CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Penerapan Metode Pembelajaran Debat Aktif untuk Membangun Sikap Demokratis Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Luqman Wijayanto1. Machmud Al Rasyid2. Winarno3 Universitas Sebelas Maret1,2,3 Email: wijayantoluqman_05@student. id, machmudalrasyid@staff. winarnoarmoatmojo@staff. Abstrak Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini meneliti penerapan metode debat aktif untuk membangun sikap demokratis siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 2 Boyolali. Penelitian dua siklus ini melibatkan siswa kelas XI-7 dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan studi dokumen, yang dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian membuktikan keefektifan metode debat aktif. Rata-rata sikap demokratis siswa meningkat signifikan dari 50% pada pra-siklus menjadi 62,5% pada siklus pertama lalu 87,5% pada siklus 2, dengan indikator toleransi terhadap perbedaan mencapai 100%. Partisipasi siswa juga naik dari 68,75% menjadi 93,75%. Peningkatan ini didukung oleh pendekatan terstruktur, pengalaman belajar nyata, dan peran guru sebagai fasilitator. Tantangan seperti ketimpangan partisipasi dan manajemen waktu berhasil diatasi melalui pelatihan debat, pembagian peran, dan evaluasi berbasis umpan balik. Kesimpulannya, debat aktif efektif membentuk sikap demokratis ketika didukung perencanaan matang, topik kontekstual, dan lingkungan inklusif. Implikasinya, guru disarankan mengadopsi metode interaktif ini untuk menciptakan pembelajaran yang partisipatif. Penelitian lanjutan dapat mengembangkan modul debat berbasis isu lokal agar pendidikan demokrasi tidak hanya teoritis tetapi juga melatih keterampilan sosial siswa sebagai warga negara. Kata Kunci: Pendidikan Pancasila. Metode Pembelajaran Debat Aktif. Sikap Demokratis Abstract This Classroom Action Research (CAR) investigates the application of the active debate method to foster students' democratic attitudes in Pancasila Education at SMAN 2 Boyolali. This two-cycle study involved students from class XI-7, with data collected through interviews, observation, and document studies, which were analyzed both qualitatively and quantitatively. The results prove the effectiveness of the active debate method. The average score of students' democratic attitudes increased significantly from 50% in the pre-cycle to 62. 5% in the first cycle, and then to 87. 5% in cycle 2, with the indicator of tolerance for differences reaching Student participation also increased from 68. 75% to 93. This improvement was supported by a structured approach, authentic learning experiences, and the teacher's role as a facilitator. Challenges such as uneven participation and time management were successfully overcome through debate training, role distribution, and feedback-based evaluation. conclusion, active debate is effective in shaping democratic attitudes when supported by JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 careful planning, contextual topics, and an inclusive environment. The implication is that teachers are advised to adopt this interactive method to create participatory learning. Further research can develop debate modules based on local issues so that democratic education is not only theoretical but also trains students' social skills as citizens. Key words: Pancasila Education. Active Debate Learning Method. Democratic Attitudes Pendahuluan Belajar merupakan proses perubahan perilaku melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan (Surya, 1. Dalam konteks sekolah, proses belajar mengajar memerlukan sistem pendidikan yang memperhatikan kebutuhan peserta didik, pendidik, dan lingkungan (Zulfahnur et al. , 2. Namun, observasi di SMAN 2 Boyolali menunjukkan bahwa metode ceramah yang dominan digunakan guru Pendidikan Pancasila menciptakan pembelajaran monoton dan kurang melibatkan Padahal, variasi metode seperti debat aktif dapat mengakomodir keragaman gaya belajar dan meningkatkan partisipasi. Tantangan ini diperparah oleh faktor seperti kurangnya kesempatan berpendapat dan penguasaan materi yang tidak merata di kalangan siswa. Siswa di SMAN 2 Boyolali menyatakan kebutuhan akan metode interaktif seperti debat aktif untuk memahami materi demokrasi secara mendalam. Guru juga menyadari keterbatasan metode ceramah dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis di era modern. Jika tidak diatasi, hal ini berisiko menurunkan prestasi belajar dan kepercayaan diri siswa. Debat aktif dipilih sebagai solusi karena kemampuannya membangun sikap demokratis melalui praktik langsung berargumentasi dan menghargai perbedaan pendapat (Lie et al. , 2. Implementasinya memerlukan perancangan sistematis oleh guru, termasuk memastikan pemahaman awal siswa dan pemerataan kesempatan berpartisipasi (Slavin, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini merumuskan masalah: "Apakah penerapan metode debat aktif dapat membangun sikap demokratis siswa pada materi praktik demokrasi di Pendidikan Pancasila fase F SMAN 2 Boyolali?". Tujuannya adalah menguji efektivitas metode tersebut dalam konteks tersebut. Penelitian ini relevan dengan urgensi penguatan nilai demokrasi dalam kurikulum Pendidikan Pancasila (Kemdikbud, 2. dan teori konstruktivisme yang menekankan pembelajaran aktif (Vygotsky, 1. Fokus pada fase F (SMA) dipilih karena tingkat kematangan siswa yang memungkinkan analisis kompleks tentang demokrasi. Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pembelajaran demokratis berbasis debat dan pengayaan pedagogi Pendidikan Pancasila (Samsuri, 2. Secara praktis, hasilnya dapat menjadi panduan bagi guru dalam merancang pembelajaran interaktif serta bahan evaluasi bagi sekolah. Bagi siswa. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 metode ini diharapkan meningkatkan keterampilan abad ke-21 seperti kolaborasi dan berpikir kritis. Dengan demikian, penelitian ini menjembatani kesenjangan antara teori pendidikan demokrasi dan praktik kelas di Indonesia. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 2 Boyolali dengan menerapkan model penelitian tindakan kelas (PTK) Kemmis dan Taggart yang berfokus pada perbaikan praktik pembelajaran melalui siklus refleksi-aksi. Subjek penelitian adalah 36 siswa kelas XI-7 . laki-laki, 33 perempua. dengan pendekatan kualitatif yang mengombinasikan teknik pengumpulan data primer . awancara guru, observasi partisipati. dan sekunder . nalisis dokumen RPP, modul aja. (Suharsimi, 2006. Sinaga, 2. Validitas data dijamin melalui triangulasi sumber . erbandingan respons siswa-gur. dan metode . onvergensi hasil wawancara, observasi, dan dokume. (Murdiyana, 2. , sementara analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian matriks, dan verifikasi kesimpulan (Abdussamad, 2. Indikator keberhasilan ditetapkan dengan target 75% siswa menunjukkan peningkatan partisipasi debat dan sikap demokratis yang diukur melalui lembar observasi dan refleksi diri (Setiaman, 2. Pelaksanaan terbagi dalam dua siklus: . Siklus awal menguji implementasi debat aktif pada materi demokrasi dengan tahapan perencanaan . enyusunan modul aja. , tindakan . imulasi deba. , observasi . engamatan partisipas. , dan refleksi . dentifikasi kendala seperti dominasi kelompok tertent. (Utomo et al. , 2. Siklus kedua menyempurnakan desain pembelajaran berdasarkan temuan refleksi dengan strategi diferensiasi peran debat dan scaffolding argumentasi (Lie et al. , 2. Kedua siklus mengintegrasikan teori konstruktivisme Vygotsky . melalui interaksi sosial dalam debat dan prinsip pedagogi kritis Brookfield . untuk membangun sikap demokratis. Hasil penelitian diharapkan berkontribusi pada pengembangan model pembelajaran aktif berbasis debat (Johnson & Johnson, 2. sekaligus menjadi prototipe inovasi pedagogi Pendidikan Pancasila (Kemdikbud. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam penerapan metode debat aktif pada siswa kelas XI-7 SMAN 2 Boyolali. Berdasarkan data observasi selama dua siklus . -5 Juni dan 12-13 Juni 2. , berdasarkan gambar 1 rata-rata penerapan metode meningkat dari 67,5% . ategori Cuku. di Siklus 1 menjadi 85% (Sangat Bai. di Siklus 2, dengan peningkatan 17,5%. Peningkatan ini terlihat pada semua indikator: partisipasi aktif . ,75% menjadi 93,75%), argumentasi . ,75% menjadi 81,25%), sikap demokratis . ,75% menjadi 87,5%), kerjasama tim . ,5% JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 menjadi 75%), dan evaluasi . ,75% menjadi 87,5%). Hal ini membuktikan bahwa perbaikan desain pembelajaran berbasis refleksi Siklus 1 seperti penyempurnaan pembagian peran debat berhasil mengoptimalkan keterlibatan siswa. Capaian ini telah melampaui target indikator keberhasilan penelitian sebesar 75%, menunjukkan bahwa metode debat aktif efektif sebagai strategi pembelajaran kolaboratif. Gambar 1 Diagram Perbandingan Penerapan Metode Pembelajaran Debat Aktif Terhadap Siswa Diagram Perbandingan Penerapan Metode Pembelajaran Debat Aktif Terhadap Siswa 100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 20,00% 0,00% Siklus 1 Siklus 2 Sumber: Peneliti . Pada aspek guru, hasil observasi pada tabel 1 menunjukkan peningkatan rata-rata dari 77,08% (Bai. di Siklus 1 menjadi 91,67% (Sangat Bai. di Siklus 2. Meskipun Siklus 1 sudah memenuhi target minimal 75%, terdapat kelemahan dalam kerjasama tim . %). Refleksi mengarahkan perbaikan pada Siklus 2 melalui pelatihan kolaboratif dan simulasi debat, yang berhasil meningkatkan kerjasama tim menjadi Indikator lain seperti persiapan pembelajaran . ,5% menjadi 100%), penguatan nilai demokratis . ,5% menjadi 100%), dan evaluasi . % menjadi 87,5%) juga mengalami kemajuan. Peningkatan ini menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi guru dalam mengadaptasi metode inovatif, sebagaimana dikemukakan oleh Brookfield . tentang peran refleksi kritis dalam pengembangan profesional pendidik. Hasil ini juga sejalan dengan temuan (Lie et al. bahwa keberhasilan debat aktif memerlukan sinergi antara perencanaan sistematis guru dan partisipasi aktif siswa. Tabel 1 Rekapitulasi Hasil Observasi Penerapan Metode Pembelajaran Debat Aktif terhadap Guru JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Indikator Siklus 1 (%) Siklus 2 (%) Persiapan Pembelajaran 87,50% 100,00% Aspek Pelaksanaan Debat 62,50% 87,50% Aspek Penguatan Nilai Demokratis 87,50% 100,00% Proses Analisis 100,00% 100,00% Kerja Sama Tim 50,00% 75,00% Evaluasi Kegiatan Debat Aktif 75,00% 87,50% Jumlah 462,50% 550,00% Rata-rata 77,08% 91,67% Sumber: Peneliti . Sikap demokratis siswa mengalami peningkatan dramatis dari pra-siklus . Sangat Kuran. ke Siklus 2 . ,5%. Sangat Bai. yang terdaji dla tabel 2. Indikator kunci seperti penyampaian pendapat . ,5% menjadi 87,5%), kontribusi pembelajaran . % menjadi 87,5%), dan toleransi . ,5% menjadi 100%) membuktikan efektivitas debat aktif dalam membangun karakter demokratis. Analisis kualitatif mengungkap bahwa peningkatan ini dipicu oleh dua faktor seperti desain debat yang mengintegrasikan kasus kontekstual . isalnya simulasi musyawarah des. , dan umpan balik reflektif pasca-debat yang memperkuat internalisasi nilai. Temuan ini memperkuat teori Vygotsky . tentang pembelajaran sosial dan relevan dengan kerangka Pendidikan Pancasila (Kemdikbud, 2. yang menekankan praktik nilainilai demokrasi. Secara holistik, penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi antara metode debat aktif, refleksi guru, dan evaluasi berbasis data dapat mentransformasi pembelajaran menjadi lebih partisipatif dan bermakna. Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Observasi Sikap Demokratis Siswa Indikator Prasiklus (%) Siklus 1 (%) Siklus 2 (%) Kemampuan Menyampaikan Pendapat 37,50% 62,50% 87,50% Kontribusi dalam Pembelajaran 50,00% 50,00% 87,50% JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Menunjukkan sikap Toleransi terhadap Perbedaan 62,50% 75,00% 100,00% Kemampuan Bersikap dan Berargumentasi untuk Memperkuat Persatuan 50,00% 62,50% 75,00% 200,00% 250,00% 350,00% Jumlah Rata-rata 50,00% 62,50% 87,50% Sumber: Peneliti . Metode debat aktif terbukti menjadi strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan partisipasi siswa dan membangun sikap demokratis. Dalam penerapannya, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam menyusun argumen terstruktur, kritis, dan saling menghormati (Johnson & Johnson. Hasil observasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan siswa menyampaikan pendapat secara logis, mendengarkan perspektif berbeda, dan membangun argumen berbasis fakta. Lebih penting lagi, metode ini secara langsung melatih sikap demokratis seperti toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan kolaborasi, yang tercermin dari peningkatan partisipasi siswa dari pra-siklus . %) hingga siklus kedua . %) (Bandura, 1. Temuan ini membuktikan bahwa debat aktif tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa tetapi juga membentuk karakter demokratis yang esensial bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Efektivitas debat aktif semakin meningkat ketika dikombinasikan dengan roleplay berbasis pengalaman nyata siswa (Sapriya, 2. Pendekatan ini memungkinkan siswa tidak hanya berdebat secara teoritis, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai demokrasi dalam konteks kehidupan nyata. Dengan mengangkat kasus-kasus autentik yang dialami atau disaksikan siswa, proses pembelajaran menjadi lebih relevan dan berdampak (Zamroni, 2. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kombinasi ini memperdalam pemahaman siswa sekaligus memperkuat dasar emosional dan intelektual mereka terhadap topik yang dibahas. Seperti dikemukakan Dewey . , pembelajaran melalui pengalaman langsung . xperiential learnin. membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai demokratis seperti keadilan dan toleransi, yang pada gilirannya membentuk kesadaran berdemokrasi yang lebih utuh. Teori Diri Estrategi Sosial (Bandura, 1. dan konstruktivisme sosial Vygotsky . memberikan landasan kuat mengapa metode interaktif seperti debat aktif efektif. Teori-teori ini menekankan bahwa pemahaman siswa terbentuk melalui interaksi sosial, observasi, dan umpan balik dalam kelompok (Slavin, 2. Dalam konteks kelas, dinamika debat aktif mensimulasikan proses demokratis nyata seperti pengambilan keputusan kolektif dan penghargaan terhadap minoritas (Putnam, 2. Penelitian Majid & Rochman . memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bahwa interaksi sosial dalam pembelajaran tidak hanya meningkatkan pemahaman JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 konseptual tetapi juga mengembangkan empati dan keterampilan kolaborasiAi kompetensi kunci dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Meskipun efektif, penerapan debat aktif memerlukan pertimbangan Guru perlu menyesuaikan metode ini dengan karakteristik materi dan kesiapan siswa (Kemdikbud, 2. Sebagai contoh, topik abstrak seperti filsafat Pancasila mungkin memerlukan pendekatan berbeda dibandingkan tema praktis seperti sistem pemilu. Selain itu, debat aktif sebaiknya diposisikan sebagai variasi metodeAi bukan satu-satunya pendekatanAiuntuk menjaga keberagaman pengalaman belajar dan mencegah kejenuhan siswa (Lie et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan prinsip pedagogi diferensiasi yang menekankan pentingnya menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan heterogen siswa (Tomlinson, 2. Penelitian tindakan kelas ini telah berhasil memenuhi seluruh indikator keberhasilan yang ditetapkan. Pada indikator "Keberhasilan Metode Pembelajaran Debat Aktif" dengan target 75%, hasil observasi menunjukkan capaian rata-rata 85% untuk siswa dan 91,67% untuk guru, yang termasuk dalam kategori sangat baik (Bernadetta et al. , 2. Sementara itu, indikator "Meningkatnya Sikap Demokratis Siswa" dengan target sama . %) berhasil dicapai dengan perolehan rata-rata 87,5% pada siklus kedua. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya oleh Saputra & Wiyanarti . yang menunjukkan bahwa metode debat aktif dapat meningkatkan partisipasi demokratis siswa sebesar 82% dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Hipotesis penelitian yang menyatakan efektivitas metode debat aktif dalam membangun sikap demokratis siswa terbukti valid. Peningkatan signifikan terlihat pada empat aspek kunci: . kemampuan menyampaikan pendapat . eningkat 50%), . kontribusi pembelajaran . ,5%), . ,5%), dan . argumentasi untuk persatuan . %) (Kemdikbud, 2. Keberhasilan ini didukung oleh tiga faktor utama sesuai temuan Nurdin . : . pemilihan topik kontekstual terkait kehidupan berbangsa, . desain debat terstruktur dengan rubrik penilaian jelas, dan . lingkungan belajar yang menghargai pluralitas. Hasil ini memperkuat teori konstruktivisme sosial Vygotsky . tentang pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran nilai-nilai demokrasi. Simpulan Penelitian ini membuktikan bahwa metode pembelajaran debat aktif secara signifikan mampu membangun sikap demokratis siswa kelas XI-7 SMAN 2 Boyolali dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila, khususnya pada materi Praktik Demokrasi. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Hasil penelitian menunjukkan peningkatan sikap demokratis yang dramatis dari ratarata 50% . ategori Sangat Kuran. pada pra-siklus menjadi 87,5% (Sangat Bai. di siklus kedua, dengan capaian sempurna 100% pada indikator toleransi terhadap Keberhasilan ini didukung oleh peningkatan kualitas penerapan metode oleh guru sebesar 91,67% dan partisipasi aktif siswa yang mencapai 93,75%. Pendekatan berbasis pengalaman langsung melalui simulasi konflik dan topik kontekstual terbukti efektif dalam menginternalisasi nilai-nilai demokrasi, sesuai dengan prinsip Teori Diri Estrategi Sosial (Bandura, 1. dan konstruktivisme sosial Vygotsky . Meskipun menghadapi tantangan seperti ketimpangan partisipasi dan keterbatasan waktu, solusi sistematis seperti pelatihan keterampilan berdebat dan pembagian peran terstruktur berhasil mengatasi hambatan tersebut. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa debat aktif merupakan strategi pembelajaran yang efektif untuk pendidikan demokrasi ketika didukung oleh tiga pilar utama: . perencanaan matang dengan topik relevan, . struktur debat yang jelas, dan . lingkungan belajar inklusif. Implikasi praktisnya, guru Pendidikan Pancasila perlu mengintegrasikan metode interaktif semacam ini secara berkelanjutan, dengan penekanan pada pelibatan siswa dalam pemilihan topik untuk meningkatkan relevansi pembelajaran (Sapriya, 2. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengembangkan modul debat berbasis isu lokal (Zamroni, 2. dan program pelatihan guru dalam teknik fasilitasi debat yang lebih advance (Lie et al. , 2. Dengan demikian, pendidikan demokrasi tidak hanya berhenti pada transfer pengetahuan teoritis, tetapi benar-benar dapat membentuk karakter dan keterampilan siswa sebagai warga negara yang kritis, toleran, dan berkomitmen pada persatuan bangsa, sekaligus menjawab tantangan pembelajaran di era masyarakat digital (Rosenberg, 2. Referensi