Vol 8. No 2. Maret 2026. org/10. 38189/jtbh. ISSN 2654-5691 . 2656-4904 . Available at: e-journal. id/index. php/jbh Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital Oda Judithia Widianing1 ojudithia@yahoo. Abstract The telling of Bible stories is a part of the tradition of passing on the Christian faith to However, the massive development of digital technology has brought a significant shift in the pattern of educating Christian faith within the family. The high intensity of relationships with social media has replaced the personal relationships between parents and Digital media has replaced essentially the role of parents as the primary narrator of the Bible story. Whereas this is a part of passing on the Christian faith to the next The approach is conceptual, literature-based on scientific sources in databases such as Google Scholar and ResearchGate related to the concept of the telling of Bible stories as a mandate for faith education. This study aims to analyse the concept, theological narrative foundation, and implementation of Bible storytelling in the family in the digital The analysis results show that the telling of the Bible story is pedagogical and is a mandate of education from God to every parent. Bible storytelling has a theological narrative foundation. It is about God's faithfulness. God-centred - Christ-centred, with love as the basis of the storytelling. ChristianAos parent should critically and creatively tell the Bible story in the digital era. Keywords: Biblical mandate for education. the telling of Bible story. theological narrative the digital era Abstrak Penceritaan kisah Alkitab adalah bagian dari tradisi pewarisan iman Kristen kepada anak. Namun, masifnya perkembangan digital membawa pergeseran besar dalam pola pendidikan iman Kristen dalam keluarga. Tingginya intensitas relasi dengan media sosial menggantikan relasi personal orang tua dan anak. Media digital telah menggantikan tugas esensial orang tua sebagai penutur utama kisah Alkitab, yaitu bagian dari pewarisan iman Kristen kepada generasi berikutnya. Pendekatan yang digunakan bersifat konseptual berbasis kepustakaan terhadap sumber ilmiah dari basis data seperti Google Scholar dan ResearchGate yang terkait dengan konsep penceritaan kisah Alkitab sebagai mandat pendidikan iman. Kajian ini bertujuan menganalisis konsep, fondasi naratif, dan implementasi penceritaan kisah Alkitab dalam keluarga di era digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa penceritaan kisah Alkitab bersifat pedagogis dan merupakan mandat pendidikan dari Tuhan kepada setiap orang tua. Penceritaan kisah Alkitab memiliki fondasi naratif yang teologis, yaitu tentang kesetiaan Allah, berpusat pada Tuhan dan Christ-centered, kasih sebagai landasan penceritaannya. Implikasinya adalah bahwa penceritaan kisah Alkitab dalam keluarga di era digital dapat dilakukan secara kritis dan kreatif. Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 Kata-kata kunci: era digital. fondasi naratif teologis. mandat pendidikan iman. kisah Alkitab PENDAHULUAN Penceritaan merupakan salah satu aktivitas fundamental hidup manusia, bahkan sudah dimulai sejak sejarah manusia ada di bumi ini. Allah bercerita kepada Adam tentang alam ciptaan, memberinya tugas untuk mengelola, dan bahkan membangun relasi dengan manusia melalui cerita dan percakapan intim (Kejadian . Allah memberikan kata-kata kepada Adam sehingga ia bisa berbicara dan menceritakan firman Allah kepada istri dan Allah memberikan nilai pada kata-kata manusia, sehingga manusia menjadi makhluk yang bisa berkomunikasi dengan unik. Paul Tripp menyatakan bahwa Aukata-kata mengarahkan keberadaan kita dan hubungan kitaAsehingga sungguh-sungguh mengenal orang lain melalui pembicaraan. Ay2 Dan, kata-kata bukanlah miliki manusia. Allah-lah yang menciptakan pembicaraan untuk tujuan-Nya. Kata-kata adalah milik Allah Sang Pencipta kata-kata. Kamus Britanica mendefinisikan penceritaan sebagai tindakan atau proses menceritakan sebuah kisah atau menggambarkan apa yang terjadi. Sementara itu Schachtner menyatakan bahwa narasi mengindikasikan sebuah proses yang aktif dalam menafsirkan realita dan penceritaan adalah tindakan untuk membangun narasi itu sendiri Au a narrative should indicate an active process whereas storytelling relates to the narrative act itselfAy4 Yang terpenting dalam penceritaan adalah kemampuan untuk menggunakan Bahasa sebagai kendaraan narasi dengan melibatkan rasio dan emosi. Penceritaan bisa dilakukan dengan lisan, tertulis, ataupun media visual mati/bergerak. Maka dapat disimpulkan bahwa penceritaan kisah Alkitab adalah proses aktif kognitif yang melibatkan rasio dan emosi untuk menceritakan kisah Ae kisah dari Alkitab sebagai upaya membangun narasi alkitabiah dalam rangka menafsirkan dunia berdasar kisah tersebut, bisa dengan cara lisan atau visual. Bercerita lisan memiliki banyak dimensi penting. Tradisi bercerita dalam dunia kuno dipakai sebagai metode pembelajaran generasi untuk mewariskan nilai hidup, pengetahuan dasar, sekaligus internalisasi budaya. Demikian pula bercerita lisan memiliki nilai psikologis Paul David Tripp. Perang Dengan Kata-Kata: Mengenali Inti Pergumulan Dalam Komunikasi Anda, ed. Irwan Tjulianto (Surabaya: Penerbit Momentum, 2. https://w. com/dictionary/storytelling Christina Schachtner. The Narrative Subject: Storytelling in the Age of the Internet, in The Narrative Subject: Storytelling in the Age of the Internet (Springer International Publishing, 2. , https://doi. org/10. 1007/978-3-030-51189-0. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Oda Judithia Widianing: Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital untuk memberi pemaknaan hidup dan mengikat emotional relationship antara pihak yang bercerita dengan yang mendengarkan. Dari sisi teologis, praktik bercerita secara lisan menjadi metode untuk mewariskan kepercayaan atau believe kepada keturunan berikutnya. Alkitab adalah sabda yang tertulis dengan narasi panjang firman Allah untuk diajarkan secara lisan turun-temurun kepada setiap generasi. Sampai hari ini tradisi lisan menjadi patron utama dalam pendidikan orang Israel, baik di rumah maupun di Bait Allah. Jadi bercerita lisan tidaklah hanya ekspresi budaya sebagai pewarisan nilai, melainkan suatu mandat Ilahi untuk membentuk iman generasi sesuai dengan kehendak Allah. Kita hidup di era digital yaitu suatu periode sejarah perkembangan dunia di mana teknologi yang bersifat digital menggantikan cara analog di hampir seluruh aspek hidup Ruh dari era digital ini adalah interconnected network atau internet, yaitu sistem jaringan komputer global yang saling terhubung menggunakan protokol internet (TCP/IP) untuk menghubungkan perangkat di komputer di seluruh dunia5. Transformasi ke bentuk digital melibatkan perubahan teknologi, budaya dan struktur sosial. Akibat berkembangnya teknologi komunikasi digital, maka budaya penceritaan lisan bergeser kepada budaya digital. Anak-anak lebih tertarik menonton konten digital yang acap kali bersifat nonedukatif dan bermuatan hiburan atau entertain semata, alih-alih mendengarkan atau membaca kisah yang dituturkan secara lisan maupun tulisan. Penelitian Azlina dan Surjadi di Tanjung Duren Ae Jakarta Barat menyajikan data bahwa dari 138 subyek anak usia balita . -59 bula. terdapat 74 subjek atau 53,6% terpapar dawai lebih dari 1 jam per hari, dan berdampak dalam keterlambatan perkembangan. 6 Anak-anak menghabiskan masa-masa emas dengan mengurung diri dalam aktivitas dunia maya secara masif. Keterasingan dan isolasi diri telah terbentuk sejak dini. Penelitian Agustina di wilayah Bekasi menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi digital mengurangi komunikasi personal antara orang tua dan anak, sekalipun mempermudah komunikasi jarak jauh. 7 Pratiwi dan kawan-kawan dalam penelitian di UIN Sunan Gunung Djati Bandung menemukan fakta bahwa pola komunikasi antara mahasiswa dengan orang tua mengalami pergeseran signifikan karena kemajuan teknologi komunikasi. Hubungan yang dekat secara fisik menjadi terasa jauh, frekuensi komunikasi lisan dengan Fajar Hidayanto. Dan Mohammad, and Zidni Ilmi. AuPentingnya Internet Sehat,Ay Jurnal Inovasi Dan Kewirausahaan 4, no. Azlina. Fina, and Lily M. Surjadi. AuWaktu Pajanan Layar Dan Keterlambatan Perkembangan Pada Anak Balita Di Tanjung Duren Ae Jakarta Barat. Ay Journal of Medicine and Health 5, no. 2 (August 2. : 136. Adelia Putri Agustina. AuPerubahan Pola Komunikasi Keluarga Di Era Digital,Ay Jurnal Global Komunika Vol. 6 No. : 73Ae80. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 orang tua menurun, dan terjadi kecanggungan relasi di dunia nyata. Dampak yang paling miris adalah anak jauh lebih terbuka menjalin komunikasi melalui media sosial ketimbang dengan orang tua. 8 Fakta ini menunjukkan ada dampak negatif akibat budaya digital terhadap keintiman komunikasi dalam keluarga, termasuk keluarga Kristen. Yang paling terasa adalah melemahnya tradisi bercerita lisan antara orang tua dan anak-anak. Dalam tujuh tahun belakangan ini pengguna internet di Indonesia berkembang pesat. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mendata bahwa tahun 2018 ada 171 juta jiwa . ,8%) jumlah pengguna internet dan meningkat menjadi 196 juta jiwa . ,7%) di tahun 2020. 9 Hal ini semakin terasa pada masa Covid-19 dan setelahnya. Internet telah menjadi sarana utama bidang pendidikan, komunikasi keluarga, dan praktik ibadah secara Hingga tahun 2025 tercatat sekitar 229,4 juta jiwa atau 80,7% penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet. Dari data ini ada satu fenomena yang tidak kalah mencengangkan yaitu berdasar Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 ada sekitar 39,71% anak dalam rentang 0-6 tahun telah menggunakan telepon seluler dan 35,57% di antaranya terpapar internet. Pemicu utamanya adalah habit orang tua menyodorkan digital device sebagai obyek penenang yang mencegah pengalihan orang tua dikala sibuk. Perangkat digital menjadi sarana hiburan yang mudah diakses anak, bahkan dianggap sebagai Aupenjaga anakAy dari pengaruh lingkungan luar secara fisik. Media displacement theory menyatakan bahwa Aukonsumsi media baru akan menggantikan aktivitas lainAy. 10 Hanya ada sedikit waktu untuk melakukan kegiatan komunikasi, termasuk yang tradisional, manakala suatu teknologi komunikasi model baru mengintervensi generasi. Hal ini karena seseorang punya waktu dan perhatian yang terbatas dalam satu kegiatan komunikasi saja, maka ia tidak bisa melakukan lebih banyak kegiatan. Inilah sebabnya mengapa gelombang teknologi digital yang terus-menerus menerpa dunia era ini menjadikan perubahan pola komunikasi tradisional masyarakat berubah: komunikasi interpersonal semakin jarang dilakukan, kerenggangan emotional relationship di dunia nyata, meredupnya kebiasaan bercerita lisan antara generasi tua dengan generasi muda, termasuk dalam pola relasi keluarga Kristen. Pratiwi. Maulana. , & Ismail. Dinamika Interaksi Keluarga dalam Era Digital: Implikasi terhadap Hubungan Orang Tua-Anak. Socio Politica: Jurnal Ilmiah Jurusan Sosiologi, 13. , 78. APJII. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Laporan Survei Internet Indonesia 2020. Jakarta: APJII. Nimrod. Selective motion: media displacement among older Internet users. Information Communication and Society Journal, 22. , 1269Ae1280. https://doi. org/10. 1080/1369118X. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Oda Judithia Widianing: Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital Indonesia menempati peringkat atas dalam hal durasi penggunaan telepon genggam yaitu 6 jam per hari . Sebagian besar durasi ini dipakai untuk kegiatan yang bersifat non-fungsional : menikmati konten hiburan, aktivitas scrolling media sosial, dan belanja online. Fakta ini bisa menjadi petunjuk bahwa orang dewasa termasuk orang tua Kristen hanya sedikit menggunakan waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan anak secara fisik, apalagi yang terkait kebiasaan penceritaan kisah Alkitab. Bercerita merupakan aktivitas yang membutuhkan kemampuan kognitif dan emosi. Penceritaan kisah Alkitab akan melibatkan kemampuan kognitif dalam menyusun alur cerita dan mengingat detail kisahnya sesuai kebenaran Alkitab. Selain itu bercerita butuh pendekatan emosional seperti ekspresi, intonasi, maupun spirit sesuai dengan kisah yang Bahkan tidak mustahil penceritaan kisah Alkitab memaksa orang tua aktif secara fisik, menggerakkan tubuh sebagai alat peraga, dan permainan intonasi suara agar anak memberi Maka, bercerita membutuhkan kehadiran orang tua bukan saja untuk berkisah namun kesediaan mendengar dan memberi umpan balik terhadap respons anak terhadap kisah yang diceritakan. Sayangnya, alih-alih hadir sebagai pendidik iman, orang tua lebih memilih memberikan kisah Alkitab digital kepada anak dan membiarkan mereka menikmati sendiri isi cerita. Implikasi seriusnya adalah ketidakhadiran orang tua sebagai pengajar firman yang tekun, berpotensi kesalahpahaman memahami pesan iman yang terkandung dalam kisah Alkitab tersebut. Ketidaktekunan membaca Alkitab menjadi tantangan orang tua dalam penceritaan kisah Alkitab kepada anak. Membaca adalah elemen penting dalam memperoleh pengetahuan dan informasi. Indonesia termasuk dalam kategori masyarakat yang belum kuat dalam budaya membaca. Indeks TGM (Tingkat Gemar Membac. masyarakat hanya mencapai skor sedang yaitu 72,44. 11 Indeks kegemaran membaca masyarakat adalah tingkat perilaku atau kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan informasi dari berbagai bentuk media yang dapat dilakukan secara mandiri dalam jangka waktu tertentu . Memang tidak ada data statistik khusus terkait ketekunan membaca Alkitab dalam keluarga Kristen. Namun data di atas bisa menjadi gambaran umum orang Indonesia, termasuk orang Kristen rendah dalam literasi membaca. Melalaikan aktivitas membaca dan merenungkan Alkitab menjadi penyebab orang tua tidak paham kisah Alkitab. Akibatnya mereka tidak menceritakannya kepada anak-anak. Alih-alih mendidik iman melalui penceritaan kisah Alkitab secara lisan, orang tua menyerahkan tugas pendidikan ini kepada id. AuPerpusnas-Bangsa-Yang-Maju-Adalah-Bangsa-Pembaca,Ay September 13, 2025. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 guru agama di sekolah atau guru sekolah minggu. Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan penceritaan kisah Alkitab bukan saja karena budaya digital dari luar diri, tetapi secara internal orang tua lalai belajar Alkitab dan sengaja abai mengisahkan warisan iman tokohtokoh Alkitab kepada anak-anak. Kesibukan meraih personal achievement dalam keluarga Kristen modern menjadi salah satu penyebab hilangnya tradisi penceritaan kisah Alkitab. Anak-anak didorong untuk berprestasi tiada batas dalam bidang akademik maupun non akademik sebagai indikator kesuksesan hidup. Pemerintah juga aktif mendorong kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana pendidikan karakter. Kesibukan mengejar pencapaian diri telah mengaburkan kebutuhan akan intimacy relationship dengan Tuhan melalui perenungan firman. Memang manusia modern tidak menghilangkan religiositas dari kehidupannya. Peter L. Berger dalam Dolezal dengan teori Desekularisasinya menyatakan bahwa Audunia kontemporer tetap religius dan, di beberapa wilayah geografis, 'bahkan lebih religius daripada sebelumnya. Ay12. Namun, sikap hidup religius yang dimaksud lebih merupakan menjalani hidup lebih bermoral bagi sesama di dunia sekuler, tanpa Kristus. Itulah yang dimaksud pendidikan karakter. Manusia modern dalam dunia berdosa memandang bahwa relasi dengan Tuhan bukan tujuan utama hidup. Tidak perlu ruang bagi praktik rohani yang bersifat meditatif dan personalAiseperti doa bersama keluarga, penceritaan kisah Alkitab, maupun saat teduh pribadiAisemua itu dianggap bagian dari agama tradisional di masa lalu. Orang menjadi baik karena dia bermoral, bukan karena memiliki pengenalan yang benar akan Allah melalui firman-Nya. Kajian mengenai pendidikan iman dalam keluarga Kristen selama ini lebih banyak menekankan pada peran keluarga Kristen, gereja, sekolah minggu, maupun pendidikan formal secara luas sebagai pendidik iman. Kilapong melihat bagaimana keluarga Kristen bertanggung jawab menjadi pendidik utama dalam internalisasi nilai kebenaran untuk membangun karakter yang unggul pada anak-anak. 13 Ate dan Triposa menyoroti kepada tanggung jawab orang tua, gereja, dan sekolah untuk integrasikan pendidikan literasi digital supaya anak bisa memakai teknologi dengan bijak. 14 Armila menyoroti perlunya orang tua menggunakan teknologi dan media sosial dalam mendidik anak-anak Generasi Z. 15 Namun Krystof Dolezal. AuIrritating the Secular: On Peter Berger and Charles TaylorAos Theological Projects. ,Ay Politics. Religion & Ideology, 25. 25, no. Politics. Religion&Ideology Journal (June 2. 443Ae58. Kilapong. AuStrategi Mendidik Anak Dalam Keluarga Kristen Untuk Membangun Generasi Emas 2045,Ay Vox Veritatis: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 2. : 30Ae42. Ate & Triposa. AuMenyikapi Tantangan Pendidikan Agama Kristen Bagi Generasi Muda Di Era Digital. ,Ay Jurnal Ap-Kain 3. : 23Ae31. Armila Pilo. , & RaAopean. AuPendidikan Kristen Dalam Keluarga Dalam Upaya Membangun Karakter Anak Generasi Z. ,Ay Jurnal Pendidikan Dan Keguruan 1 . : 1905Ae15. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Oda Judithia Widianing: Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital dari penelitian-penelitian ini belum ada yang menganalisis secara khusus praktik penceritaan kisah Alkitab di rumah sebagai suatu mandat pendidikan dalam mewariskan iman Kristen kepada anak. Oleh karena itu, penulis berusaha menjawab pertanyaan bagaimana tindakan penceritaan kisah Alkitab sebagai sarana menumbuhkan iman anak-anak dalam keluarga Kristen dilakukan menurut firman Tuhan? Apa yang merupakan fondasi naratif teologis yang mendasarinya? Apa yang dapat dilakukan untuk tetap menjalankan tradisi penceritaan kisah Alkitab dalam keluarga Kristen di era digital? Dengan menempatkan penceritaan kisah Alkitab sebagai fokus kajian, penelitian ini bertujuan untuk memberi wawasan bahwa praktik tradisi penceritaan lisan ini bukan saja berfungsi sebagai media menumbuhkan iman anak dalam keluarga Kristen, namun merupakan mandat Ilahi mendidik generasi di sepanjang jaman. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan dari berbagai sumber buku yang terkait dengan tugas dan tanggung jawab orang tua Kristen sebagai pendidik iman anak dan jurnal tentang aktivitas bercerita. Metode ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang menekankan kajian teoritis dan konseptual mengenai penceritaan kisah Alkitab dalam keluarga sebagai mandat pendidikan iman anak di era Dengan memanfaatkan literatur yang ada, penulis dapat membangun landasan teori yang kuat, meninjau hasil penelitian terdahulu, serta menemukan perspektif baru yang mendukung kerangka pemikiran penelitian ini. Mendes. Wohlin. Felizardo. Kalinowski, dalam Prianggar menyatakan penelitian kepustakaan adalah tindakan menganalisis segala literatur yang relevan dengan memanfaatkan sumber penelitian seperti buku, kamus, dokumen visual, jurnal baik yang didapat secara online maupun fisik. Hal ini dapat dilakukan tanpa riset lapangan. 16 Literatur review dilakukan secara kritis untuk menentukan sumber mana yang paling relevan dengan penelitian penceritaan kisah Alkitab sebagai mandat pendidikan di era digital. Hasil dari review ini menjadi data sekunder yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menjawab pertanyaan terkait era digital maupun penceritaan kisah Alkitab dalam keluarga. Selanjutnya data sekunder yang didapat dianalisis memakai analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis merupakan deskriptif data berupa kalimat-kalimat tertulis dan pengamatan dari Rizaldy Fatha Pringgar and Bambang Sujatmiko. Penelitian Kepustakaan(Library Researc. Modul Pembelajaran Berbasis Augmented Realitypada Pembelajaran Siswa. Vol. 5 No. : . 317Ae329. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 penelitian sebelumnya. Teknis analisis data dalam penelitian kepustakaan menggunakan content anlysis atau metode analisis isi, yaitu mengkaji perilaku obyek yang diteliti secara tidak langsung melalui buku, artikel, karya sastra tertulis, dan segala jenis komunikasi visual-audio yang dapat HASIL DAN PEMBAHASAN Manusia sebagai Mahluk Pencerita Manusia adalah ciptaan yang unik dalam berkomunikasi dengan kata-kata. Mahluk lain berkomunikasi dengan bau, suara, maupun gerak tubuh. Adam dan Hawa diberi Allah berikan kemampuan untuk berkata-kata dalam komunikasi. Sebagaimana Allah adalah Pribadi yang berbicara, demikianlah imago Dei menjadi makhluk yang dapat berbicara kata-kata. Kata-kata menginterpretasi sesuatu. Itulah mengapa kata-kata selalu memiliki nilai tertentu yang tidak Allah-lah Adalah pemilik kata-kata, namun Ia meminjamkan kepada kita supaya kita mengenal-Nya dan mempermuliakan Dia melalui kata-kata. Bayangkan jika Allah tidak pernah berkata-kata, para penulisan Alkitab tidak akan memiliki apa pun untuk dituliskan bagi umat. Manusia adalah nara Homo atau makhluk pencerita. Walter Fisher dalam Stroud menyebut manusia sebagai pendongeng bawaan ketika melakukan interaksi komunikatif. AuHumans naturally reason in the form of narratives and all know how to evaluate narratives for good reasons. Ay17 Manusia secara alami bernalar dalam bentuk naratif sehingga ia layak disebut makhluk naratif. Ini bukan sebuah genre dalam bidang seni, melainkan sebuah bentuk pengaruh sosial. 18 Di era digital penceritaan kita banyak dilakukan melalui jari jemari ketimbang mulut. Karena tidak menampakkan kenyataan visual, sering kali penceritaan lewat teks menimbulkan multi-persepsi yang bisa berdampak negatif. Apa pun bentuk komunikasi manusia pada dasarnya adalah sebuah narasi. Kita sadar bahwa pada dasarnya kita makhluk yang dengan mudah menceritakan sesuatu kepada pihak lain atau bahkan untuk diri sendiri. Maka, sesungguhnya kita tidak memiliki kesulitan mendasar dalam bercerita. Scott R. Stroud. AuNarrative Rationality,Ay The International Encyclopedia of Communication Theory and Philosophy. January 1, 2016, 1Ae8, https://doi. org/10. 1002/9781118766804. Mia Dwianna et al. AuPengalaman Komunikasi Ibu Dengan Baby Blues Syndrome Dalam Paradigma Naratif,Ay Jurnal Manajemen Komunikasi 3, no. : 202Ae13. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Oda Judithia Widianing: Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital Bercerita sebagai Strategi Pedagogis Bercerita merupakan sarana komunikasi sekaligus bentuk seni yang melibatkan kreativitas penutur dan pendengar. Supriadi seperti yang dikutip oleh Zola & Nurhafizah menyatakan bahwa bercerita adalah aktivitas untuk menceritakan kisah tentang pengalaman, tindakan, atau peristiwa yang benar-benar terjadi atau cerita fiksi. 19 Cerita membantu kita memahami siapa kita dan menunjukkan kepada kita warisan apa yang harus berikan kepada generasi mendatang. Cerita diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai pewarisan nilai atau tradisi dengan cara bertutur lisan. Penceritaan kisah dapat menjadi sebuah strategi pedagogis, yaitu pendekatan sistematis dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar. Sebuah kisah yang biasanya dianggap abstrak, bila memuat nilai pedagogi akan menjadi metode yang konkret dan terukur untuk mencapai tujuan pembelajaran. Maka penceritaan di beberapa pembelajaran sosial lazim menjadi bagian dari kurikulum. Guru dapat menggunakan metode bercerita untuk mendorong siswa aktif mengolah kognitif dalam bentuk kata-kata secara Dengan bercerita anak didorong untuk mengingat alur cerita, menyampaikan dengan ekspresi, mengucapkan kalimat secara jelas, dan memahami isi cerita dengan lebih tepat. Hal ini meliputi domain kognitif, afeksi, dan motorik Sebagai strategi pedagogis, penceritaan bukanlah sebatas sarana di mana manusia memahami dunia di sekitar mereka tetapi juga untuk mendorong terjadinya perubahan sosial. Artinya penceritaan dapat memunculkan kesadaran kolektif untuk melakukan perubahan sosial, memelihara nilai-nilai rohani secara turun-temurun. Menurut Livo dan Rietz "bercerita adalah praktik lama, begitu tua, pada kenyataannya tampaknya hampir sama alaminya dengan menggunakan bahasa lisan. "20 Secara alamiah, roda sejarah dunia bergerak terus dan dapat dikenali pula karena adanya kisah-kisah yang diceritakan dari generasi ke Bercerita adalah salah satu metode pembelajaran efektif yang diberikan kepada anakanak. Sanjata menyatakan bahwa metode pembelajaran adalah cara atau teknik penyajian materi yang digunakan oleh pengajar agar tercapai tujuan pembelajaran. 21 Metode bukanlah Novita Prima & Nurhafizah Zola. AuThe Effect of Storytelling Method Using Big Book in Improving ChildrenAos Learning Concentration in Kindergarten 107-116,Ay Jurnal Pendidikan Dasar 3 . (October 2. : 107Ae16. Edward A. Delgado-Romero et al. AuEl Que Oye Consejos. Llega a Viejo: Examining the Published Life Narratives of U. Latino/a Psychologists,Ay Journal of Latina/o Psychology Vol. No. : 127Ae41. Zulmi Noza. Wandira. , & Gusmaneli. AuPendidikan Islam Berbasis Digitalisasi,Ay Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam 2 . : 192-205. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 tujuan pembelajaran, namun kendaraan yang dipilih pengajar untuk mengantar peserta didik ke tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Dengan penceritaan kisah anak akan lebih mudah memahami nilai-nilai Kristiani dan mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta suatu meaningful learning. 22 Jadi, penceritaan kisah Alkitab dalam keluarga merupakan suatu strategis pedagogis pada suatu peristiwa atau situasi dengan tujuan menumbuhkan iman Kristen anak. Penceritaan Kisah Alkitab adalah Mandat Pendidikan Cerita Alkitab adalah penyataan Allah tentang diri-Nya dalam situasi-situasi yang Melalui penceritaan kisah Alkitab anak diajar untuk mengenali Pribadi Allah yang kekal dan karakter-Nya. Kasih Allah tidak pernah berubah, namun cara Ia menyatakan kasihNya bisa berubah dan itulah kisah Alkitab. Dengan menyatakan firman yang tertulis itu dalam suatu narasi maka anak memperoleh manfaat mendasar yang bersifat kekal dari Alkitab yaitu manfaat mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran. Bukankah ini nilai pedagogis Alkitab yang bisa dialami seorang anak melalui metode penceritaan kisah? Bukankah iman hanya bisa timbul dari pendengaran akan firman Kristus? Kita Ulangan pasal 6 merupakan dasar alkitabiah tentang tugas penceritaan kisah Alkitab kepada anak. Ini merupakan teks yang membentuk karakter bagi mereka yang serius dalam mewariskan berkat perjanjian Allah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini adalah mandat pendidikan untuk menajamkan iman anak kepada Allah Israel yang Esa. Mandat pendidikan iman adalah perintah Tuhan kepada setiap orang dewasa dari umat Allah untuk mendidik dan mewariskan iman kepada anak-anak supaya mengasihi TUHAN. Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. 24 Sejak ayat pertama dari Ulangan 6. Musa sudah menegaskannya sebagai Auperintah -yakni ketetapan dan peraturanA atas perintah TUHAN. AllahmuAAy Hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut (Biblehub. Grace Margareta Clara. Satria Evans Umboh, and Yosias Masokoda. AuPenerapan Cerita Alkitab Sebagai Metode Pembelajaran Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Sikap Positif Siswa Terhadap Pelajaran Agama Kristen,Ay EDUKRIS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol. 01 No. 01, no. 01 (February 2. : 72Ae 88, https://doi. org/10. 52562/jdle. Abraham Tefbana. Peran Orangtua Mendidik Spiritual Anak Di Era Revolusi Industri 4. Berdasarkan Ulangan 6:4-9 (Tinjauan Teologis Dan Pedagogis Dalam Pendidikan Agama Kriste. , 7, no. : 4Ae9. Nandari Prastica et al. AuImplementasi Peran Orang Tua Menurut Ulangan 6:4-9 Dalam Pendidikan Agama Kristen Keluarga Di Gereja Masehi Injili Di Minahasa Jemaat Imanuel Aertembaga Bitung,Ay Jurnal Shanan Volume 4 Nomor 2 (October 2. : 128Ae61. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Oda Judithia Widianing: Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital A Kata perintah atau A( i iiAhamAmiAwA. menunjuk pada mandat ilahi yang dipercayakan kepada Israel sebagai sebuah hukum yang wajib dilakukan. Mitsvah adalah ikatan kovenan antara Allah dengan umat yang menuntut ketaatan. Ketetapan atau A( i oyAhaAuuqAqy. bermakna sesuatu yang ditentukan, kewajiban, tugas yang ditentukan yang sifatnya permanen dan mengikat setiap individu. Kata ini mencakup baik ranah moral-hukum maupun ranah ibadah. Lebih tegasnya dalam konteks Ulangan 6 kata ini bukan tentang aturan buatan manusia tapi ketetapan Allah yang terus-menerus mendesak untuk dilakukan. Peraturan atau A( i i iooyAwoAhamAmiApAAy. memiliki nuansa terkait keputusan Tuhan keadilan-Nya. Kata mengimplikasikan bahwa peraturan itu mewujudkan standar Tuhan sendiri sebagai Hakim, sehingga kesalahan dalam penegakan keadilan bukan hanya kegagalan sipil tetapi juga ketidaksetiaan terhadap perjanjian atau kovenan. Ulangan 6 : 7 selain sebagai mandat pendidikan --karena berisi kewajiban orang tua mendidik anak-anak kovenan untuk mengasihi Tuhan. Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan--, ia juga merupakan anugerah yang menolong orang tua menemukan Tuhan sebagai Pribadi yang menyenangkan. Perjumpaan orang tua dengan Allah Tritunggal yang sejati ini mendorong orang tua menolong anak memperoleh kesukacitaan yang sama terhadap Pribadi itu. Hal ini diwujudkan sebagai proses mendidik ini melalui tindakan mengajar dan membicarakan firman dengan tekun yang berulang-ulang dalam konteks hidup sehari-hari. Kata mengajar AyA A( i AwoAinAnanAtA. menggambarkan sesuatu yang sengaja diasah sampai tajam sampai ujungnya mengenai sasaran dengan tepat. Dalam hal mendidik maka kata shanan ini adalah tindakan mengajar dengan tekun Ae berulang-ulang layaknya mengasah pisau hingga tajam supaya bisa mencapai sasaran pengajaran yang A Kata membicarakan A( i ec AwoAaibAbarAtA) erat kaitannya dengan tindakan membahas sesuatu, memberitahu, dan menceritakan suatu cerita/tradisi. Dalam Perjanjian Lama, kata dabar menunjuk pada ucapan yang disengaja, yaitu tindakan mengartikulasikan firman Allah tanpa perubahan. Dengan demikian. Ulangan 6:7 menegaskan bahwa menceritakan firman Allah sebagai tradisi lisan yang otoritatif adalah tindakan pedagogis harian orang tua dalam segala situasi untuk menumbuhkan iman dan kasih anak kepada Tuhan. Hal ini sejalan dengan prinsip Roma 10:17 yaitu bahwa AuIman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 Kristus. Ay Allah telah menetapkan cerita sebagai salah satu cara utama Ia mengomunikasikan kebenaran tentang siapa Dia dan relasi-Nya dengan umat. 25 Demikianlah kisah-kisah Alkitab menjadi mediator yang Allah pakai untuk menumbuhkan iman dalam diri anak-anak Allah mengisahkan kisah-Nya melalui Alkitab bagi semua umat kovenan di sepanjang jaman. Kisah itu tidak ditujukan secara terbatas hanya bagi Israel, melainkan bagi setiap generasi umat Allah. Karena Allah sendiri yang mengadakan kisah itu, maka setiap generasi diwajibkan untuk mengajar dan mengisahkannya sebagai warisan iman yang turuntemurun dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu, penceritaan kisah Alkitab tidak bergantung pada kerelaan orang tua, melainkan merupakan ketetapan Allah yang terusmenerus mendesak untuk dilakukan. Tujuannya adalah agar anak-anak bertumbuh tajam dalam pengenalan dan kasih kepada Tuhan. Narasi Kesetiaan Allah vs Manusia Berdosa Alkitab adalah buku kisah Allah tentang karakter dan karya-Nya dalam metanarasi penebusan umat. Melalui Alkitab Allah menulis kisah Ae kisah tentang kasih kekal-Nya yang tidak berubah, dengan dinamika dalam cara-Nya berurusan dengan manusia. Kisah tentang Allah yang maha kuasa namun berkehendak memakai manusia berdosa dalam suatu peristiwa dan tempat di bumi ini. Metanarasi Alkitab memiliki dua sisi kebenaran mutlak tentang Allah dan manusia yang ada dalam kisah tersebut: doktrin GodAos immutability yaitu Allah yang tidak pernah berubah termasuk dalam hal kesetiaan-Nya dan sinfulness nature of man yaitu sifat keberdosaan manusia akibat dosa asal. Setiap orang yang dipakai Allah untuk mengisi kisahNya adalah orang bernatur dosa, tidak setia pada kovenan dengan kecenderungan hati melawan Allah. Mereka bukan para santo yang suci tak bercela. Maka dengan tegas nabi Yesaya menulis ulang firman Allah yang dinyatakan dengan sumpah AuTUHAN semesta alam telah bersumpah, firman-Nya: "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksanay (Yesaya 14:. Allah Alkitab adalah Pribadi yang tidak berubah dalam kasih setia. Penceritaan kisah Alkitab adalah penarasian tentang kesetiaan Allah memelihara umat dalam mewujudkan rencana besar-Nya. Kesetiaan Allah berkaitan dengan karakter Allah yang tidak berubah. Ketika bercerita orang tua seharusnya menjadikan kisah kesetiaan Allah sebagai inti dari setiap peristiwa. Starr Meade menyatakan bahwa penceritaan kisah Alkitab merupakan cara paling logis untuk mengajarkan anak tentang tokoh, peristiwa, dan Starr Meade. Beri Mereka Kebenaran (Surabaya: Penerbit Momentum, 2. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Oda Judithia Widianing: Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital tempat yang dipilih Allah untuk mengerjakan kehendak-Nya. 26 Anak Ae anak adalah kelompok usia yang menyukai cerita seru, dan Alkitab adalah buku cerita Allah yang seru dalam segala aspek. Penceritaan Yang Berpusat Pada Tuhan Penceritaan kisah Alkitab harus bersifat God-centre dan bukan anthropocentric. Allah adalah Penulis Alkitab. Setiap kisah yang disampaikan kepada anak merupakan pengajaran tentang apa dan siapa Pribadi Allah yang memakai kisah manusia dengan bahasa Ketika menceritakan kisah Ester hendaknya orang tua berfokus pada kesetiaan Allah memelihara umat yang sedang dalam pembuangan dengan memakai Ester dan Mordekhai. Melalui kisah Ester anak dibawa belajar tentang Allah Alkitab adalah Allah yang setia dalam janji keselamatan dan providensia-Nya. Ia juga bukan seperti Ahasyweros yang memperlakukan para gadis sebagai pelampiasan kesenangannya. Raja Yesus Kristus adalah Pribadi yang menanggalkan kemuliaan-Nya dan mengosongkan diri, turun ke dalam dunia demi kepentingan umat berdosa. Ia adalah raja yang mati untuk umat-Nya supaya mereka bisa hidup di hadapan Bapa. Inilah sifat berpusat pada Tuhan dari setiap kisah Alkitab. Anak akan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah melalui penceritaan kisah Alkitab yang berpusat pada Allah. Pengenalan Allah Alkitab melibatkan rasio dan hati. Maka, penceritaan kisah Alkitab tidak saja menyentuh afeksi anak, namun juga membuka rasio mereka untuk mengenal Pribadi Allah dan kedaulatan-Nya dalam hidup anak-anak. Hal ini menolong mereka berespons dengan benar terhadap Allah dan karya-Nya. Meade menyatakan bahwa ketika anak-anak melihat Allah menangani peristiwa dalam kisah Alkitab akan menolong mereka bersikap memuliakan Allah dengan segala yang dimiliknya. Kedua mereka akan merasakan tenang teduh sekaligus bertanggung jawab atas keselamatan kekal yang Allah kerjakan bagi umat (Yohanes 10:28-. Kasih sebagai Landasan Penceritaan Kisah Alkitab Ketekunan menceritakan kisah Alkitab adalah respons cinta kasih orang tua kepada Allah dan juga jiwa kekal sang anak. Tugas orang tua bukan hanya merawat jasmani anak, tetapi mengisi ruang jiwa yang hanya dapat dipuaskan oleh kehadiran Allah dan firman-Nya. Sesungguhnya jiwa seorang anak sangat membutuhkan pengajaran teologis dari sumbernya, yaitu Alkitab. Kisah Alkitab bukan saja kisah yang indah, tapi unik dan berkuasa mengubah jiwa yang berdosa. Firman Tuhan adalah kebenaran (Yohanes 17:. yang menjadi pelita Meade. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 dalam kegelapan dunia mereka. Bukankah pemazmur pernah memberikan pernyataan tegas AuDengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Ay (Mazmur 119:. Orang tua yang mengasihi Allah tidak pernah menyimpan kisah kasih Allah untuk dirinya sendiri. Kisah Yesus memiliki daya tarik yang inherenAisuatu kekuatan naratif yang tidak bisa dilepaskan dari siapa Yesus itu sendiri. Anak perlu dibawa untuk melihat bahwa kisah Yesus bukan tentang moral atau sejarah saja, melainkan inti dari kebenaran Kristen. Pekerjaan menceritakan kisah Alkitab merupakan hak istimewa orang tua Kristen. Karena kita sudah lebih dahulu mengalami kasih Allah, sadar atau tidak, maka Ia memberikan hak itu kepada kita untuk mengasihi anak melalui kisah-Nya. Media audiovisual yang dirancang untuk anak tidak dapat mengganti afeksi kasih yang terungkap lewat kata dan relasi intim orang tua dengan anak ketika bercerita. Kehadiran orang tua dalam penceritaan kisah Alkitab menghadirkan kasih Allah dalam relasi. Terdapat 4 prinsip penting dalam memelihara tradisi penceritaan kisah Alkitab: Pertama, penceritaan Alkitab adalah penyataan tentang karakter Allah yang terkait dengan karya penebusan-Nya. Orang tua bercerita dengan otoritas Kristus dan bersifat Theistik, bukan melihat pada perbuatan baik atau buruk atau tokoh yang baik versus jahat. Kedua. Lawan godaan untuk menceritakan kisah Alkitab yang berfokus pada manusia. Jangan berpusat anak dengan menjadikan Allah sebagai Aupelayan anakAy maupun tokoh manusia sebagai teladan moral. Ketiga, sediakan waktu khusus secara tetap. Buatlah jadwal harian yang konsisten agar anak terbiasa. Waktu setelah makan malam, setelah menyelesaikan tugas sekolah, atau menjelang tidur dapat menjadi pilihan yang baik. Keempat. Menjaga konsistensi komitmen. Baik di rumah, dalam perjalanan, maupun saat liburan, penceritaan kisah Alkitab harus tetap dilakukan. Konsistensi ini akan membentuk kebiasaan rohani yang kuat, bukan saja untuk orang tua bahkan anak pun bisa jadi akan menuntutnya jika orang tua Penceritaan Kisah Alkitab Dalam Tradisi Digital Mandat pendidikan iman tetap sama: mewariskan iman kepada generasi berikutnya. Namun, era digital menghadirkan konteks baru yang menuntut cara kreatif dan kritis. Tradisi digital yang tidak bertanggung jawab dapat menggerus tradisi bercerita sehingga melemahkan proses internalisasi nilai iman dan mengurangi kedekatan emosional antar Oleh karena itu, diperlukan strategi baru yang mampu mengintegrasikan kekuatan CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Oda Judithia Widianing: Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital digital dengan tradisi penceritaan kisah Alkitab supaya pewarisan iman tetap relevan dalam budaya kontemporer. Teknologi perlu dilihat dalam kacamata etis dengan perspektif situasional, sebagai pekerjaan Allah yang progresif dan berkesinambungan. Karena itu, sarana anugerah umum ini dapat digunakan untuk menghidupkan narasi Alkitab melalui media visual, animasi, podcast, atau aplikasi interaktif. Namun, karena hanya sebatas sarana, penggunaannya tidak boleh menggantikan tugas dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik utama. Prinsip yang harus dipegang adalah memperdalam teologi, bukan sekadar menambah teknologi. Digital discernment atau kebijaksanaan dalam menggunakan media dalam penceritaan Alkitab bukan tentang pembatasan atau memperbanyak penggunaan teknologi. Poin utamanya adalah teknologi digital dipakai sebagai sarana menumbuhkan iman dan bukan sekedar hiburan. Tujuan penggunaannya hanya sebagai media untuk menghidupkan kisah Alkitab, mendukung daya ingat dan keterhubungan lintas generasi, bukan menggantikan Alkitab itu sendiri. Penceritaan Alkitab oleh orang tua harus tetap menjadi pusat pengajaran. Setiap penggunaan teknologi digital dalam menarasikan kisah Alkitab kepada anak harus diinterpretasikan kembali dalam terang kebenaran firman. Cornelius Van Til menekankan AuIn the last analysis the Aofacts of experienceAo must be interpreted either in terms of man taken as autonomous, or they must be interpreted in terms of God. There is no third Aopossibility. Ao The interpretation which takes the autonomous man as self-interpretive is an Aoimpossible possibilityAo27 Bahwa seluruh realitas harus ditafsirkan dalam terang wahyu Allah karena tanpanya segala interpretasi adalah sebuah kemungkinan yang tidak mungkin. Semua interpretasi manusia di bidang apa pun harus tunduk kepada Alkitab, termasuk dalam pemanfaatan teknologi. Di dunia ini tidak ada yang bersifat netral, termasuk teknologi. Semua fakta hanya dapat dipahami secara benar bila ditempatkan dalam kerangka Alkitab: ciptaan, kejatuhan, penebusan, dan konsumasi atau penyempurnaan. Aplikasi digital maupun media cetak yang mendukung penceritaan kisah Alkitab merupakan hasil interpretasi manusia, sehingga harus ditundukkan kembali pada Firman Allah. Sebagai contoh, penggambaran tokoh Alkitab dalam bentuk kartun memiliki sisi negatif seperti simplifikasi yang berlebihan yang membuat kisah yang kompleks menjadi visual yang ringan dan berkesan lucu. Akibatnya pesan teologis yang mendalam terdistorsi atau bahkan Selain itu visualisasi kartun kerap menambahkan unsur yang bersifat imajinatif Cornelius Van Til. A Christian Theory of Knowledge (Glenside. Pa: Westminster Seminary Press, , 36. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 kanak-kanak, misalnya ekspresi berlebihan, sense of humor sang penggambar. Dampaknya anak-anak bisa menyerap gambaran yang tidak sesuai dengan maksud sesungguhnya narasi Alkitab. Teknologi digital dalam kacamata kekristenan harus dilihat sebagai common grace atau anugerah umum. Kuyper menggambarkan anugerah umum sebagai Authe kind of natural blessings that visit the redeemed and unredeemed alike which enables cultural development to advance. Ay28 Ini berarti bahwa Tuhan memberikan teknologi digital kepada ras manusia demi mengelola bumi dan memperkembangkan budaya. Tidak ada alasan untuk menghindarinya karena itu sama artinya dengan berhenti bernafas. Atau sebaliknya kita lebih banyak menggunakan teknologi baik untuk melindungi diri dari pengaruh buruk Sikap-sikap ini sesungguhnya membuat kita hanya berkutat di lingkaran setan. Penceritaan kisah Alkitab yang benar di era digital bukanlah menghindari penggunaan teknologi digital atau sebaliknya lebih memperbanyak penggunaannya secara Namun, yang tepat adalah memperbanyak penggunaan teologi dalam bercerita. Orang tua bisa menggunakan berbagai media penceritaan ataupun metode. Teknologi hanyalah sebuah alat atau sarana dan bukan tujuan pendidikan iman Kristen. Orang tua tidak bisa membiarkan sarana tersebut menguasai proses pendidikan iman, menggantikan fungsi orang tua sebagai pembicara utama, dan mereduksi kisah Alkitab sebagai kisah digital Penceritaan kisah Alkitab adalah mandat yang harus dikerjakan dengan tekun oleh orang tua agar anak bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Allah dan menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam kasih dan ketaatan. KESIMPULAN Adalah hak istimewa menjadi orang tua Kristen bagi anak-anak. Hak istimewa ini berjalan berdampingan dengan tanggung jawab yang Allah berikan untuk mendidik iman Penceritaan lisan kisah Alkitab dilakukan dengan kesadaran bahwa ini merupakan perintah sekaligus undangan untuk berbagian dalam proyek pemuridan Kristus. Allah memberi kita sukacita akan kebaikan Tuhan yang sesungguhnya tidak layak kita terima. Inilah sebenarnya dasar untuk mengajarkan jalan-jalan-Nya kepada anak-anak melalui sebuah narasi lisan. Kasih Allah menumbuhkan kasih orang tua kepada jiwa kekal anakanak. Kerinduan sejati untuk generasi bukanlah tentang bagaimana mereka bertahan hidup, namun bagaimana mereka hidup di hadapan Tuhan. Richard J Mouw. Abraham Kuyper: A Short and Personal Introduction (Wm. Eerdmans Publishing Company, 2. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Oda Judithia Widianing: Penceritaan Kisah Alkitab dalam Keluarga sebagai Mandat Pendidikan Iman di Era Digital Orang tua harus melakukan penceritaan kisah Alkitab di dalam kerangka teologis sebagai fondasi naratif bahwa kisah ini adalah tentang kesetiaan Allah, berpusat pada diri Allah dan karya-Nya, serta berlandaskan pada kasih. Tindakan ini bukan tentang berkatakata saja, tapi proses membangun relasi pedagogis dengan anak, keterlibatan fisik orang tua sebagai pengajar, dan upaya disiplin orang tua sebagai teladan dalam ketekunan merenungkan firman. Ketiga lapisan ini didasarkan pada kasih dan pengenalan yang benar akan Tuhan. Penceritaan lisan kisah Alkitab di era digital tidak perlu menghindari penggunaan teknologi digital. Materi ini pun dalam anugerah umum diberikan kepada manusia untuk dinikmati dan dipakai sesuai peruntukannya. Diperlukan bijaksana yang kritis, konsisten dan kreatif dalam hal penggunaannya, sehingga pengajaran teologi tetap menjadi yang dominan dalam penceritaan kisah Alkitab dalam keluarga. Soli Deo Gloria. Kontribusi Penelitian Selain merupakan tugas peneliti sebagai pengajar teologi dalam pendidikan agama Kristen, juga menjadi refleksi spiritual peneliti sebagai orang. Peneliti menganggap bahwa salah satu gap dalam pengenalan yang benar akan Allah di era digital terletak pada permasalahan yang sudah diungkapkan di atas. Peneliti akan terus menggali permasalahan lain yang ada dengan melakukan studi lapangan yang relevan. Tujuannya supaya ada pembuktian data lebih valid sehingga bisa menemukan hasil penelitian yang lebih akurat. Rekomendasi Penelitian Lanjutan Peneliti menyadari bahwa ada keterbatasan penelitian terutama dalam menggali secara dalam sumber-sumber data di lapangan, maka masih ada kesempatan untuk penelitian lebih lanjut. Hal yang belum diteliti adalah tingkat kecenderungan orang tua mengerjakan tugas pendidikan di rumah, teknologi digital apa yang bisa dimanfaatkan secara kritis dan kreatif dalam penceritaan Alkitab tanpa mengganti peran orang tua sebagai pendidik, juga analisa akan media-media digital pendidikan iman Kristen berdasar kebenaran Alkitab. REFERENSI