E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 Peran Perencanaan Karir dan Dukungan Keluarga dalam Meningkatkan Kematangan Karir Pemuda Desa Mekarwangi Deden Nurdiansyah. Ayu Nike Retnowati. Dikdik Purwadisastra Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia Email: denconurv@gmail. anr3515@unibi. dikdiknurtanio@unibi. Diterima: 14 April 2025 Diterima Setelah Revisi: 15 April 2025 Dipublikasikan: 24 April 2025 Abstrak Tingginya jumlah pengangguran di Desa Mekarwangi. Kecamatan Argapura. Kabupaten Majalengka, serta pekerja yang sebagian besar bekerja tidak sesuai dengan komptensi yang diambil di bangku sekolah menengah kejuruan. Rendahnya pemahaman dalam Perencanaan Karir tergambar dari pemilihan jurusan yang lebih merujuk pada keputusan teman. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran serta pengaruh baik parsial maupun simultan mengenai Perencanaan Karir dan Dukungan Sosial Keluarga terhdap Kematangan Karir. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, verifikatif dengan menggunakan pendekatan Kuantitatif, dengan populasi sebanyak 269 orang dengan sampel 134 orang. Melakukan penyebaran kuesioner dengan menggunakan teknik sampling non-probability sampling Purposive samping, dengan kriteria Pemuda yang belum bekerja. Pengujian statistik menggunakan uji asumsi klasik, melakukan pengujian determinasi untuk memperoleh besaran pengaruh dari masing masing variable, serta menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui arah pengaruh tiap variable. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh bahwa Perencanaan karir dan Kematangan Karir berada pada kategori buruk. Dukungan Sosial Keluarga berada pada kategori rendah. Perencanaan karir berpengaruh terhadap Kematangan karir sebesar 79 %. Dukungan Sosial Keluarga berkontribusi sebesar 2,8 %. Perencanaan Karir dan Dukungan Sosial Keluarga secara bersama Ae sama berpengaruh sebesar 79,6 %. Dukungan Sosial Keluarga tidak berpengaruh terhadap Kematangan Karir Kata Kunci: Perencanaan Karir. Dukungan Sosial Keluarga. Kematangan Karir Abstract The high number of unemployed in Mekarwangi Village. Argapura District. Majalengka Regency, and workers who mostly work not in accordance with the competencies taken in vocational high The low understanding of Career Planning is reflected in the choice of majors that refer more to friends' decisions. This study is to determine the description and influence of both partial and simultaneous Career Planning and Family Social Support on Career Maturity. This study uses a descriptive method, verification using a Quantitative approach, with a population of 269 people with a sample of 134 people. Distributing questionnaires using non-probability sampling techniques Purposive side, with the criteria of unemployed Youth. Statistical testing using the classical assumption test, conducting determination tests to obtain the magnitude of the influence of each variable, and using multiple linear regression to determine the direction of the influence of each Based on the results of data processing, it was obtained that Career Planning and Career Maturity were in the bad category. Family Social Support was in the low category. Career planning Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 has an effect on Career Maturity of 79%. Family Social Support contributes 2. Career Planning and Family Social Support together have an effect of 79. Family Social Support has no effect on Career Maturity. Keywords: Career Planing. Family Social Support. Career Maturity PENDAHULUAN Indonesia menduduki ranking kedua di ASEAN (Association of Southeast Asian Nation. yang memiliki tingkat pengangguran yang tinggi dengan tingkat pengangguran di dalam negeri mencapai 5,45%. Berdasarkan survey yang jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,89 juta jiwa dari total Angkatan kerja sebanyak 147,71 juta orang. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statisti. mengemukakan bahwa mayoritas pengangguran di Indonesia di dominasi oleh Gen Z (Annur, 2. Gen Z adalah generasi yang sedini mungkin telah mengenal teknologi dan internet, generasi yang haus akan teknologi, generasi yang memiliki intuisi yang kuat terhadap teknologi, tanpa melihat panduan akan mengerti cara menggunakan sesuatu. Generasi ini lahir antara tahun 1995 sampai 2012 (Noordiono, 2. Gen Z dianggap sebagai generasi manja akan tetapi Gen Z memiliki kelebihan yaitu lebih adaptif terhadap teknologi, kreatif, bisa menerima perbedaan, peduli terhadap sesama dan senang berekspresi, meskipun Gen Z memiliki kelebihan yang tidak dipunyai oleh Generasi sebelumnya akan tetapi Gen Z bukan Generasi terbaik yang pernah lahir. Gen Z mempunyai kekurangan seperti FOMO (Fear of Missing Ou. , kecemasan, tingkat stress yang tinggi dan mudah mengeluh (Salsabila, 2. Berdasarkan data BPS dominasi pengangguran sebanyak 5,2 juta jiwa di daerah perkotaan sedangkan 4,6 juta jiwa di daerah pedesaan. Pernyataan lain dari Menteri ketenagakerjaan (Menake. Ida Fauziyah, pengangguran berusia muda tercatat lulusan SMK menjadi penyumbang tertinggi angka pengangguran, hal ini terjadi karena kurangnya sinkronisasi antara Pendidikan dan permintaan tenaga kerja sehingga tidak terjadi Link and Match antara Dunia Pendidikan dan Dunia Industri. Maraknya pengangguran di kalangan Gen Z ini bisa menjadi ancaman yang serius bonus demografi menuju Indonesia emas 2045 (Idris, 2. Dikutip dari CNBC Indonesia menurut peneliti senior Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Handayani mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi lulusan SMK menjadi penyumbang terbanyak pengangguran di Indonesia seperti Proses Job Search yang membutuhkan waktu untuk mencari/memilih pekerjaan yang sesuai dengan keahlian kompetensinya, ketidaksesuaian antara jurusan dengan lowongan kerja di dunia usaha/industri, ketertinggalan teknologi yang dipakai untuk kerja praktik di SMK sehingga menimbulkan ketidaksesuaian dengan teknologi yang dipakai di dunia usaha/industri dan yang terakhir ditanamnkannya pikiran bahwa lulus sekolah siap menjadi pekerja bukan menjadi seorang usahawan. CNBC Indonesia dilansir (Rabu, 17 Mei 2. Fenomena ini terjadi juga di Desa Mekarwangi Kecamatan Argapura. Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat. Letak geografis Desa Mekarwangi di dominasi oleh Pesawahan dan Perkebunan ini memiliki kekayaan alam yang melimpah dikarenakan Desa Mekarwangi berada di Kaki Gunung Ciremai, untuk memanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah sebagian masyarakat bekerja sebagai Petani (Rohaetin, 2. Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 29% 28% 28% 19 Tahun 1 Tahun 221 Tahun 322 Tahun 423 Tahun 524 Tahun 625 Tahun 726 Tahun 827 Tahun 9 BELUM/TIDAK BEKERJA PELAJAR/MAHASISWA KARYAWAN SWASTA WIRASWASTA MENGURUS RUMAH TANGGA Sumber: Kantor Desa Mekarwangi . Gambar 1. Tingkat Pengangguran di Desa Mekarwangi Tingkat pengangguran di Desa Mekarwangi masih relatif tinggi, tingkat pengangguran didominasi oleh kelompok usia 21-23 tahun, sebagian besar pengangguran di desa mekarwangi tidak memiliki karir jangka panjang yang jelas, kurang dalam pencarian informasi karir yang diminatinya, tidak memiliki kompetensi untuk merencanakan karir dan tidak pernah menganalisis informasi yang dimiliki dalam membuat keputusan karir. meskipun responden memiliki pemahaman yang baik mengenai persyaratan pekerjaan yang diminatinya hal tersebut tidak menjadikannya matang dalam merencanakan karirnya. Berdasarkan teori Super dalam Lindawati et al . Kematangan karir melibatkan pembuatan perencanaan dan pengumpulan keputusan karir berdasarkan eksplorasi yang telah dilakukan. Perencanaan karir membentuk landasan strategis yang memungkinkan individu mengarahkan langkah-langkah menuju kesuksesan profesional. Dengan merinci tujuan, mengidentifikasi minat, dan mengeksplorasi peluang-peluang yang relevan, seseorang dapat membentuk visi yang jelas tentang arah karir mereka (Shantika, 2. Proses perencanaan ini bukan hanya mengenai pencapaian tujuan jangka pendek, tetapi juga melibatkan penyesuaian dan evolusi berkelanjutan seiring dengan perkembangan individu. Dalam mencapai kematangan karir, perencanaan karir menjadi fondasi yang kokoh, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil membawa individu menuju kesuksesan yang berkelanjutan dan memuaskan secara profesional. Berdasarkan teori Holland dalam Nulhusni . dijelaskan bahwa dasar pemilihan karir seseorang dapat dipengaruhi oleh ungkapan kepribadian mereka. Hal ini tercermin dalam keinginan seseorang untuk mencari lingkungan yang memungkinkan mereka belajar, mengasah kemampuan, dan menunjukkan potensi mereka. Dengan demikian, individu cenderung mencari karir yang sesuai dengan karakteristik pribadi mereka. Proses ini tidak hanya mencakup pencarian tempat untuk berkembang, tetapi juga mencerminkan keinginan untuk menonjolkan kemampuan yang dimiliki, sehingga menciptakan jalan menuju karir yang sejalan dengan bakat dan minat individu, adapun menurut Fitrianingsih . kematangan karir seseorang dipengaruhi oleh faktor yang meliputi Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 dukungan sosial keluarga, prestasi belajar, efikasi diri, pengalaman kerja praktik, dan perencanaan Agrabisnis Rekayasa Perangkat Teknik Audio Video Teknik Kendaraan Tanaman Pangan Lunak Ringan dan Hortikultura BELUM/TIDAK BEKERJA KARYAWAN SWASTA MENGURUS RUMAH TANGGA Teknik Komputer dan Jaringan WIRASWASTA Sumber: Data Penduduk Desa Mekarwangi (Diolah oleh peneliti, 2. Gambar 2. Pekerjaan Pemuda di Desa Mekarwangi Berdasarkan gambar 2 terdapat latar belakang Pendidikan dan pekerjaan yang dijalani oleh pemuda di Desa Mekarwangi latar belakang Pendidikan Rekayasa Perangkat Lunak dan Teknik Adio dan Video Sebagian besar belum bekerja sedangkan lulusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Komputer dan Jaringan sebagian besar memilih untuk berwirausaha. Terdapat ketimpangan antara latar belakang Pendidikan dengan pemilihan karir yang dijalani. Berdasarkan survey yang dilakukan kepada 30 responden diperoleh bahwa responden tidak mempertimbangkan pilihan karir berdasarkan minatnya, tidak memiliki rencana yang jelas untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan karir namun di sisi lain responden dapat mengidentifikasi keterampilan yang dimilikinya, teratur mencari umpan atas karirnya dan menciptakan gaya hidup yang dapat menunjang tujuan karirnya. Kematangan karier menurut Super dalam Rahma . dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam diri individu dan faktor situasional. Faktor dalam diri individu . diantaranya gen, bakat yang dimiliki individu, prestasi akademik, kebutuhan, nilai, minat, sikap, dan kesadaran diri . elf awarnes. , sedangkan faktor situasional salah satunya adalah keluarga. Sudjani . menjelaskan bahwa keluarga memberikan peran paling besar dalam menentukan kematangan karier dibandingkan dengan lingkungan lainnya, yaitu masyarakat, wawasan dunia kerja, usaha mencari informasi, keterlibatan guru di sekolah, dukungan infrastuktur dan sikap terhadap konsepsi Menurut Rachmasari & Purwantini . dukungan keluarga adalah bantuan yang diterima oleh individu dari anggota keluargannya, baik berupa informasi, saran, materi, dan Selain memberi dukungan berupa materi, orang tua juga dapat meberikan informasi, saran, nasehat dan menjadi tempat bertukar pikiran mengenai karir dan pekerjaan yang ingin dicapai Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 Dukungan sosial dari keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kematangan karir individu. Keluarga, sebagai lingkungan pertama bagi setiap individu, dapat memberikan dukungan tidak hanya secara materi tetapi juga dalam bentuk informasi, saran, dan Orang tua, sebagai bagian integral dari keluarga, tidak hanya berperan sebagai penyedia dukungan finansial, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Mereka menjadi tempat bagi individu untuk bertukar pikiran mengenai aspirasi karir dan pekerjaan yang ingin dicapai. Dengan demikian, faktor keluarga menjadi unsur eksternal yang signifikan dalam membentuk dan memperkaya perjalanan kematangan karir seseorang. Teman Orang Tua Keinginan Sendiri Saudara Sumber: Katadata . Gambar 3. Grafik Pemilihan Jurusan Berdasarkan gambar 3. Survei Perilaku Siswa dalam Pemilihan Jurusan Pendidikan Sebagian besar masyarakat Indonesia memutuskan pemilihan jurusan berdasarkan rekomendas teman dan orang tua sedangkan hanya 30% saja yang memutuskan berdasarkan keinginan pribadinya. Pemilihan jurusan berdasarkan saran teman atau keluarga merupakan anggapan bahwa dukungan social dapat menjadi penguat keyakinan atas kematangan karir seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kulsum et al . menyatakan bahwa terdapat pengaruh dukungan sosial keluarga terhadap kematangan karir. Berdasarkan presurvey yang dilakukan kepada 30 pemuda di Desa Mekarwangi diperoleh bahwa responden mendapatkan dukungan sosial keluarga karena responden merasa keluarga memberikan dukungan atas keputusan yang diambil, memberikan saran atas keputusan-keputusan penting, memberikan petunjuk dalam mengatasi kesalahan namun responden merasa tidak di dukung dari sisi apresiasi atas pencapaian yang didapat. Apresiasi sebagai bagian dari emotional support penting untuk membentuk kepercayaan diri dan motivasi karir. Hasil ini dapat memberikan gambaran spesifik dari dukungan keluarga . berpengaruh terhadap kematangan karir, sehingga bisa dijadikan acuan untuk Batasan intervensi keluarga/orangtua. Ketidaksesuaian antara jurusan SMK dan pekerjaan atau pilihan karir nyata yang Menyebabkan pemborosan potensi dan rendahnya kesiapan kerja pasca kelulusan. Penelitian ini bisa menjadi rujukan untuk mengembangkan kurikulum berbasis kebutuhan industri lokal atau program bimbingan karir di tingkat sekolah menengah. Banyak responden tidak memiliki rencana karir jangka panjang dan tidak melakukan eksplorasi karir secara aktif. Tanpa perencanaan karir, individu cenderung pasif dan tidak siap bersaing di dunia kerja. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam mengembangkan model atau modul perencanaan karir yang relevan Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 dan bisa diterapkan di sekolah-sekolah desa. Ketidaksesuaian minat dengan jurusan mengurangi motivasi dan kesesuaian dengan dunia kerja. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar perlunya assessment minat bakat sejak dini. Teknologi yang digunakan di SMK tertinggal dari dunia industri. Membuat lulusan tidak siap kerja dan memperpanjang proses pencarian kerja. Menjadi pijakan untuk kerjasama SMK dengan dunia industri secara lebih aktif dan tepat guna. Berdasarkan latar belakang tersebut didapat bahwa tingginya pengangguran di kalangan generasi Z, ketidaksesuaian antara Pendidikan dan pekerjaan, kurangnya perencanaan karir dan kematangan karis serta kurangnya dukungan keluarga dalam aspek penghargaan atas prestasi menjadi ancaman terutama dengan kondisi bonus demografi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber rujukan untuk meningkatkan Link and Match antara Pendidikan dan Dunia Kerja serta mendorong perencanaan karir terutama bagi para Siswa/Sisiwi SMA dan sederajat untuk dapat memiliki kematangan karir. KAJIAN PUSTAKA Menurut Saifuddin . kematangan karier adalah suatu tahap perkembangan karier individu yang ditandai oleh adanya persiapan untuk meraih masa depan. Persiapan yang dilakukan meliputi mencari informasi karier, memahami diri dalam bentuk menelusuri dan menemukan bakat dan minat, memilih karier di masa depan dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai karier yang sesuai. Adapun Indikator Kematangan karir menurut Super dalam Lindawati et al . adalah sebagai berikut: Perencanaan Karir, indikasi seseorang memiliki kematangan karir adalah memiliki perencanaan sebagai starting point untuk meraih cita-cita atas karir yang diharapkannya Eksplorasi Karir, pada tahap ini seseorang menelusuri lebih dalam mengenai karir yang akan ditujunya dengan mencari informasi mengenai profesi tersebut dan keterampilan seperti apa yang dibutuhkan dalam profesi yang ditujunya Pengetahuan Tentang Membuat Keputusan karir, setelah menghimpun informasi pada tahap eksplorasi karir, seseorang memiliki pengetahuan yang cukup untuk membuat keputusan Pengetahuan Tentang Dunia Kerja, tidak hanya spesifik mencari informasi atas karir yang diharapkannya, seseorang juga mencari informasi mengenai dunia kerja secara umum atas karir yang ditujunya Super dalam Lindawati et al . Kematangan karir melibatkan pembuatan perencanaan dan pengumpulan keputusan karir berdasarkan eksplorasi yang telah dilakukan. Perencanaan karir membentuk landasan strategis yang memungkinkan individu mengarahkan langkah-langkah menuju kesuksesan profesional Menurut Wasesa . Perencanaan karir adalah proses dimana individu merencanakan kehidupan kerja mereka dengan fokus utama perencanaan karir yang seharusnya memiliki keterkaitan dengan tujuan pribadi dan kesempatan yang secara nyata dan realistis tersedia didalam Adapun Indikator Perencanaan Karir menurut Bagun dalam Wasesa . adalah sebagai berikut: Mengenali Bakat, pengenalan bakat sebagai bagian dari perencanaan karir ditujukan agar terjadi keseusian antara karir yang diharapkan dengan bakat yang dimiliki oleh calon pekerja sebagai Kesempatan Karir, seseorang yang terindikasi merencanakan karir sudah melakukan pemetaan mengenai peluang karir yang dapat diisi untuk keberhasilan karirnya Memperhatikan Penampilan Karir, calon pekerja akan melakukan ekplorasi mengenai hal hal yang mendukung karir sasarannya salah satunya bagaimana penampilan yang dibutuhkan untuk mengisi karir tersebut Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 Memperhatikan Gaya Hidup, perencanaan karir yang matang menjadikan seorang calon pekerja menjadikan spesifikasi karir yang ditujunya sebagai gaya hidup yang telah disesuaikannya. Contohnya ketika seseorang akan menjadi seorang prajurit, dia mengupayakan gaya hidup yang sehat dengan menjaga makan dan rajin berolahraga agar tubuhnya menyesuiakan dengan tujuan Fitrianingsih . kematangan karir seseorang dipengaruhi oleh faktor yang meliputi dukungan sosial keluarga, prestasi belajar, efikasi diri, pengalaman kerja praktik, dan perencanaan Menurut Rachmasari & Purwantini . dukungan keluarga adalah bantuan yang diterima oleh individu dari anggota keluargannya, baik berupa informasi, saran, materi, dan emosional. Adapun indikator Dukungan Sosial Keluarga menurut Sarafino dalam Utami . adalah sebagai Dukungan Emosional, dukungan berupa kehadiran secara emosional, contohnya bersedia mendengarkan curahan hati anggota keluarga Dukungan Instrumental, dukungan berupa bantuan seperti memberikan cara/solusi atar permasalahan yang terjadi Dukungan Informasi, dukungan berupa nasihat dan saran yang membantu anggota keluarganya Dukungan Penghargaan, dukungan berupa umpan balik positif ketika anggota keluarga mendapatkan suatu pencapaian atau penghargaan atas upaya yang dilakukan dalam bentuk Bagian ini mencakup kajian pustaka seperti teori, konsep, dan/atau model yang relevan sebagai acuan untuk menjawab pertanyaan penelitian atau untuk menjawab tujuan penelitian. Kajian pustaka hendaknya memanfaatkan sumber referensi terbaru, terutama berupa jurnal ilmiah, disertasi, tesis, buku teks, dan bahan lain yang relevan. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif. Metode deskriptif digunakan untuk memperoleh keadaan masing-masing variabel, sedangkan pengaruhnya menggunakan metode verifikatif. Penggunaan teknik deskriptif dan verifikatif untuk memperoleh gambaran secara rinci tentang hal-hal yang menimbulkan pengaruh didasarkan pada uraian keadaan masing-masing variabel. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitiannya, dengan menggunakan skala ordinal dan skala likert. Populasi dalam penelitian ini adalah Pemuda yang belum bekerja yang berada di Desa Mekarwangi yaitu sebanyak 134 orang. Melakukan penyebaran kuesioner dengan menggunakan teknik sampling non-probability sampling Purposive samping, dengan kriteria Pemuda yang belum Penetapan Teknik sampling ini didasari untuk dapat menjaring sampel yang lebih tepat dan sesuai dengan penelitian yang memfokuskan pada pemuda di desa Mekarwangi. Pengujian statistik menggunakan uji asumsi klasik, melakukan pengujian determinasi untuk memperoleh besaran pengaruh dari masing-masing variabel, serta menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui arah pengaruh tiap variable. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh. Distribusi sampel dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner secara langsung maupun dengan google form dan berkoordinasi dengan pemerintahan setempat. Dalam proses pengujian data, dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk menguji kelayakan instrumen penelitian. Tahap selanjutnya adalah uji normalisasi, dilanjutkan dengan uji regresi linier berganda untuk mengetahui arah pengaruh dan mengetahui besarnya dampaknya. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t dan ujif. Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penyebaran data, diperoleh 134 responden dengan karakteristik sebagai Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia Jenis Kelamin Pendidikan Terakhir Kategori Persentase 19 Ae 21 Tahun 22 Ae 24 Tahun 25 Ae 27 Tahun Laki Ae Laki Permpuan Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Sekolah Menengah Kejuruan Madrasah Aliyah Starta 1 Sumber: olah data penulis . Pada tabel 1 diperoleh bahwa responden berada pada rentang usia yang cukup merata dari umur 19-27 tahun dengan rata rata 30% pada setiap kelas usia, begitu pula dengan gender meskipun lebih banyak laki-laki namun hanya selisih 4% dari nilai tertinggi, untuk Pendidikan terakhir di desa Mekarwangi didominasi oleh pemuda dengan Pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini mengindikasikan bahwa rendahnya minat studi penduduk di desa Mekarwangi. Kematangan Karir Berdasarkan hasil penyebaran data diperoleh bahwa Kematangan Karir pada Pemuda di Desa Mekarwangi termasuk kedalam kategori buruk, hal tersebut menunjukan bahwa Pemuda di Desa Mekarwangi menunjukkan keraguan atas kesiapannya dalam menghadapi berbagai situasi yang terjadi dalam karirnya, meskipun tidak semuanya menunjukkan keraguan, berdasarkan hasil jawaban responden 25% responden siap menghadapi berbagai situasi dalam karirnya, 25% ragu dan 25% tidak Hal tersebut menunjukkan keragaman kemampuan dari para pemuda di Desa Mekarwangi. sisi lain responden hampir tidak memiliki berbagai aspek dalam kematangan karir yaitu rendahnya perencanaan masa depan, ketidakmampuan dalam Menyusun Langkah-langkah dalam mencapai tujuan karir, rendahnya keinginan untuk mencari informasi, rendahnya pengetahuan atas informasi pekerjaan dan posisi karir yang diminati, hal ini juga didukung dengan rendahnya wawasan tentang industri yang akan dimasuki pada saat bekerja. Temuan ini menandakan bahwa para pemuda berada dalam kondisi rentan secara profesional karena kurang memiliki arah dan kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja. Pembiaran atas kondisi ini memunculkan tidak efektifnya tenaga kerja di desa, dalam fenomena saat ini yang mengalami bonus demografi, di sisi lain dapat meningkatkan jumlah pengangguran, kesenjangan antara Pendidikan dan pekerjaan, rendahnya produktivitas dalam pembangunan daerah. Perencanaan Karir Perencanaan Karir pada Pemuda di Desa Mekarwangi termasuk kedalam kategori buruk, hal tersebut menunjukan bahwa beberapa pemuda di Desa Mekarwangi sudah memiliki pemahaman Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 yang baik mengenai bidang keterampilan yang mereka kuasai dalam merencanakan karir mereka tetapi berimbang dengan jumlah responden yang menjawab bahwa mereka ragu dan bahkan tidak mengetahui keterampilan yang dimilikinya. Mereka cenderung fokus pada kesesuaian antara keterampilan yang dimiliki dan pekerjaan yang diinginkan, yang dapat memberikan kepuasan tersendiri ketika bekerja sesuai dengan kemampuan mereka, namun perhatian mereka terhadap aspek keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan masih kurang. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perencanaan karir, mereka lebih menitikberatkan pada faktor-faktor keterampilan yang diperlukan, daripada mempertimbangkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan Di Desa Mekarwangi juga masih terdapat banyaknya pemuda yang bekerja namun tidak sesuai dengan kompetensi yang diambil saat sekolah, seperti menjadi operator pabrik dan staff mini Pada perencanaan karir, responden tidak dapat mengidentifikasi hal hal mendasar tentang dirinya sebagai landasan dalam merencanakan karir seperti ketidaktahuannya atas minat, keterampilan yang dimiliki, tujuan karir yang ingin ditempuh. Responden juga tidak berkeinginan untuk mengembangkan diri seperti mengikuti pelatihan untuk dapat keterampilan yang lebih untuk mengisi kesempatan karir yang lebih baik. Temuan menunjukkan bahwa sebagian pemuda tidak memiliki kejelasan mengenai minat, keterampilan, dan tujuan karir. Ini mencerminkan rendahnya kesadaran diri . elf-awarenes. yang menjadi dasar dalam proses perencanaan karir. Tanpa pemahaman diri yang kuat, pemuda rentan terhadap keputusan karir yang tidak terarah, cenderung ikut-ikutan . eer pressur. atau hanya fokus pada pekerjaan tersedia bukan yang sesuai. Banyak pemuda bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya menandakan Tidak adanya strategi karir jangka Panjang, kurangnya koneksi atau informasi terhadap peluang yang relevan, lemahnya sinergi antara output pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Hal ini akan berdampak pada rendahnya motivasi kerja, produktivitas, dan akhirnya menciptakan siklus underemployment . ekerja yang tidak menggunakan potensi Dukungan Sosial Keluarga Dukungan Sosial Keluarga pada Pemuda di Desa Mekarwangi termasuk kedalam kategori rendah, hal tersebut menunjukan bahwa pemuda di Desa Mekarwangi menerima nasihat dari anggota keluarga mengenai cara menghadapi tantangan hidup, namun mereka tidak mendapatkan saran ketika membuat keputusan penting. Selain itu, pemuda di desa tersebut merasa kurang mendapatkan dukungan berupa apresiasi atau umpan balik positif dari keluarga ketika mencapai suatu Hal ini menunjukkan bahwa dukungan yang mereka terima lebih bersifat non-material, seperti nasihat atau dukungan emosional, ketimbang bentuk apresiasi konkret seperti hadiah. Masyarakat di Desa Mekarwangi juga masih lebih mementingkan ekonomi dibandingkan Pendidikan untuk anakAeanaknya. Temuan menunjukkan bahwa sebagian pemuda tidak memiliki kejelasan mengenai minat, keterampilan, dan tujuan karir. Ini mencerminkan rendahnya kesadaran diri . elf-awarenes. yang menjadi dasar dalam proses perencanaan karir. Tanpa pemahaman diri yang kuat, pemuda rentan terhadap keputusan karir yang tidak terarah, cenderung ikut-ikutan . eer pressur. atau hanya fokus pada pekerjaan tersedia bukan yang sesuai. Banyak pemuda bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya menandakan Tidak adanya strategi karir jangka Panjang, kurangnya koneksi atau informasi terhadap peluang yang relevan, lemahnya sinergi antara output pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Hal ini akan berdampak pada rendahnya motivasi kerja, produktivitas, dan akhirnya menciptakan siklus underemployment . ekerja yang tidak menggunakan potensi Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 Sumber: Hasil Olah Data SPSS 27 . Gambar 4. Hasil Uji Regresi Linear Berganda Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda diperoleh bahwa baik perencanaan karir maupun dukungan sosial keluarga memiliki arah pengaruh positif terhadap kematangan karir. Dengan kontribusi pengaruh perencanaan karir berpengaruh terhadap kematangan karir sebesar 79%, dukungan social keluarga berpengaruh sebesar 2,8% terhadap kematangan karir. Pengaruh perencanaan karir dan dukungan social keluarga terhadap kematangan karir sebesar 79,6%. Sumber: Hasil Olah Data SPSS 27 . Gambar 5. Hasil Uji Koefisien Determinasi Variabel Perencanaan Karir terhadap Kematangan Karir Sumber: Hasil Olah Data SPSS 27 . Gambar 6. Hasil Uji Koefisien Determinasi Variabel Dukungan Sosial Keluarga terhadap Kematangan Karir Sumber: Hasil Olah Data SPSS 27 . Gambar 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi Variabel Perencanaan Karir dan Dukungan Sosial Keluarga terhadap Kematangan Karir Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 Hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa variabel Perencanaan Karir berpengaruh secara parsial terhadap Kematangan Karir. Dukungan Sosial Keluarga tidak berpengaruh secara parsial terhadap Kematangan Karir. variabel Perencanaan Karir dan Dukungan Sosial Keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap Kematangan Karir. Sumber: Hasil Olah Data SPSS 27 . Gambar 8. Hasil Uji t Perencanaan Karir (X. terhadap Kematangan Karir (Y) Sumber: Hasil Olah Data SPSS 27 . Gambar 9. Hasil Uji t Dukungan Sosial Keluarga (X. terhadap Kematangan Karir (Y) Sumber: Hasil Olah Data SPSS 27 . Gambar 10. Hasil Uji F SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa kematangan karir pemuda di Desa Mekarwangi masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor utama, yaitur endahnya perencanaan karir, sebagian besar pemuda tidak memiliki kesadaran akan minat, keterampilan, dan tujuan karirnya. Kurangnya wawasan tentang dunia kerja, termasuk informasi terkait peluang pekerjaan dan industri yang relevan. Dukungan sosial keluarga yang masih terbatas, terutama dalam bentuk apresiasi atau bimbingan konkret terhadap pilihan karir anak-anaknya. Banyaknya pemuda yang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan kompetensinya, yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa perencanaan karir memiliki pengaruh signifikan terhadap kematangan karir Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1453 Volume 7 No. 1 April 2025 dengan kontribusi sebesar 79%, sementara dukungan sosial keluarga hanya memiliki pengaruh sebesar 2,8%. Secara keseluruhan, kedua variabel ini berkontribusi 79,6% terhadap kematangan karir, menunjukkan bahwa perencanaan karir menjadi faktor dominan dalam membentuk kesiapan individu dalam dunia kerja. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasa pada satu lokasi penelitian, yaitu Desa Mekarwangi, sehingga hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasikan untuk populasi yang lebih luas. Fokus pada faktor internal dan keluarga, tanpa mempertimbangkan faktor eksternal lain seperti kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan peran dunia industri dalam mendukung kematangan karir Metode pengumpulan data masih mengandalkan self-report, yang memungkinkan adanya bias dalam jawaban responden. Tidak mengeksplorasi lebih dalam faktor psikologis, seperti kepercayaan diri, motivasi intrinsik, dan hambatan psikologis lainnya yang mungkin berpengaruh terhadap kematangan karir. Saran untuk Penelitian Selanjutnya Melakukan penelitian di daerah lain untuk membandingkan hasil dan melihat apakah faktorfaktor yang memengaruhi kematangan karir memiliki pola yang serupa di berbagai lokasi. Menambahkan variabel lain, seperti keterlibatan dunia industri, kebijakan pendidikan, dan pelatihan kerja sebagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi kematangan karir. Menggunakan metode penelitian yang lebih mendalam, seperti wawancara kualitatif dengan pemuda, orang tua, guru, dan pengusaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas. Melibatkan aspek psikologis, seperti efikasi diri, motivasi, dan kepercayaan diri sebagai faktor yang dapat mempengaruhi perencanaan karir dan kematangan karir pemuda. Mengembangkan intervensi berbasis edukasi dan pelatihan, misalnya program bimbingan karir atau pelatihan keterampilan yang dapat meningkatkan kesiapan kerja pemuda. Desa dapat bekerjasama dengan sekolah, komunitas dan keluarga untuk dapat membuat program bimbingan karir terstruktur di sekolah-sekolah, mengadakan career day dengan mendatangkan praktisi sebagai gambaran mengenai profesi-profesi yang dapat diisi oleh para lulusan SMA/SMK, membuat pelatihan perencanaan karir. Desa dapat berkolaborasi dengan dinas tenaga kerja untuk mengadakan program magang dan pelatihan sebagai bekal untuk meningkatkan skill dan pemahaman para siswa calon tenaga kerja. Desa juga dapat mengadakan program kewirausahaan sebagai alternatif. Desa dapat melakukan pengutan di tingkat karang taruna untuk dapat mengasah keterampilan non formal para pemuda dalam meningkatkan kompetensi dan kesiapannya di industri. Pada tingkatan yang lebih kecil desa dapat meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pentingnya dukungan keluarga dalam karir anak. Dengan memperluas cakupan penelitian dan menambahkan aspek-aspek yang lebih kompleks, diharapkan hasil penelitian selanjutnya dapat memberikan rekomendasi yang lebih efektif untuk meningkatkan kematangan karir generasi muda di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA