JIGE 2 (1) (2021) 45 - 50 JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/jige PENERAPAN MODEL TIPE THINK PAIR SHARE(TPS) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI VOLUME KUBUS DAN BALOK SISWA KELAS V SEMESTER 2 DI SDN 1 RARANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2021/2022 Muhamad Ridwan Habibi Institut Pendidikan Nusantara Global, (Praya), (Indonesia) History Article Article history: Received Mei 2, 2021 Approved Mei 10, 2021 Keywords: Learning Outcomes, Cooperative, Think Pair Share (TPS) Model ABSTRACT This study focus on the use of the Think Pair Shar (TPS) Cooperative Model in Improving Mathematics Learning Outcomes on the volume of cubes and blocks for Class V Semester 2 students at SDN 1 Rarang Selatan in the 2021/2022 academic year. This study aims to: (1). Knowing student learning outcomes through the application of the TPS Model in Mathematics learning (2) knowing student activities through the application of the TPS Model in Mathematics learning. This research was conducted in the form of Classroom Action Research. The stages carried out are: Action Planning, Action Implementation, Evaluation/Observation and Reflection. The subjects of this study were 12 students of class V semester 2 of the 2021/2022 academic year. The research data are: (1). Student learning outcomes were collected through learning outcomes tests. (2). Student activities were collected through observation guidelines. Data were analyzed descriptively qualitatively. From the results of data analysis found that: (1). The mean of student learning outcomes is 73.60. Classical completeness is 91.67% (2). Student activity in participating in learning increased at each meeting. Based on the results of the data above, the application of the Think Pair Shar (TPS) Type Model can be used as a strategy in the learning process. ABSTRAK Penelitian ini difokuskan dalam penggunaan Model Kooperatif Think Pair Share (TPS) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika pada volume kubus dan balok pada siswa Kelas V Semester 2 SDN 1 Rarang Selatan Tahun Pelajaran 2021/2022. Penelitian ini bertujuan untuk: (1). Mengetahui hasil belajar siswa melalui penerapan Model TPS dalam pembelajaran Matematika (2) mengetahui aktivitas siswa melalui penerapan Model TPS dalam pembelajaran Matematika. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas. Tahapan yang dilakukan adalah: Perencanaan Tindakan, Pelaksanaan Tindakan, Evaluasi/Observasi dan Refleksi. Subyek penelitian ini adalah 12 siswa kelas V semester 2 tahun ajaran 2021/2022. Data penelitian adalah: (1). Hasil belajar siswa dikumpulkan melalui tes hasil belajar. (2). Aktivitas siswa dikumpulkan melalui pedoman observasi. Data Penerapan Model Tipe Think Pair Share(TPS)... - 45 Ridwan Habibi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) dianalisis secara deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa: (1). Rerata hasil belajar siswa adalah 73,60. Ketuntasan klasikal sebesar 91,67% (2). Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat pada setiap pertemuan. Berdasarkan hasil data di atas, penerapan Model Tipe Think Pair Shar (TPS) dapat digunakan sebagai strategi dalam proses pembelajaran. © 2021 Jurnal Ilmiah Global Education *Corresponding author email: muhamadridwanhabibi@gmail.com PENDAHULUAN Pesatnya perkembangan zaman dan adanya era globalisasi menuntut setiap manusia untuk siap menghadapi persaingan dengan manusia lain. Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap perkembangan dunia pendidikan, terutama perkembangan dalam bidang teknologi dan informasi, dimana pengetahuan tentang ilmu Matematika yang sangat erat kaitannya dengan logika sangat perlu untuk dikembangkan mulai dari tingkat dasar untuk dapat bersaing dan dapat bertahan dengan kondisi jaman yang selalu berkembang seiring berjalannya waktu, maka dalam proses pembelajaran harus dapat mengembangkan kemampuan siswa seutuhnya agar memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik untuk menjawab tantangan-tantangan yang ada. Proses pembelajaran guru dituntut untuk bisa memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi siswa agar mencapai keberhasilan dalam belajar. Keberhasilan yang dimaksud adalah siswa dapat membangun konsep-konsep Matematika dengan bahasanya sendiri, mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyelesaikan masalah-masalah Matematika yang ia temukan. Proses belajar mengajar melibatkan berbagai macam aktivitas yang harus dilakukan, terutama jika menginginkan hasil yang optimal. Salah satu cara yang dapat dipakai agar mendapatkan hasil yang optimal seperti yang diinginkan adalah memberi tekanan dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilaksanakan dengan memilih salah satu model pembelajaran yang tepat karena pemilihan model pembelajaran yang tepat pada hakikatnya merupakan salah satu upaya dalam mengoptimalkan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi satu sama lain adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif dapat memotivasi siswa, memanfaatkan seluruh energi sosial siswa, saling mengambil tanggung jawab. Model pembelajaran kooperatif membantu siswa belajar mulai dari keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Ironisnya, model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang indonesia sangat membanggakan sifat gotongroyong dalam kehidupan bermasyarakat. Model Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe. Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat membangun kepercayaan diri siswa dan mendorong partisipasi mereka dalam kelas adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Model Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) membantu siswa mengintepretasikan ide mereka bersama dan memperbaiki pemahaman. Model pembelajaran kooperatif tipe ThinkPair-Share (TPS) cocok digunakan di SD karena kondisi siswa SD yang masih dalam masa remaja membuat mereka menyukai hal baru dan lebih terbuka dengan teman sebaya dalam memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Dari permasalahan yang telah diuraikan diatas, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul: “Penerapan Model Tipe Think-Pair-Share (TPS) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika materi volume kubus dan balok Siswa Kelas V Semester 2 di SDN 1 Penerapan Model Tipe Think Pair Share(TPS)...- 46 Ridwan Habibi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) Rarang Selatan Tahun Pelajaran 2021/2022”. METODE Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Menurut Jonathan Sarwono dalam Afifudin, dkk (2009) Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif lebih lanjut mementingkan proses dibandingkan dengan hasil akhir. Sedangkan pendekatan kuantitatif lebih mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabelvariabel tersebut didefinisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Pendekatan ini pun lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik, bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengolah hasil belajar siswa, sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk mengolah data hasil observasi pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari hasil observasi aktivitas siswa dan aktivitas guru. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Rarang Selatan pada siswa Kelas V semester 2 tahun pelajaran 2021/2022. Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini peneliti merancang penelitiannya berdasarkan rancangan yang telah ditetapkan dalam PK (Penelitian Kelas). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) ini dilakukan oleh guru beserta pengamat (observer) dengan mengacu pada fase-fase yang ditetapkan pada penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dirancang dalam bentuk siklus yang akan dilaksanakan dalam (empat) fase yaitu (1) persiapan, (2) pengajaran, (3) evaluasi dan (4) refleksi. Adapun penjelasan untuk masing-masing fase adalah sebagai berikut: Fase 1: Persiapan Dalam fase ini, guru membuat persiapan pengajaran sekaligus membuat kesepakatan dengan pengamat mengenai apa-apa yang akan dilaksanakan dalam penelitian itu. Adapun halhal yang perlu dipersiapkan pada fase ini yaitu: a. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisi langkah-langkah aktivitas dalam pembelajaran disamping bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan dengan mengacu pada model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share). b. Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran, berupa LKS (Lembar Kerja Siswa) ataupun alat bantu pembelajaran (ABP). c. Mempersiapkan instrumen penelitian, seperti pedoman observasi beserta lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar dan instrumen asesmen untuk mengukur hasil belajar siswa. Fase 2: Pelaksanaan Pengajaran Pada fase ini guru mengajar sesuai dengan apa yang sudah disepakati pada fase persiapan dan mengenai kejadian atau hal-hal yang terjadi selama mengajar sebaiknya didokumentasikan melalui pengamat atau guru itu sendiri dalam bentuk data hasil pengamatan dengan mengacu pada pedoman observasi aktivitas siswa maupun pedoman observasi aktivitas guru yang sudah ditetapkan dan sudah disepakati oleh guru dan observer pada fase persiapan. Fase 3: Evaluasi Evaluasi dilakukan pada akhir siklus dengan memberikan tes yang dikerjakan secara individu untuk mengetahui pemahaman atau pengetahuan siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Fase 4: Refleksi Pada fase ini guru dan pengamat (observer) mendiskusikan hasil observasi mengenai kejadian-kejadian selama mengajar apakah sudah sesuai dengan kesepakatan pada fase persiapan dengan berpatokan pada pedoman observasi aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dalam fase keempat ini mungkin ditemukan hal-hal yang belum baik sehingga diperlukan perlakuan ulang guna perbaikan proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Bila Penerapan Model Tipe Think Pair Share(TPS)...- 47 Ridwan Habibi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) demikian dapat dilakukan penelitian putaran kedua (Siklus II) yang menekankan langkahlangkah perbaikan pada siklus I. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui cara, yaitu: 1. Data hasil observasi diperoleh dari lembar observasi yang berisikan deskripsi tingkah laku guru terhadap siswa dan aktivitas belajar siswa saat pembelajaran berlangsung. 2. Data hasil belajar diperoleh dengan cara memberikan tes evaluasi kepada siswa. Tes dilakukan pada setiap akhir pelaksanaan penelitian (siklus) dengan bentuk soal pilihan ganda (tes obyektif). Siswa diberi tes hasil belajar yang diadakan secara individual dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada tiap siklus. Instrumen Penelitian Adapun instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Lembar Observasi Lembar observasi dalam pembelajaran digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan aktivitas belajar siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. 2. Lembar Evaluasi Hasil Belajar Lembar Tes hasil belajar ini berisikan soal-soal yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Dalam penelitian ini jenis tes yang digunakan adalah soal berbentuk pilihan ganda. Tes ini dibuat guna mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa dalam menguasai materi yang telah disampaikanreliabilitas, taraf kesukaran, daya beda dan fungsi pengecoh. Teknik Analisis Data Data Aktivitas Belajar Siswa Data aktivitas siswa dalam proses pembelajaran diperoleh melalui pengamatan langsung dalam setiap pertemuan kelas yang diamati oleh observer yang mengacu pada pedoman observasi yang berisikan 8 indikator, dalam tiap indikator terdiri dari 4 deskriptor. Menentukan skor yang diperoleh siswa, skor setiap individu tergantung banyaknya perilaku yang dilakukan siswa dari sejumlah indikator yang diamati, deskriptor yang Menghitung skor aktivitas belajar siswa dengan rumus sebagai berikut: M x i n Keterangan: M = skor rata-rata aktivitas belajar siswa Σ xi = jumlah skor aktivitas seluruh siswa N = banyak siswa Setelah memperoleh data evaluasi hasil belajar siswa, maka data tersebut dianalisis dengan mencari ketuntasan belajar, kemudian dianalisis secara kuantitatif. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (ThinkPair-Share) dapat digunakan kriteria yaitu Setiap siswa dalam proses belajar mengajar dinyatakan tuntas secara individu apabila siswa mampu memperoleh nilai ≥ 65 sebagai standar ketuntasan belajar minimal. Data tes hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan analisis ketuntasan hasil belajar secara klasikal minimal 85% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 keatas. Dengan rumus ketuntasan belajar klasikal adalah: (Sudjana, 2008) Dimana: KK = Ketuntasan klasikal X = Jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 keatas Z = Jumlah seluruh siswa Ketuntasan belajar klasikal tercapai jika ≥ 85% siswa memperoleh skor minimal 65 yang akan terlihat pada hasil evaluasi tiap-tiap siklus. (Nurkencana, 1990 dalam Ramadhan 2009) Indikator Keberhasilan Penerapan Model Tipe Think Pair Share(TPS)...- 48 Ridwan Habibi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) Indikator keberhasilan penelitian ini adalah tercapainya hasil dan aktivitas belajar siswa dengan ketentuan sebagai berikut: - Pencapaian Hasil Belajar Siswa Penelitian ini dipandang berhasil jika telah tercapainya persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar ≥ 85 % dari jumlah siswa yang telah mengikuti evaluasi dengan perolehan nilai sebesar ≥ 65. - Pencapaian aktivitas belajar siswa Aktivitas belajar siswa minimal berkategori aktif yaitu apabila rata-rata skor aktivitas siswa (M) mencapai interval nilai 29,33 ≤ M < 34,66. HASIL DAN PEMBAHASAN Masalah yang dihadapi oleh siswa Kelas V semester 2 di SDN 1 Rarang Selatan dalam proses belajar mengajar yaitu kesulitan siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru dengan menggunakan model pembelajaran yang belum mengaktifkan seluruh siswa. Selama ini guru masih menggunakan model pembelajaran kelompok yang konvensional. Model pembelajaran seperti ini menyebabkan keterlibatan seluruh siswa dalam aktivitas pembelajaran sangat kecil, karena kegiatan pembelajaran didominasi oleh siswa yang memiliki kemampuan tinggi sementara yang memiliki kemampuan rendah hanya menonton saja (pasif). Hal ini berarti dalam suatu kelompok belajar masih banyak siswa yang tidak melakukan keterampilan kooperatif. Hal ini yang menyebabkan sebagian besar siswa terutama yang memiliki kemampuan rendah enggan berpikir, sehingga timbul perasaan jenuh dan bosan dalam mengikuti pelajaran Matematika. Akibat dari sikap siswa tersebut, maka hasil belajarnyapun kurang memuaskan, dalam arti tidak memenuhi batas tuntas yang ditetapkan sekolah. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain. Berdasarkan hasil penelitian, observasi proses belajar mengajar pada siklus I keaktifan siswa dan antusiasme siswa sudah mencapai kategori aktif dalam pembelajaran di kelas, namun siswa belum mampu melakukan keterampilan kooperatif, siswa masih terkesan bersifat individual dan belum sepenuhnya saling menghargai pendapat pasangannya masing-masing sehingga hasil belajarnya belum mendapatkan hasil yang memuaskan, disamping itu guru juga sudah melakukan pengajaran dengan cukup baik akan tetapi masih ada hal-hal yang harus diperbaiki pada siklus II. Dari hasil evaluasi siklus I menunjukkan bahwa persentase siswa yang tuntas belajar sebanyak 83.33%, dengan nilai rata-rata 68.33. Walaupun belum mencapai ketuntasan klasikal, namun nilai rata-rata siswa telah melebihi rata-rata hasil belajar tahun sebelumnya yaitu 58,96. Belum tercapainya ketuntasan klasikal tersebut hal ini disebabkan karena masih banyak kekurangan-kekurangan yang ditemukan dalam proses pembelajaran baik dari siswa maupun dari guru. Siswa belum dapat memanfaatkan kesempatan dalam berdiskusi dengan pasangannya dan belum terbiasa bekerja sama dengan pasangan sehingga tugasnya dipercayakan pada anak yang paling pandai dalam pasangannya. Hasil refleksi siklus I mengisyaratkan perbaikan pada pelaksanaan pengajaran pada siklus selanjutnya antara lain bahwa peran guru dalam mengorganisasikan aktivitas-aktivitas belajar siswa perlu dioptimalkan dan yang tidak kalah pentingnya guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan supaya siswa tidak mengalami kejenuhan dalam mengikuti pelajaran. Pada siklus II guru berupaya meningkatkan keterlibatan siswa dan membangkitkan respon siswa dalam proses pembelajaran. Dari hasil analisis data diperoleh bahwa hasil belajar siswa mencapai ketuntasan klasikal yaitu dengan persentase 91,67% dengan rata-rata 73,60. Hasil pengamatan pada siklus II ini menunjukkan peningkatan aktivitas siswa dalam aktivitas pembelajaran dan adanya perubahan positif yang cukup signifikan, terutama meningkatnya respon siswa pada mata pelajaran Matematika khususnya volume balok dan kubus. Pada siklus Penerapan Model Tipe Think Pair Share(TPS)...- 49 Ridwan Habibi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) II ini terjadi peningkatan hasil belajar siswa, peningkatan siswa tersebut dapat dilihat pada aspek daya ingat materi prasarat, pemahaman konsep dan prinsip, kemampuan berfikir dalam menjawab persoalan baik secara individu maupun berkelompok, kualitas diskusi, semangat belajar dan peran serta dalam kelompok. Hal tersebut menandakan meningkatnya keaktifan dan respon siswa, sehingga dapat membangkitkan minat dan pemahaman dalam belajar Matematika. Berdasarkan analisis hasil penelitian di atas maka peneliti beserta observer merefleksi bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) sangat cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil evaluasi sudah mencapai standar ketuntasan klasikal bahkan lebih yaitu 91,67%, hal ini menunjukan bahwa sebagian besar siswa mampu mencapai standar kriteria ketuntasan minimal (KKM), begitu pula dengan hasil observasi aktivitas guru dan siswa selalu terjadi peningkatan tiap pertemuannya dan pada akhir pertemuan pada siklus II seluruh siswa dapat melaksanakan semua deskriptor yang ada. Hal ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun disisi lain untuk kedepan guru harus tetap membuat gebrakan-gebrakan baru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) agar siswa tidak bosan dengan model pembelajaran yang diterapkan. Dengan perolehan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dapat meningkatkan hasil belajar siswa Matematika dengan materi menghitung volume kubus dan balok Kelas V semester 2 di SDN 1 Rarang Selatan tahun pelajaran 2021/2022 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa Kelas V semester 2 di SDN 1 Rarang Selatan tahun pelajaran 2021/2022, karena dengan penerapan model pembelajaran ini siswa termotivasi untuk lebih berperan aktif serta timbul rasa kebersamaan siswa untuk saling mengisi kekurangan masing-masing dalam memahami materi yang dipelajari hal ini dapat dilihat dari analisis data aktivitas belajar siswa untuk setiap pertemuannya selalu mengalami peningkatan sehingga pada siklus II ketuntasan belajar siswa dapat tercapai yaitu sebesar 91,67 %. DAFTAR PUSTAKA Abu dkk. 2005. Strategi Belajar Mengajar untuk Fakultas Tarbiyah. Bandung: Pustaka Setia. Djamarah, dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hamalik, 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara. Isjoni. 2009. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta. Iskandar. 2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta. Marthen. 2007. IPA Matematika Untuk SD Kelas V. Jakarta: Erlangga. Saeful, dkk. 2008. Belajar Matematika untuk Kelas V SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Ruseffendi. Penelitian Kelas. EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Budaya http://educare.efkipunla.net Generated, diakses tanggal 18 January 2010. Sanjaya,2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana. Sanjaya,2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. Sudjana,2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Penerapan Model Tipe Think Pair Share(TPS)...- 50