JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehata. Volume 9. No. Agustus 2025 Hal. 37Ae43 ISSN: 2579-7913 EFEKTIFITAS EDUKATIF SUPPORTIF TERHADAP SELF EFFICACY IBU POST PARTUM DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Mariani*1. Iin Aini Isnawati2 Program Studi D3 Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Hafshawaty Zainul Hasan. Probolinggo. Indonesia Program Studi S1 Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Hafshawaty Zainul Hasan. Probolinggo. Indonesia *email: mariakenby @gmail. Abstrak Pemberian Air susu ibu (ASI) eksklusif merupakan salah satu bagian dari program prioritas kesehatan di Indonesia. Pemberian ASI eksklusif adalah pemberian ASI sebagai sumber nutrisi satu-satunya bagi bayi sampai usia 6 bulan pertama kehidupan tanpa adanya tambahan makanan dan minuman lainnya kecuali obat. Namun, sampai saat ini masih ditemukan ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif, dengan alasan ibu merasa ASInya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Kurangnya keyakinan diri ibu menyusui juga menjadi salah satu faktor yang penting untuk digali kaitannya dengan kegagalan pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektifitas edukasi supportif terhadap self efficacy ibu post partum dalam pemberian asi eksklusif. Metode penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan menggunakan metode one-group pra-post test design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu post partum di wilayah Puskesmas Pajarakan sejumlah 30 responden. Tehnik sampling yang digunakan yaitu total sampling sampling. Tehnik pengumpulan data menggunakan kuisioner. Analisis menggunakan uji Paired simple T-Test. Hasil menunjukan bahwa self efficacy ibu post partum dalam pemberian asi eksklusif sebelum dan sesudah diberikan edukasi suportif menunjukkan adanya pengaruh yang bermakna dimana P= 0,000 lebih kecil dari =0,005. Sehingga edukasi supportif dapat dijadikan sebagai solusi untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Kata kunci: edukasi supportif, self efficacy, post partum. ASI eksklusif Abstract Exclusive breastfeeding is a national health priority program in Indonesia. It refers to providing only breast milk as the sole source of nutrition for infants during the first six months of age, without additional food or drink except for medication. However, many mothers still fail to practice exclusive breastfeeding, often due to concerns about insufficient milk supply. Low maternal self-efficacy is also a key factor contributing to this problem. This study aimed to evaluate the effectiveness of supportive education on the self-efficacy of postpartum mothers in exclusive breastfeeding. A pre-experimental design with a one-group pre-test post-test approach was applied. This study population consisted of all postpartum mothers in the working area of Pajarakan Public Health Center, with 30 respondents selected through total sampling. Data were collected using a validated questionnaire and analyzed using paired sample t-test. Results showed a significant improvement in maternal self-efficacy after supportive education, with p = 0. < 0. These findings suggest that supportive education is effective in enhancing the confidence of postpartum mothers to practice exclusive breastfeeding. Integration of this intervention into maternal and child health services is highly recommended. Keywords: supportive education, self-efficacy, postpartum, exclusive breastfeeding PENDAHULUAN Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan bentuk nutrisi terbaik bagi bayi pada enam bulan pertama kehidupan, yang memberikan manfaat optimal bagi pertumbuhan, perkembangan, serta pencegahan penyakit infeksi maupun kronis di masa depan. UNICEF dan WHO telah merekomendasikan tentang pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, yaitu dimulai dalam waktu satu jam setelah bayi lahir. Namun, meskipun manfaat ASI eksklusif telah banyak dipublikasikan dan masuk -37- Mariani, et. Efektifitas Edukatif Supportif terhadap Self Efficacy Ibu Post Partum dalam Pemberian ASI Eksklusif dalam program prioritas kesehatan nasional di Indonesia, cakupannya masih jauh dari target. Data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif nasional hanya sebesar 55,5%, sedangkan di Kabupaten Probolinggo mencapai 66,64%, masih di bawah target nasional 80% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Cakupan bayi yang mendapat ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan di Jawa Timur tahun 2023 sebesar 74,8%. Cakupan tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2022 yaitu sebesar 67%. Berdasarkan data cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Probolinggo sebanyak 66,64% yang seharusnya pemberian ASI eksklusif dari target Millenium Development Goals (MDG. yaitu mencapai 80%. (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2. Cakupan pemberian ASI Eksklusif di Desa Karangbong wilayah kerja Puskesmas Pajarakan Kabupaten Probolinggo pada tahun 2023 sebesar 65,4%. Cakupan pemberian ASI Eksklusif di desa Karangbong wilayah kerja Puskesmas Pajarakan Kabupaten Probolinggo pada tahun 2023 sebesar 65,4%. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan dengan implementasi di lapangan. Berbagai faktor memengaruhi rendahnya praktik pemberian ASI eksklusif, di antaranya kondisi kesehatan ibu, budaya, pengaruh keluarga, pekerjaan, keyakinan diri ibu terhadap kemampuan menyusui, iklan susu formula yang massif, serta kurangnya pengetahuan. Faktor lainnya adalah putting lecet, produksi ASI yang kurang, nyeri pada putting, bayi kesulitan menyusui, atau bayi yang kurang puas dengan proses menyusu. Kendala-kendala yang dialami ibu tersebut dapat mempengaruhi kepercayaan diri ibu . elf efficac. dalam memberikan ASI eksklusif pada bayi (Loke. , & Chan. Salah satu faktor psikologis yang krusial adalah self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengorganisasi dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu (Bandura, 2012. DiBenedetto, 2. Pada konteks menyusui, self-efficacy berperan besar dalam menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Ibu dengan self-efficacy rendah cenderung merasa produksi ASInya tidak cukup, sehingga lebih mudah memberikan susu formula atau makanan tambahan sebelum waktunya (IsytiAoaroh, & Rafiqoh, 2. Sebaliknya, ibu dengan self-efficacy tinggi lebih percaya diri menghadapi tantangan menyusui dan lebih konsisten memberikan ASI eksklusif (Amini, et al, 2. Rendahnya self-efficacy pada ibu postpartum dapat dipengaruhi oleh minimnya pengalaman, kurangnya dukungan sosial, dan terbatasnya akses terhadap informasi menyusui yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga memberikan dukungan emosional, motivasi, dan pendampingan. Salah satu intervensi yang potensial adalah edukasi supportif, yakni pendekatan edukatif yang dikombinasikan dengan dukungan psikososial untuk meningkatkan pemahaman, motivasi, dan rasa percaya diri ibu dalam menyusui (Nelista. Keytimu. , & Toto, 2. Berbagai penelitian sebelumnya mendukung efektivitas intervensi edukasi dalam meningkatkan self-efficacy menyusui (Amini, et al. , 2. membuktikan bahwa skala Breastfeeding Self-Efficacy Scale-Short Form (BSES-SF) efektif digunakan untuk menilai peningkatan self-efficacy setelah pemberian edukasi. Penelitian (Deer. Sezerol. , & Alta, 2. di Turki juga menemukan bahwa edukasi dan dukungan sosial berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan serta self-efficacy ibu hamil dan postpartum. Sementara itu, (Lestari. Susanti. , & Andriani, 2. menunjukkan bahwa dukungan keluarga dan edukasi suportif mampu meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu postpartum. Self efficacy merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan menyusui yang bisa dimodifikasi dengan intervensi yang tepat seperti edukasi dan dukungan (Nisa, et al. , 2. Dengan demikian, literatur empiris mendukung asumsi bahwa edukasi supportif dapat menjadi solusi untuk mengatasi rendahnya self-efficacy ibu menyusui. Pentingnya penelitian ini terletak pada strategi yang komprehensif untuk meningkatkan selfefficacy ibu postpartum. Edukasi supportif tidak hanya memberikan informasi faktual tentang manfaat ASI, tetapi juga memfasilitasi ibu untuk memperoleh pengalaman positif, penguatan motivasi, serta mengurangi kecemasan yang sering menjadi hambatan dalam menyusui. Secara konseptual, teori selfefficacy menekankan bahwa keyakinan diri terbentuk melalui empat sumber utama, yaitu pengalaman langsung . astery experienc. , pengalaman vikarius . icarious experienc. , persuasi verbal . erbal persuasio. , serta kondisi fisiologis dan emosional . hysiological and emotional state. (Bandura, 2012. DiBenedetto, 2. Edukasi supportif sejalan dengan keempat dimensi tersebut karena melibatkan praktik menyusui secara langsung, pengamatan terhadap keberhasilan ibu lain, penguatan melalui Penerbit: LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan -38- Mariani, et. Efektifitas Edukatif Supportif terhadap Self Efficacy Ibu Post Partum dalam Pemberian ASI Eksklusif dukungan verbal, serta pendampingan emosional untuk mengurangi stres dan meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam memberikan ASI. Berdasarkan landasan teori dan bukti empiris tersebut, dapat diasumsikan bahwa pemberian edukasi supportif berpengaruh terhadap peningkatan self-efficacy ibu postpartum dalam pemberian ASI Dengan demikian, penelitian ini dirancang untuk menguji efektivitas edukasi supportif dalam meningkatkan self-efficacy ibu postpartum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi supportif terhadap self-efficacy ibu postpartum dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pajarakan Kabupaten Probolinggo. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan rancangan one group pre-test posttest design yang bertujuan untuk menguji efektivitas intervensi edukasi supportif terhadap self-efficacy ibu postpartum dalam pemberian ASI eksklusif. Pemilihan desain ini didasarkan pada pertimbangan bahwa peneliti ingin mengetahui perubahan skor self-efficacy sebelum dan sesudah diberikan intervensi pada kelompok yang sama, sehingga dapat menggambarkan pengaruh edukasi supportif secara lebih spesifik (Nursalam, 2. Ruang lingkup penelitian mencakup bidang keperawatan maternitas, dengan fokus pada ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Pajarakan. Kabupaten Probolinggo. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu postpartum yang berada di wilayah kerja puskesmas tersebut selama periode penelitian berlangsung. Sampel berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling, yaitu seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi dijadikan sampel. Kriteria inklusi penelitian ini antara lain ibu postpartum dengan usia bayi 0Ae6 bulan, mampu membaca dan menulis, serta bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi meliputi ibu yang memiliki kondisi medis khusus yang menghambat proses menyusui. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli 2025. Lokasi penelitian dipilih karena cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pajarakan masih berada di bawah target nasional dan terdapat dukungan dari tenaga kesehatan setempat untuk pelaksanaan penelitian. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah kuesioner Breastfeeding Self-Efficacy Scale-Short Form (BSES-SF) yang telah divalidasi secara internasional dan diadaptasi dalam bahasa Indonesia (Amini, et al. , 2. Kuesioner ini terdiri dari 14 item yang menggunakan skala Likert dengan rentang skor 1Ae5, sehingga total skor berkisar antara 14 hingga 70. Skor yang lebih tinggi menunjukkan tingkat self-efficacy yang lebih baik. Selain itu, bahan utama penelitian berupa modul edukasi supportif tentang ASI eksklusif yang disusun peneliti berdasarkan pedoman WHO . dan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Alat bantu berupa media cetak dan audiovisual digunakan untuk mempermudah proses penyampaian informasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah pre-test, yaitu pengisian kuesioner oleh responden untuk mengetahui tingkat self-efficacy sebelum intervensi. Tahap kedua adalah intervensi edukasi supportif, yang diberikan dalam bentuk konseling, diskusi, dan pendampingan mengenai ASI eksklusif, mencakup manfaat, teknik menyusui yang benar, manajemen laktasi, serta penguatan motivasi dan dukungan emosional. Intervensi dilaksanakan secara tatap muka dalam kelompok kecil yang difasilitasi oleh peneliti dengan durasi 60Ae90 menit. Tahap ketiga adalah post-test, yaitu pengisian kembali kuesioner yang sama setelah intervensi diberikan, untuk menilai perubahan self-efficacy. Teknik analisis data dilakukan secara bertahap. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden seperti usia, pendidikan, dan pekerjaan, serta distribusi selfefficacy sebelum dan sesudah intervensi. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji paired sample ttest untuk menguji perbedaan rata-rata skor self-efficacy sebelum dan sesudah diberikan edukasi supportif, dengan tingkat signifikansi = 0,05. Apabila nilai p < 0,05, maka dinyatakan terdapat perbedaan yang bermakna. Analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak statistik. Uji Etik: Penelitian ini telah telah memperoleh kesepakatandari Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEP) UNHASA dengan Nomor: 019/KEPK-UNHASA/II/2025. Penerbit: LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan -39- Mariani, et. Efektifitas Edukatif Supportif terhadap Self Efficacy Ibu Post Partum dalam Pemberian ASI Eksklusif HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden . Karakteristik Usia <20 tahun 21Ae30 tahun >30 tahun Pendidikan SDAeSMP SMA Perguruan tinggi Pekerjaan Ibu rumah tangga Bekerja Frekuensi . Persentase (%) Penelitian ini melibatkan 30 ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Pajarakan Kabupaten Probolinggo. Karakteristik responden (Tabel . menunjukkan mayoritas berusia 21Ae30 tahun . %), hampir separuh berpendidikan terakhir SMA . ,7%), serta sebagian besar berstatus sebagai ibu rumah tangga . ,3%). Karakteristik ini menggambarkan bahwa responden berada pada kelompok usia reproduktif dengan tingkat pendidikan menengah serta memiliki waktu relatif lebih banyak bersama bayi, meskipun demikian, keberhasilan ASI eksklusif tidak hanya ditentukan oleh faktor demografis melainkan juga oleh aspek psikososial, termasuk self-efficacy ibu. Berikut disajikan tingkat self-efficacy ibu sebelum dan sesudah intervensi. Tabel 2. Perubahan Self-Efficacy Ibu Postpartum Sebelum dan Sesudah Intervensi Kategori Self-Efficacy Rendah Sedang Tinggi Pre-test n (%) 7 . Post-test n (%) 0 . Berdasarkan tabel 2, sebelum diberikan edukasi supportif, sebagian besar responden memiliki tingkat self-efficacy dalam kategori sedang . ,4%), dengan sebagian lainnya berada pada kategori tinggi . ,3%) dan rendah . ,3%). Setelah diberikan intervensi edukasi supportif, distribusi tingkat self-efficacy berubah secara signifikan. Mayoritas responden meningkat ke kategori tinggi . ,3%), sedangkan sisanya berada pada kategori sedang . ,7%), dan tidak ada responden yang berada dalam kategori rendah. Hasil Uji Statistik Hasil analisis menggunakan uji paired sample t-test menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada skor rata-rata self-efficacy ibu postpartum sebelum dan sesudah intervensi. Skor ratarata sebelum intervensi adalah 44,9 (SD=9,. , sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 59,3 (SD=6,. Nilai p diperoleh sebesar 0,000 . <0,. yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara skor self-efficacy sebelum dan sesudah diberikan edukasi supportif. Tabel 3. Hasil Uji Paired Sample T-Test Self-Efficacy Sebelum dan Sesudah Intervensi Variabel Pre-test Post-test Mean A SD 44,9 A 9,28 59,3 A 6,60 p-value 0,000 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa edukasi supportif berpengaruh signifikan terhadap peningkatan self-efficacy ibu postpartum dalam pemberian ASI eksklusif. Sebelum diberikan intervensi. Penerbit: LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan -40- Mariani, et. Efektifitas Edukatif Supportif terhadap Self Efficacy Ibu Post Partum dalam Pemberian ASI Eksklusif sebagian besar responden berada pada kategori sedang, dan masih terdapat ibu dengan self-efficacy Hal ini mengindikasikan adanya keraguan ibu terhadap kemampuan menyusui, yang seringkali disebabkan oleh kekhawatiran mengenai kecukupan ASI, kurangnya pengalaman, dan minimnya dukungan dari lingkungan sekitar. Setelah diberikan edukasi supportif, mayoritas responden mengalami peningkatan self-efficacy menjadi kategori tinggi. Edukasi supportif yang diberikan dalam penelitian ini mencakup pemberian informasi mengenai manfaat ASI eksklusif, teknik menyusui yang benar, serta manajemen laktasi, disertai dengan motivasi, penguatan emosional, dan diskusi kelompok. Pendekatan ini sejalan dengan teori self-efficacy (Bandura, 2012. DiBenedetto, 2. yang menjelaskan bahwa keyakinan diri individu dapat ditingkatkan melalui pengalaman langsung, pengalaman vikarius, persuasi verbal, dan regulasi kondisi emosional. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Amini,et al. , 2. yang menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman menyusui yang lebih baik cenderung memiliki self-efficacy lebih Penelitian serupa oleh (Deer. Sezerol. , & Alta, 2. di Istanbul juga mengungkapkan bahwa edukasi prenatal dan dukungan sosial berperan penting dalam meningkatkan self-efficacy dan kesejahteraan ibu. Sedangkan Hasil penelitian Lestari et al. di Indonesia memperkuat temuan ini, bahwa dukungan keluarga dan edukasi suportif secara signifikan berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. (UNICEF, 2. juga menekankan bahwa pendekatan edukatif yang bersifat personal dan melibatkan dukungan emosional lebih berhasil dibandingkan pendekatan edukatif satu arah. Sejalan dengan penelitian (Siregar. , & Sinaga, 2. menunjukkan bahwa pendekatan edukasi suportif, yang melibatkan komunikasi empatik dan interaktif, dapat menciptakan peningkatan rasa percaya diri ibu dalam menyusui. Hal ini menjadi bukti penting bahwa dukungan psikososial bukan hanya pelengkap, tetapi elemen esensial dalam keberhasilan laktasi. Menyusui membutuhkan yang cukup berat bagi seorang ibu, terlebih bagi ibu baru. Oleh sebab itu, breastfeeding self-efficacy menjadi faktor penting bagi ibu untuk berhasil memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan (Shafaei. Mirghafourvand. & Havizari, 2. Selain itu, peningkatan self-efficacy setelah edukasi supportif dalam penelitian ini menunjukkan pentingnya peran tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam memberikan pendampingan yang tidak hanya bersifat edukatif tetapi juga suportif. Edukasi semata mungkin tidak cukup tanpa adanya dorongan psikologis dan emosional yang memperkuat keyakinan ibu. Hal ini sesuai dengan pandangan (Nelista, . Keytimu. , & Toto, 2. yang menyatakan bahwa intervensi berbasis supportive educative nursing efektif meningkatkan pengetahuan, praktik, sekaligus motivasi ibu dalam memberikan makanan sehat pada balita. Hal ini juga sejalan dengan temuan (DiBenedetto, 2. yang menegaskan bahwa self-efficacy merupakan determinan penting dalam perilaku individu, karena berhubungan langsung dengan motivasi, persistensi, dan kemampuan menghadapi hambatan. Dengan kata lain, meskipun responden memiliki usia produktif dan latar pendidikan menengah, keberhasilan pemberian ASI eksklusif akan lebih optimal jika ibu memiliki keyakinan diri yang kuat. (Bandura, 2. menjelaskan bahwa self-efficacy dapat ditingkatkan melalui pengalaman keberhasilan, pembelajaran vikarius dari orang lain, dukungan verbal, serta regulasi kondisi emosional. Dalam konteks penelitian ini, edukasi supportif berperan penting untuk memperkuat self-efficacy ibu melalui pengalaman menyusui langsung, berbagi pengalaman dengan ibu lain, penguatan motivasi oleh tenaga kesehatan, serta pendampingan emosional untuk mengurangi kecemasan. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa upaya peningkatan keberhasilan ASI eksklusif pada ibu postpartum memerlukan pendekatan komprehensif yang tidak hanya mempertimbangkan karakteristik demografis, tetapi juga memberikan intervensi psikososial yang berorientasi pada peningkatan self-efficacy. Temuan penelitian ini juga memperlihatkan bahwa tidak ada responden yang berada dalam kategori rendah setelah diberikan edukasi supportif. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi memiliki efek protektif terhadap ibu yang sebelumnya kurang percaya diri dalam menyusui. Edukasi supportif mampu mengurangi kecemasan, menumbuhkan keyakinan, serta memberikan pengalaman belajar melalui diskusi dan berbagi pengalaman dengan ibu lain. Penerbit: LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan -41- Mariani, et. Efektifitas Edukatif Supportif terhadap Self Efficacy Ibu Post Partum dalam Pemberian ASI Eksklusif KESIMPULAN DAN SARAN Edukasi supportif terbukti efektif meningkatkan self-efficacy ibu postpartum dalam pemberian ASI eksklusif. Peningkatan yang signifikan terlihat dari perbedaan skor rata-rata self-efficacy sebelum dan sesudah intervensi, yang menggambarkan bahwa pendekatan edukasi berbasis dukungan emosional dan motivasional mampu menumbuhkan keyakinan ibu dalam menyusui. Oleh karena itu. Puskesmas dan tenaga kesehatan diharapkan dapat mengintegrasikan edukasi supportif ke dalam program rutin, baik dalam kelas ibu hamil maupun pendampingan ibu nifas, agar setiap ibu memperoleh pengetahuan sekaligus dukungan yang memadai. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan desain eksperimental yang melibatkan kelompok kontrol, cakupan responden lebih luas, serta memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi supportif. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memperkaya bukti empiris sekaligus memperluas cakupan penerapan intervensi. UCAPAN TERIMA KASIH