitability Ratio. Activity Ratio PENDAHULUAN Fenomena virus Covid-19 berawal ketika terdapat seseorang yang terinfeksi virus corona dari hewan yang diperdagangkan di pasar seafood Huanan, kota Wuhan, provinsi Hubei. China, pada Desember 2019. Sejak kasus pertama di Wuhan, kasus Covid-19 di China mengalami peningkatan setiap harinya (Susilo et al. , 2. Sehingga virus tersebut telah menyebar ke berbagai belahan negara di dunia dengan sangat cepat. Dan mulai masuk ke Indonesia pada awal 2020. Dengan kasus pertama berasal dari guru dansa asal Depok yang dilaporkan pada 2 Maret 2020. Dikarenakan virus tersebut telah menyebar secara luas di dunia, maka World Health Organization (WHO) secara resmi mendeklarasikan bahwa virus Covid-19 merupakan sebuah pandemi pada tanggal 9 Maret 2020 . Dengan banyaknya kasus yang terinfeksi virus Covid-19, secara global World Health Organization (WHO) mencatat per 25 April 2022, pada 5:22 CEST, terdapat 507. kasus sedangkan di Indonesia sendiri terdapat 6. 150 kasus. Hal tersebut mempunyai dampak yang luar biasa terhadap perekonomian dunia dan negara-negara yang terdampak, termasuk Indonesia. Siti Aminah | https://journal. id/index. php/manekin | Page 240 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 Dengan adanya pandemi Covid-19, perekonomian di Indonesia menjadi tidak stabil. Banyak perusahaan yang berdampak, sehingga mengharuskan perusahaan untuk melakukan pemberhentian tenaga kerja. Berdasarkan data Kemnaker RI terdapat 2,8 juta korban PHK akibat pandemi Covid19. Sektor UMKM juga ikut mengalami dampaknya. Mulai dari penurunan penjualan, penurunan laba, kekurangan modal, serta terhambatnya proses distribusi. Hal tersebut tentu dirasakan juga pada sektor pariwisata dan perhotelan. Raden Pardede. Sekretaris Eksekutif Komite Penanganan Covid19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), mengatakan bahwa sektor pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak akibat Covid-19 karena adanya pembatasan mobilitas terutama dari mancanegara (Saputra, 2. Sehingga terdapat penurunan yang cukup signifikan pada jumlah wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Terlebih dengan semakin meningkatnya kasus Covid-19, pemerintah Indonesia menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kemudian berubah menjadi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal tersebut juga berdampak negatif bagi sektor pariwisata dan perhotelan. Dikarenakan kegiatan operasional mereka dibatasi atau bahkan di tutup Sehingga pendapatan mereka berkurang, sementara pengeluaran rutin atau kewajibankewajiban harus tetap dibayarkan. Hal tersebut memicu terjadinya financial distress atau kesulitan Indonesia merupakan salah satu negara yang menawarkan pertumbuhan ekonomi yang baik selama satu dekade terakhir tetapi juga berisiko terhadap gejolak ekonomi yang memicu financial distress (Hadjaat et al. , 2. Financial distress merupakan suatu keadaan dimana arus kas operasi perusahaan sudah tidak mampu melunasi kewajiban lancarnya (Dewi. Endiana, dan Arizona, 2. Kondisi financial distress terjadi dengan adanya penurunan laba dan aset tetap milik perusahaan, sehingga dapat dikatakan bahwa keuangan perusahaan sedang tidak sehat atau tidak stabil. Hal tersebut lah yang mengarah terjadinya kebangkrutan. Dengan demikian, untuk menghindari terjadinya financial distress pada perusahaan, perlu adanya suatu sistem yang mampu memberikan peringatan lebih awal apabila terdapat masalah yang mengancam perusahaan sehingga dapat dilakukan tindakan untuk mengantisipasi kondisi yang mengarah pada terjadinya kebangkrutan. Maka perlu dikembangkan model financial distress sebagai sarana untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kondisi keuangan perusahaan sebelum terjadinya kebangkrutan (Nugroho, 2. dalam (Ardian. Andini, dan Raharjo. Salah satu cara untuk memprediksi suatu perusahaan mengalami financial distress atau tidak, yaitu dengan menggunakan model Springate. Gordon L. V Springate . telah melakukan penelitian dan berhasil mendapatkan model analisis kebangkrutan yang dibuat mengikuti prosedur model altman. Model Springate merupakan suatu model untuk memprediksi adanya potensi kesulitan keuangan dalam suatu perusahaan dengan menggunakan 4 . rasio keuangan dengan bobot yang berbeda-beda. Kriteria penilaian model Springate, yaitu apabila nilai S < 0,862 maka perusahaan diprediksi berpotensi mengalami financial distress dan adanya ancaman kebangkrutan. Tetapi apabila nilai S > 0,862 maka perusahaan dalam kondisi keuangan yang sehat dan tidak berpotensi mengalami financial distress. METODE 1 Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini adalah penelitian Menurut (Raihan, 2. penelitian kausalitas dilakukan untuk dapat mengetahui bagaimana hubungan sebab-akibat atau pengaruh antara suatu variabel dengan variabel lainnya. Digunakan penelitian kausalitas dalam penelitian ini dimana terdapat variabel independen . ariabel yang menjadi seba. , yaitu rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas, terhadap variabel dependen . ang menjadi akiba. , yaitu financial distress. Populasi. Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018 Ae 2021. Teknik sampling yang Siti Aminah | https://journal. id/index. php/manekin | Page 241 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 digunakan adalah non-probability sampling, yaitu purposive sampling dengan kriteria perusahaan yang mempublikasi laporan keuangan dalam bentuk tahunan dan tidak mengalami suspensi. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 92 data. Definisi Operasional Variabel Tabel 1. Definisi Operasional Variabel No. Variabel Indikator Financial Distress (Y) Rasio Likuiditas (X. Rasio Leverage (X. Rasio Profitabilitas (X. Rasio Aktivitas (X. Skala S = 1,03A 3,07B 0,66C 0,4D Rasio yaycycycyceycuyc yaycycyceycyc yaycycycyceycuyc yaycnycaycaycnycoycnycycnyceyc ycNycuycycayco yccyceycayc yayceycayc ycycu yaycycyceycyc ycIycaycycnycu = ycNycuycycayco yaycycyceycyc ycAyceyc ycEycycuyceycnyc ycAyceyc ycEycycuyceycnyc ycAycaycyciycnycu = ycIycaycoyceyc ycIycaycoyceyc ycNycuycycayco yaycycyceycyc ycNycycycuycuycyceyc = ycNycuycycayco yaycycyceycyc Rasio yaycycycyceycuyc ycIycaycycnycu = Rasio Rasio Rasio Metode Analisis Data Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif. asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji heterokedastisitas, uji multikolinieritas, dan uji analisis regresi linear berganda. dan uji hipotesis yang terdiri dari uji statistik f, uji statistik t, dan koefisien determinasi. Model regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y = 1X1 2X2 3X3 4X4 A Keterangan: = Financial Distress = Konstanta = Rasio Likuiditas (Current Rati. = Rasio Leverage (Debt to Assets Rati. = Rasio Profitabilitas (Net Profit Margi. = Rasio Aktivitas (Total Assets Turnove. = Term of Error HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Penelitian Tabel 2. Hasil Uji Statistik Deskriptif Siti Aminah | https://journal. id/index. php/manekin | Page 242 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa data berjumlah 92 sampel data dari 35 perusahaan yang diperoleh dari publikasi laporan keuangan perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2021. Nilai rata-rata likuiditas sebesar 4,07284. Nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa rasio likuiditas pada perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata kurang baik karena berada di atas standar current ratio, yaitu antara 1,5 Nilai rata-rata rasio leverage sebesar 0,38290. Artinya, perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata rata-rata mempunyai aset yang lebih besar dibandingkan dengan hutangnya. Nilai ratarata rasio profitabilitas sebesar -2,13088. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata rata-rata mempunyai nilai laba yang negatif atau mengalami kerugian. Nilai rata-rata rasio aktivitas sebesar 0,45383. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata rata-rata memiliki tingkat perputaran aset yang rendah. Nilai rata-rata variabel financial distress, yaitu sebesar -0,41675. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata rata-rata mengalami financial distress atau berada dalam kondisi tidak sehat. Tabel 3. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Mean Parametersa,b Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Pada hasil uji statistik One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test setelah dilakukan outlier dengan data yang berjumlah 88, dapat diketahui bahwa Asymp. Sig. -taile. menunjukkan nilai sebesar 0,200. Artinya, nilai tersebut berada di atas 0,05 sehingga data sudah berdistribusi normal. Tabel 4. Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa Collinearity Statistics Model Tolerance VIF Likuiditas Leverage Profitab Aktifitas Dependent Variable: Fin_Distres Berdasarkan hasil uji multikolinearitas, dapat diketahui bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara variabel independen yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas. Di mana rasio likuiditas menunjukkan nilai VIF sebesar 1,120, rasio leverage Siti Aminah | https://journal. id/index. php/manekin | Page 243 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 menunjukkan nilai VIF sebesar 1,190, rasio profitabilitas menunjukkan nilai VIF sebesar 1,050, dan rasio aktivitas menunjukkan nilai VIF sebesar 1,132. Tabel 5. Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb Model Durbin-Watson Predictors: (Constan. Aktifitas. Likuiditas. Profitab. Leverage Dependent Variable: Fin_Distres Tabel 6. Hasil Uji Runs Test Runs Test Unstandardized Residual Test Valuea Cases < Test Value Cases >= Test Value Total Cases Number of Runs Asymp. Sig. -taile. Median Untuk mendeteksi terjadinya autokorelasi dalam suatu model regresi dapat dilakukan uji Durbin Watson (DW). Namun, setelah mengaplikasikan angka didapatkan hasil yang tidak sesuai dengan rumus yang telah ditetapkan dan dapat disimpulkan bahwa terjadi autokorelasi. Dikarenakan hipotesis tersebut ditolak, maka diperlukan uji tambahan, yaitu dengan melakukan uji Runs Test, didapatkan bahwa nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,284. Di mana nilai tersebut berada di atas 0,05 yang memiliki arti bahwa tidak terjadi autokorelasi sehingga hipotesis dapat diterima. Gambar 1. Hasil Uji Heterokedastisitas Siti Aminah | https://journal. id/index. php/manekin | Page 244 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 Uji heterokedastisitas dilakukan dengan melihat pola gambar Scatterplot. Berdasarkan hasil uji heterokedastisitas, dapat diketahui bahwa titik-titik menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0 dan tidak membentuk pola tertentu. Dengan demikian, hal ini sesuai dengan ciri-ciri yang menunjukkan tidak terjadinya heterokedastisitas. 2 Pembahasan Pengaruh Rasio Likuiditas. Rasio Leverage. Rasio Profitabilitas, dan Rasio Aktivitas secara Simultan terhadap Financial Distress Berdasarkan hasil uji statistik F, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi menunjukkan sebesar 0,000 yang berarti bernilai lebih kecil dari 0,05. Maka, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, rasio aktivitas secara simultan terhadap financial distress. Perusahaan yang mengalami financial distress dapat disebabkan karena perusahaan tidak mampu dalam menjaga keseimbangan komposisi laporan keuangannya, yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas. Sehingga untuk menghindari terjadinya financial distress dalam suatu perusahaan diperlukan adanya pengaturan terkait penggunaan aset dan hutangnya dengan optimal. Rasio likuiditas berpengaruh terhadap financial distress. Hal ini dikarenakan rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancarnya. Semakin baik rasio likuiditas menunjukkan bahwa semakin besar pula kemampuan perusahaan membayar hutang lancarnya, dengan begitu perusahaan semakin terhindar dari terjadinya financial distress. Rasio leverage berpengaruh terhadap financial distress. Apabila aset perusahaan yang didanai oleh hutang berjumlah besar, artinya risiko yang dimiliki perusahaan pun semakin besar. Ketika perusahaan memiliki rasio leverage tinggi dan mengambil keputusan atau kebijakan yang salah, maka akan menyebabkan kesulitan keuangan atau terjadi financial distress. Rasio profitabilitas berpengaruh terhadap financial distress. Perusahaan dengan rasio profitabilitas yang tinggi, artinya memiliki kinerja yang baik karena mampu menciptakan laba yang besar. Dengan laba yang besar maka perusahaan dapat terhindar dari permasalahan keuangan yang mungkin terjadi seperti financial Rasio aktivitas berpengaruh terhadap financial distress. Semakin tinggi rasio aktivitas maka semakin rendah terjadinya financial distress pada suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan tingginya rasio aktivitas menunjukkan bahwa perusahaan mampu memanfaatkan asetnya sehingga memperoleh penjualan atau pendapatan yang tinggi dan perputaran dana yang dihasilkan juga cepat. Dengan begitu perusahaan dapat terhindar dari kemungkinan terjadinya financial distress. Pengaruh Rasio Likuiditas secara Parsial terhadap Financial Distress Hasil uji statistik T dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai signifikansi rasio likuiditas menunjukkan sebesar 0,115 di mana angka tersebut bernilai lebih besar dari 0,05. Sehingga H02 diterima dan Ha2 ditolak. Maka, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara rasio likuiditas secara parsial terhadap financial distress. Rasio likuiditas yang tinggi maupun rendah tidak mempengaruhi terjadinya financial distress pada suatu perusahaan. Rasio likuiditas dalam hal current ratio biasanya disebabkan oleh jumlah aset lancar dan hutang lancar yang dimiliki perusahaan. Dalam kondisi pandemi Covid-19, perusahaan yang diteliti, yaitu industri jasa sub sektor restoran, hotel & pariwisata, mengalami over likuid di mana current rationya melebihi standar rasio likuiditas yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi pandemi Covid-19, kegiatan bisnis atau aktivitas operasional pada industri ini banyak yang terhenti akibat terbatas oleh regulasi. Rasio likuiditas dengan indikator current ratio yang sangat tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai aset lancar yang menganggur berjumlah besar dikarenakan terhentinya kegiatan bisnis perusahaan. Menganggurnya aset-aset lancar tersebut tentunya mampu mencakup hutang jangka pendek perusahaan, sehingga besar kecilnya aset lancar tetap tidak akan mempengaruhi terjadinya financial distress. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara rasio likuiditas dengan financial distress pada perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata. Siti Aminah | https://journal. id/index. php/manekin | Page 245 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 Pengaruh Rasio Leverage secara Parsial terhadap Financial Distress Hasil uji statistik T dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai signifikansi rasio leverage menunjukkan sebesar 0,106 di mana angka tersebut bernilai lebih besar dari 0,05. Sehingga H03 diterima dan Ha3 ditolak. Maka, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara rasio leverage secara parsial terhadap financial distress. Perusahaan dengan rasio leverage yang rendah belum tentu terhindar dari kesulitan keuangan atau financial distress. Padahal apabila rasio leverage dalam suatu perusahaan rendah, artinya perusahaan memiliki aset yang lebih besar dibandingkan dengan hutangnya tetapi hal ini belum tentu mengindikasikan bahwa financial distress tidak terjadi pada perusahaan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa perusahaan sub sektor restoran, hotel & pariwisata di mana mereka memiliki rasio leverage yang rendah tetapi tetap mengalami financial distress. Financial distress dapat terjadi pada perusahaan dengan rasio leverage yang rendah apabila dalam melaksanakan aktivitas operasionalnya, perusahaan tidak dapat memanfaatkan aset yang didanai oleh hutang dengan optimal sehingga menyebabkan terjadinya financial distress. Pengaruh Rasio Profitabilitas secara Parsial terhadap Financial Distress Hasil uji statistik T dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai signifikansi rasio profitabilitas menunjukkan sebesar 0,601 di mana angka tersebut bernilai lebih besar dari 0,05. Sehingga H04 diterima dan Ha4 ditolak. Maka, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara rasio profitabilitas secara parsial terhadap financial distress. Perusahaan dengan rasio profitabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang baik dalam menghasilkan laba bersih dari penjualan yang telah dilakukannya (Putri dan Mulyani, 2. Menurut (Nurdiwaty dan Zaman, 2. , dengan laba yang maksimal maka perusahaan dapat membayar kewajiban-kewajibannya dengan tepat waktu atau sebelum jatuh tempo, dengan begitu keberlangsungan hidup perusahaan akan terjamin sehingga akan terhindar dari kondisi financial distress. Sementara, perusahaan dengan rasio profitabilitas yang rendah menunjukkan bahwa laba bersih yang dihasilkan perusahaan dari aktivitas penjualannya berjumlah Hal tersebut akan membuat perusahaan kesulitan dalam membayar kewajibannya dan tentunya perusahaan mempunyai peluang yang besar untuk mengalami financial distress. Tetapi, dengan rasio profitabilitas yang tinggi belum tentu perusahaan tidak mengalami financial distress. Hal ini dapat terjadi apabila perusahaan tidak dapat mengelola laba bersihnya dengan baik untuk aktivitas operasionalnya sehingga kalah dalam bersaing dengan kompetitor. Pengaruh Rasio Aktivitas secara Parsial terhadap Financial Distress Hasil uji statistik T dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai signifikansi rasio aktivitas menunjukkan sebesar 0,000 di mana angka tersebut bernilai lebih kecil dari 0,05. Sehingga H05 ditolak dan Ha5 diterima. Dan dikarenakan nilai koefisien regresi rasio aktivitas menunjukkan angka yang positif, maka, disimpulkan terdapat pengaruh positif antara rasio aktivitas secara parsial terhadap financial distress. Hal ini mempunyai arti bahwa ketika nilai rasio aktivitas meningkat maka akan diikuti dengan peningkatan nilai financial distress, di mana dalam penelitian ini adalah S-Score, begitu pun Berdasarkan model Springate. S-Score yang semakin tinggi menunjukkan bahwa perusahaan semakin tidak mengalami financial distress. Sebaliknya. S-Score yang semakin rendah menunjukkan perusahaan semakin mengalami financial distress. Rasio aktivitas dapat digunakan untuk mengukur bagaimana perusahaan menghasilkan penjualan atau pendapatan dengan menggunakan aset yang dimilikinya. Rasio ini mencerminkan tingkat efektivitas perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya, yaitu aset (Agustini dan Wirawati, 2. Semakin tinggi rasio aktivitas menandakan bahwa aset yang dimiliki perusahaan mampu berputar lebih cepat dan memperoleh laba, hal ini menunjukkan bahwa dalam menghasilkan penjualan, perusahaan sudah mampu mengelola asetnya dengan baik (Antikasari dan Djuminah, 2. Dengan begitu, perusahaan memiliki kemampuan yang cepat dalam mengubah persediaan menjadi bentuk kas. Sehingga kemungkinan terjadinya financial distress pada perusahaan tersebut akan semakin rendah. Bahwasanya situasi pada penelitian ini adalah situasi saat pandemi Covid-19, jadi industri jasa sub Siti Aminah | https://journal. id/index. php/manekin | Page 246 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 sektor restoran, hotel & pariwisata terbatas oleh adanya regulasi. Artinya, bukan berarti industri tersebut tidak ingin berjualan tetapi dibatasi penjualannya, seperti pembatasan jam operasional dan pembatasan jumlah okupansi. Maka dampak yang didapat pada industri jasa sub sektor restoran, hotel & pariwisata ialah aktivitasnya hanya sebesar 45% yang dibolehkan untuk bergerak, hal tersebut tentunya sangat berpengaruh pada penurunan penjualan dan profit yang didapat tidak maksimal bahkan rata-rata negatif. Oleh karena itu, dilihat dari hasil analisis deskriptif pada industri ini rata-rata mengalami financial distress. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan dari penelitian ini bahwa rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas secara simultan berpengaruh terhadap financial distress. Secara parsial rasio likuiditas, rasio leverage, dan rasio profitabilitas tidak berpengaruh terhadap financial distress. Sedangkan rasio aktivitas secara parsial berpengaruh positif terhadap financial distress. Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan tersebut, maka terdapat beberapa saran yang dapat diberikan kepada perusahaan, yaitu: . mengoptimalkan rasio likuiditasnya sampai dengan standar rasio likuiditas yang baik, yaitu antara 1,5 sampai dengan 3. Sehingga aset yang menganggur tidak berjumlah besar. Aset ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan investasi berupa menambah fasilitas yang berhubungan dengan natural resources dan budaya, seperti hutan minimalis dengan flora yang beraneka ragam dan diadakan seni pertujukan dari beberapa daerah. Selain itu, melakukan penambahan peralatan pendukung operasional sesuai dengan teknologi terbaru agar lebih efisien dalam melaksanakan aktivitas operasional dan menyingkirkan aset yang sudah tidak dapat digunakan. menambah pendanaan dari hutang mengingat investasi yang akan dilakukan membutuhkan dana, dengan cara menerbitkan obligasi. Dengan menerbitkan obligasi, tingkat suku bunga yang berlaku relatif lebih fleksibel sesuai dengan kemampuan dan kepentingan . meningkatkan rasio profitabilitas dengan meningkatkan jumlah pengunjung pariwisata dengan cara melakukan promosi melalui media sosial (Instagram. TikTok, dan Twitte. dan mendaftar pada digital platform travel (Traveloka dan Tiket. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat lebih mengenal dan tertarik untuk mengunjunginya. meningkatkan rasio aktivitas dalam bentuk penjualan atau pendapatan agar profit yang didapat menjadi maksimal dengan memanfaatkan teknologi, misalnya untuk restoran dapat menambahkan penjualan online melalui berbagai macam marketplace yang saat ini sudah banyak tersedia, untuk hotel dan pariwisata dapat meningkatkan rasa kepercayaan customer terhadap pemakaian jasanya dengan memberikan informasi bahwa hotel atau tempat wisata yang akan digunakan sudah memenuhi standar sterilisasi dengan memenuhi protokol kesehatan yang berlaku. Bagi investor disarankan apabila ingin melakukan investasi pada suatu perusahaan diharapkan untuk melakukan pendeteksian terkait financial distress dan lebih memperhatikan rasio aktivitas perusahaan terutama dalam hal keefektifitasan perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan pendapatan. Karena hal-hal tersebut merupakan informasi yang penting untuk diketahui sebelum melakukan investasi agar dapat mengurangi risiko yang mungkin terjadi ke Bagi peneliti selanjutnya, peneliti menyarankan beberapa hal, yaitu: . menggunakan industri dan sub sektor yang berbeda, seperti industri manufaktur pada sub sektor otomotif dan komponennya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. menggunakan periode pengamatan yang relatif panjang sehingga sampel data yang diperoleh pun lebih banyak. melakukan uji beda, yaitu sebelum pandemi dan setelah pandemi. dalam menggunakan variabel independen tidak terbatas pada rasio keuangan saja. Diharapkan dapat menggunakan faktor internal yang berbeda, seperti firm growth, good corporate governance . epemilikan manajerial dan kepemilikan institusiona. , dan arus kas. Siti Aminah | https://journal. id/index. php/manekin | Page 247 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 240-248 REFERENCES