Jurnal Literasi Pendidikan Dasar Volume 6 No. 2, 2026, pp. P-ISSN 2746-1505. E-ISSN 2721-0294 Open Acces: https://unikastpaulus. id/jurnal/index. php/jlpd PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL PADA KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA Enggar Ihzatul Mahfudah1. Irwani Zawawi2. Syaiful Huda3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Matematika. Universitas Muhammadiyah Gresik Article Info Received: October, 10. Revised: December, 18. Accepted: January, 7, 2026 Avaliabel Online Kata Kunci Problem-Based Learning (PBL). Pendekatan Contextual. Aktivitas Guru. Kemampuan Berpikir Matematis Key Words Problem-Based Learning (PBL). Contextual Approach. Mathematic Critical Thinking Skills ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa selama penerapan model Problem Based Learning (PBL) dengan pendekatan contextual, serta menganalisis kemampuan berpikir kritis dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, tes kemampuan berpikir kritis, dan angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas guru tergolong sangat baik dengan persentase 90,62%, sedangkan aktivitas siswa sangat aktif dengan persentase 84,28%. Kemampuan berpikir kritis siswa dianalisis berdasarkan empat indikator Facione interpretation, analysis, inference, dan explanation dengan rata-rata pencapaian 78,90 dalam kategori baik. Respon siswa terhadap pembelajaran juga positif dengan persentase 84%. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan PBL dengan pendekatan Contextual mampu meningkatkan keaktifan dan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. ABSTRACT This study aims to describe the teacherAos and studentsAo activities during the implementation of the Problem-Based Learning (PBL) model with a Contextual approach, as well as to analyze studentsAo critical thinking skills and their responses to the learning process. The research used a descriptive quantitative method with data collected through observation, critical thinking tests, and student response questionnaires. The results showed that the teacherAos activity was very good with a percentage of 90. 62%, while students were very active with 84. StudentsAo critical thinking skills were analyzed based on four Facione indicators interpretation, analysis, inference, and explanation with an average achievement 90 in the good category. Students also gave a positive response to the learning, with a percentage of 84%. These findings indicate that the implementation of PBL with a Contextual approach enhances studentsAo activeness and mathematical critical thinking Corresponding author: Email: enggarihzatul49@gmail. com (Enggar Ihzatul Mahfuda. Penerapan Model Problem based Learning dengan Pendekatan Contextual Ae Enggar I. Mahfudah. Irwani Zamawi. Saiful Huda DOI: https://doi. org/10. 36928/jlpd. PENDAHULUAN Matematika merupakan mata pelajaran yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Mata pelajaran ini berperan penting dalam membentuk karakter, sikap logis, cermat, teliti, bernalar, dan mampu memecahkan masalah, sehingga menjadi dasar penting dalam pendidikan dan kehidupan seharihari (Ichsan et al. , 2. Salah satu keterampilan penting abad ke-21 dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan berpikir kritis, yaitu kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menemukan solusi terhadap permasalahan (Ichsan et al. , 2. Kemampuan ini juga berguna dalam menyaring informasi dan mengambil keputusan secara rasional (Siagian, 2. Menurut Facione (Prayoga et al. , 2. kritis mencakup keterampilan interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self-regulation. Namun, dalam praktik pembelajaran matematika, siswa sering kali belum didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Proses belajar yang masih berpusat pada guru membuat siswa cenderung pasif dan hanya menerima informasi tanpa memahami penerapannya dalam kehidupan nyata (Afifah et al. , 2. Berdasarkan wawancara dengan guru matematika di UPT SMP Negeri 9 Gresik, diketahui bahwa siswa kelas VII masih mengalami kesulitan dalam menganalisis dan menghubungkan informasi saat menyelesaikan masalah matematika. Kondisi ini menunjukkan perlunya perbaikan proses pembelajaran agar lebih interaktif dan mendorong kemampuan berpikir kritis (Koto et al. , 2. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menerapkan model Problem-Based Learning (PBL) dengan pendekatan kontekstual. Pendekatan ini mengaitkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata sehingga siswa terlibat aktif dalam menemukan makna dari pembelajaran (Nasution, 2. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa penerapan PBL berdampak positif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa (Evi & Indarini, 2. Contextual Teaching and Learning (CTL) membantu guru mengaitkan materi pelajaran dengan konteks dunia nyata siswa, mendorong mereka untuk menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari (Hasibuan, 2014. Johson, 2. Pendekatan ini melibatkan kegiatan relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring (Devi & Bayu, 2. yang mampu meningkatkan motivasi serta kemandirian belajar siswa. Dalam penerapannya. Contextual Teaching and Learning (CTL) menekankan pembelajaran yang bermakna, kolaboratif, dan berorientasi pada pengalaman nyata (Ati & Setiawan, 2. Sementara itu. Problem-Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang berfokus pada pemecahan masalah nyata untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir kritis siswa. Dalam prosesnya, siswa diarahkan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, dan menyusun solusi (Simangunsong, 2. Permasalahan yang disajikan menjadi pusat pembelajaran yang mendorong siswa berpikir logis dan sistematis (Hutagalung et al. , 2. Hubungan antara Problem-Based Learning (PBL) dan pendekatan Contextual sangat erat, karena keduanya menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. PBL menekankan penyelidikan dan pemecahan masalah secara ilmiah, sedangkan Contextual mendorong siswa menemukan makna belajar melalui pengalaman langsung (Rahman & Ramli, 2. Kombinasi keduanya dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan menganalisis, mengevaluasi, dan mengaplikasikan konsep dalam situasi nyata (Prayogi & AsyAoari, 2. Berdasarkan temuan penelitian terdahulu, model PBL terbukti dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, namun belum banyak yang mengintegrasikannya secara menyeluruh dengan pendekatan kontekstual (Prahani et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model Problem-Based Learning dengan pendekatan Contextual pada pembelajaran matematika, mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa, menganalisis kemampuan berpikir kritis, serta mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan. Diharapkan penerapan model ini dapat menjadi solusi efektif dalam melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas VII di UPT SMP Negeri 9 Gresik. TINJAUAN PUSTAKA Pendekatan Contextual Contextual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam suatu model atau metode pembelajaran di dalam kelas, yang di dalam prosesnya peran siswa lebih ditekankan agar dapat mengaitkan kemampuan akademis mereka dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan ini, kegiatan belajar menjadi lebih bermakna karena siswa tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, tetapi juga berusaha menemukan keterkaitan antara apa yang dipelajari di sekolah dengan penerapannya dalam situasi nyata. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada aspek teoritis saja, melainkan membantu siswa memahami fungsi dan manfaat pengetahuan dalam Penerapan Model Problem based Learning dengan Pendekatan Contextual Ae Enggar I. Mahfudah. Irwani Zamawi. Saiful Huda DOI: https://doi. org/10. 36928/jlpd. kehidupan mereka. Johnson (Syahril et al. , 2. menyatakan bahwa pendekatan kontekstual bertujuan membantu peserta didik melihat makna dari pelajaran dengan menghubungkannya pada konteks kehidupan pribadi, sosial, dan budaya mereka, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan relevan. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Problem based learning (PBL) merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan langsung siswa untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang diberikan oleh guru. Model ini berorientasi pada aktivitas berpikir tingkat tinggi, di mana siswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam menghadapi permasalahan nyata. Dalam proses pembelajarannya, titik awal kegiatan belajar adalah suatu masalah yang perlu dipecahkan secara mandiri atau melalui kerja sama kelompok, tanpa banyak bantuan dari guru. Masalah yang digunakan dalam PBL bersifat autentik, memiliki keterikatan dengan kehidupan sehari-hari, dan biasanya belum terselesaikan sehingga mendorong rasa ingin tahu siswa. Pembelajaran PBL memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpikir kritis, menganalisis informasi, serta mengembangkan kemampuan pemecahan masalah secara sistematis melalui pengalaman belajar yang bermakna Barrows . Karakteristik yang membedakan model pembelajaran Problem based learning dengan model pembelajaran yang lain menurut Arends yaitu . Pertanyaan atau masalah sebagai pendorong dalam pembelajaran. Berpusat pada . Kolaborasi. Penyelidikan mandiri. Produksi artefak atau solusi yang nyata. Refleksi dari masalah. Guru sebagai fasilitator. Fokus antar disiplin ilmu (Arends, 2. Sedangkan menurut Barrows karakteristik dari Problem Based Learning yang sudah diterapkan didunia medis dimana siswa diajarkan untuk memecahkan masalah secara langsung dan profesional yaitu . Masalah sebagai pendorong untuk siswa agar aktif. Tanggung jawab atas proses dalam pembelajaran sepenuhnya dibebankan terhadap siswa. Dalam proses pembelajaran siswa didorong untuk terlibat aktif melalui kegiatan kolaborasi pada kelompok kecil. Guru sebagai fasilitator yang hanya membantu mendampingi dan memberikan arahan terhadap pembelajaran yang berlangsung. Integrasi pengetahuan antar . Pengembangan keterampilan klinis profesional (Barrows, 1. Terdapat lima langkah dalam model PBL sebagai berikut: . Mengorientasikan siswa pada masalah. Mengorganisasikan siswa untuk belajar. Membimbing siswa untuk mengeksplor baik secara individual atau kelompok. Membantu siswa mengembangkan dan menyajikan hasil karyanya. Membantu siswa mrnganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah (Arends, 2. Masalah Matematika Masalah matematika merupakan suatu persoalan yang tidak dapat secara langsung untuk diselesaikan dan membutuhkan pemikiran mendalam dan strategi khusus untuk menemukan solusi dari persoalan tersebut (Schoenfeld. Pendapat tersebut diperkuat oleh Polya yang mengatakan masalah matematika adalah persoalan yang menuntut seseorang menggunakan pengetahuannya untuk mendapatkan solusi, tanpa adanya prosedur penyelesain sehingga membutuhkan proses berpikir sistematis (Polya, 1. Dengan demikian masalah matematika merupakan suatu situasi yang didalamnya terdapat suatu persoalan yang tidak dapat diselesaikan secara langsung yang membutuhkan pengetahuan matematika, keterampilan berpikir yang mendalam, dan strategi khusus untuk mendapatkan solusi untuk Masalah matematika memiliki sifat (Closed-ende. yaitu penyelesaian dimulai dari merumuskan menjadi satu jawaban yang benar. Kedua (Open-ende. ) penyelesaian diperoleh dari berbagai cara. Ketiga berangkat dari masalah untuk masalah (From problem to proble. atau formulasi dari masalah (Problem formulatio. dimana siswa sendiri memberikan gambran terhadap perumusan masalah yang baru (Aras & Tarakan, 2. Sifat tersebut membentuk sebuh struktur, salah satunya adalah struktur terbuka. Struktur terbuka tersebut terdapat masalah dengan penerapan pada kehidupan nyata yaitu masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dimulai dari situasi dunia nyata kemudian melihat keterkaitan yang mendasari ide-ide matematis (Nissa, 2. Kemampuan Berpikir Kritis Berpikir kritis adalah suatu proses berpikir yang melibatkan kemampuan kognitif untuk menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, dan melakukan pengaturan diri terhadap proses berpikir yang dilakukan. Seseorang yang berpikir kritis tidak hanya menerima informasi secara apa adanya, tetapi juga berusaha memahami, memeriksa kebenaran, serta mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum membuat keputusan (. et al. , 2. Proses berpikir kritis juga menuntut adanya sikap terbuka, objektif, dan tanggung jawab terhadap hasil pemikiran yang Facione . menyatakan bahwa berpikir kritis mencakup kemampuan untuk menilai argumen, menarik Penerapan Model Problem based Learning dengan Pendekatan Contextual Ae Enggar I. Mahfudah. Irwani Zamawi. Saiful Huda DOI: https://doi. org/10. 36928/jlpd. kesimpulan yang logis, serta mengatur diri dalam berpikir agar keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara rasional (Wicaksono et al. , 2. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis sangat penting dikembangkan dalam pembelajaran, terutama pada mata pelajaran matematika yang menuntut analisis, penalaran, dan pengambilan keputusan yang tepat. METODE Penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan Kuantitatif. Metode pengumpulan data melalui obsrvasi, tes, dan angket. Teknik analisis data dilaksanakan dengan cara mengumpulkan data dari hasil lembar observasi guru dan siswa selama pembelajaran dengan dua kali pertemuan, lembar soal tesyang didapatkan diakhir pembelajaran yang terdiri dari 2 soal tes kemampuan berpikir kritis, serta lembar angket (Janson Silaban et al. , 2. Sebelum Instrumen dalam penelitian ini layak digunakan maka melalui tahap validasi. dalam penelitian ini sudah di validasi oleh para ahli, yang berupa lembar observasi guru dan siswa, modul ajar, lkdp, soal tes dan angket (Afifah et al. , 2. Tujuan dari validasi ini untuk mengetahui keseuain isi dan tujuan agar sesuai dengan hasil dari penelitian yang akan dicapai (Fannisa Rahmadani & Sudianto Manullang, 2. Apabila instrumen sudah di vlidasi maka siap untuk digunakan, untuk menganalisis hasil dari lembar observasi guru dan siswa serta angket yang di isi dengan menceklist maka akan dihitung. Adapun berikut ini untuk menghitung hasil dari lembar instrumen tersebut : yaeyayaya yaayayayayauyayayaoya Presentase Aktivitas = y yayaya% yaeyayaya yaUyaoyayayayayaoyau Selanjutnya akan di interpretasikan dengan mengkategorikan atau memberikan kriteria. Berikut ini interpretasi dari lembar observasi guru dapat dilihat pada tabel 1. Lembar observasi untuk guru yang dikategorikan dapat dinyatakan kuat apabila memperoleh persentase sebesar Ou 61% dengan kategori setuju dan tidak setuju. Tabel 1. Kriteria Guru Persentase Aktivitas Guru Kriteria 0% O x < 25% Kurang Baik 26% O x < 62% Cukup Baik 63% O x < 81% Baik 82% O x < 100% Sangat Baik Sumber : (Arikunto. , 2. Sedangkan untuk lembar observasi siswa, kriteria keberhasilan aktivitas siswa dikatakan Aktif apabila mendapat persentase sebesar Ou 50% dengan kriteria Aktif atau Sangat Aktif. Dan untuk angket dinyatakan kuat apabila memperoleh persentase sebesar Ou 61% dengan kategori setuju dan tidak setuju, berbeda dengan hasil tes. Untuk hasil tes akan diberikan skor kemudian dihitung rata rata nilainya selanjutnya akan dikategorikan, kategori tersebut dikatakan baik dengan nilai sebesar Ou 61 dengan kategori Baik atau Sangat Baik (Devi & Bayu, 2. Penerapan Model Problem based Learning dengan Pendekatan Contextual Ae Enggar I. Mahfudah. Irwani Zamawi. Saiful Huda DOI: DOI: https://doi. org/10. 36928/jlpd. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan observasi dua kali pertemuan, siswa menunjukkan keterlibatan aktif dalam pembelajaran dengan model pembelajaran Problem-Based Learning dengan pendekatan Contextual yang dirancang untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Aktivitas guru terlaksana dengan sangat baik dengan rata-rata skor 90,62% dengan kategori Sangat Baik, menunjukkan konsistensi dalam menerapkan seluruh sintaks PBL. Aktivitas siswa juga tergolong tinggi dengan rata-rata 83,55% dengan kategori Sangat Aktif, mencerminkan partisipasi dalam memahami masalah, berdiskusi, dan merefleksi hasil belajar (Ati & Setiawan, 2. Sementara itu, untuk kemampuan berpikir kritis menunjukkan rata-rata nilai 78,90 masuk dalam kategori Baik, dengan empat indikator utama yaitu interpretation, analysis, inference, dan explanation. Yang juga muncul secara dominan. Sementara itu, dua indikator lainnya, yaitu evaluation dan self-regulation, tampak aktif selama proses pembelajaran berdasarkan hasil observasi. Selain itu terdapat hasil angket menunjukkan respon positif dari seluruh siswa, dengan rata-rata persentase 83% masuk dalam kategori Sangat Setuju. Sebagian besar siswa merasa pembelajaran kontekstual melalui PBL membantu mereka memahami konsep dan berpikir lebih kritis. Secara keseluruhan, hasil observasi, tes, dan angket menunjukkan bahwa penerapan model Problem-Based Learning dengan pendekatan kontekstual efektif dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP secara menyeluruh, baik dalam interaksi kelas maupun penyelesaian masalah individu Berdasarkan hasil penelitian, penerapan model Problem-Based Learning (PBL) dengan pendekatan kontekstual mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa secara signifikan. Hasil observasi menunjukkan keterlaksanaan pembelajaran yang sangat baik, baik dari sisi guru maupun siswa. Guru mampu melaksanakan seluruh sintaks PBL dengan konsisten, mulai dari mengorientasikan siswa pada masalah hingga melakukan evaluasi terhadap proses pemecahan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk belajar aktif dan mandiri, sesuai dengan karakteristik PBL yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran (Yustika et al. , 2. Keterlibatan siswa dalam setiap tahapan pembelajaran juga menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Rata-rata aktivitas siswa yang mencapai 83,55% termasuk dalam kategori sangat aktif, mencerminkan bahwa siswa benar-benar berpartisipasi dalam memahami masalah, melakukan penyelidikan, berdiskusi, dan menyusun kesimpulan (Meilana et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan teori Johnson (Hutagalung et al. , 2. bahwa pembelajaran kontekstual membantu siswa mengaitkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata, sehingga pengetahuan menjadi lebih bermakna dan mudah diterapkan dalam berbagai konteks. Hasil tes kemampuan berpikir kritis menunjukkan bahwa siswa telah mampu mencapai kategori baik dengan rata-rata nilai 78,90. Empat indikator yang diukur, yaitu interpretation, analysis, inference, dan explanation, muncul secara dominan dalam hasil pekerjaan siswa. Sementara dua indikator lainnya, evaluation dan self-regulation, juga tampak dalam aktivitas kelas (Agustina et al. , 2. Fakta ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis masalah tidak hanya menumbuhkan kemampuan kognitif dasar, tetapi juga mendorong siswa untuk menilai dan mengatur cara berpikir mereka sendiri. Menurut Facione . , berpikir kritis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menganalisis dan menafsirkan, tetapi juga kemampuan mengontrol dan mengevaluasi proses berpikir agar menghasilkan keputusan yang tepat. Kehadiran semua indikator berpikir kritis dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa kombinasi antara model PBL dan pendekatan kontekstual sangat efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. PBL menyediakan situasi belajar yang menantang dan berbasis masalah, sedangkan konteks nyata membuat siswa mampu menghubungkan konsep matematika dengan pengalaman sehari-hari. Kolaborasi keduanya menjadikan proses berpikir siswa lebih reflektif dan analitis (Wulandari, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Sari . dan Wulandari . yang menyimpulkan bahwa penerapan PBL berbasis kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa (Fauziyah & Anugraheni, 2. Selain itu, hasil angket menunjukkan respon siswa yang sangat positif terhadap pembelajaran yang diterapkan. Rata-rata persentase respon mencapai 83%, yang menandakan bahwa siswa merasa senang, tertantang, dan termotivasi untuk belajar melalui kegiatan berbasis masalah (Agustin et al. , 2. Respon ini memperkuat hasil observasi bahwa siswa terlibat aktif selama proses pembelajaran (Waleulu & Muharram, 2. Dukungan dari respon positif siswa juga menunjukkan adanya penerimaan yang baik terhadap strategi pembelajaran yang menuntut mereka berpikir kritis dan memecahkan masalah secara mandiri (Asiah et al. , 2. Dari temuan di atas dapat dikatakan bahwa hasil penelitian ini menegaskan bahwa penerapan model ProblemBased Learning dengan pendekatan kontekstual efektif dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMP. Seluruh indikator berpikir kritis menurut Facione muncul secara nyata baik melalui observasi maupun tes. Dengan demikian, pembelajaran kontekstual berbasis masalah tidak hanya membantu siswa memahami konsep JLPD P-ISSN 2746-1505 E-ISSN 2721-0294 Penerapan Model Problem based Learning dengan Pendekatan Contextual Ae Enggar I. Mahfudah. Irwani Zamawi. Saiful Huda DOI: https://doi. org/10. 36928/jlpd. matematika secara lebih dalam, tetapi juga membentuk kebiasaan berpikir reflektif, analitis, dan evaluatif yang menjadi dasar dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis di tingkat pendidikan menengah (Dachi et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem-Based Learning (PBL) dengan pendekatan Contextual memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran matematika, khususnya dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMP. Model pembelajaran ini mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, bermakna, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep secara prosedural, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan situasi kehidupan sehari-hari. Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas guru selama proses pembelajaran berada pada kategori sangat baik. Guru mampu melaksanakan seluruh sintaks PBL secara konsisten, mulai dari mengorientasikan siswa pada permasalahan kontekstual, mengorganisasikan kegiatan belajar, membimbing proses penyelidikan, hingga memfasilitasi presentasi dan refleksi hasil pemecahan masalah. Peran guru sebagai fasilitator berjalan optimal dan sejalan dengan karakteristik PBL yang menempatkan siswa sebagai subjek utama pembelajaran. Hal ini menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim kelas yang mendorong keterlibatan aktif dan kemandirian belajar siswa. Aktivitas siswa juga menunjukkan hasil yang sangat positif dengan kategori sangat Siswa terlibat secara intens dalam memahami masalah, berdiskusi dalam kelompok, mengemukakan pendapat, serta menyusun dan mengevaluasi solusi yang dihasilkan. Pendekatan kontekstual yang digunakan membuat siswa lebih mudah memahami materi karena permasalahan yang diberikan dekat dengan pengalaman nyata mereka. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mampu meningkatkan motivasi serta rasa tanggung jawab siswa terhadap proses belajar yang dijalani. Dari sisi kemampuan berpikir kritis matematis, hasil tes menunjukkan bahwa siswa mencapai kategori baik dengan rata-rata nilai 78,90. Indikator berpikir kritis menurut Facione, yaitu interpretation, analysis, inference, dan explanation, muncul secara dominan dalam hasil pekerjaan siswa. Selain itu, indikator evaluation dan self-regulation juga tampak dalam proses pembelajaran berdasarkan hasil observasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pendekatan kontekstual tidak hanya melatih siswa dalam memahami dan menyelesaikan soal matematika, tetapi juga mendorong mereka untuk mengevaluasi proses berpikir dan mengontrol strategi penyelesaian masalah secara reflektif. Respon siswa terhadap penerapan model PBL dengan pendekatan kontekstual berada pada kategori sangat positif. Sebagian besar siswa menyatakan bahwa pembelajaran menjadi lebih menarik, menantang, dan membantu mereka memahami konsep matematika secara lebih mendalam. Respon positif ini menguatkan temuan bahwa strategi pembelajaran yang menekankan keterkaitan materi dengan kehidupan nyata serta melibatkan siswa secara aktif mampu meningkatkan minat belajar dan sikap positif terhadap matematika. Penelitian ini menegaskan bahwa kombinasi model Problem-Based Learning dengan pendekatan Contextual merupakan alternatif pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMP. Model ini tidak hanya meningkatkan aktivitas dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, tetapi juga membentuk kebiasaan berpikir analitis, reflektif, dan evaluatif yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran matematika dan tantangan abad ke-21. Oleh karena itu, penerapan PBL dengan pendekatan kontekstual direkomendasikan untuk digunakan secara lebih luas dalam pembelajaran matematika sebagai upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Penerapan Model Problem based Learning dengan Pendekatan Contextual Ae Enggar I. Mahfudah. Irwani Zamawi. Saiful Huda DOI: DOI: https://doi. org/10. 36928/jlpd. DAFTAR PUSTAKA