Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Penguatan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Bali Pada Pendidikan Vokasi Pariwisata I Wayan Eka Santika Program Studi D 3 Perhotelan. Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali ekasantika@pnb. Abstrak-Penguatan nilai-nilai kearifan Lokal bali sebagai wujud dalam menguatkan nilai karakter kebangsaan peserta didik sangat diperlukan terutama dalam menyeimbangkan hard skill dan sofft skill. Melalui Pendidikan karakter yang tepat dengan mengitegrasikan nilai-nilai kearifan lokal bali harapannya adalah mampu mendukung Green skill peserta Green skills merupakan pengetahuan, kemampuan, sikap, yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan keterampilan dan kompetensi yang berkelanjutan dengan mampu menjaga keberlanjutan lingkungan. Sesuai dengan amanat Undang-Undang sistem Pendidikan nasional No. 20 tahun 2003. Penguatan karakter sangat penting di tengah pengaruh globalisasi saat ini untuk mempertahankan nilai dan jati diri sebagai bangsa yang beradab. Pengutan karater bangsa bisa dilakukan dengan menamkan dan menekankan Kembali bagaimana penguatan aktualisasi nilai-nilai kearifan local dalam dunia Pendidikan khususnya pada pendidikan vokasi pariwisata. Karena pendidikan vokasi pariwisata merupakan pendidikan dalam mempersiapkan peserta didik yang profesional namun berkarakter lokal dengan penguasaan keahlian kepariwisataan yang siap menjadi aset penjaga industri kepariwisataan di Indonesia. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan studi literatur dalam usaha memberikan gagasan tentang pentingnya pengitegrasian nilai-nilai kearifan local Bali pada pendidikan vokasi pariwisata dalam menguatkan karakter bangsa dalam konsep kepariwisataan bali yang berkelanjutan. Kata kunci : Nilai kearifan lokal Bali. Pendidikan vokasi pariwisata PENDAHULUAN Arah Pendidikan Nasional indonesia tidak bisa dilepaskan dari prinsip dasar yang tertuang pada Undang-Undang sistem Pendidikan nasional No. 20 tahun 2003. Dijelaskan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya untuk menanamkan pengetahuan, keterampilan saja melainkan juga sikap/karakter yang harus di jadikan pedomanoleh pendidikan umum maupun pendidikan vokasi di Terlebih pendidikan vokasi adalah pendidikan dimana peserta didik dipersiapkan langsung untuk dapat beradaptasi dengan dunia kerja dengan kompetensi bidangnya masingmasing. Pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berkarakter, adaptif, dan berdaya saing. Di era globalisasi yang sarat dengan arus modernisasi dan WIDYA ACCARYA 2025 perkembangan teknologi, keberadaan nilai-nilai kearifan lokal menjadi sangat penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya serta Bali sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya dan tradisi yang masih terjaga, memiliki berbagai nilai kearifan lokal yang dapat dijadikan landasan dalam membentuk karakter peserta didik vokasi. Pendidikan dan penguatan karakter bangsa memerlukan pembiasaan dalam lingkungan peserta Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Santika dan Sudarmawan, 2022. Pembiasaan yang dimaksud diantaranya pembiasaan untuk berbuat pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria. berbuat curang. malu bersikap malas. membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan P a g e 254 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index kekuatan yang ideal (Julkarnain Ahmad, dkk. Sebagaimana diamanatkan dalam Perpres 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Penyelenggaraan PPK pada Satuan Pendidikan jalur Pendidikan Formal dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan: Intrakurikuier. Kokurikuler. dan estrakurikuler, dan dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan satuan Pendidikan Formal. PPK dalam kegiatan Intrakurikuler merupakan penguatan nilai-nilai karakter melalui kegiatan penguatan materi pembelajaran, metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan penyelenggaraan PPK dalam kegiatan Kokurikuler, menurut Perpres Penguatan Pendidikan Karakter, merupakan penguatan nilai-nilai karakter yang dilaksanakan untuk pendalaman dan/ atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler sesuai muatan kurikulum. Kegiatan kokulikuler pada kurikulum merkedeka belajar ditekankan dengan pembelajaran yang berbasis projek kemanusiaan. Terakhir ekstra kulikuler adalah kegiatan yang berkaitan dengan minat dan bakat peseta didik. Nilai-nilai budaya sekolah sebagai lingkunagan kecil masyarakat akademik sangat erat sekali kaitannya dengan nilai-nilai keraifan lokal masyarakat setempat. Dengan kata lain sekolah adalah cerminan nilai masyarakat lokal. Oleh karena itu Pendidikan karakter dan nilai kearifan lokal setempat tidak bisa disipahkan. Pendidikan karakter merupakan penciptaan lingkungan sekolah yang membantu peserta didik dalam perkembangan etika, tanggung jawab melalui model, dan pengajaran karakter yang baik melalui nilai-nilai universal (Berkowitz & Bier, 2005:. Nilai-nilai universal yang dimaksud adalah nilai-nilai kehidupan masyrakatnya yang diterima dan dijunjung tinggi sebagai pedoman dalam bertingkah laku. Konsep nilai ini searah dengan nilai-nilai kearifan lokal adi luhung yang dipegang teguh oleh suatu masyrakatnya sebagai hasil dari sebuah peradaban. Untuk terus melestarikan nilai- WIDYA ACCARYA 2025 nilai kearifan lokal tersebut sudah barang tentu menjadi tanggungjawab semua pihak, khususnya dunia Pendidikan dalam mentransfer nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya yang sudah jelas akan menguatkan karakte kebangsaan. Menurut Arnyana mengembangkan pendidikan karakter bangsa Indonesia, nilai-nilai budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengembangannya. Karena nilai-nilai budaya local memiliki nilai-nilai kebaikan yang universal. Hal ini didukung oleh: Wagiran . mengemukakan: pendidikan yang mengaitkan kearifan local atau budaya lokal dapat meningkatkan karakter luhur peserta didik sesuai budaya Indonesia, yaitu memiliki budi pekerti, pengendalian diri, dan sopan santun. Sunarya I. mengemukakan bahwa budaya adiluhung . eindahan nilai-nilai filosofi bangs. yang merupakan warisan budaya bangsa sangat penting diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya melalui pendidikan sehingga generasi bangsa ini memahami dan menerapkan nilai-nilai adiluhung tersebut dalam kehidupannya. Penguatan Pendidikan karakter harus dibarengi dengan penguatan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat karena cerminan karakter generasi bangsa yang diharapkan adalah mampu mencerminkan aktualisasi budaya lokal yang adi luhung tentu yang sesuai dengan semangat Pancasila. Penguatan ini bisa dilakukan dengan integrasi nilai-nilai kearifan lokal pada pembelajaran, kegiatan yang bersis projek mengenai permasalahan social, dan kegiatan ekstrakulikuler yang dapat memperkuat nilai-nilai kearifan lokal tersebut. Menurut Sueca . Integarasi kearifan lokal dalam pendidikan sangat penting dalam membangun budaya kehidupan. Membangun budaya kehidupan bagi peserta didik yang berperan penting adalah guru, dimana guru memberikan pengaruh sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan karakter disekolahsekolah, dan dirumah dapat dialkukan oleh kedua orang tuanya, bahkan sangat menentukan berhasil P a g e 255 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index atau tidaknya peserta didik dalam mengemban pribadi secara utuh. Santika menyatakan Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan siswa untuk selalu dekat dengan situasi konkrit yang mereka hadapi sehari-hari. Tujuan dari model pendidikan berbasis kearifan lokal adalah memberikan penguatan kecakapan hidup peserta didik, dengan berpijak pada pemberdayaan keterampilan serta potensi lokal pada tiap-tiap daerah atau pemberdayaan nilai-nilai local yang ada. Sehingga harapannya dengan menguatkan nilai-nilai kearifan lokal dapat membentuk juga karakter bangsa yang cerdas dan baik . mart and good citizenshi. dengan idikator Warga negara yang mampu Auberfikir global,bertindak lokal, dan komit terhadap bangsa dan negaranya . hink globally, act locally, and commit nationality )Ay . omantri, 2001. Azis Wahab, 2001. Winataputra,2001. Azis Wahab dan Sapriya, 2. Kearifan lokal Bali yang tercermin dalam filosofi Tri Hita Karana, nilai gotong royong . enyama bray. , serta etos kerja yang merupakan potensi besar untuk diintegrasikan ke dalam pendidikan vokasi. Nilai-nilai tersebut tidak hanya memperkaya proses pembelajaran, tetapi juga membentuk etika kerja, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial peserta didik, sehingga mereka mampu bersaing di dunia kerja sekaligus tetap menjunjung tinggi budaya lokal Bali Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa generasi muda, termasuk peserta didik vokasi, semakin terpengaruh oleh budaya instan, sikap hedonis, individualistik, dan kurang memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta budaya lokal. Kondisi ini menuntut adanya upaya penguatan nilai-nilai kearifan lokal Bali melalui pendidikan vokasi, baik dalam kurikulum, metode pembelajaran, maupun dalam kegiatan praktik dan WIDYA ACCARYA 2025 kehidupan kampus. Harapannya adalah pendidikan vokasi tidak hanya menghasilkan tenaga kerja terampil, tetapi juga lulusan yang memiliki jati diri, berkarakter, serta mampu menjadi agen pelestari dan pengembang budaya lokal dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penelitian ini berusaha memberikan gagasan bagaimana penguatan nilai-nilai kearifan local Bali khusunya sebagai dasar pengembangan Pendidikan karakter dan profil pelajar Pancasila yang harus berjalan seibang dalam bidang pendidikan vokasi kepariwisataan. Oleh karenanya integrasi nilai kearifan lokal dalam konten pembelajaran ataupun dalam kegiatan kokulikuler dan esktrakulikuler tidak dapat dipisahkan dan harus dipahami oleh semua guru atau dosen. Dengan menguatkan nilai-nilai Kearifan lokal Bali mempertahankan krakteristik orang bali yang menjadi ciri khas dan salah satu indikator daya tarik tersendiri pariwisata bali dalam konteks nilainilai kehidupan sosial sehingga tetap menjadi daya tarik pariwisata lokal maupun global yang selaras dengan kepariwisataan yang berkelanjutan . II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengkaji atau menelaah berbabagi literatur yang ada, dan disebut juga dengan studi kepustakaan. Penelitian deskriptif membicarakan beberapa kemungkinan untuk memecahkan masalah aktual dengan jalan Sedangkan Studi kepustakaan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen tertulis yang digunakan berupa buku, jurnal, proshiding maupun artikel ilmiah yang berkaitan tentang Pendidikan P a g e 256 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index karakter, nilai-nilai kearifan lokal masyrakat Bali dan profil pelajar Pancasila. HASIL DAN PEMBAHASAN Penguatan nilai-nilai Kearifan Lokal Bali dalam membangun karakter Bangsa yang besar tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi atau kekuatan politiknya, masyarakatnya yang menjadi ciri khas tersendiri. Indonesia sebagai negara majemuk memiliki berbagai kearifan lokal yang menjadi sumber nilai, etika, dan moral. Salah satu kearifan lokal yang menjadi daya tarik pariwisata adalah kearifan lokal Bali. Nilai-nilai luhur masyarakat Bali, yang bersumber dari filosofi hidup, tradisi, serta spiritualitas, dapat menjadi landasan penting dalam pembangunan karakter bangsa yang berintegritas, beretika, dan berkepribadian. Pada tataran pembangunan nasional, penguatan kearifan lokal Bali tidak hanya relevan untuk masyarakat Bali, tetapi juga dapat dijadikan model dalam membangun karakter bangsa secara Hal ini karena nilai-nilai kearifan lokal Bali mengandung universalitas, seperti harmoni, toleransi, gotong royong, kejujuran, dan penghormatan terhadap alam. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan globalisasi yang sering kali mengikis identitas budaya dan menimbulkan krisis moral khusunya generasi muda. Penguatan nilai-nilai kearifan lokal ini merupakan bagian dari upaya pendidikan karakter kebangsaan yang terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Implementasi kurikulum merdeka saat ini memberikan penegasan lagi tentang bagaimana urgensi Pendidikan karakter dapat diwujudkan secara selaras dan berkesinambungan. Karena pada dasarnya keberhasilan proses pendidikan harus mengukur tiga ranah diantaranya adalah WIDYA ACCARYA 2025 Pembentukan profil pejalar Pancasila yang menjadi jargon tentu merupakan nilai-nilai karakter bangsa yang diharapkan dimiliki sebagai kompetensi akhir dalam setiap jenjang Pendidikan. Harus dipandang bahwa Pendidikan dalam kurikulum tersebut memberikan peluang bagaimana nilai-nilai kearifan lokal setempat dapat diakomodir dalam proses Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan Arnyana . Grand desain menjadi pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati . piritual and emotional developmen. Olah Pikir . ntellectual developmen. Olah Raga Kinestetik . hysical developmen. , dan Olah Rasa dan Karsa . ffective and creativity developmen. Bangsa Indonesia memiliki peluang besar dapat melaksanakan pendidikan karakter dengan berbekalkan bahwa Indonesia adalah negara timur dengan budaya dan adat istiadat serta nilai-nilai kearifan lokal yang mendukung Pendidikan karakter tersebut. Lebih lanjut Arnyana . , dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa Indonesia, nilai-nilai budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai dasar Karena nilai-nilai budaya lokal memiliki nilai-nilai kebaikan yang universal. Hal ini didukung oleh Wagiran . pendidikan yang mengaitkan kearifan local atau budaya lokal dapat meningkatkan karakter luhur peserta didik sesuai budaya Indonesia, yaitu memiliki budi pekerti, pengendalian diri, dan sopan santun. Derasnya arus globalisasi dan pesatnya kemajuan industri pariwisata di Bali juga cendrung berpengaruh terhadap bagaimana pola pergaulan dan interaksi social masyrakat / generasi muda pada khususnya. Oleh karena itu penguatan P a g e 257 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Kembali nilai-nilai kearifan lokal Bali pada Pendidikan formal sangat urgent dilakukan. Kemendiknas . mendefiniskan Pendidikan . tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham . omain kogniti. tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan . omain afekti. nilai yang baik dan . omain Harapannya adalah pembelajaran yang dihasilakan mengoptimalkan semua potensi dan kemampuan peserta didik sehingga mengasilkan generasi bangsa yang Smart dan Good citishensip . erdas dan bai. Sueca Menanamkan menguatkan kembali kearifan lokal secara interen melalui pembelajaran, dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri, sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya AulainAy. Pendidikan yang menaruh peduli terhadapnya, akan bermuara pada munculnya sikap yang mandiri, penuh inisiatif, santun dan kreatif. Sehingga dengan mengintegrasikan kearifan lokal dalam desain pembentukan karakter anak, secara tidak langsung anak akan mendapatkan gambaran yang utuh atas identitas dirinya sebagai individu, serta identitas dirinya sebagai anggota masyarakat yang terikat dengan budaya yang ungul dan telah lama diwarisi para pendahulunya. Bali sebagai daerah pariwisata yang terkenal sampai dengan kemancanegara karena keindahan alamnya pun juga bagaimana kehidupan social keagaamaannya yang unik. Tentu pula didasarkan akan nilai-nilai kearifan lokal masyrakatnya yang menjadi ciri khusus maysarakat sebagai daya Tarik pariwisata yang menonjolkan nilai-nilai keramah-tamahannya. Berikut ini dapat identifikasikan nilai-nilai kearifan lokal Bali yang harus dikuatkan dengan pengintegrasian dalam Pendidikan. Diantarnya adalah fasafah orang Bali WIDYA ACCARYA 2025 adalah ajaran Tri Hita Karana, yang mendasari / core values sistem nilai-nilai kehidupan yang Ajaran/ konsep Tri Hita Karana secara terminologi, berasal dari kata AutriAy, berarti tiga. AuhitaAy, berarti sejahtera, bahagia, rahayu. AukaranaAy, berarti sumber penyebab. Jadi. AuTri Hita KaranaAy, berarti tiga sumber penyebab kerahayuan dalam hidup dan kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan (Sudarma, 1971. Kaler. Santika Sudarmawan . menyatakan Ajaran Tri Hita Karana sebagai filsafat hidup merupakan suatu konsep yang harmoni yang harus dilaksanakan untuk dapat mewujudkan keseimbangan dan kemakmuran Bagiannya adalah keseimbangan manusia dengan alam yang disebut . , . , dan keseimbangan dengan tuhannya . Keseimbangan ketiganya dapat diwujudkan dengan selalu bertindak dalam kaidah ajaran agama . , selalu berbuat baik dan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan (Pawonga. dan menjaga kelestarian alam dan lingkungan kita . Ketika konsep Tri Hita Karana ini sudah dijalankan secara seimbang maka akan dapat memberikan kebahagian dan ketentraman kehidupan. Pada tataran tingkah laku manusia ada yang disebut ajaran Karma pahala, jika di uraikan, karma artinya perbuatan sedangkan pahala adalah akibat maka dapat diartikan sebagai akibat dari perbuatan atau hukum sebab akibat. Etika moral lainnya adalah ajaran Tattwam Asi, yang bersumber dari ajaran agama Hindu dengan lebih menekankan perwujudan cinta kasih pada sesama, mengandung prinsip kebersamaan dan kesetaraan (Suja, 2010:. Ajaran Tri Kaya Parisudha, bagiannya meliputi Kayika . erbuat yang bai. Wacika . erkata-kata yang bai. , dan Manacika . emiliki pikiran dan pengetahuan suc. Nilai sosial kekeluargaan, yaitu suka duka . uka dan P a g e 258 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index duka dirasakan bersam. , kerja keras yaitu nilai puputan . engorbanan sebesar-besarnya secara tulus iklas tanpa pameri. , konsep motivasi, nyalanang jengah . ewujudkan cita-cita menjadi kenyataa. , metaksu . erkarisma dalam profes. , mulat sarira . ntrospeksi dir. , dan nilai-nilai sosial seperti paras paros sarpanaya . elajar seiring dan sejalan bagi kepentingan bersam. , segilik seguluk sebayantaka . aik dan buruk dirasakan bersam. , dan saling asah . , saling asih . aling mengasih. , lan saling asuh . elalu memberikan kontrol satu sama lai. Kemudian ada Konsep kekeluargaan dan kebersamaan masyarakat Bali juga dikenal adanya konsep Aumenyama brayaAy, yang hingga saat ini masih diyakini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menjaga harmonisasi kehidupan masyarakat antaragama dan antaretnik . alam komunitas yang Secara etimologi AuMenyama BrayaAy terdiri dari dua kata, yakni: nyama dan braya. Nyama, berarti saudara, kemudian mendapat awalan AumeAy, menjadi: AumenyamaAy, yang berarti Konsep demokrasi ada ungkapan don sente don pelendo artinya ade kene ade keto dalam bahasa Indonesia artinya ada gini ada gitu yang artinya aspek Demokrasi bebas seseorang dalam berekpresi namun tetap dalam ranah peraturan yang berlaku (Santika, 2. Nilai- Nilai kearifan lokal Bali pada pendidikan Vokasi Pariwisata Pendidikan Vokasi Pariwisata merupakan salah satu wujud pendidikan dalam ranah vokasi atau pendidikan tinggi dengan fokus pada penguasaan keahlian terapan tertentu untuk mempersiapkan tenaga kerja yang siap pakai dan mampu bersaing di dunia industri, dengan kurikulum yang mengutamakan praktik kerja langsung serta melibatkan pengalaman magang dalam bidang kepariwisataan. Sebagai salah satu negara yang memiliki potensi pariwisata sebagai sumber pendapatan nasional maka pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan harus bisa WIDYA ACCARYA 2025 mempersiapkan kurikulum pendidikan menengah atau tinggi untuk dapat mengakomodir kebutuhan dan kemajuan industri kepariwisataan. Sehingga harapannya adalah terciptanya tenaga kerjayang profesional yang bisa bersaing dalam dunia kerja. Pengembangan sistem pendidikan dan pelaksanaan program pendidikan secara spesifik di bidang pendidikan tinggi sangat diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme SDM di industri dan daya saing pariwisata secara keseluruhan, sebagaimana Alves . bahwa: AuAto enhance the employeesAo professionalism in the industry and the competitiveness of the hotel units, through the development of the education system and the implementation of specialised educational programmes in higher educationAAy. Hal ini berarti bahwa tujuan dari penyelenggaraan program pendidikan secara spesifik di bidang pendidikan tinggi adalah untuk menjaga kemakmuran jangka panjang industri pariwisata memperhatikan secara khusus pada pendidikan sumber daya manusia (SDM) pariwisata khususnya kepada keahlian yang pada gilirannya akan pelayanan (Muhamad Arifin dkk, 2. Peningkatan SDM kepariwisataan seyogyanya harus sejalan dengan aktualisasi nilai-nilai kearifan lokal mayrakat setempat sebagai wujud dan ciri khas nilai kehidupan sosial yang autentik sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengitegrasikan nilai-nilai kearifan lokal tersebut dalam proses pendidikan baik di sekolah/perguruan tinggi atau dalam dunia industri pada saat proses magang. Misalnya dalam proses belajar mengajar di contohkan dengan pengintegrasian nilai-nilai lokal yang dapat dipraktekan sebagi bagian dari kompetensi pembelajaran yang dapat diukur. Nilai-nilai kearifan lokal yang akan dimunculkan dengan memadukan kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran, atau pada kegiatan yang berbasis projek P a g e 259 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index atau masalah-masalah kontekstual di masyarakat. Harapannya adalah pembelajaran lebih bermakna dan meaningful dalam memcapai seluruh kompetensi yang ada. Santika menyatakan Intergarasi nilai-nilai kearifan lokal bali pada muatan materi pembelajaran harus disesuaikan dengan pedoman nilai-nilai kearifan lokal Bali yang ada. Sebagai inovasi, guru harus membuat secara mandiri terkait nilai-nilai kearifan lokal Bali yang bisa dikembangkan dalam muatan materi pembelajaran sesui dengan mata pelajaran yang diajarkan. Lebih lanjut dijelaskan secara garis besar Nilai-nilai kearifan lokal Bali yang perlu di tonjolkan oleh peserta didik adalah Saling menghargai, solidaritas, gotong royong kerja sama dan kerja keras. Diantaranya adalah nilai rendah hati dalam istilah Bali ada ungkapan belog polos, ulet pantang menyerah dengan semangat puputan, nilai-nilai kompetitif yaitu nyalanang jengah, semangat solidaritas dengan esensinya menyame beraye, konsep ajaran Tri Hita Karana, ajaran Tat Twam Asi, tri kaya parisudha, suka duka, mulat sarira, paras paros sarpanaya, segilik seguluk sebayantaka, saling asah asih lan asuh. Menentukan keberhasilan penguatan nilainilai kearifan lokal Bali dalam membentuk profil pelajar pancasila pada proses pembelajaran dan Pendidikan pada umumnya, tergantung dari guru dalam memilah, mengidentifikasi, membuat rancangan, menjalankan pembelajaran / projeck setra evaluasi pembelajaran dilakukan secara Guru harus memiliki keasadaran sebagai pentranmisi nilai. Santika dan sudarmawan . menyatakan sekolah memiliki misi penting dalam menanamkan budaya masyakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Oleh karena itu sekolah tidak boleh lepas dari akar nilai-nilai yang ada pada tataran masrakatanya. Sesuai dengan teori fungsional, khususnya struktural fungsional, dalam menjelaskan hubungan antara pendidikan sekolah dengan kepentingan proses sosial budaya di masyarakat, umumnya melihat sekolah sebagai WIDYA ACCARYA 2025 sarana yang memungkinkan peserta didik belajar mengambil tempat mereka di dalam masyarakat dan berkontribusi dalam saling ketergantungan yang diperlukan untuk mempertahankan tatanan sosial dan menyempurnakan kebutuhan anggotaanggotanya. Sekolah, dengan demikian, dapat nilai-nilai tradisional dan sebagai sarana stabilitas sosial serta pemeliharaan tatanan sosial yang ada (Hallinan, dalam Ballantine, 1985: 33-34. Collins, dalam Ballantine, 1985:60-. Pendidikan vokasi pariwisata memiliki peran penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga berkarakter, beretika, dan mampu menjaga nilai budaya Di Bali, pariwisata menjadi sektor unggulan yang mengandalkan daya tarik budaya, tradisi, serta kearifan lokal masyarakat. Oleh sebab itu, penerapan nilai-nilai kearifan lokal Bali dalam pendidikan vokasi pariwisata tidak dapat Tanpa adanya penguatan nilai budaya, lulusan vokasi pariwisata akan cenderung bersifat teknokratis, pragmatis, dan mungkin kehilangan jati diri sebagai bagian dari masyarakat Bali sehingga nilai-nilai sosial masyrakat pun akan berubah yang tidak lagi menjadi salah satu indikator potensi wisata. Kearifan lokal Bali, yang terwujud dalam filosofi hidup, tradisi, seni, serta hubungan harmonis dengan alam dan sesama, dapat menjadi landasan dalam mencetak tenaga pariwisata yang berkarakter unggul. Prinsip-prinsip seperti Tri Hita Karana. Tatwam Asi. Segilik-Seguluk, hingga nilai gotong royong . adalah pilar penting yang mampu memperkuat etika pelayanan pariwisata. Nilai-nilai ini, apabila ditanamkan dalam kurikulum vokasi, akan memberikan keseimbangan antara penguasaan hard skill . ompetensi tekni. dan soft skill . ompetensi etis dan sosia. Dimulai dengan Konsep Dasar atau prinsip dasar masyarakat bali adalah ajaran Tri Hita P a g e 260 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Karana, yang di maknakan sebagai tiga penyebab kebahagiaan dan kesejahteraan hidup menekankan Tuhan . , . , dan manusia dengan alam . Konsep ini sangat relevan untuk diterapkan dalam pendidikan vokasi pariwisata. Parhyangan . ubungan manusia dengan Tuha. Dalam dunia pariwisata, parhyangan dapat diinternalisasi melalui sikap spiritualitas, rasa syukur, dan kejujuran dalam bekerja. Peserta didik diarahkan untuk memandang pariwisata bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai sarana menjaga nilai sakral budaya Bali. Misalnya, ketika melayani wisatawan yang berkunjung ke pura atau upacara adat, mereka perlu menanamkan rasa hormat dan menjaga kesakralan tempat memberikan pelayanan bersarkan nilainilai ketulusan dan kejujuran. Pawongan . ubungan manusia dengan sesam. Pariwisata adalah bisnis berbasis pelayanan dan kejujuran. Peserta didik vokasi pariwisata yang menginternalisasi pawongan akan memiliki empati, keramahtamahan . , serta kemampuan komunikasi yang baik. Sikap menghargai wisatawan, bekerja sama dalam tim, dan menjalin hubungan baik dengan staff dan masyarakat sekitar merupakan implementasi nyata Palemahan . ubungan manusia dengan ala. Lingkungan merupakan aset utama pariwisata Bali. Karena alam merupakan salah satu daya tarik utama pariwisata. Dengan nilai palemahan. Peserta didik diajarkan untuk menjaga kelestarian alam, mengurangi limbah dengan daur ulang yang tepat, menggunakan prinsip ekowisata, serta mendukung pariwisata . ustainable touris. Menjadikan Tri Hita Karana sebagai kerangka kurikulum, pendidikan vokasi pariwisata tidak hanya menghasilkan tenaga kerja yang profesional, tetapi juga berorientasi pada WIDYA ACCARYA 2025 keseimbangan spiritual, sosial, dan ekologis yang Selanjutnya adalah Nilai Tatwam Asi sebagai dasar etika pelayanan Pariwisata. Tatwam Asi yang berarti Auaku adalah engkauAy mengajarkan bahwa manusia harus melihat dirinya sebagai bagian dari orang lain. Nilai ini sangat penting dalam dunia pariwisata, terutama dalam hal Dengan memegang perinsip ini akan melahirkan sikap melayani wisatawan dengan sepenuh hati, tulus, dan menghargai perbedaan adalah cerminan nyata dari penerapan Tatwam Asi. Dalam konteks pendidikan vokasi, mahasiswa dapat diberikan pembelajaran berbasis praktik lapangan yang menekankan pada customer care, resolusi konflik, serta manajemen emosi. Dengan internalisasi Tatwam Asi, mahasiswa tidak hanya memandang wisatawan sebagai konsumen, tetapi juga sebagai mitra yang perlu dihormati. Hal ini akan menciptakan pengalaman pariwisata yang lebih bermakna, personal, dan berkesan. Nilai- nilai gotong royong diantaranya konsep ngayah dan Segilik-Seguluk sebayantaka. Masyarakat Bali memiliki tradisi gotong royong yang dikenal dengan istilah ngayah . ekerja dengan tulus iklha. Spirit Segilik-Seguluk atau kebersamaan dalam suka dan duka merupakan nilai penting yang dapat memperkuat kerja sama tim dalam dunia pariwisata. Di sektor hospitality, keberhasilan pelayanan tidak bisa dicapai oleh individu semata, melainkan hasil kolaborasi tim. Dengan nilai Segilik-Seguluk, mahasiswa vokasi pariwisata dilatih untuk saling mendukung, berbagi tugas, serta menjaga solidaritas. Hal ini bisa diterapkan dalam praktik magang di hotel, restoran, maupun biro perjalanan wisata, di mana kerja tim menjadi faktor penentu kualitas layanan. Selain itu, semangat gotong royong juga relevan Mahasiswa dapat dilibatkan dalam kegiatan pariwisata berbasis komunitas, seperti festival budaya, desa wisata, atau program pelestarian Dengan cara ini, mereka tidak hanya P a g e 261 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index menginternalisasi nilai sosial budaya masyarakat Bali. Pendidikan vokasi pariwisata umumnya menekankan keterampilan teknis, seperti tata boga, tata hidang, tata graha, dan manajemen perjalanan Namun, dalam konteks global, keunggulan kompetitif tenaga pariwisata Bali justru terletak pada soft skill berbasis kearifan lokal. Hospitality di Bali berbeda dengan hospitality di negara lain, karena didasari nilai spiritual, keikhlasan, dan Misalnya, sapaan khas Bali dengan senyum tulus, sikap hormat ketika menyambut tamu, hingga keindahan tata cara penyajian makanan tradisional yang penuh makna simbolis. Semua itu lahir dari internalisasi kearifan lokal. Dengan pariwisata yang memahami kearifan lokal akan lebih unggul dalam pasar kerja global. Mereka tidak hanya bisa bersaing dalam aspek teknis, tetapi juga mampu memberikan pelayanan yang otentik, unik, dan bernilai tambah. Agar nilai-nilai kearifan lokal Bali benarbenar hidup dalam pendidikan vokasi pariwisata, diperlukan strategi implementasi yang terstruktur Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, antara . Integrasi dalam Kurikulum: Nilai Tri Hita Karana. Tatwam Asi, dan SegilikSeguluk dapat dijadikan mata kuliah khusus atau diintegrasikan dalam mata kuliah existing, seperti Hospitality Management. Customer Service, maupun Tourism Ethics. Pembelajaran Kontekstual: pembelajaran dengan integrasi pada materi yang prosesnya Mahasiswa/peserta didik tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga melalui praktik lapangan di desa wisata, pura, atau komunitas adat. Dengan WIDYA ACCARYA 2025 demikian, mereka memahami konteks nyata pariwisata berbasis budaya. Kolaborasi dengan Masyarakat Adat: Sekolah vokasi dapat bekerja sama dengan desa adat, seniman lokal, dan tokoh masyarakat dalam memberikan materi Misalnya, membuat sesajen, memahami filosofi tarian Bali, atau etika kunjungan ke pura. Magang dan Projek Kolaboratif: Mahasiswa diarahkan untuk melakukan magang di hotel, restoran, dan biro perjalanan yang menerapkan nilai budaya Bali, sekaligus mengerjakan berkelanjutan di komunitas lokal. Penguatan Karakter: Melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti ngayah, mahasiswa dibiasakan untuk terlibat dalam kegiatan sosial, sehingga nilai gotong royong dan kepedulian sosial semakin terinternalisasi. Apabila pendidikan vokasi pariwisata berhasil menanamkan nilai-nilai kearifan lokal, maka akan lahir generasi muda pariwisata yang profesional sekaligus berkarakter Bali. Hal ini berdampak positif bagi keberlanjutan pariwisata, antara lain: Menjaga identitas budaya Bali di tengah gempuran globalisasi. Meningkatkan daya saing tenaga pariwisata Bali karena memiliki lain,Menghadirkan pariwisata yang berkelanjutan, selaras dengan alam dan masyarakat lokal. Memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual yang autentik. IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya adalah penguatan karakter bangsa dapat dilakukan dengan integrasi nilai-nilai kearifan lokal Bali sebagai basis dalam Pendidikan akrakter bangsa. P a g e 262 Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Sekolah/kampus sebagai Pendidikan formal harus mendukung dalam keselarasan penguatan nilainilai kearifan lokal bali dalam membentuk SDM yang kompeten di bidang kepariswisataan. Nilainilai kearifan lokal Bali, seperti Tri Hita Karana. Tatwam Asi, dan Segilik-Seguluk, memiliki relevansi yang sangat kuat dalam pendidikan vokasi pariwisata. Penerapan nilai tersebut tidak hanya membentuk mahasiswa yang kompeten secara teknis, tetapi juga berkarakter, beretika, dan mampu menjaga keberlanjutan budaya serta Dengan strategi implementasi yang tepat, pendidikan vokasi pariwisata di Bali dapat menghasilkan SDM unggul yang mampu bersaing di tingkat global, tanpa kehilangan identitas lokal yang menjadi kekuatan utama pariwisata Bali. DAFTAR PUSTAKA