Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025. Page: 1-12 Tari Jaipong di Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahma Sebagai Warisan Budaya Dalam Bingkai Pancasila Alikha Dwi Ananda Putri*. Intan Aina Fitria. Merah Delima Legis Girl. Signi Wafy Ikhsan. Yulia Dwi Lestari. Ratna Fitria Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahma dalam melestarikan dan mengembangkan tari Jaipong sebagai implementasi dari nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam kerangka ideologi terbuka. Jaipong, sebagai seni tradisional khas Sunda, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukatif dan budaya yang menanamkan nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, persatuan, dan Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi strategi inovatif dalam musik, gerakan, dan kostum yang dilakukan sanggar agar tetap relevan dengan generasi muda tanpa menghilangkan jati diri budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jaipong memainkan peran penting dalam memperkuat identitas budaya lokal serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi yang adaptif dan Penelitian ini juga mengungkap tantangan dalam pelestarian seni tradisional di tengah arus globalisasi dan peran penting komunitas serta lembaga budaya. Kata Kunci: Jaipong. Pancasila. Sanggar Tari. Nilai Budaya. Ideologi Terbuka. Pelestarian Seni. Generasi Muda. Globalisasi. Identitas Lokal. DOI: https://doi. org/10. 47134/jpn. *Correspondence: Alikha Dwi Ananda Putri Email: alikhaananda@upi. Received: 28-04-2025 Accepted: 28-05-2025 Published: 28-06-2025 Copyright: A 2025 by the authors. Submitted for open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) . ttp://creativecommons. org/licenses/by/ 0/). https://edu. id/index. php/jpn Absract: This study aims to analyze the role of Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahma in preserving and developing Jaipong dance as an implementation of the values of Pancasila, particularly as a manifestation of an open ideology. Jaipong, a traditional Sundanese art form, serves not only as entertainment but also as an educational and cultural medium that instills values such as mutual cooperation, unity, and deliberation. Using a qualitative approach, the research explores innovative strategies in music, movements, and costumes to ensure the dance remains relevant to younger generations without losing its cultural identity. The findings reveal that Jaipong significantly contributes to strengthening local cultural identity and raising public awareness of the importance of Pancasila as an adaptive and contextual ideology. The study also highlights challenges in preserving traditional arts amidst globalization and underscores the essential role of community involvement and support from cultural Keywords: Jaipong. Pancasila. Dance Studio. Cultural Values. Open Ideology. Art Preservation. Young Generation. Globalization. Local Identity. Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 2 of 12 Pendahuluan Pancasila merupakan dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia yang bersumber dari budaya bangsa sendiri. Nilai-nilainya tidak diambil dari luar, melainkan lahir dan berkembang dari kekayaan budaya lokal, termasuk teks agama, kepercayaan tradisional, serta adat istiadat yang hidup dalam masyarakat Indonesia (Surajiyo, 2. dalam (Dewi, 2. Sebagai ideologi terbuka. Pancasila memiliki karakter yang dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Pancasila disebut sebagai ideologi terbuka karena bersumber pada kondisi obyektif, konsep, prinsip, dan nilai-nilai orisinal masyarakat Indonesia sendiri, sebagaimana dijelaskan oleh Winarno dalam Sri Untari . , yang dikutip oleh (Asmaroini & Pd, 2. Dengan sifat keterbukaannya tersebut. Pancasila mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan sosial tanpa kehilangan jati diri bangsa. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat berkembang seiring perubahan sosial, politik, dan budaya, namun tetap menjaga esensi dan jati diri bangsa Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut. Pancasila disebut sebagai suatu ideologi terbuka, sehingga nilai yang terkandung tidak hanya dijadikan sebagai acuan dalam rangka mengevaluasi, melainkan perannya juga dibutuhkan. Selain itu, ideologi Pancasila memiliki sifat dinamis, sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman (Muslimin, 2. Hal ini diungkapkan oleh Salam, yang menekankan bahwa Pancasila adalah ideologi yang dinamis dan terbuka untuk berbagai interpretasi, sesuai dengan konteks sosial dan budaya yang berkembang (Salam, 2. Identitas merupakan sesuatu yang bersifat berkesinambungan sepanjang kehidupan manusia dan tidak terbatas sifatnya. Sementara itu, nasional berasal dari kata nation, yang merujuk pada sekelompok manusia yang memiliki sejarah, wilayah, budaya, simbol, tradisi, serta kesadaran sebagai suatu bangsa dan adanya status politik (Sarasati, 2. Dalam konteks ini, keterbukaan terhadap perubahan memungkinkan berbagai aspek kehidupan, termasuk seni dan budaya, untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan identitas nasional. Salah satu contoh seni yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila sekaligus memperkuat identitas nasional adalah tari Jaipong, tarian khas Jawa Barat yang telah menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Sunda. Sanggar merupakan sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan membekali peserta didiknya dengan keterampilan, keahlian, dan pengetahuan yang berguna untuk masa depan mereka. Selain itu, sanggar juga memiliki peran penting sebagai wadah pelestarian kesenian (Melati Sukma et al, 2. Seiring dengan perkembangan zaman, seni tari Jaipong mengalami berbagai transformasi. Dalam hal ini, sanggar sebagai pusat pembelajaran dan pelestarian tari Jaipong memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan seni tersebut. Tidak hanya mempertahankan bentuk tradisionalnya, sanggar juga melakukan berbagai inovasi dalam musik, gerakan, dan kostum, sehingga seni tari Jaipong dapat terus diterima dan dicintai oleh generasi muda. Tari tradisional sebagai salah satu bentuk kesenian rakyat harus mampu bertahan di tengah derasnya arus budaya luar yang kini lebih sering dilihat dan digemari oleh remaja, bahkan anak usia dini (Djibran & Pamungkas, 2. Dalam menghadapi tantangan ini, keberadaan sanggar seni menjadi sangat penting. Penelitian menunjukkan https://edu. id/index. php/jpn Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 3 of 12 bahwa sanggar tidak hanya berupaya mempertahankan esensi dari tari Jaipong, tetapi juga mengadaptasi bentuk pertunjukannya agar dapat beresonansi dengan masyarakat yang lebih luas dan beragam (Ohorella et al, 2. Upaya ini mencerminkan kemampuan seni tradisional untuk bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya, sejalan dengan semangat Pancasila sebagai ideologi terbuka yang adaptif namun tetap menjaga nilai-nilai dasarnya. Namun, dalam upaya pelestarian dan pengembangan Jaipong, muncul berbagai tantangan, seperti menurunnya minat generasi muda terhadap seni tradisional, dominasi budaya populer, serta kebutuhan untuk menyesuaikan Jaipong dengan selera dan perkembangan zaman. Hal ini seringkali disebabkan oleh dominasi budaya populer yang lebih menarik bagi anak muda, sehingga seni tradisional seperti Jaipong dianggap kurang relevan (Agra Adiaya et al, 2. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana Sanggar Tari Surya Medal Putra Wirahma menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi dalam tari Jaipong serta bagaimana seni ini mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam praktiknya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahma berperan dalam melestarikan tari Jaipong, mengidentifikasi inovasi yang dilakukan agar tetap diminati masyarakat modern, serta mengkaji bagaimana tari Jaipong mencerminkan Pancasila sebagai ideologi terbuka. Adapun alasan pemilihan judul "Jaipong di Sanggar Tari Surya Putera Medal Wirahma: Warisan Budaya dalam Bingkai Pancasila" adalah karena Jaipong bukan sekadar seni tari, tetapi juga sebuah media edukasi, pelestarian identitas budaya, serta refleksi dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial. Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah menjadi contoh bagaimana seni tradisional dapat terus berkembang tanpa kehilangan esensi budayanya, mencerminkan semangat keterbukaan dan adaptasi yang terkandung dalam Pancasila. Dengan demikian, penelitian ini mengajukan hipotesis bahwa tari Jaipong di Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah mengalami inovasi agar tetap relevan bagi masyarakat modern tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya, serta bahwa nilai-nilai Pancasila tercermin dalam filosofi, praktik, dan komunitas seni tari ini. Melalui kajian ini, diharapkan dapat ditemukan strategi yang dapat diterapkan dalam pelestarian seni budaya Indonesia, sehingga tetap menjadi bagian dari identitas bangsa di tengah arus Metodologi Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami bagaimana tari Jaipong di Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah mencerminkan Pancasila sebagai ideologi terbuka. Penelitian kuantitatif banyak dipilih pada penelitian sosial karena mudah untuk mendapatkan data (Yulianto & Wijaya, 2. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap pengalaman, pemaknaan, serta upaya pelestarian dan inovasi tari Jaipong dari perspektif berbagai pihak yang terlibat. Dalam penelitian kualitatif, peserta penelitian, dalam hal ini konseli, sering dilibatkan https://edu. id/index. php/jpn Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 4 of 12 dalam instrumen menggunakan panduan wawancara kuesioner terbuka untuk menggali informasi secara lebih mendalam dan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang persepsi serta pengalaman mereka (Yuliani, 2. Dengan pendekatan ini, penelitian dapat memperoleh wawasan yang lebih kaya terkait dengan nilai-nilai yang terkandung dalam tari Jaipong dan bagaimana nilai tersebut dapat mencerminkan ideologi Pancasila dalam konteks budaya dan sosial. Peserta wawancara dipilih berdasarkan keterlibatan langsung mereka dalam dunia tari Jaipong di Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah. Pengelola sanggar menjadi informan utama untuk memahami strategi pelestarian dan pengembangan Jaipong, sementara pelatih tari memberikan wawasan mengenai teknik, filosofi, serta adaptasi Jaipong dalam menghadapi perubahan zaman. Penari dan murid sanggar diwawancarai untuk menggali pengalaman mereka dalam belajar dan menampilkan Jaipong, termasuk bagaimana mereka melihat relevansi seni ini dalam kehidupan sosial. Selain itu, pakar budaya atau akademisi seni tari dihubungi untuk memberikan perspektif lebih luas mengenai posisi Jaipong dalam budaya nasional serta keterkaitannya dengan Pancasila. Berikut kalimatnya setelah dihubungkan agar nyambung dan runtut. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Observasi dilakukan dengan mengamati langsung latihan, pertunjukan, serta interaksi sosial di sanggar untuk memahami bagaimana Jaipong dipraktikkan dalam keseharian. Teknik observasi sendiri merupakan metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan terhadap suatu objek secara langsung (Pujiyanto, 2. , sehingga memungkinkan peneliti memperoleh gambaran nyata dari aktivitas yang berlangsung. Wawancara mendalam dilakukan dengan panduan pertanyaan yang fleksibel agar informan dapat menjelaskan pengalaman serta pandangan mereka secara bebas dan detail. Sementara itu, studi literatur melengkapi data dengan menelaah sumber-sumber tertulis seperti buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang relevan. Pemahaman yang luas tentang analisis data kualitatif menjadi kunci penting dalam penelitian ini, di mana peneliti memperoleh wawasan dari berbagai sumber untuk menghasilkan representasi yang akurat dari pengalaman hidup informan (Hammersley, 1. dalam (Rofiah, 2. Dalam penelitian kualitatif, sangat penting bagi peneliti untuk memiliki pemahaman yang mendalam terhadap nuansa data yang diperoleh, sehingga analisis dapat mencerminkan kompleksitas dan konteks pengalaman informan dengan Proses analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi pola, hubungan, serta makna yang muncul dari data tersebut. Keabsahan data dijaga dengan melakukan triangulasi sumber dan metode, yang melibatkan perbandingan temuan dari berbagai teknik pengumpulan data. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam mengenai peran Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah dalam menjaga keberlanjutan tari Jaipong serta bagaimana seni ini menjadi representasi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi terbuka. https://edu. id/index. php/jpn Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 5 of 12 Hasil dan Pembahasan Tari Jaipong, yang diperkenalkan secara luas pada tahun 1970-an oleh Gugum Gumbira, telah menjadi salah satu simbol budaya Sunda yang merepresentasikan kekuatan ekspresi seni masyarakat Jawa Barat. Tari ini tidak hanya mewakili keberagaman dan kekayaan warisan budaya Sunda, tetapi juga merupakan wujud dari proses transformasi estetika di mana unsur tradisional diintegrasikan dengan inovasi gerak dan ritme yang modern (Andiana et al, 2. Penggarapan tari Jaipong oleh Gugum sangat mengutamakan unsur pencak silat, yang memberikan kesan dinamis pada tarian ini (Mulyadi, 2. Sebagai tarian yang berkembang dari unsur pencak silat, tari rakyat, dan ronggeng. Jaipong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung nilai historis, estetika, dan filosofi yang dalam. Sebagai bagian dari identitas budaya Sunda, tari Jaipong telah membawa tradisi ini ke panggung nasional dan Inovator seperti Gugum Gumbira berperan besar dalam merancang dan mengembangkan genre tari yang menggabungkan inovasi modern dengan elemen tradisional, yang kemudian mendorong Tari Jaipong untuk tampil di berbagai forum kebudayaan Ae baik di tingkat nasional maupun internasional (Ramlan, 2. Namun, tantangan globalisasi dan perubahan zaman mengharuskan seni tradisional ini untuk beradaptasi agar tetap relevan dan diminati oleh generasi muda. Hal ini menjadi penting mengingat generasi muda saat ini menghadapi tantangan baru yang tidak pernah ada sebelumnya, seperti perkembangan teknologi digital, arus globalisasi, serta perubahan sosial yang berlangsung cepat (Ramadhan et al, 2. , yang turut memengaruhi minat dan pola konsumsi budaya mereka. Suku Sunda kaya akan nilai filosofi hidup, salah satunya tercermin dalam ungkapan Somyah Hade ka Symah, yang mengandung makna tentang keramahan, sikap baik, serta menjaga dan membahagiakan setiap orang (Rizkiyani & Sari, 2. Salah satu lembaga yang aktif dalam pelestarian seni Jaipong, yang juga mengajarkan nilai-nilai tersebut, adalah Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahma, yang telah berdiri sejak 21 April 1974. Sanggar ini bukan hanya sebagai tempat latihan tari, tetapi juga sebagai wadah pendidikan seni yang menanamkan nilai kebangsaan, kebersamaan, dan pelestarian budaya lokal. Berawal dari inisiatif keluarga yang peduli terhadap seni budaya Sunda, sanggar ini terus berkembang dan memiliki cabang di beberapa daerah seperti Bekasi dan Subang. Dengan keberadaannya. Jaipong tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai alat pembentukan karakter bagi anak-anak dan pemuda, menjauhkan mereka dari pengaruh negatif, serta menanamkan kecintaan terhadap budaya sendiri. Dari segi pengelolaan, sanggar ini memiliki struktur yang cukup sistematis, dengan pengawas, ketua, sekretaris, dan bendahara sebagai elemen utama. Selain itu, terdapat dua kepengurusan, yaitu kepengurusan anak-anak dan kepengurusan orang tua yang tergabung dalam Parent Organization of Modern Tradition (POMT). Struktur ini mencerminkan bagaimana pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi antara generasi muda dan orang tua, peran orang tua dalam pelestarian budaya juga tak dapat dipandang sebelah mata. Menurut (Rantauwati, 2. menyatakan bahwa kolaborasi orang tua dan guru dalam pendidikan sangat menentukan karakter siswa, yang mencakup pemahaman https://edu. id/index. php/jpn Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 6 of 12 dan penghargaan terhadap budaya lokal. Orang tua sebagai pembimbing pertama anak memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai budaya melalui pengenalan terhadap adat dan tradisi serta keterlibatan dalam kegiatan budaya. sehingga Jaipong dapat terus diwariskan secara berkelanjutan. Dalam hal pendanaan, sanggar masih mengandalkan iuran peserta didik sebagai sumber utama, yang dialokasikan untuk honor pelatih, biaya operasional, serta program sosial yang membantu mereka yang kurang Meski dukungan finansial eksternal masih minim, sistem gotong royong yang diterapkan dalam sanggar mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi bagian dari nilai-nilai Pancasila. Manusia menciptakan tari sebagai ungkapan hidup yang tercermin dalam rangkuman gerak yang bersumber dari alam sekeliling, dan seni tari menjadi representasi keanekaragaman budaya di Indonesia, termasuk seni tari Jaipong yang berasal dari Jawa Barat (Laksono et al, 2. Di dalam Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahma, para penari memiliki motivasi yang beragam dalam mempelajari Jaipong. Beberapa tertarik pada keunikan gerakan yang dinamis dan enerjik, sementara yang lain menyukai estetika riasan dan busana yang dikenakan dalam pertunjukan. Bagi mereka. Jaipong bukan sekadar keterampilan menari, tetapi juga sebagai medium untuk mengekspresikan identitas budaya. Hal ini sejalan dengan temuan (Gusmanto et al, 2. yang menyoroti pelaksanaan seni tari dalam berbagai konteks sosial sebagai bagian dari pelestarian Dalam aktivitas seperti pelatihan tari di desa, keterlibatan anak-anak dan remaja dalam seni tari berfungsi untuk menginternalisasi nilai-nilai budaya, serta memperkuat identitas lokal mereka. Kegiatan ini tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya yang dimiliki. Meskipun tantangan dalam menguasai teknik gerakan sering kali muncul, latihan yang intensif serta dukungan dari pelatih dan sesama penari menjadi faktor penting dalam membantu mereka mengatasi hambatan tersebut, sehingga seni tari ini terus berkembang dan mencerminkan keindahan serta keberagaman budaya Indonesia. (Murdiono, 2. menyatakan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, terutama sila kedua, dapat dijadikan pijakan atau dasar dalam pengembangan wawasan global generasi muda. Dalam konteks ini, kebersamaan yang terjalin selama proses latihan tari Jaipong menjadi salah satu contoh konkret penerapan nilai-nilai tersebut. Para penari saling membantu dalam menghafal gerakan, memberikan semangat ketika ada yang merasa kesulitan, dan bekerja sama untuk menciptakan pertunjukan yang harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa seni tari tidak hanya berkaitan dengan ekspresi individu, tetapi juga dengan kerja sama tim dan solidaritas. Lebih jauh lagi, nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip Pancasila, di mana gotong royong, keadilan sosial, dan persatuan menjadi elemen utama dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, tari Jaipong tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana untuk menanamkan nilainilai luhur yang mendukung pembentukan karakter dan kebersamaan dalam kehidupan Melalui tari ini, para pendidik dapat mengajarkan peserta didik tidak hanya teknik tari, tetapi juga makna dan konteks budaya yang inheren, yang pada gilirannya https://edu. id/index. php/jpn Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 7 of 12 mendukung penguatan karakter dan kebersamaan di antara mereka (Hartanti & Ramlah. Keberadaan media baru sebagai hasil dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi pemeran penting dalam pelestarian budaya, termasuk budaya Jawa. Kemajuan teknologi yang memunculkan perkembangan komunikasi melalui media massa memainkan peran krusial dalam berbagai kegiatan promosi (Memoriance et al. Dalam konteks pelestarian budaya, media tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukatif, tetapi juga sebagai alat pemasaran yang efektif (Pramana et al. , 2. Sejalan dengan hal ini, relevansi tari Jaipong dalam kehidupan modern terus diperjuangkan oleh sanggar-sanggar seni. Berbagai inovasi dilakukan agar Jaipong tetap diminati oleh generasi muda, seperti penggabungan unsur tari modern, remix musik pengiring, dan pemanfaatan media digital sebagai alat promosi. Platform-platform seperti TikTok. Instagram, dan YouTube telah dimanfaatkan oleh penari muda sebagai sarana efektif untuk memperkenalkan Jaipong kepada audiens yang lebih luas. Misalnya, dalam penelitian yang dilakukan oleh Risandhy et al. , tampilan Jaipong berhasil diperbaharui melalui video motion graphics yang mengedepankan konsep modern, sekaligus tetap menghargai kaidah budaya yang mendasarinya (Risandhy & Syarief, 2. Dengan demikian, seni tradisional ini dapat terus berkembang dan tetap eksis di era digital, menjadikannya relevan sekaligus menjaga kelestariannya di tengah arus globalisasi. Pelatih dalam sanggar memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran budaya kepada peserta didik. Mereka tidak hanya mengajarkan teknik menari, tetapi juga membangun pemahaman bahwa Jaipong adalah bagian dari identitas budaya yang harus Sabanil et al. menjelaskan bahwa peran guru dalam mengimplementasikan kurikulum tersembunyi sangat krusial dalam membentuk karakter keberagaman global siswa, yang memungkinkan nilai-nilai budaya lokal dapat tertanam dalam diri generasi muda (Sabanil et al, 2. Dalam konteks ini, guru berfungsi tidak hanya sebagai pendidik akademik, tetapi juga sebagai teladan yang menjembatani nilai-nilai budaya dalam proses pembelajaran. Jaipong mengekspresikan nilai-nilai kearifan lokal dan identitas budaya Sunda yang khas, seperti yang dijelaskan oleh Sujati dalam (Fadilah, 2. , penelitiannya tentang tradisi budaya masyarakat Islam di Tatar Sunda (Fadilah, 2. Kesadaran ini ditanamkan melalui pendekatan yang menekankan pentingnya cinta budaya lokal sebagai bagian dari kebangsaan. Selain itu, sanggar ini juga menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajarannya. Dalam konteks ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka. Jaipong merupakan contoh bagaimana budaya tradisional dapat berkembang tanpa kehilangan esensinya. Hal ini selaras dengan pandangan (Devina et al, 2. yang menekankan bahwa penguatan karakter Pancasila pada anak usia dini harus diintegrasikan dengan kearifan budaya lokal. Integrasi ini bertujuan untuk membentuk generasi yang tidak hanya memahami nilai-nilai universal, tetapi juga menghargai keanekaragaman budaya yang menjadi bagian dari warisan lokal mereka. Pancasila memberikan ruang bagi setiap elemen budaya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, tanpa menghilangkan akar identitasnya. Dalam https://edu. id/index. php/jpn Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 8 of 12 hal ini, inovasi dalam Jaipong, seperti eksplorasi gerakan baru atau penggunaan media sosial, bukanlah bentuk pengikisan budaya, melainkan strategi untuk memperkuat eksistensinya di tengah gempuran budaya asing. Melambangkan semangat kerja keras dan daya juang yang tinggi. Gerakan dalam seni tradisional memiliki makna yang melampaui keindahan visual semata. (Pamuji, 2. menjelaskan bahwa fenomena seni pertunjukan seperti Sintren memperlihatkan bagaimana gerakan dapat dijadikan alat pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan antropologis, ia menunjukkan bahwa gerakan tari ini memfasilitasi kesadaran sosial dan solidaritas di antara anggota komunitas, sekaligus menjadi sarana untuk merayakan keberhasilan dan tantangan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, gerakan dalam seni tradisional bukan hanya ekspresi estetika, tetapi juga simbol yang mencerminkan etos kerja, nilai perjuangan, dan identitas sosial. Sementara itu, kelembutan dalam gerakan tangan serta keseimbangan dalam ekspresi tubuh menunjukkan harmoni antara kekuatan dan kelembutan. Selain itu, ekspresi wajah yang selalu tersenyum dalam pertunjukan Jaipong merefleksikan keramahan dan keterbukaan budaya Sunda terhadap berbagai pengaruh, tanpa kehilangan jati dirinya. Secara filosofis, gerakan dalam Jaipong memiliki makna yang dalam dan mencerminkan karakter masyarakat Sunda. Gerakannya yang cepat dan enerjik Namun, pelestarian Jaipong tidak terlepas dari berbagai tantangan, baik dari aspek regenerasi maupun dukungan finansial. Salah satu tantangan utama adalah menanamkan minat kepada generasi muda, terutama di tengah maraknya budaya pop global. Tanpa adanya regenerasi yang kuat, keaslian dan keberlangsungan Jaipong bisa terancam (Alim. Oleh karena itu, berbagai strategi perlu diterapkan untuk memastikan bahwa Jaipong tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah memasukkan Jaipong ke dalam kurikulum pendidikan seni di sekolah-sekolah, sehingga generasi muda dapat mengenal dan menghargai budaya lokal sejak dini. Selain itu, festival dan kompetisi tari juga dapat menjadi ajang untuk memperkenalkan Jaipong ke khalayak yang lebih luas. Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahma telah membuktikan bahwa dengan manajemen yang baik, semangat kebersamaan, serta inovasi dalam pengajaran, tari Jaipong dapat terus bertahan dan berkembang. Dengan sistem pengelolaan yang berbasis nilai gotong royong, sanggar ini tidak hanya menjadi tempat latihan menari, tetapi juga menjadi pusat pendidikan budaya yang menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Dalam konteks ini, seni tradisi sebagai bentuk kearifan lokal berfungsi secara efektif dalam pendidikan karakter (Fajarini, 2. , sehingga sanggar turut memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian dan nilai-nilai moral generasi Dalam konteks penelitian. Salwiyah et al. menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran seni tari yang melibatkan partisipasi kelompok dapat secara signifikan meningkatkan nilai gotong royong di kalangan siswa, yang merupakan nilai inti dari Pancasila (Salwiyah et al, 2. Sebagai ideologi terbuka. Pancasila memberikan kesempatan bagi seni tradisional seperti Jaipong untuk berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. Dengan inovasi https://edu. id/index. php/jpn Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 9 of 12 yang tepat dan berbasis nilai kebangsaan. Jaipong tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga bertransformasi menjadi warisan budaya yang lebih kuat dan relevan. Menurut Fauzan et . Pancasila berfungsi sebagai wacana publik yang krusial untuk revitalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tetap relevan dalam konteks globalisasi yang kian menguat (Fauzan et al, 2. Pemahaman ini sangat penting, terutama ketika seni tradisional. Oleh karena itu, dengan pendekatan yang inklusif dan adaptif. Jaipong dapat terus menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia yang diwariskan kepada generasi mendatang. Simpulan Tari Jaipong merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang merepresentasikan dinamika seni dan identitas masyarakat Sunda. Sebagai bentuk seni tradisional yang terus berkembang. Jaipong menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran budaya global. Dalam konteks ini. Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah memainkan peran strategis dalam menjaga keberlanjutan Jaipong dengan mengadopsi inovasi yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal tanpa menghilangkan akar budayanya. Penelitian ini menunjukkan bahwa Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran tari, tetapi juga sebagai institusi yang menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam praktik sosial dan budaya. Pancasila sebagai ideologi terbuka memberikan ruang bagi perkembangan budaya tanpa kehilangan esensinya, memungkinkan Jaipong untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Keterbukaan ini terlihat dalam berbagai inovasi yang dilakukan sanggar, seperti eksplorasi gerakan baru, modernisasi musik pengiring, pemanfaatan media digital, serta integrasi Jaipong ke dalam ruang publik melalui festival dan kompetisi. Lebih jauh, tari Jaipong yang diajarkan di sanggar ini mencerminkan prinsipprinsip Pancasila dalam berbagai aspek. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dalam penghormatan terhadap budaya sebagai bagian dari anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab terlihat dalam upaya sanggar untuk menciptakan ruang yang inklusif bagi berbagai kalangan tanpa diskriminasi. Sila Persatuan Indonesia terefleksi dalam peran Jaipong sebagai simbol budaya yang memperkuat identitas nasional dan kebanggaan terhadap seni lokal. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan tampak dalam sistem pengelolaan sanggar yang berbasis musyawarah dan gotong royong antara pengelola, pelatih, penari, dan komunitas sekitar. Sedangkan Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia terlihat dalam akses pelatihan tari yang diberikan kepada berbagai kelompok sosial, termasuk mereka yang kurang mampu, sebagai bentuk pemerataan kesempatan dalam melestarikan budaya. Pendekatan kualitatif yang diterapkan dalam penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian Jaipong di Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah bukan hanya sekadar transfer keterampilan tari, melainkan juga proses internalisasi nilai-nilai budaya dan Hal ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi instrumen pendidikan https://edu. id/index. php/jpn Jurnal Pendidikan Non formal Vol: 2. No 4, 2025 10 of 12 karakter yang efektif, menanamkan semangat gotong royong, kerja keras, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya. Dalam perspektif globalisasi. Jaipong dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga relevansinya bagi generasi muda. Namun, inovasi yang dilakukan sanggar membuktikan bahwa seni tradisional dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya, sejalan dengan prinsip Pancasila yang menekankan keseimbangan antara tradisi dan Oleh karena itu, strategi pelestarian yang dilakukan Sanggar Tari Surya Medal Putera Wirahmah dapat dijadikan model bagi pengembangan seni tradisional lainnya di Indonesia, memastikan bahwa warisan budaya tetap menjadi bagian dari identitas bangsa yang terus berkembang dalam dinamika zaman. Sebagai ideologi terbuka. Pancasila memungkinkan seni tradisional seperti Jaipong untuk terus beradaptasi dan berevolusi tanpa kehilangan esensi budayanya. Dengan pendekatan yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis nilai kebangsaan, pelestarian Jaipong tidak hanya menjadi upaya menjaga seni pertunjukan, tetapi juga memperkuat karakter bangsa yang berakar pada nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan demikian, seni tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi warisan budaya yang semakin kuat dan relevan di tengah perubahan zaman. Daftar Pustaka