2026 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1. Issue 8. June 2026. Licenced by CC BY-SA 4. e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi. org/10. 5281/zenodo. Relevansi Etika Peserta Didik terhadap Guru menurut Burhanuddin Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolim Al-MutaAoallim dengan Masa Kini Afrima Falah 1. Fauzan2 Pendidikan Agama Islam. Universitas Islam Negeri Syech M. Djamil Djambek Bikittinggi Emaill: falasslg@gmail. Abstract This research was conducted to analyze the relevance of students' ethics towards teachers according to Burhanuddin Az-Zarnuji in the book Ta'lim Al-Muta'allim in the modern era. The method in this research is included in library research where the data is obtained from the library. The research results obtained show that the ethical principles taught by Az-Zarnuji, such as respect, obedience and etiquette in interacting with teachers, remain relevant and can be applied in the current educational context. However, new challenges arise due to the influence of technology and shifts in social values. This research recommends the importance of integrating ethical values in learning to shape the character of students who respect teachers and the teaching and learning Even though the book Ta'lim Al-Muta'allim was written in a very different era from today. Burhanuddin Az-Zarnuji's teachings remain relevant and valuable in the world of modern education. Principles such as respect for teachers such as not crossing in front of the teacher, not talking too much in front of the teacher, respecting their children and anyone related to the teacher, respecting the teacher by respecting the book, not sitting near the teacher when studying, not hurting the teacher's feelings remain important foundations in form good student By adapting to current developments, these values can help create a higher quality and more meaningful learning environment in this digital era. Keyword : Relevance. Ethics and Morals. Burhanuddin Az-Zarnuji. Ta'lim Al-Muta'allim Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis relevansi etika peserta didik terhadap guru menurut Burhanuddin AzZarnuji dalam kitab Ta'lim Al-Muta'allim di era modern. Metode dalam penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kepustakaan . ibrary researc. yang data-datanya diperoleh dari kepustakaan. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa prinsip-prinsip etika yang diajarkan Az-Zarnuji, seperti sikap hormat, ketaatan, dan adab dalam berinteraksi dengan guru, tetap relevan dan dapat diterapkan dalam konteks pendidikan saat ini. Namun, tantangan baru muncul akibat pengaruh teknologi dan pergeseran nilai-nilai sosial. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya integrasi nilai-nilai etika dalam pembelajaran untuk membentuk karakter peserta didik yang menghargai guru dan proses belajar mengajar. Meskipun kitab Ta'lim Al-Muta'allim ditulis pada zaman yang sangat berbeda dengan masa kini, ajaran-ajaran Burhanuddin Az-Zarnuji tetap relevan dan berharga dalam dunia pendidikan modern. Prinsip-prinsip seperti penghormatan kepada guru seperti tidak melintas dihadapan guru, tidak banyak bicara dihadapan guru, mengormati anaknya dan siapapun yang berkaitan dengan guru, menghormati guru dengan menghormati kitab, tidak duduk dekat guru ketika belajar, tidak menyakiti hati guru tetap menjadi landasan penting dalam membentuk karakter murid yang baik. Dengan adaptasi yang sesuai dengan perkembangan zaman, nilai-nilai ini dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih berkualitas dan bermakna di era digital ini. Kata Kunci: Relevansi. Etika dan Moral. Burhanuddin Az-Zarnuji. TaAolim Al-MutaAoallim Article Info Received date: 15 June 2026 Revised date: 17 June 2026 Accepted date: 22 June 2026 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan lembaga utama yang memainkan peranan penting dalam membangun dan menumbuh kembangkan peradaban. Pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk menumbuhkan pribadi yang bertanggung jawab, maju secara intelektual, dan mempunyai akhlak terpuji. Islam merupakan agama yang bercirikan pesan belas kasihan kepada seluruh ciptaan, diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Islam ini menekankan pentingnya berbagai tindakan manusia, yang mencakup hal-hal kecil dan Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) penting, dan membahas hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Dalam konteks ini. Islam menawarkan pendidikan sebagai sumber daya fundamental bagi umat manusia, yang menjadi prinsip panduan bagi semua individu lintas generasi. Rasulullah SAW adalah utusan yang ditugaskan untuk mengangkat akhlak manusia. Secara historis, banyak utusan yang diutus oleh Allah untuk menegakkan prinsip-prinsip perilaku bajik. Utusan terakhir diberi tanggung jawab untuk menyempurnakan prinsip-prinsip ini, yang dicontohkan oleh kehidupannya, yang ditandai dengan keteladanan moral dan perilaku berbudi luhur. Para sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAW menerangi jalan dakwah Islam. Hal ini tertuang dalam Al-Qur'an surat Al-Qalam ayat Aa sOIA a ACA s aOua acIEa EaaEaO aEA Artinya : AuDan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agungAy. Ayat di atas menjelaskan bahwa hakikat puji-pujian kepada Allah tercermin dalam karakter Rasulullah yang tercermin dalam tingkah lakunya sehari-hari. Kepribadian, moral, dan etika dapat dipahami sebagai hasil pendidikan dan pelatihan khusus yang bertujuan untuk memupuk potensi bawaan yang ada pada individu sejak lahir. Ketika pendidikan diarahkan pada nilai-nilai positif, maka pendidikan akan menumbuhkan tindakan-tindakan yang berbudi luhur. sebaliknya, pendidikan yang salah arah akan menimbulkan perilaku tercela, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW : )A a eNEaEa (ON EA a ACa aE aA a aA ua eA: A acacE aIA a aEacO NEEA a AEa eO aN aOA a aA eO aE NEEA a aA aE UI a eO aIaaEac UI a eO aI eaIa U a eO aIa ac aO aE a aE aI eEaIA Rasulullah SAW bersabda : AuJadilah kamu orang yang berilmu, atau pencari ilmu, atau orang yang mendengarkan, atau orang yang mencintai ilmu, dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima nanti kamu bisa celakaAy. (HR. Al-Bazza. 2 Hadits di atas menekankan pentingnya menjadi individu terpelajar yang belajar, aktif mendengarkan ajaran, dan memiliki semangat belajar. Hal ini menegaskan bahwa seseorang tidak boleh kurang dari itu, karena kegagalan untuk mewujudkan kualitas-kualitas ini dapat mengakibatkan konsekuensi yang merugikan baik bagi diri mereka sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia yang hendaknya ditanamkan sejak dini sesuai dengan tahapan perkembangannya. Tujuan pendidikan akhlak dan etika adalah menumbuhkan individu yang berkarakter tinggi, membedakannya dengan makhluk lain. Hakikat akhlak adalah membimbing manusia menuju perilaku yang berbudi luhur, mendorong kebaikan terhadap sesamanya dan menumbuhkan rasa tanggung jawab kepada Allah SWT. Sang Pencipta. Pendidikan moral berupaya untuk menumbuhkan para individu yang mewujudkan cita-cita tertinggi kemanusiaan, yang membedakannya dari makhluk lain. Prinsip-prinsip moral yang sejati membimbing individu untuk menunjukkan perilaku berbudi luhur, menunjukkan kebaikan terhadap orang lain, dan menyelaraskan tindakan mereka dengan harapan Allah. Islam dan akhlak tidak dapat terpisahkan, karna salah satu tugas Nabi diutus didunia adalah untuk menyempurnakan akhlak kepada manusia, sebagaimana sabda Nabi SAW : )AC (ON EOA a Aua acI aI a eaa aE a aaI aI aIEA a Aa aI eaE a eacEA AuSesungguhnya aku (Muhamma. diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang muliaAy. (HR. AlBukhar. Menurut hadits yang shahih ini. Nabi Muhammad SAW diutus dengan tujuan moral membawa umat manusia pada akhlakul karimah, atau akhlak yang mulia. Etika memegang peranan penting dalam masyarakat modern kontemporer. Ketika orang tua menghadapi pengaruh teknologi yang luas, yang sering kali sarat dengan nilai-nilai negatif, mereka sering kali berupaya membimbing anak-anak mereka menuju prinsip-prinsip agama yang mewujudkan Muhammad Qutbh. Sistem Pendidkan Islam, cet 2 (Bandung: PT AlmaAorif, 1. , hlm, 330. Abu Bakar Ahmad bin Amr bin Abdul Khaliq Al-Bashri Al-Bazzar. Musnad Al-Bazzar. Hadist ke 3626, n. , hlm, 38. Muhammad Rifai dan Abdul Aziz. Aqidah Akhlak, cet 1 (Semarang: Wicaksana, 2. , hlm, 26. Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) standar etika. Fenomena ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, baik di media cetak maupun Kemerosotan moral di kalangan anak-anak tersebar luas, namun orang tua sering kali menyalahkan lembaga pendidikan, meskipun situasinya rumit. Kemajuan masyarakat telah menyebabkan masalah moral yang signifikan di negara ini. Maraknya tindak kriminal, khususnya di kalangan pelajar, sangat memprihatinkan. Laporan pelanggaran yang dilakukan oleh masing-masing siswa termasuk pertengkaran sengit yang mengakibatkan kematian, kejahatan seksual yang semakin meningkat, dan penggunaan obat-obatan terlarang. 4 Kemerosotan akhlak dan etika peserta didik dapat dilihat dengan banyaknya siswa yang jika saat pembelajaran berlangsung masih banyak yang tidak mendengarkan bahkan ada yang bermain-main, mengolok-olok guru dan cenderung tidak menghargainya. Inisiatif strategis sangat penting untuk memulihkan kondisi ini, terutama dengan menekankan pentingnya orang tua dan pendidik dalam mendorong pengembangan etika di kalangan siswa. Nilai-nilai etika perlu ditanamkan sejak dini untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang berlandaskan prinsip-prinsip luhur baik bangsa maupun agama. Inisiatif ini juga berupaya memastikan masa depan yang menjunjung tinggi martabat manusia. Tujuan utama sistem pendidikan, khususnya di Indonesia, hendaknya menyelenggarakan proses belajar mengajar yang kaya akan nilai. Aspirasinya adalah untuk mengembangkan siswa yang mewujudkan standar moral dan etika. Setiap siswa bercita-cita untuk mencapai kesuksesan dalam kegiatan akademiknya. Efektivitas proses pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh metode yang digunakan pendidik tetapi juga oleh sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk menunjukkan etika yang baik dalam interaksi sehari-hari, baik dengan teman sebaya, pendidik, atau sumber daya yang digunakan untuk belajar, seperti buku teks. Nilai ilmu yang diperoleh siswa erat kaitannya dengan perilakunya terhadap gurunya dan sesamanya. Dalam buku ini. Burhanuddin Az-Zarnuji memaparkan prinsip-prinsip etika yang harus diwujudkan siswa dalam hubungannya dengan guru, pelajaran, dan menuntut ilmu. Dia menekankan pentingnya mengejar etika siswa sebelum memulai studi mereka dan menguraikan persiapan yang diperlukan untuk upaya ini. Seorang siswa dituntut untuk menjernihkan hatinya dari segala gangguan yang dapat mengganggu kesungguhannya dalam belajar. Lebih lanjut. Burhanuddin membahas pentingnya perilaku siswa terhadap gurunya, dengan menekankan bahwa perilaku tersebut dapat mempengaruhi kualitas pengetahuan dan pendidikan yang mereka peroleh secara signifikan. Saat ini, terlihat bahwa siswa tidak terlibat dalam kegiatan persiapan apa pun sebelum sesi pembelajaran mereka. Banyak siswa yang datang dalam keadaan tidak siap, seringkali membawa barang-barang yang tidak memberikan kontribusi terhadap pengalaman pendidikan mereka, seperti rokok, sementara beberapa siswa hanya membawa tas tanpa bahan pelajaran penting seperti buku catatan dan pena. Selain itu, kurangnya rasa hormat terhadap guru banyak terjadi di kalangan siswa masa kini. Tren ini tidak lepas dari paradigma pendidikan saat ini yang sangat condong pada pendekatan sekuler, lebih mengutamakan perkembangan kognitif dan perolehan pengetahuan materi dibandingkan internalisasi nilai-nilai fundamental yang melekat pada disiplin ilmu. Fenomena di atas muncul karena kurangnya penekanan pada etika dalam sistem pendidikan, sehingga menyebabkan siswa yang memiliki pengetahuan namun kesulitan menerapkan apa yang telah mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Melvin L. Silberman mencatat bahwa Burhanuddin Az-Zarnuji, dalam karyanya Ta'lim Muta'allim, menekankan pentingnya perilaku etis di kalangan siswa dalam studinya. Perspektif Az-Zarnuji mengenai etika siswa terhadap guru bertolak belakang dengan praktik pendidikan masa kini. menganjurkan pendekatan yang lebih pasif dari siswa, sedangkan sistem pendidikan modern Saepurohman Udung. The Power Of Three (Yogyakarta: Deepublish, 2. , hlm, 20. Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) mendorong lingkungan belajar yang lebih aktif, dimana siswa diharapkan untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mereka. Dari latar belakang inilah penulis ingin menggali dan mengkaji lebih banyak tentang AuRelevansi Etika Peserta Didik Terhadap Guru Menurut Burhanuddin Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolim AlMutaAoalim dengan Masa KiniAy METODE PENELITIAN Kerangka penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan, yaitu pengumpulan data dari literatur yang ada. Jenis penelitian ini mengandalkan sepenuhnya pada referensi atau informasi yang bersumber dari berbagai dokumen, antara lain buku, tesis, jurnal, manuskrip, foto, dan bahan Data yang terkumpul, meliputi buku, tesis, jurnal, manuskrip, foto, dan bahan lainnya, dilakukan penelaahan secara menyeluruh. Selanjutnya, informasi yang diperlukan diekstraksi dan diselidiki secara terorganisir dalam kerangka penelitian yang telah ditetapkan. Data penelitian yang tersedia kemudian dianalisis melalui kerangka teori untuk memperoleh kesimpulan yang valid. HASIL DAN PEMBAHASAN Etika Peserta Didik Terhadap Guru dalam Kitab TaAolim Al-MutaAoalim karangan Burhanuddin Az-Zarnuji Kitab TaAolim Al-MutaAoallim karya Burhanuddin Az-Zarnuji adalah salah satu karya klasik yang membahas tentang etika belajar dan adab peserta didik terhadap guru. Az-Zarnuji memberikan panduan yang sangat rinci tentang bagaimana seorang murid harus bersikap kepada guru dan bagaimana etika ini memainkan peran penting dalam keberhasilan proses belajar mengajar. Kitab ini merupakan salah satu karya penting dalam dunia pendidikan Islam, khususnya dalam memberikan pedoman dan etika belajar bagi para pembuka ilmu. Syekh Az-Zarnuji hidup pada abad ke-6 Hijriyah, bertepatan dengan abad ke-13 hingga awal abad ke-14 Masehi. Beliau wafat sekitar tahun 645 H. Karya ini banyak digunakan di pesantren dan lembaga pendidikan Islam sebagai panduan dalam membentuk akhlak dan tata cara belajar yang baik, seperti pentingnya niat yang ikhlas, adab terhadap guru, serta semangat dalam mempelajari ilmu. Dalam kitab Ta'lim Al-Muta'allim. Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji tidak memberikan definisi yang tegas tentang makna "belajar. " Namun, beliau menekankan bahwa tuntutan ilmu adalah kewajiban yang telah disyariatkan dalam Islam. Kewajiban ini didasarkan pada ajaran yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadis, yang keduanya menjelaskan pentingnya ilmu pengetahuan dan dorongan untuk mencarinya. Syekh Az-Zarnuji menekankan bahwa proses belajar mencakup dua aspek: basyariyah . dan ilahiyah . Aspek basyariyah mencakup usaha manusia secara lahiriah dalam tuntutan ilmu, seperti ikhtiar, ketekunan, dan disiplin. Sedangkan aspek ilahiyah meliputi keberkahan dan taufik dari Allah, yang diperoleh melalui niat yang ikhlas, adab yang baik terhadap guru, serta kesadaran bahwa ilmu adalah karunia dari Allah. 7 Dalam kitab ini. Syekh Az-Zarnuji mengajarkan pentingnya adab dan etika dalam proses menuntut ilmu, seperti tidak melintas dihadapan guru, tidak banyak bicara dihadapan guru, mengormati anaknya dan siapapun yang berkaitan dengan guru, menghormati guru dengan menghormati kitab, dan tidak duduk dekat guru ketika belajar. Menuntut ilmu bukan sekadar kegiatan intelektual, tetapi juga ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Ia menjelaskan etika peserta didik terhadap guru dalam kitab TaAolim Al-mutaAoallim sebagai berikut. Melvin L. Silberman. Pembelajaran aktif 101 Cara Belajar Siswa Aktif, trans. oleh Raisul Muttaqien (Bandung: Nuansa Cendekia, 2. , hlm, 23. Nashruddin Baidan dan Erwati Azizi. Metodologi Khusus Penelitian Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , hlm, 27. Zakie Abdullah. AuKonsep Belajar Syaikh Az-Zarnuji Dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Modern,Ay SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan 4, no. : hlm. Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Tidak Melintas Dihadapan Guru Stekh Az-Zarnuji berkata dalam kitabnya : Aa aIEa aINa aO aE aO eaaO eaacE aI a eIaNa auE auae aI aNA a AaOIa eI eaOCA a AaO a aI aINa aO aE aOe EA a AaO eE aI aE aaI a eI aE aO eIA Artinya AuTermasuk menghormati guru ialah, hendaknya seorang murid tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai bicara padanya kecuali dengan ijinnyaAy. Dalam kitab TaAolim Al-Muta'allim, salah satu adab yang dianjurkan dalam menuntut ilmu adalah menjaga sikap hormat terhadap guru. Salah satu manifestasi dari sikap hormat ini adalah larangan untuk melintas di hadapan guru saat guru sedang mengajar atau berbicara. Sikap ini dianggap sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap kedudukan guru sebagai orang yang lebih berilmu dan patut Menghindari melintas di hadapan guru adalah bagian dari etika yang menunjukkan penghargaan dan kerendahan hati sebagai seorang murid. 9 Sikap ini juga mencerminkan sikap adab dalam majelis ilmu, di mana seorang murid harus menunjukkan kesopanan dan tidak mengganggu jalannya pengajaran. Selain itu, dalam tradisi keilmuan Islam, adab terhadap guru dianggap sangat penting karena ilmu yang bermanfaat hanya bisa diperoleh dengan sikap yang baik dan penghormatan yang tinggi terhadap sumbernya, yaitu guru. Sikap-sikap seperti ini menjadi dasar penting dalam membangun hubungan yang baik antara murid dan guru, dan juga sebagai cara untuk menumbuhkan keberkahan dalam proses belajar-mengajar. Makna dari larangan melintas dihadapan guru adalah sebagai sikap tawadhu' . endah hat. Seorang murid tidak melintas dihadapan gurunya merupakan wujud dari sikap tawadhu' atau kerendahan hati. Dengan tidak tampil atau melintas di depan guru, murid menunjukkan rasa hormat dan mengakui kedudukan guru sebagai orang yang lebih tinggi dalam hal ilmu dan pengalaman. Selain wujud dari sikap tawadduAo, larangan melintas di hadapan guru juga merupakan penghormatan terhadap ilmu. Guru dalam Islam adalah perantara dalam transmisi ilmu yang pada hakikatnya berasal dari Allah. Maka, penghormatan kepada guru sama dengan penghormatan kepada ilmu itu sendiri. Melintas di hadapan guru tanpa adab dapat dianggap sebagai tindakan yang meremehkan kedudukan ilmu dan orang yang menyampaikannya. Makna selanjutnya menjaga keberkahan ilmu. Dalam pandangan Islam, tuntutan ilmu tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga keberkahan yang diperoleh melalui adab yang baik. Melintas di depan guru bisa dianggap sebagai sikap yang kurang sopan dan dapat menghilangkan keberkahan dalam proses belajar. Makna yang terakhir adalah sikap kesopanan seorang murid terhadap Seorang murid tidak melintas di hadapan gurunya mencerminkan sikap kesopanan dalam interaksi sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa murid siap untuk mendengarkan, menghargai, dan tidak ingin mengganggu atau mendominasi perhatian di depan guru. Tidak Banyak Bicara Dihadapan Guru Syekh Az-Zarnuji mengatakan : AA a a aacO aO e a aA a AaO aE Oa eE aa eaacE aI a eIaNa aO aE aO e a aEA e A aEe aOA a AaO eE aO eCa aO aE aO acaC eE aA a A eOU a eIa aIacEEa a aN aOO a Hendaknya tidak banyak bicara di hadapan guru Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek atau Harus menjaga waktu Jangan mengetuk pintunya, tapi sebaliknya menunggu sampai beliau Dalam kitab Ta'lim Al-Muta'allim, adab dan etika terhadap guru adalah hal yang sangat ditekankan dalam proses menuntut ilmu. Salah satu bagian penting dalam kitab ini adalah tentang bagaimana murid harus bersikap saat berinteraksi dengan guru. Murid dianjurkan untuk mendengarkan dengan baik dan Syaikh Az-Zarnuji. Terjemahan TaAolim MutaAoalim, trans. Abdul Qodir Al-Jufri, cet 1 (Surabaya: Mutiara Ilmu, 2. , hlm. Anisa Nandya. AuEtika Murid Terhadap Guru (Analisis Kitab TaAolim MutaAoallim Karangan Syaikh Az-Zarnuj. ,Ay Mudarrisa 2, no. Hidayatullah Ismail. AuIslam Memuliakan GuruAy (Riau, 2. Az-Zarnuji. Terjemahan TaAolim MutaAoalim, hlm. Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) tidak terlalu banyak berbicara saat berada di hadapan guru. Berbicara yang berlebihan di depan guru dapat mengganggu fokus dan menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap guru. Dalam Islam, seorang murid tidak dianjurkan untuk banyak bicara di hadapan gurunya karena beberapa alasan penting yang berkaitan dengan adab, penghormatan, dan nilai-nilai spiritual dalam menuntut ilmu. Guru dalam Islam adalah sosok yang memiliki pengetahuan lebih dan dianggap sebagai perantara yang menyampaikan ilmu dari Allah. Dengan tidak banyak bicara, murid menunjukkan sikap tawadhu' . endah hat. dan penghormatan terhadap guru. Islam sangat menjunjung tinggi akhlak dan adab, terutama kepada orang yang memberikan bimbingan ilmu. Dalam proses pembelajaran, mendengar dengan baik lebih penting daripada berbicara. Banyak bicara bisa mengalihkan fokus dari memahami apa yang disampaikan oleh guru. Mendengarkan dengan baik adalah tanda bahwa murid serius dalam menuntut ilmu, mengutamakan pemahaman yang mendalam, dan tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan. Dalam Al-Qur'an dan Hadis, pentingnya mendengar dengan khusyuk dan penuh perhatian sering ditekankan sebagai bagian dari proses belajar yang benar. Berbicara berlebihan bisa mengganggu alur pengajaran. Guru adalah orang yang memiliki rencana dan metode dalam menyampaikan ilmu, dan terlalu banyak bicara dari murid dapat menghambat atau mengganggu proses tersebut. Selain itu, hal ini juga bisa mengganggu murid lain yang sedang berusaha memahami pelajaran. Islam menekankan pentingnya tertib dan disiplin dalam majelis ilmu agar proses belajar berjalan dengan efektif. Ilmu dalam Islam dipandang sebagai sesuatu yang suci dan penuh Keberkahan ilmu sangat berkaitan dengan adab seorang murid terhadap gurunya. Dengan menjaga adab dalam berbicara, seorang murid dapat memperoleh keberkahan yang lebih besar dari ilmu yang dipelajari. Sebaliknya, kurangnya adab bisa menyebabkan ilmu yang diperoleh menjadi tidak bermanfaat atau tidak memberikan keberkahan yang semestinya. Selain itu, murid juga harus peka terhadap kondisi fisik dan mental gurunya. Jika guru tampak lelah, bosan, atau sedang tidak dalam kondisi yang baik, sebaiknya murid menunda pertanyaannya. Ini bertujuan untuk menjaga guru dari kelelahan lebih lanjut dan menunjukkan rasa empati serta penghargaan terhadap guru. Murid harus paham kapan waktu yang tepat untuk bertanya atau mendekati Sebaiknya tidak mengganggu guru di luar waktu yang sudah disepakati atau di luar waktu yang tepat untuk belajar. Seorang murid juga harus memiliki etika dalam mendatangi guru yakni dengan bersabar menunggu guru keluar, bukan mengetuk pintu dan memanggilnya. Hal ini menunjukkan sikap tawadhu' . endah hat. dan penghargaan terhadap guru, memberikan ruang dan waktu pribadi kepada guru tanpa mengganggu. Syekh Az-Zarnuji mengatakan : e A a acINa aOA a A aO aEA. acEEA a A aA e A aOA. ACA ca AA aO aA AaO a eO aE a aN aO aI eIA a ANa aO aO eIa a aE a eI aNa AaOA a AIaI eaOCaO ae aN eaOCA a AC AaO aI eA a AA a AO ae aI eA a AEaa aA a aANa aO aOe aIaA a AA aO a eEa aEA a Aa E eaE aI eEa eOA AaOaaEac aC a aNA Seorang murid harus mencari kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan ia murka, mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama, karena tidak boleh taat pada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah. Seorang murid harus mencari kerelaan hati gurunya dan menjaga adab serta sikap yang baik dalam interaksi dengan guru. Hal ini adalah bagian dari adab menuntut ilmu dalam Islam, yang bertujuan untuk menjaga keberkahan ilmu dan menjaga hubungan baik dengan guru sebagai penyampai ilmu. 16 Seorang murid perlu berusaha agar gurunya ridha atau rela terhadap dirinya. Ridha guru dianggap sangat penting Moh. Faizin et al. AuEtika Murid Terhadap Guru Menurut Prespektif Shaikh AlZarnuji,Ay Jurnal Tarbawi Stai Al Fithrah 11, no. Muh Rustam. AuAkhlak Menuntut Ilmu Dalam Perspektif IslamAy (Universitas Muhammadiyah Makassar, 2. , hlm. Hazhira Qudsyi. AuBersungguh-Sungguh Dalam Menuntut IlmuAy (Yogyakarta, 2. Muhamad Abror. AuAl-Ghazali: Urgensi Sikap Tawadhu Murid terhadap Guru,Ay Nu. id, 2021, https://nu. id/tasawuf-akhlak/al-ghazaliurgensi-sikap-tawadhu-murid-terhadap-guru-of6dq. Dafri Harweli. AuAdab Terhadap Guru,Ay Ponpes. id, 2019, https://ppmal-kautsarmuhammadiyah. id/read/10/adab-terhadap-guru. Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) karena keberkahan ilmu sering kali datang dari kerelaan hati guru. Guru yang ikhlas mengajarkan ilmu dengan penuh kasih sayang cenderung menyampaikan ilmunya dengan lebih efektif, dan murid yang mendapat ridha dari gurunya akan lebih mudah dalam memahami dan mengamalkan ilmu tersebut. Dalam konteks ini, murid harus menjaga hubungan yang harmonis dengan guru, menghormati dan menaati perintah guru, serta menunjukkan perilaku yang baik. Islam mengajarkan bahwa kewajiban mematuhi perintah guru adalah salah satu bentuk penghormatan dan keseriusan dalam menuntut ilmu. Namun, ketaatan kepada guru harus dilakukan selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat atau ajaran agama. Ini adalah prinsip penting dalam agama Islam. 17 Murid harus patuh kepada guru dalam segala hal yang baik dan bermanfaat, tetapi tidak dalam hal yang bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana hadis rasulullah Saw AuTidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. Ay (HR. Ahma. Syekh Az-Zarnuji berkata : a AaO aEA ACA a AC AaO aI eA a AA a AA aO a eEa aEA a Aa E eaE aI eEa eOA Tidak boleh taat pada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah termasuk menghormati guru. Hal ini menegaskan bahwa ketaatan kepada guru tetap harus disertai dengan kesadaran penuh akan batasan-batasan agama. Seorang murid tidak boleh mengikuti perintah yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti melakukan sesuatu yang haram atau melanggar nilai-nilai moral yang diajarkan dalam Berdasarkan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa seorang siswa harus berusaha mencari kerelaan hati gurunya, menjaga adab, menjauhi tindakan yang membuat guru marah, dan mematuhi perintah-perintah guru selama tidak bertentangan dengan agama. Prinsip ini menunjukkan bahwa dalam Islam, hubungan antara murid dan guru didasari oleh rasa hormat, ketaatan, dan penghormatan terhadap batasan-batasan syariat. Pada akhirnya, ketaatan tertinggi adalah kepada Allah SWT, dan seorang murid harus selalu menempatkan kepatuhannya kepada Allah di atas sega-segalanya. Mengormati Anaknya dan Siapapun yang Berkaitan dengan Guru Menghormati guru juga berarti menghormati anggota keluarganya dan orang-orang yang berhubungan dengannya. Syekh Az-Zarnuji menjelaskannya dalam kitabnya dengan sebuah cerita: AuGuru kami Burhanuddin, pengarang kitab Al-Hidayah bercerita bahwa salah seorang pembesar negeri Bukhara duduk dalam suatu majlis pengajian, ditengah-tengah pengajian, dia sering berdiri Lalu oleh teman- temannya ditanya mengapa berbuat demikian. Dia menjawab, sungguh putra guruku sedang bermain di jalan oleh karena itu jika aku melihatnya aku berdiri untuk menghormatinya. Ay20 Memiliki adab dan etika yang tinggi kepada guru seperti yang diajarkan oleh syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta'lim Al-Muta'allim tidaklah berlebihan. Syekh Az-Zarnuji menegaskan bahwa menghormati guru secara mendalam bahkan memperluas penghormatan tersebut kepada orang-orang yang berkaitan dengan guru adalah bagian dari adab yang akan membawa keberkahan dan kesuksesan dalam proses belajar. Menurut Az-Zarnuji, ilmu memiliki unsur spiritual yang terkait erat dengan adab dan etika. Ilmu tidak hanya diperoleh melalui kecerdasan atau usaha semata, tetapi juga melalui keberkahan yang datang dari kerelaan dan ridha guru. Dengan menunjukkan penghormatan yang mendalam kepada guru, murid akan mendapatkan berkah dari ilmu yang dipelajarinya. Sebab, adab yang baik adalah kunci untuk membuka pintu-pintu keberkahan ilmu. Keberkahan dalam belajar tidak hanya mencakup pemahaman intelektual, tetapi juga manfaat yang berkelanjutan dari ilmu tersebut di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, menghormati guru dengan sangat sopan adalah salah satu jalan untuk memperoleh keberkahan ilmu. Rasulullah Saw bersabda: Umi Muzayyanah. AuNilai-Nilai Ketaatan Kepada Guru Dalam Kitab Adabul AoAlim Wal MutaAoallim Relevansinya Dengan Pembentukan Kepribadian Peserta DidikAy (Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2. , hlm. Az-Zarnuji. Terjemahan TaAolim MutaAoalim, hlm. Nandya. AuEtika Murid Terhadap Guru (Analisis Kitab TaAolim MutaAoallim Karangan Syaikh Az-Zarnuj. ,Ay hlm. Az-Zarnuji. Terjemahan TaAolim MutaAoalim, hlm. Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) a EEaIa I CacNA AEO I acI aI eI EI O eIA e A O aO e aAUAOIaA a A aOO aaOC ea aE aAUAAOIA AuBukanlah dari golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu. Ay (HR. Ahma. Hadis ini menunjukkan pentingnya menghormati orang yang memiliki ilmu, dan itu termasuk guru. Adab ini dipandang sebagai sesuatu yang fundamental dalam menuntut ilmu. Syekh Az-Zarnuji juga menyatakan bahwa kehormatan dan kesuksesan dalam menuntut ilmu sangat dipengaruhi oleh adab seorang murid kepada gurunya. Dengan menjaga adab, murid akan lebih mudah menerima ilmu, dan ilmu tersebut akan lebih mudah membekas dalam hatinya. Murid yang tidak menghormati gurunya, atau yang menganggap remeh adab dalam belajar tidak akan mendapatkan keberhasilan sejati dalam ilmu, baik dari segi pemahaman maupun manfaatnya. Selain itu, menghormati siapa pun yang berkaitan dengan guru seperti keluarganya, sahabat, atau bahkan tempat-tempat yang sering digunakan oleh guru juga termasuk bagian dari etika seorang murid kepada gurunya. Dalam Islam, konsep ini dikenal sebagai bagian dari penghormatan terhadap ilmu itu 21 Menghormati lingkungan guru dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya menunjukkan pengakuan bahwa ilmu yang diberikan oleh guru memiliki nilai yang sangat tinggi. Ini tidak dianggap berlebihan, melainkan sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan yang tulus terhadap Menghormati Guru dengan Meng-hormati Kitab Seorang pelajar dilarang memegang kitab kecuali yang suci. Sebagaimana dikemukakan Imam Syamsul Aimmah al Halwani. AuAku memperoleh ilmu ini karena sangat menghormatinya Aku tak pernah mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci. Imam Sarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya dan berwudhu sampai tujuh belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ay Dalam tradisi Islam, menjaga kesucian saat menuntut ilmu adalah salah satu bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri. Kisah-kisah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Syamsul Aimmah AlHalwani dan Imam Sarkhasi mencerminkan bagaimana para ulama terdahulu sangat menjaga adab terhadap ilmu dengan selalu berada dalam keadaan suci saat membaca atau memegang kitab yang penuh dengan ilmu. Ilmu dalam Islam dipandang sebagai cahaya . yang menerangi hati dan pikiran seseorang. Para ulama sering kali mengaitkan ilmu dengan kesucian batin dan kebersihan lahiriah. Oleh karena itu, untuk memuliakan ilmu yang dianggap sebagai sesuatu yang suci, diperlukan sikap yang penuh penghormatan, salah satunya dengan selalu dalam keadaan suci . saat menyentuh atau mempelajari ilmu. Az-Zarnuji mengatakan : A eOU a a AA a AEaO eE aEaA a a A aa eE aEA a AEe aE auEaO eE aEaA a AA a A aA a A aea O UI aO aE aOA a A aO aOA a aO Aa eOCA a AaOIa Ia Eacea aOI eE aOA a A a aEaa Eac eAA a caA a eI aE aO aIA Para penuntut ilmu dilarang meletakkan kitab di dekat kakinya ketika duduk bersila. Hendaknya kitab tafsir diletakkan di atas kitab-kitab lain, dan hendaknya tidak meletakkan sesuatu di atas kitab Dilarang meletakkan kitab di dekat kaki ketika duduk bersila adalah aturan yang sangat penting dalam etika dan penghormatan terhadap kitab-kitab suci, terutama di lingkungan pesantren. Meletakkan kitab di dekat kaki atau di bawah benda lain bisa dianggap tidak menghormati isi dan makna kitab Dengan meletakkan kitab tafsir di atas kitab-kitab lain, para pencari ilmu menunjukkan penghormatan terhadap ilmu yang terkandung di dalamnya. Harweli. AuAdab Terhadap Guru. Ay Noor Ainun. AuPerlunya Kesucian Hati Dalam Menuntut Ilmu,Ay https://w. id/read/7/perlunya-kesucian-hati-dalam-menuntut-ilmu. Az-Zarnuji. Terjemahan TaAolim MutaAoalim, hlm. Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Dalam tradisi Islam, ilmu dianggap sebagai anugerah tinggi dari Allah SWT, dan kitab-kitab keagamaan adalah sumber utama ilmu tersebut. Meletakkan kitab di dekat kaki dianggap kurang sopan karena kaki adalah bagian tubuh yang lebih rendah, sedangkan kitab berisi ilmu yang mulia. Adab ini menggambarkan kesadaran bahwa ilmu harus dihormati baik secara fisik maupun spiritual. Tidak Duduk Dekat Guru Ketika Belajar Seorang Murid tidak sopan duduk dekat gurunya ketika belajar kecuali darurat. Sepatutnya ada jarak antara murid dan guru, kira-kira sepanjang busur panah, hal ini semata-mata untuk menghormati guru. Larangan duduk terlalu dekat dengan guru saat belajar juga merupakan bagian dari adab dalam tradisi pendidikan Islam, khususnya di lingkungan pesantren. Konsep ini mengajarkan rasa hormat dan menjaga jarak yang pantas antara murid dan guru, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dari segi adab. Guru dalam tradisi Islam dianggap sebagai sumber ilmu yang harus dihormati. Duduk terlalu dekat dengan guru dapat dianggap kurang sopan karena menunjukkan kurangnya kesadaran akan status guru sebagai orang yang lebih tinggi dalam kedudukan ilmu. Jarak fisik mencerminkan penghormatan kepada guru, yang telah mendedikasikan dirinya untuk mengajar dan membimbing murid-muridnya. Duduk terlalu dekat dengan guru bisa membuat murid merasa tegang atau tidak nyaman, yang bisa mengganggu proses belajar. Jarak yang tepat memungkinkan siswa untuk lebih fokus dan menyerap pelajaran dengan lebih baik, sambil tetap merasa termotivasi dalam proses pembelajaran. Dalam sebuah majelis ilmu, ada aturan-aturan tertentu yang mengatur posisi murid dan guru. Guru biasanya duduk di tempat yang lebih tinggi atau di depan, sedangkan murid duduk di sekeliling atau di belakang. Ini adalah cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada guru dan ilmu yang sedang diajarkan, serta memastikan suasana belajar yang penuh dengan ketenangan dan kesopanan. Jarak yang sopan juga membantu mencegah murid mengganggu konsentrasi guru atau Menjaga interaksi yang berlebihan yang dapat mengalihkan perhatian dari pelajaran. Ini juga memungkinkan suasana belajar yang nyaman dan teratur, sehingga semua murid dapat belajar dengan baik tanpa terganggu oleh murid yang duduk terlalu dekat. Tidak Menyakiti Hati Guru Kitab Ta'lim Al-Muta'allim yang merupakan salah satu kitab klasik dalam pendidikan Islam, etika peserta didik terhadap guru dijelaskan dengan sangat rinci. Salah satu poin utama dalam kitab ini adalah pentingnya menjaga adab dan tidak melukai hati guru, karena guru dianggap sebagai perantara utama dalam memperoleh ilmu. 26 Seorang peserta didik harus selalu menghormati dan mengagungkan guru, baik dalam tindakan maupun ucapan. Mengagungkan guru tidak hanya berarti secara fisik, seperti berdiri ketika guru masuk, tetapi juga secara spiritual dengan meyakini bahwa ilmu yang diajarkan oleh guru membawa keberkahan. Ta'lim Al-Muta'allim menekankan bahwa penghormatan ini harus datang dari hati yang tulus. Peserta didik tidak boleh menyela ketika guru berbicara atau membantah guru, karena hal ini dapat melukai perasaan guru. Jika ada perbedaan pendapat, harus disampaikan dengan sopan dan penuh rasa Dalam Ta'lim Al-Muta'allim disebutkan bahwa berdebat dengan guru secara tidak sopan dapat menghilangkan keberkahan ilmu. Dalam Ta'lim Al-Muta'allim juga dianjurkan agar peserta didik senantiasa mendoakan kebaikan untuk guru mereka. 28 Doa ini merupakan bentuk penghargaan dan rasa terima kasih atas ilmu yang telah diajarkan, dan menjadi salah satu cara menjaga hubungan baik antara murid dan guru. Mulia Lukita. AuHubungan Intensitas Pengajian Kitab TaAolim Al-MutaAoalimdengansikap TaAodzimdi Pondok Pesantren Al-Jamil PurwokertoAy (Institut Agama Islamnegri (Iai. Purwokerto, 2. , hlm. Ahmad Taupik Mulyana. AuEtika Guru Terhadap Murid Menurut K. Hasyim AsyAoari Dalam Kitab AdAb Al-AoAlim Wa Al-MutaAoallimAy (Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2. , hlm. Amien Nurhakim. AuMengenal Kitab TaAolim al-MutaAoallim. Panduan Etika Mencari Ilmu,Ay Nu. id, 2020, https://w. id/pustaka/mengenal-kitab-ta-lim-al-muta-allim-panduan-etika-mencari-ilmu-Lp0jc. Inayatul Umami. AuPenghormatan Ilmu Melalui Kitab TaAolim MutaAoallim,Ay Iainutuban. https://iainutuban. id/2021/11/10/penghormatan-ilmu-melalui-kitab-talim-mutaallim/. Nurhakim. AuMengenal Kitab TaAolim al-MutaAoallim. Panduan Etika Mencari Ilmu. Ay Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Guru dalam Islam dipandang sebagai wasilah . antara ilmu yang berasal dari Allah dan peserta didik. Oleh karena itu, menghormati dan menjaga perasaan guru bukan hanya wujud penghormatan kepada manusia, tetapi juga cara untuk memuliakan ilmu yang bersumber dari Allah. Menyakiti hati guru, baik dengan sikap, kata-kata, atau perbuatan, dipandang sebagai tindakan yang bisa menghilangkan keberkahan ilmu yang diajarkan. Dalam perspektif spiritual, ilmu bukan sekadar informasi atau pengetahuan. Ilmu adalah cahaya yang dapat mencapai jiwa dan kehidupan seseorang. Jika seorang murid gagal menjaga adab terhadap gurunya, maka cahaya ilmu tersebut bisa redup atau bahkan hilang, terlepas dari seberapa cerdas atau pandainya dia dalam memahami keilmuanya. Relevansi Etika Peserta Didik Terhadap Guru Menurut Burhanuddin Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolim Al-MutaAoallim dengan Masa Kini Kitab TaAolim Al-MutaAoallim karya Burhanuddin Az-Zarnuji adalah salah satu teks klasik yang sangat dihormati dalam tradisi pendidikan Islam. Kitab ini berisi panduan etika belajar yang mencakup hubungan antara murid dan guru, serta bagaimana seorang murid seharusnya bersikap dalam menuntut Meski kitab ini ditulis berabad-abad yang lalu, ajaran-ajarannya masih memiliki relevansi kuat dengan situasi pendidikan masa kini. Etika peserta didik terhadap guru dalam Islam sangatlah penting dan merupakan bagian dari adab yang harus dijaga dengan ketat. Islam sangat menekankan hubungan yang baik dan penuh hormat antara murid dan guru. Dalam tradisi Islam, menghormati guru merupakan bagian dari akhlak mulia. Guru dianggap sebagai orang yang memberikan ilmu, yang dalam Islam dianggap sebagai cahaya yang menerangi kegelapan kebodohan. Oleh karena itu, murid harus berbicara dengan penuh hormat dengan tidak memotong pembicaraan guru serta menjaga sikap dan ucapan saat berada di hadapan guru. Ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad A Ayang mengatakan: AuBukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu. Ay (HR. Ahma. Syekh Az-Zarnuji sangat menekankan pentingnya penghormatan kepada guru sebagai fondasi utama dalam menuntut ilmu. Ia menyatakan bahwa tanpa rasa hormat kepada guru, keberkahan ilmu akan Meskipun zaman sudah berubah, penghormatan kepada guru tetap relevan. Dalam era digital di mana akses terhadap informasi sangat mudah, guru tetap memiliki peran sebagai pembimbing moral dan intelektual. Rasa hormat ini dapat diwujudkan dengan tidak hanya bersikap sopan di kelas, tetapi juga menghargai pengalaman dan wawasan guru dalam proses pembelajaran, baik offline maupun Dalam kitab Ta'lim Al-Muta'allim. Syekh Az-Zarnuji menekankan bahwa menuntut ilmu memerlukan disiplin, kesungguhan, dan komitmen. Seorang murid harus memiliki niat yang lurus dan tekad yang kuat. Pada masa sekarang, dengan berbagai distraksi seperti media sosial dan hiburan digital kedisiplinan menjadi lebih penting. Murid perlu fokus dan serius dalam belajar untuk mencapai hasil yang maksimal, terutama dalam menghadapi pembelajaran daring yang membutuhkan manajemen waktu yang baik dan kemampuan untuk tetap termotivasi secara mandiri. Syekh Az-Zarnuji juga menekankan pentingnya tawadhuAo . erendahan hat. sebagai etika penting bagi murid. Ia harus menyadari bahwa guru adalah sumber ilmu yang lebih berpengalaman, dan oleh karenanya, murid harus senantiasa merendahkan diri di hadapan guru. Kerendahan hati dalam belajar sangat relevan di era modern. Banyak murid masa kini merasa bahwa mereka bisa belajar mandiri melalui internet tanpa perlu bimbingan guru. Namun, ilmu tidak hanya soal informasi, tetapi juga soal hikmah dan pemahaman yang mendalam, yang sering kali hanya bisa didapat melalui guru. TawadhuAo berarti menghargai peran guru sebagai pembimbing dan bukan sekadar pencari informasi. Syekh Az-Zarnuji juga menjelaskan bahwa menjaga adab dalam belajar adalah syarat utama untuk mendapatkan keberkahan ilmu. Ini termasuk berbicara dengan sopan kepada guru, tidak berbicara saat Vol. 4 No. Kajian Literatur: Hambatan Epistemologi (Nazzua Hilda, et. , a. | 20-31 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) guru sedang mengajar, serta tidak menyela atau membantah guru dengan kasar. Dalam konteks modern, adab tetap menjadi bagian penting dari etika pendidikan. Meskipun suasana pendidikan kini lebih informal namun adab dalam berbicara baik secara langsung maupun melalui media digital tetap perlu Menghormati guru dan sesama murid dalam diskusi kelas baik luring maupun daring sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Syekh Az-Zarnuji menekankan pentingnya niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu. Ilmu harus dipelajari untuk mendapatkan ridha Allah dan bukan untuk tujuan duniawi seperti sekadar mengejar gelar atau status semata. Niat yang ikhlas sangat penting di era modern di mana pendidikan sering kali dijadikan alat untuk mencapai kesuksesan materi atau popularitas. Pendidikan dalam Islam mengajarkan bahwa ilmu harus dipelajari demi pengembangan diri, perbaikan masyarakat, dan untuk kemaslahatan umum, bukan hanya untuk keuntungan pribadi. Syekh Az-Zarnuji mengajarkan bahwa ilmu tanpa amal adalah sia-sia. Ilmu harus diamalkan agar menjadi bermanfaat dan membawa berkah. Dalam konteks pendidikan modern, ilmu yang didapatkan di sekolah atau universitas harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu tidak boleh hanya berhenti di tataran teori, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk amal dan kontribusi kepada masyarakat. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, meskipun kitab Ta'lim Al-Muta'allim ditulis pada zaman yang sangat berbeda dengan masa kini, ajaran-ajaran Burhanuddin Az-Zarnuji tetap relevan dan berharga dalam dunia pendidikan modern. Prinsip-prinsip seperti penghormatan kepada guru, kesungguhan dalam belajar, tawadhuAo, menjaga adab, niat yang ikhlas, dan pengamalan ilmu tetap menjadi landasan penting dalam membentuk karakter murid yang baik. Dengan adaptasi yang sesuai dengan perkembangan zaman, nilai-nilai ini dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih berkualitas dan bermakna di era digital ini. SIMPULAN Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa etika peserta didik terhadap guru yang diajarkan oleh Burhanuddin Az-Zarnuji dalam kitab TaAolim Al-MutaAoallim masih sangat relevan dan berharga untuk diterapkan dalam konteks pendidikan masa kini. Prinsip-prinsip adab dan etika dalam hubungan muridguru yang ditekankan oleh Az-Zarnuji, seperti penghormatan kepada guru, tawadhu' . endah hat. , kedisiplinan, kesungguhan dalam belajar, menjaga adab, serta niat yang ikhlas, tetap menjadi landasan yang penting dalam membentuk karakter siswa di era modern. Beberapa nilai utama yang diajarkan Az-Zarnuji, seperti pentingnya menjaga adab dalam komunikasi, baik lisan maupun digital, menghormati waktu guru, serta disiplin dalam menuntut ilmu, sangat relevan dalam menghadapi tantangan pendidikan di era teknologi dan digitalisasi saat ini. Meskipun konteks dan metode pembelajaran telah berubah dengan adanya pembelajaran daring dan akses informasi yang lebih luas, prinsip-prinsip dasar etika dalam kitab ini tetap memberikan pedoman yang kuat bagi murid untuk menghormati guru dan menghargai proses belajar-mengajar. Secara keseluruhan, etika yang disampaikan dalam Ta'lim Al-Muta'allim tetap relevan dan dapat menjadi fondasi moral bagi peserta didik dalam mengembangkan sikap yang baik, menghargai ilmu, dan menjaga hubungan yang harmonis dengan guru di era modern. REFERENSI