Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Strategi Guru dalam Menanamkan Nilai Kejujuran Melalui Pembelajaran Akidah Akhlak di Kelas IV MIN 3 Bangka Viyola Romadona. Danang Dwi Basuki Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatunnajah Bekasi. Indonesia viyolasuhardi@gmail. Abstract: This study aims to analyze teachersAo strategies in instilling honesty values through Aqidah Akhlak learning among fourth-grade students in Islamic elementary schools (Madrasah Ibtidaiya. The research employed a descriptive qualitative approach with a case study design conducted in an MI setting. The participants consisted of the Aqidah Akhlak teacher, the fourth-grade homeroom teacher, and fourth-grade students. Data were collected through classroom observations, in-depth interviews, and documentation, and were analyzed using an interactive model involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the most effective strategies include teacher role modeling, habituation of honest speech, anti-cheating learning contracts, storytelling of Prophet Muhammad as Al-Amin, daily reflection, and studentsAo honesty journals. These strategies were integrated into lesson openings, group discussions, individual assignments, daily assessments, and informal interactions outside the classroom. The implementation significantly improved studentsAo willingness to admit mistakes, reduced cheating behavior, strengthened confidence in telling the truth, and increased peer trust. Supporting factors included teacher consistency, a religious school culture, and parental support, while peer influence and digital media exposure emerged as major challenges. The study highlights that the integration of role modeling and habituation within Aqidah Akhlak instruction is highly effective in fostering honesty as a foundational Islamic character from an early age. Keywords: Aqidah Akhlak, honesty. Madrasah Ibtidaiyah, teacher strategies. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus yang dilaksanakan di lingkungan MI. Subjek penelitian meliputi guru Akidah Akhlak, wali kelas IV, dan siswa kelas IV. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang paling efektif meliputi keteladanan guru, pembiasaan berkata jujur, kontrak belajar anti mencontek, penggunaan kisah Nabi Muhammad sebagai Al-Amin, refleksi harian, dan jurnal kejujuran siswa. Implementasi strategi dilakukan secara terintegrasi dalam apersepsi, diskusi kelompok, tugas individu, evaluasi harian, serta interaksi informal di luar kelas. Dampaknya terlihat pada meningkatnya keberanian siswa untuk mengakui kesalahan, berkurangnya perilaku mencontek, tumbuhnya rasa percaya diri untuk berkata jujur, dan meningkatnya kepercayaan dari teman sebaya. Faktor pendukung keberhasilan strategi meliputi konsistensi guru, budaya madrasah yang religius, dan dukungan orang tua, sedangkan hambatan berasal dari pengaruh teman sebaya dan media digital. Penelitian ini integrasi keteladanan dan pembiasaan dalam pembelajaran Akidah Akhlak efektif membentuk karakter jujur siswa sejak dini. Kata Kunci: Akidah Akhlak, kejujuran. Madrasah Ibtidaiyah, strategi guru. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 PENDAHULUAN Pendidikan Islam secara khusus merupakan bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan ajaran Islam. 1 Pendidikan merupakan proses strategis dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik, terutama dalam menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia sejak usia dini. 2 Salah satu nilai karakter yang sangat penting dalam kehidupan sosial maupun pendidikan adalah kejujuran. Nilai kejujuran menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan, tanggung jawab, serta integritas peserta didik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. 3 Namun, perkembangan zaman yang disertai dengan pengaruh teknologi, lingkungan sosial, dan perubahan pola interaksi anak menyebabkan tantangan dalam pembentukan karakter semakin kompleks. Fenomena perilaku tidak jujur seperti mencontek, berkata tidak sesuai fakta, dan kurangnya tanggung jawab terhadap tugas sekolah masih sering ditemukan pada peserta didik sekolah dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter, khususnya nilai kejujuran, perlu ditanamkan secara sistematis melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam konteks pendidikan Islam, pembelajaran Akidah Akhlak memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik agar memiliki perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. 4 Mata pelajaran Akidah Akhlak tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga menekankan pembiasaan sikap dan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Guru memiliki posisi strategis sebagai teladan, pembimbing, sekaligus fasilitator dalam menanamkan nilai kejujuran kepada peserta didik. 5 Strategi guru dalam menyampaikan materi, memberikan keteladanan, membangun pembiasaan, serta menciptakan lingkungan belajar yang religius menjadi faktor penting dalam keberhasilan penanaman nilai Pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada masa sekarang menjadi isu yang sangat penting, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan 1 Mursal Aziz. Berkah 90 Tahun Al-Ittihadiyah: Kontribusi Al-Ittihadiyah Dalam Pendidikan Islam Mewujudkan Visi Keumatan (Sukabumi: Haura Utama, 2. 2 Mursal Aziz. Dedi Sahputra Napitupulu, and Siti Khodizah Siregar. AuLearning Media in Early Childhood Education Curriculum in Instilling Religious Character From The Perspective of The QurAoan,Ay Fikroh: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam 18, no. : 99Ae113, https://doi. org/https://doi. org/10. 37812/fikroh. 3 Mursal Aziz. Dedi Sahputra Napitupulu, and Siska Windari. AuImplementation of the Independent Curriculum in Forming Social Character Values in Early Childhood from a Quranic Perspective,Ay ISRG Journal of Education. Humanities and Literature (ISRGJEHL) 2, no. : 108Ae13, https://doi. org/10. 5281/zenodo. 4 Mursal. Aziz. Dedi Sahputra. Napitupulu, and Elidayanti. Pasaribu. AuImplementation of Islamic Education Curriculum in Instilling Tauhid Education at MIS Al-Washliyah Siamporik North Labuhanbatu,Ay Intiqad: Jurnal Agama Dan Pendidikan Islam https://doi. org/10. 30596/23693. 5 Eka Sinta Mulita et al. AuPeran Guru Akidah Akhlak Dalam Menanamkan Nilai Kejujuran Pada Siswa Kelas Vi A MTs Hidayatul Mubtadiin Desa Sidoharjo Jati Agung Lampung Selatan,Ay Journal on Education 06, no. : 14681Ae90. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 moral peserta didik di era digital. Madrasah tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk membangun kepribadian Islami siswa sejak usia dasar. Nilai kejujuran menempati posisi yang sangat mendasar karena menjadi fondasi lahirnya karakter positif lain seperti tanggung jawab, disiplin, amanah, dan sikap percaya diri. Penelitian Haq dan Umam . menyebutkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter saat ini memang dirasakan mendesak, yang menunjukkan bahwa sekolah perlu memberikan perhatian serius terhadap pembinaan moral peserta didik sejak dini. 6 Pendidikan di era saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok,7 sehingga pendidikan tidak cukup hanya menargetkan capaian akademik, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai akhlak yang kokoh. Urgensi penelitian ini semakin kuat ketika melihat fenomena menurunnya perilaku jujur pada siswa usia sekolah dasar. Dalam praktik keseharian di kelas, masih ditemukan siswa yang mencontek saat mengerjakan tugas atau ulangan, tidak mengakui kesalahan ketika melanggar aturan, menyampaikan alasan yang tidak sesuai fakta, bahkan beberapa tugas rumah dikerjakan oleh orang tua sehingga mengurangi makna proses belajar. Penomena tersebut menunjukkan bahwa karakter jujur belum sepenuhnya terinternalisasi dalam diri siswa. Haq dan Umam . menjelaskan bahwa pendidikan karakter, khususnya kejujuran, menjadi sangat penting karena meningkatnya perilaku negatif siswa dan lemahnya integritas, sehingga sekolah harus memperkuat pembinaan karakter secara sistematis. 9 Noptario et al. juga menekankan bahwa karakter jujur merupakan nilai utama yang menopang pembentukan karakter lain, sehingga guru dan lingkungan sekolah memegang peranan sentral dalam proses penanamannya. Dalam Madrasah Ibtidaiyah Negri 3 Bangka, pembelajaran Akidah Akhlak memiliki posisi yang sangat relevan sebagai media internalisasi nilai kejujuran. Mata pelajaran ini tidak hanya menyampaikan konsep benar dan salah secara teoritis, tetapi juga mengarahkan siswa untuk membiasakan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. 6 Muhammad Faishal Haq and Moch. Zuhaeri Umam. AuUpaya Pembinaan Karakter Islami Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Al QurAoan,Ay Abnauna: Jurnal Ilmu Pendidikan Anak 4, no. https://doi. org/https://doi. org/10. 52431/jurnalilmupendidikananak. 7 Noptario Noptario. Faisal Faisal, and Tastin Tastin. AuStrategi Guru Kelas Dalam Membimbing Karakter Jujur Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Palembang,Ay Limas Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 3, no. : 1Ae9, https://doi. org/10. 19109/limas_pgmi. 8 Upaya Pembinaan et al. AuUpaya Pembinaan Karakter Islami Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Al QurAoanAy 04, no. : 76Ae83. 9 Haq and Umam. AuUpaya Pembinaan Karakter Islami Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Al QurAoan. Ay 10 Noptario. Faisal, and Tastin. AuStrategi Guru Kelas Dalam Membimbing Karakter Jujur Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Palembang. Ay Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Pemilihan kelas IV MI sebagai fokus penelitian memiliki alasan akademik yang kuat. Pada tahap ini, siswa berada pada rentang usia sekitar 9Ae10 tahun yang secara perkembangan kognitif dan moral mulai mampu memahami konsekuensi dari tindakan benar dan salah. Mereka sudah dapat membedakan perilaku jujur dan tidak jujur, tetapi masih membutuhkan arahan intensif dari guru agar nilai tersebut berubah menjadi kebiasaan. Kelas IV juga merupakan fase penting karena siswa mulai menghadapi tugas akademik yang lebih kompleks, interaksi sosial yang lebih luas, serta tuntutan tanggung jawab yang meningkat. Berdasarkan telaah penelitian sebelumnya, sebagian besar kajian lebih banyak menyoroti pendidikan karakter secara umum atau penanaman akhlakul karimah secara luas, namun belum banyak yang secara spesifik memfokuskan analisis pada strategi guru dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak di kelas IV MI. Guru Akidah Akhlak memiliki peran sentral dalam membentuk karakter peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah. 11 Sementara itu. Mulita. Iqbal, dan Aristika . menyoroti bahwa guru akidah akhlak yang menekankan pada penanaman nilai-nilai kejujuran dalam perilaku siswa. 12 Namun, penelitian-penelitian tersebut belum secara khusus mengupas strategi implementatif di kelas IV MI dengan fokus pada fenomena keseharian siswa seperti mencontek, tidak mengaku salah, dan manipulasi tugas. Di sinilah letak gap penelitian yang menjadi dasar penting dilaksanakannya studi ini. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus analisis yang lebih spesifik terhadap strategi guru dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Negri 3 Bangka, dengan menekankan keterkaitan antara metode keteladanan, pembiasaan, pengawasan tugas, serta integrasi nilai kejujuran dalam aktivitas belajar sehari-hari. Penelitian ini tidak hanya memotret strategi guru secara konseptual, tetapi juga menelaah implementasi nyata dalam kelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi yang digunakan guru dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak di kelas IV MI, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta melihat dampaknya terhadap perilaku siswa. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memperkaya kajian pendidikan karakter Islam di tingkat MI, khususnya terkait strategi pembelajaran berbasis akhlak. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan memahami secara mendalam strategi guru dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah. 11 Fitri Handayani. AuPeran Guru Akidah Akhlak Dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri 05 Lawangagung SelumaAy (IAIN BENGKULU, 2. 12 Sinta Mulita et al. AuPeran Guru Akidah Akhlak Dalam Menanamkan Nilai Kejujuran Pada Siswa Kelas Vi A MTs Hidayatul Mubtadiin Desa Sidoharjo Jati Agung Lampung Selatan. Ay Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Pendekatan ini dipilih karena mampu menggambarkan fenomena sosial dan proses pendidikan secara alami, kontekstual, serta berfokus pada makna di balik tindakan guru dan respons siswa. Pendekatan kualitatif sangat relevan untuk menelaah proses internalisasi nilai yang tidak dapat diukur hanya dengan angka, tetapi memerlukan pemahaman mendalam terhadap perilaku, interaksi, dan kebiasaan yang terjadi di lingkungan madrasah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, karena penelitian ini memusatkan perhatian pada satu kasus spesifik, yaitu strategi guru Akidah Akhlak dalam membentuk karakter jujur siswa kelas IV MI. Melalui studi kasus, data yang diperoleh menjadi lebih detail, mendalam, dan mampu menggambarkan kondisi nyata yang terjadi di kelas. Pemilihan jenis ini juga didukung oleh penelitian terdahulu Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan,13 sehingga model ini dinilai sesuai untuk mengeksplorasi strategi pembelajaran berbasis karakter di lingkungan madrasah. Lokasi penelitian dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Negri 3 Bangka yang memiliki pembelajaran Akidah Akhlak aktif pada kelas IV. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan dasar Islam yang secara langsung menanamkan nilai-nilai moral dan religius kepada peserta didik. Fokus penelitian diarahkan pada situasi pembelajaran di kelas, interaksi guru dan siswa, serta budaya sekolah yang mendukung pembentukan karakter kejujuran. Subjek penelitian meliputi guru Akidah Akhlak, wali kelas IV, dan siswa kelas IV MI. Guru Akidah Akhlak dipilih sebagai informan utama karena memiliki peran langsung dalam merancang dan menerapkan strategi pembelajaran nilai kejujuran. Wali kelas berfungsi sebagai informan pendukung untuk memberikan gambaran tentang perilaku siswa di luar jam pelajaran Akidah Akhlak, sedangkan siswa kelas IV menjadi subjek utama dalam melihat dampak strategi guru terhadap perilaku jujur mereka dalam kehidupan belajar sehari-hari. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung strategi guru saat proses pembelajaran berlangsung, seperti keteladanan, pembiasaan berkata jujur, pengawasan tugas, dan respons siswa terhadap arahan Wawancara mendalam dilakukan kepada guru, wali kelas, dan beberapa siswa untuk menggali pemahaman tentang strategi, hambatan, serta perubahan perilaku siswa terkait nilai kejujuran. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data berupa perangkat pembelajaran, catatan evaluasi, tata tertib kelas, foto kegiatan, dan hasil tugas siswa. Rosmawar . menjelaskan bahwa metode ini 13 Bela Sisra Wahyuni et al. AuStrategi Guru Dalam Pengelolaan Kelas Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri,Ay Ainara Journal (Jurnal Penelitian Dan PKM Bidang Ilmu Pendidika. 6, no. : 331Ae40, https://doi. org/10. 54371/ainj. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 efektif untuk memahami strategi guru secara mendalam dalam Madrasah Ibtidaiyah. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan Gambar Pola Pengumpulan Data Berdasarkan gambar tersebut maka pengumpulan data dilakukan dengan cara secara terus-menerus dan saling berkaitan dengan proses kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memperoleh informasi yang relevan dengan fokus penelitian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara interaktif sesuai dengan model analisis data Miles. Huberman, dan Saldaya, yaitu melalui tahap koleksi data, kondensasi data, display data . enyajian dat. , dan penarikan kesimpulan/verifikasi sehingga data yang dihasilkan menjadi valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam analisis data peneliti menggunakan metode Miles dan Huberman, sebab peneliti berkesimpulan bahwa analisis jenis isi senafas dengan penelitian yang akan dilakukan. Model analisis data kualitatif dari Miles dan Huberman meliputi pengumpulan data, reduksi data atau penyederhanaan data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih informasi yang relevan dengan fokus penelitian, khususnya strategi guru dalam menanamkan nilai kejujuran. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif agar pola strategi yang digunakan guru dapat terlihat jelas. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan berdasarkan keterkaitan antara data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wahyuni et al. bahwa penelitian kualitatif dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman agar hasil penelitian lebih sistematis dan 14 Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan 14 Wahyuni et al. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 membandingkan data dari guru Akidah Akhlak, wali kelas, dan siswa. Sementara itu, triangulasi teknik dilakukan dengan mencocokkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Langkah ini bertujuan agar data yang diperoleh benar-benar valid, objektif, dan mampu menggambarkan strategi guru secara utuh dalam penanaman nilai kejujuran di kelas IV MI. TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Strategi Guru Menanamkan Nilai Kejuajuaran Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak di kelas IV MI di Madrasah Ibtidaiyah Negri 3 Bangka dilakukan secara terencana, bertahap, dan terintegrasi dalam aktivitas belajar sehari-hari. Strategi yang ditemukan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga menekankan pembentukan kebiasaan dan pengalaman moral siswa secara langsung. Dalam penelitian ini, strategi tersebut diwujudkan melalui keteladanan guru, pembiasaan berkata jujur, kontrak belajar anti mencontek, penyampaian kisah Nabi Muhammad sebagai Al-Amin, refleksi harian, serta jurnal kejujuran siswa. Strategi pertama yang paling dominan adalah keteladanan guru. Guru Akidah Akhlak secara konsisten menunjukkan perilaku jujur dalam interaksi seharihari, seperti mengakui kesalahan saat salah menulis di papan, menepati janji terkait pengumpulan tugas, serta bersikap adil dalam penilaian. Sikap ini memberi contoh konkret bagi siswa bahwa kejujuran bukan hanya materi pelajaran, tetapi nilai yang harus dipraktikkan. Strategi kedua adalah pembiasaan berkata jujur. Guru membangun rutinitas sederhana, misalnya meminta siswa jujur tentang siapa yang belum mengerjakan PR, siapa yang lupa membawa buku, atau siapa yang berbicara saat teman menjelaskan. Pembiasaan ini dilakukan tanpa pendekatan yang menghakimi, sehingga siswa merasa aman untuk berkata sesuai fakta. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru Akidah Akhlak kelas IV di MIN 3 Bangka, diperoleh informasi bahwa penanaman nilai kejujuran dilakukan melalui berbagai strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. Guru menjelaskan bahwa nilai kejujuran tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari agar siswa terbiasa berperilaku jujur baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Guru menyampaikan bahwa salah satu strategi yang paling sering digunakan ialah pemberian keteladanan. Dalam proses pembelajaran, guru berusaha menunjukkan sikap jujur melalui perkataan dan tindakan, seperti mengakui kesalahan apabila terdapat kekeliruan dalam penyampaian materi maupun dalam penilaian. Menurut guru, siswa usia sekolah dasar cenderung lebih mudah meniru perilaku yang dicontohkan secara langsung dibandingkan hanya menerima nasihat secara lisan. Selain keteladanan, guru juga menerapkan metode pembiasaan. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Pembiasaan dilakukan melalui kegiatan sederhana, seperti mengingatkan siswa untuk tidak mencontek saat mengerjakan tugas, berkata jujur ketika terlambat datang ke sekolah, serta mengembalikan barang yang bukan miliknya. Guru menjelaskan bahwa pembiasaan dilakukan secara terus-menerus agar nilai kejujuran tertanam menjadi karakter dalam diri siswa. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa guru menggunakan metode cerita atau kisah teladan Nabi dan tokoh Islam dalam pembelajaran Akidah Akhlak. Guru menyampaikan bahwa cerita mengenai sifat siddiq Rasulullah SAW mampu menarik perhatian siswa dan membantu mereka memahami pentingnya berkata dan bertindak jujur. Melalui cerita tersebut, siswa diajak mengambil hikmah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wali kelas IV menyatakan bahwa kerja sama antara guru Akidah Akhlak dan wali kelas turut mendukung keberhasilan penanaman nilai kejujuran. Penguatan karakter dilakukan tidak hanya saat mata pelajaran Akidah Akhlak berlangsung, tetapi juga dalam aktivitas belajar lainnya. Guru memberikan apresiasi kepada siswa yang menunjukkan perilaku jujur, misalnya dengan pujian atau penghargaan sederhana agar siswa termotivasi mempertahankan perilaku tersebut. Sementara itu, berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa kelas IV, diketahui bahwa mereka memahami kejujuran sebagai perilaku berkata benar, tidak berbohong, dan tidak mencontek. Sebagian besar siswa mengaku bahwa guru sering memberikan nasihat tentang pentingnya bersikap jujur serta mengingatkan bahwa Allah SWT menyukai orang-orang yang jujur. Siswa juga menyampaikan bahwa mereka merasa senang ketika mendapatkan pujian setelah berkata jujur atau mengakui kesalahan. Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa strategi guru dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat, penggunaan kisah teladan Islami, serta pemberian penguatan positif. Strategi tersebut dinilai cukup efektif dalam membantu siswa memahami dan menerapkan nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Strategi ketiga berupa kontrak belajar anti mencontek. Pada awal semester, guru bersama siswa menyusun aturan kelas yang salah satu poin utamanya adalah larangan mencontek saat tugas dan evaluasi. Kontrak ini ditempel di dinding kelas dan dibaca ulang sebelum evaluasi harian. Strategi ini efektif karena siswa merasa memiliki aturan tersebut, bukan sekadar menerima perintah sepihak dari guru. Strategi berikutnya adalah penggunaan cerita kisah Nabi Muhammad sebagai AlAmin. Guru sering mengaitkan materi Akidah Akhlak dengan kisah Rasulullah yang dikenal sebagai pribadi terpercaya. Kisah ini menjadi media yang sangat kuat karena siswa kelas IV cenderung mudah memahami nilai melalui cerita dan tokoh Selain itu, guru menerapkan refleksi harian, yaitu meminta siswa menyampaikan pengalaman jujur yang mereka lakukan selama di sekolah, misalnya Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 mengembalikan pensil teman atau mengakui kesalahan saat memecahkan alat tulis. Dari kegiatan ini, siswa belajar bahwa kejujuran adalah perilaku nyata yang bisa dilakukan setiap hari. Strategi terakhir adalah jurnal kejujuran siswa. Guru menyediakan buku kecil yang diisi siswa setiap akhir minggu berisi catatan sederhana tentang tindakan jujur yang sudah mereka lakukan atau kesulitan yang mereka hadapi dalam berkata jujur. Strategi ini membantu guru memantau perkembangan karakter siswa secara individual. Implementasi Strategi Kejujuran di Kelas Pada tahap implementasi, strategi kejujuran diterapkan sejak apersepsi. Sebelum memulai pelajaran, guru menanyakan kondisi siswa, kesiapan belajar, dan meminta mereka jujur jika belum memahami materi sebelumnya. Cara ini membangun budaya keterbukaan sejak awal pembelajaran. Saat diskusi kelompok, guru menanamkan kejujuran dalam pembagian tugas dan penyampaian hasil Setiap anggota kelompok diminta jujur tentang kontribusinya agar tidak ada siswa yang hanya bergantung pada teman lain. Dalam pengerjaan tugas individu, guru memberi penekanan bahwa nilai bukan tujuan utama, melainkan proses belajar yang jujur. Siswa diberi pemahaman bahwa hasil sederhana dari usaha sendiri lebih bernilai daripada hasil bagus tetapi hasil meniru. Pada evaluasi harian, guru menerapkan pengawasan yang humanis dengan menekankan pentingnya amanah. Sebelum soal dibagikan, guru mengingatkan kembali kontrak anti mencontek dan mengaitkannya dengan akhlak Rasulullah. Di luar jam formal, strategi ini juga tampak pada interaksi informal di luar kelas, seperti saat istirahat atau ketika siswa bermain. Guru tetap menegur dengan lembut jika ada siswa yang berbohong atau menyembunyikan kesalahan. Implementasi strategi kejujuran di kelas dilakukan melalui berbagai pendekatan yang terintegrasi dalam proses pembelajaran Akidah Akhlak. 15 Guru menanamkan nilai kejujuran dengan memberikan keteladanan dalam perkataan dan tindakan, seperti bersikap terbuka, disiplin, dan konsisten terhadap aturan kelas. Selain itu, guru membiasakan peserta didik untuk berkata jujur ketika mengerjakan tugas, mengakui kesalahan, serta tidak mencontek saat evaluasi pembelajaran. Strategi lainnya dilakukan melalui pemberian nasihat, cerita keteladanan Nabi Muhammad saw. sebagai al-Amin, diskusi nilai moral, serta pemberian penghargaan kepada siswa yang menunjukkan perilaku jujur. Guru juga menciptakan suasana kelas yang mendukung pembentukan karakter dengan Mursal Aziz. M Hasbie Ashshiddiqi, and Mahdiana. AuThe Concept of Early Childhood Education Curriculum from the Perspective of the QurAoan and Its Implementation in Character Formation,Ay UAR Journal of Arts. Humanities & Social Sciences (UARJAHSS) 1, no. : 6Ae10, https://doi. org/10. 5281/zenodo. 16 Elin Marlina. Salwa Azzahra, and Ratna Sari Dewi. AuStrategi Efektif Menanamkan Nilai Kejujuran Pada Generasi Muda Melalui Pendidikan Karakter,Ay Ainara Journal (Jurnal Penelitian Dan PKM Bidang Ilmu Pendidika. 5, no. : 326Ae30, https://doi. org/10. 54371/ainj. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 membangun komunikasi yang positif, pengawasan yang edukatif, dan pembiasaan sikap tanggung jawab dalam kegiatan sehari-hari. Dengan implementasi yang berkesinambungan tersebut, nilai kejujuran tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diterapkan oleh peserta didik dalam perilaku nyata di lingkungan Perubahan Perilaku Siswa di Madrasah Hasil observasi menunjukkan adanya perubahan perilaku yang cukup Siswa mulai berani mengaku salah, misalnya ketika lupa mengerjakan tugas atau tanpa sengaja merusak barang teman. Mereka juga terlihat tidak takut berkata jujur, karena guru membangun suasana kelas yang suportif dan tidak langsung menghukum. Selain itu, muncul peningkatan kepercayaan teman. Siswa yang konsisten jujur lebih sering dipercaya menjadi ketua kelompok, penjaga alat tulis kelas, atau pengumpul tugas. Beberapa faktor pendukung keberhasilan strategi ini adalah dukungan orang tua, terutama ketika kebiasaan jujur di sekolah diperkuat di rumah. Orang tua yang membiasakan anak berkata apa adanya sangat membantu konsistensi nilai. Faktor lain adalah budaya madrasah yang religius. Kegiatan rutin seperti doa bersama, salat berjamaah, dan pembiasaan salam menciptakan suasana yang mendukung internalisasi nilai akhlak. Namun demikian, terdapat hambatan berupa pengaruh teman sebaya, terutama ketika ada siswa yang masih menganggap mencontek sebagai hal biasa. Selain itu, media digital juga menjadi tantangan karena siswa terkadang meniru jawaban dari internet tanpa memahami isi tugas, bahkan beberapa pekerjaan rumah dikerjakan dengan bantuan berlebihan dari orang tua atau sumber digital. Perubahan perilaku siswa di madrasah terlihat secara bertahap setelah guru menerapkan berbagai strategi penanaman nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak. Siswa mulai menunjukkan sikap yang lebih bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas, berani berkata jujur ketika melakukan kesalahan, serta mengurangi perilaku mencontek saat proses evaluasi pembelajaran. Pembiasaan yang dilakukan guru melalui keteladanan, pemberian nasihat, penguatan nilai-nilai Islami, dan pengawasan yang konsisten mampu membentuk kesadaran siswa bahwa kejujuran merupakan bagian penting dari akhlak mulia. 17 Selain itu, suasana belajar yang mendukung dan hubungan yang baik antara guru dan siswa menjadikan peserta didik lebih nyaman untuk bersikap terbuka dan jujur dalam berbagai situasi di lingkungan madrasah. Ida Lestiana and Itsnaini Muslimati Alwi. AuProgram Pembiasaan Adab Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung i,Ay AL IBTIDAIYAH: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 06, no. : 26Ae37. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Perubahan perilaku tersebut menjadi lebih optimal dengan adanya dukungan orang tua di rumah. 18 Kebiasaan jujur yang ditanamkan di sekolah akan semakin kuat apabila orang tua turut memberikan teladan, pengawasan, dan pembiasaan yang sama dalam kehidupan sehari-hari. 19 Orang tua yang membiasakan anak berkata apa adanya, menghargai kejujuran, serta memberikan arahan ketika anak melakukan kesalahan akan membantu memperkuat karakter jujur yang telah dibangun di madrasah. Sinergi antara guru dan orang tua menciptakan lingkungan pendidikan yang konsisten sehingga siswa tidak hanya memahami nilai kejujuran secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam perilaku nyata di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial. 20 Dengan demikian, kerja sama antara madrasah dan keluarga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia dan memiliki integritas yang baik. Strategi Guru Dalam Menanamkan Nilai Kejujuran Melalui Pembelajaran Akidah Akhlak Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak di kelas IV MI bekerja efektif karena memadukan keteladanan, pembiasaan, integrasi nilai dalam materi, serta penguatan melalui budaya madrasah. Jika dikaitkan dengan teori pendidikan Islam, strategi ini sangat relevan dengan konsep uswah hasanah, yaitu guru sebagai teladan utama yang menjadi model perilaku bagi peserta didik. Dalam siswa Madrasah Ibtidaiyah, terutama kelas IV yang masih berada pada fase imitasi kuat, perilaku guru memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan moral. Ketika guru menunjukkan kejujuran dalam berbicara, mengakui kesalahan, dan bersikap adil dalam penilaian, siswa memperoleh contoh konkret tentang bagaimana nilai tersebut dipraktikkan. Darmawati dan Saputra . AuStrategi pembiasaan dan keteladanan yang dilakukan guru terbukti efektif dalam membentuk karakter jujur peserta didik. Dari perspektif pendidikan karakter Islam, keteladanan guru tidak hanya bersifat pedagogis, tetapi juga spiritual. Guru Akidah Akhlak berfungsi sebagai figur moral yang menjembatani nilai ajaran Islam dengan perilaku nyata siswa. 18 Qurota AAoyun. Rahmah Ayuningtyas, and Imamah. AuPenggunaan Metode Bercerita Dalam Kisah Nabi Muhammad Di Pengembangan Nilai Keagamaan Pada Anak Usia Dini Usia 4-6 Tahun,Ay Early Childhood: Jurnal Pendidikan 9, no. 19 Sri Puji Astutik. Ahmad Thohirin, and M. Furqon Wahyudi. AuModel Manajemen Kurikulum Terpadu Berbasis Nilai-Nilai Religius Di Madrasah,Ay Jurnal Manajemen Pendidikan 11, no. : 748Ae52. 20 Rahmi Maldini Efendi and Andi Murniati. AuImplementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Untuk Anak Sholeh Bagi Anak Usia Dini Rahmi,Ay Journal Hub for Humanities and Social Science 2, 2 . : 127Ae39. 21 Imran Saputra. AuStrategi Guru Dalam Penanaman Kedisiplinan Dan Kejujuran Peserta Didik Di MI DDI Ance Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru,Ay Piwulang: Jurnal Pendidikan Agama Islam 8, no. : 56Ae67, https://doi. org/https://doi. org/10. 32478/gfjp8t75. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Dalam teori uswah hasanah, peserta didik lebih mudah menyerap nilai melalui contoh langsung dibanding sekadar penjelasan konseptual. strategi seperti guru yang jujur dalam absensi, disiplin waktu, serta transparan dalam penilaian menjadi bentuk internalisasi yang sangat kuat. Keberhasilan strategi guru sangat dipengaruhi oleh konsistensi keteladanan, pembiasaan, dan dukungan lingkungan sekolah yang kondusif. Selain keteladanan, hasil penelitian juga menunjukkan efektivitas pembiasaan sebagai pendekatan behavioristik dalam pendidikan karakter. Dalam teori behavioristik, perilaku terbentuk melalui stimulus yang diulang secara konsisten hingga menjadi kebiasaan. Strategi seperti membiasakan siswa mengaku jika belum mengerjakan tugas, kontrak belajar anti mencontek, refleksi harian, dan jurnal kejujuran merupakan bentuk pengulangan perilaku positif yang lambat laun menjadi bagian dari karakter siswa. AuPenguatan karakter dimaknai sebagai proses internalisasi nilai yang berlangsung secara bertahap melalui keteladanan, rutinitas 23 Artinya, kejujuran tidak tumbuh secara instan, tetapi melalui latihan terusmenerus yang dilakukan dalam suasana kelas yang suportif. Jika ditelaah lebih jauh, pembiasaan yang diterapkan guru dalam penelitian ini juga sesuai dengan teori pengondisian operan, di mana siswa memperoleh penguatan positif ketika berkata Misalnya, siswa yang berani mengakui kesalahan diberi apresiasi verbal oleh guru, sehingga perilaku tersebut cenderung diulang. Relevansi pembelajaran Akidah Akhlak dengan pembentukan moral siswa juga tampak sangat kuat dalam penelitian ini. Materi tentang sifat wajib Rasul, khususnya idq . , kisah Nabi Muhammad sebagai Al-Amin, serta pembiasaan akhlakul karimah menjadi sarana efektif untuk menghubungkan konsep teologis dengan perilaku sosial siswa. Dalam hal ini, kejujuran tidak dipahami hanya sebagai aturan sekolah, tetapi sebagai bagian dari identitas keislaman siswa. Temuan ini mendukung penelitian Marlina et al. yang menyebutkan bahwa AuImplementasi strategi pendidikan karakter menunjukkan bahwa kejujuran dapat ditanamkan melalui integrasi nilai dalam pembelajaran. 24Ay Dari sisi teori perkembangan moral anak usia MI, hasil penelitian ini juga sangat sesuai. Siswa kelas IV yang berada pada rentang usia 9Ae10 tahun umumnya mulai memahami aturan sosial, konsekuensi tindakan, dan pentingnya penerimaan kelompok. Pada tahap ini, nilai kejujuran berkembang lebih efektif ketika diberikan dalam bentuk contoh nyata, aturan sederhana, dan penguatan sosial. Fakta bahwa siswa mulai berani mengaku salah dan lebih dipercaya teman menunjukkan bahwa nilai jujur 22 Saputra. 23 A Dayang. , & Wahhab. AuPenguatan Karakter Siswa Melalui Implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Berbasis Nilai-Nilai Islam Di SDN 04 Sanggau,Ay Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10, no. : 222Ae36. 24 Marlina. Azzahra, and Dewi. AuStrategi Efektif Menanamkan Nilai Kejujuran Pada Generasi Muda Melalui Pendidikan Karakter. Ay Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 telah bergerak dari sekadar kepatuhan terhadap guru menuju kesadaran sosial. Ini berarti strategi guru telah berhasil menyesuaikan pendekatan dengan tahap perkembangan moral siswa MI. Kejujuran dalam penelitian ini juga dapat dipahami sebagai fondasi karakter Islami. Dalam perspektif pendidikan Islam, kejujuran merupakan akar dari lahirnya amanah, tanggung jawab, dan kepercayaan. Ketika siswa terbiasa berkata jujur, mereka akan lebih mudah berkembang menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kontrol diri. MasAoah et al. AuImplementasi pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan yang rutin. 25Ay Artinya, pembiasaan religius seperti doa bersama, salat berjamaah, dan budaya salam di madrasah ikut memperkuat internalisasi kejujuran sebagai bagian dari karakter Islami. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu, hasil studi ini memiliki kesesuaian sekaligus kebaruan. Kesamaannya terletak pada penggunaan strategi pembiasaan dan keteladanan yang telah terbukti efektif pada berbagai pendidikan dasar Islam. Namun, kebaruan penelitian ini terletak pada fokus spesifik pada kelas IV MI dan integrasi strategi melalui aktivitas pembelajaran Akidah Akhlak yang sangat kontekstual, seperti jurnal kejujuran siswa dan refleksi harian. Strategi ini memberikan gambaran lebih aplikatif tentang bagaimana guru PGMI dapat mengembangkan pembelajaran karakter yang terukur. Implikasi penelitian ini bagi guru PGMI dan sekolah sangat signifikan. Guru PGMI perlu memandang pembelajaran Akidah Akhlak sebagai ruang pembentukan karakter, bukan hanya penyampaian materi kognitif. Strategi keteladanan harus dimulai dari perilaku guru sendiri, sementara pembiasaan perlu diintegrasikan dalam seluruh aktivitas kelas. Sekolah juga perlu membangun budaya madrasah yang mendukung, seperti aturan anti mencontek, program jurnal karakter, serta kegiatan keagamaan rutin yang konsisten. Marniawarsih dan Wahhab . menjelaskan bahwa internalisasi nilai akan lebih kuat ketika didukung rutinitas sekolah dan pengalaman sosial siswa secara berkelanjutan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa strategi guru yang paling efektif dalam menanamkan nilai kejujuran melalui pembelajaran Akidah Akhlak di kelas IV MI adalah keteladanan, pembiasaan perilaku jujur, kontrak belajar anti mencontek, penggunaan kisah Nabi Muhammad sebagai Al-Amin, refleksi harian, dan jurnal kejujuran siswa. Di antara seluruh strategi tersebut, keteladanan dan pembiasaan menjadi inti utama karena memberikan pengalaman nyata yang terus diulang dalam kehidupan belajar sehari-hari siswa. Selanjutnya, guru membiasakan siswa untuk jujur tentang tugas yang belum dikerjakan tanpa 25 MasAoah MasAoah et al. AuImplementasi Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan Keagamaan Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Bima,Ay Al-Madrasah Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah 9, no. : 183, https://doi. org/10. 35931/am. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 7 No. E-ISSN: 2721-0561 P-ISSN: 2798-3757 Ada juga kontrak belajar anti mencontek yang disusun bersama siswa untuk menjaga integritas. Kisah Nabi Muhammad digunakan sebagai contoh Siswa diminta merefleksikan pengalaman jujur mereka dan mencatatnya dalam jurnal. Dalam implementasi, budaya keterbukaan dibangun sejak awal pembelajaran, dan kejujuran ditekankan dalam diskusi dan evaluasi. Interaksi informal juga mendukung ajaran ini. Hasil observasi menunjukkan perubahan signifikan pada perilaku siswa. Mereka mulai berani mengaku salah dan berkata jujur karena suasana kelas yang suportif. Kepercayaan antar teman meningkat, dengan siswa jujur sering dipercaya dalam tugas. Dukungan orang tua dan budaya madrasah membantu, namun ada hambatan dari pengaruh teman sebaya dan media Dampak dari strategi tersebut terlihat pada perubahan perilaku siswa yang semakin positif, seperti mulai berani mengakui kesalahan, tidak takut berkata jujur, lebih mandiri dalam mengerjakan tugas, serta meningkatnya kepercayaan dari teman dan guru. Keberhasilan strategi ini sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu konsistensi guru dalam memberi teladan, budaya madrasah yang religius, dukungan orang tua di rumah, serta lingkungan pertemanan yang mendukung perilaku positif. Sebaliknya, pengaruh media digital dan teman sebaya yang kurang baik menjadi tantangan yang perlu diantisipasi atau diperlukan pengawasan. Pada penelitian ini terdapat keterbatasan yaitu hanya membahas kejujuran pada mata pelajaran akidah Akhlak, maka dari itu peneliti menyarankan bagi peneliti lain untuk bisa memperluas penelitian Selanjutnya pada variabel atau aspek lainnya. DAFTAR PUSTAKA