Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 Analisis Faktor Risiko Penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Lalowaru Tahun 2025 Sinta SahawatiA*. Aidil Shafwan2. Nirwana3. Deni4 1,2,3,4 Program Studi S1 Keperawatan. Institut Teknologi adan KesehatanaAvicenna. Kendari. Indonesia Email korespondensi: sintasahawati17@gmail. Info Artikel: Diterima: 25 Apr 2025 Disetujui: 28 Mei 2025 Dipublikasi: Mei 2025 Kata Kunci: DBD. Pengetahuan. Breeding Place. Perilaku Keywords: DHF. Knowledge. Breeding Place. Behavior Abstrak Latar Belakang: Penyebaran DBD di wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Konawe Selatan, terus menunjukkan angka yang signifikan. Data Dinas Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2024, insiden rate DBD terkonfirmasi sebanyak 4. 067 penderita yang menyebar disemua kabupaten di Sulawesi tenggara. Dari jumlah tersebut, 17 pasien meninggal dunia. Kabupaten Konawe Selatan menempati urutan kedua untuk kasus tertinggi setelah Kota Kendari yaitu dengan 607 penderita yang terkonfirmasi dan 4 orang meninggal dunia. Faktor risiko penyebaran DBD perlu dianalisis secara mendalam untuk merancang intervensi yang efektif di tingkat puskesmas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Lalowaru Kabupaten Konawe Selatan. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 563 Kepala Keluarga, dengan jumlah sampel 85 responden yang diambil menggunakan Teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup faktor lingkungan, perilaku masyarakat, dan status kesehatan individu yang berkaitan dengan DBD. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk menentukan hubungan antara faktor risiko dengan kejadian DBD. Hasil: uji statistik pengetahuan didapatkan hasil signifikan p=. , breeding place diperoleh nilai signifikan p=0. 006 dan perilaku diperoleh nilai signifikan p=0,000. Kesimpulan: faktor pengetahuan, keberadaan breeding palce dan perilaku masyarakat memiliki hubungan dengan kejadian demam berdarah. Oleh karena itu, upaya peningkatan edukasi masyarakat tentang pencegahan DBD, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, serta peningkatan peran aktif puskesmas dalam monitoring DBD sangat diperlukan untuk menurunkan angka kejadian DBD di wilayah Puskesmas Lalowaru. Abstract Background: The spread of DHF in Indonesia, including in South Konawe District, continues to show significant numbers. Data from the Southeast Sulawesi Provincial Office in 2024, the confirmed DHF incidence rate was 4,067 patients spread across all districts in Southeast Sulawesi. Of these, 17 patients died. South Konawe district ranks second for the highest cases after Kendari city with 607 confirmed patients and 4 deaths. Risk factors for the spread of DHF need to be analyzed in depth to design effective interventions at the puskesmas level. Objective: This study aims to identify and analyze the risk factors that contribute to the spread of Dengue Fever (DHF) in the working area of Puskesmas Lalowaru. South Konawe Regency. Methods: The type of research used is descriptive quantitative with a cross sectional approach. The population in this study was 563 family heads, with a sample size of 85 respondents taken using simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires that included environmental factors, community behavior, and individual health status related to DHF. Data were analyzed using the chi-square test to determine the relationship between risk factors and DHF incidence. Results: statistical test of knowledge showed significant p= . , breeding place showed significant p=0. 006 and behavior showed significant p=0. Conclusion: knowledge factors, the presence of breeding palce and community behavior have a relationship with the incidence of dengue fever. Therefore, efforts to increase community education about dengue prevention, better environmental management, and increase the active role of the puskesmas in monitoring dengue fever are needed to reduce the incidence of dengue fever in the Lalowaru Puskesmas Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 PENDAHULUAN Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini telah mengalami lonjakan signifikan dalam insidensi di banyak negara, terutama di wilayah tropis dan subtropis. Menurut laporan WHO, lebih dari 3,9 miliar orang di lebih dari 128 negara berisiko terinfeksi demam berdarah. Kasus-kasus ini tidak hanya meningkat dalam jumlah, tetapi juga dalam tingkat keparahan dengan lebih banyak kasus demam berdarah parah yang membutuhkan perawatan rumah sakit. Pencegahan dan pengendalian demam berdarah bergantung pada pengendalian Tidak ada pengobatan khusus untuk demam berdarah atau Dengue yang parah, sehingga diperlukan deteksi dini serta akses terhadap perawatan medis yang tepat sangat membantu menurunkan angka kematian (WHO, 2. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah kasus demam berdarah yang meningkat setiap tahunnya. Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes,2. menunjukkan bahwa pada tahun 2021 518 kasus dengan angka kematian 705 orang. Tahun 2022 sebanyak 176 kasus dengan angka kematian 1. Pada tahun 2023 kasus DBD 720 orang dengan 894 angka kematian dan tahun 2024 sampai dengan bulai Mei ditemukan sebanyak 91 ribu kasus (Kemenkes, 2. Kasus DBD telah ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia. Berdasarkan data Dinas Provinsi Sulawesi tenggara pada tahun 2024, insiden rate DBD terkonfirmasi 689 penderita yang menyebar disemua kabupaten di Sulawesi tenggara. Kabupaten konawe selatan menempati urutan kedua untuk kasus tertinggi setelah kota kendari yaitu dengan 607 penderita yang terkonfirmasi dan 4 orang meninggal dunia. Data ini menunjukkan peningkatan kasus DBD yang signifikan di Konawe Selatan (Dinkes Konsel, 2. Hasil survey data awal tiga tahun terakhir yang diperoleh dari wilayah kerja Puskesmas Lalowaru, diperoleh data kasus kejadian DBD pada tahun 2022 sebanyak 4 kasus, tahun 2023 tidak terdapat kasus, tahun 2024 naik menjadi 6 kasus. Dan yang memiliki tanda dan gejala yang hampir sama dengan dengan DBD sebanyak 40 kasus. Berdasarkan data observasi awal kejadian DBD disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, faktor pengetahuan breeding place dan perilaku. Berdasarkan hasil observasi awal respon di wilayah kerja Puskesmas Lalowaru dari pendidikan rata-rata responden berpendidikan rendah sebanyak hal ini mempengaruhi kualitas pengetahuan tentang DBD (Puskesmas Lalowaru, 2. Hasil survey menunjukkan dari 2 desa yakni Desa Tanjung Tiram dan Desa Puasana terjadi penyebaran DBD sangat cepat dikarenakan wilayah padat penduduk, dimana rumahAerumah lingkungan kotor, saluran air terhambat karena sampah dan barang bekas Air untuk kebutuhan sehari hari penampungan air. Adanya kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah karena baju yang habis dipakai lagi tidak langsung Masyarakat memasang kelambu saat tidur. Wawancara dengan petugas puskesmas menyatakan bahwa 3M Plus . enguras, nenutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang-barang beka. serta ditambah . menaburkan larvasida pembasmi jentik, memelihara ikan pemakan jentik dan mengganti air dalam pot/vas bungga. kali diberikan penyuluhan pada saat Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 posyandu balita dan posyandu lansia tetapi masyarakat belum maksimal menerapkan. Hasil wawancara dengan 10 warga di Desa Tanjung Tiram mengatakan bahwa demam berdarah dengue terjadi peningkatan sangat tinggi tinggi. Penelitian ini membahas faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian DBD seperti adanya hubungan pengetahuan, keberadaan breeding place dan perilaku manusia dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Lalowaru mengingat perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang mempengaruhi Kurangnya masyarakat khususnya orang tua terhadap penyakit DBD merupakan salah satu penyebab dari banyaknya orang yang menderita penyakit DBD ini. Banyak masyarakat yang tidak mengetahui cara penanggulangan penyakit DBD ini dan berpikir jika nyamuk Aedes aegepty ini hanya nyamuk biasa yang tidak membawa penyakit. Perilaku orang tua dalam menjaga kebersihan pengetahuan tentang tata cara pengelolaan lingkungan dan kebersihan lingkungan yang bersih dan sehat. Pengetahuan dan kesadaran orang tua terhadap masalah kesehatan anak juga sangat penting agar anak selalu dalam keadaan sehat dan terhindar dari berbagai Sebagian besar angka kematian penyakit DBD diduga karena kurangnya pengetahuan masyarakat terutama orang tua mengenai gejala penyakit DBD, upaya pencegahan dan penanganan penyakit DBD (Ariani, 2. Mengacu pada latar belakang diatas. Penulis tertarik untuk membahas dan meneliti lebih jauh tentang AuAnalisis Faktor Risiko penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja puskesmas lalowaru kabupaten konawe selatan tahun 2025Ay METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain crosectional. Penelitian ini bertujuan untuk Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Lalowaru. Kabupaten Konawe Selatan pada tahun 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Lalowaru, yang terpapar dengan potensi penyebaran DBD, sedangkan sampelnya berjumlah 85 responden yang dihitung menggunakan rumus slovin. Serta diambil dengan menggunakan Teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang disusun berdasarkan literatur mengenai faktor-faktor risiko penyebaran DBD. Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif dan analitik dengan menggunakan uji chisquare dengan bantuan apliasi spss versi 25. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Menurut Usia. Jenis Kelamin. Tingkat Pendidikan dan Jenis Pekerjaan di Wilayah Kerja Puskesmas Lalowaru Karakteristik Responden Usia Ou 36 26 - 35 O 25 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 SMP SMA Pekerjaan PNS IRT Nelayan Pelajar Wiraswasta Petani Total Sumber: Data Primer, 2025 60% dari total responden, sementara sisanya, yaitu 34 orang atau 40%, adalah laki-laki. Tabel di atas menggambarkan karakteristik responden yang terlibat dalam Berdasarkan usia, mayoritas responden berusia antara 26 hingga 35 tahun, yaitu sebanyak 44 orang atau 51,8% dari total responden, diikuti oleh kelompok usia 36 tahun ke atas yang mencakup 26 orang atau 30,6%, dan kelompok usia di bawah 25 tahun sebanyak 15 orang atau 17,6%. Dari segi jenis kelamin, sebagian besar responden adalah perempuan, dengan jumlah 51 orang atau Pada aspek pendidikan, responden SMA mendominasi, dengan jumlah 30 orang atau 35,3%, diikuti oleh responden yang berpendidikan SMP sebanyak 23 orang atau 27,1%, responden berpendidikan SD sebanyak 17 orang atau 20%, dan mereka yang memiliki pendidikan tinggi (PT) sebanyak 15 orang atau 17,6%. Terkait pekerjaan, sebagian besar responden bekerja sebagai wiraswasta, dengan jumlah 23 orang atau 27,1%, diikuti oleh petani sebanyak 15 orang atau 17,6%, pelajar sebanyak 20 orang atau 23,5%, ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 12 orang atau 14,1%. Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 11 orang atau 12,9%, dan nelayan yang hanya berjumlah 4 orang atau 4,8% Hubungan Pengetahuan. Breeding Palce dan Perilaku terhadap Kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Lalowaru Tabel 2. Hubungan antara pengetahuan. Breding Place dan Perilaku terhadap Penyebaran DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Lalowaru Tahun 2025 Total Kejadian DBD Tidak 0,000 0,006 0,000 Variabel Pengetahuan Baik Kurang Baik Breeding Place Ada Tidak ada Perilaku Baik Kurang Hubungan Pengetahuan Kejadian DBD Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa dari 85 responden yang diteliti diketahui bahwa distribusi frequensi PValue Pengetahuan yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 37 responden atau . sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 48 responden atau . 5%). Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 Perilaku didasari dengan pengetahuan akan lebih bertahan daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Orang akan melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk untuk mencegah DBD apabila ia tahu apa tujuan dan manfaatnya bagi kesehatan atau keluarganya dan bahaya jika tidak melakukan pemberantasan tersebut. Dilihat dari hasil uji statistik chi-square didapatkan hasil signifikan p=. atau (<0,. penetahuan dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Lalowaru. Masyarakat yang memiliki pengetahuan lebih baik tentang cara mencegah penyebaran nyamuk Aedes aegypti cenderung lebih aktif dalam melakukan Sebaliknya, memahami tentang cara-cara pencegahan, penggunaan obat nyamuk, dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk tinggal di area yang berisiko tinggi terhadap penyebaran DBD. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur. menyebutkan bahwa Di dapatkan p value = 0,05<0,013, artinya ada hubungan responden dengan pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD). Pengetahuan yang tinggi mengenai DBD mempengaruhi kebiasaan masyarakat dalam melakukan tindakan preventif, seperti membersihkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Hal ini sesuai dengan teori perilaku pengetahuan yang baik akan meningkatkan kesadaran individu untuk mengambil langkah-langkah pencegahan. Misalnya, individu yang memahami pentingnya menutup wadah penampungan air dan melakukan pemberantasan jentik nyamuk secara rutin, akan lebih mungkin untuk menerapkan kebiasaan tersebut, yang pada akhirnya dapat menurunkan risiko terkena DBD. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki DBD cenderung tidak menyadari pentingnya tindakan preventif, sehingga mereka lebih rentan terhadap gigitan nyamuk yang terinfeksi virus dengue. Keberadaan genangan air yang tidak dikelola dengan baik, seperti pada tempat-tempat penampungan air yang terbuka, serta kebiasaan masyarakat yang tidak membersihkan lingkungan secara rutin, berkontribusi pada tingginya angka kejadian DBD di daerah tersebut. Namun, meskipun pengetahuan memiliki pengaruh penting, perlu dicatat bahwa faktor lain seperti perilaku lingkungan dan kondisi sosial ekonomi juga berperan dalam penyebaran DBD. Pengetahuan yang baik saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan perilaku yang mendukung upaya pencegahan. Oleh karena itu, selain meningkatkan pengetahuan masyarakat, perlu adanya perubahan perilaku dan kebijakan yang lebih tegas dalam pencegahan DBD dapat lebih efektif (Yuliandri, dkk. , 2. Hubungan Breeding Palce Dengan Kejadian DBD Keberadaan breeding place atau tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat penting dalam penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Breeding tempat-tempat menyediakan kondisi yang ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak, seperti genangan air yang stagnan dan wadah-wadah yang tidak Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 terjaga kebersihannya. Keberadaan breeding place ini berkontribusi langsung terhadap tingkat penyebaran DBD karena nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempattempat tersebut, yang kemudian menjadi vektor penular penyakit (Kemenkes, 2. Dalam konteks penyebaran DBD, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keberadaan breeding place dengan kejadian DBD di wilayah yang diteliti. Keberadaan breeding place yang tidak dikelola dengan baik, seperti genangan air di tempat penampungan air, sampah yang tidak teratur, dan wadah-wadah terbuka yang menampung air hujan, memberikan kesempatan bagi nyamuk untuk berkembang biak dalam jumlah besar. Semakin banyak breeding place yang ada di suatu lingkungan, semakin besar pula kemungkinan jumlah nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyebaran DBD (Pascawati, dkk. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk yang ada ditemukan pada keberadaan breeding place memiliki risiko DBD penduduk yang tidak ditemukan keberadaan breeding place. Hasil ini menunjukkan semakin banyak terdapat breeding places akan meningkatkan risiko terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Hasil penampungan air lebih banyak ditemukan. Hal ini dapat menyebabkan tempat penampungan air dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti (Nurmalasari, 2. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Marbun. C at. bahwa ada hubungan antara keberadaan breeding place dengan kejadian demam berdarah dengue . =0,. dengan OR = 4,000. % CI = 1,614-9,. Breeding place seperti sampah dan barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, botol, plastik dan ban bekas dapat dimanfaatkan kembali melalui langkah 3 R, yaitu reduce, reuse. Tempurung kelapa serta buahbuahan berkulit keras yang berpotensi sebagai tempat genangan air juga harus Keberadaan breeding place dapat menciptakan peluang bagi nyamuk untuk berkembangbiak serta meningkatkan kepadatan jentik dan vektor. Dalam penelitian ini, breeding place di luar rumah yang ditemukan jentik adalah ember bekas, pot bunga, botol bekas dan selokan. Adanya tempat penampungan air berupa genangan air yang tertampung pada suatu tempat merupakan tempat perkembangbiakan utama bagi nyamuk Aedes aegypti yang biasanya tidak melebihi jarak 100 meter dari rumah (Gafur, dkk. , 2. Hubungan Perilaku Dengan Kejadian DBD Perilaku masyarakat memiliki peranan yang sangat penting dalam pencegahan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak di tempat-tempat yang tidak terkelola dengan baik, seperti genangan air. Oleh karena itu, perilaku individu terkait dengan kebersihan lingkungan, pengelolaan air, serta kesadaran dalam menggunakan alat pengusir nyamuk atau kelambu, sangat mempengaruhi kejadian DBD di suatu wilayah. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku masyarakat dan kejadian DBD di wilayah yang diteliti (Putri, , 2. Hal ini sejalan dengan Anggraini. diketahui nilai p = 0,000. Menggunakan derajat kesalahan () = 0,05, sehingga akan memiliki pengaruh yang Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 signifikan jika p < . ,000 < 0,. pengaruh yang signifikan antara perilaku 3M plus terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Perilaku masyarakat yang tidak mendukung pencegahan DBD, seperti membiarkan genangan air di sekitar rumah, kurangnya kebiasaan membersihkan tempattempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, dan tidak menggunakan alat pengusir nyamuk atau kelambu, dapat meningkatkan risiko penyebaran DBD. Misalnya, kebiasaan membiarkan air menggenang di tempattempat penampungan yang tidak tertutup rapat atau wadah-wadah terbuka seperti ember, bak mandi, dan pot tanaman, menjadi tempat yang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Selain itu, perilaku tidak menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah juga menjadi salah satu faktor utama yang mendukung keberadaan breeding place, yang berpotensi meningkatkan kejadian DBD (Kemenkes, 2. Pentingnya perilaku pencegahan dalam masyarakat terlihat pada upaya-upaya seperti melakukan 3M (Menguras. Menutup, dan Mengubu. tempat-tempat yang berpotensi menampung air, yang merupakan salah satu cara efektif untuk mengurangi kemungkinan berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD. Masyarakat yang rutin menerapkan perilaku 3M cenderung memiliki risiko yang lebih rendah terhadap penularan penyakit ini. Sebaliknya, individu yang tidak mengubah perilaku hidup bersih dan sehat, serta tidak peduli terhadap pengelolaan lingkungan sekitar, lebih rentan terhadap gigitan nyamuk yang membawa virus dengue. Selain itu, penggunaan kelambu, obat nyamuk, dan pakaian pelindung saat tidur di malam hari juga dapat mengurangi risiko terjangkit DBD. Namun, meskipun banyak pentingnya perilaku preventif, dalam beberapa kasus, penerapan kebiasaan ini masih belum optimal. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya kesadaran atau pengetahuan yang mendalam mengenai bahaya DBD dan cara-cara pencegahannya. Pengetahuan yang terbatas mengenai cara pencegahan DBD dapat menghambat masyarakat untuk mengubah perilaku mereka yang lebih berisiko (Setiawam, dkk. , 2. Perilaku peranan cukup penting terhadap penularan Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun perilaku tersebut harus didukung oleh pengetahuan, sikap dan tindakan yang benar sehingga diterapkan dengan benar. Sekarang ini masih ada anggapan berkembang dimasyarakat yang menimbulkan perilaku tidak sesuai seperti anggapan bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) hanya terjadi didaerah kumuh dan PSN tidak tampak jelas hasilnya dibandingkan fogging. Anggapan seperti ini sering diabaikan, padahal sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam mengambil keputusan khusunya terhadap penularan DBD (Yuliandari, dkk. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lalowaru. Kabupaten Konawe Selatan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan breeding place . empat perkembangbiakan nyamu. , dan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Puskesmas Lalowaru diharapkan dapat mengenai Demam Berdarah Dengue (DBD) kepada masyarakat, dengan fokus pada pentingnya kebersihan lingkungan dan pengelolaan tempat-tempat yang bisa Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 menjadi breeding place bagi nyamuk Aedes Masyarakat harus lebih aktif terlibat dalam program-program pencegahan DBD yang diselenggarakan oleh puskesmas atau lembaga kesehatan lainnya, seperti kegiatan pemberantasan jentik nyamuk. Peneliti mengembangkan studi intervensi yang lebih berbasis komunitas, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat dalam upaya pencegahan DBD DAFTAR PUSTAKA