Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 552-561 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Peningkatkan Keterampilan Bicara Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Boneka Tangan Haryani1. Wafa Aerin2 Info Artikel Abstract Keywords: Early Childhood. Speech Skills. Hand Puppets. The purpose of this study was to determine the efforts to improve speaking skills through hand puppets in children aged 5-6 years at the Santiaji Jaya Mertasari PAUD Institution. The type of research is classroom action research, data collection methods, observation and documents, then analyzed using quantitative and descriptive qualitative techniques. The results of this study showed a significant increase in speaking skills in Pre-cycle it was known that children's speaking skills had only reached 24%, or there were 6 children who developed. The results of the first cycle of action showed that children's speaking skills had developed 56%, or there were 14 children out of 25 who developed very well and developed according to expectations. The results of the second cycle of action showed that the development of children's speaking skills had developed 84% or as many as 21 children at the Santiaji Jaya Mertasari PAUD Institution developed very well and developed according to expectations, while the remaining 16% or as many as 4 began to develop and had not yet developed. Kata Kunci: Anak Usia Dini. Keterampilan Bicara. Boneka Tangan. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya meningkatkan keterampilan bicara melalui boneka tangan pada anak usia 5-6 tahun di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas, metode pengumpulan data observasi dan dokumen, kemudian dianalisis menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif Hasil Penelitian ini adanya peningkatan yang signifikan terhadap keterampilan berbicarapada anak. Pra siklus diketahui keterampilan bicara anak baru mencapai 24%, atau ada 6 anak yang berkembang. Hasil tindakan siklus I keterampilan bicara anak yang berkembang telah mencapai 56%, atau ada 14 anak dari 25 anak yang berkembang sangat baik dan berkembang sesuai harapan. Hasil tindakan siklus II perkembangan keterampilan bicara anak yang berkembang mencapai 84% atau sebayak 21 anak di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari berkembang sangat baik dan berkembang sesuai harapan, sedangkan sisanya sebesar 16% atau sebanyak 4 mulai berkembang dan belum berkembang. Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen. Indonesia Email: haryani123@gmail. Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen. Indonesia Email:nandaairin03@gmail. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 27 November 2025 05 Desember 2025 16 Desember 2025 17 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Haryani. , & Aerin. Peningkatkan Keterampilan Bicara Anak Usia 5Ae6 Tahun Melalui Boneka Tangan. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 552-561, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Haryani, haryani123@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Perkembangan bahasa anak usia dini merupakan salah satu aspek fundamental dalam keseluruhan proses tumbuh kembang anak. Kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan anak dalam berkomunikasi secara lisan melalui penggunaan kata, intonasi suara, serta ekspresi wajah dan bahasa tubuh untuk menyampaikan makna (Mansur, 2. Bahasa menjadi sarana utama anak dalam mengungkapkan gagasan, perasaan, kebutuhan, serta membangun relasi sosial dengan lingkungan sekitarnya. Dalam konteks Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), kemampuan berbahasa memiliki kedudukan yang sangat strategis karena bahasa menjadi media utama pembentukan adab, akhlak, dan komunikasi Islami pada anak. Anak tidak hanya diajarkan untuk mampu berbicara secara lancar, tetapi juga berbicara dengan santun, jujur, sopan, serta penuh kasih sayang kepada guru dan teman sebaya, sebagaimana ajaran Islam tentang pentingnya menjaga lisan. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan berbicara anak di lembaga PAUD berbasis Islam tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman sejak dini. Kemampuan berbahasa merupakan dasar dari seluruh proses pembelajaran di taman kanak-kanak, karena bahasa menjadi alat utama anak untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhannya (Wafa Aerin. Guru memegang peranan penting dalam mengembangkan kemampuan berbicara anak, terutama pada masa usia emas . olden ag. ketika perkembangan bahasa berlangsung sangat cepat dan menjadi fondasi bagi perkembangan bahasa tahap selanjutnya (Dirjen Pembinaan TK, 2. Moeslichatoen . menegaskan bahwa berbicara adalah kemampuan anak untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaannya secara lisan. Rendahnya keterampilan berbicara anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain minimnya interaksi komunikasi dengan orang tua dan lingkungan, kurangnya stimulasi berbicara, serta penggunaan media pembelajaran yang kurang menarik. Akibatnya, anak mengalami hambatan dalam memulai percakapan, mengungkapkan ide, serta mengekspresikan perasaan secara verbal. Kemampuan berbicara juga berperan penting sebagai dasar bagi keterampilan berbahasa lainnya, seperti menyimak, membaca, dan menulis. Tahap perkembangan bahasa dimulai dari kemampuan memahami makna ujaran orang lain, dilanjutkan dengan penguasaan kosakata, penyusunan kalimat, hingga kemampuan mengucapkan kata sebagai hasil dari proses meniru dan belajar dari lingkungan. Apabila tahapan ini tidak distimulasi secara optimal, maka perkembangan bahasa anak akan mengalami Berdasarkan hasil observasi awal di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari, ditemukan bahwa keterampilan berbicara anak masih relatif rendah. Dari 25 anak, hanya 7 anak . %) yang menunjukkan antusiasme dalam menjawab pertanyaan guru, sedangkan 18 anak . %) masih pasif. Anak cenderung diam ketika diberi pertanyaan, ragu mengungkapkan pikiran dan perasaan, serta takut salah dalam Bahkan ketika diberi kesempatan bertanya, anak sering kali mengangkat tangan tetapi tidak Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mampu merumuskan pertanyaan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam mengungkapkan perasaan dengan kata sifat . enang, sedih, marah, baik, buru. masih belum berkembang secara optimal. Salah satu faktor penyebab rendahnya keterampilan berbicara anak adalah kurangnya variasi dan kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran. Pembelajaran masih cenderung berfokus pada keterampilan membaca dan menulis, sementara pengembangan keterampilan berbicara belum mendapatkan porsi yang memadai. Padahal, sebelum anak mampu membaca dan menulis, mereka perlu banyak distimulasi melalui aktivitas berbicara, mendengar, melihat, dan merasakan secara langsung. Beberapa penelitian terdahulu yang relevan menunjukkan bahwa boneka tangan efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara anak, antara lain: Sari . menemukan bahwa penggunaan boneka tangan mampu meningkatkan keberanian anak dalam berbicara di depan kelas melalui kegiatan Putri & Handayani . menyatakan bahwa media boneka tangan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kosakata anak usia dini. Rahmawati . membuktikan bahwa boneka tangan dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengungkapkan perasaan melalui kegiatan bermain peran. Namun, novelty . penelitian ini terletak pada integrasi penggunaan boneka tangan dengan perspektif Pendidikan Islam Anak Usia Dini, khususnya dalam mengembangkan keterampilan berbicara anak dalam mengungkapkan perasaan dengan kata sifat yang dikaitkan dengan pembentukan adab, komunikasi Islami, dan akhlak mulia. Selain itu, penelitian ini dilakukan pada konteks lokal PAUD Santiaji Jaya Mertasari yang memiliki karakteristik peserta didik dan lingkungan yang berbeda dengan penelitian Berdasarkan uraian tersebut, maka penggunaan boneka tangan dipandang sebagai inovasi pembelajaran yang relevan dan kontekstual untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini. Boneka tangan dapat menjadi sarana yang menyenangkan untuk melatih anak dalam menyimak, menambah kosakata, mengekspresikan emosi, serta bercerita. Selain itu, boneka tangan juga memungkinkan anak untuk berimajinasi, menyusun alur cerita, dan mengungkapkan gagasan secara bebas. Sudjana . menyatakan bahwa boneka tangan merupakan media edukatif yang unik, kreatif, dan mampu menanamkan nilai budaya serta pesan moral melalui tokoh cerita yang ditampilkan. Dalam perspektif PIAUD, penggunaan boneka tangan juga dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman, seperti kejujuran, tolong-menolong, adab berbicara, dan sikap saling Melalui dialog tokoh boneka, anak dapat belajar berkomunikasi secara santun, meneladani akhlak yang baik, serta menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai moral dan religius secara Boneka tangan akan dipilih untuk meningkatkan keterampilan bicara anak karena boneka tangan akan tumbuh dalam diri anaknya rasa ketertarikan dalam pembelajaran, sehingga keterampilan bicara secara otomatis akan mengalami perubahan seiring dengan ketertarikan anak dalam pembelajaran. Boneka tangan sesuai digunakan dalam pembelajaran pada anak usia dini. Penerapan boneka tangan menjadi inovasi dari guru dalam pembelajaran di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari guna meningkatkan keterampilan bicara anak. Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah peneliti uraikan maka peneliti mengambil judul AuUpaya Meningkatkan Keterampilan Bicara Melalui Boneka Tangan Pada Anak Usia 5-6 Tahun di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dalam bahasa Inggris Clasroom Action Research (CAR). Kemmis dan Taggart dalam Daryanto . mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian refleksif diri secara kolektif dalam situasi sosial agar pemahaman seluruh peserta terhadap praktek dan situasi tempat dilaksanakan praktek tersebut dan penalaran tentang keadilan praktek pendidikan mereka dapat lebih meningkat. Model yang digunakan model spiral Kemmis dan McTaggart. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 prosedur penelitian menurut Kemmis dan Taggart, adalah pengembangan dari konsep dasar yang dikenalkan Kurt Lewin, hanya saja, komponen acting . dengan observing . akan dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukan kedua komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa perapan acting dan observing merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua kegiatan harus dilakukan dalam satu kesatuan waktu, ketika tindakan dilaksanakan begitu pula observasi juga harus dilaksanakan pada waktu bersamaan (Afandi, 2. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dapat dipandang sebagai satu siklus. Pengertian siklus pada kesempatan ini adalah putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan dan pengamatan serta refleksi (Afandi, 2. Menurut Kemmis dan Taggart sebagaimana yang dikutip oleh dikutip Affandi . secara lebih detail memamaparkan bahwa prosedur PTK dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 1. Desain Penelitian Tindakan Kelas Menurut Pendapat Kemmis dan Taggart dalam (Affandi, 2018: . Keterangan: Perencanaan . , dalam tahap pertama peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bangaimana tindakan dilakukan. Pelaksanaan . dan pengamatan . , dalam kegiatan penelitian tindakan kelas adalah suatu pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan terhadap semua isi rancangan pelaksanaan pada tindakan di kelas. Pengamatan . , pengamatan dilakukan peneliti sambil mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan pada siklus yang Refleksi . , kegiatan ini untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi ini dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian di diskusikan dengan teman sejawat untuk merancang tindakan selanjutnya. Subjek penelitian adalah anak usia 5Ae6 tahun di PAUD Santiaji Jaya Mertasari, dengan jumlah 25 anak . esuaikan dengan data And. Anak-anak ini merupakan peserta didik kelompok B yang mengikuti kegiatan pembelajaran selama penelitian berlangsung. Penelitian dilaksanakan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari. Waktu penelitian berlangsung selama A 2 bulan, meliputi tahap pra-siklus, siklus I, dan siklus II. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi . igunakan untuk mengamati aktivitas anak selama pembelajaran menggunakan boneka tanga. dan dokumentasi (Berupa foto, penilaian rubik berbasis indicator perkembangan keterampilan berbicara, dan arsip kegiatan pembelajaran sebagai bukti visual Tabel 1. Kisi-kisi instrument Observasi Keterampilan Berbicara Variabel Keterampilan Berbicara Sub-Variable Memahami Bahasa Mengungkapkan Bahasa Berkomunikasi lisan Indikator Anak Mampu memahami perintah sederhana (Taat, patuh terhadap gur. Anak Mampu menjawab pertanyaan dengan kalimat Anak Mampu megungkapkan perasaan senang sedih, marah . esadaran diri dan kesabara. Skor Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Teknik analisis menggunakan dua pendekatan yaitu kuantitatif . enghitung presentase perkembangan keterampilan berbicar. dan kulitatif . enganalis hasil observasi. Menyusun table, penarikan kesimpulan mengenai aktivitas boneka tangan dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada Analisis data dilakukan untuk mendeskripsikan data-data yang sudah terkumpul dan untuk dapat menemukan makna setiap data yang berhubungan satu dengan data-data yang lain. Dalam penelitian tindakan kelas membutuhkan analisis data yang sederhana, tidak memerlukan analisis rumit seperti penelitian lainnya namun rumus yang digunakan adalah rumus presentase yang dianalisis secara kuantitatif deskriptis tentang peningkatan keterampilan bicara melalui boneka tangan pada anak usia 5-6 tahun di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarenaga. HASIL PENELITIAN Peneliti melakukan observasi pra siklus terlebih dahulu sebelum mengadakan penelitian tindakan kelas, berdasarkan pada hasil observasi peneliti dengan guru diketahui bahwa keterampilan bicara anak di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara masuk dalam kategori relatif masih rendah atau belum berkembang secara optimal. Hal tersebut berdasarkan pada hasil pengamatan kondisi awal atau pra siklus dimana keterampilan bicara anak usia 5-6 tahun di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari anak belum mampu berkomunikasi secara aktif dengan teman dan guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Berdasarkan hasil observasi sebelum tindakan atau pra siklus, maka dapat diketahui bahwa keterampilan bicara anak di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara masih banyak anak yang belum mampu untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan rendahnya kemampuan anak dalam berbicara atau dalam berkomunkasi, ini dibuktikan sebanyak 24% anak yang telah mampu mengungkapkan pendapatnya sendiri, sedangkan sebanyak 76% anak usia 5-6 tahun belum mampu mengungkapkan pendapatnya sendiri. Berdasarkan pada data yang lebih rinci dietahui bahwa dari jumlah 25 anak hanya 2 anak atau 8% keterampilan bicara anak usia 5-6 tahun berkembang sangat baik, kemudian terdapat 4 anak atau 16% keterampilan bicara anak berkembang sesuai harapan, serta terdapat 11 anak atau 44% keterampilan bicara anak diketahui mulai berkembang, sedangkan sisanya yakni 8 anak atau sebesar 32% keterampilan bicara anak belum berkembang sehingga perlu upaya guru dalam meningkatkan keterampilan bicara anak melalui pembelajaran dengan boneka tangan yang lebih inovatif. Distibusi frekuensi dan presentase hasil pengamatan pada kondisi awal atau pra siklus tentang upaya meningkatkan keterampilan bicara pada anak melalui boneka tangan Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 1 Data Frekuensi dan Presentase Pra Siklus Keterampilan Bicara Anak Melalui Boneka Tangan di PAUD Santiaji Jaya Mertasari Perkembangan Keterampilan Bicara Anak Usia 5-6 Tahun Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik Jumlah Frekuensi (F) Presentase (%) 32,00% 44,00% 16,00% 8,00% Berdasarkan tabel pra siklus di atas tentang peningkatan keterampilan bicara anak melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara maka dapat diketahui keterampilan bicara anak terbukti belum berkembang secara optimal. Melihat pada kondisi pra siklus terkait perkembangan keterampilan bicara anak di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Banjarnegara terdapat 6 anak atau 24% yang berkembang sangat baik dan berkembang sesuai harapan. Maka salah satu upaya guru untuk meningkatkan keterampilan bicara anak Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 melalui boneka tangan sekaligus untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari. Pembelajaran pada siklus I selama dua kali pertemuan berturut-turut anak mengalami perkembangan yang cukup positif, maka hal tersebut akan dapat ditandai dengan meningkatnya perkembangan keterampilan bicara anak usia 5-6 tahun. Siklus I peningkatan keterampilan bicara anak masuk kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) diketahui ada 6 atau 24% kemudian perkembangan keterampilan bicara anak masuk kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) ada 8 anak atau 32%, selanjutnya perkembangan keterampilan bicara anak yang masuk kategori Mulai Berkembang (MB) terdapat 6 anak atau 24%, sedangkan perkembangan keterampilan bicara anak yang masuk pada kategori Belum Berkembang (BB) sebanyak 5 anak atau sebesar 20%. Dengan demikian maka dapat disimpulkan telah mengalami peningkatan namun belum maksimal pada keterampilan bicara melalui boneka tangan pada anak usia 5-6 tahun di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari. Adapun hasil distibusi frekuensi dan presentase hasil observasi siklus I tentang perkembangan keterampilan bicara anak melalui kegiatan boneka tangan Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara maka dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 2. Data Frekuensi dan Presentase Siklus I Keterampilan Bicara Anak Melalui Boneka Tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Perkembangan Keterampilan Bicara Anak Usia 5-6 Tahun Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik Jumlah Frekuensi (F) Presentase (%) 20,00% 24,00% 32,00% 24,00% Setelah melihat tabel di atas maka disimpulkan bahwa upaya peningkatan keterampilan bicara melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara baru mencapai 56%, atau sebayak 14 anak yang masuk kepada kategori berkembang sangat baik dan berkembang sesuai harapan, sedangkan sisanya yakni sebayak 44% atau ada sebanyak 11 anak di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari masuk kategori mulai berkembang dan kategori belum Berdasarkan pada tabel distribusi frekuensi dan presentase apabila mengacu pada kriteria yang ditetapkan yakni hasil perkembangan baru mencapai 56%, sehingga belum mencapai presentase 80% ke atas maka tindakan penelitian pada siklus I belum berhasil, oleh karena itu peneliti mengadakan perbaikan dan melanjutkan tindakan penelitian pada siklus II dalam rangka untuk mengadakan perbaikan sehingga dapat mencapai target yang telah ditentukan peneliti. Berdasarkan tabel pada siklus I di atas tentang peningkatkan keterampilan bicara anak melalui boneka tangan Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari maka diketahui bahwa keterampilan bicara anak sudah berkembang namun hasilnya belum optimal sehingga perlu ada tindakan lebih lanjut. Pada proses pembelajaran Siklus I masih terdapat hal-hal yang harus dibenahi diantaranya dalam pengkondisian anak, menerangkan tema, dan menjelaskan tentang boneka tangan kurang jelas, sehingga anak kurang tertarik dengan pembelajaran meningkatkan kemampuan berbicara melalui boneka tangan. Sehingga pada Siklus I kemampuan berbicara pada anak belum berhasil memenuhi target yang Keberhasilan pembelajaran pada siklus I ini menunjukkan bahwa siklus belum bisa untuk dihentikan karena belum memenuhi target keberhasilan yakni O 80% dari jumlah anak sehingga perlu melakukan perbaikan pada tindakan siklus II. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pada kegiatan tindakan siklus II, maka peneliti melihat anak semuanya terlihat lebih semangat mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada tahap ini peneliti melihat anak nampak lebih semangat mengikuti kegiatan bercerita dengan boneka tangan, dari setiap pertemuan keberhasilan anak nampak mengalami peningkatan anak sudah tidak mengalami sedikit kesulitan dalam melakukan kegiatan bercerita dengan boneka tangan. Pembelajaran pada siklus II peningkatan keterampilan bicara anak melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara selama dua kali pertemuan terbukti mengalami peningkatan. Keberhasilan mencapai 36% atau sebanyak 9 anak yang telah mengalami perkembangan keterampilan bicara pada Berkembang Sangat Baik (BSB), kemudian 48% atau sebanyak 12 anak terbukti perkembangan keterampilan bicara anak Berkembang Sesuai Harapan (BSH), selanjutnya ada 8% atau 2 anak yang perkembangan keterampilan bicara masuk dalam kategori Mulai Berkembang (MB) dan sisanya adalah terdapat 8% atau 2 anak peningkatan perkembangan keterampilan bicara anak masuk kategori Belum Berkembang (BB). Distibusi frekuensi dan presentase pada tindakan siklus II tentang perkembangan keterampilan bicara anak melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 3. Frekuensi dan Presentase Siklus II Keterampilan Bicara Melalui Boneka Tangan Anak di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Perkembangan Keterampilan Bicara Anak Usia 5-6 Tahun Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik Jumlah Frekuensi (F) Presentase (%) Distribusi tabel hasil pengamatan siklus II pada semua indikator, maka dapat disimpulkan bahwa upaya peningkatan keterampilan bicara anak melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara sudah mencapai 84%, atau sebayak 21 anak yang masuk kategori berkembang sangat baik dan berkembang sesuai harapan, sedangkan sisanya 16% atau sebanyak 4 anak masih masuk kategori mulai berkembang dan belum berkembang. Keberhasilan proses pembelajaran pada siklus II ini menunjukkan bahwa siklus sudah boleh dihentikan karena sudah memenuhi target keberhasilan di atas 80% dari jumlah anak dimana keterampilan bicara anak mengalami peningkatan 84%, sehingga melalui boneka tangan dapat meningkatkan keterampilan bicara anak, hal ini dapat dijadikan salah satu alternatif dalam pembelajaran untuk guru. Berdasarkan tabel pada siklus II di atas tentang perkembangan keterampilan bicara anak melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara maka dapat diketahui bahwa anak sudah berkembang sesuai harapan dan berkembang sangat baik yakni dari keempat indikator yang ditetapkan peneliti anak-anak dapat berkembang secara optimal dan mencapai target keberhasilan yang telah ditentukan. Setelah melihat hasil pengamatan, dapat disimpulkan terdapat peningkatan keterampilan bicara anak melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara sudah mencapai 84%, atau sebayak 21 anak yang masuk kategori berkembang sangat baik dan berkembang sesuai harapan, sedangkan sisanya sebesar 16% atau sebanyak 4 anak di PAUD Santiaji Jaya Mertasari yang masuk pada kategori mulai berkembang dan belum berkembang. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Untuk memudahkan pemahaman terhadap tingkat perkembangan keterampilan bicara anak melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara dapat dilihat pada tabel perbandingan pra siklus, siklus I dan siklus II berikut: Tabel 4. Distribusi Perbandingan Pekembangan Keterampilan Bicara Anak Pra Siklus. Siklus I dan Siklus II Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Perkembangan Keterampilan Bicara Anak Usia 5-6 Tahun Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik Jumlah Pra Siklus (F) (%) Siklus I (F) (%) Siklus II (F) (%) Untuk lebih jelasnya berikut peneliti sajikan grafik perkembangan keterampilan bicara melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari, dapat dilihat pada diagram batang tentang frekuensi perkembangan keterampilan bicara melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara adalah: Berkembang Sangat Baik (BSB) Berkembang Sesuai Harapan (BSH) Pra Siklus Siklus I Siklus II Gambar 2. Presentase Diagram Batang Keterampilan Bicara Anak Pada Pra Siklus. Siklus I dan Siklus II Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Berdasarkan tabel dan grafik diagram perbandingan perkembangan antara pra siklus, siklus I dan siklus II diketahui bahwa hasil pra siklus diketahui bahwa perkembangan keterampilan bicara anak Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Banjarnegara baru mencapai 24,00%, atau terdapat sebayak 6 anak yang masuk kategori berkembang sangat baik dan juga berkembang sesuai harapan. Keterampilan bicara anak pada siklus I Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari baru mencapai 56% atau terdapat sebayak 14 anak yang masuk kategori berkembang sangat baik dan berkembang sesuai harapan. Hasil tindakan siklus II keterampilan bicara anak melalui penerapan boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari mencapai 84%, atau sebayak 21 anak yang masuk kategori berkembang sangat baik dan berkembang sesuai harapan, oleh karena itu penelitian dianggap sudah selasai atau berhasil. Perkembangan keterampilan bicara melalui boneka tangan di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari Kecamatan Purwanegara Banjarnegara sudah berkembang sangat baik, jadi keterampilan bicara merupakan salah satu kemampuan dalam berbahasa yang utama dan pertama kali dipelajari manusia dalam hidupnya sebelum mempelajari ketrampilan bahasa lainnya. Sejak seorang bayi lahir ia sudah belajar menyuarakan lambang-lambang bunyi bicara melalui tangisan untuk berkomunikasi dengan lingkungan alam sekitarnya. Suara tangisan menandakan adanya potensi dasar kemampuan berbicara dari seorang anak yang perlu distimulasi dan dikembangkan lebih lanjut oleh lingkungan melalui pembelajaran. Keterampilan bicara anak di Lembaga PAUD Santiaji Jaya Mertasari diarahkan agar anak usia 5-6 tahun dapat meningkatkan kemampuan dalam mengucapkan bunyi artikulasi untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan fikiran, gagasan dan perasan yang sudah berkebang dengan sangat baik setelah dilakukan penelitian tindakan kelas. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pembahasan Penelitian tindakan kelas yang dilakukan di PAUD Santiaji Jaya Mertasari menunjukkan bahwa penggunaan media boneka tangan terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara anak usia 5Ae6 tahun. Peningkatan tersebut terlihat dari perubahan persentase jumlah anak pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB), mulai dari pra-siklus hingga siklus II. Pada pra-siklus, hanya 6 anak . %) yang mampu menunjukkan keterampilan berbicara sesuai indikator perkembangan, seperti menyebutkan nama benda, mengungkapkan perasaan, menceritakan kembali pengalaman, atau menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana. Rendahnya kemampuan ini mengindikasikan kurangnya stimulus yang menarik minat anak untuk berbicara secara aktif. Setelah diterapkannya tindakan pada siklus I, terjadi peningkatan menjadi 14 anak . %). Boneka tangan yang digunakan guru mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memantik rasa ingin tahu anak. Dalam teori Vygotsky interaksi sosial dan dukungan . dari guru melalui dialog dengan boneka dapat membantu anak membangun kemampuan berbahasa secara bertahap. Boneka tangan berfungsi sebagai AumediatorAy yang membuat anak lebih berani, sehingga mereka lebih mudah mengekspresikan gagasan dan perasaan. Storytelling meningkatkan kemampuan ekspresif dan partisipasi anak. Studi implementasi metode storytelling di konteks PAUD melaporkan peningkatan kemampuan bahasa ekspresif . enyimak, bercerita, menjawa. ketika storytelling dilakukan berulang dan terarah, termasuk penekanan pada pertanyaan terbuka yang mendorong elaborasi anak. Temuan tersebut mendukung pola kenaikan Anda dari pra-siklus ke Siklus I karena boneka tangan berfungsi sebagai alat storytelling yang memfasilitasi dialog (Yanti, 2. Pada siklus II, terjadi peningkatan yang lebih tinggi, yaitu 21 anak . %). Hal ini menunjukkan bahwa media boneka tangan memberikan efek yang signifikan terhadap komunikasi verbal anak. Mereka menjadi lebih percaya diri, berani mengemukakan pendapat, mampu bercerita, serta menggunakan kosakata yang lebih variatif. Temuan ini sejalan dengan pendapat Hurlock . yang menegaskan bahwa kemampuan berbicara akan meningkat melalui latihan terus-menerus dalam lingkungan yang mendukung dan menarik bagi anak. Lonjakan signifikan pada Siklus II sangat mungkin disebabkan oleh kombinasi scaffolding guru yang lebih baik, penerapan modeling/demonstrasi yang sistematis, dan peningkatan motivasi anak melalui pembelajaran yang menyenangkan Ai mekanisme yang juga didukung studi-studi kontemporer (Asmita, 2. Boneka tangan juga memungkinkan pembelajaran yang berbasis bermain, sesuai karakteristik anak usia dini. Menurut Sujiono . , pembelajaran PAUD harus dilakukan melalui aktivitas yang menyenangkan, imajinatif, dan eksploratif. Melalui boneka tangan, anak dapat berperan, berdialog, dan berimajinasi, sehingga secara tidak langsung menstimulasi perkembangan aspek bahasa. Dengan demikian, hasil penelitian ini membuktikan bahwa pemanfaatan boneka tangan merupakan strategi efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara, khususnya di PAUD Santiaji Jaya Mertasari. Peningkatan yang konsisten pada setiap siklus memperkuat bahwa tindakan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan belajar anak, terutama dalam aspek komunikasi lisan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas mengenai AuUpaya Meningkatkan Keterampilan Bicara Melalui Boneka Tangan pada Anak Usia 5Ae6 Tahun di Lembaga PAUD Santiaji Jaya MertasariAy, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media boneka tangan terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara anak. Peningkatan tersebut terlihat secara signifikan mulai dari pra-siklus hingga siklus II. Pada pra-siklus, hanya 24% . yang mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) dan Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, terjadi peningkatan mencapai 56% . Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Peningkatan yang lebih optimal terjadi pada siklus II, dimana persentase mencapai 84% . Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan boneka tangan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memungkinkan anak mengekspresikan gagasan, memperluas kosakata, serta meningkatkan keberanian berbicara. Media boneka tangan membantu anak membangun dialog, bercerita, dan bermain peran tanpa rasa takut karena fokus anak beralih pada boneka sebagai perantara komunikasi. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran berbasis bermain yang menekankan bahwa pengalaman konkret dan stimulasi visual mampu memperkuat perkembangan bahasa anak usia dini. Selain itu, penggunaan media yang menarik memotivasi anak untuk terlibat aktif dalam kegiatan berbicara, sehingga terjadi peningkatan kemampuan secara bertahap pada setiap siklus. Dengan demikian, penerapan media boneka tangan dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak usia 5Ae6 tahun. Guru PAUD disarankan mengintegrasikan media ini secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran bahasa karena terbukti meningkatkan interaksi verbal, kreativitas bercerita, dan kepercayaan diri anak. DAFTAR KEPUSTAKAAN Amelia. , & Winarjo. Penerapan metode eurhythmics Dalcroze pada pembelajaran biola tingkat dasar di Sanggar Ansambel Musik Suronatan. Jurnal Pendidikan Musik. Aerin. , et al. The influence of loose part media on the ability to recognize letters in children aged 4Ae5 years. Joyced: Journal of Early Childhood Education, 5. Daryanto. Penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah. Gava Media. Direktorat Pembinaan TK. Pedoman pembelajaran bidang pengembangan berbahasa di taman kanak-kanak. Departemen Pendidikan Nasional. Gunarti. Metode pengembangan perilaku dan kemampuan pada anak usia dini. Departemen Pendidikan Nasional. Lestari. Story telling sebagai sarana perkembangan bahasa pada anak. Jurnal Pendidikan Tambusai. https://w. org/index. php/jptam Mansur. Pendidikan anak usia dini dalam Islam. Pustaka Pelajar. Masitoh, et al. Strategi pembelajaran TK. Universitas Terbuka. Moeslichatoen. Metode pengajaran di taman kanak-kanak. Rineka Cipta. Moleong. Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revis. PT Remaja Rosdakarya. Musfiroh. Bermain sambil belajar dan mengasah kecerdasan: Stimulasi multiple intelligences anak TK. Departemen Pendidikan Nasional. Nahdly. Pemerolehan dan perkembangan bahasa pada anak usia dini dengan menggunakan metode drill. Journal of Applied Linguistics and Islamic Education, 3. Nurbiana. Metode pengembangan bahasa. Universitas Terbuka. Permendikbudristek Republik Indonesia. Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar isi dan capaian pembelajaran PAUD. Saputra, & Suryandi. Perkembangan kognitif anak usia dini dalam perspektif Vygotsky dan implikasinya dalam pembelajaran. PELANGI: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Islam Anak Usia Dini. Sudjana. Penilaian hasil proses belajar mengajar. PT Remaja Rosdakarya. Suhartono. Pengembangan keterampilan bicara anak usia dini. Departemen Pendidikan Nasional. Suyanto. Konsep dasar pendidikan anak usia dini. Departemen Pendidikan Nasional. Syah. Psikologi pendidikan: Suatu pendekatan baru. PT Remaja Rosdakarya. Tarigan. Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa. Angkasa