Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 Desember 2025 ISSN Print 2685-7553 ISSN Online 2581-1134 Studi Pengelolaan Risiko dan Keselamatan Kerja pada Proyek Pembangunan Base Transceiver Station Widyo Nugroho*1. Sulfiah Dwi Astarini1. Eko Prihartanto2 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Sains dan Teknik. Universitas Bojonegoro. Bojonegoro 62119. Indonesia Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Borneo Tarakan. Tarakan 77123. Indonesia *e-mail: widyo. nugroho@gmail. com, eko_prihartanto@borneo. Received 25th June 2025. Reviewed 01st September 2025. Accepted 27th October 2025 Journal Homepage: http://jurnal. id/index. php/bejts Doi : https://doi. org/10. 35334/be. Abstract The construction of Base Transceiver Stations plays a crucial role in expanding digital connectivity and supporting economic transformation. however, its implementation involves various risks ranging from technical and financial aspects to occupational safety. This study aims to identify, classify, and prioritize risks in Base Transceiver Station construction projects using the Analytical Hierarchy Process method, based on data obtained from literature reviews, interviews, and The analysis results indicate that physical risks carry the most significant weight, followed by design, economic, and natural disaster risks, with overall risk assessments ranging from moderate to high levels. The occupational safety analysis further reveals that the highest risks occur in foundation works, tower structure erection, fabrication, and electrical installation, where human resources and work methods are the dominant contributors to potential accidents. Therefore, the success of Base Transceiver Station construction projects is highly determined by the effectiveness of managing physical risks and the consistent implementation of occupational safety standards, ensuring that project objectives in terms of time, cost, and quality can be achieved while safeguarding worker safety. Keywords: base transceiver station. job safety analysis. risk management Abstrak Pembangunan Base Transceiver Station berperan penting dalam memperluas konektivitas digital dan mendukung transformasi ekonomi, namun proses konstruksinya menghadirkan berbagai risiko mulai dari aspek teknis, finansial, hingga keselamatan kerja. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan memprioritaskan risiko pada proyek pembangunan Base Transceiver Station dengan metode Analytical Hierarchy Process berdasarkan data dari tinjauan pustaka, wawancara, dan kuesioner. Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko fisik memiliki bobot dominan, diikuti risiko desain, ekonomi, dan bencana alam, dengan hasil penilaian risiko dalam tingkat sedang ke tinggi. Analisis keselamatan kerja mengungkapkan bahwa risiko tertinggi terdapat pada pekerjaan pondasi, struktur menara, pabrikasi, serta elektrikal, di mana faktor sumber daya manusia dan metode kerja menjadi penyumbang dominan potensi kecelakaan. Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan Base Transceiver Station sangat ditentukan oleh efektivitas pengelolaan risiko fisik dan penerapan standar keselamatan kerja secara konsisten sehingga proyek dapat mencapai target waktu, biaya, kualitas, serta menjamin keselamatan tenaga kerja. Kata kunci: analisis keselamatan kerja. base transceiver station. pengelolaan risiko Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Pendahuluan Infrastruktur telekomunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta mempercepat transformasi digital. Pada era modern, ekonomi digital, layanan pemerintahan berbasis elektronik, pendidikan daring, perdagangan elektronik, dan pekerjaan jarak jauh sangat bergantung pada jaringan telekomunikasi yang andal dan memiliki cakupan luas. Akses terhadap telekomunikasi tidak lagi dianggap sebagai suatu kemewahan, melainkan telah menjadi kebutuhan dasar yang secara langsung mempengaruhi produktivitas, kesetaraan ekonomi, dan inklusi Salah satu komponen utama dalam perluasan infrastruktur tersebut adalah pembangunan Base Transceiver Station (BTS), yang berfungsi sebagai tulang punggung sistem komunikasi seluler. BTS berperan sebagai piranti antarmuka penting antara perangkat pengguna dan jaringan inti. Fungsi utamanya adalah menjaga kekuatan sinyal serta memastikan komunikasi berjalan lancar dalam area cakupannya, baik untuk layanan suara maupun data. Meskipun memberikan manfaat signifikan, pembangunan BTS juga memiliki potensi risiko yang cukup besar, terutama pada tahapan krusial seperti akuisisi lahan, proses konstruksi, instalasi peralatan, serta komisioning (Altamimi dkk. Setiap tahapan rentan terhadap risiko yang dapat mempengaruhi biaya, waktu, kualitas, keselamatan kerja, serta keberlanjutan lingkungan (Widyatmoko & Mauludiyanto, 2. Kegagalan dalam manajemen risiko dapat mengakibatkan keterlambatan proyek, pembengkakan biaya, sanksi regulasi, bahkan kegagalan proyek. Oleh karena itu, penerapan pendekatan manajemen risiko yang sistematis menjadi sangat penting untuk menjamin bahwa proyek BTS dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai anggaran, dan memenuhi standar kualitas (Amalin & Handayeni, 2. Kerangka kerja yang banyak diakui untuk klasifikasi risiko dalam proyek konstruksi diperkenalkan oleh Mustafa dan Al-Bahar . Model tersebut mengelompokkan risiko ke dalam enam kategori utama, yaitu (Mustafa & Al-Bahar, 1. Risiko bencana alam . cts of Go. , seperti gempa bumi, banjir, dan badai yang dapat mengganggu aktivitas proyek. Risiko fisik, meliputi kerusakan aset, kegagalan struktur, maupun kecelakaan di lokasi Risiko ekonomi, termasuk inflasi, fluktuasi nilai tukar, serta keterlambatan pembayaran yang dapat mengancam kelayakan proyek. Risiko politik dan lingkungan, mencakup perubahan regulasi, ketidakstabilan politik, serta dampak lingkungan yang merugikan. Risiko desain, yang muncul akibat kesalahan perencanaan, kekurangan dokumen desain, atau ketidaksesuaian antara spesifikasi desain dengan kondisi lapangan. Risiko terkait lokasi proyek, meliputi rendahnya produktivitas tenaga kerja, kegagalan peralatan, kendala logistik, serta kondisi lapangan yang tidak dapat diprediksi. Klasifikasi ini memberikan kerangka sistematis yang memungkinkan pemangku kepentingan proyek untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko sepanjang siklus hidup proyek (Mustafa & Al-Bahar. Salah satu kelemahan utama dalam praktik manajemen risiko yang ada saat ini adalah sifatnya yang deskriptif, tanpa dilengkapi mekanisme terstruktur untuk memprioritaskan risiko berdasarkan tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya. Keterbatasan ini mengurangi efektivitas manajemen risiko dalam mendukung pengambilan keputusan proyek, khususnya dalam kondisi yang dinamis dan penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, diperlukan kerangka penilaian risiko yang lebih kuat, adaptif, dan berorientasi pada pengambilan keputusan dengan mengkombinasikan analisis kuantitatif serta pertimbangan kualitatif dari para ahli (Refsdal dkk. , 2. Salah satu metode yang dapat menjawab kebutuhan tersebut adalah Analytical Hierarchy Process (AHP), yang dikembangkan oleh Thomas Saaty. AHP menyusun permasalahan pengambilan keputusan yang kompleks ke dalam bentuk hierarki, sehingga memudahkan pemangku kepentingan untuk memecah permasalahan menjadi komponen yang lebih sederhana (Aladayleh & Aladaileh, 2. Melalui perbandingan Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 berpasangan, para ahli memberikan bobot relatif terhadap faktor dan sub faktor, kemudian hasilnya digabungkan untuk menentukan peringkat risiko (Tereso dkk. , 2. Keunggulan utama AHP terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan faktor kualitatif dan kuantitatif. Hal ini menjadikan AHP sangat relevan untuk penilaian risiko pada proyek infrastruktur seperti pembangunan BTS, di mana data kuantitatif sering kali terbatas atau tidak pasti, dan opini ahli memegang peranan penting. Dengan penerapan metode ini. Project Manager dapat menyusun hierarki risiko yang mencerminkan baik probabilitas maupun tingkat keparahan dari masing-masing risiko (Nugroho dkk. , 2. Studi ini didasarkan pada data proyek pembangunan BTS di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia. Fokus studi ini adalah pada pentingnya kerangka penilaian risiko yang terstruktur dan komprehensif, yang disesuaikan dengan tantangan spesifik di lapangan. Studi ini secara khusus bertujuan untuk menjawab bagaimana kontribusi relatif dari setiap faktor risiko dan sub-faktor mempengaruhi profil risiko keseluruhan pada berbagai tahapan proyek. Pemahaman terhadap distribusi risiko ini sangat penting, karena memungkinkan para pengambil keputusan menyusun rencana mitigasi yang lebih terarah, mengoptimalkan alokasi sumber daya, serta meningkatkan keberhasilan proyek. Metode Studi Studi ini secara umum dilaksanakan melalui beberapa tahapan utama sebagai berikut: Tinjauan pustaka, yang difokuskan pada identifikasi dan pemetaan risiko dalam lingkup proyek, serta eksplorasi jenis pekerjaan yang berpotensi menimbulkan risiko, mulai dari tingkat rendah hingga berat (Osei-Kyei dkk. , 2. Literatur diperoleh dari berbagai sumber terkait manajemen risiko, laporan proyek, serta referensi lain yang berhubungan dengan manajemen risiko. Tahap pengumpulan data, yang mencakup identifikasi potensi risiko melalui brainstorming dan wawancara dengan para ahli yang berpengalaman dalam proyek serupa (Chou dkk. Faktor risiko diperoleh dari hasil tinjauan pustaka yang kemudian dinilai lebih lanjut. Data dikumpulkan melalui kuesioner, yang bertujuan untuk memberikan bobot pada faktor risiko serta melakukan penilaian risiko guna menentukan tingkat risiko proyek. Tahap identifikasi risiko, yang dilaksanakan pada seluruh lingkup pembangunan, mulai dari fase perencanaan rekayasa hingga tahap implementasi (Refsdal dkk. , 2. Tujuan utama dari tahap ini adalah mengidentifikasi secara sistematis seluruh potensi kejadian atau kondisi yang dapat berdampak negatif terhadap tujuan proyek, baik dari sisi biaya, jadwal, kualitas, keselamatan, maupun harapan para pemangku kepentingan. Tahap penilaian risiko, yang dilakukan untuk menentukan tingkat risiko. Penilaian risiko dilakukan pada seluruh tahapan pekerjaan. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan empiris, dengan memanfaatkan metode statistik untuk menganalisis data kuesioner, serta metode matematis dan statistik yang diintegrasikan ke dalam Decision Support System untuk menyelesaikan permasalahan (Zhang dkk. , 2. Tahap perumusan respon terhadap risiko dan pemantauan, yang dilakukan setelah tingkat risiko diperoleh dari hasil penilaian. Pada tahap ini dirumuskan tindakan tanggapan untuk menghilangkan atau mengurangi risiko yang telah diidentifikasi. Selanjutnya dilakukan pemantauan terhadap implementasi program respon risiko, bersamaan dengan penunjukan personil yang bertanggung jawab. Respon terhadap risiko merupakan proses modifikasi atau penanganan risiko, dapat berupa pengembangan opsi serta penentuan tindakan untuk meningkatkan peluang sekaligus mengurangi ancaman terhadap tujuan proyek. Respon diarahkan pada risiko yang telah diidentifikasi, dengan pilihan respon ditentukan berdasarkan hasil penilaian risiko sebelumnya (Dunovic dkk. , 2. Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Hasil dan Pembahasan 1 Identifikasi Risiko Mengklasifikasikan risiko ke dalam kategori yang logis dan komprehensif dapat meningkatkan kejelasan analisis risiko secara keseluruhan dengan menyediakan bahasa bersama di antara para pemangku kepentingan serta memastikan konsistensi dalam proses evaluasi. Klasifikasi ini memungkinkan pemilik proyek, kontraktor, konsultan, dan regulator untuk menyelaraskan ekspektasi, memantau eksposur risiko sepanjang siklus hidup proyek, serta mengalokasikan sumber daya secara efektif untuk mitigasi sebagaimana disampaikan oleh peneliti sebelumnya (Nugroho. Setiap kategori risiko, baik yang terkait dengan desain, pelaksanaan, finansial, lingkungan, maupun bencana alam, memiliki implikasi yang unik terhadap biaya, waktu, keselamatan, dan kualitas, sehingga harus ditangani dengan pendekatan yang sesuai dengan konteksnya. Lebih lanjut, klasifikasi risiko berfungsi sebagai langkah awal yang fundamental untuk prioritas dan penilaian kuantitatif, termasuk melalui metode seperti Analytical Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan hasil tinjauan pustaka yang ekstensif serta diskusi mendalam dengan para profesional proyek dan pakar di bidangnya, studi ini mengusulkan suatu skema klasifikasi praktis untuk mengelompokkan risiko ke dalam kategori yang bermakna dan relevan secara operasional. Klasifikasi ini mengintegrasikan wawasan teoritis dari sumber-sumber akademik dengan pengetahuan empiris yang diperoleh dari pengalaman lapangan, sehingga tidak hanya kuat secara konseptual tetapi juga aplikatif secara pragmatis. Kategori risiko yang disusun mencerminkan tidak hanya dinamika internal proses konstruksi, tetapi juga eksternalitas yang dapat mengganggu kesinambungan dan kinerja proyek. Berdasarkan hasil brainstorming dan wawancara, dua kategori risiko yang awalnya dikemukakan oleh Mustafa dan Al-Bahar . , yakni risiko politik dan risiko terkait lokasi dikecualikan. Risiko politik dianggap tidak relevan dalam konteks studi ini karena seluruh lokasi proyek berada dalam yurisdiksi geopolitik dan regulasi yang sama, sehingga volatilitas kebijakan maupun ketidakpastian legislasi dapat diminimalkan. Sementara itu, risiko terkait lokasi dianggap telah dimitigasi pada tahap analisis kelayakan Pada tahap tersebut, lokasi yang tidak memiliki justifikasi sosial, lingkungan, atau ekonomi yang memadai telah dieliminasi dari pengembangan lebih lanjut, sehingga mempersempit profil risiko pada tahap-tahap selanjutnya. Dengan demikian, studi ini mengklasifikasikan risiko ke dalam klasifikasi risiko bencana alam, risiko fisik, risiko ekonomi, dan risiko desain. Tabel 1. Identifikasi Risiko Hirarki Faktor Pertama Bencana Alam Kedua Kedua Kedua Kedua Kedua Pertama Kedua Kedua Kedua Kedua Nugroho, et. Sub Faktor Gempa bumi Tanah longsor Angin Sambaran petir Cuaca ekstrim Fisik Metode Finansial Material Sumberdaya manusia Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Hirarki Faktor Pertama Kedua Kedua Kedua Kedua Pertama Desain Kedua Kedua Sub Faktor Lingkup desain tidak lengkap Kesalahan . pada desain Spesifikasi teknis tidak sesuai Perubahan desain Ekonomi Inflasi Ketidakstabilan kurs Rupiah Pada analisis penilaian risiko proyek, jenis data yang digunakan adalah data kualitatif dalam skala verbal Saaty. Data kualitatif ini digunakan untuk menentukan bobot kriteria kemungkinan risiko yang mempengaruhi pembangunan BTS. Selanjutnya, data kualitatif tersebut dikonversi ke dalam bentuk kuantitatif menggunakan skala numerik Saaty. Data yang telah dikonversi ini diperoleh dari persepsi para ahli ketika melakukan perbandingan berpasangan antara faktor dan sub-faktor dalam rangka mengidentifikasi risiko pada pembangunan BTS. 2 Penilaian Risiko Dalam konteks prioritas risiko pada pembangunan BTS, metode AHP digunakan untuk mengklasifikasikan dan memberikan bobot pada berbagai kategori risiko berdasarkan dampak Analisis ini mengidentifikasi empat kategori utama risiko, yaitu: fisik, desain, ekonomi, dan bencana alam. Di antara kategori tersebut, risiko fisik muncul sebagai kategori paling dominan dengan bobot prioritas sebesar 0,467, yang menunjukkan bahwa hampir setengah dari total risiko proyek berasal dari faktor-faktor fisik. Kategori ini mencakup risiko yang berkaitan dengan: Sumber daya manusia atau tenaga kerja . obot: 0,. Permasalahan material, seperti kelangkaan atau mutu yang tidak sesuai standar . Metode konstruksi . , serta Aspek finansial pada tahap implementasi . Risiko yang berkaitan dengan desain menempati posisi kedua paling signifikan dengan bobot sebesar 0,292. Kategori ini mencakup risiko akibat spesifikasi yang tidak lengkap atau ambigu . serta perubahan desain selama pelaksanaan proyek . Risiko-risiko tersebut seringkali menyebabkan eskalasi biaya, keterlambatan jadwal, maupun kebutuhan untuk melakukan redesign, yang pada akhirnya dapat mengganggu kelangsungan proyek apabila tidak dikelola dengan baik. Selain itu, terdapat pula risiko terkait desain yang tidak lengkap . dan kesalahan perhitungan . dalam desain . yang turut berkontribusi dalam kategori risiko desain. Risiko ekonomi menyumbang bobot sebesar 0,155 dari total keseluruhan risiko. Kategori ini terutama berfokus pada kondisi makroekonomi yang mempengaruhi pembiayaan proyek, meliputi inflasi . dan fluktuasi suku bunga . Meskipun faktor-faktor tersebut bersifat eksternal terhadap proyek, dampaknya dapat signifikan terhadap kemampuan kontraktor dalam menjaga profitabilitas sekaligus memenuhi kewajiban kontraktual. Sementara itu, risiko bencana alam memiliki bobot relatif terkecil, yaitu 0,086. Walaupun bobotnya rendah, risiko ini tetap penting karena sifatnya yang tidak dapat diprediksi dan berada di luar kendali Risiko ini mencakup kejadian alam seperti gempa bumi . , longsor . , angin kencang . , sambaran petir . , serta kondisi cuaca ekstrim . Secara umum, risikorisiko tersebut biasanya diakomodasi dalam klausul kontrak dan memerlukan perencanaan kontinjensi, meskipun probabilitas kejadiannya relatif rendah. Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Tabel 2. Perbandingan Berpasangan Faktor. Sub Faktor dan Tingkat Risiko Faktor Bencana alam Fisik Desain Ekonomi Sub Faktor Tingkat Risiko Tinggi Sedang Rendah 0,086 Gempa bumi Tanah longsor Angin Sambaran petir Cuaca ekstrim 0,467 Metode Finansial Material Sumberdaya manusia 0,292 Lingkup desain tidak lengkap Kesalahan pada desain Spesifikasi teknis tidak tepat Perubahan desain 0,155 Inflasi Ketidakstabilan kurs rupiah Dominasi bobot risiko fisik sebagaimana terlihat pada gambar 1, memberikan wawasan penting bahwa sebagian besar ancaman terhadap keberhasilan pembangunan BTS bersumber dari fase operasional dan implementasi, bukan dari pengaruh lingkungan eksternal atau faktor makroekonomi. Temuan ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang menekankan bahwa tantangan utama dalam proyek infrastruktur terletak pada aspek pelaksanaan internal (Dunovic dkk. , 2016. Chou dkk. , 2. Hal ini menegaskan perlunya Project Manager untuk lebih intensif dalam mengelola variabelvariabel pelaksanaan di lapangan, seperti keselamatan tenaga kerja, logistik material, keandalan peralatan, serta metode kerja. Bobot yang relatif setara pada sumberdaya manusia, material, dan finansial dalam kategori risiko fisik menunjukkan bahwa ketiga elemen tersebut saling bergantung dan harus dikelola secara terintegrasi. Sebagai contoh, keterlambatan dalam pengiriman material dapat mengganggu jadwal tenaga kerja, yang pada gilirannya meningkatkan biaya tenaga kerja serta berpotensi menimbulkan kesalahan pelaksanaan akibat penyelesaian pekerjaan yang terburu-buru, sebagaimana juga disoroti oleh Amalin dan Handayeni . dalam penelitian sebelumnya. Dari perspektif ekonomi, meskipun risiko ekonomi seperti inflasi dan volatilitas kurs rupiah memperoleh Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 bobot yang relatif rendah, implikasinya dalam jangka panjang tetap signifikan terutama dalam proyek infrastruktur multi-tahap. Inflasi dapat dengan cepat meningkatkan biaya material dan tenaga kerja, menurunkan marjin keuntungan, bahkan berpotensi memicu renegosiasi kontrak sebagaimana dinyatakan oleh peneliti terdahulu (Ali dkk. , 2. Menariknya, bobot yang relatif rendah pada kategori risiko bencana alam dalam hasil analisis tidak berarti kategori ini tidak relevan, melainkan mencerminkan sifatnya yang meski kemungkinan terjadinya rendah namun bila terjadi akan berdampak tinggi. Bencana alam seperti gempa bumi, meskipun jarang terjadi, dapat menimbulkan konsekuensi yang katastrofik. Oleh karena itu, meskipun skornya rendah dalam matriks AHP, kategori ini tetap harus dikelola melalui rencana struktural preventif, perencanaan resiliensi, atau perlindungan asuransi sebagaimana rekomendasi peneliti terdahulu (Huang dkk. , 2. Gambar 1. Bobot Sub Faktor Tingkat risiko yang relatif tinggi pada sub faktor desain sebagaimana terlihat gambar 2, mengindikasikan adanya persoalan sistemik yang sering ditemui dalam proyek infrastruktur dengan skema percepatan, sebagaimana proyek pembangunan BTS, yaitu kurangnya detail dan kejelasan pada tahap awal perencanaan dan desain. Gambar 2. Tingkat Risiko Berdasarkan Sub Faktor Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 3 Respon terhadap Risiko Respon terhadap risiko dalam studi ini diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama, yakni bencana alam, fisik, desain, dan ekonomi. Setiap kategori ditangani dengan strategi berbeda sesuai tingkat kendali, prediktabilitas, dan keparahan dampaknya, disertai penetapan tanggung jawab yang jelas serta penyelarasan dengan siklus hidup proyek untuk memastikan akuntabilitas dan efisiensi, sebagaimana rekomendasi oleh peneliti sebelumnya (Chou dkk. , 2021. Refsdal dkk. , 2. Risiko bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan sambaran petir bersifat di luar kendali manusia, meskipun probabilitasnya rendah namun berisiko tinggi. Strategi utama berupa penerimaan risiko dapat melalui mekanisme asuransi (Sheikallavudeen & Sankar, 2. Asuransi komprehensif memungkinkan pemangku kepentingan menyerap implikasi finansial tanpa mengorbankan keberlanjutan proyek. Sejalan dengan rekomendasi Huang dkk. , perencanaan pra-konstruksi harus mengintegrasikan prinsip resiliensi terhadap bencana dan jaminan kontraktual, termasuk klausul perlindungan terhadap kerusakan akibat gempa atau cuaca ekstrem. Tanggung jawab pengaturan cakupan asuransi berada pada Project Director dan wajib dilaksanakan sebelum pekerjaan fisik dimulai. Risiko fisik mencakup variabilitas metode konstruksi, kualitas material, tenaga kerja, dan aspek Karena lebih dapat diprediksi, risiko ini dikelola melalui perencanaan dan pengendalian yang efektif. Variabilitas eksekusi diatasi dengan standarisasi metode kerja dan protokol keselamatan (Dunovic dkk. , 2. Gangguan finansial dapat diminimalkan melalui pembiayaan aman, seperti pencairan berbasis milestone. Aspek material dikelola dengan diversifikasi pemasok dan memprioritaskan sumber lokal. Sementara itu, aspek sumberdaya manusia, yang meliputi kompetensi, perilaku keselamatan, dan produktivitas, ditangani melalui pelatihan, sertifikasi, serta pengawasan lapangan berkelanjutan (Widyatmoko & Mauludiyanto, 2. Project Manager bertanggung jawab penuh dalam fase konstruksi ketika risiko fisik paling dominan. Risiko desain menimbulkan tantangan sistemik, di mana kesalahan fase perencanaan dapat berimplikasi pada keterlambatan, pekerjaan ulang, dan pembengkakan biaya (Chou dkk. , 2. Keterlibatan pemangku kepentingan sejak awal krusial untuk mendefinisikan ruang lingkup yang Risiko perhitungan desain yang keliru dapat dikurangi melalui tinjauan independen oleh pakar sejawat (Altamimi dkk. , 2. Spesifikasi yang salahdapat diminimalkan dengan koordinasi lintas disiplin antara tim sipil, mekanikal, dan elektrikal. Potensi perubahan desain dikendalikan melalui sistem manajemen perubahan yang terstruktur, mencakup dokumentasi formal, persetujuan, dan analisis dampak (Ali dkk. , 2. Mitigasi risiko desain menjadi tanggung jawab Project Manager dan wajib diintegrasikan pada fase pra-konstruksi. Risiko ekonomi, meskipun sering dianggap kurang prioritas, tetap memiliki dampak strategis. Inflasi ditangani dengan klausul eskalasi harga yang memungkinkan penyesuaian pembayaran mengikuti indeks inflasi. Volatilitas nilai tukar, khususnya pelemahan Rupiah terhadap mata uang utama, dapat mempengaruhi biaya pengadaan impor. Untuk itu digunakan strategi hedging, kontrak berjangka, atau anggaran multi-mata uang (Ali dkk. , 2024. Altamimi dkk. , 2. Respon terhadap risiko pada studi ini selengkapnya disajikan pada tabel 3. Tabel 3. Respon terhadap Risiko Faktor Sub Faktor Jenis Respon Bencana alam Gempa bumi Penerimaan Penerimaan Tanah longsor Nugroho, et. Mekanisme Respon Asuransi all Asuransi all Penanggungjawab Project Director Project Director Waktu Pra Pra Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Faktor Sub Faktor Jenis Respon Angin Metode Penerimaan Penerimaan Penerimaan Mitigasi risiko Finansial Mitigasi risiko Material Mitigasi risiko Sumber daya Lingkup desain tidak lengkap Mitigasi risiko Kesalahan dalam desain Mitigasi risiko Spesifikasi teknis tidak Mitigasi risiko Perubahan Mitigasi risiko Inflasi Mitigasi risiko Ketidakstabilan kurs Rupiah Mitigasi risiko Sambaran petir Cuaca ekstrim Fisik Desain Ekonomi Mitigasi risiko Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Mekanisme Respon Asuransi all Asuransi all Asuransi all Standarisasi konstruksi dan Pengamanan Sistem rantai pasok yang Pelatihan dan Keterlibatan kepentingan di awal desain Review desain oleh pihak sejawat/peer Penetapan Penetapan standar dan Klausul eskalasi harga Penyertaan Penanggungjawab Project Director Project Director Project Director Project Manager Waktu Pra Pra Pra Tahap Project Manager Tahap Project Manager Tahap Project Manager Project Manager Tahap Pra Project Manager Pra Project Manager Pra Project Manager Pra Project Director Pra Project Director Tahap 4 Analisis Keselamatan Kerja pada Tahap Konstruksi Proses pembangunan BTS melibatkan berbagai tahapan konstruksi yang memiliki potensi bahaya sesuai dengan karakteristik pekerjaan. Identifikasi bahaya pada setiap tahapan menjadi langkah penting dalam penerapan keselamatan kerja. Analisis identifikasi bahaya dan penilaian risiko mengintegrasikan empat aspek utama, yaitu sumberdaya manusia, material, metode, dan finansial sebagai variabel yang mempengaruhi tingkat risiko di setiap tahap konstruksi. Dengan adanya identifikasi bahaya ini, setiap tahapan konstruksi dapat dipetakan risiko dominannya, baik dari sisi manusia, material, metode, maupun finansial. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam menentukan strategi mitigasi risiko yang lebih tepat sasaran sehingga mendukung keberhasilan proyek sekaligus menjaga keselamatan pekerja di lapangan. Tabel 4 berikut menyajikan hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko keselamatan kerja berdasarkan tahapan konstruksi. Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Tabel 4. Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko Keselamatan Kerja Tahap Aspek Konstruksi Persiapan Lahan Sumberdaya & Mobilisasi Manusia Identifikasi Konsekuensi Kemungkinan Keparahan Tingkat Bahaya bila terjadi bila terjadi Risiko Pekerja kurang Luka ringanAe Sedang Sedang Sedang disiplin, rawan kecelakaan kerja Material Keterlambatan Keterlambatan Sedang Tinggi Tinggi alat/material Metode Lalu lintas tidak Cedera Rendah Tinggi Tinggi teratur, pekerja serius/fatal Finansial Biaya tambahan Kerugian biaya Sedang Sedang Sedang Pekerjaan Sumberdaya Pekerja tidak Cedera serius Sedang Tinggi Tinggi Pondasi Manusia kesalahan kerja keamanan kerja Material Material tidak Kegagalan Rendah Tinggi Tinggi sesuai spesifikasi Metode Longsor galian / Cedera Rendah Tinggi Tinggi tertimpa material serius/fatal Finansial Biaya tambahan Kerugian biaya Sedang Sedang Sedang akibat rework Pekerjaan Sumberdaya Rigger jatuh dari Cedera Sedang Tinggi Tinggi struktur menara Manusia serius/fatal tersambar petir Material Komponen cacat Keterlambatan Sedang Tinggi Tinggi atau rusak & kerugian Metode Crane gagal Kerusakan Sedang Tinggi Tinggi angkat beban cedera pekerja Finansial Biaya tambahan Kerugian biaya Sedang Tinggi Tinggi akibat kecelakaan & kerusakan Pekerjaan Sumberdaya Pekerja terkena Luka bakar. Sedang Tingi Tinggi pabrikasi baja Manusia percikan las atau tertimpa material Material Tabung gas bocor Kebakaran. Rendah Tinggi Tinggi cedera/fatal Metode Percikan memicu Kerugian Rendah Tinggi Tinggi potensi cedera Finansial Kerugian akibat Kerugian biaya Sedang Tinggi Tinggi Pekerjaan Sumberdaya Teknisi jatuh saat Cedera Sedang Tinggi Tinggi Manusia serius/fatal Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Tahap Konstruksi Instalasi Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Aspek Identifikasi Konsekuensi Kemungkinan Keparahan Tingkat Bahaya bila terjadi bila terjadi Risiko Material Kabel rusak saat Kerusakan Sedang Sedang Sedang material, biaya Metode Sengatan listrik Cedera Rendah Tinggi Tinggi serius/fatal Finansial Biaya tambahan Kerugian biaya Sedang Sedang Sedang akibat kerusakan Sumberdaya Teknisi cedera saat Cedera ringanAe Sedang Sedang Sedang Manusia handling perangkat Material Peralatan rusak Kerugian saat pemasangan Metode Sengatan listrik Cedera saat koneksi serius/fatal Finansial Biaya tambahan Kerugian biaya akibat kerusakan Komisioning & Sumberdaya Salah konfigurasi Downtime, integrasi sistem Manusia oleh engineer Material Perangkat tidak Keterlambatan. Metode Gangguan listrik & Cedera, radiasi RF kerusakan alat Finansial Downtime Kerugian biaya membuat kerugian Finishing & Sumberdaya Pekerja cedera Luka ringanAe Manusia Material Pekerja cedera Potensi cedera akibat sisa material Metode Pekerja terpeleset Luka ringanAe akibat area kotor Finansial Biaya tambahan Kerugian biaya & penalti serah terima Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Analisis pada tabel 5 memuat operabilitas penanganan risiko keselamatan kerja yang mencakup rincian tahap konstruksi, jenis bahaya yang teridentifikasi, tingkat risiko, tindakan yang dipilih, pelaksana tindakan, serta waktu penerapan. Dengan analisis ini, setiap risiko dapat terkelola secara terstruktur, siapa yang bertanggung jawab, dan kapan tindakan tersebut harus dilakukan. Selain itu, tabel ini juga berfungsi sebagai acuan pemantauan agar penerapan pengendalian risiko dapat dievaluasi secara berkala. Dengan adanya pemetaan yang jelas, proses pengambilan keputusan menjadi lebih efektif, serta dapat meminimalisir potensi terjadinya kecelakaan kerja maupun keterlambatan proyek. Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Tabel 5. Operabilitas Penanganan Risiko Keselamatan Kerja Tahap Konstruksi Identifikasi Tindakan Oleh Waktu Bahaya Persiapan lahan Sumberdaya Pekerja kurang Safety induction Project Manager. Harian & mobilisasi disiplin, rawan briefing harian Safety Officer kecelakaan kerja Material Keterlambatan Kontrak logistik. Procurement. Prasupply alat/material pengaturan jadwal Project Manager Metode Lalu lintas tidak Pengaturan lalu Site Manager. Saat teratur, pekerja lintas dan rambu Safety Officer tertabrak kendaraan lalu lintas Finansial Biaya tambahan Perencanaan Finance Officer. Tahap Project Manager Perencanaan transportasi secara Pekerjaan Sumberdaya Pekerja tidak Pelatihan K3. Safety Officer. Awal manusia memahami prosedur supervisi ketat Mandor keamanan kerja Material Material tidak sesuai QC material QC. Procurement Saat masuk, vendor Metode Longsor galian / Shoring, zona Site Engineer. Selama tertimpa material aman. APD Safety Officer Finansial Biaya tambahan Rencana mutu QC. Project Selama akibat rework konstruksi secara Manager Pekerjaan Sumberdaya Rigger jatuh dari Safety harness. Rigger. Safety Selama struktur menara manusia lifeline, sertifikasi Officer tersambar petir rigger, larangan kerja saat hujan Material Komponen cacat Pemeriksaan QC. Procurement Sebelum atau rusak material sebelum Metode Crane gagal angkat Perawatan crane. Operator Crane. Selama sertifikasi operator Safety Officer Finansial Biaya tambahan Jamsostek. Finance Officer. Selama akibat kecelakaan & asuransi material Project Manager kerusakan material & peralatan Pekerjaan Sumberdaya Pekerja terkena APD las lengkap. Welder. Safety Selama pabrikasi baja percikan las atau pelindung area Officer tertimpa material Material Tabung gas bocor Inspeksi tabung Safety Officer. Harian gas rutin Mandor Metode Percikan memicu APAR disiapkan. Safety Officer. Selama SOP hot work Mandor Finansial Kerugian akibat Jamsostek, polis Finance Officer. Selama asuransi proyek Project Manager Pekerjaan Sumberdaya Teknisi jatuh saat Safety harness. Teknisi. Safety Selama Officer Material Kabel rusak saat Reel & roller kabel Teknisi. QC Saat instalasi Nugroho, et. Aspek Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Tahap Konstruksi Aspek Metode Finansial Instalasi Identifikasi Bahaya Sengatan listrik Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Tindakan Lock-out/tag-out, insulated tools QC material, kontrol logistik Oleh Waktu Teknisi. Safety Saat instalasi Officer Procurement. Saat instalasi Project Manager Biaya tambahan akibat kerusakan Sumberdaya Teknisi cedera saat Training handling. Teknisi. Mandor manusia handling perangkat alat bantu angkat Saat Material Peralatan rusak saat Packing & QC Vendor. Sebelum Procurement Metode Sengatan listrik saat Lock-out/tag-out. Teknisi. Safety Saat insulated tools Officer Finansial Biaya tambahan Kontrak garansi Project Manager. Setelah akibat kerusakan Vendor Komisioning & Sumberdaya Salah konfigurasi Checklist Engineer. Vendor Saat integrasi sistem oleh engineer double check Material Perangkat tidak Uji kompatibilitas Vendor. Engineer Sebelum Metode Gangguan listrik & Grounding. Engineer. Safety Saat radiasi RF signage area RF Officer Finansial Downtime membuat Perencanaan Project Manager Selama kerugian biaya Finishing & Sumberdaya Pekerja cedera Supervisi Mandor. Safety Saat finishing pembersihan. APD Officer housekeeping buruk Material Pekerja cedera Pemilahan limbah. Mandor. Safety Saat finishing akibat sisa material Officer Metode Pekerja terpeleset Pembersihan rutin. Pekerja. Mandor Saat finishing akibat area kotor jalur aman Finansial Biaya tambahan Pemantauan proses Project Manager Akhir & jadwal serah keterlambatan serah Kesimpulan Studi ini menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penilaian risiko pembangunan Base Transceiver Station (BTS) yang pada praktiknya merupakan proyek kompleks dengan tingkat risiko tinggi terhadap biaya, jadwal, mutu, serta keselamatan kerja. Untuk memperoleh pemetaan yang terukur, metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan dalam mengklasifikasikan sekaligus memprioritaskan risiko berdasarkan kajian literatur serta masukan pakar yang berpengalaman di bidang konstruksi telekomunikasi. Pendekatan ini memungkinkan setiap kategori risiko dianalisis secara sistematis sehingga dapat ditentukan tingkat urgensinya dalam proses Risiko terbagi ke dalam empat kategori utama, yaitu fisik, desain, ekonomi, dan bencana alam. Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko fisik memiliki bobot dominan, diikuti risiko desain, ekonomi, dan bencana alam, dengan hasil penilaian risiko dalam tingkat sedang ke tinggi. Nugroho, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Risiko fisik terkait dengan aspek sumberdaya manusia, material, metode, serta finansial. Kondisi ini menuntut adanya pengendalian konstruksi yang ketat, keandalan rantai pasok, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja melalui pelatihan yang berkesinambungan. Selanjutnya, risiko desain dapat terjadi karena spesifikasi yang tidak lengkap, kesalahan dalam rancangan, maupun perubahan desain di tengah pelaksanaan. Hal tersebut memerlukan perencanaan awal yang matang, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta mekanisme peer review sebelum implementasi. Risiko ekonomi perlu diperhatikan karena dampaknya terhadap stabilitas proyek akibat inflasi, kenaikan harga material, dan fluktuasi nilai tukar. Strategi mitigasi dapat dilakukan melalui klausul eskalasi harga, buffer keuangan, serta langkah-langkah hedging. Sementara itu, risiko bencana alam, meski tercatat dengan bobot terkecil, tetapi berpotensi menimbulkan kerugian besar, sehingga strategi respons yang tepat mencakup seleksi lokasi pembangunan, rekayasa ketangguhan struktur, serta penyediaan asuransi Analisis keselamatan memperlihatkan bahwa risiko tertinggi terjadi pada pekerjaan struktur menara, pekerjaan pondasi, proses pabrikasi, dan pekerjaan elektrikal. Karena faktor manusia menjadi aspek dominan, integrasi sistem keselamatan kerja menjadi keharusan mutlak. Upaya yang dilakukan antara lain penerapan alat pelindung diri (APD), briefing harian, inspeksi peralatan, penggunaan safety harness, penerapan prosedur lock-out/tag-out, serta pengaturan jalur kendaraan dan alat berat. Dengan strategi respons yang terstruktur, pengalokasian tanggung jawab yang jelas pada Project Manager maupun Project Director, serta penanaman budaya keselamatan yang konsisten, pembangunan BTS dapat terlaksana lebih terjamin dalam aspek waktu, biaya, mutu, dan terutama keselamatan pekerja. Daftar Pustaka