ABDIKA: Jurnal Pengabdian Pedagogika Vol. No. Desember, 2022, pp. Perilaku 3R (Right. Reality. Responsibl. Sebagai Penguatan Mental Dalam Pencegahan Covid-19 Remaja Muslim di Pondok Pesantren Al-Kautsar Pamekasan Ishlakhatus SaAoidah*. Moh. Ziyadul Haq Annajih2 IAIN Madura, 2IAI Miftahul Ulum Pamekasan E-mail: ishlakhatus@iainmadura. Riwayat Artikel: Dikirim: 25-11-2022 Direvisi: 7-12-2022 Diterima: 26-12-2022 Abstrak: Kata Kunci: Covid-19. Penguatan Mental. Perilaku 3R. Remaja Muslim Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengembangkan perilaku positif 3R . ight, reality, and responsibl. sebagai penguatan mental dalam pencegahan Covid-19 pada remaja muslim di Pondok Pesantren Al-Kautsar Pamekasan. Melalui kajian awal diketahui bahwa remaja muslim di pondok pesantren tersebut merasa stres dan cemas karena kurangnya pemahaman dan informasi terkait Covid-19. Dengan kecenderungan tersebut diasumsikan bahwa mereka perlu dibantu mengembangkan perilaku positif. Untuk itu diperlukan upaya edukasi pengembangan perilaku yang baik dan benar, perilaku realistis dan perilaku bertanggungjawab bagi remaja muslim. Materi pelatihan meliputi . pemahaman potensi diri, . resiko dan bahaya Covid-19, . perencanaan pribadi dan . pengembangan perilaku positif 3R. Pelatihan dikemas dalam bimbingan kelompok dengan metode PIJAR yaitu Pahami diri. Identifikasi kebutuhan dan harapan. Jelaskan dan evaluasi perilaku saat ini. Arahkan rencana dan solusi dan Realisasi rencana. Pendahuluan Remaja adalah kelompok penduduk di suatu wilayah yang memiliki rentang usia 1019 tahun. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa (Diananda, 2. Selama tahap pertumbuhan dan perkembangan remaja terdapat banyak perubahan. Perubahan yang terjadi diantaranya adalah perubahan biologis, psikologis Namun umumnya proses pematangan kejiwaan terjadi lebih lambat ketimbang proses pematangan fisik. Status kesehatan mental anak-anak dan remaja menjadi perhatian dunia karena 10-20% dari remaja mengalami gangguan mental (Oktaviany, 2. Belum lagi pandemi Covid-19 ini memungkinkan angka tersebut akan bertambah bila tidak ditangani secara serius. ABDIKA: Jurnal Pengabdian Pedagogika Vol. No. Desember, 2022, pp. Pandemi Covid-19 telah membawa tantangan terbesar dunia bagi suatu generasi saat Pandemi ini membawa dampak terhadap kesehatan global, perekonomian dunia, kohesi sosial, dan aktivitas keseharian yang berubah dari awalnya saling tatap muka menjadi serba virtual (Singh et al. , 2. Pandemi ini disebabkan oleh virus Corona dimana virus ini dapat ditemukan pada manusia dan hewan. Sebagian virusnya dapat menginfeksi manusia serta menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit umum seperti flu, hingga penyakitpenyakit yang lebih fatal, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Tanda dan gejala umum infeksi Covid-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas (Putri, 2. Masa inkubasi virus ini rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Kasus Covid-19 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian. Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan pada sebagian besar kasus adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas, dan hasil rontgen menunjukkan infiltrat pneumonia luas di kedua paru (Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2. Virus ini telah banyak memakan korban jiwa. Melihat tingginya angka kematian dan mudahnya penyebaran membuat pandemi ini menjadi momok yang menakutkan kepada mereka. Perasaan cemas, takut, stres, jenuh dirasakan selama pandemi oleh berbagai kalangan usia. Anak-anak dan remaja di masa pandemi ini sangat rentan terhadap risiko stres berkelanjutan sehingga kesehatan jiwa mereka membutuhkan pertimbangan khusus selama dan setelah pandemi berakhir. Depresi dan ansietas merupakan gangguan jiwa yang paling umum ditemukan pada usia anak-anak dan juga remaja dimana gangguan tersebut memberikan dampak buruk yang signifikan dan bahkan dapat mencetus ide bunuh diri pada mereka (Gosnell & Gable, 2. Jarnawi . juga menyimpulkan bahwa pandemi ini tidak hanya mengacaukan tatanan hidup tetapi juga memunculkan gangguan psikologis seperti stres dalam bentuk ketakutan, kegelisahan dan Tak sedikit remaja yang mengeluhkan sulit fokus selama pembelajaran daring. Hal ini termasuk salah datu gejala dari beberapa gangguan jiwa seperti ansietas. Aspek kecemasan yaitu aspek perilaku, kognitif, dan juga afektif (Fitria & Ifdil, 2020. Sari et al. , 2. Dimana aspek perilaku diantaranya adalah perasaan gelisah, fisik terasa tegang, tremor, reaksi terkejut, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung terkena cedera, menarik diri dari hubungan interpersonal, inhibisi, lari dari masalah, menghindar, hiperventilasi serta merasa sangat waspada. Lalu aspek kognitif diantaranya adalah perhatian terganggu, konsentrasi memburuk, mudah lupa, salah menilai, preokupasi, pikiran terhambat, lapang persepsi menurun, kreativitas menurun, bingung, sangat waspada, keasadaran diri, kehilangan objektivitas, takut kehilangan kendali, takut pada gambaran visual, takut cedera atau kematian, kilas balik, dan mimpi buruk. Lalu aspek afektif, diantaranya adalah mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, gugup, ketakutan, waspada, kengerian, kekhawatiran, kecemasan, mati rasa, rasa bersalah, dan malu. ABDIKA: Jurnal Pengabdian Pedagogika Vol. No. Desember, 2022, pp. Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pandemi terhadap kesehatan jiwa. Diantaranya survei yang dilakukan di Tiongkok pada awal wabah Covid-19 menemukan bahwa 53,8% responden mengalami dampak psikologisnya sedang hingga parah. 16,5% mengalami gejala depresi sedang hingga berat. 28,8% mengalami gejala kecemasan sedang hingga berat, dan 8,1% mengalami tingkat stres sedang hingga berat (Wang et al. , 2. Penelitian yang dilakukan di China pada siswa selama pandemi covid-19 ditemukan bahwa sekitar 25% dari responden mengalami gejala kecemasan, yang positif berkorelasi dengan meningkatnya kekhawatiran tentang keterlambatan akademik, dampak ekonomi akibat pandemi, dan dampak pada kehidupan sehari-hari (Annajih et al. , 2. Selanjutnya, di antara banyak survei siswa yang dikelola di seluruh dunia, satu survei oleh Young Minds menunjukkan bahwa terdapat 83% responden muda setuju bahwa pandemi memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya, terutama karena penutupan sekolah, kehilangan rutinitas, dan koneksi sosial terbatas (Fakhriyani et al. Banyaknya survei yang telah dilakukan membuat kita sadar bahwa pandemi Covid-19 ini mampu mengganggu kesehatan jiwa remaja. Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Pediatrics Journal dan dilakukan di Hubei China serta melibatkan 2. 330 anak sekolah membuktikan bahwa anak-anak usia sekolah yang mengalami karantina proses belajar akibat Covid-19 menunjukkan beberapa tanda-tanda tekanan emosional. Bahkan, penelitian lanjutan dari observasi tersebut menunjukkan bahwa 22, 6% dari anak-anak yang diobservasi mengalami gejala depresi dan 18, 9% mengalami kecemasan. Hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu 72% anak-anak Jepang merasakan stress akibat Covid-19. Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Investigasi yang dilakukan oleh Centre for Disease Control (CDC) menunjukkan 7,1% anak-anak dalam kelompok usia 3 hingga 17 tahun telah didiagnosis dengan kecemasan, dan sekitar 3,2% pada kelompok usia yang sama menderita depresi. Bahkan, penelitian lainnya menunjukkan bahwa isolasi akibat Covid-19 ini menyebabkan kondisi kesehatan mental anak-anak berkebutuhan khusus, seperti ADHD. ASD, dan disabilitas lainnya semakin buruk. Di Indonesia, implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah ini tentunya berdampak signifikan pada kesehatan mental para siswa meskipun dengan derajat yang bervariasi. Data yang diperoleh dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19 (BNPB, 2. menunjukkan bahwa 47% anak Indonesia merasa bosan di rumah, 35% merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15% anak merasa tidak aman, 20% anak merindukan teman-temannya, dan 10% anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga. Kondisi ini apabila tidak diatasi, tentunya akan menyebabkan hal yang lebih fatal. Salah satu contoh kasus pernah terjadi di Indonesia pada 17 Oktober 2020 tepatnya di Kabupaten Gowa. Sulawesi Selatan. Seorang remaja siswi kelas 2 SMA yang nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun rumput (Kompas, 2. Diduga remaja tersebut mengalami depresi akibat tekanan pembelajaran jarak jauh yang dialaminya. Sebelum meminum racun tersebut, ia sempat mengeluh kepada temannya bahwa dia ABDIKA: Jurnal Pengabdian Pedagogika Vol. No. Desember, 2022, pp. mengalami kesulitan dalam mengakses tugas belajar di sekolah akibat sinyal di area rumahnya yang tidak baik. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa anak dan remaja yang mengalami pembatasan aktivitas belajar di rumah adalah kelompok rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Sebagian besar remaja merasakan perubahan yang terjadi selama pandemi covid-19 dan sebagian kecil merasa tidak yakin atau meragukan adanya virus covid19. Pada umumnya, remaja merasa stres atau cemas atas perubahan yang terjadi, karena kurangnya pemahaman dan informasi yang mereka peroleh terkait covid-19. Kecemasan terhadap kondisi pandemi menyebabkan remaja merasakan adanya perubahan pola konsumsi sehari-hari. Meskipun sebagian besar remaja yakin adanya virus covid-19, namun penerapan adaptasi tatanan kehidupan baru belum sepenuhnya dilakukan. Untuk itu, perlunya dilakukan penyampaian informasi yang benar tentang virus covid-19 dan penguatan penerapan protokol kesehatan serta peningkatan kesadaran remaja untuk melakukan adaptasi tatanan kebiasaan baru secara terus menerus. Beberapa persoalan yang teridentifikasi dari focus group discussion yang dilakukan pada 10 Agustus 2021 dengan remaja muslim di Pondok Pesantrean Al-Kautsar diketahui bahwa merasa stres atau cemas karena kurangnya pemahaman dan informasi terkait Covid19. Hal ini dikarenakan meraka juga merupakan santri mukim yang tentunya memiliki keterbatasan ruang gerak dan informasi terkait kejadian atau fenomena di luar pondok. Oleh karena itu, maka kegiatan pengabdian ini dimaksudkan untuk melatih remaja muslim di pondok pesantren Al-Kautsar menganai perilaku 3R yaitu perilaku yang right atau benar secara agama, norma dan budaya, perilaku yang realistis atau perilaku saat ini yang sesuai kondisi diri dan ketiga perilaku responsibility atau perilaku bertanggungjawab. Ketiga perilaku tersebut akan dapat mengembangkan pribadi positif mereka sebagai penguatan mental dalam pencegahan Covid-19. Metode Kegiatan ini menerapkan metode Pijar yaitu Pahami diri. Identifikasi kebutuhan dan harapan. Jelaskan dan evaluasi perilaku saat ini. Arahkan rencana dan solusi dan Realisasi Metode ini merupakan rangkaian tahap kegiatan yang terdiri dari Pahami diri. Identifikasi kebutuhan dan harapan. Jelaskan dan evaluasi perilaku saat ini. Arahkan rencana dan solusi dan Realisasi rencana. Model ini dikembangkan dari konsep dasar Choice Theory and Reality Therapy. Terapi ini berfokus pada pengembangan perilaku positif dan pengembangan tanggung jawab (Wubbolding, 2. Teori ini dipilih karena sesuai dengan permasalahan remaja muslim di lokasi sasaran pengabdian masyarakat. Pendekatan ini akan dimodifikasi sesuai dengan karakteristik remaja. Karena itu maka teknik-teknik yang digunakan akan disesuaikan dengan perkembangan anak. salah satu nya melalui menggambar dalam mengungkapkan kondisi diri anak. Dalam realisasinya dilakukan kegiatan-kegiatan penerapan tahapan Model Pijar ABDIKA: Jurnal Pengabdian Pedagogika Vol. No. Desember, 2022, pp. dengan melakukan bimbingan dan pembelajaran aktif melalui metode ekspositori persuasif, metode dialog interaktif, metode diskusi kelompok, dan metode permainan dan penugasan. setelah pelaksanaan pelatihan akan dilakukan pendampingan dan konsultasi. Pendampingan dan konsultasi akan dilakukan secara langsung . atap muk. Selanjutnya akan dilakukan evaluasi dan refleksi kegiatan. Agar kegiatan ini tetap berkelanjutan akan dilakukan follow up. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini direalisasikan melalui prosedur sebagai berikut: . Perencanaan Pelatihan dan Penentuan sasaran. Pada tahap pertama ini adalah melakukan pendataan calon peserta pelatihan. Syarat peserta meliputi. usia calon peserta pelatihan berkisar antara 13 sd 17 tahun atau usia remaja . memiliki permasalahan kecemasan dalam mengahadapi Covid-19. Pengembangan bahan pelatihan oleh tim Bahan pelatihan yang dikembangkan yaitu . buku panduan kegiatan, . buku materi . media pelatihan berupa power point dan sejumlah instrumen evaluasi proses dan Implementasi Pelatihan Perilaku 3R (Right. Reality and Responsibl. Kegiatan melalui 2 kali kegiatan, yaitu kegiatan pelatihan awal (I. , pelaksanaan rencana diri secara mendiri (O. dan ketiga presentasi hasil, refleksi kegiatan dan pelaporan. Pelatihan dilaksanakan dengan menggunakan salah satu pendekatan konseling yaitu konseling realita yang dimodifikasi menjadi model PIJAR sehingga sesuai dengan kondisi sasaran. Pelatihan dilakukan untuk melatih peserta agar memahami diri, mampu membuat rencana masa depan dan menentukan perilaku positif 3 R dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19. Pelatihan dilakukan selama 6 jam. Materi pelatihan meliputi Pemahaman Potensi Diri. Resiko dan Bahaya Covid-19. Perencanaan Pribadi dan Pengembangan Perilaku Positif 3R. Seluruh materi tersebut dikompilasikan dalam modul pelatihan. Dalam proses pelatihan, peserta pelatihan dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang anggota. Pelatihan terdiri dari 3 sesi, dengan durasi satu setengah sampai dengan dua jam tiap sesinya. Dalam setiap sesi disajikan pula tugastugas latihan. Pertemuan diselenggarakan dalam kelompok besar sejumlah 35 orang remaja Target capaian setelah pelatihan mencapai kurang lebih 75 %, masing-masing peserta pelatihan memperoleh tugas individual, dan menerapkan panduan berbagai aktivitas dan umpan baik yang diperoleh, mendiskusikan dengan peserta lainnya tentang apa yang telah mereka lakukan selama pelatihan, tipe dan level masalah yang bagaimana yang mereka tangani, tipe setting atau konteks dan kesiapan peserta dalam menjalankan tugas yang Evaluasi kegiatan dilakukan melalui wawancara dan pengamatan. Hasil Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada 13 November 2021 di Ruang Pertemuan Pondok Pesantren Al-Kautsar Pamekasan. Kegiatan yang diikuti oleh 35 orang remaja muslim ini, bertujuan untuk melatih remaja muslim di pondok pesantren Al-Kautsar mengenai perilaku 3R sebagai penguatan mental dalam pencegahan Covid-19. ABDIKA: Jurnal Pengabdian Pedagogika Vol. No. Desember, 2022, pp. Pelaksanaan kegiatan ini hingga telah menghasilkan beberapa hal itu capaian target kegiatan berupa peningkatan pengetahuan peserta tentang hakikat perilaku 3R dan manfaatnya dalam kehidupan, kemampuan peserta dalam memahami potensi diri, kemampuan peserta dalam mengembangkan rencana perilaku yang baik. Ketercapaian target tersebut diketahui melalui paparan refleksi secara verbal yang dilakukan pada saat akhir Berdasarkan hasil refleksi peserta diakhir kegiatan, peserta memperoleh hasil yang baik berupa pemahaman diri dan keterampilan mengembangkan rencana aktivitas atau kegiatan secara bertanggung jawab. Peningkatan kemampuan tersebut terlihat dari hasil kerja peserta ketika melakukan aktivitas pelatihan. Dalam proses kegiatan, menyampaikan persepsi diri, pemahaman diri dan kebiasaan seharihari. Selanjutnya pelatih memberikan pertanyaan umpan balik yang bertujuan mengajak peserta melakukan evaluasi diri dan refleksi apakah perilakunya sudah tepat ataukan belum. Peserta menuliskan pandangan, sikap dan rencananya dalam sebuah kertas secara berkelompok dan kemudian di presentasinya di hadapan forum kegiatan. Proses sedemikian untuk melatih keterbukaan diri dan komitmen berperilaku baik, realistis dan bertanggung jawab. Pelaksanaan evaluasi kegiatan dilakukan secara langsung melalui penyampaian verbal. Setiap peserta diajak untuk menyampaikan perasaan, pikiran dan komitmen dalam berperilaku baik, realistis dan bertanggung jawab. Aktivitas semacam ini dapat bertujuan membangun kepercayaan diri dan keberanian peserta untuk mengungkapkan keberadaan dirinya sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi di hadapan forum. Sebagai akhir dari kegiatan pelatihan ini remaja muslim yang terlibat dalam kegiatan menuliskan rencana diri yang meliputi harapan masa depan atau rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek. Mereka juga menulis upaya dan komitmen perilaku yang akan direalisasikan. Komitmen perilaku dibawa kembali ke kamar pondok dan ditempel di dinding kamar sebagai pengingat bahwa mereka adalah pribadi positif yang memiliki harapan besar dan berani menghadapi tantangan zaman khususnya pada era kebiasaan baru. Diskusi