Vol. No. 1, 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202525502 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Persepsi mahasiswa universitas terbuka terhadap model problem based learning . dalam tutorial online pada mata kuliah pendidikan agama hindu Sukirno Hadi Raharjo*). Siti Utami Dewi Ningrum. Mestika Sekarwinahyu Universitas Terbuka. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: Received Jan 23 , 2025 Revised Feb 28th, 2025 Accepted Mar 04th, 2025 Keywords: Problem based learning Pendidikan agama hindu Persepsi mahasiswa Pembelajaran daring Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa Pendidikan Agama Hindu Universitas Terbuka terhadap penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada mata kuliah Pendidikan Agama Hindu. PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dengan menekankan pada penyelesaian masalah nyata untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan kuesioner sebagai instrumen utama. Sampel terdiri dari mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah Pendidikan Agama Hindu dengan penerapan model PBL dalam sistem Tutorial Online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki persepsi positif terhadap penerapan model PBL. Mereka merasa model pembelajaran ini membantu dalam memahami materi ajaran agama Hindu lebih baik, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan memperkuat relevansi antara teori dengan kehidupan sehari-hari. Namun, beberapa tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan kesulitan memahami masalah yang diberikan juga Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun PBL memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, perlu adanya dukungan yang lebih optimal dalam implementasinya, terutama dalam konteks pembelajaran daring. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan metode pembelajaran inovatif dalam Pendidikan Agama Hindu di Universitas Terbuka. A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Sukirno Hadi Raharjo. Auniversitas Terbuka Email: sukirno@ecampus. Pendahuluan Pembelajaran agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter, moral, dan pemahaman spiritual Dalam konteks Pendidikan Agama Hindu, pendekatan pembelajaran yang digunakan sangat menentukan efektivitas transfer ilmu dan internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan mahasiswa. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa metode pembelajaran konvensional, seperti ceramah dan hafalan, sering kali kurang efektif dalam meningkatkan pemahaman kritis mahasiswa dan keterkaitan antara teori dengan praktik kehidupan sehari-hari (Santoso, 2. Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pemecahan masalah untuk meningkatkan pemahaman konseptual serta keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Raharjo. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Pendidikan merupakan landasan utama dalam membangun peradaban yang maju dan berdaya saing. Dalam konteks pendidikan agama khususnya Pendidikan Agama Hindu, upaya peningkatan kualitas pembelajaran menjadi tantangan tersendiri. Pendidikan agama Hindu tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian ajaran agama, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter, moral, dan spiritualitas peserta didik. Di era globalisasi dan digitalisasi yang semakin kompleks, tantangan tersebut semakin menuntut adanya inovasi dan pembaharuan dalam proses pembelajaran. Namun metode pengajaran konvensional seringkali kurang optimal dalam meningkatkan pemahaman dan partisipasi aktif siswa. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang inovatif, salah satunya adalah Problem Based Learning (PBL). PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan permasalahan dunia nyata sebagai fokus utama untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan belajar mandiri (Cahyono et al. , 2021. Boelt et al. , 2. Menurut Suryani dkk. , . , siswa yang diajar dengan PBL menunjukkan peningkatan keterampilan berpikir kritis yang signifikan dibandingkan dengan metode konvensional. Dalam PBL, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai aktor aktif yang ikut mengeksplorasi, menganalisis, dan memecahkan masalah yang relevan dengan konteks pembelajarannya. PBL memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri dan kolaboratif, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar dan keterampilan komunikasinya (Hidayah et al. , 2. Penerapan metode PBL berdampak positif pada keterlibatan dan motivasi siswa. Mereka tampak lebih antusias dan aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok serta presentasi. Metode ini membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi siswa, yang pada gilirannya meningkatkan motivasi mereka untuk belajar(Rosi Fitrisia & Nurmadiah, 2. , meskipun masih terdapat kendala seperti keterbatasan jam pelajaran, perbedaan kemampuan siswa, dan kesulitan menganalisis permasalahan sebagai ide dalam pembelajaran (Kurniati, 2. Menurut Maulana . , pengembangan ide permasalahan perlu dilakukan dengan merancang skenario permasalahan yang relevan dengan konteks agama Islam. Namun penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penerapan PBL memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun model pembelajaran ini sangat mungkin diterapkan di semua jenjang pendidikan (Betakore & Boiliu, 2. Beberapa penulis berbagi pengalaman penerapan PBL dalam pembelajaran agama Hindu di tingkat SD. SMP, dan SMA. Pada tingkat sekolah dasar dan menengah. PBL pada pembelajaran agama Hindu dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Aryanawati, 2024. Budiarti, 2. Sedangkan pada tingkat SMA, penerapan PBL pada pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Karakter dapat menciptakan suasana pembelajaran baru melalui penyelesaian kasus-kasus yang relevan dengan apa yang terjadi di masyarakat (Swandari et al. , 2. Lalu bagaimana dengan implementasi PBL pada Pendidikan Agama Hindu di tingkat perguruan tinggi? Hal inilah yang akan menjadi fokus kajian dalam tulisan ini, khususnya melalui persepsi siswa sebagai subjek belajar. Persepsi siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas proses pembelajaran. Persepsi positif dapat meningkatkan motivasi, keterlibatan dan hasil belajar siswa, sedangkan persepsi negatif dapat menjadi penghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu metode pembelajaran inovatif yang berpusat pada peserta didik dengan menekankan penyelesaian masalah nyata sebagai sarana untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan berpikir kritis. PBL telah diterapkan dalam berbagai bidang pendidikan dengan hasil yang cukup positif, terutama dalam meningkatkan kemampuan analitis dan pemecahan masalah mahasiswa . Namun, penelitian mengenai efektivitas PBL dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengeksplorasi bagaimana PBL dapat diterapkan secara efektif dalam sistem pembelajaran berbasis daring di Universitas Terbuka. Universitas Terbuka sebagai institusi pendidikan tinggi yang menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh mempunyai karakteristik dan tantangan yang unik. Mahasiswa Universitas Terbuka pada umumnya berasal dari berbagai latar belakang geografis, sosial dan budaya sehingga memerlukan pendekatan pembelajaran yang fleksibel, inklusif dan efektif. Dalam pembelajaran jarak jauh ini, siswa harus belajar secara mandiri dengan menggunakan modul yang berperan sebagai sumber belajar utama. Dalam praktiknya, mahasiswa juga dapat mengikuti layanan pendukung pembelajaran yang disediakan oleh perguruan tinggi, salah satunya adalah tutorial online yang dilakukan secara asynchronous. Dalam konteks ini, penerapan PBL diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa dan memperbaiki kualitas pembelajaran agama Hindu secara daring. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini difokuskan pada beberapa permasalahan utama: . Bagaimana persepsi mahasiswa Universitas Terbuka terhadap penerapan PBL dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu? . Sejauh mana efektivitas PBL dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran agama Hindu secara daring? . Apa saja tantangan yang dihadapi dalam penerapan PBL dalam sistem pembelajaran jarak jauh di Universitas Terbuka? Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Persepsi mahasiswa universitas terbukaA Oleh karena itu dalam penelitian ini, penerapan PBL dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu akan memberikan dampak positif terhadap pemahaman mahasiswa, meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran, serta membantu mereka mengaitkan teori dengan praktik kehidupan sehari-hari. Namun, tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan kesulitan dalam memahami masalah kompleks dalam pembelajaran daring dapat menjadi faktor yang mempengaruhi efektivitas metode ini. Dengan demikian, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis persepsi mahasiswa Universitas Terbuka terhadap penerapan model PBL dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu, mengevaluasi efektivitas metode ini dalam meningkatkan pemahaman dan partisipasi mahasiswa, serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam implementasinya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan metode pembelajaran inovatif yang lebih efektif dalam pendidikan agama Hindu, khususnya dalam sistem pembelajaran daring di Universitas Terbuka. Methode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menganalisis persepsi mahasiswa Pendidikan Agama Hindu Universitas Terbuka mengenai penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada mata kuliah Pendidikan Agama Hindu. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat menggambarkan pola atas persepsi mahasiswa berdasarkan data yang ada (Furidha, 2. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara terhadap mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pendidikan Agama Hindu Universitas Terbuka melalui tutorial online di kelas MKWU4105. 3 dan MKWU4105. Kuesioner berisi pertanyaan tertutup dan terbuka untuk melihat pengalaman mahasiswa selama mengikuti pembelajaran dalam tutorial online dengan model PBL. Kuesioner dibagikan melalui grup kelas yang tersedia dalam kelas tutorial online tersebut pada akhir sesi pelaksanaan Tutorial Online. Dari total 50 orang mahasiswa, sebanyak 48 orang mengisi kuesioner dengan baik. Dengan jumlah tersebut data yang ada dapat mewakili mayoritas mahasiswa di kelas tersebut, yaitu 96%. Sementara itu, wawancara dilakukan secara acak terhadap responden yang mengisi kuesioner untuk memperkuat data yang didapatkan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan disajikan secara deskriptif atas hasil temuannya terkait persepsi mahasiswa dalam penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada mata kuliah Pendidikan Agama Hindu. Peneliti juga menggunakan studi literatur melalui kajian berbagai jurnal, buku referensi dan sumber lainnya guna memperoleh informasi pendukung atas hasil temuan dalam penelitian Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai persepsi mahasiswa terhadap model PBL serta mengidentifikasi kelebihan, tantangan dan peluang pengembangan model pembelajaran ini dalam konteks pendidikan agama Hindu di Universitas Terbuka. Hasil dan Pembahasan Penerapan PBL dalam Pendidikan Agama Hindu Model Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang saat ini banyak diminati oleh para pendidik, karena dianggap relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, bersifat inovatif, kreatif dan kompetitif. Pendekatan ini dinilai kreatif karena mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi, serta efektif membantu siswa mengatasi berbagai tantangan. PBL menekankan pada penggunaan permasalahan nyata yang diambil dari lingkungan siswa, memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara langsung (Gayatri Sindhi Mahesti. Setyaningsih, 2. Model Problem Based Learning (PBL) didasarkan pada kerangka teori konstruktivisme. Dalam pendekatan ini pembelajaran dipusatkan pada suatu masalah yang telah ditentukan, sehingga siswa tidak hanya mempelajari konsep-konsep yang relevan dengan masalah tersebut, tetapi juga menguasai pendekatan saintifik yang digunakan untuk menyelesaikannya (Hidayah et al. , 2. Oleh karena itu, siswa tidak hanya perlu memahami konsep-konsep yang berkaitan dengan masalah pokok, tetapi juga harus menerima pembelajaran yang menyangkut penguasaan keterampilan menggunakan pendekatan saintifik untuk memecahkan masalah dan mengembangkan pola berpikir kritis. PBL merupakan metode pembelajaran yang mengajak siswa memecahkan masalah melalui berbagai tahapan metode ilmiah. Melalui pendekatan ini, siswa diharapkan tidak hanya mampu mempelajari pengetahuan yang relevan dengan permasalahan yang dihadapinya, namun juga mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (Gayatri Sindhi Mahesti. Setyaningsih, 2. PBL merupakan metode pembelajaran yang menuntut siswa memecahkan masalah nyata, merumuskan pertanyaan, dan bekerja sama dalam kelompok untuk mencari solusi. Pendekatan ini dirancang untuk menghadirkan permasalahan dunia nyata sebagai konteks pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Raharjo. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. melatih keterampilan berpikir kritis sekaligus mengasah keterampilan dalam memecahkan masalah (Ponda & Tengah, 2. PBL membantu siswa menghubungkan konsep teoritis Pendidikan Agama Hindu dengan permasalahan dunia nyata, seperti konflik nilai, dilema etika, dan tantangan spiritual. Hal ini menjadikan pembelajaran lebih kontekstual dan aplikatif, mendukung pengembangan karakter, moral, dan spiritualitas siswa. PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah dunia nyata. Dalam konteks Pendidikan Agama Hindu. PBL memberikan kerangka yang relevan untuk menghubungkan ajaran agama dengan tantangan kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) telah diadopsi dalam pembelajaran di Universitas Terbuka (UT), termasuk pada mata kuliah Pendidikan Agama Hindu melalui tutorial online. Pendekatan PBL dirancang untuk memberikan pengalaman belajar aktif yang berpusat pada siswa, dimana mereka berperan sebagai pemecah masalah dalam konteks pembelajaran berbasis kasus atau permasalahan nyata. Dalam penerapannya, tutorial online di UT memanfaatkan teknologi untuk mendukung pelaksanaan PBL. Siswa diberikan studi kasus atau skenario yang relevan dengan konteks agama Hindu, seperti penerapan ajaran Hindu dalam kehidupan modern atau penguatan karakter melalui nilai-nilai spiritual Hindu. Melalui platform online, siswa berdiskusi secara kolaboratif, mengeksplorasi berbagai perspektif, dan mencari solusi yang dapat Melalui pendekatan PBL dalam tutorial online, mata kuliah Pendidikan Agama Hindu di UT tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akademis mahasiswa, namun juga menanamkan nilai-nilai agama Hindu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus mempersiapkan mereka menjadi individu yang mampu menghadapi tantangan global dengan landasan karakter yang kuat. Persepsi Siswa Terhadap Model Problem Based Learning (PBL) Persepsi mahasiswa terhadap model pembelajaran memainkan peran krusial dalam mengevaluasi keberhasilan metode tersebut. Dalam konteks PBL, persepsi mahasiswa umumnya berfokus pada tiga aspek utama, yaitu efektivitas metode dalam mencapai tujuan pembelajaran, tingkat keterlibatan yang dirasakan selama proses pembelajaran, dan berbagai tantangan yang mereka hadapi. Efektivitas PBL terlihat dari meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan teori dengan praktik nyata, sedangkan keterlibatan tercermin dari partisipasi aktif mereka selama diskusi kelompok dan proses pemecahan masalah. Gambar 1 Berdasarkan grafik tersebut mayoritas responden setuju bahwa penerapan PBL membantu mereka memahami materi dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu melalui pemecahan masalah yang relevan. Sebanyak 27 dari 48 responden . ,3%) memilih "Setuju" . , dan 20 responden . ,7%) memilih "Sangat Setuju" . , menunjukkan dukungan kuat terhadap efektivitas model PBL. Hanya satu responden . ,1%) yang tidak setuju . , dan tidak ada responden yang sangat tidak setuju . Hasil ini menunjukkan penerimaan yang positif terhadap metode PBL, dengan mayoritas responden mengakui bahwa metode ini mendukung pemahaman materi secara signifikan. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Persepsi mahasiswa universitas terbukaA Gambar 2 Terkait dengan kepuasan mahasiswa terhadap hasil pembelajaran melalui penerapan model PBL pada mata kuliah Pendidikan Agama Hindu, mayoritas responden menunjukkan tingkat kepuasan yang positif. Sebanyak 27 dari 48 responden . ,3%) memilih "Setuju" . , sementara 19 responden . ,6%) memilih "Sangat Setuju" . , menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa merasa puas dengan hasil pembelajaran yang mereka capai melalui model ini. Hanya dua responden . ,2%) yang memilih "Tidak Setuju" . , dan tidak ada responden yang memilih "Sangat Tidak Setuju" . Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL umumnya berhasil memenuhi harapan mahasiswa dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Fadila & Aditiya, . terkait persepsi mahasiswa terhadap penerapan model PBL pada mata kuliah komunikasi bisnis yang menegaskan bahwa PBL mampu meningkatkan motivasi belajar dan keterampilan analitis mahasiswa. Meski demikian, terdapat pula beberapa persepsi negatif yang disebabkan oleh kendala teknis dalam penerapan PBL. Hal ini dapat dilihat pada grafik, di mana 33,3% responden menyatakan AuSetujuAy (Skor . dan 22,9% menyatakan AuSangat SetujuAy (Skor . bahwa mahasiswa merasa kesulitan dalam memahami masalah yang diberikan sebagai bagian dari model PBL. Beberapa mahasiswa mengungkapkan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memahami konsep PBL dan memerlukan lebih banyak bimbingan dari dosen selama proses pembelajaran. Tantangan ini menunjukkan pentingnya peran dosen dalam mengarahkan dan memfasilitasi pembelajaran berbasis masalah agar dapat berjalan efektif. Meskipun banyak penelitian menunjukkan bahwa pendekatan PBL dianggap sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan yang ada, jelas bahwa PBL memiliki keuntungan dalam membantu guru menerapkan praktik pedagogi yang efektif, sehingga membuat pengalaman belajar lebih menarik dan berdampak bagi siswa (Sutrisno & Syukur, 2. Gambar 3 Adapun tantangan yang dihadapi mahasiswa, seperti kurangnya pemahaman awal tentang PBL dan kebutuhan akan pendampingan intensif, menunjukkan perlunya penguatan strategi pembelajaran dan pelatihan bagi dosen dalam mengimplementasikan PBL. Dengan mengatasi kendala ini, diharapkan penerapan PBL dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu dapat lebih optimal, sehingga mampu memberikan manfaat yang maksimal bagi mahasiswa. Hal ini sejalan dengan persepsi responden terkait manfaat dari pembelajaran berbasis PBL. Data grafik menunjukkan 50% AuSetujuAy (Skor . dan 45,8% menyatakan AuSangat SetujuAy (Skor . bahwa Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Raharjo. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. PBL memberikan manfaat mahasiswa lebih aktif dalam partispasinya dalam proses pembelajaran pada Pendidikan Agama Hindu Universitas Terbuka. Gambar 4: Grafik Partisipasi PBL dalam Proses Pembelajaran. Sumber : Kuisioner, 2024 PBL merupakan model pembelajaran yang menjadikan masalah autentik sebagai fokus pembelajaran yang bertujuan agar mahasiswa mampu menyelesaikan masalah tersebut pengembangan keterampilan berpikir kritis, aplikasi nilai-nilai agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari, dan motivasi belajar. Hal ini sejalan penelitian yang dilakukan oleh Izza menyatakan bahwa Project Based Learning dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dikelas memiliki banyak manfaat yaitu mawujudkan diri siswa berpikir kritis, mandiri, dan mampu memberi solving yang tepat (Izza, 2. Gambar 5 Selain mendorong keaktifan siswa, penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu juga membantu mereka memahami materi dengan lebih baik dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. 54,2% responden menyatakan AuSetujuAy (Skor . dan 43,8% nya AuSangat SetujuAy (Skor . Sementara itu hanya 2,1% yang merespon sangat tidak setuju. Jawaban mayoritas responden tersebut diperkuat oleh pernyataan responden NLI, di mana menurutnya AuPenerapan model Problem-Based Learning (PBL) dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu dapat memperdalam pemahaman saya tentang ajaran agama Hindu melalui analisis masalah nyata, diskusi kelompok, dan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini juga melatih keterampilan kritis, kolaborasi, serta refleksi, membuat pembelajaran lebih kontekstual dan relevanAy. Jawaban serupa juga diungkapkan oleh responden NKSU Aumelalui penerapan model PBL, saya merasa lebih berperan aktif dalam pembelajaran, lebih berpikir kritis dan lebih kreatif dalam memecahkan jawaban. Ay Dari perspektif teoritis, hasil ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman peserta didik melalui eksplorasi aktif terhadap materi. Konsep PBL yang menekankan pada pemecahan masalah nyata juga relevan dengan teori pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. yang dikembangkan oleh Kolb, di mana mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dengan menghubungkan konsep yang dipelajari dengan situasi Dari hasil kuesioner yang didapatkan, mayoritas mahasiswa menunjukkan persepsi positif terhadap penerapan PBL dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu. Model ini dianggap mampu meningkatkan Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Persepsi mahasiswa universitas terbukaA keterlibatan aktif, pemahaman yang mendalam, dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Namun, persepsi negatif muncul akibat kendala teknis, seperti kurangnya pemahaman konsep PBL dan kebutuhan akan pendampingan dari dosen. Persepsi mahasiswa terhadap model pembelajaran sangat penting karena mencerminkan pengalaman dan sikap mereka selama mengikuti proses pembelajaran. Tantangan Implementasi PBL di Universitas Terbuka Universitas Terbuka (UT) sebagai institusi pendidikan jarak jauh memiliki karakteristik unik yang berbeda dari universitas konvensional. Dalam implementasi PBL, beberapa tantangan muncul akibat model pembelajaran jarak jauh yang mengandalkan teknologi, keterbatasan interaksi langsung, serta keragaman latar belakang Dalam mengimplementasikan PBL dalam Pendidikan Agama Hindu tentu ada suatu tantangan terutama dalam proses pembelajaran dengan pendidikan jarah jauh yang diterapkan oleh Universitas Terbuka. Proses perkuliahan menggunakan model PBL tidak terlepas dari berbagai kesulitan yang dialami oleh Kesulitan-kesulitan tersebut diantaranya proses diskusi yang kurang kondusif. Penerapan PBL turut mendorong kolaborasi antar peserta didik. Mereka kerap bekerja dalam kelompok, berdiskusi, serta saling berbagi pemahaman. Hal ini tidak hanya memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial seperti toleransi dan kerja sama(Widya Oktavia, 2. Apabila tenaga pengajar dan mahasiswa kurang memberikan perhatian pada aspek kolaboratif, hal tersebut dapat menimbulkan berbagai kendala yang mengurangi efektivitas penerapan model ini. Dalam konteks Problem Based Learning (PBL), persepsi mahasiswa biasanya berpusat pada tiga dimensi utama, yaitu efektivitas, keterlibatan, dan Tantangan utama implementasi PBL mencakup kesiapan mahasiswa dan dosen, ketersediaan sumber belajar, serta infrastruktur teknologi. Gambar 6B Namun, hasil penelitian juga menunjukkan adanya tantangan dalam penerapan PBL. Sebanyak 30% mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami masalah yang diberikan, sementara 25% menyatakan bahwa keterbatasan fasilitas dan akses internet menjadi kendala utama dalam mengikuti pembelajaran berbasis daring. Hal ini mengindikasikan bahwa efektivitas PBL dalam sistem pembelajaran daring tidak hanya bergantung pada metode itu sendiri, tetapi juga pada faktor pendukung seperti ketersediaan infrastruktur dan kesiapan Berdasarkan grafik di atas Namun, hasil penelitian juga menunjukkan adanya tantangan dalam penerapan PBL. Sebanyak 49% responden mengaku mengalami kendala dalam menerapkan PBL. Kendala-kendala tersebut meliputi beberapa aspek utama, yaitu kurangnya interaksi langsung dan kesulitan dalam berkolaborasi dengan anggota kelompok. Sebagai institusi pembelajaran jarak jauh. Universitas Terbuka mengandalkan teknologi digital sebagai media utama, sehingga mahasiswa merasa sulit untuk membangun diskusi yang efektif secara daring. Hal yang sama dikuatkan oleh responden. IAPNW mengemukakan bahwa keterbatasan sumber daya atau fasilitas menjadi tantangan utama dalam menyelesaikan tugas-tugas Problem Based Learning (PBL) di Universitas Terbuka. Pernyataan ini mencerminkan salah satu hambatan mendasar dalam implementasi PBL, terutama dalam konteks pembelajaran jarak jauh yang bergantung pada teknologi dan akses terhadap berbagai sumber belajar. Keterbatasan fasilitas dapat mencakup beberapa aspek, seperti akses internet yang tidak merata, perangkat teknologi yang kurang memadai, serta kurangnya bahan referensi yang mendukung pembelajaran berbasis masalah. Dalam sistem pendidikan jarak jauh seperti di Universitas Terbuka, mahasiswa sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur digital, termasuk platform e-learning dan sumber daya pendukung lainnya. Jika fasilitas ini terbatas, maka efektivitas penerapan PBL dapat berkurang, menyebabkan mahasiswa kesulitan dalam mencari informasi, berkolaborasi dengan rekan sejawat, atau mengerjakan tugas berbasis pemecahan masalah secara optimal. Kelemahan penerapan model PBL dalam penelitian berada pada tahap pertama ialah pemberian masalah pada mahasiswa, sebagian mahasiswa kurang mampu menghubungkan Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Raharjo. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. masalah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kurang percaya diri dalam menyelesaikan masalah, pada ketiga tahap yaitu membantu investigasi mandiri dan kelompok (Hidayah et al. , 2. Menurut Elsah Rosianna Lumbantobing . , tantangan terbesar dalam penerapan model PBL adalah kesiapan dan keterampilan guru dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran ini. Model PBL memerlukan guru untuk berperan tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa (Elsah Rosianna Lumbantobing1, 2. Hal ini juga relevan dengan mahasiswa di Universitas Terbuka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, geografis, dan sosial-budaya. Banyak di antara mereka belum familiar dengan model pembelajaran berbasis masalah yang menuntut keterlibatan aktif, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan bekerja dalam kelompok. Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh responden. IKWPTW menyampaikan bahwa ia mengalami kesulitan dalam memahami masalah yang diberikan dalam model Problem Based Learning (PBL). Pernyataan ini menunjukkan salah satu tantangan utama dalam implementasi PBL di Universitas Terbuka, khususnya bagi mahasiswa yang terbiasa dengan metode pembelajaran konvensional. Mahasiswa yang tidak terbiasa dengan PBL sering kali menghadapi kesulitan dalam mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi, dan belajar secara mandiri. Hal ini terutama terjadi pada mahasiswa yang terbiasa dengan pembelajaran pasif atau berbasis ceramah. Program orientasi atau pelatihan awal tentang metode PBL dapat membantu mahasiswa memahami konsep dan peran mereka dalam proses pembelajaran berbasis masalah. PBL membutuhkan dosen yang tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator dan pembimbing dalam proses pembelajaran. Di Universitas Terbuka, dosen sering kali harus mengelola mahasiswa dalam jumlah besar secara daring, yang dapat menjadi tantangan tambahan. Penelitian oleh Alberth Supriyanto Manurung . bahwa tahapan pembelajaran dalam PBL tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Model ini memerlukan durasi yang cukup panjang, mengharuskan setiap mahasiswa untuk aktif dalam pembelajaran mandiri. Namun, masih terdapat sejumlah mahasiswa yang cenderung bergantung pada anggota kelompoknya (Manurung & Marini, 2. Dengan demikian keberhasilan PBL sangat bergantung pada kemampuan dosen dalam merancang masalah yang relevan, memfasilitasi diskusi, dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Pelatihan khusus bagi dosen tentang desain dan implementasi PBL dalam konteks pembelajaran jarak jauh sangat diperlukan untuk memastikan efektivitasnya. Sebagai universitas yang mengandalkan pembelajaran daring, ketersediaan teknologi yang memadai menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan PBL. Namun, mahasiswa sering kali menghadapi keterbatasan akses internet, perangkat teknologi, atau platform pembelajaran yang mendukung kolaborasi. Menurut Rufman Imam Akbar et al. mencatat bahwa infrastruktur teknologi yang tidak memadai dapat menghambat diskusi kelompok, akses ke sumber belajar, dan interaksi antara mahasiswa dan dosen. Universitas dapat menyediakan platform pembelajaran yang user-friendly dan mengoptimalkan akses ke sumber daya pembelajaran daring, seperti modul interaktif, video pembelajaran, atau forum diskusi (Akbar et al. , 2. Tantangan implementasi PBL di Universitas Terbuka mencakup kesiapan mahasiswa dan dosen, keterbatasan teknologi, serta desain pembelajaran yang relevan. Namun, dengan dukungan institusional, pelatihan yang memadai, dan pemanfaatan teknologi. PBL memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Hindu. Langkah-langkah strategis seperti pengembangan platform daring, orientasi mahasiswa, dan peningkatan interaksi daring dapat menjadi solusi untuk mengatasi tantangan ini. Secara lebih mendalam, analisis korelasi menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki akses lebih baik terhadap sumber belajar cenderung memiliki persepsi yang lebih positif terhadap PBL dibandingkan mereka yang menghadapi kendala akses internet. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan PBL dalam pembelajaran daring sangat bergantung pada kesiapan teknologi dan dukungan akademik yang memadai. Dalam tanggapannya responden. PB menyoroti dua aspek utama dalam implementasi Problem Based Learning (PBL) di Universitas Terbuka. Pertama, ia mengakui bahwa PBL memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam memahami ajaran agama Hindu, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks sosial. Kedua, ia juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi mahasiswa, yaitu kurangnya pemahaman awal terhadap masalah atau materi yang diberikan dalam PBL, sehingga mereka memerlukan solusi atau bimbingan tambahan untuk memahami konteks pembelajaran dengan lebih baik. Tantangan ini menunjukkan bahwa tidak semua mahasiswa memiliki kesiapan yang sama dalam menghadapi model pembelajaran berbasis masalah. Dalam konteks pendidikan jarak jauh seperti di Universitas Terbuka, mahasiswa sering kali harus belajar secara mandiri dengan keterbatasan interaksi langsung dengan dosen atau teman sejawat. Jika mereka tidak memiliki pemahaman awal yang cukup terhadap suatu konsep atau permasalahan, mereka mungkin akan kesulitan dalam mengeksplorasi solusi dan menyelesaikan tugas berbasis PBL secara efektif Dengan demikian, temuan penelitian ini mengonfirmasi bahwa PBL memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di Universitas Terbuka. Namun, untuk mengoptimalkan implementasinya, diperlukan dukungan tambahan dalam bentuk peningkatan infrastruktur Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Persepsi mahasiswa universitas terbukaA digital, pelatihan bagi dosen dalam mengadaptasi PBL ke lingkungan daring, serta strategi pembelajaran yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa dengan berbagai tingkat kesiapan teknologi. Simpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu di Universitas Terbuka memiliki dampak positif terhadap pemahaman mahasiswa, peningkatan kemampuan berpikir kritis, serta relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan dalam implementasi PBL, terutama terkait dengan keterbatasan akses teknologi dan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi pembelajaran berbasis masalah. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menunjukkan efektivitas PBL dalam meningkatkan pemahaman konseptual dan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran daring. Dalam konteks pembelajaran jarak jauh, bahwa PBL dapat diadaptasi secara efektif dalam sistem e-learning dengan dukungan teknologi yang memadai. Dalam konteks universitas berbasis luring, penelitian ini menemukan bahwa efektivitas PBL dalam pembelajaran jarak jauh masih bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kemampuan adaptasi mahasiswa terhadap metode ini. Faktor seperti keterbatasan akses internet dan kurangnya bimbingan langsung dari pengajar menjadi kendala utama yang perlu diatasi untuk meningkatkan keberhasilan PBL dalam sistem pembelajaran daring. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih luas mengenai penerapan PBL dalam konteks pendidikan jarak jauh, khususnya dalam mata kuliah Pendidikan Agama Hindu. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan efektivitas PBL dalam pembelajaran daring, diperlukan strategi tambahan seperti peningkatan infrastruktur digital, pelatihan dosen, serta pendekatan yang lebih fleksibel dalam pelaksanaan tutorial online. Studi lanjutan dapat mengeksplorasi metode hybrid yang menggabungkan PBL dengan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi lainnya untuk mengatasi tantangan yang telah diidentifikasi dalam penelitian ini. Referensi