J-HICS Journal of Health Innovation and Community Services Vol. 4 No. 1 April 2025. Hal. Edukasi Kegawatdaruratan Dan Bantuan Hidup Dasar Di Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar Manggar Purwacarakaa. Faridab. Rio Ady Erwansyahc. Ria Anggrainid. Aesthetica Islamye. Intan Munawarohf. Shulhan Arief Hidayatg. Ossi Dwi Prasetioh a*,b,c Ae h STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung. Indonesia Email: manggar. com@gmail. Article Hystory Received: 30-12-2025 Revised: 02-01-2025 Accepted: 08-01-2025 Kata kunci: Kegawatdaruratan. Bantuan Hidup Dasar. Edukasi. Resusitasi Jantung Paru (RJP) Keywords: Emergency. Basic Life Support (BLS). Education. Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) Abtrak: Latar Belakang: Kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk di lingkungan pesantren, sehingga pendidikan kesehatan, khususnya Bantuan Hidup Dasar (BHD), sangat penting. Tujuan : Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan santri Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar dalam memberikan pertolongan pertama pada situasi darurat. Metode: Partisipatory Action Research (PAR), yang melibatkan santri secara aktif dalam pelatihan teoretis dan praktis, termasuk Resusitasi Jantung Paru (RJP), pembidaian, dan teknik transportasi pasien. Hasil: pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan santri, dengan rata-rata nilai naik dari 69 menjadi 74 setelah edukasi. Program ini meningkatkan kesiapan santri dalam menghadapi kegawatdaruratan serta memperkuat peran pesantren dalam penanggulangan keadaan Implikasi dari program ini adalah perlunya pelatihan berkelanjutan dan pengembangan kurikulum kesehatan di pesantren, untuk mempersiapkan seluruh komunitas pesantren dalam menangani situasi darurat. Kesimpulan: program edukasi BHD efektif dalam meningkatkan keterampilan dan kesadaran santri, serta dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat kesiapsiagaan pesantren dalam menghadapi kegawatdaruratan. Abstract: Background: Emergency situations can occur anytime and anywhere, including in pesantren environments, making health education, especially Basic Life Support (BLS), crucial. Objective: The goal of this program is to enhance the knowledge and skills of the students at Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar in providing first aid during emergencies. Method: The method used is Participatory Action Research (PAR), which actively involves students in both theoretical and practical training, including Cardiopulmonary Resuscitation (CPR), bandaging, and patient transportation techniques. Result: The training results show a significant improvement in the students' knowledge, with the average score rising from 69 to 74 after the education. This program improves the students' preparedness in handling emergencies and strengthens the role of the pesantren in emergency response. The implications of this program highlight the need for ongoing training and the development of a health https://jurnal. id/index. php/JHIC/index E-ISSN: 2830-7828 J-HICS Journal of Health Innovation and Community Services Vol. 4 No. 1 April 2025. Hal. curriculum in pesantren to prepare the entire community for emergency situations. Conclusion: The BLS education program is effective in improving students' skills and awareness and can serve as a starting point for strengthening the pesantren's readiness to respond to emergencies. sering menjadi korban kecelakaan, pelajar juga berpotensi menjadi penolong bagi orang lain, sehingga penting bagi mereka keterampilan memberikan bantuan pertama pada korban (Rudiyanto et al. , 2. Kecelakaan dan cedera dapat terjadi di lingkungan sekolah, dan pertolongan pertama dapat dilakukan melalui kegiatan di Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). UKS adalah program kesehatan utama yang dilaksanakan oleh puskesmas sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat, dengan fokus pada siswa dan lingkungan sekolah sebagai target utamanya (Farilya & Utami, 2. Hal serupa tidak menutup kemungkinan akan terjadi di lingkungan pondok pesantren, sehingga penting bagi santri untuk memiliki keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama. Melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar menjadi sangat mendesak. UKS dapat menjadi sarana yang efektif untuk melatih santri dalam memberikan pertolongan pertama, terutama dalam menghadapi kondisi darurat seperti kecelakaan. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan santri dapat lebih siap dan sigap menangani situasi darurat, mengurangi risiko kematian lingkungan yang lebih aman di pondok Berdasarkan hasil pengkajian pada bulan Maret 2024 di Pondok Pesantren AlKamal Blitar pada santri jenjang SMK, baik yang tergabung dalam unit UKS maupun tidak, diperoleh informasi bahwa sebagian besar santri memiliki pengetahuan yang terbatas terkait pertolongan pertama pada Hal ini disebabkan karena PENDAHULUAN Kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk di lokasi yang sulit dijangkau petugas kesehatan, sehingga peran masyarakat dalam memberikan pertolongan awal sangat penting. Salah satu contoh kegawatdaruratan adalah henti jantung . ardiac arres. , yang terjadi tiba-tiba dan membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah kerusakan otak. Kondisi ini dapat terjadi baik di rumah sakit maupun di luar rumah sakit (Chaidir et al. , 2024. Nuralamsyah & Nasir, 2. Menurut laporan American Heart Association (AHA), lebih dari 356. 000 kasus henti jantung di luar rumah sakit (OHCA) terjadi setiap tahun di Amerika Serikat, dengan hampir 90% berakibat fatal. Sebagian besar OHCA pada orang dewasa terjadi di rumah . ,9%), diikuti tempat umum . ,1%), dan panti jompo . ,9%). OHCA disaksikan oleh orang awam dalam 37,1% kasus (Tsao et , 2. Tingginya angka kematian dan kecacatan, sekitar 90%, disebabkan oleh keterlambatan pertolongan atau kesalahan dalam tindakan awal. Salah satu langkah melakukan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. , termasuk Resusitasi Jantung Paru (RJP), yang harus dilakukan segera saat menemukan korban (Chalil & Nopa, 2. Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah tindakan awal yang harus segera dilakukan Keterampilan ini sangat penting karena melatih teknik dasar penyelamatan dalam berbagai situasi darurat sehari-hari (Sumartini et al. , 2. Untuk menekan angka kecacatan dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas, pelatihan BHD perlu diberikan kepada masyarakat, khususnya pelajar. Selain https://jurnal. id/index. php/JHIC/index E-ISSN: 2830-7828 J-HICS Journal of Health Innovation and Community Services Vol. 4 No. 1 April 2025. Hal. keterampilan santri SMK dalam menangani Melalui pelatihan teori dan praktik, program ini mengatasi kurangnya pemahaman santri tentang RJP, pembidaian, dan transportasi pasien Pendekatan Partisipatory Action Research (PAR) mendorong partisipasi aktif santri dalam penyuluhan interaktif dan demonstrasi praktis, yang memperkuat pemahaman konsep dan keterampilan praktis mereka dalam situasi darurat. Prosedur kerja meliputi beberapa tahap utama: . persiapan materi dan alat peraga yang relevan, seperti manekin RJP dan alat pembidaian. pelaksanaan pelatihan, dimulai dengan pemaparan teori kegawatdaruratan dan pentingnya BHD, dilanjutkan dengan demonstrasi praktis langkah-langkah dengan durasi waktu selama 30 menit . lalu dilanjutkan dengan simulasi individu dan kelompok, di mana peserta mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari dengan bimbingan fasilitator dengan durasiwaktu 45 dan . evaluasi keterampilan peserta untuk memastikan pemahaman dan penguasaan materidengan durasi 15 menit. Program ini dilaksanakan pada minggu pertama bulan Maret 2024, bertempat di Aula Utama Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar yang di ikuti dan dihadiri oleh santri beserta pengurus pondok pesantren, dosen STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung beserta mahasiswa yang terlibat. Pemilihan lokasi ini memastikan ketersediaan fasilitas yang memadai dan aksesibilitas bagi seluruh santri. Waktu pelaksanaan dipilih untuk mengakomodasi kegiatan belajar formal santri dan memberikan ruang yang cukup untuk partisipasi aktif selama pelatihan berlangsung. mereka belum pernah mendapatkan pendidikan atau pelatihan mengenai penanganan pasien gawat darurat. Menurut wawancara dengan pengurus pondok pesantren dan beberapa santri, belum pernah diadakan penyuluhan tentang materi Bantuan Hidup Dasar (BHD), pembidaian, atau teknik transportasi pasien gawat darurat yang dapat menjadi bekal penting untuk memberikan pertolongan pertama. Kondisi ini menunjukkan bahwa terdapat kebutuhan mendesak untuk memberikan penyuluhan, dan besar kemungkinan santri akan antusias dalam menerima pelatihan Berdasarkan hasil survey dan data di atas, dapat mendukung dalam diberikannya edukasi kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di pesantren ini menjadi sangat penting, tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas santri dalam memberikan pertolongan pertama tetapi juga untuk memperkuat peran komunitas dalam menghadapi situasi darurat di lokasi yang sulit dijangkau tenaga kesehatan. Secara teoritis, pelatihan BHD bertujuan untuk menjaga fungsi vital korban hingga bantuan medis lanjutan tiba, sekaligus menghadapi situasi darurat sehari- hari. Keterlibatan masyarakat, termasuk santri, kegawatdaruratan, sedangkan program UKS dapat mendukung kesiapsiagaan santri dengan menciptakan lingkungan yang sehat dan terlatih menghadapi kondisi Melalui kegiatan ini, santri dapat lebih percaya diri dan sigap menghadapi pesantren menjadi lebih siap dalam menangani insiden darurat, dan masyarakat sekitar mendapatkan manfaat melalui pertolongan pertama. HASIL Kegiatan pengabdian masyarakat di Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar yang berjudul Audukasi Kegawatdaruratan dan METODE Program Edukasi Kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar bertujuan https://jurnal. id/index. php/JHIC/index E-ISSN: 2830-7828 J-HICS Journal of Health Innovation and Community Services Vol. 4 No. 1 April 2025. Hal. demonstrasi, seperti melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP), pembidaian, dan teknik transportasi pasien darurat. Antusiasme ini terlihat dari keterlibatan mereka dalam simulasi kasus darurat, di mana santri dapat mempraktikkan langsung keterampilan yang telah dipelajari. Keberhasilan pelatihan kemampuan santri dalam memberikan pertolongan pertama, menjadikan mereka lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi situasi darurat. Secara keseluruhan, program ini berhasil mencapai tujuannya dalam meningkatkan kesiapan santri Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar memperkuat peran mereka sebagai bagian dari komunitas yang sigap dalam memberikan bantuan pertama saat terjadi Bantuan Hidup Dasar (BHD)Ay telah dilakukan dengan baik sebanyak satu kali pertemuan yakni pada tanggal 2 Maret Peserta dalam kegiatan Pengabdian ini adalah santri pada jenjang SMK yang diikuti oleh 58 peserta. Hasil pengabdian masyarakat yang telah dilakukan adalah sebagai berikut : Tabel. Pengetahuan Kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) Penget Pre Penget Post Min-max Mean Std. Devia 69,31 74,07 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan rata-rata responden sebelum diberikan edukasi kegawatdaruratan dan bantuan hidup dasar (BHD) dengan metode simulasi dan pembelajaran aktif adalah 69 dengan nilai minimal 50 dan nilai maksimal 75. Setelah diberikan edukasi kegawatdaruratan dan bantuan hidup dasar (BHD) dengan metode simulasi dan pembelajaran aktif nilai ratarata pengetahuan adalah 74 dengan nilai minimal 58 dan nilai maksimal 83. Hasil pengabdian masyarakat tentang Edukasi Kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Pondok Pesantren AlKamal Blitar menunjukkan perubahan signifikan dalam pemahaman santri terkait pertolongan pertama pada kecelakaan. Sebelumnya, sebagian besar santri memiliki khususnya dalam menangani kasus kegawatdaruratan seperti henti jantung, kecelakaan, dan cedera serius. Namun, setelah mengikuti pelatihan yang meliputi materi teori dan demonstrasi praktis, santri menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka tidak hanya memahami pentingnya Bantuan Hidup Dasar (BHD) tetapi juga PEMBAHASAN Pendidikan kesehatan adalah upaya untuk menyampaikan pesan kesehatan masyarakat, dengan tujuan agar mereka memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan. Pendidikan kesehatan seseorang menuju pemahaman yang lebih Pendidikan kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan dan merupakan salah satu cara untuk menyampaikan informasi secara jelas dan mudah dipahami (Khayudina et al. , 2. Program edukasi kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar mengatasi permasalahan utama terkait keterbatasan pengetahuan santri dalam memberikan pertolongan pertama pada Sebelum penyuluhan, nilai rata-rata pengetahuan santri adalah 69, namun setelah penyuluhan, nilai rata-rata meningkat menjadi 74. Peningkatan ini menunjukkan efektivitas metode yang pemahaman dan keterampilan santri dalam menangani kegawatdaruratan. Partisipasi https://jurnal. id/index. php/JHIC/index E-ISSN: 2830-7828 J-HICS Journal of Health Innovation and Community Services Vol. 4 No. 1 April 2025. Hal. melibatkan mitra secara aktif dalam seluruh proses penelitian, yang meningkatkan kompetensi mereka. Mitra berperan sebagai kolaborator dalam merumuskan masalah, mengumpulkan data, dan mengembangkan solusi, sehingga mereka dapat belajar langsung dan meningkatkan keterampilan dalam praktik nyata. PAR tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memperkuat kapasitas mitra untuk menghadapi tantangan di masa depan (Kemmis et al. , 2. santri dalam program ini sangat aktif, dengan mereka tidak hanya hadir, tetapi juga terlibat langsung dalam demonstrasi, seperti Resusitasi Jantung Paru (RJP), pembidaian, dan transportasi pasien Gambar Penyampaian Materi Kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) Pada pengabdian ini Tim menggunakan metode Partisipatory Action Research (PAR) untuk memberdayakan mitra melalui partisipasi aktif dalam setiap tahap kegiatan. Adapun tahapan dari metode Partisipatory Action Research (PAR) ini memungkinkan santri terlibat langsung dalam identifikasi masalah, pengambilan keputusan, dan evaluasi program, serta meningkatkan rasa kepemilikan terhadap hasil program, yang terbukti lebih efektif dalam menciptakan perubahan berkelanjutan (Kemmis et al. Hasil dari pengabdian masyarakat ini juga sejlan dengan temuan Sari et al. dan Farilya & Utami . yang menunjukkan bahwa penyuluhan dengan simulasi pelatihan bantuan hidup dasar efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Penelitian tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan siswa setelah mengikuti pembelajaran BHD henti jantung dengan menggunakan metode simulasi (Farilya & Utami, 2023. Sari et al. , 2. Penerapan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menangani keadaan darurat (Hady et al. , 2. Kelebihan metode Participatory Action Research (PAR) adalah kemampuannya Gambar 2 Demonstrasi melibatkan Santri RJP Gambar Dokumentasi beberapa perserta Luaran utama dari kegiatan ini adalah peningkatan kemampuan santri dalam memberikan pertolongan pertama, serta kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya pendidikan kesehatan di lingkungan pesantren. Implikasi tindak lanjut dari program ini mencakup pelatihan berkelanjutan dan penyuluhan terkait BHD, yang dapat memperkuat peran pesantren sebagai komunitas yang siap menghadapi https://jurnal. id/index. php/JHIC/index E-ISSN: 2830-7828 J-HICS Journal of Health Innovation and Community Services Vol. 4 No. 1 April 2025. Hal. Farilya. , & Utami. Effectiveness Simulation Methods of Basic Life Support ( BLS ) Cardiac Arrest On Students Ao Skills and SelfEfficacy. II. Program ini juga memberikan dasar untuk pengembangan kurikulum kesehatan di pesantren dan pelatihan bagi pengurus serta tenaga kesiapsiagaan seluruh komunitas pesantren dalam menghadapi keadaan darurat. Hady. Hariani, & Sudirman. Metode Simulasi Kegawatdaruratan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Keterampilan Dalam Penanganan Kegawatdaruratan Pada SMP Negeri 2 Galesong. Jurnal Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar, 10. , 85Ae91. KESIMPULAN Program edukasi kegawatdaruratan dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar keterampilan santri, terbukti dengan peningkatan rata-rata nilai dari 69 menjadi Metode Partisipatory Action Research (PAR) efektif dalam melibatkan santri secara aktif. Program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan santri dalam pertolongan pertama, tetapi juga kesadaran akan pentingnya pendidikan kesehatan. depannya, pelatihan berkelanjutan dan pengembangan kurikulum kesehatan dapat memperkuat kesiapsiagaan pesantren dalam menghadapi keadaan darurat. Kemmis. McTaggart. , & Nixon. The Action Research Planner: Doing Critical Participatory Action Research. Springer. Khayudina. Sugiyarto, & Umardino. Efektivitas Edukasi Kesehatan dalam Pengendalian Kadar Kolesterol Pengetahuan Pencegahan Penyakit Jantung pada Masyarakat Mojosongo Surakarta. Journal of Health Innovation and Community Service, 3. , 199Ae204. UCAPAN TERIMAKASIH Tim pengabdian masyarakat mengucapkan terima kasih kepada pengurus dan santri Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini, serta kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan, sehingga kegiatan ini dapat berjalan lancar dan sesuai dengan rencana. Nuralamsyah. , & Nasir. Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) Pada Kelompok Masyarakat Di Kelurahan Lompoe Kecamatan Bacukiki Kota Parepare. , 154Ae Rudiyanto. Oktaviani. , & Ariyani. Efek Video Simulasi Bencana Terhadap Peningkatan Kesiapsiagaan dan Pengetahuan Firts Aid Bencana Tsunami Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai, 14. , 38Ae47. https://doi. org/10. 26630/jkm. DAFTAR PUSTAKA